Makalah Ulumul Qur'an: Tafsir Bercorak Maqoshidi

Advertisement
Makalah Ulumul Qur'an: Tafsir Bercorak Maqoshidi
Oleh: Qoem Aulassyahid

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salah satu implikasi dari pandangan teologis umat Islam bahwa al-Qur’an itu shalihun li kulli zaman wa makan (al-Qur’an itu selalu cocok untuk setiap waktu dan tempat) ialah berkembangnya metodologi tafsir secara signifikan seiring dengan akselerasi perkembangan kondisi sosial budaya dan peradaban manusia. 

Fenomena perkembangan ini, memunculkan konsekuensi logis untuk selalu mendialogkan teks al-Qur’an dengan masalah-masalah yang terus bermunculan. Maka tidak salah jika Muhammad Syahrur mengatakan bahwa al-Qur’an harus selalu ditafisrkan sesuai dengan tuntutan era kontemporer yang dihadapi oleh umat manusia. Hal itu sekali lagi menuntut adanya metodologi tafsir al-Qur’an yang terus berkembang mengikuti situasi sosial, budaya. ilmu pengetahuan dan peradaban manusia[1].

Secara umum, perkembangan metode tafsir terbagi menjadi dua, yaitu tafsir bi al-Ma’tsur dan bi al-Ra’yi. Dua metode ini, kemudian memunculkan berbagai corak tafsir yang itu menandai perkembangan pemikiran para mufassir atas kondisi dan permasahalan yang dihadapi oleh masing-masing penafsir tersebut. 

Quraish Shihab memberikan ulasan ringkas mengenai corak tafsir yang tengah berkembang hingga dewasa ini : (a) corak sastra bahasa, timbul akibat banyaknya orang non Arab yang memeluk agama Islam, serta akibat kelemahan-kelemahan orang Arab sendiri di bidang sastra. (b) corak filsafat dan teologi, akibat penerjemahan kitab filsafat yang mempengaruhi sementara pihak, serta akibat masuknya penganut agama-agama lain ke dalam Islam yang dengan sadar atau tanpa sadar masih mempercayai beberapa hal dari kepercayaan mereka. (c) corak penafsiran ilmiah, akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan usaha penafsir untuk memahami ayat-ayat al-Qur’an sejalan dengan perkembangan ilmu, (d) corak fiqih atau hukum, akibat berkembangnya ilmu fiqh, dan terbentuknya mazhab-mazhab fiqh yang setiap golongan berusaha membuktikan kebenaran pendapatnya berdasarkan penafsiran-penafsiran mereka terhadap ayat-ayat hukum, (e) corak tasawwuf, akibat timbulnya gerakan-gerakan sufi sebagai reaksi dari kecendrungan berbagai pihak terhadap materi. (f) corak sastra budaya dan masyarakat, corak yang dipopulerkan para pembaharu Islam, seperti Muhammad Abduh yang mencoba menjelaskan petunjuk-petunjuk ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat[2].

Dewasa ini, berkembang pula satu corak tafsir, yaitu corak Tafsir Maqashidi yang diprakarsai oleh ulama maghiribi lewat simposium ilmiah internasional yang mengusung tema “metode alternatif penafsiran al-Qur’an” diadakan di Oujda Maroko pada Pertengahan april 2007. Kehadiran corak ini diharapkan bisa lebih membantu kalangan ulama dalam memahami teks al-Qur’an dan as-Sunnah, utamanya pada teks yang dzonniyat ad-dilalah yang makna terkesan tidak sejalan dengan maksud syariah[3].

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan pemaparan di atas, maka ditentukan beberapa rumusan masalah agar kajian dalam makalah ini lebih fokus. Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut

Apa yang disebut Tafsir Maqashidi?
Bagaimana perkembangan Tafsir Maqashidi?
Bagaimana Konsep dan Contoh aplikasi Tafsir Maqashidi?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Tafsir Maqashidi

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, tafsir (taf-sir) berarti : keterangan atau penjelasan tentang ayat-ayat al-Qur’an agar mudah dipahami[4] Namun kata Tafsir, jika dirunut kembali tidak berakar dari bahasa Indonesia murni, tetapi dari bahasa Arab. Tafsir yang sering didengar dan disebut adalah bentuk masdar “tafsirotun” dari fi’il fassara-yufassiru yang memiliki banyak arti, diantaranya : menerangkan, menjelaskan, memberi komentar, menerjemahkan atau mentakwilkan[5]. 

Ibnu Manzhur, dalam kitab Lisan al-‘Arab, menyebutkan bahwa kata الفسر berarti البيان (keterangan). Kata ini juga berarti كشف المغطى (membuka yang tertutup). Kata التفسير berarti كشف المراد عن اللفظ المشكل (membuka/ menyingkap maksud kata-kata yang sulit). Kata الفسر juga berarti نظر الطبيب إلى الماء (penglihatan/ penelitian seorang dokter terhadap air). Makna yang sama juga digunakan untuk kata التفسرة. Ada pendapat yang mengatakan bahwa التفسرة berarti:


البول الذى يستدل به على المرض و ينظر فيه الأطباء يستدلون بلونه على علة العليل 

Buang air orang sakit yang digunakan oleh para dokter untuk mendiagnosa penyakit seseorang[6].

Pengertian secara bahasa di atas, menunjukkan bahwa di Indonesia, kata tafsir mengalami penyempitan makna, hal itu karena, kata tafsir sering digunakan untuk penjelasan ayat-ayat al-Qur’an semata, tidak familiar jika digunakan untuk penjelasan lain, berbeda dengan arti sebenarnya yang lebih luas.

Secara istilah, az-Zarkasyi mengartikan tafsir sebagai ilmu untuk memahami kitabullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, juga untuk menjelaskan makna-maknanya, mengungkap hukum-hukum dan hikmah-hikmah yang terkandung dalamnya didasari dengan ilmu bahasa, Nahwu, Tasrif, bayan, ushul fiqh, ilmu Qira’ath dan juga pengetahuan terhadap asbab an-Nuzul dan Nasikh wa al-Mansukh[7].

Sementara kata maqashidi juga tersusun dari dua, maqhasid dan ya’ al-jinsiyah. Ya’ al-jinsiyah dalam bahasa Arab, adalah ya’ yang menunjukkan sifat atau jenis. Maqashid adalah bentuk prular dari maqsad, qasd, maqsid atau qusud yang merupakan derivasi dari kata kerja qasada, yang memliki beragam makna di antaranya kesengajaan dan tujuan[8]. pada kenyataannya, kata maqhasid pertama kali digunakan dan dipopulerkan oleh ulama ushul fikih ketika mewacanakan kajian maqashid as-Syari’ah. 

Al-Ghazali dalam kitabnya al-mustasyfa, menyatakan bahwa maqhasid as-Syari'ah merupakan maslahat yang dapat diketahui dalam al-Qur’an, sunah dan 'ijma' tidak hanya berdasar satu dalil semata, melainkan atas dalil yang banyak, yang tak terbatas dari al-Qur’an dan sunah, yaitu berbagai keterangan dan berbagai situasi serta berbagai tanda yang berbeda-beda[9].

Begitu pula dengan Ibnu 'Asyur, beliau membagi maqhasid as-Syariah menjadi umum dan khusus lalu memberikan defenisi secara istilah pada kedua bagian tersebut dengan penekanan masing-masing. Beliau mendefinisikan maqhasid as-Syari'ah yang umum adalah berbagai makna dan hikmah yang dipelihara dan diperhatikan oleh pembuat syariat pada semua keadaan hukum, di mana hikmah dan makna tersebut tidak dikhususkan pada hukum-hukum tertentu. 

Sedangkan maqhasid as-Syari'ah secara khusus, beliau menekankan pada tata cara atau kriteria yang dimaksudkan oleh pembuat syariat untuk mewujudkan tujuan-tujuan yang memberi manfaat bagi manusia atau untuk menjaga kemashlahatan umum dari perbuatan-perbuatan manusia yang khusus[10].

Penggunakan kata maqhasid terhadap istilah tafsir al-Maqashidi menunjukkan bahwa corak tafsir jenis ini sangat dipengaruhi oleh konsep maqhasid yang telah dipopulerkan oleh ulama ushul fiqh[11]. Sehingga penulis menyimpulkan bahwa corak tafsir maqashidi ini, secara sederhana adalah corak penjelasan dan pemahaman terhadap ayat-ayat al-Qur’an dengan memperhatikan makna terdalam dari ayat-ayat al-Qur’an dalam bentuk hikmah, sebab hukum, tujuan dan segala nilai yang bisa menjadi mashlahat manusia dalam menjalani kehidupannya dan menyelesaikan problem-problem di setiap masa. 

Hal ini pun diyakini oleh para pakar di bidang tafsir, bahwa al-Qur’an memiliki tujuan-tujuan yang itu semua bermuara pada kemashlahatan hakiki manusia, kemashlatan yang sempurna tidak hanya dengan kaca mata manusia yang terbatas pengetahuannya. Seperti yang diungkapkan oleh Muhammad Chirzin, bahwa al-Qur’an memiliki tujuan, diantaranya : 

Pertama, membersihkan akal dan menyucikan jiwa dari segala bentuk syirik serta menetapkan keyakinan tentang keesaan yang sempurna bagi tuhan seru sekalian alam, keyakinan yang tidak semata-mata sebagai suatu konsep teologis, tetapi falsafah hidup dan kehidupan manusia.

Kedua, untuk mengajarkan kemanusiaan yang adil dan beradab, yakni bahwa umat manusia merupakan satu umat yang seharusnya dapat bekerja sama dalam pengabdian kepada Allah dan pelaksanaan tugas kekhalifaan.

Ketiga, menciptakan persatuan dan kesatuan, bukan saja antar suku bangsa, tetapi kesatuan alam semesta, kesatuan kehidupan dunia dan akhirat, natural dan supranatural, kesatuan ilmu, iman dan rasio, kesatuan kebenaran, kesatuan kepribadian manusia, kesatuan kebenaran dan determinasi, kesatuan sosial politik dan ekonomi yang kesemuannya berada di bawah satu ke-esaan, yaitu ke-esaan Allah swt. 

Keempat, untuk mengajak manusia berpikir dan bekerja sama dalam bidang kehidupan bermasyarakat dan bernegara melalui musyawarah dan mufakat yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan. 

Kelima, untuk membasmi kemiskinan material dan spiritual, kebodohan, penyakit dan penderitaan hidup serta pemerasan manusia atas manusia dalam bidang sosial, ekonomi, politik dan agama. 

Keenamuntuk memadukan kebenaran dan keadilan dengan rahmat dan kasih sayang, dengan menjadikan keadilan sosial sebagai landasan pokok kehidupa masyarakat manusia. 

Ketujuh, untuk memberikan jalan tengah antara falsafah monopoli kapitalisme dengan falsafah kolektif komunisme, menciptakan ummatan washatan yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. 

Kedelapan, untuk menekankan peranan ilmu dan teknologi guna menciptakan satu peradaban yang sejalan dengan jati diri manusia[12].

B. Perkembanagn Tafsir Maqashidi

Perkembangan tafsir sendiri tidak pernah terlepas dari dua periode sentral, yaitu periode klasik dan periode kontemporer. Periode klasik pada umumnya ditandai dengan Metode bi al-Ma’tsur, yaitu mengandalkan riwayat-riwayat dan data kesejarahan. Metode ini istimewa bila ditinjau dari sudut informasi kesejarahannya yang luas, serta objektivitas mereka dalam menguraikan riwayat itu, sampai-sampai ada di antara mereka yang menyampaikan riwayat-riwayat tanpa melakukan penyeleksian yang ketat. 

Imam Ahmad menilai bahwa tafsir yang berdasarkan riwayat, seperti halnya riwayat-riwayat tentang peperangan dan kepahlawanan, kesemuanya tidak mempunyai dasar yang kokoh. Karena itu, agaknya para pakar riwayat menekankan bahwa “kami hanya menyampaikan dan silahkan meneliti kebenarannya”.[13]

Berbeda dengan masa selanjutnya, perkembangan teknologi dan kehidupan sosial menuntut adanya validitas yang ketat terhadap data-data ilmu pengetahuan utamanya dalam kaca mata ilmiah dan rasio. Untuk itu keterbatasan informasi riwayat yang hanya digunakan sebagai pengetahuan saja, tanpa ditarik maknanya lebih dalam dan juga kritis terhadap keasliannya tidak bisa lagi menjadi sandaran, hingga perlu adanya perkembangan metodologi tafsir untuk merespon itu semua, atau sekarang disebut dengan tafsir kontemporer. 

Tafsir maqashidi merupakan salah satu dari respon fenomena keterbatasan tafsir bi al-Ma’tsur dalam membumikan makna al-Qur’an agar lekat dengan kehidupan umat manusia dewasa ini. Perkembangan ini, sejalan dengan perkembangan yang terjadi pada ilmu ushul fikih utamanya pada kajian maqashid as-Syariah, sehingga tidak diragukan lagi, bahwa corak tafsir maqashidi sangat dipengaruhi oleh perkembangan kajian maqashid as-Syariah itu sendiri.

Seperti halnya perkembangan metodologi tafsir, kajian maqhasid as-Syariah juga muncul karena kajian ushul fiqh pada saat itu sudah tidak memadai untuk menyelesaikan permasalahan yang terus berkembang. Ushul fiqh klasik selalu berpusat pada dialektika aliran mutakallimin dan aliran fuqaha. aliran Mutakallimin memberikan perhatian pada analisa-analisa kebahasaan dan analisa-analisa 'illah hukum. 

Analisa tersebut dilakukan untuk bisa membentuk kaidah yang baku dan terlepas dari ikatan dan pengaruh mazhab tertentu, terlepas bisa tidaknya kaidah itu digunakan oleh tiap mazhab yang ada. Disamping itu juga, aliran ini menggunakan kajian yang bersifat esensial dan filosofis, sama dengan kajian yang dilakukan dalam ilmu kalam, oleh karena itu, aliran ini disebut aliran mutakallimīn[14] . sementara aliran fuqaha dalam membangun teori usul fikihnya banyak dipengaruhi oleh masalah-masalah furu' dalam mazhab mereka. artinya mereka tidak membangun suatu teori kecuali setelah melakukan analisa terhadap masalah-masalah furu' yang ada dalam mazhab mereka, lalu kemudian berusaha untuk menyesuaikan kaidah yang ada dengan masalah furu' agar bisa diamalkan. 

Jika kaidah-kaidah tersebut bertentangan dengan masalah furu' maka kaidah tersebut diubah agar bisa sesuai dengan masalah furu'[15]. Meski selanjutnya muncul aliran gabungan, aliran yang mencoba menggambungkan dua teori dan metode aliran mutakallimin dan fuqaha, tetap kajian mereka masih sebatas kajian dalalah lafz ‘am, lafz mutlaq, dan muqayyad, mafhum mukhalafah, hadis mursal dan khabar ahad[16].

Dialektika klasik tersebut, kemudian digeser oleh as-Syatibi yang dianggap sebagai bapak maqashid as-Syariah. Dengan karyanya al-Muafaqat, beliau tidak hanya menjabarkan defenisi dan konsep nilai yang dibawanya, tetapi sampai pada kaidah-kaidah dasar yang harus dilalui dalam berpikir dengan dasar maqashid as-Syariah, Jasser Auda mengakui, bahwa dengan kemunculan as-Syatibi, maqashid yang dahulunya hanya sebatas konsep belaka, kini menjadi sebuah nilai nyata yang lebih aplikatif dan dinamis[17]. 

Selengkapnya tentang Maqhosid As-syariah As-syatibi Bisa dibaca pada artikel Kitab Muwafakat Imam As-Syatibi

Pergeseran maqashid as-Syariah dari disiplin ilmu menjadi sebuah metodologi dalam memahami teks utamanya teks Al-Qur’an dan as-Sunnah banyak dilakukan oleh ulama-ulama pakar maqashid as-Syariah selanjutnya, atau yang lebih dikenal sebagai maqashidiyyun. Ulama-ulama maqhasid kontemporer ini pada umumnya adalah ulama maghribi, seperti Thaha bin Asyur dan imam ar-Raisuni dan alla al-Fasi. 

Dari ketiga tokoh tersebut, yang dianggap pilar setelah as-Syatibi adalah Thaha bin Asyur karena beliau-lah yang menghidupkan kajian yang telah lama terhenti sejak masa as-Syatibi. Sejak masa beliau pula, mulai banyak bertebaran kajian-kajian maqashid as-Syari’ah yang lebih menekankan pada metodologi atau pendekatan konsep nilai.[18] Salah satu tafsir yang memakai corak maqashidi juga adalah tafsir yang beliau karang dengan judul at-Thahir wa at-Tanwir, dan juga tafsir Ahkam al-Qur’an karya Ibn al-‘Arabi

Perkembangan maqashid sebagai pendekatan metodologis kemudian diminati oleh banyak pakar keislaman. seperti Qardhawi, Rasyid Ridha, Mahmud Syalthut dan lain sebagainya. Berbagai seminar dan kajian juga diselenggarakan di berbagai daerah, seperti seminar yang membahas tentang bagaimana al-Qur’an dan al-Hadis bisa ditafsir ulang dengan menggunakan realitas kontemporer sebagai pertimbangan dan upaya mempromosikan tujuan syariat yang berpihak pada kedamaian, keadilan dan kemajuan umat Islam[19]. juga simposium ilmiah internasional yang mengusung tema “metode alternatif penafsiran al-Qur’an” diadakan di Oujda Maroko pada pertengahan april 2007. 

Kegiatan selama tiga hari ini dikonsentrasikan pada kajian seputar tafsir maqashidi. Dalam simposium ini disepakati bahwa metode tafsir ini mengakomodir kajian lingusitik, sosiologi, dan antropologi serta histori dalam kadar tertentu, para ulama maghrib Arabi yang membidani tafsir maqashidi ini juga sepakat mengusungnya dengan terlebih dahulu memposisikan ayat-ayat al-Qur’an sebagai wahyu ilahi yang tidak bisa diganggu gugat keistimewaannya. Dengan demikian tafsir ini lebih ditekankan sebagai upaya mencari metode yang tepat untuk menafsiri ayat-ayat al-Qur’an sesuai dengan perkembangan manusia moderen.

Kajian terhadap tafsir maqashidi dewasa ini juga sudah bergulir dalam disertasi doktoral Nuruddin Qirath. Juga Jelal al Merini dalam bukunya Dhawabith at-Tafsir al-Maqashidi li al Qur’an al karim. Dan Hasan Yasyfu dalam bukunya al-Murkazat al-Maqashidiyah fi at-Tafsir an Nash ad-Din[20]

Makalah Tafsir Hadis: Tafsir Bercorak Maqoshidi

C. Konsep dan Contoh Pengaplikasian Tafsir Maqashidi

1. Konsep Tafsir Maqashidi

Berdasarkan literatur-literatur yang penulis dapatkan, belum ada buku yang menyebutkan secara eksplisit bagaimana konsep dan kiat-kiat pendekatan tafsir maqashidi dalam menafsirkan suatu ayat. Namun dari bacaan tersebut, penulis menyimpulkan poin-poin pokok dari konsep tafsir maqashidi, sebagai berikut.

Pertama, bahwa dalam corak tafsir maqashidi, setiap penafsir yakin segala yang terkandung dalam al-Qur’an adalah mashlahat untuk manusia di dunia dan akhirat. Tidaklah dikatakan kitabullah jika al-Qur’an tidak memiliki makna berupa nilai-nilai kehidupan yang sempurna. 

Kesadaran terhadap itu mengharuskan tiap mufassir untuk mengungkapkan kembali makna-makna tersebut, agar lebih aplikatif dan dinamis, agar al-Qur’an tidak hanya melangit, tapi membumi bersama umat manusia. Dengan begitu barulah al-Qur’an bisa disebut petunjuk.

Qardhawi mengungkapkan bahwa Allah tidak butuh terhadap hamba-hambaNya. Ketika memerintah, melarang, menghalalkan, mengharamkan, dan membuat hukum bagi mereka, tidak akan merasakannya sedikit pun, baik manfaat maupun mudharat. Dia tidak butuh terhadap alam semesta. 

Ketika membuat hukum bagi manusia, ini berarti bahwa mereka akan mendapatkan kebaikan dan kemashlahatan di dunia dan di akhirat. Dalam hukum tuhan selalu ada kemashlahatan di dunia dan di akhirat. Hal itu bisa diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahuinya.[21]

Senada dengan itu, Muhammad Chirzin juga mengungkapkan, sebagai kitab suci terakhir untuk seluruh manusia hingga akhir zaman, al-Qur’an menghadapi masyarakat dengan kebudayaan dan peradaban yang terus berkembang dan maju. Ia mengandung ayat-ayat ke-alaman dan kemasyarakatan yang dapat dijadikan pedoman, motivasi dan etika dalam rekayasa masyarakat dan rekayasa tekhnik.

Rekayasa masyarakat adalah penciptaan tatanan masyarakat yang sesuai dengan kondisi objektif setiap komunitas masyarakat dengan tetap berdiri sendiri pada prinsip-prinsip umum yang ditetapkan al-Qur’an. 

Substansi ajaran al-Qur’an tidak bermaksud menciptakan masyarakat yang seragam di seluruh belahan bumi sepanjang masa, tetapi memberian prinsip umum yang memungkinkan terwujudnya pola keseimbangan hidup dalam masyarakat, dan mewujudkan suasana tentram hidup di bawah Ridha Tuhan; baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur[22]

Dalam hal membumikan nilai-nilai al-Qur’an sebagai prinsip dan landasan aplikatif dalam berbuat, Quraish Shihab menekankan bahwa menjadi kewajiban umat Islam untuk membumikan al-Qur’an, menjadikannya menyentuh realitas kehidupan. 

Kita semua berkewajiban memelihara al-Qur’an dan salah satu bentuk pemeliharaannya adalah mengfungsikan dalam kehidupan kontemporer, yakni dengan memberinya interpretasi yang sesuai tanpa mengorbankan teks sekaligus tanpa mengorbankan kepribadian, budaya bangsa, dan perkembangan positif masyarakat[23].

Kedua, corak tafsir maqashidi mencoba mengeluarkan makna teks dari sekat-sekat kata-katanya secara harfiah, dalam arti, melakukan penakwilan yang mendalam dan mencari maksud-maksud yang prinsip dari ayat-ayat tersebut.

Abdullah Darraz dalam an-Naba’ al-‘Azhim mengatakan : “al-Qur’an bagaikan intan yang setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut-sudut yang lain, dan tidak mustahil jika anda mempersilahkan orang lain memandangnya, maka ia akan melihat lebih banyak dari apa yang anda lihat”. 

Begitu pula dengan apa yang dinyatakan oleh Muhammad Arkoun, bahwa al-Qur’an memberikan kemungkinan-kemungkinan arti yang tak terbatas. Kesan yang diberikan oleh ayat-ayatnya mengenai pemikiran dan penjelasan pada tingkat wujud adalah mutlak. Dengan demikian, ayat selalu terbuka untuk interpretasi baru, tidak pernah pasti dan tertutup oleh interpretasi tunggal.[24]

Dengan begitu, tafsir maqashidi tidak pernah menghendaki para mufassir atau orang yang mencoba memahami al-Qur’an untuk terpaku pada satu nilai yang terkandung dalamnya. Lebih dari itu, metode ini mencoba untuk mencari titik pusat, nilai prinsipil yang menjadi landasan dasar dari ayat yang sedang dikaji tersebut. 

Nilai-nilai prinsipil inilah yang disebutkan oleh qardhawi sebagai maksud-maksud pokok dari syariat. Qardhawi memberikan defenisi bahwa “maksud-maksud dari syariat yang di dasari oleh dalil al-Qur’an dan Hadis” adalah tujuan yang menjadi teks dan hukum-hukum partikular untuk direalisasikan dalam kehidupan manusia, baik berupa perintah larangan, dan mubah. 

Untuk individu, keluarga, jama’ah dan umat. Beliau menambahkan, “maksud-maksud” juga bisa disebut dengan hikmah-hikmah yang menjadi tujuan ditetapkannya hukum. Baik yang diharuskan ataupun tidak[25].

Kemudian beliau memberi perincian bahwa maksud-maksud disitu tidak serta merta merupakan illat yang disebutkan oleh para ahli ushul fiqh dalam bab qiyas dan didefenisikan dengan “sifat sangat jelas, tetap dan sesuai dengan hukum”. Menurut beliau, meski illat bisa membantu untuk mengetahui maksud dari teks, tapi illat tidak serta menjadi tujuan teks tersebut.

Contohnya saja kesepakatan para ulama ushul fikih yang menyatakan bahwa, illat dari rukhshah bolehnya menjama shalat ataupun membatalkan puasa adalah safar, bukan kesusahan, karena kesusahan hanya menjadi hikmah dibalik illat safar.

Jikalau kesusahan yang dijadikan sandaran hukum, maka akan didapati dua orang yang memiliki pandangan berbeda; satu orang yang merasa kesusahan tinggi tapi karena sikap wara’nya dia tidak mengambil rukhsah tersebut, satu lagi yang meski tidak merasa tidak terlalu kesusahan, dia tetap mengambil rukhsash karena safarnya.

Menurut Qardhawi, merupakan hal yang aneh atas pendalilan yang dilakukan oleh ulama ushul fikih dalam hal ini, karena ada ketidak konsistenan dalam sikap para ulama tersebut; didapati para ahli fikih tidak memasukkan hikmah dalam berbuka shaum ketika safar, dan memasukkan illat, yaitu safar itu sendiri. 

Dalam hal lain justru tidak didapati pendapat mereka bahwa orang sakit bisa tidak puasa dengan sakit apapun, sebagaimana musafir yang berbuka dengan safar apa pun. Bahkan, dalam hal sakit, mereka justru memasukkan sakit parah yang akan bertambah parah atau sulit untuk sembuh apabila bershaum[26].

Maka sungguh sangat wajar bila Qardhawi lebih memilih hikmah yang jelas dari suatu ayat untuk dijadikan sandaran hukum, karena di sisi lain, ternyata beliau menyebut maksud-maksud syariat dengan hikmah syariat atau tujuan luhur dibalik suatu teks atau hukum[27]. 

Masalah yang muncul adalah bagaimana jika hikmah dari ayat tertentu itu terselubung dan susah mendapatkannya, karena pada kenyataannya hikmah yang bisa diambil dari satu kata dalam al-Qur’an saja sudah beraneka ragam. Hal ini juga ternyata sudah disadari oleh Qardhawi sehingga dia membuat langkah atau jalan dalam melihat maksud dari satu hukum yang tersebut dalam teks al-Qur’an dengan menyimpulkan konsep maqashid as-Syatibi:

1. meneliti setiap ‘illat teks al-Qur’an dan as-Sunnah, seperti pada surat al-Hasyr : 7”, maksud dari pembagian fai terhadap golongan-golongan lemah dan membutuhkan –sebagaimana dalam ayat tersebut- adalah agar harta bisa dimanfaatkan lebih luas. Sehingga, orang-orang kaya tidak memonopoli harta tersebut dan menggunakannya di antara mereka saja. 

Persis kezhaliman kapitalisme yang memiliki keyakinan bahwa harta hanya beredar di antara orang-orang kaya saja. Maksud tadi dapat ditarik dari huruf ta’lil “agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya di antara kamu saja.

2. meneliti, mengikuti dan memikirkan hukum-hukum partikular. Untuk kemudian menyatukan antara satu hukum dengan hukum yag lain. Hal ini juga berlaku pada teks yang membahas tema yang berkaitan, agar penelitian tadi bisa mendapatkan maksud-maksud umum yang menjadi maksud Allah dalam mebuat hukum atau menjadikan teks-teks tersebut[28].

Selain apa yang dirumuskan oleh Qardhawi, meski tidak mengungkapkan secara eksplisit, tapi menurut penulis Qurasih Shihab juga memberikan kiat metodologi yang cocok buat era globalisasi dengan memberikan pemahaman konsep yang lebih luas terhadap dua hal pokok dalam tafsir :

1. asbab An-Nuzul, menurut beliau bahwa asbab an-Nuzul pasti mencakup perstiwa, pelaku dan waktu. Tidak mungkin akan mampu menggambarkan adanya suatu perstiwa yang tidak terjadi dalam kurun waktu tertentu dan tanpa pelaku. 

Beliau menyayangkan bahwa dalam hal ini seringkali aspek waktu diabaikan, padahal asbab an-Nuzul merupakan data yang membantu memahami dan mengetahu maksud suatu teks dengan cara mengqiyaskan peristiwanya dengan keadaan sekarang, sementara tanpa memperhatikan waktunya maka ia tidak relevan untuk dianalogikan (qiyas). Sebab sebagaimana yang telah disepakati bahwa ayat al-Qur’an tidak turun dalam masyarakat yang hampa budaya dan bahwa kenyatan adanya peristiwa yang “mendahului atau setidaknya bersamaan” dengan turunnya ayat.

Untuk itu, analogi yang digunakan hendaknya tidak terbataws oleh analogi yang dipengaruhi oleh logika formal (al-Mantiq, al-Shuriy) yang selama ini banyak dipengaruhi oleh para fuqaha. Tetapi analogi yang lebih lusa dari itu, yang meletakkan dipelupuk mata al-Masalih al-Mursalah dan yang mengantar kepada kemudahan pemahaman agama. Sebagaimana halnya pada masa Rasul dan para sahabat. 

Pengertian asbab an-Nuzul dengan demikian dapat diperluas sehingga mencakup kondisi sosial pada masa turunnya al-Qur’an dan pemahamannya pun dapat dikembangkan melalui kaidah yang pernah dicetuskan oleh ulama terdahulu, dengan mengembangkan pengertian qiyas[29]

2. ta’wil, pencarian makna yang mendalam dari suatu teks al-Qur’an yang tidak jarang sangat tersirat, apalagi mencari maksud dari ayat yang diliputi bermacam-macam hikmah merupakan suatu hal yang mustahil tanpa adanya ta’wil. Tidak diragukan lagi, bahwa al-Qur’an diturunkan untuk petani sederhana maupun ahli metafisika. 

Al-Quran mengandung berbagai tingkatan pengertian bagi semua jenis pembacanya. Adalah sia-sia untuk mengajukan kritik terhadap al-Qur’an karena kita tidak bisa menerima deskripsi harfiah dalam al-Qur’an, ataupun karena kita tidak bisa memahami simbolisme yang terdapat dalamnya[30]. 

Dahulu, ketika tidak bisa memberikan defenisi yang memuaskan atau yang sejalan dengan pemahaman perkembangan masyarakat, ulama cukup mengatakan “Allahu a’lam bi muradihi”. Tetapi ini, tentunya tidak memuaskan banyak pihak, apalagi dewasa ini. Karena itu, sedikit demi sedikit sikap seperti itu berubah dan para mufassir akhirnya beralih pandangan dengan jalan menggunakan ta’wil, tamsil atau metafora. Memang, literalisme seringkali mempersempit makna, berbeda dengan pen-ta’wil-an yang memperluas makna sekaligus tidak menyimpang darinya[31]

Namun tentunya, takwil tidak dapat digunakan tanpa didukung oleh syarat-syarat tertentu. As-Syatibi mengemukakan ada dua syarat pokok bagi pen-ta’wil-an ayat-ayat al-Qur’an : pertama, makna yang dipilih sesuai dengan hakikat kebenaran yang diakui oleh mereka yang memiliki otoritas. Kedua, arti kata yang dipilih dikenal oleh bahasa arab klasik.

Dalam syarat tersebut, terlihat bahwa popularitas kata tidak disinggung lagi, dan juga menunjukkan kata-kata musyatarak yang memiliki beragam makna, maka semua maknanya dapat digunakan asal tidak bertentangan satu dengan lainnya. 

Tafsir Muhammad Abduh kemudian menambah syarat ta’wil dengan lebih mengedepankan akal. Hal ini jelas terlihat salah satunya pada penjelasan muridnya mengenai jin yang tidak lagi diartikan makhluk gaib, tapi juga kuman, melihat pengertian jin yang juga mencakup “sesuatu yang tertutup”.

Hal yang perlu digaris bawahi adalah tidaklah tepat men-ta’wil-kan suatu ayat, semata-mata berdasarkan pertimbangan akal dan mengabaikan faktor kebahasaan yang terdapat dalam teks, lebih-lebih bila bertentangan dengan prinsip kaidah-kaidah kebahasaan. Karena, hal ini berarti mengabaikan ayat itu sendiri[32].

Ketiga, berdasarkan dua poin pokok tafsir maqashidi yang telah dipaparkan di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa corak tafsir ini merupakan perkembangan dari corak tafsir sastra budaya kemasyarakatan, hal ini dapat diketahui –sebagaimana yang diungkapkan oleh Qurasih Shihab- bahwa corak ini mencoba untuk menjelaskan petunjuk-petunjuk al-Qur’an yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat, serta menanggulangi penyakit-penyakit atau masalah-masalah mereka berdasarkan petunjuk ayat-ayat al-Qur’an dengan mengungkapkannya dengan bahasa yang mudah dipahami[33]. 

Begitu juga dengan tafsir maqashidi ini, sesuai kesepakatan para ulama maqashid dalam symposium “metode alternative dalam penafisran al-qur’an” bahwa diharapkan corak tafsir maqashidi ini menjadi metode yang bisa mengakomodir permasalahan-permasalahan moderen, dengan menitik beratkan pada kemashalahatan manusia, menanggapi penyakit sosial dan memberi rumusan kebahagian secara menyeluruh. 

Hal yang membedakannya ialah, tafsir corak maqashidi ini berangkat dari nilai-nilai prinsipil dan universal dalam al-Qur’an, tidak bergantung hanya pada masalah yang dihadapinya, Qardhawi sendiri membuat poin-poin mashlahat yang hendak dicapai oleh al-Qur’an, diantaranya : (a) memperbaiki akidah tentang konsep tuhan, agama dan balasan, (b) menegaskan kemuliaan dan hak-hak manusia, terutama orang-orang yang lemah, (c) mengajak agar beribadah dan takwa kepada Allah, (d) menyucikan hati manusia dan meluruskan akhlak, (e) membangun keluarga shaleh dan memberikan keadilan kepada wanita, (f) membangun umat yang bersaksi bagi kemanusiaan, (g) mengajak kepada kemanusiaan yang penuh kerja sama[34].

Ketelitian makna yang hendak dicapai oleh corak ini juga menghendaki penggunaan ilmu dalam menunjang penyimpulan suatu makna yang menjadi nilai atau maksud satu ayat al-Qur’an. Seperti halnya konsep asbab an-Nuzul yang diperluas oleh Quraish Shihab, yang itu tentunya memerlukan ilmu sosiologi, dan antropologi. Sehingga wajar dalam symposium tersebut para ulama maghiribi menyutujui bahwa metode tafsir ini mengakomodir kajian lingusitik, sosiologi, dan antropologi serta histori dalam kadar tertentu.[35]

Berdasarkan tiga poin pokok yang dipaparkan, maka secara sederhana konsep tafsir maqasihidi dimulai dengan meyakini adanya nilai prinsip dalam al-Qur’an yang itu menghendaki kemashlatan umat, melebur nilai-nilai tersebut agar bisa diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat. 

Untuk itu perlu adanya penggalian makna untuk menghasilkan maksud dari teks secara tepat. Hal itu bisa dengan menggali illat-illat dalam teks tersebut yang akan mengantarkan pada maksudnya, atau mengumpulkan ayat-ayat secara partikural sehingga mendapatkan satu titik pusat dari masalah yang dikaji. 

Selain itu juga memperhatikan asbab an-Nuzul tidak hanya peristiwa khusu tetapi juga melihat kondisi sosial secara luas dan memperluas pen-takwil-an tanpa berlebihan. Untuk mendukung hal itu, kajian-kajian ilmu yang mendukung sangat diperlukan sebagai alat yang tentunya dengan kadar tertentu.

2. Contoh Aplikasi Tafsir Maqasihidi

Pada pemaparan di atas, telah disinggung beberapa contoh secara sepintas. Pada bagian ini hanya dipaparkan satu contoh dalam aplikasi corak tafsir maqashidi, yaitu pada tafsir ahkam al-Qur’an karangan ibn Al-Arabi. Pada Q.S. An-Nur : 4 Allah berfirman :

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka Itulah orang-orang yang fasik.

Pada ayat ini, ibn Al-Arabi mengungkapkan bahwa terdapat enam belas perkara yang harus ditafsirkan salah satunya adalah mengenai tuduhan berzina. Para ulama sepakat bahwa jika tuduhan berzina itu diungkapkan secara eksplisit, maka hukuman jatuh, namun jika diungkapkan secara implicit atau dengan sindirian atau dengan ungkapan yang tidak jelas, dalam hal ini terjadi perbedaan ulama; ulama syafi’iyah dan hanafiyah tidak mengkatagorikannya sebagai qadzf sehingga tidak wajib dijatuhi hukuman, sedangkan ulama maliki tetap menyatakan qadzf. 

Ibn al-Arabi lebih memilih pendapat maliki, karena menurutnya pendapat tersebut lebih dekat dengan maksud ayat yaitu tindak pidana dari pencemaran nama baik. Artinya baik secara sharih maupun tidak asal dampaknya adalah mencemarkan nama baik yang itu sama dampaknya dengan tuduhan berzina, maka hukum bisa ditegakkan atasnya[36].

Hal ini sejalan dengan salah satu nilai mashlahat yang terkandung dalam al-Qur’an, yaitu menjaga kehormatan seperti larangan menghina, gibah, fitnah dan masalah lainnya yang tercantum dalam al-Qur’an

BAB III 
PENUTUP

A. Kesimpulan

Tafsir maqashidi adalah corak penjelasan dan pemahaman terhadap ayat-ayat al-Qur’an dengan memperhatikan makna terdalam dari ayat-ayat al-Qur’an dalam bentuk hikmah, sebab hukum, tujuan dan segala nilai yang bisa menjadi mashlahat manusia dalam menjalani kehidupannya dan menyelesaikan problem-problem di setiap masa.

Tafsir ini merupakan perkembangan tafsir bi al-Ra’yi utamanya pada corak sastra bahasa dan budaya masyarakat yang diusung oleh para ulama kontemporer seperti Muhammad Abduh. Tafsir ini sangat dipengaruhi oleh metodologi dan pendekatan Maqashid As-Syariah yang diusung oleh maqasidiyun masa kini seperti Thaha bin Asyur.

Secara sederhana konsep tafsir maqasihidi dimulai dengan meyakini adanya nilai prinsip dalam al-Qur’an yang itu menghendaki kemashlatan umat, melebur nilai-nilai tersebut agar bisa diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat. Untuk itu perlu adanya penggalian makna untuk menghasilkan maksud dari teks secara tepat. Hal itu bisa dengan menggali illat-illat dalam teks tersebut yang akan mengantarkan pada maksudnya, atau mengumpulkan ayat-ayat secara partikural sehingga mendapatkan satu titik pusat dari masalah yang dikaji. 

Selain itu juga memperhatikan asbab an-Nuzul tidak hanya peristiwa khusu tetapi juga melihat kondisi sosial secara luas dan memperluas pen-takwil-an tanpa berlebihan. Untuk mendukung hal itu, kajian-kajian ilmu yang mendukung sangat diperlukan sebagai alat yang tentunya dengan kadar tertentu. Contoh aplikasinya bisa ditemukan pada tafsir ahkam al-Qur’an Q.S. an-Nur : 4.

Daftar Pustaka

Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an (Bandung : Mizan, 2013),
Kangwawan.blogspot.com diakses pada: jam 17:23, tanggal 28, maret, 2013
Kbbi.web.id, akses pada jam 5:36, tanggal 07, april, 2013

Ahmad Warson Munawwir, al-Munawwir, Indonesia : Pustaka Progressif, 1997

Abu al-Fadhl Jamal al-Din Muhammad bin Mukarram bin Manzhur al-Afriqi al-Mishri, Lisan al-‘Arab, Beirut: Dar Shadir, 1990

Badr al-Din Muhammad ibn 'Abdullâh ibn Bahadir al-Zarkasyi, al-Burhan fî 'Ulum al-Qur`an, Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1957

Abu H̱amid al-Ġazali, al-Mustasfā min 'Ilm al-Uṣūl Kairo: Syirkah at-Tibâ'ah al-Fatimiyyah al-Mutta̠hidah, 1971

Muḥammad at-Ṫāhir bin 'Āsyūr, Maqāṣid as-Syarī'ah al-Islāmiyyah, India; Dār an-Nafā'is, 2001

Muhammad Chirzin, Kearifan Al-Qur’an, Yogyakarta : Pilar Media, 2007

Muh̠ammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, ahli bahasa :Saefullah Ma'shum, Slamet Bashir, Mujid Rahmat, dkk, cet. Ke-15 Jakarta: Pustaka Firdaus, 2011

Asafri Jaya Bakri, Konsep Maqashid Syari'ah Menurut As-Syatibi, cet. Ke-1 Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996

Yusuf al-Qaradhawi, Fiqih Maqashid Syariah; Moderasi Islam antara Aliran Tekstual dan Aliran Liberal (Jakarta : Pustaka al-Kautsar, 2006

Ahmad Imam Mawardi, Fiqih Minoritas; Fiqh al-Aqaliyyāt dan Evolusi Maqāṣid as-Syarī'ah dari konsep ke pendekatan, cet. Ke-1 Yogyakarta, LKIS, 2010

Abu Bakar bin al-Arabi, Ahkam al-Qur’an, Beirut : Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2003

Catatan Kaki

[1] Abdul Mustaqim dkk, Studi Al-Qur’an Kontemporer, (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2002), hlm. ix

[2] Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an (Bandung : Mizan, 2013), hlm. 108

[3] Kangwawan.blogspot.com diakses pada: jam 17:23, tanggal 28, maret, 2013

[4] kbbi.web.id, akses pada jam 5:36, tanggal 07, april, 2013

[5] Ahmad Warson Munawwir, al-Munawwir, ( Indonesia : Pustaka Progressif, 1997), hlm. 1054

[6] Abu al-Fadhl Jamal al-Din Muhammad bin Mukarram bin Manzhur al-Afriqi al-Mishri, Lisan al-‘Arab, (Beirut: Dar Shadir, 1990), juz ke-5, hlm. 5

[7] Badr al-Din Muhammad ibn 'Abdullâh ibn Bahadir al-Zarkasyi, al-Burhan fî 'Ulum al-Qur`an, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1957), juz ke-1 hlm. 15.

[8] Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir, cet. Ke-4 (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), hlm. 1123

[9] Abu H̱amid al-Ġazali, al-Mustasfā min 'Ilm al-Uṣūl (Kairo: Syirkah at-Tibâ'ah al-Fatimiyyah al-Mutta̠hidah, 1971), hlm. 310-311

[10] Muḥammad at-Ṫāhir bin 'Āsyūr, Maqāṣid as-Syarī'ah al-Islāmiyyah, (India; Dār an-Nafā'is, 2001), hlm.

[11] Hal ini akan dibuktikan lebih jelas pada bagian perkembangan tafsir maqashidi
[12] Muhammad Chirzin, Kearifan Al-Qur’an, (Yogyakarta : Pilar Media, 2007). Hlm. 10-13
[13] Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an…, hlm. 128

[14] Muh̠ammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, ahli bahasa :Saefullah Ma'shum, Slamet Bashir, Mujid Rahmat, dkk, cet. Ke-15 (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2011), hal. 18

[15] Ibid. hal 50

[16] Asafri Jaya Bakri, Konsep Maqashid Syari'ah Menurut As-Syatibi, cet. Ke-1 (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996), hlm. 52

[17] Ahmad Imam Mawardi, Fiqih Minoritas; Fiqh al-Aqaliyyāt dan Evolusi Maqāṣid as-Syarī'ah dari konsep ke pendekatan, cet. Ke-1 (Yogyakarta, LKIS, 2010), hlm. 192

[18] Ahmad Imam Mawardi, Fiqih Minorita…, hlm. 197

[19] Narasumber dari seminar ini adalah Imam Hassan Qaznawi, Muneer Fareed dan Ingrid Mattson. Ahmad Imam Mawardi, Fiqih Minoritas…, hlm. 202

[20] Kangwawan.blogspot.com diakses pada: jam 17:23, tanggal 28, maret, 2013

[21] Yusuf al-Qaradhawi, Fiqih Maqashid Syariah; Moderasi Islam antara Aliran Tekstual dan Aliran Liberal (Jakarta : Pustaka al-Kautsar, 2006), hlm.6
[22] Muhammad Chirzin, Kearifan Al-Qur’an…, hlm. 34
[23] Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an…, hlm. 134

[24] Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an…, hlm. 107

[25] Yusuf al-Qaradhawi, Fiqih Maqashid Syariah; Moderasi Islam antara Aliran Tekstual dan Aliran Liberal (Jakarta : Pustaka al-Kautsar, 2006), hlm.18
[26] Yusuf al-Qaradhawi, Fiqih Maqashid Syariah; Moderasi Islam antara Aliran Tekstual dan Aliran Liberal (Jakarta : Pustaka al-Kautsar, 2006), hlm.19
[27] Ibid.
[28] Ibid, hlm. 24

[29] Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an…, hlm. 136

[30] Muhammad Chirzin, Kearifan Al-Qur’an…, hlm. 27
[31] Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an…, hlm. 137

[32] Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an…, hlm. 138

[33] Hal ini dapat dilihat pada halaman 1, dalam latar belakang

[34] Yusuf al-Qaradhawi, Fiqih Maqashid Syariah; Moderasi Islam antara Aliran Tekstual dan Aliran Liberal (Jakarta : Pustaka al-Kautsar, 2006), hlm.25
[35] kangwawan.blogspot.com diakses pada: jam 17:23, tanggal 28, maret, 2013

[36] Abu Bakar bin al-Arabi, Ahkam al-Qur’an, (Beirut : Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2003), juz ke-3, hlm. 342


0 Response to "Makalah Ulumul Qur'an: Tafsir Bercorak Maqoshidi"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!