Makalah Filsafat Paham Rasionalisme dalam Islam

Advertisement
Makalah Paham Rasionalisme dalam Perspektif Islam
Oleh: Qoem Aulassyahid

BAB I 
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Hingga kini objek kajian filsafat Barat telah mengalami tiga fase. Fase pertama adalah kajian filsafat yang menekankan kepada kosmologi atau disebut kosmosentris. Fase kedua filsafat yang menjadikan hati dan ajaran agama sebagai pusat kajian atau disebut sebagai teosentris. Ketiga, kajian yang menempatkan manusia sebagai subjek sekaligus objek atau disebut antroposentris[1]

Salah satu faham yang cukup memberikan pengaruh pada masa peralihan teosentris ke zaman antroposentris adalah faham rasionalisme. Hingga kini faham rasionalisme telah memberikan sumbangsih konsep penggunaan akal dan kajian ilmiah yang begitu besar bagi ilmu pengetahuan. 

Di samping itu, faham rasionalisme juga tidak luput dari kritikan jika dihadapkan pada konsep Islam.[2] Berangkat dari penjelasan di atas, maka tulisan ini mencoba mengelaborasi faham rasionalisme ini serta mencoba melihatnya dari persepektif Islam.

Paham Rasionalisme dalam Perspektif Islam

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Umum

Rasionalisme memiliki akar kata dari kata rasio. Adapun Rasio, berasal dari kata bahasa Inggris reason. Kata ini berakar dari kata bahasa Latin ratio yang berarti hubungan, pikiran. Ada beberapa kata dalam bahasa Indonesia yang akar katanya dari ratio, seperti kata rasional, rasionalisasi, dan rasionalisme. Kata rasional mengandung arti sifat, yang berarti masuk akal, menurut pikiran dan pertimbangan yang logis, menurut pikiran yang sehat, cocok dengan akal. kata rasionalisasi mengandung makna proses, cara membuat sesuatu dengan akal budi atau menjadi masuk akal.[3] 

Berdasarkan makna di atas, maka secara sederhana rasionalisme adalah sebuah pandangan yang berpegang bahwa akal merupakan sumber bagi pengetahuan dan pembenaran atau aliran atau ajaran yang berdasarkan ratio, ide-ide masuk akal.[4]

Adapun secara istilah, rasionalisme adalah prinsip bahwa akal harus diberi peranan utama dalam menjelaskan sesuatu. Secara umum kata rasionalisme menunjuk pada pendekatan filosofis yang menekankan akal budi sebagai sumber utama pengetahuan.[5] Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur melalui akal yang memenuhi syarat semua pengetahuan ilmiah. Pengalaman hanya dipakai untuk mempertegas pengetahuan yang diperoleh akal, atau secara eksplisit dapat dinyatakan bahwa akal tidak memerlukan pengalaman.[6]

Sehingga dapat difahami bahwa Paham rasionalisme ini beranggapan bahwa sumber pengetahuan manusia adalah rasio. Jadi dalam proses perkembangan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh manusia, harus dimulai dari rasio. Tanpa rasio maka mustahil manusia itu dapat memperoleh ilmu pengetahuan. 

Rasio itu adalah berpikir, maka berpikir inilah yang kemudian membentuk pengetahuan, dan manusia yang berpikirlah yang akan memperolah pengetahuan. Semakin banyak manusia itu berpikir maka semakin banyak pula pengetahuan yang didapat. 

Berdasarkan pengetahuan, manusia berbuat dan menentukan tindakannya, sehingga nantinya ada perbedaan prilaku, perbuatan, dan tindakan manusia sesuai dengan perbedaan pengetahuan yang didapat. Rasio juga tidak bisa berdiri sendiri. ia juga butuh dunia nyata. Sehingga proses pemerolehan pengetahuan ini ialah rasio yang bersentuhan dengan dunia nyata di dalam berbagai pengalaman empirisisnya. Maka dengan demikian, kualitas pengetahuan manusia ditentukan seberapa banyak rasionya bekerja. Semakin sering rasio bekerja dan bersentuhan dengan realitas sekitar, maka semakin dekat pula manusia itu kepada kesempurnaan.[7]

B. Sejarah Kemunculan Paham Rasionlisme

Munculnya faham rasionalisme ini sangat erat kaitannya dengan kemunduran peradaban Barat di abad pertengahan. Pada zaman tersebut manusia kurang dihargai sebagai manusia. kebenaran diukur berdasarkan kebenaran gereja, bukan menurut yang dibuat oleh manusia. hingga anti klimaks kemunduran Barat tersebut, orang-orang mulai menyadari perlu adanya revitalisasi kembali sistem kehidupan sebagaimana kejayaan filsafat Barat era Plato dan Aristoteles. 

Sistem kehidupan yang menempatkan manusia sebagai ukuran kebenaran dalam segala aspek. Adanya keinginan dan usaha tersebut kemudian melahirkan era kebangkitan bagi orang-orang Barat. Era tersebut hingga kini dikenal dengan era renaisans.[8]

Berdasarkan latar belakang tersebut maka sangat wajar jika zaman renaisans sangat diwarnai dengan faham humanisme. Humanisme sendiri mengehendaki ukuran haruslah manusia. karena manusia mempunyai kemampuan berpikir, berkreasi, memilih dan menentukan. Humanisme menganggap manusia mampu mengatur dirinya dan mengatur dunianya. Ciri humanisme salah satunya juga adalah pengggunaan akal dan pengalaman dalam merumuskan pengetahuan.[9] Mulai dari sini rasio telah mendapat peranan penting dalam kehidupan Barat.

Dengan mengikuti perkembangan manusia dan alam di zaman renaisans tersebut, kebutuhan untuk menyusun pemikiran kontemporer menjadi satu sistem filsafat yang koheren kembali muncul. Descartes, yang dianggap bapak filsafat modern kemudian mengajukan konsep rasionalisme sebagai sistem filsafat modern. Di sinilah rasionalisme muncul sebagai sistem filsafat pertama.[10] Hal ini menunjukkan pentingnya pemikiran rasionalisme Descartes sebagai pencetus faham ini. Untuk itu dalam rangka mengakji faham rasionalisme, dalam tulisan ini, konsep tersebut akan menjadi pembahasan inti.

C. Descartes, Bapak Filsafat Modern dan Faham Rasionalisme

Rene Descartes dilahirkan pada 1596 dan tinggal di sejumlah negeri di Eropa di beberapa periode kehidupannya. Bahkan sebagai seorang pemuda dia mempunyai hasrat yang kuat untuk mendapatkan wawasan mengenai hakikat manusia dan alam raya.[11] Tahun 1604-1612, ia belajar logika, filsafat matemika dan fisika.[12] Di sini ia memperoleh pengetahuan dasar tentang karya ilmiah Latin dan Yunani, bahasa Prancis, musik dan akting, logika Aristoteles dan etika Nichomacus. 

Descartes menyukai guru-gurunya, tetapi kecewa karena progam studinya. Ia kecewa karena sistem pengajaran dan merasa perihatin melihat keadaan ilmu pengetahuan waktu itu; matematika, fisika, ilmu-ilmu humaniora, dan lain-lain. Tema keraguan, ketakutan ditipu, kewaspadaan, dan pencarian keyakinan merupakan pokok bahasan yang selalu dibicarakan dalam filsafat Descartes (Cartesian).

Salah satu peristiwa penting di dalam hidupnya –yang kemudian menjadikannya sebagai pemerhati filsafat modern- yaitu ketika ia memutuskan untuk mengadakan perjalanan keliling eropa. Dia mengemukakan bahwa sejak itu dia membulatkan tekadnya untuk mencari kebijaksanaan yang akan ditemukannya dalam dirinya sendiri atau di dalam perjalannya.[13] Dia lalu bergabung dengan angkatan bersenjata dan pergi berperang, yang dengan itu memungkinkannya untuk melewati berbagai tempat di bagian Eropa tengah. Di kemudian hari, dia tinggal selama beberapa tahun di Paris. 

Pada tanggal 1629 dia pergi ke negeriBbelanda, di mana ia menetap selama hampir dua puluh tahun, menyusun karya-karya matematika dan filsafatnya. Pada tahun 1649, dia diundang ke swedia oleh ratu Chirstina. Tapi persinggahannya di tempat ini mendatangkan serangan radang paru-paru dan dia meninggal pada musim dingin 1650 ketika berumur 54 tahun.[14] descartes kemudian hidup melalu karya-karyanya yang dikenal hingga sekarang.[15]

Bagi Descartes, rasio adalah instansi tertinggi untuk mengetahuai sesuatu. Pengetahuan merupakan jalan, bukti eksistensi (eksistensi) manusia, dan bahkan menjadi ukuran kebernilaian manusia.[16] Rasionalitas Descartes sama halnya rasionalitasnya Plato, menyatakan bahwa akal universal ada dalam semua manusia, pemikiran merupakan elemen terpenting dalam sifat alami manusia, pemikiran merupakan alat satu-satunya atas kepastian pengetahuan, dan akal merupakan satu-satunya jalan untuk menentukan apa yang secara moral benar dan baik serta yang membentuk masyarakat yang baik.[17]

Kegelisahan awal Descartes terkait wacana filsafat di eranya adalah ia melihat adanya semacam ketepatan dan kepastian yang tidak dimiliki oleh filsafat tradisional. Ia dengan terang mengungkapkan: “Rantai panjang yang terdiri dari penalaran yang sangat sederhana dan mudah, yang biasa digunakan oleh ahli geomerti untuk memecahkan persoalan-persoalan sulit, telah menjelaskan kepadaku bahwa segala sesuatu yang masih ada dalam ruang lingkup pengetahuan manusia tentu saling berhubungan dengan cara yang sama”.[18]

Dengan demikian, filsafat pada masa lampau terlalu mudah memasukkan penalaran yang bias jadi benar ke dalam khazanah penalaran yang sebenarnya, dikhususkan bagi penalaran yang pasti. Padahal, kepastian itu hanya mungkin bila didasarkan pada kenyataan yang mau tidak mau harus diterima dan diakui. Sehingga, hanya penalaran pasti yang seharusnya menjadi bagian dan diskursus filosofis. Kalau sesuatu yang lain yang bersifat tidak pasti dimasukkan ke dalamnya, maka yang didapat adalah campuran antara yang masuk akal dengan yang tidak masuk akal, seperti yang terdapat dalam filsafat tradisional.[19]

Untuk itu, Descartes berupaya mencari kepastian dengan cara meragukan semua yang ada, termasuk tradisi filsafat yang diterimanya. Menurutnya, orang tidak harus menerima kebenaran-kebenaran yang telah dibuat sarjana-sarjana lain. Orang harus menemukan kebenaran sendiri dan harus mencari pemahaman dan keyakinan pribadi. Descartes mengatakan, “Andaikata kita membaca setiap kata dari karya-karya Plato dan Aristoteles tanpa kepastian pendapat kita sendiri, maka kita tidak maju satu langkah pun dalam berfilsafat. Pengertian historis kita dapat bertambah, namun pemahaman kita tidak.”[20]

Untuk itu, Cita-cita Descartes sebagai seorang filusuf adalah membangun sebuah sistem filsafat yang didasarkan pada intuisi dan deduksi yang akan tetap pasti dan abadi. Apa yang ditentukan Descartes untuk menemukan prinsip awal untuk filsafat matematisnya, dan akan menjadi landasan filsafat yang benar-benar pasti bisa disimpulkan. Namun apa yang menjadi persyaratan keyakinan mendasar, Descartes menyebutkan tiga hal:
  1. Kepastiannya haruslah semacam kemustahilan untuk diragukan, bisa dibuktikan sendiri melalui akal, jelas dan berbeda (dari keyakinan lainnya).
  2. Kepastiannya haruslah yang akhir dan tidak bergantung pada kepastian dari keyakinan lainnya.
  3. Haruslah mengenai sesuatu yang ada (sehingga keyakinan atas eksistensi benda lainnya bisa disimpulkan).[21]

Bagi Descartes, untuk mencapai pengetahuan yang benar perlulah orang menyisihkan pengandaian yang begitu saja dan lalu mulai mengadakan penyelidikan atas obyek pengetahuannya dengan akal budi.

Agar dapat memberikan dasar yang kokoh pada filsafat dan ilmu pengetahuan yang ingin diperbaruinya itu, Descartes memerlukan suatu metode yang baik. Descartes berpendapat bahwa ia telah menemukan metode yang dicarinya itu, yaitu dengan menyangsikan segala-galanya. Ia bermaksud menjalankan metode ini seradikal mungkin. Descartes memerintahkan agar seluruh pengetahuan yang dimiliki seseorang harus diragukan. 

Hal ini berarti bahwa, kesangsian metodis harus meliputi juga kebenaran-kebenaran yang sampai kini dianggap pasti, misalnya ada suatu dunia material, bahwa dirinya mumpunyai tubuh, bahwa Tuhan ada. Kalau terdapat suatu kebenaran yang tahan dalam kesangsian yang radikal ini, maka itulah pengetahuan yang pasti dan harus dijadikan fundamen bagi seluruh ilmu pengetahuan.[22]

Descartes berpendapat, bahwa dengan suatu refleksi yang teliti mengenai kebenaran pertama (cogito) akan mampu untuk menemukan di dalamnya jaminan bagi kebenaran, yang dapat digunakan sebagai patokan bagi kepastian selanjutnya. Mengapa Descartes menyangsikan eksistensinya sendiri? Sebab Descartes menangkapnya dengan begitu jelas dan terpilah, sehingga keraguan-keraguan menjadi tak berdaya. Yang “jelas dan terpilah” adalah suatu yang bercahaya berkat sinarnya sendiri. 

Pendirian ini adalah kenyataan yang begitu positif dan langsung selalu termuat di dalam ide yang jelas dan terpilah-pilah, sehingga isinya adalah real, perbedaan antara subyek dan obyek ditekan, dan budi mencapai apa yang mempunyai nilai pengetahuan tak bersyarat.[23] Ada empat langkah metodis yang diambil Descartes, untuk memperoleh pengetahuan yang jelas dan benar, di antaranya:

1. Bertolak dari keragu-raguan metodis, yaitu tidak ada yang diterima sebagai suatu yang benar sebagai pemecahan yang memadai, artinya menghindari secara hati-hati penyimpulan terlalu cepat dan prasangka, dan tidak memasukkan apapun dalam pandangannya kecuali apa yang amat tampak jelas dalam fikiran, sehingga tidak akan ada kesempatan untuk meragukannya.

2. Sistematik pemikiran dilakukan dengan bertitik tolak dari pemahaman obyek yang paling sederhana dan mudah dikenali, lalu meningkat ketahapan yang lebih rumit, dan bahkan dengan mengatur urutan obyek secara alamiah. Konsekuwensinya harus menghindarkan diri dari sikap tergesa-gesa dan prasangka. Adapun dalam keputusan-keputusannya hanya menerima sesuatu yang dihadirkan pada akal dengan sedemikain jelas dan tegas, sehingga mustahil untuk disangsikan.

3. Semua bahan dan persoalan diteliti, dibagi secara terperinci, secara bertahap sampai pada pengertian yang simpel dan absolut munuju pada pengertian yang komplek dan relatif.

4. Akhirnya sampailah pada tinjauan persoalan yang bersifat universal, artinya membuat perincian yang selengkap mungkin, sehingga ditemukan suatu kepastian, maka dengan demikian tidak ada lagi keraguan.[24]

Descartes menyebut keraguan itu sebagai “keraguan metodis universal”. Keraguan bersifat universal karena direntang tanpa batas atau sampai keraguan itu membatasi diri. Disebut metodis karena keraguan itu merupakan cara yang digunakan oleh penalaran reflektif filosofis, sebagai suatu cara untuk mencapai kebenaran. Keraguan bukan dalam arti kebingungan yang kepanjangan, tetapi sebagai usaha untuk mempertanyakan yang dilakukan akal budi. Keraguan ini dipratekkan bukan demi keraguan, melainkan sebagai tahap awal dalam mencapai kepastian.

Melalui keraguan metodis semacam inilah, menurut Descartes ditemukan adanya satu yang tidak dapat diragukan yaitu bahwa “aku ragu-ragu”, jika dirinya menyangsingkan sesuatu. Arti ini menunjukkan, kesangsian secara langsung menyatakan adanya “aku”. Hasil penyangsingan metodis pertama setelah Descartes meragukan segala sesuatu adalah “aku ada”. Descartes merumuskan pemenuannya dengan kalimat “Cogito Ergo Sum” aku berfikir maka aku ada.[25]

Mengenai pernyataan ini perlu ditegaskan dua hal. Pertama, istilah berfikir digunakan Descartes dengan pengertian yang agak luas, tidak semata-mata kegiatan penalaran, tetapi meliputi kegiatan sadar yang lain seperti meragukan, memahami, membayangkan, berkehendak, berimajinasi dan merasa. Kedua, pernyataan cogito ergo sum secara harfiah dierjemahkan “saya berfikir maka aku ada.” 

Sebenarnya maksud cogito adalah menyadari, oleh karena itu pernyataan cogito ergo sum harus dimengerti “saya menyadari, maka saya ada.” Kata menyadari sangat penting karena dalam klimaksnya Descartes sampai pada kesimpulan bahwa aku sebagai yang sadar. Bahwa yang sadar atau kesadaran itu adalah aku yang secara langsung mengenal dirinya sendiri. Bagi Descartes tidak ada kebenaran yang pasti selain diri sendiri, yang sedang meragu-ragukan itu pasti ada.

Hal ini didasari oleh keyakinan Descartes bahwa tindakan seseorang yang ragu tentang wujudnya sendiri, menjadikan dirinya insaf tentang kebenaran pernyataan bahwa seseorang itu ada. Melalui metode ini, maka cara Descartes menjadikan skeptisisme adalah sebagai titik tolak, dan mempergunakan untuk mengungkapkan suatu dasar bagi keyakinan-keyakinan. Skeptis disini bukan hanya dalam arti sempit yaitu sikap bahwa pengetahuan itu mustahil, dan bahwa usaha untuk mencari kebenaran tidak ada gunananya. 

Sekeptis yang digunakan Descartes adalah sekeptisisme yang hanya merupakan sikap mempersoalakan suatu asumsi atau kesimpulan, sampai hal-hal tersebut diteliti secara benar. Artinya, Descartes sebagai pemakai metode kesangsian cenderung untuk menekankan kemungkinan adanya kesalahan yang bersifat inhern dari bermacam-macam cara untuk memperoleh pengetahuan. Hal tersebut dapat ditunjukkan bahwa semua pengetahuan adalah bersifat manusiawi, dan bahwa kemampuan manusia adalah lemah dan terbatas, dan bahwa indera dan akal keduanya tidak dapat diandalkan.[26]

Selain persoalan metode keraguan, Descartes juga mengungkapkan bahwa apa yang jelas dan terpilah-pilah itu tak mungkin didapatkan dari apa yang berada di luar diri kita. Descartes menjelaskan, bahwa suatu benda atau peristiwa yang tampak dan dapat kita amati bukanlah benda atau peristiwa itu sendiri. Adanya benda atau peristiwa kita ketahui dengan rasio atau akal kita. Suatu benda atau peristiwa pada dirinya (das ding an sich) tidak dapat diamati. Yang kita amati itu bukanlah benda melainkan penampakannya saja. 

Pengetahuan kita tentang benda atau peristiwa itu sendiri bukan karena wahyu, bukan karena pengamatan, sentuhan, atau khayalan, melainkan karena pemeriksaan oleh rasio. Apa yang kita duga kita lihat dengan mata itu hanya dapat kita ketahui dengan kuasa penilaian kita yang terdapat di dalam rasio.[27]

Justru karena kesaksian apa pun dari luar tidak dapat dipercayai, menurut Descartes, seseorang mesti mencari kebenaran-kebenaran dalam dirinya, sambil menggunakan norma “jelas dan terpilah-pilah”.[28] Tindakan ragu tentang dirinya, menjadikan dirinya sadar tentang eksistensi pernyataan bahwa seseorang itu memang ada. 

Kesimpulannya, Dengan metode Keraguan awal total merupakan metode yang membuat pengetahuan menjadi jelas netral (mengesampingkan semua aspek praduga baik itu budaya maupun agama ) dalam mendapatkan pengetahuan. Dan bukan “skeptisime” yang dikemukakan oleh David Hume, yakni skeptisime bukan langkah awal tapi menjadi langkah akhir/kesimpulan, bahwa kita tidak mungkin mengetahui apapun. dan terpilah-pilah, sebagai titik tolak untuk mengungkapkan suatu dasar atas keyakinan-keyakinan.[29]

D. Paham Rasionalisme dalam Perspektif Islam

Terkait rasionalisme sebagai faham filsafat, dalam tubuh Islam dilayangkan tuduhan yang cukup serius dari orientalis mengenai filsafat. Semisal Renan menyatakan bahwa Islam tidak punya filsafat dan tidak ada konsep rasio. Apa yang disebagai filsafat Islam, hanya jiplakan dari karya-karya filsafat Yunani yang diterjemahkan, khususnya filsafat Aristoteles. Sementara Duhem menuduh bahwa filsafat Islam adalah nukilan dari neo-Platonism. Yang lain menyatakan bahwa yang sebenarnya adalah filsafat Barat.[30] Hingga sekarang pandangan seperti ini masih sangat marak diyakini bahkan oleh orang Islam sendiri.

Pernyataan seperti ini tentu merupakan pernyataan yang tidak benar. Al-Jabiri menjelaskan bahwa menjustifikasi rasionalisme atau filsafat pada umumnya dalam Islam adalah hasil jiplakan merupakan pernyataan yang tidak ilmiah.[31] Setidaknya ada dua alasan dalam hal ini. Pertama, belajar atau berguru tidak berarti meniru dan membebek semata. 

Dalam kenyataannya, interaksi antara Islam dengan budaya yang lebih maju, seperti India dan Persia tidak kemudian menghilangkan nilai-nilai prinsipil yang terdapat dalam Islam, bahkan yang terjadi sebaliknya. Sehingga seseorang berhak mengambil sebagian gagasan orang lain, tetapi itu semua tidak menghalanginya untuk menampilkan filsafatnya sendiri. ini pun terjadi dalam perkembangan filsafat Barat sendiri. seperti Aristoteles sebagai muridnya Plato, tetapi Aristoteles tidak dianggap menjiplak filsafat gurunya.

Kedua, realitas yang ada menunjukkan bahwa pemikiran rasional telah dahulu mapan dalam masyarakat muslim sebelum kedatangan filsafat Yunani.[32] Buktinya, sistem berpikir rasional telah berkembang pesat dalam masyarakat intelektual muslim khususnya dalam kajian agama (baca: filsafat ilmu dan agama). dalam bidang fikih penggunaan naral rasional dalam pengggalian hukum dengan istihsan, istishlah dan qiyas telah lazim digunakan tokoh-tokoh mazhab yang hidup sebelum kedatangan filsafat Yunani. Begitu pula dibidang teologi, penggunaan rasio dalam memahami ayat al-Qur’an seperti wujud tuhan juga telah menggunakan metode rasional, seperti yang dilakukan oleh Muktazilah.[33]

Lebih jauh lagi, dapat dikatakan bahwa kemunculan sistem berfikit rasional dalam Islam diindikasikan oleh beberapa fakta sejarah:

1. Didorong oleh munulnya mazhab-mazhab bahasa lantaran ada kebutuhan untuk memahami al-Qur’an.[34] keniscayaan aturan logika dalam bahasa inilah yang telah mendorong munculnya pemikiran rasional dalam bidang hukum maupun teologi pada fase-fase selanjutnya, jauh sebelum datangnya filsafat Yunani

2. Kajian resmi Islam yang ada relevansinya dengan kajian filosofis dan rasional berbagai ragam. Seperti penggunaan takwil, pembedaan antara istilah musytarak dengan yang tunggal, pengunnaan qiyas bahkan telah ada semenjak masa Nabi Muhammad sendiri.[35]

3. Kajian-kajian rasionalistik dalam khazanah Islam juga membuat ahli fikih dan teologi harus menguasai metode berfikir.[36]

Berdasarkan ini, maka sangat jelas bahwa kajian rasionalistis dalam Islam telah terbangun semenjak lama dibandingkan peradaban Barat termasuk Yunani. Hal ini karena memang Islam menempatkan akal dalam kedudukan yang penting.[37] kemandirian rasionalisme Islam juga terlihat dari bagaimana konsep filsafat Islam dan Barat sangatlah berbeda.

Leaman mengungkapkan bahwa perbedaan antara filsafat Islam dan Barat tidak hanya terletak pada premis-premis yang digunakan. Bukan juga pada valid tidaknya tata cara penulusuran argumen. Tetapi jauh lebih dari itu perbedaannya terletak dalam melihat sumber otoritas kebenaran. Dalam arti pemikiran teologi Islam didasarkan pada teks suci, sementara filsafat Barat didasarkan pada premis-premis logis yang akal menjadi tolak ukur mutlak.[38]

Perbedaan ini dibuktikan dengan bagaimana ulama muslim yang ahli dalam kajian filsafat mengkritik produk filsafat Barat yang tidak mengindahkan kebenaran teks suci. Seperti yang dilakukan oleh al-Ghazali. Dalam Tahafuh al-Falasifah, ia mengkritik pemikiran filsafat yang menganggap bahwa alam itu abadi, tuhan tidak mengetahui hal-hal yang partikular dan tidak ada kebangkitan ruhani.[39] 

Sejalan dengan hal tersebut, Al-Qardhawi juga menegaskan bahwa, dalam Islam nalar rasional sangat penting. sebab banyak sekali nilai-nilai dalam al-Qur’an perlu dituntut pembuktiannya dengan akal. namun al-Qur’an mengatur etika berasional. Di antaranya menjauhi rasional yang hanya taqlid kepada perkataan orang terdahulu meskipun salah, kepada pemimpin dan penguasa dan kepada orang-orang bodoh dan tidak mengindahkan agama.[40]

Kesimpulan.

Berdasarkan pemaparan di atas, secara sederhana dapat disimpulkan bahwa rasionalisme adalah paradigma filsafat yang menempatkan akal sebagai sumber pengetahuan dan kebenaran. Kemunculannya dilatarbelakangi dari pergeseran kajian filsafat dari teosentris ke anthroposentris. Tokoh terpenting dalam faham ini adalah Rene Descartes. 

Rasionalisme Sumber segala sesuatu kebenaran adalah fikiran, dan penalaran akal merupakan penalaran yang jelas dan tegas. Adapun pengalaman (empiris) hanya menguatkan gagasan yang telah ada dalam pikiran. Islam memiliki budaya rasional yang mandiri dan jauh lebih dahulu dari pada Barat. 

Perbedaan Islam dengan Barat dalam menggunakan rasio adalah Islam tidak memberikan otoritas mutlak kepada akal. bagi Islam, akal pun butuh bimbingan wahyu untuk mengetahui kebenaran hakiki.

Baca Juga: Makalah Kritik Al-Ghazali Terhadap Filosof Yunani dan Tanggapan Ibnu Rusyd

Daftar Pustaka

Al-Ghazali, Abu Hamid, Tahafut al-Falasifah, ed. Sulaiman Dunya, Mesir: Dar al-Ma’arif 1966

Al-Jabiri, ‘Abid, Takwin al-‘Aql al-‘Arabi, saudi arabia, markaz al-tsaqafi al-arabi

Al-Qaradhawi,Yusuf ad-Din fi ‘Ashr al-‘Ilm, Amman: Dar al-Furqan, 1996

Amin, Ahmad, Dhuha al-Islam, kairo: Dar al-Fikr al-Arabi, 1936

Bagus, Lorens, Kamus Filsafat, Jakarta: gramedia pustaka utama, 2002

Bertens, K, Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1999

Coulson Noel J, Hukum Islam dalam Perspektif Sejarah, Jakarta: P3M, 1987

Descartes, Rene, Diskursus dan Metode terj. Ahmad faridl ma’ruf yogyakarta: IriSoD, 2012

____________, Discourse on method and Meditations on First Philosophy, trj. Donal A. Cress Cambridge: Hackett Publishing Company Indianapolis, 1980

Gaarder, Joustein, Dunia Shopie: Sebuah Novel Filsafaat, terj. Rahmani astuti, Bandung: Mizan, 2013

Gallagher, Kenneth T, Epistemologi Filsafat Pengetahuan, terj. Hardono Hadi Yogyakarta; Kanisius, 1994

Garvey, James, 20 Karya Filsafat Terbesar, Yogyakarta; Kanisius, 2010

Hitti, Philip K., History of The Arabs, New York, Martin Press

Lavine, T. Z, Petualangan Filsafat Dari Socrates Ke Sarte Yogyakarta: Jendela, 2002

Leaman, Oliver, Pengantar Filsafat Islam, terj. Amin Abdullah, Jakarta: Rajawali Press, 1998

Madkhur, Ibrahim, fi al-falsafah al-Islamiyah: manhaj wa at-tathbiqiyyah, Mesir: Dar al-Ma’arif, tt

Mahdi, Muhsin, al-Farabi dan Fondasi Filsafat Islam, dalam jurnal al-hikmah, edisi 4 februari 1992,

Mudji Sutrisno, at.al, Para Filsuf Penentu Gerak Zaman Yogyakarta: Kanisius, 1994

Mulkhan, Abdul Munir, Mencari Tuhan dan Tujuh Jalan Kebebasan: Sebuah Esai Pemikiran Imam Al-Ghazali, Jakarta: Bumi Aksara, 1991

Nolan, Titius Smith, Persoalan-Persoalan Filsafat Jakarta: Bulan Bintang, 1984

Poedjawijatna, Pembimbing Kearah Alam Fisafat Jakarta: Rineka Cipta, 1990

Praja, Juhaya S, Aliran-aliran Filsafat dan Etika, Jakarta: Kencana, 2010

Soemargono, Soejono, Berfikir Seca ra Kefilsafatan, Yogyakarta: Nur Cahaya, 1988

Susanto, A, filsafat ilmu, suatu kajian dalam dimensi ontologis, epsitemologis dan aksiologis, Jakarta: Bumi Aksara, 2011

Suseno, Franz Magnis, Pijar-Pijar Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 2009

__________________, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis Yogyakarta: Kanisius, 2002

Tafsir, Ahmad, Filsafat Umum Akal dan Hati sejak Thales sampai Capra, Bandung: Rosda karya, 2000

Zubaedi, at.al, Filsafat Barat, Dari Logika Rene Descartes hingga Revolusi Sains ala Thomas Kuhn Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Group, 2010

Catatan Kaki

[1] Kosmosentris adalah paradigma filsafat Yunani: kosmos, alam raya berada di pusat perhatian para filosof. Teosentris adalah faham filsafat yang berkembang pada abad pertengahan di Barat. Faham ini menempatkan nilai-nilai agama sebagai sumber kebenaran. Adapun ontroposentris adalah paradigma filsafat yang menempatkan manusia sebagai center court. Franz Magnis Suseno, Pijar-Pijar Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 2009), p.37

[2] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum Akal dan Hati sejak Thales sampai Capra, (Bandung: Rosda karya, 2000), p. 126-127

[3] Lorens bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: gramedia pustaka utama, 2002), p. 925

[4] A susanto, filsafat ilmu, suatu kajian dalam dimensi ontologis, epsitemologis dan aksiologis, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), p. 36

[5] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakata: gramedia pustaka utama, 2002), p 928-929

[6] A susanto, filsafat ilmu, suatu kajian dalam dimensi ontologis..., p. 141

[7] Soejono Soemargono, Berfikir Seca ra Kefilsafatan, (Yogyakarta: Nur Cahaya, 1988), p. 108.

[8] Renaissance, kata Perancis berarti ‘kelahiran kembali’ atau ‘kebangkitan kembali’. Renaissance menunjukkan suatu gerakan yang meliputi suatu zaman dimana orang merasa dilahirkan kembali dalam keadaban. Di dalam kelahiran kembali itu orang kembali kepada sumber-sumber yang murni bagi pengetahuan dan keindahan. Zaman renaissance juga berarti zaman yang menekankan otonomi dan kedaulatan manusia dalam berpikir, dalam mengadakan eksplorasi, eksprimen, dalam mengembangkan seni, sastra dan ilmu pengetahuan di Eropa. Lihat. Lorens Bagus. (1996). Kamus filsafat. Jakarta: Gramedia, hlm. 953-954.

[9] Ahmad Tafsir. (2000). Filsafat umum akal dan hati sejak Thales sampai Capra. Bandung: Rosdakarya. hlm. 126-127.

[10] Joustein Gaarder, Dunia Shopie: Sebuah Novel Filsafaat, (Bandung: Mizan, 2013), p. 367

[11] Descartes ketika masih kecil mendapat nama baptis rene, tumbuh sebagai anak yang menampakkan bakatnya dalam bidang filsafat, sehingga ayahnya pun memanggilnya dengan julukan si filsuf kecil. Juhaya S Praja, Aliran-aliran Filsafat dan Etika, (Jakarta: Kencana, 2010), hlm. 92

[12] Franz Magniz Suseno, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis (Yogyakarta: Kanisius, 2002). P, 71. Pendidikan pertamanya di peroleh di College Des Jesuites De La Fleche. Di sini ia memperolah pengetahuan dasar tentang karya ilmiah latin di Yunani, bahasa Prancis, musik dan kating, logika Aristoteles dan etika Nichomacus

[13] Rene Descartes, Diskursus dan Metode terj. Ahmad faridl ma’ruf (yogyakarta: IriSoD, 2012), p. 132

[14] Jostein garden, dunia sophie, terj. Rahmani astuti, (bandung: mizan, 2008), p. 366

[15] Karya-karya Descartes yang diketahui hingga sekarang di antaranya: Les Regles Pour La Direction De I’spit, Le Monde, Disocours De La Methode, Medititation Metpysiques dan lain-lain.

[16] Abdul Munir Mulkhan, Mencari Tuhan dan Tujuh Jalan Kebebasan: Sebuah Esai Pemikiran Imam Al-Ghazali (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), p. 44

[17] T. Z. Lavine, Petualangan Filsafat Dari Socrates Ke Sarte (Yogyakarta: Jendela, 2002), p. 80

[18] Zubaedi, at.al, Filsafat Barat, Dari Logika Rene Descartes hingga Revolusi Sains ala Thomas Kuhn ( Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Group, 2010), p. 19

[19] Kenneth T. Gallagher, Epistemologi Filsafat Pengetahuan, ter. Hardono Hadi (Yogyakarta; Kanisius, 1994), p. 30

[20] Zubaedi, at.al, Filsafat Barat, Dari Logika Rene Descartes.., p. 20

[21] James Garvey, 20 Karya Filsafat Terbesar (Yogyakarta; Kanisius, 2010), p. 5

[22] K Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 1999), p. 22

[23] ibid., p. 37

[24] Rene Descartes, Discourse on method and Meditations on First Philosophy, trj. Donal A. Cress (Cambridge: Hackett Publishing Company Indianapolis, 1980), p. 10

206 Mudji Sutrisno, at.al, Para Filsuf Penentu Gerak Zaman (Yogyakarta: Kanisius, 1994), cet II, p. 57

[25] Mudji Sutrisno, at.al, Para Filsuf Penentu Gerak Zaman (Yogyakarta: Kanisius, 1994), cet II, p. 57

[26] Titius Smith Nolan, Persoalan-Persoalan Filsafat (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), p. 232

[27] Poedjawijatna, Pembimbing Kearah Alam Fisafat (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), p. 101

[28] Ibid, p. 45

[29] Titius Smith Nolan, Persoalan-Persoalan Filsafat (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), p. 232

[30] Ibrahim Madkhur, fi al-falsafah al-Islamiyah: manhaj wa at-tathbiqiyyah, juz I, (Mesir: Dar al-Ma’arif, tt), p. 21

[31] ‘Abid al-Jabiri, Takwin al-‘Aql al-‘Arabi, (saudi arabia, markaz al-tsaqafi al-arabi), p. 57

[32] Philip K. Hitti, History of The Arabs, (New York, Martin Press), p. 128

[33] Muhsin Mahdi, al-Farabi dan Fondasi Filsafat Islam, dalam jurnal al-hikmah, edisi 4 februari 1992, p. 56

[34] Setidaknya ada tiga mazhab bahasa yang berkembang: pertama, mazhab basrah. Yaitu mazhab yang cenderung memperhatika n kordinasi rasional dengan bahasa. Kedua mazhab kufah. Berbeda dengan mazhab basrah yang bersandar pada logika, mazhab ini menekankan pada prinsip linguistik sehingga lebih bebas dalam menerima aturan-aturan yang berbeda. Ketiga mazhab baghdad. Mazhab ini berusaha menggabungkan dan mengkompromikan antara ketatnya mazhab basrah dan longgarnya mazhab kufah. Ahmad Amin, Dhuha al-Islam, (kairo: Dar al-Fikr al-Arabi, 1936), p. 296-298

[35] Noel J Coulson, Hukum Islam dalam Perspektif Sejarah, (Jakarta: P3M, 1987), p. 48

[36] Muhsin Mahdi, al-Farabi dan Fondasi Filsafat Islam..., p. 58

[37] dalam al-Qur’an, banyak ayat yang menunjkkan bagaimana Islam menempatkan akal pada posisi penting. al-seperti pada al-Baqarah: 111

[38] Oliver Leaman, Pengantar Filsafat Islam, terj. Amin Abdullah, (Jakarta: Rajawali Press, 1998), p. 10

[39] Al-Ghazali, Tahafut al-Falasifah, ed. Sulaiman Dunya, (Mesir: Dar al-Ma’arif 1966), p. 120

[40] Selengkapnya: Yusuf al-Qaradhawi, ad-Din fi ‘Ashr al-‘Ilm, (Amman: Dar al-Furqan, 1996)



0 Response to "Makalah Filsafat Paham Rasionalisme dalam Islam"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!