Makalah Analisis Kitab al-Wasith fi Ulum al-Hadits wa Musthalahuhu karya Abu Syuhbah

Advertisement
Makalah Analisi al-Wasith fi Ulum al-Hadits wa Musthalahuhu karya Abu Syuhbah

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salah satu ilmu yang lahir dari Rahim ajaran Islam adalah ilmu hadis.[1] Hal ini dibuktikan dari bermunculannya karya-karya ulama sepanjang generasi yang membahas tentang ilmu hadis atau yang biasa kita kenal dengan ulum al-Hadis. 

Di awal perkembangannya, ulum al-Hadis dapat ditemukan pembahasannya di dalam beberapa kitab seperti, al-Umm dan ar-Risalah karya Imam as-Syafi’i, Jami at-Tirmidzi, dan Shahih Muslim. penulisan ulum al-Hadis pada masa itu masih bercampur dengan pembahasan ilmu fiqh.

Uniknya, ilmu hadis menjadi sebuah disiplin ilmu tersendiri secara komperhensif, justru dimulai dari tulisan-tulisan para ulama yang membahas tentang cabang dari ilmu hadis, seperti ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil, ilmu al-Nasikh wa al-Mansukh dan ilmu al-Asma wa al-Kuna. 

Adapun ulama yang berperan penting pada fase ini adalah Yahya bin Main yang mulai menyusun kitab yang berisi biografi para perawi, Muhammad bin Sa’ad yang menyusun tabaqat perawi dan Ahmad bin Hanbal menyusun kitab al-Ilal wa al-Ma’rifah al-Rijal dan al-Nasikh wa al-Mansukh.[2]

Hingga pada abad 4 hijriah, mulailah para ulama menyusun kitab yang membahas sejumlah cabang ilmu hadis secara komperhensif. Dalam sejarah, ditentukan al-Qadi Abu Muhammad ar-Rahmuhurmuzi sebagai pencetus yang menyusun ilmu hadis secara komperhensif dan sistematis di dalam karangannya al-Muhaddis al-Fasil Baina ar-Rawi wa al-Wa’i. 

Kemudian berturut-turut muncullah kitab-kitab ulum al-hadis lain yang mengembangkan dan menyempurnakan dari masa ke masa. Misalnya al-Hakim al-Naisaburi dengan karyanya ma’rifah ulum al-Hadis, al-Khatib al-Baghdadi dengan Jami’ li adab al-Rawi wa al-Sami’ dan juga yang populer hingga sekarang al-Kifayah fi ilm al-Riwayah. Lalu Qadi Iyad dengan al-Ilma, hingga kitab yang hingga sekarang masih dianggap puncak dari ilmu hadis pada abad ketujuh tersebut adalah kitab yang dikenal dengan sebuttan Muqaddimah Ibn Shalah yang dikarang Abu Amr Usman bin Abd al-Rahman al-Syahrazuri.

Dalam tulisan ini, akan dibahas salah satu kitab ulum hadis yang datang belakangan. Adapun kitab hadis tersebut ialah, al-Wasith fi ulum wa musthalah al-Hadis karya Muhammad bin Muhammad Abu Syuhbah. Karya ini dianggap representatif karena selama ini kajian kitab ulum al-hadis pada umumnya membahas karya-karya kitab lalu seperti karya ar-ramahurmuzi atau karya al-hakim, atau yang dianggap paling lengkap muqaddimah ibn Shalah. 

Adalah al-wasith, mencoba menghadirkan sistematika ulum hadis berbeda dari kitab-kitab di atas. Selain itu, kitab ulum hadis ini diperuntukkan untuk semua kalangan tidak hanya untuk orang-orang yang berkecimpung di dunia ilmu hadis. Untuk itu, kiranya buku ini layak untuk dianalisa.

BAB II 
PEMBAHASAN

A. Biografi Pengarang

Beliau adalah Muhammad Muhammad Abu Syuhbah seorang ulama mesir yang sangat piawai dalam mentahqiq (menelaah) hadits, mensyarah ( memberikan penjelasan maksud hadits). Dr. Abdul halim mahmud mengatakan bahwa beliau (Abu Syuhbah) termasuk seorang ulama yang mulia, yang memberikan perhatian terhadap sunah Nabi dengan jujur dan penuh dengan keikhlasan.

Diantara karya – karya beliau yang terkenal ialah Fi Rihab al-Sunah al-Kutub al-Shihah al-Sunah, Difa’ ‘an al-sunnah wa Radd syubah al musytasyriqin wa al- kuttab al-mu’assirin, al-Madkhal li dirasati al-qur’an al-karim, al-shirah al-Nabawiyah fi Dhau’i al-kitab wa al-sunah,al-isra’iliyat wa al-maudhu’at.[3]

B. Latar Belakang Penulisan Kitab


`Dalam pembukaan bukunya, dia menjelaskan secara kronologis buku ini ditulis oleh beliau dan kenapa dinamakan dengan al-Wasith fi ulum al-Hadis. Pada tahun 1382 H/1962 M, ia menulis kitab yang membahas tentang bagian kecil dari ilmu hadis. Buku ini kemudian dinamakan “fi ushul al-Hadis”. 

Lalu pada tanggal 1385 H/ 1977 M, Abu Syuhbah menulis kembali kitab yang di dalamnya terdapat beberapa pembahasan tentang ulum hadis yang berkisar pada tema adab penulisan hadis, adab periwayatan, adab muhaddis dan adab penuntut ilmu hadis. Kitab ini ia sebut dengan “ulum al-Hadis”. Hingga ketika Abu Syuhbah mendapatkan waktu yang cukup senggang, yaitu selama beberapa bulan sebelum masuknya musim haji dan satu bulan setelahnya, beliau kemudian merevisi kedua kitab tersebut dengan banyak memasukkan kajian-kajian lain untuk melengkapinya. 

Dua buku yang berbeda judul tersebut kemudian digabungkan dan diberikan nama sesuai judul keduanya “’ulum al-hadis wa Musthalahuhu”. Terdapat faktor spesifik yang mendorong dan menjadi alasan utama Abu Syuhbah menyusun kitab ulum hadis ini. dalam muqaddimahnya ia menyatakan bahwa:

Berdasarkan keterangan di atas dapat diketahui bahwa kegelisahan utama dari Abu Syuhbah adalah kesadarannya akan perlunya mengenalkan ilmu hadis sebagai bagian dari peradaban Islam. hal yang kemudian menjadi masalah, tidak terletak pada minimnya minat atau kepedulian umat Islam secara umum akan ilmu hadis, tetapi belum adanya ulama yang berkecimpung di bidang hadis mampu menghadirkan kitab ulum al-hadis yang mudah dicerna dan difahami oleh umat Islam secara umum. Sehingga kitab ini diharapkan menjadi kitab ulum al-hadis yang bisa memenuhi ekspektasi di atas.

Untuk itu kitab ini, menurut Abu Syuhbah adalah kitab yang merangkum intisari dari kitab ulum hadis semenjak ar-Ramahurmuzi hingga dikontekstualisasikan dengan pemahaman umat Islam zaman sekarang. Sifat kemudahan dicernanya membuat penjelasan di dalamnya relatif singkat, itulah oleh Abu Syuhbah ditambahkan penamaannya dengan al-Wasith. Pada akhirnya kitab ini pun diberi judul al-Wasith fi al-Ulum wa al-Mushthalah al-Hadis.
Resensi Kitab al-Wasith fi Ulum al-Hadits wa Musthalahuhu


C. Sistematikan Penulisan Kitab

Di awal pembahasan, Muhammad Abu Syuhbah memberikan sub tema dengan judul “manhaji fi at-Ta’lif”. Pada subtema tersebut dia menyatakan:

Pernyataan Abu Syuhbah sebagaimana nukilan di atas menunjukkan bahwa Abu Syuhbah mencoba mensistemtisasikan pembahasan-pembahasan di dalam kitab ini berbeda dari apa yang terdapat di dalam kitab-kitab ulum al-hadis populer sebelumnya, seperti Muqaddimah ibn as-Shalah dan Ibnu Hajar al-Atsqalani yang memulai penjelasan dengan membahasa shahih, hasan dha’if.

Adapun manhaj atau sistematika pembahasan dalam kitab ini ia jelaskan adalah

Pertama. menjelaskan definisi istilah-istilah yang sering digunakan dalam ilmu hadis. Lalu penjelasan tentangan laqob ahli-ahli hadis. Penjelasan tentang hadis qudsi dan perbedaannya dengan qur’an dan hadis nabi.

Kedua, penjelasan tentang ulum hadis yang dibagi menjadi ilm ar-Riwayah dan ilm ad-Dirayah. Juga di dalamnya penjelasan tentang perkembangan-perkembangan yang dialami kedua ilmu ini. termasuk juga adanya pembahasan tentang kitab-kitab yang populer, baik masa lalu dan sekarang. Begitu pula pembahasan tentang periwayatan yang terbagi menjadi beberapa bagian: konsepnya, pembagiannya, syarat-syaratnya, sisi historisnya, pemeliharan umat arab dan umat Islam dalam hal tradisi periwayatan. 

Terdapat pula pembahasan khusus tentang bagaimana sebenarnya adanya isnad yang muttashil itu adalah bagian istimewa yang hanya ada di dalam Islam. begitu juga dengan sejarah pentadwinan pada masa nabi, sahabat, khulafa ar-Rasyidun dan pada masa tabi’in. 

Pada proses tadwin, tentu dijelaskan pula bagaimana penyusunan hadis, sunan menjadi penyusunan resmi dan umum yang diprakarsai oleh khaklifah Umar bin Abdul Aziz. Hingga pembahasan masuk diskusi tentang hadis-hadis ta’arudh mengenai boleh tidaknya menulis di zaman sahabat. 

Abu Syuhbah mengalanisa persoalan ini dengan melihat tradisi tulis menulis yang hakikatnya telah digeluti oleh para Sahabt di masa Islam, dan bagaimana pada hakikatnya orang Arab dahulu menggunakan hafalan dan penulisan sebagai bagian dari peradaban mereka, meskipun tulis menulis masihlah jarang. Pada akhirnya setiap membahasan bermuara pada kesimpulan bahwa penulisan dan penyusnan sunnah terjadi di permulaan abad Islam.

Ketiga, menjelaskan tentang kitab-kitab populer yang dikarang pada kurun abad 2 hijiryah. Seperti kitab al-Muwattha’ yang merupakan kitab yang tersisa dari abad tersbut. Lalu pada abad ke tiga atau yang dianggap sebagai abad keemasan dalam penyusunan hadis dan sunan.

Keempat, menyebut pula kitab-kitab yang populer dikarang pada kurun abad ke 4. Dan pada kurun ini jika tidak bisa dikatakan selesai atau sempurna, maka hampir keseluruhan dari hadis dan sunan telah tersususn. Petbaikandan pengumpulan dari kitab kitab yang terpisah. Dan hal ini selesai pada abad ke 5.

Kelima, menjelaskan tentang metode dan sistematisasi para ulama di dalam mengarang kitab-kitab mereka yang terkait hadis. Kemudian menjelaskan syarat-syarat perawi di dalam Islam dan perbedaan antara adl ar-riwayah dan adl as-syahadah, dan bagaimana seseorang dikatakatan telah memenuhi syarat perawi secara lengkap. Dan juga cara merajihkan antara perawi yang shadiq dan yang kadzib, antara perawi yang dhabith dan perawi yang ghaflah. Setelah itu, saya merangkumkan turuqh at-tahammul wa al-ada’. Dan itu sebanyak 8 cara. Hal ini agar diketahui oleh para penuntut ilmu dan para peneliti bahwa hadis-hadis itu berdiri berdasarkan asas yang kuat dari jalur-jalur periwayatan yang shahih. 

Kemudian, akan dijelaskan isnad ali dan pembagiannya. Begitu pun dengan an-nazil dengan pembagiannya. Agar para penuntut ilmu tahu bahwa melacak uluwwi sanad merupakan hal yang telah menjadi tradisi semenjak dahulu, lalu akan disebutkan sejumlah masalah dan kaidah yang berkaitan dengan karakteristik penuliskan kitab dan kedhabitannya. Dan karakteristik periwayatannya termasuk di dalamnya periwayatan dengan makna dan juga penjelasan syarat-syaratnya.

Keenam: penjelasan tentang adab-adab ahli hadis dan adab penuntut hadis- terlebih lagi dalam hal rihlah mereka di dalam mencari ilmu dan hadis. Kemudian dipaparkan pula periode di mana saat itu banyak para penuntut ilmu mengarang karya tentang hadis dan bagaimana mereka bersungguh-suguuh hingga betul-betul mahir dalam keilmuan hadis tersebut.dan harus pula dipaparkan tujuan-tujuan yang menjadi maksud ditulisnya ilmu hadis sebagaimana yang telah dijelaskan oleh al-Imam an-Nawawi dan selainnya

Terakhir, dijelaskan tentang hal-hal yang berkaitan dengan pembagian hadis, dari sudut pandangan ulama. Dalam hal ini Abu Syuhbah memuliainya dengan Pembagian hadis dilihat dari kwantitas perawi hingga pembagian dilihat dari faktor lainnya.

Dalam hal ini, telah diluaskan ruang di dalam membahas mutawatir, masyhur dan pembagiannya dan kitab-kitab yang dikarang tentang hadis-hadis yang populer, dan termasuk yang harus diketahui bahwa kapan al-mutawatir itu jadi sahih, hasan atau dhaif. Pada pembagian kedua, hadis terbagi berdasarkan perawinya. 

Pertama marfu’, mauquf dan maqthu’. Pada pembahasan ini saya akan membahas mana marfu’ yang sharahah dan mana marfu secara hukum. Dan juga penerangan tentang beberapa istilah yang penting terkait hadis mauquf yang telah ditentukan oleh ulama yang ahli dalam hal ini. termasuk hal yang penting diketahui adalah bahwa ketiga ini bisa menjadi shahih, hasan atau dhaif, berlainan dari apa yang difahami oleh kalangan yang menganggap bahwa ketiga tersebut bagian dari hadis dhaif.

D. Kandungan Materi Kitab

Jika kita tela’ah secara sederhana di bagian daftar isi kitab ini, maka diketahui bahwa terdapat setidaknya 709 pembahasan yang dibahas di dalamnya. Tentu mustahil penulis menyajikan tiap pembahasan sebanyak itu secara terperinci, mengingat keterbatasan waktu dan kemampuan penulis. Bahkan, daftar isi yang dimuat dalam kitab ini memakan 48 halaman. Di antara tema-tema yang ada di dalam daftar isi tersebut antara lain:

  1. Pembukaan Kitab- Membahasa tentang ajakan, tujuan dan pentingnya memelihara umat Islam dengan Hadis secara riwayat dan dirayah (halaman 5-8)
  2. Metodologi Penulisan Kitab (halaman 8-13)
  3. Penjelasan istilah-istilah pokok di dalam kitab-kitab hadis (halaman 15)
  4. Sunnah dari segi bahasa dan Istilah (halaman 16)
  5. Definisi al-Khabar dan al-Atsar (halaman 17)
  6. Sanad-Isnad segi Bahasa dan Istilah (halaman 18)
  7. Musnad dan Musnid (halaman 18)
  8. Matan segi Bahasa dan Istilah dan contoh penggunaan istilah-istilah hadis pada hadis “Innama a’mal binniyah” (halaman 18-19)
  9. Laqab orang-orang yang berkecimpung dalam hadis: al-Hafizh- al-Hujjah- al-Hakim dan lain-lain (halaman 19-20)
  10. Perpaduan Kwalitas hafalan dan pemahaman yang menjadi khusus para ahli hadis generasi awal. (halaman 21-22)
  11. Ilmu hadis dilihat dari definsi secara umum dan definisi dari susunan katanya (halaman 23)
  12. Ilmu hadis riwayah: ruang lingkup, fungsi dan beberapa hal penting yang berkaitan dengannya (halaman 24-25)
  13. Ilmu hadis dirayah: ruang lingkup, fungsi dan beberapa hal penting yang berkaitan dengannya (halaman 25-26)
  14. Sejarah ilmu hadis dirayah: sebelum masa penyusunan hingga masa penyusunan kitab hadis- beberapa problem yang berkiatan dengan hal in yang telah tercantum di dalam beberapa kitab-kitab lain (halaman 27-28)
  15. Penyusunan kitab-kitab yang membahas cabang-cabang ulum al-hadis (halaman 29)
  16. Penyusunan ulum hadis sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri- beberapa istilah terkait dengan ilmu hadis-kapan dimualinya penyusunan-kitab-kitab populer yang dikarang (halaman 30)
  17. Kitab-kitab: Karangan ar-Ramuhurmuzy-al-Hakim Abi Abdullah-al-Hafizh Abi Nu’aim (halaman 31)
  18. Kitab-kitab ulum al-Hadis karangan Al-Khatib al-Baghdadi- setiap kitab yang dikarang setelah al-Khatib al-Baghadadi pasti bersandar dari kitabnya. (halaman 31)
  19. Ulum al-hadis karangan Ibnu Shalah (halaman 32)
  20. Syair-syair al-Iraqy yang berkaitan dengan ulum hadis-alfiyah al-Iraqy wa Syuruhuha-at-taqrib karangan an-Nawawy (halaman 33)
  21. At-Tadrib karangan as-Suyuthy dan beberapa kitab yang dikarang sebagai ringkasan dari kitabnya. (halaman 34)
  22. Nukhbah al-Fikr bi Syarhiha- Zhafar al-Amani- Syarh al-Jurjani -alfiyah karangan as-Suyuthy (halaman 34-35)
  23. kritik argumen orientalis seputar hadis (halaman 38)
  24. Periwayatan di dalam Islam- pengertiannya secara bahasan dan istilah- rukun dan syaratnya- pembagiannya (halaman 39-40)
  25. Periwayatan sebagai metode jalur ilmu- sejarah periwayatan- periwayatan di dalam tradisi umat-umat lain (halaman 41-42)
  26. Periwayatan di dalam tradisi arab- eksistensi periwayatan dan validitas suatu informasi disandarkan kepada hafalan termasuk di antara sebab dari menghafal al-Qur’an dan Sunnah (halaman 43)
  27. Keistimewaan periwayatan menurut kaca kaca mata Islam (halaman 44)
  28. Memelihara urusan umat Islam dengan kritis terhadap sanad dan matan (halaman 45)
  29. Nash-nash yang menunjukkan diperintahkannya kritis atas sanad dan matan sebagai bentuk pemeliharaan al-Qur’an dan hadis (halaman 45)
  30. Al-Isnad as-Shahih al-Muttashil merupakan kekhususan umat Islam (halaman 45-48)
  31. Hadis di zaman Rasulullah (halaman 49)
  32. Wajibnya menyampaikan hadis dan sunah-penulisan al-Qur’an, secara keseluruhan yang disaksikan langsung oleh Nabi saw dan dengan demikian al-Qur’an divalidasi dengan dua (1) hafalan dan (2) penulisan (halaman 50)
  33. Tidak dikodifikasinya keseluruhan hadis di masa Nabi saw- hadis larangan menulis hadis-diperbolehkannya beberapa sahabat untuk menulis hadis (halaman 51)
  34. Nash-nash yang menunjukkan atas diperbolehkannya menulis hadis (halaman 52-55)
  35. Perselisihan ulama salam mengenai boleh tidaknya menulis hadis (halaman 56)
  36. Pandangan ulama di dalam pengkompromian hadis yang melarang dan hadis yang membolehkan penulisan hadis (halaman 57)
  37. Hadis di masa Sahabat dan kibar at-Tabi’in (halaman 58) 
  38. Keinginan Umar R.A untuk menuliskan hadis (halaman 59)
  39. Tulisan hadis sebagian Sahabat (halaman 60)
  40. Banyaknya tabi’in yang menuliskan hadis (halaman 60)
  41. Beberapa contoh tabiin yang menulis hadis (halaman 61)
  42. Upaya klarifikasi periwayatan yang dilakukan di masa sahabat- klarifikasi pada masa Khalifah ar-Rasyidin (halaman 61)
  43. Klarifikasi periwayatan periode Abu Bakar as-Shiddiq (halaman 61)
  44. Klarifikasi periwayatan periode Umar R.A- klarifikasi yang dilakukan Abu al-Hasan Ali r.a.-klarifikasi yang dilakukan selain al-khulafa ar-Rasyidin dari golongan sahabat-adanya upaya klarifikasi tidak memaksudkan kedustaan sahabat dan tidak pula meragukan kejujuran sahabat (halaman 62-63)
  45. Klarifikasi periwayatan di masa tabi’in dan periode setelahnya (halaman 63)
  46. Awal kodifikasi hadis dengan penyusunan secara umum dan hal yang melatarbelakanginya (halaman 64)
  47. Kapan dimulainya penyusunan hadis? Siapa yang memerintahkannya? – keterangan dari atsar yang berkaitan dengan hal tersebut (halaman 65)
  48. Surat Khalifah Umar bin Abdul Aziz kepada para pembesar-pembesar untuk mengumpulkan hadis-hadis dan sunan (halaman 66)
  49. cepatnya para ulama menulis dan mengumpulkan hadis sebagai kritik atas penyataan orientalis dan Ahmad Amin (halaman 67)
  50. Kodifikasi pada abad kedua. Penulis-penulis yang populer di tahun itu. (halaman 68)
  51. Disendirikannya penulisan hadis rasulullah dengan dituliskannya musnad-musnad (halaman 69)
  52. Kodifikasi pada abad ketiga- abad ketiga abad keemasan- as-shahihain- kitab sunan yang empat (halaman 69-70)
  53. Kodifikasi pada abad ke-empat- pencarian dan penemuan kembali hadis-hadis yang luput (istidrak) (halaman 70)
  54. Kitab-kitab populer yang terkodifikasi pada abad ke empat: Shahih ibn Khuzaimah, Shahing ibn ‘Uwanah, Mushannaf at-Thahawy, al-Muntaqa karya Qashim ibn Ashbag, al-Muntaqa karya Ibn As-Sakan Shahih Abi Hatim al-Basaty, Sunan ad-Daruquthny, Mustadrak al-Hakim (halaman 71)
  55. Kitab-kitab yang menghimpun hadis-hadis hukum: as-Sunan al-Kubra karangan al-Baihaqi- muntaqa al-Akhbar karya Majdu Ibn Taimiyah (halaman 74)
  56. Kitab yang menghimpun hadis-hadis utama yang berkenaan dengan hukum: Bulugh al-Maram (halaman 75)
  57. Kitab-kitab yang berisi hadis-hadis pengajaran, adab dan akhlak (halaman 76)
  58. Kitab at-Targhib wa at-Tarhib karangan Mundziry, Riyadh as-Shalihin karangan an-Nawawy, juga penjelasan tentang metode kitab tersebut (halaman 76)
  59. Perkembangan pengumpulan hadis berbarengan dengan perkembangan kritik hadis (halaman 76)
  60. Memelihara faliditas hadis dengan metode kritik sanad- kritik eksteren dan kritik matan, kritik intern (halaman 77)
  61. Metodologi para ahli hadis di dalam mengkritik: merupakan metodologi yang paling terperinci dan paling terpercaya. (halaman 79)
  62. Argumen-argumen ilmiah yang mengkritik pendapat para ahli yang meragukan hadis (halaman 80)
  63. Metode-metode ahli hadis di dalam menyusun kitab: metode penyusunan berdasarkan bab-bab fiqh (halaman 81)
  64. Penulisan kitab yang berkaitan dengan “il-Ilal dan al-Abwab” seperti kitab yang dikarang oleh Abi Hatim, Musannaf Ya’qub bin Syaibah (halaman 83)
  65. Pengumpulan hadis berdasarkan biografi-biografi yang popular- pengumpulan hadis berdasarkan bab-bab khusus (halaman 84)
  66. Contoh pengumpulan beberapa hadis dengan bab-bab khusus- pengumpulan sanad-sanad dan jalur-jalur untuk satu hadis (halaman 84)
  67. Syarat-syarat periwayat di dalam Islam- syarat keadilan- konsep keadian – hal-hal yang merusak aspek keadilan (halaman 85)
  68. Konsep Kedhabitan- pembagiannya- indikator kedhabitan (halaman 91-92)
  69. Cukupnya syarat yang telah ditetapkan ahli hadis di dalam menilai perawi dan riwayat yang maqbul, dan dapat diamalkan (halaman 93)

Setidaknya dari 709 pembahasan, dapat dipetakan apa-apa saja yang menjadi titik fokusnya.

1. Halaman 8-13, menjelaskan tentang pengantar kitab ini; latar belakang penulisan kitab, sistematika secara umum dan tujuan kitab ini ditulis

2. Halaman 15-26, buku ini memberikan definisi singkat tentang istilah dan konsep-konsep dasar yang dipakai di dalam ulum al-hadis. Seperti makna al-hadis, khabar, atsar, matan, musnad, musnid, isnad. 

Begitu juga dengan tingkatan ahli hadis atau yang diisitilahkan oleh Abu Syuhbab musytagilin bi al-Hadis seperti muhaddis, thalib al-hadis, hafizh. Hujjah dan lain sebagainya. Termasuk juga penjelasan tentang ulum hadis secara umum dan ulum hadis khusus yang terbagi menjadi riwayah dan dirayah

3. Halaman 27-38, membahas tentang sejarah ulum hadis dilihat dari segi dirayahnya. Dipaparkan tentang bagaimana perkembangan ulum hadis, sebelum masa pentadwinan, hingga setelah pentadwinan hadis. 

Kemudian cabang-cabang ilmu hadis yang berkembang dilihat dari banyaknya kitab-kitab tersendiri yang membahas satu cabang ilmu hadis seperti mukhtalif hadis karya ibnu qutaibah, ikhtilaf al-hadis milik as-Syafi’i dan kitab-kitab lain yang populer. Seperti kitab ar-Ramuhurmuzi, al-Hakim, Abi Ubaidillah, Abi Nuaim, Khatib al-Baghdadi dan masih banyak lagi.

4. 39-44, memaparkan secara luas tentang kosntruksi periwayatan sebagai bagian dari ilmu hadis. Dalam pembahasan ini, Abu Syuhbah di dalam kitab al-Wasith, mula-mula menyoroti tentang bagaimana sebenarnya tradisi periwayatan yang ada dalam peradaban yang jauh lebih maju dari Arab ketika itu. sehingga ditemukan tradisi periwayatan ini sudah ada semenjak peradaban yunani berdiri. 
Lalu di arab pra Islam sendiri. kemudian dilihat pula bagaimana disiplin ilmu lain memandang periwayatan itu sendiri. dan pada akhirnya dikomparasikan dengan periwayatan yang telah masuk dalam kaidah dan kajian ulum al-hadis.

5. 45-76, memaparkan seputar sanad dan matan. Seperti bagaimana melihat rantai sanad sebagai bagian epistemologi menentukan ilmu atau pengetahuan. Lalu kenyataan bahwa setiap informasi tidak hanya arab tetapi di peradaban lain menggunakan hafalan dan tulisan untuk mentransfer dan menjaga ilmu, menjadi legitimasi yang sangat valid akan keberadaan dan otoritas sanad. Lalu bagaimana sebenarnya sanad muttashil itu adalah bagian khusus dalam peradaban Islam.

Pada bagian ini juga dijelaskan tentang proses perkembangan penulisan dan penyusunan kitab hadis mulai dari zaman Rasulullah, Sahabat, tabi’in hingga akhir abad kedua dan abad ketiga yang telah muncul shahihain dan sunan al-arbi’ah. Lalu abad keempat dengan munculnya kitab hadis shahih ibnu khuzaimah, shahih abu uwanah, mushonnaf at-Thawi, dan dan lain-lain.Lalu setelah itu muncul kitab-kitab hadis yang menghimpun hadis-hadis dalam satu tema seperti tartib atau tahzib.

6. 77-93 membicarakan tentang teori kritik sanad dan matan. Termasuk di dalamnya dipaparkan asal usul kritik matan. Lalu beberapa konsep kunci dari segi perawi seperti adil; bagaimana syarat adil, apa perbedaan adl al-riwayah dan adl as-syahadah dan lain sebagainya. Begitu juga dengan dhabit. Dalam bab ini juga dijelaskan tentang manhaj para ulama menyusun kitab-kitab hadis, mulai dari mengikuti bab-bab fikih, hingga yang memiliki sistematika tersendiri.

7. 94-115 membicarakan tentang turuq at-tahammul wa al-ada’, yang oleh Abu Syuhbah di dalam kitab ini dibagi menjadi delapan bagian. Termasuk di dalamnya dibicarakan sanad ali dan nazil; bagaimana saja suatu sanad itu bisa menjadi sanad yang ali.

8. 116-709 membicarakan berbagai macam topik dan permasalahan-permasalahan terkait dengan beberapa tema khusus seperti: yang berkaitan dengan penulisan dan adabnya, berkatian dengan adab-adab ahli hadis dan masih banyak lagi.

E. Karakteristik Pembahasan

Setidaknya dapat diketahui dua karakteristik cara membahas Abu Syuhbah di dalam kitab ini. Pertama beliau menyajikan pengertian istilah-istilah hadis di awal dengan ringkas dan menghindari perdebatan serta meminimalisir contoh dari penerapan istilah-istilah tersebut. Seperti pada penjelasan mengenai sunah berikut:

Berdasarkan teks di atas, Abu Syuhbah hanya memaparkan beberapa pengertian secara ringkas dan mudah difahami, berikut dengan beberapa pendapat dari kalangan ahli hadis dan ahli fikih tanpa merajihkan salah satu dari keduanya.

Hal ini berbeda dengan beberapa kitab induk ulum hadis lainnya. Misalnya kitab muqaddimah ibni Shalah yang memulai penjelasannya langsung pada pengertian hadis shahih, hasan, dan dhaif.[4] Berbeda pula dengan kitab Ulum al-hadis wa Mushtalahuh krangan Ibrahim as-Shalih di mana ketika ia membahas definisi hadis, ia banyak mengutip pendapat-pendapat dan menguatkan pendapat yang membedakan hadis dengan sunah.[5] 

Hal ini, meski terbilang sederhana, tapi setidaknya sudah dapat memberi gambaran bahwa Abu Syuhbah di dalam kitab ini ingin menghindari hal-hal yang dapat membingunkan di dalam mengkaji hadis

Karakteristik kedua yang bagi penulis merupakan kelebihan dari Abu Syuhbah adalah setiap pembahasan, beliau selalu memberikan dua kesimpulan yang datang dari pendapat pribadinya, dimana simpulan atau tanggapan itu merupakan kontekstualisasi atas kajian ulum hadis di zaman sekarang. Seperti ketika beliau menjelaskan tentang makna alqab dari derajat ahli hadis, beliau kemudian menuliskan dua faidah:

Berdasarkan teks di atas dapat diketahui bahwa, Abu Syuhbah memberikan kontekstualisasi pengeritan hujjah al-hadis, Hafizh dan laqab lainnya di mana pengertian yang di antaranya mampu menghafal ribuan hadis adalah pengertian yang tidak aplikatif lagi di zaman sekarang. Sehingga beliau menggantinya dengan beberapa kriteria: 

(1) orang yang tahu seluk beluk hadis secara riwayah dengan baik, 
(2) orang yang tahu ilmu hadis secara dirayah dan mampu menggunakan metode-metode ilmu hadis di dalam menentukan dan menerapkan hadis dan 
(3) orang yang mempunyai konsistensi di dalam menelaah hadis. Adapun faidah yang kedua adalah sebuah koreksian dari orang yang salah memahami tentang hafalan para ahli hadis yang mencapai ribuan. 

Pada kenyataannya, beberapa orang yang meragukan hadis kemudian beragumen bahwa menghafal ribuan hadis adalah mustahil, karena banyak hadis yang terdapat di dalam kitabnya tidak sebanyak hafalannya. Inilah yang kemudian dikoreksi oleh Abu Syuhbah bahwa yang dimaksud menghafal ribuan hadis adalah menghafal jalur periwayatan yang bisa saja dalam satu hadis memiliki banyak jalur sanad. Atau kemungkinan kedua bahwa yang termasuk ia hafal adalah khabar dan atsar. Tentu tanggapan-tanggapan seperti ini sangat penting di zaman sekarang.[6]

F. Analisa Kitab al-Wasith fi Ulum al-Hadits wa Musthalahuhu

1. Sistematika Pembahasan

Banyaknya cabang ilmu hadis, menyebabkan pentingnya sistematika pembahasan ilmu hadis dari segi dirayahnya. Hingga kini pun belum ada kesepakatan berapa jumlah cabang ilmu hadis. Ibnu Salah dalam Muhammad ibn Shalah membagi menjadi 65 cabang keilmuan. Al-Hakim dalam Ma’rifah menetukan 52 cabang. Sementara al-Hazimiy dalam karyanya al-‘Ajalah berpendapat bahwa cabang keilmuan hadis bisa mencapai seratus, lebih As-Suyuti mengatakan tidak terhitung.[7]

Mengingat banyaknya cabang keilmuan hadis, maka di dalam penyusunan kitab ulum al-hadis, sistematika pembahasan dan pemaparan makna menjadi suatu yang urgen. di antara beberapa bentuk sistematika yang digunakan para penyusun kitab ini, antara lain[8]:

a. Membagi menjadi beberapa tema pembahasan tanpa mengkalsifikasikan atau memberi batasan secara jelas tema-tema yang memiliki kesamaan fokus kajian. Sistematika ini digunakan oleh al-Ramuhurmuzy dalam karnya al-Muhaddits al-Fasil baina ar-Rawi wa al-Wa’y

b. Membagi menjadi beberapa juz berdasarkan nomor urut dari pertama hingga terakhir. Tiap juz terdiri dari beberapa tema pembahasan. Namun tema pada satu juz terkadang dibahas pula pada juz lain. sistematik ini digunakan oleh khatib al-baghdadi dalam al-Kifayah fi Ilm al-Riwayah.

c. Membagi cabang ulum al-Hadis ke dalam sejumlah tema pembahasan berurutan atau berdasarkan nomor urut dari nomor pertama hingga terakhir, tanpa mengklasifikasikan berdasarkan bab atau objek tertentu. Sistematika ini digunakan oleh al-Hakim dalam Ma’rifah ‘Ulum al-Hadis, Ibnu Shalah dalam Muqaddimah ibn Shalah, dan beberapa kitab ulum hadis populer lainnya seperti Tadrib ar-Rawi karangan as-Suyuti.

d. Membagi menjadi beberapa bab pembahasan, masing-masing bab terdiri atas beberapa sub bab, tiap sub bab meliputi beberapa tema bahasan yang memiliki kesamaan kesatuan. Sistematika sepert ini digunakan oleh para ulama hadis yang muncul dewasa ini. seperti Muhammad Ajjaj al-Khatib di dalam Ushul a-Hadis

e. Menyajikan klasifikasi bab pembahasan berdasarkan objek kajian. Misalnya cabang-cabang ilmu yang membahas tentang sanad dikumpulkan dalam satu bab. Demikian pula dengan cabang-cabang ilmu lainnya. Sistematika seperti ini dterdapat dalam nurudin Itr.

Dilihat dari klasifikasi tipe pembagian di atas, menurut penulis sendiri kitab al-Wasith fi ulum wa musthalah al-hadis karya Abu Syuhbah ini masuk dalam klasifikasi yang sama dengan kitab Nuruddin Itr. Meski secara teknis berbeda dari karya-karya dulu, dengan menampilkan ta’rifat sebagai pengantar buku, kitab ini secara sistematis menyajikan embahasan berdasarkan objek kajian. Yang menarik mungkin bisa dikaji lebih lanjut adalah di dalam al-Wasith lebih dari separuh pembahasan terdiri dari kajian-kajian atau polemik-polemik dalam ilmu hadis yang dimasukkan dalam pembagian masalah-masalah.

2. Kandungan Materi

Penulis mengakui belum layak untuk memberikan analisa atas materi yang dikandung dalam kitab ini, disebabkan pembacaan yang belum tuntas. Namun setidaknya, dari beberapa bagian yang telah penulis baca ada beberapa hal yang bisa disimpulkan dan ditanggapi.

Dari sisi kelebihan, bagi penulis sendiri, sistematika teknis yang dilakukan Abu Syuhbah dengan menempatkan ta’rifat dalam ulum hadis di bagian pengantar hadis dengan definisi yang simpel dan mudah dimengerti merupakan langkah konstruktif inovatif bagi karya ulum al-Hadis pada masa sekarang.

Penyajian contoh yang mudah difahami bagi penulis juga menjadi kelebihan tersendiri dari Abu Syuhbah. Sepembacaan penulis, Abu Syuhbah tidaklah banyak memberikan contoh atas definisi-definisi istilah hadis. Melainkan ia mencoba memberikan satu contoh yang mencakup semua istilah yang telah terdefinisikan sebelumnya

Menurut penulis, Abu Syuhbah, di dalam buku ini juga memiliki satu kelebihan, yaitu dalam beberapa tempat, Abu Syuhbah memberikan faidah atau memberikan tanggapan penting sebelum melanjutkan pembahasan setelahnya. Hal ini tentu memberikan wawasan dan petunjuk agar memahami ulum hadis yang sedang dibicarakan dengan baik. Seperti setelah menjelaskan definisi-definisi dari Laqob ahli hadis, ia menuliskan dua faidah:

Pertama, definisi muhaddis dan lain-lain hakikatnya dilihat pada konteks di mana istilah itu mulai muncul dan berkembang. Namun di zaman sekarang tentu perlu ada toleransi terkait istilah tersebut. jika tidak demikian, maka hakikatnya sulit bagi seseorang untuk menyandang gelar di dalam ulum al-hadis lagi. 

Untuk itu jika dikontekstualisasikan, maka sudah bisa dikatakan sebagai muhaddis di masa sekarang, ketika orang tersebut telah menguasai seluk beluk ilmu hadis secara riwayat. Dan mampu untuk melakukan penyelidikan atas para perawi baik dari segi ta’dil dan marjuhnya langsung berdasarkan pada kitab-kitab induk terkait ilmu ini. juga mampu membaca dan memahami kitab sembilan, muwattah, musnad dan mustadrak, sunan ad-darquthni dan baihaqi dan lainnya. Dan memiliki daya kontiunitas yang tinggi di dalam mengkaji kitab kita tersebut hingga memungkinkan ia untuk mencari dan menjelaskan hadis-hadis yang dikehendaki.

Kedua, Terdapat juga anggapan bahwa ribuan hadis yang menjadi prasarat atau ciri muhaddis di zaman dahulu sulit diterima karenakan tidak didapati hadis-hadis yang ma’rufah mencapai apa yang mereka hafal di dalam kitab-kitab mereka. Anggapan ini hakikatnya salah memahami, arena yang dimaksud dari telah menghafal hadis tidaklah semua hadis itu berbeda-beda sebagaimana jika difahami secara zahir. Tetapi termasuk juga di dalamnya satu hadis namun mmiliki jalur sanad yang banyak. 

Kenyataannya ada satu hadis tetapi diriwayatkan dengan 10 sanad. Sehingga yang terjadi adalah para ulama itu menghafal keseluruhan riwayat itu lalu memilih yang shahih untuk dituliskan di dalam ktiab mereka. Dan terkadang juga ada hadis shahih yang tidak dituliskan dari hafalan mereka. Ada juga termasuk di dalamnya atsar as-shahabah dan tabiin. Dan atsar seperti ini dianggap bagian dari hadis menurut banyak para ahli hadis.

Jika diteliti lebih jauh lagi, adanya simplifikasi di dalam menjelaskan beberapa istilah memiliki dua akibat. Pertama akibat baik, bahwa dengan menyederhanakan penta’rifan tanpa memasukkan perdebatan-perdebatan akan menguntungkan bagi para pembaca awam untuk memahami maksud dari setiap istilah ulum al-hadis. Namun demikian, bagi yang berkecimpung di dalam kajian ulum al-hadis sendiri, hal ini tentu dirasa kurang mengingat diskusi-diskusi tersebut bisa memperkaya wawasan dan pengetahuan dalam khazanah keilmuan hadis sendiri.

Di satu sisi, tujuan al-Wasith sebagaimana yang dipaparkan pada muqaddimah buku ini yaitu agar baik muslim secara umum memahami ilmu ini bagi penulis sendiri sangat lah susah dicapai. Sebab dalam ruang lingkup tertentu, ilmu hadis juga memiliki kompleksitasnya sendiri yang hanya bisa difahami oleh orang-orang yang memang mau menyediakan banyak waktunya untuk melakukan penyelidikan. Sebut saja konsep illah di dalam Ulum al-Hadis. 

Bagi para ulama, Mempelajari ‘illah harus menempuh secara cermat pembahasan-pembahasan dan kesamaran sebab-sebab ‘illah bahkan samar bagi umumnya para ahli hadis, kecuali para ahli yang memang diberikan pemahaman yang sangat mendalam, luas, dan merinci.

Hal inilah yang membuat beberapa ahli hadis menyatakan bahwa mengetahui cacat yang samar dalam hadis itu adalah sebuah ilham, intuisi dan bahkan dugaan atau ramalan (kahānah). Hal ini berdasarkan banyak keterangan dari muhaddiṡūn sendiri. 

Salah satunya, riwayat dari al-Ḥākim dalam kitabnya al-Ma’rifah, dan al-Khutaibi dalam al-Jāmi’ mengatakan bahwa Abu Zar’ah ditanya oleh seseorang: “apa hujjah-mu dalam mencacatkan (ta’līlukum) sebuah hadis?”. 

Abu Zar’ah menjawab: “hujjah ku yaitu saat kau bertanya tentang tentang ‘illah sebuah hadis, lalu kusebutkan ‘‘illah-nya, kemudian hadis itu kau tanyakan pula pada Muḥammad bin Muslim bin Rawwāh mengenai ‘illah-nya tanpa kau beritahukan mengenai pendapatku terhadap ‘illah hadis tersebut, lalu ia menyebutkan ‘illah-nya, lalu kau tanya pula pada Abu Ḥātim dengan hadis yang sama dan dengan cara yang sama, lalu ia juga memberitahukan cacatnya. 

Jika terdapat perbedaan ‘illah yang kami berikan terhadap hadis tersebut, maka ketahuilah tiap dari kami menyebutkan ‘illah itu atas pengertian kami masing-masing (fa’lam anna kulla minna takallamna ‘ala murādihi), dan jika kamu mendapati kesesuaian kami atas ‘illah tersebut, maka ketahuilah bahwa itulah bukti kebenaran atas pengetahuan dari ‘illah hadis ini. 

Pemuda itu kemudian mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Abu Zar’ah, dan dia mendapati adanya kesesuaian atas jawaban-jawaban itu. Dia berkata: “Sungguh aku mengakui bahwa pengetahuan atas ‘illah hadis merupakan sebuah ilham”.[9]

Untuk itu, hemat penulis konsumsi orang awam atas ulum al-Hadis lebih dititik beratkan kepada mengetahui hadis secara riwayat dan bagaimana memahami dan mengamalkan hadis secar tepat. adapun status hadis dari segi dirayahnya bisa dijelaskan pada hadis-hadis populer atau hadis-hadis dhaif yang sudah terlanjur diketahui khalayak masyarakat. 

Adapun ulum al-hadis secara rinci dan universal bisa diajarkan kepada mereka yang berkecimpung dikeilmuan ini, atau memang dalam satu kasus terdapat pertanyaan yang mengharuskan kita untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan menjelaskan beberapa istilah hadis. Terlepas dari itu, apa yang dikaryakan oleh Abu Syuhbah dengan al-Wasith ini merupakan khazanah keilmuan ulum al-hadis dan sumber penyelidikan ilmiah selanjutnya yang berharga.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Anggapan bahwa kajian ulum al-hadis tidaklah bisa berkembang secara signifikan bagi penulis adalah kesalahan yang besar. sebab ilmu hadis pun memiliki banyak cabang ilmu yang perlu dikaji di samping statusnya sebagai ilmu yang mencoba menjelaskan hadis sebagai salah satu di antara sumber pokok ajaran Islam. kajian kitab Ulum al-hadis adalah contoh nyata bagaimana ulum al-Hadis itu bisa berkembang. Khususnya di Indonesia sendiri, masih banyak kitab ulum al-hadis karangan ulama nusantara yang belum banyak disentuh dan dikaji.

*Qaem Aulassyahied

DAFTAR PUSTAKA 

Al-Khatib, Muhammad ‘Ajjaj, Usul al-Hadis, Terj. Muhamad Qadirun Nur dan Ahmad Musyafiq Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001

As-Shalah, Ibn, Ma’rifah Anwa’ ‘Ulum al-Hadis, Muqaddimah Ibn as-Shalah, pentahqiq, Nur ad-Din ‘Itr, Beirut: Dar al-Fikr, 1406

As-Shalih, Ibrahim, Ulum al-Hadis wa Musthalahuhu, Beirut: Dar al-Ilm, 1984

As-Suyuti Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar, Tadrib ar-Rawi fi As-Syarh Taqrib an-Nawawi, (Madinah: Maktabah Ilmiyyah, 1997

Bahu, Abu Yūsuf Muṣṭafa, al-‘‘Illah wa Ajnāsuha ‘inda al-Muḥaddiṡīn, (Thanta: Dār aḍ-Ḍiyā, 2005

Fatmawati, Rohmi, Ma’rifah Ulum al-Hadis: Studi atas Karya Abu Abdullah al-Hakim al-Naysaburi, (Yogyakarta: Skripsi UIN Sunan Kaljaga, 2004

Itr, Nuruddin, Ulum al-hadis, terj. Endang Soetari dan Mujiyo Bandung : PT Remaja Rosda Karya, 1995

Syuhbah, Abu, al-Wasith fi Ulum wa Mushtalah al-hadis, t. t: Dar al-Fikr, t. th.

https://pontrensalafiyahsyafiiyah.wordpress.com/2014/10/07/sejarah-hadis-dalam-pemikiran-muhammad-muhammad-abu-syuhbah-telaah-atas-kitab-fi-rihab-al-sunnah-al-kitab-al-sihhah-al-sittah/

Catatan Kaki

[1] Para ulama mengiistilahkan ilmu hadis dengan beberapa istilah, yaitu Ilmu Dirayah Hadis yang populer setelah masa Khatib al-Baghdadi, lalu sebelumnya dikenal dengan ulum al-Hadis, Ushul al-Hadis dan Musthalah al-Hadis. Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar as-Suyuti, Tadrib ar-Rawi fi As-Syarh Taqrib an-Nawawi, (Madinah: Maktabah Ilmiyyah, 1997), hlm. 5

[2] Nuruddin Itr, Ulum al-hadis, terj. Endang Soetari dan Mujiyo (Bandung : PT Remaja Rosda Karya, 1995), hlm. 40

[3] https://pontrensalafiyahsyafiiyah.wordpress.com/2014/10/07/sejarah-hadis-dalam-pemikiran-muhammad-muhammad-abu-syuhbah-telaah-atas-kitab-fi-rihab-al-sunnah-al-kitab-al-sihhah-al-sittah/

[4] Ibn as-Shalah, Ma’rifah Anwa’ ‘Ulum al-Hadis, Muqaddimah Ibn as-Shalah, pentahqiq, Nur ad-Din ‘Itr, (Beirut: Dar al-Fikr, 1406 H), hlm. 11

[5] Ibrahim as-Shalih, Ulum al-Hadis wa Musthalahuhu, (beirut: Dar al-Ilm, 1984 M), I, hlm. 6

[6] Abu Syuhbah, al-Wasith fi Ulum al-hadis, )T.t: Dar al-Fikr, T, th) hlm. 21 22

[7] Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib, Usul al-Hadis, Terj. Muhamad Qadirun Nur dan Ahmad Musyafiq (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001)

[8] Klasifikasi ini dapat dilihat dari hasil analisis Rohmi Fatmawati, Ma’rifah Ulum al-Hadis: Studi atas Karya Abu Abdullah al-Hakim al-Naysaburi, (Yogyakarta: Skripsi UIN Sunan Kaljaga, 2004), hlm 61-62

[9] Abu Yūsuf Muṣṭafa Bahu, al-‘‘Illah wa Ajnāsuha ‘inda al-Muḥaddiṡīn, (Thanta: Dār aḍ-Ḍiyā, 2005 M), hlm. 60



0 Response to "Makalah Analisis Kitab al-Wasith fi Ulum al-Hadits wa Musthalahuhu karya Abu Syuhbah"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!