Panduan Tata Cara Bacaan Sujud Sahwi dan doanya

Advertisement
Tata Cara Bacaan Sujud Sahwi dan Doanya

Sujud sahwi adalah sujud yang dilakukan bilamana kita melewatkan salah satu rukun yang terdapat dalam sholat lima waktu. Seperti, lupa dalam sujud, rukuk, bahkan lupa dalam mengerjakan rakaat.

Sujud sahwi ini dapat dilakukan dengan dua cara, baik sebelum salam maupun sesudah salam. Hal ini didasarkan pada dalil yang akan kami sebutkan di bawah ini.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِحْدَى صَلَاتَيْ الْعَشِيِّ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ وَفِي الْقَوْمِ رَجُلٌ فِي يَدَيْهِ طُولٌ يُقَالُ لَهُ ذُو الْيَدَيْنِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَسِيتَ أَمْ قَصُرَتْ الصَّلَاةُ قَالَ لَمْ أَنْسَ وَلَمْ تُقْصَرْ فَقَالَ أَكَمَا يَقُولُ ذُو الْيَدَيْنِ فَقَالُوا نَعَمْ فَتَقَدَّمَ فَصَلَّى مَا تَرَكَ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَكَبَّرَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَكَبَّرَ ثُمَّ سَلَّمَ

Artinya: Telah berkata Abu Hurairah : Rasulullah Saw. pernah shalat bersama kami salah satu dari shalat tengah hari dua raka’at lalu ia salam. Diantara makmum-makmum itu ada seorang yang bernama Dzulyadain. Ia bertanya: Ya Rasulullah! Apakah Rasulullah Saw lupa atau shalat ini diqashar? Jawabnya: Aku tidak lupa dan ini tidak diqashar. Lalu Rasulullah Saw bertanya: Betulkah apa yang dikatakan oleh Dzulyadain? Mereka menjawab: Betul. Maka Rasulullah saw pun maju dan mencukupkan (raka’at) yang ditinggalkan, lalu ia salam, kemudian ia takbir dan sujud seperti sujudnya (di shalat) atau lebih lama, kemudian ia angkat kepalanya sambil takbir, kemudian ia takbir dan sujud seperti sujud (di shalat) atau lebih lama, kemudian ia angkat kepalanya sambil takbir , kemudian ia salam. ( HR. Bukhari Muslim ).

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ ابْنِ بُحَيْنَةَ قَامَ فِي صَلَاةِ الظُّهْرِ وَعَلَيْهِ جُلُوسٌ فَلَمَّا أَتَمَّ صَلَاتَهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ يُكَبِّرُ فِي كُلِّ سَجْدَةٍ وَهُوَ جَالِسٌ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ وَسَجَدَهُمَا النَّاسُ مَعَهُ مَكَانَ مَا نَسِيَ مِنْ الْجُلُوسِ

Artinya: Telah berkata Abdullah Bin Buhainah: Rasulullah saw pernah bangkit berdiri di satu shalat Dhuhur, padahal mestinya ia duduk (Attahiyatul Awal), maka sesudah selesai shalat sebelum memberi salam, di waktu duduk, ia sujud dua kali dengan bertakbir pada tiap-tiap kali sujud, dan makmumpun ikut mengerjakan dua sujud itu bersama Nabi untuk mengganti duduk (Attahiyat) yang ia lupa itu. ( HR. Muslim ).

Dua riwayat itu dapat kita fahami bahwa Rasulullah bertakbir pada tiap-tiap kali sujud dan tiap-tiap kali bangkit padanya. Dari dua riwayat itu juga kita dapat tahu bahwa sujud sahwi itu boleh dikerjakan sesudah salam, lalu salam lagi dan boleh juga sebelum salam, lalu salam. Masalah sujud sahwi ini tersebut di buku pengajaran shalat dan di kitab Nailul Author 3 : 130:150.

Ilustrasi Sholat Berjamaah Via / Shoebat.com

Doa Sujud Sahwi

Sepanjang pemeriksaan sementara, tidak ada satupun hadis atau riwayat shahih yang menentukan doa yang mesti dibaca dalam sujud sahwi. Oleh sebab sujud sahwi itu sama dengan sujud yang lain, sedang perkataan yang diriwayatkan Muslim dibawah ini menunjukkan Rasulullah pernah membaca beberapa doa di sujud, padahal tidak diterangkan sujud itu dan ini. Maka hendaklah kita menggunakan perkataan itu menurut umumnya. Yakni dengan keteragan-keterangan yang tersebut, hendaklah kita disujud sahwi itu dengan doa-doa sujud biasa.

قال خذيفة : صليت مع النبي ص.م فكان يقول فى ركوعه : سبحان ربي العظيم، وفى سجده : سبحان ربي الأعلي 

Artinya : "Telah berkata Huzaifah : Saya pernah shalat bersama Nabi saw maka di dalam rukuknya Nabi mengucap: (Subhaanabbial’azhim), dari dalam sujudnya Ia mengucap: (Subhaanarabbial a’laa)". ( H.R. Muslim ).

قالت عاءشة : أن رسول الله ص. م كان يقول فى ركوعه وسجده سبوح القدوس رب الملآكة والروح    

Artinya : Telah berkata Aisyah : Sesungguhnya Rasulullah saw berkata di dalam rukuknya dan sujudnya: (Subbuuhulqudduus Rabbulmalaaikati Warruuh ). ( HR. Muslim ).

قالت عا ءشة : أن رسول الله ص.م كان يقول في ركوعه وسجده : سبحا نك اللهم ربنا وبحمدك اللهم اغفرلي   

Artinya: Telah berkata Aisyah: Adalah Rasulullah saw membanyakkan di dalam rukuknya dan sujudnya ucapan: Subhaanallaahumma Rabbanaa Wabihamdika Allaahummagfirli. ( HR. Muslim ).

قال ابوهرة : كن رسول الله ص.م يقول فى سجده : اللهم اغفرلي ذنبي كله دقه وجله اوله واخره ره وعلانيته 

Artinya : Telah berkata Abu Hurairah : Adalah Rasulullah saw berkata di dalam sujudnya: (Allaahummagfirli zambi kullahu Diqqaha wasilahu Awwalahu Wa Akhirahu). ( HR. Muslim ).

Begitulah bacaan-bacaan pujian-pujian dan doa-doa sujud yang diriwayatkan dari Nabi saw dan ada lagi beberapa macam doa yang Rasulullah ucapkan dalam sujudnya dan Rasulullah memerintahkan supaya kita berdoa meminta keperluan kita kepada Allah di dalam sujud.

Di antara riwayat-riwayat itu, tidak satupun yang membedakan antara doa sujud shalat dengan doa sujud sahwi, bahkan diumumkanya dengan ucapan Rasulullah saw di dalamnya begini dan begitu.

Siapa saja yang mau menjadikan umum maksud riwayat-riwayat itu, boleh ia gunakan semua doa dan pujian itu di sujud sahwi. Dan orang yang mentakhshishkan riwayat-riwayat itu untuk sujud shalat biasa (bukan sujud sahwi ) tentu ia tidak ucapkan doa apapun, hanya ia tinggal diam saja di dalam sujud sahwi. Orang yang tidak membaca apa-apa dalam sujud sahwi itu tidak salah karena bacaan-bacaan dalam sujud itu tidak wajib. Lihat Nailul Author 2 : 252, 2 : 271-176, 2 : 353 dan di Taisirul Usul 2 : 68.
Ilustrasi Sujud Via Prayerinislam.com

Ketentuan Pelaksanaan Sujud Sahwi dengan Berbagai Permasalahannya

Bilamana seseorang yang sedang shalat meninggalkan satu rakaat sari shalatnya karena lupa, namun sebelum shalatnya berakhir dia teringat akan hal itu, maka dia harus menghadirkannya dan diharuskan sujud sahwi. Kemudian bila ia ragu terhadap tertinggalnya rakaat tersebut, seperti bila ia ragu; apakah dirinya dalam shalat itu baru mengerjakan satu rakaat, atau telah dua rakaat, atau telah tiga rakaat, atau telah empat rakaat, maka dia harus mengambil rakaat yang paling sedikit lalu melanjutkan dengan rakaat yang telah tersisa dan sujud sahwi.

Selanjutnya bila dia telah membaca dalam shalatnya kemudian ia yakin bahwa dirinya telah meninggalkan satu rakaat, atau dua rakaat, atau tiga rakaat; atau bahwa dirinya telah meninggalkan ruku’, atau sujud, atau rukun-rukun shalat yang lain selain niat dan takbiratul ihram, maka dalam kasus ini harus diperhatikan: Bilamana ia teringat akan hal itu belum begitu lama, maka ia harus menyambung kembali shalatnya dan sujud sahwi.

Sedangkan bilamana ia baru teringat akan hal itu sesudah waktu berselang lama, maka ia harus mengulang kembali shalatnya, sebagaimana telah dikemukakan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan:

“Rasulullah saw. telah shalat salah satu dari shalat al-‘asyiyyi -zhuhur dan ashar--. Kemudian beliau membaca salam pada waktu (belaiu baru mengerjakan) dua rakaat. Seseudah itu beliau menghampiri pohon kurma yang terletak di arah kiblat masjid lalu belaiu bersandar padanya. Dan kala itu orang-orang bergegas keluar sedang Dzul Yadain berdiri dan berkata: Ya Rasulallah, apakah engkau (sengaja) mengqashar atau engkau lupa? Maka nabi saw. memandang ke kanan dan ke kiri, lalu bersabda: Apa yang Dzul Yadain katakan itu? Mereka (para sahabat) menjawab: Dia benar, bahwa engkau tidak shalat melainkan hanya dua rakaat. Maka beliau pun shalat lagi dua rakaat dan membaca salam, kemudian bertakbir, kemudian sujud, kemudian bertakbir, lalu berdiri, krmudian bertakbir dan sujud, kemudian bertakbir dan berdiri.”

Abu da’id al-Khudri r.a. telah meriwayatkan pula:

“Sesungguhnya nabi saw. bersabda: Bilamana seseorang diantara kalian ragu dalam shalatnya, maka buanglah keraguan itu dan bersikap yakinlah. Kemudian jika ia telah yakin dengan seyakin-yakinnya, sujudlah dua kali. Bilamana shalatnya itu terbukti sempurna, maka rakaat tersebut merupakan tambahan (sunnat) baginya dan begitu juga kedua sujud. Dan jika terbukti rakaat itu kurang, maka rakaat tersebut menjadi penyempurna bagi shalatnya dan kedua sujudnya merupakan arang yang mencoreng muka syaitan.”

Kemudian dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibrahim an-Nakhai dari ‘Alqamah bin Mas’ud r.a. dia berkata:

“Rasulullah saw. telah shalat -Ibrahin berkata: Beliau dalam shalatnya itu lebih atau kurang--, maka seusai beliau membaca salam, ditegurlah beliau; ‘Ya Rasulallah, apakah sesuatu telah terjadi dalam shalat? Beliau bertanya,’Apakah itu?’ Mereka (para sahabat) menjawab,’Engkau telah shalat demikian dan demikian.’ Maka beliau pun melangkahkan kedua kakinya dan menghadap kiblat lalu beliau bersujud dua kali, kemudian beliau membaca salam. Sesudah itu beliau pun menghadapkan mukanya ke arah kami dan bersabda: Bahwasanya bila sesuatu terjadi dalam shalat, sudah barang tentu aku memberitahukannya kepada kalian. Akan tetapi walaupun demikian, sesungguhnya aku juga adalah manusia yang bisa lupa seperti halna kalian juga yang bisa lupa. Oleh karena itu, maka bila aku lupa, maka ingatkanlah aku oleh kalian, dan jika seseorang di antara kalian ragu dalam shalatnya, maka upayakanlah untuk memperoleh yang benar lalu sempurnakanlah dengannya kemudian hendaklah sujd dua kali”.

Ketentuan ini berkenaan dengan seseorang yang shalat lalu ada bagian shalat yang tertinggal, namun kemudian teringat akan hal itu, saat masih shalat maupun saat shalat sudah selesai dikerjakan. Begitu juga ketentuan tersebut berkenaan dengan seseorang yang shalat lalu ia ditimpa keraguan. Adapun bila ia dilanda perasaan ragu sesudah membaca salam; apakh dirinya telah meninggalkan sesuatu atau tidak? Maka dalam kasus seperti ini dia tidakdiharuskan apa-apa lagi karena pada dasarnya ia telah menunaikan seluruh rangkaian shalat tersebut dengan sempurna, sehingga keraguan yang timbul sesudahnya tidak berpengaruh apa-apa lagi.

Apabila seseorang yang sedang shalat meninggalkan salah satu fardhu shalat karena lupa, akan tetapi saat masih shalat dia teringat akan hal itu, atau dia itu ragu akan salah satu fardhu shalat; apakah fardhu tersebut dikerjakan ataukah tidak, sedang saat itu ia masih dalam keadaan shalat, maka bagian yang diragukan dalam rakaat tersebut jangan ditangguhkan melainkan harus langsung dikerjakan dan sesudah itu baru melanjutkan yang berikutnya karena tertib dalam pelaksanaan shalat hukumnya fardhu.

Sebagai contoh, umpamanya: Apabila seseorang yang sedang shalat dalam rakaat pertama tertinggal sujudnya dan dia mengingatnya saat sedang berdiri dalam rakaat kedua, maka seketika itu juga ia harus turun untuk bersujud terlebih dahulu untuk menggantikan sujud yang tertinggal dalam rakaat pertama tersebut, dan sesudah itu barulah ia melanjutkan untuk memulai lagi rakaat yang kedua.

Selanjutnya apabila ia baru teringat akan hal itu pada saat sedang berdiri untuk rakaat ketiga, yakni baru teringat bahwa sujud pada rakaat pertama tertinggal, maka hal itu dianggap sama dengan meninggalkan seluruh rangkaian rekaat pertama itu sehingga oleh karenanya ia pun harus menggantinya dengan satu rakaat secara utuh.

Dalam kedua kasus di atas hendaklah ditambah lagi dengan sujud sahwi dan seluruh rangkaian ketentuan ini berkenaan dengan hal-hal yang bersifat fardu. Adapun bila ia lupa dalam hal-hal yang bersifat sunat, lalu teringat akan hal itu sedang ia masih dalam shalat maka hal tersebut tidak perlu diulang.

Hukum sujud sahwi ini adalah sunat berdasarkan sabda Nabi s.a.w. yang dikemukakan oleh Abu Sa’id Al Khudri r.a. di atas, yakni : “. . . ., maka rakaat tersebut merupakan tambahan (sunat) baginya dan begitu juga kedua sujud”.

Sujud sahwi dilakukan sebelum membaca salam berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Juhinah r.a. : “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. telah berdiri dalam shalat Zhuhur padahal seharusnya beliau duduk .Maka ketika beliau telah menyelesaikan shalatnya, bersujudlah beliau dua kali dan beliau bertakbir dalam setiap sujud serta beliau melakukannya sambil duduk dan sebelum membaca salam, lalu orang-orang pun bersujud bersama beliau pada duduk yang terlupakan tersebut”.

Ketentuan tentang pelaksanaan sujud sahwi ini berdasarkan pada hadits lain juga, yaitu pada hadits yang diriwayatkan oleh Ibrahim An Nakhai di atas. Kemudian berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri r.a. yang mengatakan :

“Rasulullah s.a.w. telah bersabda : Apabila seseorang di antara rakaat kalian ragu dalam shalatnya, tidak tahu berapa rakaat ia telah melakukannya ; tiga atau empat rakaat? Maka buanglah keraguan itu dan berpeganglah pada bilangan rakaat yang diyakininya, kemudian bersujudlah dua kali sebelum membaca salam”.

Selanjutnya didasarkan pula pada hadits Abdurrahman bin ‘Auf r.a. yang berbunyi : “Dan sujudlah dua kali sebelum membaca salam”.

Sujud sahwi juga boleh dilakukan sesudah membaca salam berdasarkan hadits Dzul Yadain dari hadits riwayat Abu Huairah r.a. : “Dan (beliau) membaca salam, kemudian bertakbir, kemudian sujud, kemudian bertakbir, lalu beliau mengangkat (kepala ) , kemudian bertakbir dan sujud, kemudian bertakbir dan mengangkat (kepala)”.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Imran bin Hashin dikemukakan : “Maka beliau shalat satu rakaat kemudian membaca salam, kemudian sujud dua kali, kemudian membaca slam”.

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud r.a. juga dikemukakan: “Sesungguhnya Nabi s.a.w. shalat Zhuhur lima rakaat lalu kepadanya ditanyakan: Apakah shalat (ini) ditambah ? Maka beliau menjawab : Apakah itu ? Mereka (para sahabat) menjawab : Engkau telah shalat dengan lima rakaat. Kemudian beliau sujud dua kali sesudah beliau membaca salam”.

Baca Juga: Panduan tata cara Bacaan Sujud Syukur dan Doanya

Adakah Attahiyat atau Shalawat untuk Dua Sujud Sahwi?

Belum ditemukan ada satu pun riwayat shahih yang menunjukkan adanya attahiyat atau shalawat untuk dua sujud sahwi itu.

Ada beberapa hadis dan riwayat yang menunjukkan ada attahiyat sesudah sujud sahwi, tetapi karena semuanya itu lemah riwayatnya, maka tidak boleh kita pakai. Masalah ini tersebut di Nailul Author 3 : 149.



0 Response to "Panduan Tata Cara Bacaan Sujud Sahwi dan doanya"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!