Qiyamullail, Bermunajat Kepada Allah SWT di Malam Hari

Advertisement
Tongkronganislami.net - Secara bahasa qiyamullail berasal dari bahasa Arab yang berasal dari dua kata yaitu: qiyam artinya berdiri, menegakkan dan al-lail artinya malam hari.1 Jadi qiyamullail berarti menegakkan malam.

Sedangkan menurut istilah qiyamullail adalah menegakkan atau menghidupkan malam dengan amalan-amalan yang utama seperti shalat tahajjud, witir, membaca al-Qur'an serta berdzikir dan bertafakur dengan penuh rasa khusyu', tawadhu', dan thuma'ninah dan lain-lain yang dilaksanakan setelah melakukan shalat isya' sampai terbitnya fajar, baik dikerjakan sebelum tidur maupun sesudahnya.2

Secara umum qiyamullail yang dikenal oleh masyarakat kita adalah shalat tahajjud. Tahajjud berasal dari kata tahajjada yang berpadanan kata istaiqazha, yang berarti terjaga, sengaja bangun, atau sengaja tidak tidur.

Hal itu tentu saja dilakukan pada waktu malam, sehingga dinamakan “shalatul lail atau qiyamullail”3 yang diterjemahkan dengan shalat malam. Sedang menurut Moh. Sholeh tahajjud artinya bangun dari tidur. Shalat tahajjud artinya shalat sunah yang dikerjakan pada waktu malam hari dan dilaksanakan setelah tidur lebih dahulu walaupun tidurnya hanya sebentar. 4

Menghidupkan Malam dengan Ibadah Utam

Waktu dan Bilangan Raka'at Qiyamullail

Waktu yang paling utama untuk mengerjakan shalat malam atau tahajjud adalah sepertiga malam yang terakhir. Sebagaimana hadits Nabi SAW:

“Dari abu Salamah bin Abdurrahman dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Allah SWT akan turun pada tiap-tiap malam ke langit dunia, pada saat sepertiga malam yang terakhir, kemudian berfirman: barang siapa berdoa kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya, baransg siapa meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku penuhi permintaannya, dan barang siapa memohon ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni dosanya.” (HR. Muslim). 5

Dari hadits di atas, dapat diketahui bahwa waktu paling utama untuk mengerjakan shalat malam itu adalah sepertiga malam terakhir, kalau malam itu dibagi menjadi tiga bagian, maka bagian yang terakhir kalau diinterpretasikan dengan waktu indonesia adalah sekitar jam 00.00 sampai jam 03.30 atau sebelum fajar. Inilah waktu yang sangat mustajabah, karena pengaduan kita diterima oleh Allah secara langsung. Dan kesempatan ini jarang ditemukan oleh orang kecuali sedikit, sebab kebanyakan mereka tidur dengan lelapnya.

Adapun bilangan rakaat shalat malam tidak terbatas. Namun sebagian pendapat mengatakan bahwa bilangan rakaat shalat tahajud adalah 12 rakaat dengan dua rakaat salam.6 Sebagaimana sabda Nabi SAW:

“Qutaibah menceritakan kepada kita, al-Laits menceritakan kepada kita dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi SAW bersabda: “Shalat malam itu dua-dua, apabila kamu khawatir menemui subuh maka witirlah dengan satu rakaat, dan jadikanlah akhir shalat malammu dengan witir.” (HR. Tirmidzi). 7

Dari hadits tersebut di atas, maka dapat diketahui bahwa shalat malam dikerjakan dua rakaat salam, berarti minimal mengerjakan shalat malam adalah dua rakaat dan maksimal tak terbatas. Namun kalau kita khawatir akan segera masuk subuh, maka cukup mengerjakan satu rakaat saja.

Dalam hal ini para ulama banyak yang berbeda pendapat mengenai jumlah bilangan rakaat, ada yang mengatakan 8 rakaat dengan 3 rakaat witir, ada yang mengatakan 10 rakaat dengan 3 witir, dan masih banyak pendapat yang lain. Namun mayoritas ulama’ (Jumhur ulama’) lebih dekat dengan pendapat yang menyatakan 8 rakaat dengan 3 rakaat witir. 

Terkait dengan perdebatan pendapat tersebut, bisa anda baca pada artikel kami permasalahan sholat malam yang sering diperbincangkan di masyarakat.

Macam-macam Qiyamullail


Ibadah itu dapat dikerjakan kapan saja dan dimana saja. Asalkan dikerjakan sesuai dengan syariat Islam yakni al-Quran dan sunnah Nabi Saw. Akan tetapi Allah memberikan tempat dan waktu yang paling baik daripada waktu lainnya yaitu malam hari. Ibadah yang dimaksud dalam tulisan ini adalah ibadah malam hari (qiyamullail) yang meliputi:

a. Shalat Tahajjud

Shalat menurut pengertian bahasa berarti do’a, ibadah shalat dinamai do’a karena dalam shalat itu mengandung do’a. Shalat juga dapat berarti do’a untuk mendapat kebaikan atau shalawat bagi Nabi Muhammad Saw. Secara terminologi shalat adalah suatu ibadah yang terdiri atas ucapan dan perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbiratul ikhram dan diakhiri dengan salam dengan syarat dan rukun tertentu.8

Ibadah shalat tahajjud sangat dianjurkan dalam Islam, sebagaimana firman Allah SWT:

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-Mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”.9 (QS. Al-Isra’/17: 79)

Tahajjud artinya bangun dari tidur, shalat tahajjud artinya shalat sunnah yang dikerjakan pada waktu malam hari dan dilaksanakan setelah tidur lebih dahulu. Walaupun tidurnya sebentar, Imam Syafi’i berkata: shalat malam dan shalat witir yang dikerjakan baik sebelum ataupun sesudah tidur dinamai tahajjud.

Orang yang melaksanakan shalat tahajjud disebut mutahajjid.10 Sejarah mencatat bahwa ibadah shalat tahajjud yang pertama diperintahkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw sebelum diperintahkan ibadah yang lain, dalam sebuah hadits diriwayatkan:

“Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Nabi SAW bersabda: Shalat yang paling utama sesudah shalat fardhu adalah shalat pada malam hari (sepertiga yang akhir dari malam).” (HR. ad-Darimi). 11

Artinya, selain dari yang lima waktu bagi beliau sendiri bertambah satu kewajiban lagi yaitu shalat tahajjud yang berpendapat seperti ini ialah Ibnu Abbas menurut riwayat al-Aufi demikian juga salah satu pendapat dari Imam Syafi’i dan pendirian seperti ini pula yang dipilih oleh Ibnu Jarir.12

Banyak hikmah dan manfaat yang dapat diambil dari shalat tahajjud diantaranya adalah sebagai berikut:13
  1. Orang-orang yang shalat tahajjud akan memperoleh macam- macam nikmat yang mengejutkan pandangan mata (QS. 32 : 16- 17) 
  2. Tempat yang terpuji, maqomah mahmudah (QS. 17 : 79) baik di dunia dan di akhirat, disisi Allah SWT. 
  3. Dihapuskan segala dosa dan kejelekannya dan terhindar dari penyakit (HR. Tirmidzi) 

b. Shalat Hajat

Shalat hajat ialah shalat sunat yang dikerjakan untuk sesuatu kehendak atau permintaan untuk mohon diperkenankan Allah. Shalat ini sama dengan shalat lainnya dua-dua rakaat kecuali niat suatu hajat. Boleh dikerjakan siang hari tetapi lebih baik malam hari. Ayat yang dibaca pada rakaat pertama adalah ayat kursi (al-Baqarah: 255) dan pada rakaat kedua surat al-Ikhlas. Dan juga boleh surat-surat atau ayat-ayat lainnya.14

Sebagaimana hadits Nabi SAW:

“Ali bin Isa bin Yazid al-Baghdadi menceritakan kepada kita, Abdullah bin Bakar as-Sahmiy menceritakan kepada kita, dan Abdullah bin Munir menceritakan kepada kita, dari Abdullah bin Bakar dari Faid bin Abdurrahman dari Abdullah bin Abu Aufa berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa yang mempunyai hajat kepada Allah atau kepada seseorang daripada anak Adam, hendaklah ia berwudhu dengan membaikkan wudhunya, kemudian hendaklah ia bershalat dua rakaat, kemudian ia memuji Allah dan bershalawat kepada Rasulullah dan kemudian hendaklah ia membaca: "Tiada Tuhan melainkan Allah yang Maha Pemaaf lagi Maha Mulia, Maha Suci Allah Tuhan yang mempunyai 'arasy yang besar, segala puji Tuhan semesta alam. Aku mohon kepada-Mu segala yang menyebabkan aku memperoleh rahmat-Mu dan segala yang menyebabkan aku memperoleh ampunan-Mu dan memperoleh keuntungan dari segala kebaikan, dan kesejahteraan dari segala dosa. Janganlah engkau tinggalkan bagiku akan sesuatu dosa dengan tidak Engkau mengampuninya dan sesuatu kegundahan dengan tidak Engkau melapangkannya atau menghilangkannya dan sesuatu hajat yang Engkau ridhai yang tidak Engkau penuhkan. Terimalah permohonanku, wahai Tuhan yang Maha Rahim." (HR. Tirmidzi). 15

c. Shalat Witir

Shalat witir artinya shalat ganjil (satu rakaat, tiga rakaat, lima rakaat, tujuh rakaat, sembilan rakaat atau sebelas rakaat). Sekurang- kurangnya satu rakaat dan sebanyak-banyaknya sebelas rakaat, boleh memberi salam tiap dua rakaat dan yang akhir boleh satu rakaat atau tiga rakaat, kalau dikerjakan tiga rakaat, jangan membaca tasyahud awal agar tidak sama dengan shalat maghrib. Waktunya sesudah shalat isya' sampai fajar.16

Sebagaimana hadits Nabi SAW:

"Dari Abu Ayub Nabi SAW bersabda: witir itu benar, maka barang siapa yang suka mengerjakan lima, kerjakanlah, dan siapa yang suka mengerjakan tiga, kerjakanlah, dan siapa yang suka mengerjakan satu, kerjakanlah. (HR. an-Nasai)." 17

d. Shalat Tasbih

Shalat tasbih ialah shalat sunnah yang dikerjakan pada malam hari atau boleh juga pada siang hari dan diselingi dengan membaca tasbih sebanyak 300 kali. tiap satu rakaat ada 75 kali tasbih dengan jumlah 4 rakaat. Yaitu ketika berdiri sesudah membaca fatihah dan surat-surat lain sebanyak 15 kali, ketika ruku’ setelah membaca doa ruku’ sebanyak 10 kali, ketika i’tidal setelah membaca doa i’tidal sebanyak 10 kali ketika sujud setelah membaca doa sujud sebanyak 10 kali, ketika duduk diantara dua sujud sebanyak 10 kali, ketika sujud kedua sebanyak 10 kali dan ketika bangun dari sujud sebelum berdiri sebanyak 10 kali, jadi total dalam satu rakaat 75 kali.

Adapun jumlah rakaat yang dikerjakan sebanyak empat rakaat, apabila dikerjakan pada waktu malam hari dua kali salam tiap dua rakaat dan apabila dikerjakan pada siang hari satu kali salam. Rasulullah sangat menganjurkan untuk melakukan shalat tasbih, bahkan dijelaskan bahwa jika sanggup, kerjakanlah tiap hari satu kali, jika tidak sanggup, sekali dalam sepekan, jika tidak sanggup juga, sekali dalam satu bulan, jika tidak sanggup juga, sekali dalam satu tahun, jika tidak sanggup juga, maka sekali seumur hidup.18

Sebagaimana hadits Nabi SAW:

"Musa bin Abdurrahman menceritakan kepada kita, Abu Isa al-Masruqiy, Zaid bin Hubab menceritakan kepada kita, Musa bin Ubaidah menceritakan kepada kita, Said bin Abi Said menceritakan kepadaku, Maula Abu Bakar bin Amr bin Hazm, dari Abi Rafi’ berkata: Rasulullah SAW bersabda kepada Abbas: Hai pamanku! Apakah kamu saya ajarkan sesuatu yang aku cintai, sesuatu yang memberi manfaat kepadamu, dan sesuatu yang dapat mempererat tali silaturrahmi. Abbas menjawab: ya, hai Rasulullah, Nabi SAW bersabda: maka shalatlah empat rakaat, kemudian kamu membaca dalam tiap rakaat pembuka kitab dan surat lainnya, kemudian setelah selesai membaca, lalu bacalah “subhanallah walhamdu lillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar” (Maha Suci Allah segala puji bagi Allah tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar) 15 kali sebelum rukuk, kemudian rukuklah dan bacalah 10 kali, kemudian angkatlah kepalamu dan bacalah 10 kali, kemudian sujud dan bacalah 10 kali, kemudian angkatlah kepalamu dan bacalah 10 kali, kemudian sujud dan bacalah 10 kali, kemudian angkatlah kepalamu dan bacalah 10 kali sebelum berdiri. Maka semua itu ada 75 kali dalam tiap rakaat dan 300 kali dalam empat rakaat. Dan apabila kamu mempunyai dosa seperti gunung pasir, niscaya Allah akan memberi ampun kepadamu. Abbas bertanya: hai Rasulullah! Dan barang siapa yang tidak mampu mengerjakan tiap hari? Rasulullah SAW bersabda: kerjakanlah setiap sepekan, dan jika tidak mampu kerjakanlah sebulan, sehingga beliau bersabda: kemudian kerjakanlah setahun." (HR. Ibnu Majjah). 19

Manfaat Shalat Malam (Qiyamullail)

Shalat malam (qiyamullail) mempunyai manfaat praktis, baik dari sudut pandang religius maupun kesehatan, sebagaimana sabda Nabi SAW:

"Ahmad bin Mani’ menceritakan kepada kita, Abu Nadhr menceritakan kepada kita, Bakar bin Hunais menceritakan kepada kita, dari Muhammad al-Quraisy, dari Rabi’ah bin Yazid, dari Abu Idris al-Khaulany, dari Bilal bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: "Hendaklah kalian melakukan shalat malam, karena shalat malam itu adalah budaya orang-orang shalih sebelum kalian, dan bahwasanya shalat malam itu adalah pendekatan diri kepada Allah, mencegah perbuatan dosa, dan menghapus kejelekan- kejelekan bahkan juga mengusir penyakit dari tubuh seseorang." (H.R. at- Tirmidzi). 20

Sabda Rasul di atas memberikan peluang bagi kita untuk menelaah lebih jauh mengenai hubungan praktek ibadah mahdah dengan alur logika dan pembuktian sains. Dalam hubungannya dengan tema shalat tahajud, sabda Rasulullah di atas dapat dihubungkan dengan fakta dalam sebuah penelitian yang membuktikan bahwa ketenangan dapat meningkatkan ketahanan tubuh imunologik dan mengurangi resiko terkena penyakit jantung. Sebaliknya stres dapat menyebabkan seseorang sedemikian rentan terhadap infeksi, dan mempercepat perkembangan sel kanker.

Dengan demikian secara teoritis, para pengamal shalat tahajud pasti terjamin kesehatannya, baik secara fisik maupun mental.

Sinyal dari hadits di atas dengan tegas menyatakan bahwa terdapat hubungan erat antara rajinnya mengamalkan shalat tahajud dan peningkatan pengendalian diri berupa ketenangan. Atau dengan kata lain para pengamal shalat tahajud akan terhindar dari stres. Jika kondisi ini dimiliki oleh siapapun, kesehatan fisik dan ketenangan batin merupakan hasil yang langsung dapat dirasakan oleh para pengamal shalat tahajud. 21

a. Qiyamullail dapat membuka pintu langit

Sesungguhnya qiyamullail yang di dalamnya berisi ibadah shalat sunnah dan bermunajat dapat membuka pintu langit. Hal ini jika kita lakukan dengan ikhlas, dan dengan niat untuk bisa merapatkan diri kita di sisi Allah. Membuka pintu langit artinya membuka pintu rahmat Allah yang tidak semua orang dapat melakukannya.

Perlu disadari bahwa qiyamullail akan menyingkap pembatas antara makhluk dan penciptanya; antara manusia dan Allah. Jika seseorang melakukan qiyamullail, maka tidak ada batas lagi yang menjadi hijab baginya. Pertalian antara ruh dengan Dzat Yang Maha Agung akan tersambung. 22

b. Qiyamullail dapat memadamkan api neraka

Apabila seseorang menyadari betapa dahsyatnya misteri di balik qiyamullail, maka tak ada lagi alasan malas baginya untuk mengerjakan shalat malam meskipun rasa kantuk menggelayut di pelupuk mata. Tak ada rasa berat manakala udara dingin menyerang tulang. Tetapi, dengan penuh harapan mereka akan tegak berdiri menunaikan shalat dan duduk tafakur bermunajat kepada Allah. Salah satu dari sekian banyak misteri di balik qiyamullail adalah dapat memadamkan api neraka.

Rahasia inilah yang menyebabkan orang-orang shalih sangat sedikit sekali tidurnya. Mata mereka sayu karena sebagian malamnya digunakan untuk bangun dan bermunajat kepada Allah. Mereka menyibukkan akalnya untuk berpikir di keheningan malam, menyibukkan hatinya untuk bermunajat, dan menyibukkan air matanya mengalir deras. Dan sedihnya orang-orang shalih dan bermunajat inilah yang mengakibatkan mereka menangis sampai air matanya mengalir deras tak terbendung sehingga dapat memadamkan api neraka.23

c. Qiyamullail dapat membuka pintu surga

Walaupun shalat malam bukanlah satu-satunya ibadah yang dapat mempermudah seseorang masuk surga. Tetapi tidak bisa disangkal lagi kalau shalat malam adalah corak utama dari calon ahli surga, pada jejeran ibadah sunnah.24

Sabda Nabi SAW yang artinya: "Wahai kaum muslimin! Sebarkanlah salam, berikanlah makan kepada fakir miskin, peliharalah hubungan silaturahmi, shalatlah di waktu malam ketika orang banyak sedang tertidur lelap, niscaya kalian akan masuk surga dengan aman.”

d. Qiyamullail dapat menyehatkan tubuh dan menjernihkan jiwa

Jiwa dan raga itu saling ketergantungan dan saling berkaitan. Jika jiwa jernih maka akan berpengaruh terhadap tubuh yang sehat. Meskipun tubuh tampak segar bugar, tetapi jika jiwanya rapuh dan hatinya lembik, maka seseorang akan mudah terkena penyakit. Bagaimanapun keadaan hati akan mempengaruhi kesehatan fisik. Seseorang yang memiliki banyak beban pikiran, ia mudah terkena penyakit mag, liver, dan jantung. Namun, orang yang berpikiran jernih, hatinya selalu tenang, dan suasana jiwanya jernih, maka akan terhindar dari berbagai macam penyakit. Oleh karena itu, di samping kita menjaga kesehatan fisik juga perlu memperhatikan keadaan hati dan jiwa.25

Untuk menjernihkan hati, Rasulullah telah menunjukkan cara yaitu dengan berqiyamullail. Inilah anugerah Allah yang diberikan kepada hamba-Nya yang mau bangun di malam hari untuk bermunajat kepada-Nya.

Di keheningan malam, seseorang melatih diri untuk berkonsentrasi kepada Allah. Seseorang berusaha untuk melepaskan dosa-dosa dan pikiran-pikiran kotor. Keadaan yang jernih itu akan membekas hingga siang hari, ketika seseorang aktif untuk berinteraksi sosial. 

Jangan biarkan setan menutup mata hati, jika setan telah menutup mata hatidan membuat simpul-simpul di sana, maka jiwa akan menjadi keruh, dan akan cenderung untuk berbuat maksiat, mudah cemas, buruk sangka dan lintasan-lintasan pikiran negatif lainnya. Namun, jika di setiap malam simpul-simpul itu kita lepaskan dengan cara berqiyamullail, maka hati akan tetap jernih dan dan pikiran selalu positif.

Seseorang yang jiwanya baik, akan tercermin juga dalam sikap lahiriahnya. Sehingga dalam hubungan antar manusia, ia akan senantiasa ramah, selalu berprasangka baik, menghargai orang lain, lemah lembut dalam memberi nasehat, dan akan selalu bersemangat dalam melakukan apa saja.

e. Qiyamullail dapat membentuk mental yang positif

Manusia selalu dihadapkan dengan berbagai permasalahan yang terjadi mulai pagi hingga petang. Permasalahan itu mengendap di dalam memori otak, bila dibiarkan dan tidak bisa dipecahkan maka akan menjadikan depresi, terjadi kesuntukan-kesuntukan yang berpengaruh terhadap jiwa. Akhirnya jiwa kita tidak sehat dan berdampak pula terhadap kesehatan fisik.

Dalam Islam telah diberikan cara untuk mengembalikan memori otak menjadi segar bugar setelah sepanjang hari dipakai untuk berpikir, yaitu dengan berqiyamullail. Seseorang akan berlatih mengendapkan pikiran sehingga mendapat jiwa yang jernih setelah berqiyamul lail. Karena suasana sunyi, udara segar, seseorang duduk menyendiri dan bermunajat kepada Tuhannya. Segala permasalahan yang dihadapi diadukan kepada Tuhannya. Maka secara disadari kita akan menemukan jalan keluar dalam memecahkan masalah. 

Oleh karena itu, qiyamul lail dianggap sebagai latihan (riyadhah) untuk membebaskan jiwa dari segala penyakit dan tekanan. Abu Hasan an-Nadwi ra. berpendapat bahwa penyucian jiwa dengan berqiyamullail, berdakwah pada kebaikan dan memahami batin adalah termasuk cabang yang paling utama dari sifat nabi.26

Sesungguhnya ketahanan mental dan kebersihan jiwa manusia dapat dibentuk melalui latihan-latihan (riyadha). Riyadha yang paling utama dan paling baik adalah dengan berqiyamullail. Orang-orang shalih jaman dahulu memiliki semangat jihad dan keikhlasan tinggi. Turun di medan perang tidak cukup hanya dengan mengandalkan kekuatan tubuh jika tidak didukung dengan semangat dan keikhlasan.

Qiyamullail dapat membentuk jiwa ikhlas berkorban di jalan Allah, mempunyai dorongan untuk bersedekah, menyantuni anak yatim dan fakir miskin dan perbuatan baik lainnya. Sungguh sangat berbeda orang yang ahli berqiyamullail dan yang tidak.

Orang yang mempunyai mental dan keikhlasan hati, ia tidak akan mudah putus asa dalam menghadapi segala bentuk kehidupan. Namun selalu berpengharapan baik dan selalu berusaha untuk mencapai sesuatu yang utama bagi dirinya.

Rasulullah mewariskan ajaran agama berupa qiyamullail untuk penggemblengann mental. Mengapa tidak kita manfaatkan? Oleh sebab itu, bagi orang-orang yang telah merasakan hasil dari shalat malam, maka ia menjadi tergila-gila untuk terus melakukannya. Mereka merindukan malam untuk segera dating sehingga ia bisa berjumpa dengan Allah melalui ibadahnya.

Dari berbagai manfaat qiyamullail di atas, dapat diambil pelajaran bahwa qiyamul lail akan membentuk pribadi yang tawadhu’, tidak sombong dan mental seseorang untuk giat beribadah dan bekerja dalam hidup di dunia dan mencari bekal untuk hidup di akhirat. Karena setiap malam selalu berhadapan langsung dengan Allah Swt. ketika sedang melakukan shalat malam dan bermunajat memohon ampunan dari Allah Swt.

Demikianlah beberapa keutamaan yang dapat diperoleh bagi mereka yang mengerjakan shalat malam (qiyamullail). Jelaslah bagi kita bahwa mereka yang mengerjakan shalat malam, mereka akan mendapat limpahan karunia dari Allah Swt. yang tidak ada tolok bandingnya; sedangkan bagi mereka yang meninggalkan ibadah mulia ini, mereka mengalami kerugian yang amat besar.

Catatan Kaki

1. Akhmad Sya'bi, Kamus an-Nur; Arab-Indonesia dan Indonesia-Arab, (Surabaya: Halim, 1997), hlm. 224.

2 M. Hamdani B. Dz., Pendidikan Ketuhanan dalam Islam, (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2001), hlm. 165.

3 Ahmad Sudirman Abbas, The Power of Tahajud, (Jakarta: Qultum Media, 2007), Cet. 1, hlm. 1.

4 Moh. Sholeh, Terapi Shalat Tahajud; Menyembuhkan Berbagai Penyakit, (Jakarta: Hikmah, 2006) hlm. 130.

5 Imam Muslim bin al-Hajaj al-Qusyairi An-Naisaburiy, Shahih Muslim, Juz III, (Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyyah, 1994), hlm 84-86.

6 Moh. Sholeh, Op.Cit., hlm. 8.

7 Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Juz II, (Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyyah, t.th.), hlm. 300-301.

8 Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1993), Cet. 1, hlm. 207.

9 Departemen Agama RI., Op.cit., hlm. 396.

10 Tengku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Pedoman Shalat, (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2001), Edisi 3, Cet. 1, hlm. 304.

11 Imam Abdullah bin Abdurrahman bin Fadhol bin Barom bin Abdus Shomad as-Sahmy as-Samarqondy ad-Darimi, Sunan ad-Darimi, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th), hlm. 346.
 
12 Hamka (Abdul Malik Abdul Karim Amrullah), Tafsir al-Azhar, Jilid VI, (Singapura: Pustaka Nasional PTE. LTD., 1999), Cet. III, hlm. 4102.

13 Moh. Sholeh, Tahajjud Manfaat Praktis Ditinjau dari Ilmu Kedokteran, (Yogyakarta: Forum Studi Himanda, 2001), hlm. 164

14 Moenir Manaf, Pilar Ibadah dan Doa, (Bandung: Angkasa, 1993), hlm. 82.
15 Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah at-Tirmidzi, Op.Cit., hlm. 344.

16 Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam, (Bandung: Sinar Baru, 1992), Cet. Ke-25, hlm. 146.

17 Abi Abdurrahman Ahmad bin Syu’aib an-Nasa’i, Sunan al-Kubra, Juz I, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, t.th.), hlm. 441.

18 Zakiah Daradjat, Shalat Menjadikan Hidup Bermakna, (Jakarta: CV. Ruhama, 1996), Cet. VII, hlm. 65.

19 Abi Abdullah Muhammad bin Yazid al-Qazwiny Ibnu Majjah, Sunan Ibnu Majjah, Juz I, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.), hlm. 442

20 Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah at-Tirmidzi, Op.cit., Juz V, hlm. 516.
21 Moh. Sholeh, Op.cit., hlm. 2-3.

22 Abu Fajar al-Qalami, Misteri Qiyamul Lail dan Shalat Subuh, (Gita Media, tth.), hlm.
23 Ibid., hlm. 74.

24 Abu Umar Basyir, Misteri Shalat Malam; Menguak Rahasia Sukses Shalat Tahajud, (Solo: Rumah Dzikir, tth.), hlm. 26.

25 Abu Fajar al-Qalami, Opcit., hlm. 103.
26 Ibid., hlm. 107.



0 Response to "Qiyamullail, Bermunajat Kepada Allah SWT di Malam Hari"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!