Panduan Tata Cara Bacaan Sujud Sajadah (tilawah) dan Doanya

Advertisement
Tata Cara Bacaan Sujud Sajadah (tilawah) dan Doanya

Tongkronganislami.net - Sujud sajadah (tilawah) adalah sujud yang dikerjakan bilamana seorang muslim membaca ayat-ayat sajadah yang terdapat di dalam Al-qur'an. Sujud ini bisa dikerjakan di dua tempat, baik ketika sholat maupun diluar sholat seperti membaca atau mendengar bacaan ayat sajadah.

Apabila engkau membaca al-Qur’an di dalam atau di luar shalat, atau engkau mendengar bacaan al-Qur’an (di luar shalat), dan terbaca ayat sajadah, maka bertakbirlah dan sujudlah seperti sujud di dalam shalat satu kali dengan membaca (pada waktu sujud) doa yang akan kami sebutkan dalam tulisan ini.

Bacaan doa Sujud Sajadah tilawah

Dalil Perintah Sujud Tilawah (sajadah)

"Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (Qs. Maryam: 58)

Hadis ’Amar bin ’Ash yang menerangkan bahwa Rasulullah saw mengajarkan kepadanya lima belas ayat sajdah di dalam al-Qur’an, tiga diantaranya di dalam surat yang pendek dan dua di dalam surat al-Hajj”. (Riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah).

Ayat-ayat Sajadah dalam Sujud Tilawah

1. QS. al-A’raf: 206

إِنَّ الَّذِينَ عِنْدَ رَبِّكَ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيُسَبِّحُونَهُ وَلَهُ يَسْجُدُونَ

2. QS. ar-Ra’d: 15.

وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَظِلَالُهُمْ بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ

3. QS. an-Nahl: 49.

وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ دَابَّةٍ وَالْمَلَائِكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

4. QS. al-Isra’: 107.

قُلْ آَمِنُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا

5. QS. Maryam: 58.
إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آَيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا

6. QS. al-Hajj: 18.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ

7. QS. al-Hajj: 77.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

8. QS. al-Furqon: 60

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمَنُ أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُورًا  

9. QS. an-Naml: 25.

أَلَّا يَسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي يُخْرِجُ الْخَبْءَ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُخْفُونَ وَمَا تُعْلِنُونَ

10. QS. as-Sajdah: 15.

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآَيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ  

11. QS. Shad: 24.

وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ

12. QS. Fushshilat: 37

وَمِنْ آَيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ  

13. QS. an-Najm: 62.
فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا

14. QS. Insyiqaq: 21.

وَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآَنُ لَا يَسْجُدُونَ

15. QS. al-Alaq: 19.

كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ

Sujud Tilawah Saat Mendengar Bacaan Ayat Sajadah

لحديث ابن عمر أنه قال : ربما قرأ رسول الله صلعم القرأن فيمر باسجدة فيسجدبنا حتى ازدحمنا عنده حتى ما يجد احدنا مكانا ليسجد فيه فى غير صلاة

Artinya : Dar Ibnu ’Umar berkata : Pernah Nabi Saw. membaca alquran lalu bertemu dengan ayat sajdah, lalu kami bersama-sama beliau sujud, sehingga kami berdesak-desakan di sekitarnya, sehingga di antara kami tidak mendapat tempat sujud. Hal ini bukan di dalam shalat. ( H.R. Muslim ).

لحيث عمرى ب العاص أن رسول الله صلعم أقرأه خمس عشرة سجدة فى القرأن منها ثلاث فى المفصل وفى الحج سجدتان

Artinya : Dari Amr bin ’Ash yang menerangkan bahwa Rasulullah Saw. mengajarkan kepadanya ( ’Amr bin’Ash ) lima belas ayat sajdah di dalam al-Quran, tiga di antaranya di dalam surat yang pendek dan dua dalam surat al-Hajj. ( H.R. Abu Dawud dan Ibnu Majjah ).

Sujud TTilawah seperti Sujud Biasa


لخبر ابن عباس ر.ض قال قال رسول الله صلعم ( أمرت ان اسجد على سبعة اعظم على الجهة واشار بيده على انفه واليدين والركبتين وطرف القدمين )( متفق عليه

Artinya : Dari Ibnu’Abbas berkata : Rasulullah Saw. bersabda : Aku diperintahkan sujud di atas tujuh tulang, di atas dahi (dan beliau memberi isyarat dengan tangannya kepada hidungnya, kedua telapak tangannya, kedua lutut dan ujung-ujung kedua telapak kaki). (H.R. Bukhari Muslim).

Doa Sujud Tilawah

Tentang doa sujud tilawah di luar shalat terdapat beberapa perbedaan pendapat dari kalangan para imam tentang masalah ini. Namun perbedaan ini hanya berupa tambahan dari masing-masing imam. Menurut imam Hanafi di dalam sujud tilawah terdapat takbir namun tanpa mengangkat tangan ketika hendak sujud dan bangun. Dan hal ini hukumnya sunah. Adapun bacaannya sebagaimana bacaan dalam shalat :

سُبحان ربّي اللأعلي – ثلاثا

Sedangakan imam Maliki tidak jauh berbeda dengan imam Hanafi, hanya ada tambahan doa, yaitu:

اللّهم اكتب لي بها أجرا، وضع عنّي بها وزرا، واجعلها لي عندك ذخرا، تقبّلها مني كماقبلتها من عبادك داود

Sedangkan menurut Syafi’i sujud di luar shalat diawali dengan takbiratul ihram, sujud, duduk, dan diakhiri dengan salam. Adapun bacaannya yaitu :

سُبحان ربّي اللأعلي – ثلاثا سجد وجهي للذي خلقه وصوره وشق سمعه وبصره بحوله وقوته فتبارك الله احسن الخالقين

Tentang penggunaan salam, Imam Syafi’i merujuk pada sebuah dalil yang diriwayatkan oleh Baihaqi 

عن ابي عبد الرحن السلمي وابن الاخواص انهما سلما فىالسجدة تسليمة عن اليمين 

“Dari Abi Abdirrahn dan Ibnu Ahwash : Sesungguhnya keduanya salam ketika sujud tilawah dengan sekali salam kekanan. (H.R. Baihaqi)

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كُنْتُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ إِنِّي رَأَيْتُ الْبَارِحَةَ فِيمَا يَرَى النَّائِمُ كَأَنِّي أُصَلِّي إِلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ فَقَرَأْتُ السَّجْدَةَ فَسَجَدْتُ فَسَجَدَتْ الشَّجَرَةُ لِسُجُودِي فَسَمِعْتُهَا تَقُولُ اللَّهُمَّ احْطُطْ عَنِّي بِهَا وِزْرًا وَاكْتُبْ لِي بِهَا أَجْرًا وَاجْعَلْهَا لِي عِنْدَكَ ذُخْرًا قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ فِي سُجُودِهِ مِثْلَ الَّذِي أَخْبَرَهُ الرَّجُلُ عَنْ قَوْلِ الشَّجَرَةِ(اخرجه ابن ماجه والترمذي وابوحاتم)وزاد : وتقبلها مني كما تقبلها من عبدك داود

Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata : Ketika aku bersama Nabi seoang laki-laki datang kepadanya kemudian berkata : sesungguhnya aku bermimpi kemudian seolah-olah aku shalat di bawah pohon lalu aku membaca ayat sajdah kemudian aku sujud dan bersujudlah pohon itu dengan sujudku kemudian aku mendengarnya berdoa :

اللَّهُمَّ احْطُطْ عَنِّي بِهَا وِزْرًا وَاكْتُبْ لِي بِهَا أَجْرًا وَاجْعَلْهَا لِي عِنْدَكَ ذُخْرًا

Kemudian Ibnu Abbas berkata : Aku melihat Rasulullah Saw. membaca ayat sajdah lalu sujud kemudian aku mendengarnya berdoa dalam sujudnya seperti apa yang dikabarkan oleh laki-laki tadi dari berdoanya pohon itu. (H.R. Ibnu Majjah dan Attirmizi dan Abu Hatim). Abu Hatim menambahkan dengan lapadz :

وتقبلها مني كما تقبلها من عبدك داود 

Adapun sujud tilawah di dalam shalat, diawali dengan takbir. Akan tetapi takbir di sini yang diperdebatkan adalah antara takbir iftitah atu takbir intiqal. Sebagaimana sabda Nabi saw :

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال : كان النبي ص.م يقرأ علينا القرءان خاذا مرّ بالسجدة كبر وسجد وسجدنا معه 

Dari Ibnu ‘Umar ra berkata : Adalah Nabi saw membacakan al-Quran kepada kami… ( H.R. Abu dawud )

Lafaz kabbara di sini yang menimbulkan perdebatan. Shun’ani lebih memilih iftitah, sedang yang berpendapat takbir intiqal, disebabkan karena dalam shalat tidak ada takbir lain kecuali Intiqal. Tetapi hadis ini dianggap dhoif karena dalam isnadnya terdapat Amr Abdullah al-Mukiri. Imam Hambali berpendapat, apabila surat sajdah diakhir surat, maka boleh langsung rukuk atau sujud kemudian berdiri dan kemudian rukuk.

Ketentuan Pelaksanaan Sujud Tilawah (sajadah) dengan berbagai Permasalahannya

Sujud tilawah disyari’atkan bagi qari dan pendengar berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar r.a. yang mengatakan : “Rasulullah s.a.w. membacakan Al Qur’an kepada kami, Maka ketika berlalu ayat sajdah, beliau pun takbir dan sujud, lalu kami juga sujud”.

Apabila seorang qori tidak sujud, maka bagi pendengar tetap dianjurkan sujud karena anjuran sujud dialamatkan kepada kedua belah pihak sehingga anjuran tersebut tidak hilang dikarenakan salah satu pihak tidak melakukannya.

Ketentuan ini berlaku dengan catatan, bilamana pendengar dengan sengaja mendengarkan bacaan Al Qur’an. Adapun bilamana yang mendengar bacaan Al Qur’an itu bukan pendengar yang dengan sengaja mendengarkannya, seperti seorang yang sedang berlalu di jalan lalu ia mendengar seorang qari sedang membaca Al Qur’an di masjid, atau di rumah dengan bacaan yang nyaring sehingga tanpa disengaja orang yang sedang berlalu di jalan pun mendengarnya, atau seseorang ada di dekat orang yang sedang membaca Al Qur’an tetapi ia sibuk dengan kegiatan lain, seperti menulis atau membicarakan urusan lain, maka dalam posisi seperti ini ia tidak dianjurkan untuk sujud tilawah karena ia dianggap bukan pendengar yang sedang mengikuti bacaan Al Qur’an yang sedang dilantunkan oleh si qari.

Ketentuan ini berdasarkan hadis-hadis berikut seperti yang diriwayatkan dari Utsman dan ‘Imran bin Al Hashin r.a. : “Sujud tilawah dianjurkan kepada pendengar”. Diriwayatkan lagi dari Ibnu Abbas r.a. : “Sujud tilawah adalah bagi orang yang duduk untuk mendengarkan bacaan Al Qur’an”.

Hukum sujud tilawah adalah sunat bukan wajib berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit r.a. yang mengatakan : “Surah An Najm disampaikan kepada Rasulullah s.a.w. namun tidak seorang pun di antara kami yang sujud tilawah”.

Sujud tilawah berjumlah empat belas kali, sebagaimana dikemukakan dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Amr bin Al ‘Ash r.a. yang mengatakan : Rasulullah s.a.w. telah membacakan (menyebutkan) kepadaku lima belas ayat sajdah (ayat yang menganjurkan sujud tilawah) dalam Al Qur’an, antara lain : tiga pada ayat-ayat Al Mufashshal dan dua dalam surah Al Hajj”.

Tetapi yang termasuk ke dalam sujud tilawah dari kelima belas ayat sajdah itu hanya empat belas saja, yakni ayat sajdah dalam surah Shad bukan merupakan ayat yang menganjurkan untuk sujud tilawah melainkan ayat yang menganjurkan untuk sujud syukur. Bunyi ayat tersebut, yaitu :

“. . . lalu (Daud) menyungkur sujud dan bertaubat” ( Q. S. 88 : 74 ).

Ketetapan ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al Khudri r.a. yang mengatakan : “Suatu hari Rasulullah s.a.w. berkhutbah di hadapan kami, Maka ketika beliau membaca ayat sajdah, kami pun beranjak untuk sujud. Ketika beliau menyaksikan kami demikian, beliau pun bersabda : Sesungguhnya itu adalah taubat seorang Nabi (Daud). Tetapi kalian tetap siap untuk sujud sehingga beliau juga turun dan sujud”.

Kemudian diriwayatkan lagi dari Ibnu Abbas r.a. : “Sesungguhnya Nabi s.a.w. telah sujud dalam surah Shad dan beliau bersabda : Daud a.s. telah sujud berkenaan dengannya sebagai sujud taubat sedang kita sujud berkenaan dengannya sebagai sujud syukur”.

Selanjutnya saat sujud hendaklah bertakbir berdasarkan hadits shahih dari Nabi s.a.w. yang mengemukakan, bahwa beliau bertakbir saat sujud tilawah dan saat bangkit dari sujud tersebut. Kemudian membaca salam ketika telah usai bangkit dari sujud tilawah.

Sedangkan sujud tilawah juga dianggap shalat. Dengan demikian,maka sujud tilawah juga harus diakhiri dengan membaca salam.

Bagi siapa saja yang sujud tilawah, maka baginya kebaikan sebagai imbalan atas kesediaanya melakukan pekerjaan sunat. Sedang bagi yang meninggalkannya, maka baginya tidak ada kebaikan namun tidak berdosa.

Apabila seseorang memdengar ayat sajdah dibacakan tetapi ia dalam keadaan tidak suci, maka kepadanya tidak lazim harus wudhu atau tayammum karena sujud tilawah adalah sujud yang berkaitan dengan suatu sebab, sehingga bila ayat sajdah tersebut telah berlalu baginya tidak perlu lagi sama halnya dengan seorang yang membaca ayat sajdah dalam shalatnya, kemudian ia tidak sujud tilawah, maka ia tidak lazim harus sujud sesudahnya. Hukum sujud tilawah sama dengan hukum shalat sunat, yaitu harus suci, menutup aurat, dan menghadap ke kiblat karena hakikatnya sujud tilawah itu adalah shalat juga.

Alasan, mengapa sujud tilawah dianggap sebagai shalat karena shalat juga adakalanya diungkapkan dengan sujud dan begitu juga sebaliknya. Banyak hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat Rasul s.a.w. yang mengungkapkan shalat dengan kata-kata sujud, di mana dalam hadits -hadits tersebut kata “rakaat” diungkapkan dengan kata “sujud”.

Ibnu Umar r.a. telah meriwayatkan: “Aku shalat bersama Rasulullah s.a.w. sebelum Zhuhur dua sujud (sajdatain, maksudnya dua rakaat ) dan susudahnya dua sujud (sajdatain), lalu sesudah shalat Maghrib dua sujud (sajdatain ), serta sesudah shalat Isya dua sujud ( sajdatain )”.
Maksud dari kata-kata “sajdatain” dalam hadits ini juga tidak lain adalah “rak’atain”, yakni dua rakaat.

Ini adalah sebagai dalil, bahwa shalat terkadang dinyatakan dengan sujud. Kemudian ketika rakaat dinyatakan dengana sujud (sajdah)- sebagaimana tidak diperselisihkan ,bahwa rakaat juga adalah shalat, maka sujud pun dianggap sebagai shalat, sekalipun sujud adalah salah satu dari beberapa pekerjaan yang dilakukan saat seseorang sedang shalat.

Memang terkadang kata sujud ini dimaksudkan sebagai bagian dari rangkaian shalat seperti sujud dalam shalat yang terdiri dari beberapa rakaat dan terkadang sebagai shalat secara utuh, yakni shalat itu sendiri, seperti sujud syukur, sujud tilawah, dan sujud sahwi.

Kemudian keadaan di antara keduanya juga ada beberapa persamaan, yakni bahwa shalat memiliki sebab yaiitu tiba (masuk) waktu, seperti Zhuhur, atau karena memperoleh apa yang disyari’atkan untuk shalat, seperti shalat tahiyyatul masjid. Maka begitu juga halnya sujud pun mempunyai sebab, yakni karena lupa ada yang tertinggal dalam shalat, sehingga disyari’atkan sujud sahwi, atau karena memperoleh nikmat, atau karena terhindar dari bencana, sehinga disyari’atkan sujud syukur, atau karena membaca ayat sajdah, sehinga disyari’atkan sujud tilawah.

Sehubungan dengan sujud sahwi, sesungguhnya sujud ini -sebagaimana tidak diperselisihkan oleh para ulama- bukan merupakan bagian dari shalat melainkan sujud tersebut merupakan penambal bagi shalat.

Sabda Rasulullah s.a.w. : “. . . dan jika terbukti rakaat itu kurang, maka rakaat tersebut menjadi penyempurna bagi shalatnya dan kedua sujudnya merupakan arang yang mencoreng muka syaitan”.
Begitu juga, bahwa sujud sahwi pun disyaratkan suci karena sujud sahwi ini merupakan ibadah di luar rakaat-rakaat shalat. Kemudian daripada itu, perihal ketentuan bagi sujud tilawah juga persis sama dengan ketentuan bagi sujud sahwi dan ketentuan ini tidak didasarkan pada qias, karena dalam ibadah (mahdhah) tidak ada qias. Akan tetapi ketentuan ini didasarkan pada posisi atau status sujud tilawah itu sendiri sebagai salah satu macam sujud.

Dalam sujud tilawah disyaratkan suci karena yang diperhitungkannya pun sujud itu sendiri bukan penyebabnya. Maka dengan demikian, jelaslah bagi kita : Sesungguhnya sujud tilawah sama dengan shalat yang mempunyai syarat seperti syarat yang ditetapkan dalam shalat.

Adapun tentang apa yang dikemukakan oleh Bukhari dalam kitab shahihnya (Shahih Bukhari) , yaitu tentang pernyataanya : “BAB SUJUD KAUM MUSLIMIN BERSAMA KAUM MUSYRIKIN DAN SEORANG MUSYRIK YANG TIDAK MEMPUNYAI WUDHU, DAN IBNU UMAR R.A. TERBUKTI TANPA WUDHU”.

Maka hal ini tidak boleh dijadikan dalil untuk membolehkan sujud tilawah tanpa wudhu. Sebab sesungguhnya Bukhari hanya sekedar menyebutkan hal itu dalam sebuah “bab” sebagai judul dan dia tidak meriwayatkannya dari seorang perawi pun. Apa yang disebutkan oleh Bukhari dalam kitabnya sebagai judul bagi suatu bab tidak dapat dianggap sebagai hadits yang diriwayatkannya dan tidak bisa dijadikan dalil seperti halnya nash syar’I, melainkan hal tersebut hanya sekedar pendapat dia sendiri.

Sedangkan riwayat lain yang meriwayatkan: “Sesungguhnya Ibnu Umar telah sujud tilawah tanpa wudhu”. ini adalah riwayat yang dikemukakan dari nara sumber yang tidak bisa ditelusuri.

Dalam sebuah riwayat Ibnu Abu Syaibah telah meriwayatkan dari jalur ‘Ubaid bin Al Hasan dan seorang laki-laki yang menduga, bahwa ia seperti dirinya dari Sa’id bin Jubair , ia berkata : “Ibnu Umar terbukti turun dari hewan tunggangannya lalu menuangkan air, kemudian ia menaiki (hewan tunggangannya). Maka dia membaca ayat sajdah dan dia tidak wudhu”.

Status tiwayat ini adalah majhul (tidak dapat ditelusuri nara sumbernya) dan terhadap riwayat yang majhul kita pun dilarang menerimanya.

Dengan demikian jelaslah bagi kita, sesungguhnya riwayat yang mengemukakan bahwa Ibnu Umar r.a. melakukan sujud tilawah tanpa wudhu tidak bisa dikukuhkan bersumber dari pernyataan dia sendiri dan sesungguhnya riwayat yang mengemukakan bahwa Ibnu Umar r.a. terbukti melakukan sujud tilawah tanpa wudhu ini berlawanan pernyataannya dia sendiri yang menegaskan wajib wudhu untuk sujud tilawah, sebagaimana telah diriwayatkan oleh Al Baihaqi dengan sanad shahih yang diterima dari Al Laits dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang mengatakan :

“Seseorang tidak sah sujud (tilawahnya ) kecuali dia itu suci (berwudhu)”.

Dan Ibnu Umar sendiri menganggap sujud tilawah adalah shalat, sehingga dia menyatakan makruh melakukan sujud tilawah dalam waktu-waktu dimakruhkan mengerjakan shalat.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a. : "Sesungguhnya dia (Ibnu Umar) ditanya tentang orang yang membaca Al Qur’an sesudah shalat Fajar dan sesudah shalat Ashar : Apakah ia boleh sujud (tilawah)? Dia menjawab : Tidak boleh”.

Ini adalah ketetapan berdasarkan aspek periwayatan, sedangkan bila ketetapan ini berdasarkan aspek pengambilan dalilnya maka sesungguhnya perbuatan Ibnu Umar bukan merupakan dalil syar’i , sehingga pernyataan dia itu tidak bisa dianggap sebagai dalil syar’i melainkan sebagai hukum syar’i dari atau bagi seorang mujtahid.Hal ini dengan alasan, sebab madzhab(pendapat) seorang sahabat adalah bukan merupakan dalil syar’i.

Sedangkan tentang hadits yang diriwayatkan oleh Bukahari yang mengatakan: Musaddad telah meriwayatkan kepada kami, katanya: Abdul Warits telah meriwayatkan kepada kami, katanya : Ayyub telah meriwayatkan kepada kami dari ‘Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a. :“Sesungguhnya Nabi s.a.w. bersujud (tilawah) ketika membaca surah An Najm dan kaum muslimin kaum musyrikin, jin, dan manusia juga sujud bersamanya”.

Hadits ini secara dirayah tertolak walaupun diriwayatkan oleh Bukhari. Adapun alasan, mengapa secara dirayah hadits tersebut tertolak, ini berdasarkan dua segi :

Pertama : Karena hadits tersebut berlawanan dengan nash Al Qur’an yang bersifat qath’i, dimana Al Qur’an memberitahukan kepada kita bahwa sesungguhnya orang-orang musyrik sangat keberatan untuk menerima agama yang disampaikan oleh Rasulullah s.a.w. kepada mereka.

Firman Allah Ta’ala : “Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya”. ( Q.S. 42 : 13 ).

Sedangkan hadits di atas menyatakan : Sesungguhnya mereka ketika mendengan Al Qur’an (dibacakan) sujud. Sujud yang dilakukan oleh mereka sungguh berlawanan dengan sikap mereka sendiri yang sangat keberatan menerima agama yang diserukan oleh Rasulullah s.a.w. kepada mereka. Kemudian di lain ayat Allah s.w.t memberitahukan kepada kita bahwa sesungguhnya orang-orang musyrik apabila dibacakan Al Qur’an kepada mereka , maka mereka tidak mau sujud.

Firman Allah Ta’ala : “Dan apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka , maka mereka tidak bersujud”. ( Q. S. 84 :21.)

Akan tetapi dalam hadits di atas dikemukakan : Sesungguhnya mereka bersujud ketika Al Qur’an dibacakan kepada mereka. Selanjutnya Al Qur’an memberitahukan lagi kepada kita bahwa sesungguhnya orang-orang musyrik berpaling dari sujud kepada Allah Ta’ala.

Firman Allah Ta’ala: “Dan apabila dikatakan kepada mereka : Sujudlah kamu sekalian kepada Yang Maha Penyayang, mereka menjawab : Siapakah Yang Maha Penyayang itu ? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan yang kamu perintahkan kami (bersujud kepada Nya )? Dan (perintah sujud itu ) menambah mereka jauh ( dari iman)” ( Q. S. 25 : 60 ).

Sedangkan hadits di atas menyatakan : Ketika kepada mereka dibacakan Al Qur’an, mereka pun bersujud. Ini jelas berlawanan satu sama lain, sehingga secara dirayah hadits tersebut harus ditolak.

Kedua : Sesungguhnya Abdullah bin Abbas r.a. yang disebut sebagai perawi hadits di atas, pada waktu kisah hadits ini dihubungkan kepada Rasulullah s.a.w. yang terjadi sebelum hijrah kedua ke Habsyi- di awal kerasulan, periode Mekkah- terbukti saat itu dia masih kecil. Sekali pun dapat dipastikan dia saat itu telah lahir dan dapat dipastikan dia memperoleh kisah di atas, tetapi dapat pula ditegaskan : Sesungguhnya Ibnu Abbas r.a. sama sekali tidak menyaksikan kisah di atas, sebagaimana dikatakan oleh para pensyarah hadits itu sendiri.

Atas dasar itu, maka hadits ini dianggap berlawanan dengan realita kisahnya sekalipun Ibnu Abbas dapat dipastikan memperolehnya. Di sini tidak boleh dikatakan: Sesungguhnya Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan kisah ini dari Rasulullah s.a.w. secara langsung karena beliau menyampaikan kisah itu kepadanya secara langsung atau dengan perantaraan. Hal ini tidak boleh dikatakan demikian, sebab Ibnu Abbas r.a. tidak meriwayatkan dengan ungkapan : "Sesungguhnya Rasulullah telah bersabda", melainkan dia itu meriwayatkan hadits seperti yang langsung menyaksikan jalannya peristiwa sehingga dia berkata "Sesungguhnya Nabi s.a.w. telah bersujud (tilawah) dan sujud pula bersamanya kaum muslimin, serta orang-orang musyrikin".

Atas dasar ini , maka, hadits tersebut tidak boleh dijadikan dalil. Dengan demikian, diperbolehkannya sujud tilawah tanpa wudhu tidak bida diterima (tertolak) dan keharusan dalam keadaan suci (berwudhu) ketika sujud tilawah -karena sujud tilawah sama dengan shalat-dikukuhkan ketetapannya.


0 Response to "Panduan Tata Cara Bacaan Sujud Sajadah (tilawah) dan Doanya"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!