[Kajian Tafsir] Tiga Kriteria Hamba Terbaik di Sisi Allah

Advertisement
Tongkronganislami.net - Kesadaran utama yang harus dimiliki oleh seorang insan beriman kepada Allah adalah menyadari tujuan penciptaan dirinya terlebih dahulu sebelum ciptaan-ciptaan lainnya. Karena apa yang diciptakan Allah bukanlah hal yang main-main[1]. Tentunya kita sebagai manusia harus berusaha mengetahui tujuan Allah menciptakan diri kitasho? Apakah untuk mencari harta belaka? Berbuat kerusakan? Atau yang lainnya?. Jawaban itu bisa kita temukan dalam firman Allah:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ٥١:٥٦ 

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku".

Kata ya'budun pada ayat diatas, memberitahu kita bahwa manusia diciptakan dibumi ini adalah untuk menjadi hamba dan pelayan Allah swt. tentunya sebagai pelayan, maka kedudukan tuan lebih tinggi. Maka Allah yang menjadi tuan kita harus ditempatkan pada tempat yang jauh lebih tinggi dari kita, juga segala yang dikehendaki tuan merupakan perkara yang mutlak kita usahakan.

Menjadi seorang hamba Allah bukanlah hal yang hina, karena Allah merupakan satu-satunya Zat layak dijadikan Tuan, dialah yang Maha mencipta, yang Maha perkasa dan Maha segala-galanya. Untuk itu, setiap hamba-hambanya akan senantiasa menjadi hamba yang terbaik dimataNya, setiap hamba ingin mendapatkan keridhanNya, dan ingin menjadi kekasihnya seperti yang telah dicapai oleh Nabi Ibrahim As[2] dan orang-orang saleh lainnya.

Menjadi hamba yang terbaik dimata Allah swt, bukan lah hal yang mudah, perjuangan untuk mencapai hal tersebut adalah perjuangan sepanjang hayat, selama raga masih dikandung badan. Hamba yang terbaik memiliki karakter-karakter yang Allah tentukan sendiri, dan di antara karakter hamba terbaik tersebut dapat ditemukan pada surat al-Furqan : 63-64[3]

Allah swt berfirman dalam surat al-Furqan ayat 63 :

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا ٢٥:٦٣ 

"Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan".

Dalam satu ayat ini, terkandung dua kriteria yang Allah tetapkan bagi hamba yang terbaik. Kriteria pertama adalah: "orang-orang yang berjalan diatas bumi dengan rendah hati". Ibnu Katsir menegaskan, sebagaimana dalam tafsirnya[4] bahwa, yang dimaksud rendah hati disini bukanlah berjalan lemah lunglai karena berpenyakitan, atau berjalan pelan dengan riya' agar dikatakan sebagai orang yang tawadhu.

Melainkan berpengertian hidup di dunia tanpa rasa sombong lagi angkuh, tidak menjadi orang-orang yang durhaka dan perusak, akan tetapi orang-orang yang tawadhu' dan hidup dalam ketenangan dan kedamaian sebagaimana juga yang dijelaskan oleh Al-Jazairi.

Hal ini sangat beralasan, karena orang yang sombong akan memandang segala sesuatunya dengan kurang, tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimiliknya, terlebih lagi memandang sekitar dengan pandangan merendahkan. Hal itu akan melahirkan rasa ridak menghargai, tumbuhnya iri yang pada akhirnya memperbanyak musuh dan menjadikan hidup tidak tenang. 
Tiga Kriteria Hamba Shaleh di Sisi Allah
Good Muslim and Bad Muslim / Goodmuslimbadmuslim.com

Berbeda dengan orang yang rendah hati, segalanya bisa disyukuri, apa yang ada pada dirinya itulah yang dimanfaatkan dan dia tidak pernah mengeluh tidak pula berperasangka buruk pada Allah, sehingga hidup terasa puas dan secara otomatis melahirkan ketenangan dan kedamaian, Ayat ini pun sesuai dengan firman Allah: Q.S. Luqman : 18

وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِى ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًا‌ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٍ۬ فَخُورٍ۬ 

"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri".

Kriteria kedua adalah "dan apabila orang bodoh menyapa mereka maka mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan". Al-Jazairi menjelaskan bahwa, kalimat ini menunjukkan hamba Allah yang baik itu, jika mendengar perkataan yang tidak baik atau perkataan yang menyakitkan hatinya, maka ia tidak membalas dengan perkataan buruk yang serupa, melainkan membalasnya dengan perkataan yang baik. At-Thabari[5] menambahkan bahwa yang dimaksud dengan perkataan yang selamat adalah perkataan yang benar atau menjauhkan diri agar tidak mengatakan perkataan yang tidak baik pula.

Semua penjelasan ini memberikan sebuah pernyataan yang harus kita sadari bahwa, jika kita hendak menjadi hamba yang baik di mata Allah, maka janganlah kita membalas ucapan buruk seseorang dengan perkataan yang buruk serupa atau malah lebih buruk lagi, tetapi kita dituntut bersabar dan membalasnya dengan perkataan yang benar, perkataan yang lembut, perkataan yang baik atau menjauh agar tidak terjerumus untuk mengatakan yang buruk pula.

Karena perkataan yang buruk jika dibalas dengan keburukan yang sama, maka akan melahirkan percakapan buruk yang tak akan habis-habisnya, bahkan akan berujung pada perkelahian fisik yang akan saling merugikan satu sama lain. Juga jawaban yang santun dan benar akan menunjukkan sikap berpendidikan di mata orang lain bahkan akan melahirkan simpati.

Oleh karenanya dalam hal ini Rasulullah adalah suri tauladan yang baik, dimana Beliau dalam berdakwah selalu mengedepankan kesabaran dan rasa maafnya yang itu ternyata menjadi salah satu cara ampuh dalam memenangkan agama Islam dan melahirkan umat yang terbaik, hal ini sejalan dengan firman Allah Q.S. Fussilat: 34

وَلَا تَستَوِى ٱلحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُ‌ ٱدفَع بِٱلَّتِى هِىَ أَحسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَينَكَ وَبَينَهُ ۥ عَدَٲوَةٌ كَأَنَّهُ ۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ

"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia".

Kriteria terakhir yang akan kami paparkan disini adalah lanjutan ayat di atas yaitu al-Furqan : 64

وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا ٢٥:٦٤ 

"Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka".

Ayat tersebut menunjukkan sebuah bentuk peribadatan yang sangat mendalam, memiliki nilai keistimewaan tersendiri dari ibadah atau shalat-shalat yang sering kita kerjakan Hal ini sesuai dengan penjelasan Al-Jazairi[6] bahwa yang ditunjukkan pada ayat tersebut adalah orang-orang yang mengisi malam mereka dengan sholat, melelahkan kaki-kaki mereka untuk beribadah, memenuhi hati-hati mereka dengan khusyu' dan mengingat Allah, melinangkan air mata mereka di atas pipi-pipi mereka sebagai bentuk takut atas azab Allah swt.

Merekalah hamba yang senantiasa mengingat Allah, selalu bermuhasabah diri, tidak pernah merasa puas atas amal yang dikerjakan melainkan selalu takut atas dosa yang dilakukan. Tobat menjadi rutinitas mereka, istighfar merupakan tasbih yang membekas di bibir dan hati mereka, mereka lah hamba yang dijanjikan Allah naungan di akhirat kelak[7].

Ibadah yang dilakukan pada malam hari pun memiliki keistimewaan dimana merupakan salah satu waktu ter-ijabahi-nya do'a sebagaimana sabda Nabi saw[8]:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ : مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ.

Allah menurunkan perintahnya pada tiap malam ke langit dunia ketika itnggal sepertiga malam yang akhir, untuk berseru “Siapa yang berdo’a Aku terima, siapa yang minta Aku beri dan siapa yang minta ampun Aku ampuni dia.

Demikianlah tiga kriterian hamba terbaik di mata Allah swt, tentunya memenuhi ketiga hal ini bukanlah merupakan hal yang mudah kita lakukan, tetapi berangkat dengan hati yang ikhlas, maka Allah akan memberi kemudahan-kemudahan

Catatan Kaki 

[1] Q.S. al-Anbiya' : 16

[2] Q.S. an-Nisa': 125

[3] Abu Bakar Al-Jazairi dalam kitabnya aysar at-tafaasir memberikan penjelasan bahwa tatkala orang-orang musyrik mengingkari salah satu nama Allah yaitu ar-Rahman dan mereka enggan bersujud pada ar-Rahman bahkan menuduh bahwa Rasulullah sendiri telah menyukutukan Allah dengan ar-Rahman. Maka Allah menurunkan surat al-Furqan ayat 63-74 untuk memberitahukan kriteria-kriteria hamba-hamba yang menyembah ar-Rahman yang tidak lain dan tidak bukan adalah Allah itu sendiri, juga memberitahukan mereka mengenai hamba-hamba yang terbaik dimata Allah yang ar-Rahman, bukanlah hamba yang menyekutukannya dengan sesuatu pun seperti mereka kaum juhhal (kaum yang bodoh lagi tidak mengetahui) lihat aysar- at-Tafasir (3/365) karya Abu Bakar Al-Jazairi software maktabah asy-Syamilah .

[4] Lihat Tafsir Ibnu Katsir karya Al-Imam Al-Hafizh 'Imad Ad-Din Abi Al-Fuda,I Isma'il Bin 'Umar Ibn Al-Katsir Ad-Dimasqi (3/292), penerbit Dar al-'Ilmiyah, 2008

[5] Lihat Tafsir Jami' Al-Bayan Fi Tafsir Al-Qur'an karya Muhammad Ibn Jarir Ibn Yazid Ibn Galib Al-Amily, Abu Ja'far At-Thabary (19/365), penerbit mu,assasah ar-Risalah, 2000

[6] lihat aysar- at-Tafasir (3/365) karya abu bakar al-Jazairi software maktabah asy-Syamilah

[7] Hadits yang terdapat pada Shahih Bukhari (2/952), Shahih Muslim (3/93). Sunan at-Tirmidzy (3/599) dan lain-lain yang menyatakan bahwa ada tujuh golongan orang yang akan dinaungi oleh Allah pada hari kiamat salah satunya adalah "orang yang meyendiri untuk berzikir kepada Allah dan air matanya bercucuran"

[8] Hadits ini terdapat pada Shahih Bukhari (1/214), Shahih Muslim (1/102), Sunan At-Tirmidzy (2/307) dan lain-lain.


0 Response to "[Kajian Tafsir] Tiga Kriteria Hamba Terbaik di Sisi Allah"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!