Biografi dan Pemikiran Al-Kindi di Bidang Filsafat dan Agama

Advertisement
Biografi dan Pemikiran Al-Kindi di Bidang Filsafat dan Agama
Oleh: Muh Nur

Tongkronganisalmi.net - Perkembangan Zaman memberikan kesempatan peningkatan dan pengembangan alam fikiran Bangsa Arab, terutama setelah wafatnya Rasulullah, sedangkan keperluan dan kebutuhan untuk memperoleh kepastian hukum dialihkan kepada al-Qur'an dan al-sunnah. Kedua dasar ini tentu membutuhkan penjelasan dan penafsiran yang jelas dan shahih, yang selanjutnya menimbulkan ijtihad atau kemampuan daya fakir brilian, guna menyelesaikan persoalan-persoalan tertentu. Yang jelas bahwa kekuatan daya fakir seseorang sangat ditentukan oleh taraf kecerdasan, pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya, sehingga dapat menghasilkan kesimpulan yang benar.

Dalam sejarah Islam, penulisan filsafat yang sistematis bam dimulai pada abad ke-9, Sebelumnya kegiatan filosofis hanya berkisar pada penerjemahan karya­karya filsafat Yunani. Penulis yang pertama-tama merayakan tradisi penulisan filsafat adalah al-Kindi. Filosof ini mengaku keturunan kabilah Kindah, lahir di kota Kufah dan di kota itu, ayahnya menjabat Gubernur.[1]

Awal mula pemikiran filsafat, seperti halnya penciptaan manusia, sama-­sama melampaui perjalanan sejarah. Pemikiran merupakan ciri yang tidak bisa dipisahkan dari manusia, di mana pun ia menjejakkan kakinya. Pemikiran dan pemahaman senantiasa dibawanya. Oleh karena itu, tidak ada informasi secara pasti mengenai pemikiran-pemikiran yang tak tertulis oleh manusia, kecuali dugaan berdasarkan peninggalan yang ditemukan.

Diantara sekian banyak persoalan yang ingin diungkap oleh pemikiran manusia adalah pengetahuan tentang " wujud", awal dan akhirnya, pengetahuan tentang wujud ini, sejalan dengan pengetahuan keagamaan. Oleh karena itu, dapatlah dikatakan bahwa pemikiran filosof terkuno ada dalam pemikiran keagamaan Timur.

Tak diragukan bahwa orang-orang Islam terdahulu dengan taraf kecerdasanya telah banyak menemukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan diantaranya : fisika, matematika, ekonomi, politik, logika. Psikologi, musik dsb.

Al-Kindi adalah seorang filosof Islam yang pertama merintis usaha untuk mempertemukan agama dan filsafat yang didasarkan atas ketentuan dan dalil-dalil pikiran. Menurutnya filsafat adalah pengetahuan yang benar, al-Quran juga membawa argumen-argumen yang meyakinkan dan benar dan tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran yang dihasilkan filsafat.[2] Sementara para filosof Yunani tidak menemukan adanya titik temu filsafat dan agama.

Menurut al-Kindi, seorang tidak perlu malu untuk mengakui kebenaran itu, meskipun kebenaran itu dari suatu bangsa yang perbedaannya sangat jauh dari kita sehingga orang-orang yang mengingkari kebenaran tidak seorang pun akan rendah sebab kebenaran, sebaliknya semua orang menjadi akan mulia oleh kebenaran.[3]

Berdasarkan asumsi-asumsi di atas, maka tulisan ini mencoba menelusuri secara khusus tentang: Riwayat Hidup Al-Kindi dan Pandangan Al-Kindi tentang keserasian filsafat dan agama, Filsafat Ketuhanan dan Filsafat Jiwa Al-Nafs

Biografi dan Pemikiran Al-Kindi di Bidang Filsafat dan Agama



Biografi & Riwayat Hidup Al-Kindi


Nama, lengkapnya, al-Kindi adalah Abu Yusuf Yakub, bin Ishak ibu al­Subbah Imran bin Ismail bin Muhammad bin al-asy’ats bin Qais al-Kindi. ia populer dengan sebutan al-Kindi. la lahir di Kufah (Iraq) sekitar 185 H. dan wafat tahum 26o H./873 M. prang tuanya adalah gubernur di Bashrah.[4]

Setelah dewasa, ia ke Bagdad dan mendapat perlindungan dan­ khalifah al.-Ma'mun (Daulah Abbasiah) dan khalifah al-Mu,tasim.[5] Neneknya bernama, al-Asy’ats bin Qaish. Termasuk seorang sahabat Nabi yang paling pertama datang di kota Kufah.[6]

Ketika al-Kindi sampai di Bagdad, ia sangat senang dengan suasana intelektual di sana, ia menerjemahkan beberapa karya dan merevisi terjemahan orang lain, seperti teologi Aristoteles. Untuk mengalih bahasakan istilah-istilah filosofis dan ilmiah tertentu yang ia tentukan dalam karya­ karya asing, is menciptakan kata-kata baru dalam bahasa Arab. Seperti jirm untuk tubuh, thinah untuk materi al-tawahum untuk imajinasi dan lain-lain.[7]

Sebagai penults yang sangat produktif, ia memiliki sekitar 270 dalam berbagai bidang ilmu yang dikenal pada masanya, seperti geometrik, musik, astronomi, parmakologi, meteorologi, kimia, kedokteran dan polomika. la juga menulis semua cabang ilmu filsafat, seperti logika, fisika, metafisika, psikologi dan etika.

Di dalam menulis karya-karya tersebut, pertama ia menjelaskan sejelas mungkin pandangan-pandangan para pendahulunya kemudian merevisi dan kemudian mengembangkannya sesuai dengan kepentingan-­kepentingan baru.[8]

Karya-karya al-Kindi yang berjumlah sekitar 270 buah, tersebar di belahan dunia Islam, akan tetapi, banyak be-rupa risalah-risalah pendek dalam bidang filsafat, antara lain sebagai berikut:

1. Fi al-falsafah al-ula (filsafat pertama)

2. Risalah al-Hikmiyah fi Asrar al-Ruhaniyah (sebuah tulisan filosofis tentang rahasia spritual).

3. Risalah fi Hudud al-Asyya wa Rusumiha (defenisi bendy-bendy uraiannya)

4. Fi Ma’iyah al-Ilmu wa al-Aqsami (filsafat ilmu pengetahuan dan klasifikasinya)[9]

mengenai kematiannya tidak ada kepastian, L, Musognon mengatakan ia wafat sekitar 245 H (860 M). C. Laninno menduga tahun wafat al-Kindi sekitar (w. 26o H/873 M). Adapun Mustafa Abdul Raziq mantan Rektor at­-Azhar mengatakan tahun (252 H/866 M),[10]


Kesesuaian antara Filsafat dan Agama


Masalah hubungan filsafat dan agama, menimbulkan masalah- baru yang diperdebatkan pada zaman al-Kindi. Ahli-ahli agama pada umumnya menolak keabsahan ilmu filsafat, karena di antara produk pemikiran filsafat jelas menunjukkan pertentangan dengan ajaran al-Qur'an, Sebagai seorang. filosof al-Kindi telah mengangkat dirinya sebagai pembela ilmu filsafat yang seharusnya tidak dipertentangkan dalam agama karena keduanya membawa kebenaran yang serupa.[11]

Agama dan filsafat menurutnya adalah ilmu pengetahuan yang benar oleh karena itu, Al-Qur'an sebagai sebuah wahyu dari Allah tidak mungkin bahkan mustahil bertentangan kebenaran yang dihasilkan filsafat sebagai sebuah upaya maksimal dalam menggunakan akal untuk menemukan kebenaran. Karena itu, mempelajari filsafat dan berfilsafat bukanlah merupakan pengingkaran terhadap kebenaran wahyu (al-Qur'an), dan teologi sebagai bagian dari filsafat, sangat penting untuk dipelajari.

Bertemunya filsafat dan agama dalam kebenaran dan kebaikan sekaligus menjadi tujuan dari keduanya. Agama di samping wahyu mempergunakan akal dan filsafat juga mempergunakan akal. Yang benar pertama menurut al-Kindi adalah Tuhan.

Dengan demikian, orang yang menolak filsafat, maka orang tersebut menurut al-Kindi telah mengingkari kebenaran, menolaknya berarti ia "kafir" padahal kita harus menyambut kebenaran dari mana pun datangnya, sebab tiada yang lebih berharga bagi pencari kebenaran, kecuali kebenaran itu sendiri.

Adanya golongan menolak filsafat alas dasar tidak mau menerima ta'wil, padahal menurut al-Kindi, itu tidak boleh dijadikan alasan sebab, al-Qur'an adalah bahasa Arab dan bahasa Arab memilih 2 macam, pertama makna hakiki dan kedua adalah makna majazi, tame saja yang dapat mena’wilkan al-Qur'an hanya orang yang mendalam agamanya dan ahli fikir.

AI-Kindi juga mengacu pada al-Qur'an yang banyak menyuruh meneliti penomana yang banyak terjadi dalam alam, misalnya dalam (Qs. al­-Gasyiah ayat 17 sampai 20 (32): 4). Artinya: Maka apakah tidak memperhatikan bagaimana unta diciptakan, langit bagaimana ditinggikan, gunung-gunung bagaimana ditegakkan, bumi bagaimana, dihamparkan.[12] 

Dan firman Allah yang berbunyi dalani surah al-Araf. 185: Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman selain kepada .M Qur'an itu?[13]

Ayat itu menunjukkan, kepada kita, agar berfilsafat, mengamati fenomena alam, sehingga manusia semakin sadar terhadap kebenaran Tuhan. Namun demikian tidak bisa dipungkiri perbedaan di antara keduanya, sebagaimana dijelaskan al-Kindi dalam karyanya Kammiyah Kutub Aristoteles, sebagaimana. berikut:

FIISAFAT 

- Himaniora[14] yang dicapai oleh filsafat dengan berfikir, belajar. 
- Jawaban filsafat memerlukan pemikiran dan perenungan. 
- Menggunakan metode logika 
- Ilmu insaniyah 

AGAMA 

- Ilmu ketuhanan yang menempati tingkat tertinggi, karma di peroleh tanpa proses belajar, dan hanya diterima secara langsung para Rasul dalam bentuk wahyu. 
- Jawaban a1-Qur’an meyakinkan secara mutlak. 
- Pendekatan keyakinan.[15] 
- Ilmu Ilahiyah. 

Mencermati skema di atas, dapat disimpulkan bahwa al-Kindi menganut rasionalisme, tetapi tetap memposisikan agama sebagai kebenaran tertinggi. Kesesuaian antara filsafat dan agama di dasarkan pada tiga alasan, sebagai berikut.

Pertama : Ilmu agama merupakan bagian dari ilmu filsafat.

Kedua : Wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, dan kebenaran filsafat saing berkesesuaian.

Ketiga : Menurut ilmu secara logika diperintahkan dalam at-Qur’an.[16]

Atas dasar inilah Al-Kindi telah membuka pintu tentang penafsiran filosofis terhadap al-Qur’an, sehingga terjadi persesuaian antara agama dan filsafat.[17]


Filsafat ketuhanan


Bagi al-Kindi, Tuhan adalah wujud yang sempurna dan tidak didahului wujud yang lain. Hal ini ditegaskan dalam al-Qur'an dengan firman-Nya, Wujud-Nya tidak berakhir, sedangkan wujud yang lain disebabkan wujud-Nya. Tuhan adalah yang Maha Esa yang tidak dapat dibagi-bagi dan tidak ada zat yang menyamainya dalam segala aspek Ia tidak melahirkan dan tidak pula­ dilahirkan.[18]

Tuhan dalam filsafat al-Kindi, tidak mempunyai hakikat dalam arti ainiah (jus’I) atau mahiyah (universal). tidak ainiyah karma Tuhan tidak termasuk benda-benda yang ada dalam alam. Bahkan ia pencipta alam. Ia tidak tersusun dari materi dan bentuk. Juga Tuhan tidak mempunyai hakikat dalam bentuk mahiyah, karma Tuhan bukan merupakan jenis,[19] atau species[20] , Tuhan hanya satu dan tidak ada yang scraps dengannya.

Tuhan adalah unik, Ia adalah al-Haq al-Awwal ( )dan Ia semata-mata satu.[21] Lebih lanjut dikemukakan dalam bukunya "al-Sinaat al-Uzma, bahwa Allah Maha terpuji, Dia adalah penyebab bab gerak yang abadi (Qadim), maka ia tidak dapat dilihat dan tak bergerak penyebab gerak tanpa menggerakkan dirinya, inilah gambarannya bagi yang memahaminya Lewat kata-kata sederhana: Ia Tunggal sehingga tidak dapat dipecah-pecah, ia menjadi tunggal, dan ia tak terlihat, karma ia tak tersusun dan tak ada susunan baginya tetapi sesungguhnya ia terpisah dari segala yang dapat dilihat, karena, ia penyebab gerak segala yang dapat dilihat.[22]

Kelihatannya al-Kindi pengalih konsepsi hellenistis tentang Tuhan. Al-­Kindi membuat istilah-istilah baru: Tuhan Maha Besar, la Maha tinggi, ia bukan materi, tak berbentuk, tak berjumlah, tak berhubungan, juga tidak dapat disifati dengan ciri-ciri yang ada (al-ma’qulat). Ia abadi. oleh karena itu, Ia Maha Esa (al-Wahdah).[23]

Argumen-argumen al-Kindi tentang kemaujudan Tuhan betumpuh pada keyakinan sebab akibat, segala yang maujud pasti ada yang menyebabkan kemaujudannya, hanya rangkaian- sebab itu terbatas akibatnya, ada sebab pertama atau sebab sejati yaitu Tuhan.[24]

Dalil-dalil lain tentang adanya Tuhan adalah dunia mulanya tak maujud, oleh karenanya pasti butuh satu pencipta. segala ciptaan tak abadi, hanya Tuhanlah sendiri yang abadi. Hal ini menunjukkan bahwa segala hal itu berproses. Demikian pula dunia secara keseluruhan tak abadi karma mereka terbatas dan tercipta, segala yang terbatas dengan ruang dell waktu adalah tak abadi.[25]

Jadi, dunia (alam) ini baharu sebagaimana pendapat para mutakallimun, hanya saja perbedaannya adalah dari segi kandungan dalilnya. Oleh karena itu, timbal pertanyaan apakah mungkin sesuatu dalam kenyataan ini menjadi sebab bagi dirinya atau tidak,? Al-Kindi menjawab tentu tidak mungkin, karena sesuatu yang ada dalam alam ini sebab padanya. Olehnya itu, alam ini ada permasalahannya baik dari segi gerak maupun dari segi waktu. Pencipta itu tidaklah banyak melainkan Maha Fsa, tidak terbilang, Dialah yang langsung karena ia tidak berubah. Sesuatu yang berubah, ia tidak langgeng.[26]


Filsafat Jiwa/al-Nafs


Dalam. Islam, persoalan jiwa, (roh) pada dasarnya tidak dianggap satu persoalan yang perlu lagi dipersoalkan, karena ayat-ayat al-Qur'an dan hadis Nabi telah memberikan pernyataan bahwa persoalan roh adalah urusan Tuhan, bukan urusan manusia.[27]

Menurut al-Kindi, roh itu tidak tersusun, mempunyai arti panting, sempurna dan mulia. Substansi roh berasal dari subtansi Tuhan, Hubungan roh dan Tuhan sebagaimana dengan hubungan cahaya dan matahari.

Selain itu, jiwa bersifat spritual, ilahiyah, terpisah dan berbeda dengan Tuhan.[28] Tubuh mempunyai hawa nafsu, dan sifat pemarah sedangkan roh menentang hawa nafsu. Jadi menurut saga, bahwa roh adalah merupakan sosial kontrol terhadap tubuh. Tubuh akan binasa tanpa roh.

Dengan roh pulalah manusia memperoleh pengetahuan yang sebenarnya. Roh bersifat kekal dan tidak hancur, sebagaimana hancurnya badan kalau meninggal, karena substansinya berasal dari Tuhan. Merupakan cahaya yang dipancarkan oleh Tuhan.

Selama di dalam badan roh tidak memperoleh ketenangan yang sebenarnya dan pengetahuannya tidak sempurna. Hanya setelah bercerai dengan badan roh memperoleh kesenangan yang sebenarnya dalam bentuk pengetahuan yang sempurna. Setelah bercerai dengan badan roh pergi ke alam kebenaran ( ), alam akal ( ) di dalam lingkungan cahaya Tuhan, dekat dengan Tuhan dan dapat melihat Tuhan Di sinilah kesenangan abadi dari roh.[29]

Al-Kindi berpendapat bahwa jiwa mempunyai 3 daya, yakni:

1. Daya bernafsu 
2. Daya pemarah  
3. Daya berfikir [30]

Daya berfikir ini disebut dengan akal, bagi al-Kindi akal terbagi atas tiga bagian sebagai berikut:

a. Akal bersifat potensial 
b. Akal yang keluar dari akal yang potensial 
c. Akal yang telah mencapai tingkat kedua dari aktualitas

Akal yang bersifat potensial, tidak dapat keluar menjadi aktual jika tidak ada kekuatan yang menggerakkannya dari luar, olehnya itu al-Kindi menambah satu macam akal yang memiliki wujud di luar wujud manusia yang bernama akal yang selamanya dalam aktualitas yang membuat akal menjadi potensial dalam roh manusia menjadi aktuil.

Menurut dugaan saya, mungkin inilah yang disebut akal yang tak terbatas. Hal ini sejalan dengan pendapat Aristoteles yang membedakan menjadi dua macam akal yakni akal mungkin dan akal agen. Akal mungkin itulah yang menerima pikiran. Sedangkan akal agen menghasilkan obyek-­obyek pemikiran. Akal agen ini selalu aktual, dan selalu tersendiri, kekal dan tak rusak.[31]

Menurut syayyid Syarif akal itu ada disebut juga (intelak pertama), hakikat Muhammadiyah, nafs wahidah, hakikat asmaiyyah yang identik dengan eksistensi pertama yang diciptakan Allah yang, dinamakan (khalifah terbesar) atau inti cahaya, intinya merupakan wahana penampakan zat. Sedangkan cahayanya penammpakan pada umumnya. Yang intinya dinamakan (nafs wahidah) cahayanya dinamakan intelak pertama.[32]

Dan rupanya teori tentang nafs,/jiwa masih belum tuntas karena filosof di belakang al-Kindi masih mempersoalkan. Dan yang terpenting menurut al-­Kindi bagaimana menyempurnakan jiwa untuk memperoleh kebahagian tertinggi.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis dapat menarik suatu kesimp­ulan sebagai berikut:

1. Al-Kindi adalah seorang filosof muslim Yang pertama, (185 H.) yang meninggalkan 270 buah buku. Sekaligus dikenal sebagai filosof yang mengkompromikan Agama dan filsafat, Menurutnya bahwa Agama dan Filsafat tidaklah mungkin bertentangan, karena keduanya berasal dari. Allah. Al-Qur'an sudah jelas kebenarannya secara langsung sebagai wahyu melalui Rasul-rasulnya, dan filsafat adalah hash dari upaya penghinaan akal secara maksimal sebagai potensi yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Jadi, apa yang dihasilkan oleh filsafat adalah kebenaran yang tidak bertentangan dengan Agama, selain itu, Allah telah menganjurkan kepada manusia untuk selalu menggunakan akalnya dalam mengamati fenomena alam, karena seseorang yang mampu menggunakan akalnya, pasti akan menemukan kekuasaan Allah yang sangat besar melalui alam ini.

2. Dalam filsafat ketuhanan al-Kindi, dijelaskan bahwa Tuhan adalah wujud yang sempurna dan tidak didahului wujud apapun. Pada hakikatnya pandangan ini, dianut semua. para filosof muslim sebelum dan sesudahnya. Namun ada penjelasan al-Kindi yang menarik dalam menjelaskan tentang wujud Tuhan. Menurutnya, Tuhan tidak mempunyai hakikat dalam arti ainiah (jus,I) atau mahiyah (universal). Tuhan tidak ainiyah, karena Ia tidak termasuk bends yang tersusun, bahkan Ia penyebab adanya benda. Tuhan tidak mempunyai hakikat dalam bentuk mahiyah, karena Tuhan bukan jenis atau species. Tuhan hanya satu dan tidak ada yang serupa dengannya. Tuhan adalah al­-Haq al-Awwal ( ) dan Ia semata-mata satu.

3. filsafat jiwa pada dasarnya tidak terlalu jauh memberikan komentar, karena ia mengacu pada firman Allah yang mengatakan bahwa "roh adalah urusan Tuhan". Namun al-Kindi menjelaskan bahwa roh itu, sempurna dan mulia, karena rah adalah substansi Tuhan. Selanjutnya Al-Kindi menganalogikan hubungan Tuhan dengan roh dengan mengatakan bahwa Tuhan dengan roh adalah dengan hubungan matahari dengan cahayanya. Roh juga pada hakikatnya kekal dan tidak hancur, karena ia adalah cahaya yang dipancarkan oleh Allah.

Baca Juga: Biografi dan pemikiran Fakhruddin Al-Razi di Bidang Filsafat

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Mits'al al-Saidiy, Al-Mujaddiduna fi al-Islam min Qarni al-Awwal ila at-Rabiy at­`Asyar, Midan al-Awabiral al-Qahirah, 1996

Ahmad Daudi, Kuliah Ilmu Filsafat Islam, Cet. I Jakarta: Bulan Bintang, 1989

Departemen Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahnya, Semarang, PT. Kumudasmoro Grafindo Semarang, 1994

Imam al-Razi, Imam al-Rani, Ilmu Akhlaq diterjemahkan dengan judul Roh dan jiwa
Tinjauan Filosofis dan Persfektif Islam. Cet. I; Surabaya: Risalah Gusti, 2000

Madjid Fakhriy, Sejarah Filsafat Islam: Sebuah Petak Kronologis, cet, I; Bandung, Mizan, 2001

Muhammad Tacky Misbagh yazdi, Buku Daras Fffisqfat Islam, Cet. I; Bandung: Mizan, 2003 

M. M, Syarif, Para Filosof Muslim, Cet. XI; Bandung: Mizan, 1998

Muliyadi Kartanegara, Mozaik Khazanah Islam: Bunga Rampai Dari Cicago, Cet: I Jakarta: Para Madinah, 2000

Noercholis, Madjid, Khasanah Intelektual Islam, Cet. III; Jakarta: Bulan Bintang, 1994 

Nasution Harun, Filsafat dan Mistisme dalam Islam, Cet, X; Jakarta: Bulan Bintang, 1999
                           Falsafat Agama, Cet: 8, Jakarta: Bulan Bintang, 1991
                           Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, Cet.8, Jakarta: Bulan Bintang, 1992

Syekh Kamil Muhammad bin Muhammad 'lwaidah, al-Kindimin Falasafat al-Musyrik wa al-islam fi al-Usur al-Wustha, Baerut. Dar al-Kutub al-ilmiah, 1993

T. J. De Boer, The History of Philosophy, New York: Loser Publicatio, inc, T.


Catatan Kaki


[1] Madjid Fakhriy, Sejarah Filsofat Islam: Sebuah Petah Kronologis (cet. I; Bandung: Mizan, 2001), h. 25. 

[2] Muhammad Ali Abu Rayyan, Tarikh al-Fikr al-Falsafi fi al-Islam (Iskandariya: Dar al­Ma'rifat al-Jamiah, 1996), h. 316. 

[3] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam (Cet. 1; Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999), h. 18. 

[4] Abdul Mits'al al-Saidiy, At-Mujaddidunafi al-Islam min Qarni aI-Awwal ila al­-Rabiy al-Asyar (Midan al-Awabiral al-Qahirah, 1996), h. 107. 

[5] 1bid, h. 15. 
[6] Harun Nasutin, Filsafat dan Mistisme dalam Islam (Cet X; Jakarta. Bulan Bintang, 1999), h. 7 

[7] T. J. De Boer, The History of philosophy (New York: Doser Publicatio, ine, T.th), h. 97 

[8] Muliyadi Kartanegara, Mozaik Khazanah Islam: Bunga Rampai Dari Cieago (Cet. I Jakarta: Para Madinah, 2000), h. 28. 

[9] Ibid, h. 29. 

[10] Harun Nasution, op. cit., h. 8-9. Hasyimsyah Nasution, op. cit. h. 13. lihat juga Ahmad Daudi, Kuliah Ilmu FRsafat Islam (Cet. I Jakarta: Bulan Bintang, ig8g), h. 11. 

[11] Ibid, h. 16. 

[12] Departemen Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahnya (Semarang: PT. Kumudasmoro Grafindo Semarang,­ 1999), h. 1055 

[13] Ibid, h. 252. 

[14] Ilmu pengetahuan yang dianggap dapat membuat manusia menjadi lebih manusia (beradap). 

[15] Hasyimsyah Nasution, op. cit. h. 19. 
[16] M.M Syarif, Para Filosof Muslim (Cet. XI; Bandung: Mizan, 1998, h.17 

[17] Ibid, h, 20. 
[18] Hasyimsyah, loc. cit. 

[19] Adalah jenis, kelas dan golongan. 

[20] Adalah tanaman, hewan, dan kategori penggolongan dalam biologi. 
[21] Ibid. 

[22] M. M. Syarif. Op.cit. h. 21. 
[23] Ibid. 

[24] 1bid h. 22 
[25] Ibid, h. 23. 

[26] Noercholis Masjid, Khosanah Intelektual Islam (Cet. III; Jakarta: Bulan Bintang, 1994), h. 92. 

[27] Harun Nasution, Filsafat dan Mistisme dalam Islam op. cit. h. 10. 
[28] Hasyimsyah, op. cit. h. 22.. 

[29] Harun Nasution, Mistisme dalam Islam, op. cit. h. 11. 

[30] Syekh Kamil Muhammad bin Muhammad 'Iwaidah, al-Kindimin Falasafat al­-Masyrik wa al-islam al-Usur al- Wustha (Baerut: Dar al-Kutub al-ilmiah, 1993), 49. 

[31] M. M. Syarif, op. cit. h. 26. 

[32] Imam al-Razi, Imam al-Razi, Ilmu Akhlaq diterjemahkan dengan judul Roh dan jiwa Tinjauan Filosofis dan Persfektif Islam. (Cet. 1; Surabaya: Risalah Gusti, 2000), h. 76.



0 Response to "Biografi dan Pemikiran Al-Kindi di Bidang Filsafat dan Agama"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!