Pendidik dan Pembentukan Kesalehan Peserta Didik dalam Islam

Advertisement
Pendidik dan Mendidik Kesalehan Menurut al-Qur'an

Pendidik atau guru adalah profesi orang-orang yang beruntung, sebuah pekerjaan yang amat mulia. Bahkan dapat dikatakan keberhasilan suatu bangsa sangat ditentukan dengan kualitas seorang pendidik di tiap satuan pendidikan. Statmen ini tentunya didasari dari beberapa alasan.

Pertama, karena mendidik adalah salah satu profesi Allah swt. selain sebagai pencipta dan pemilik segalanya, ternyata Allah juga memiliki nama Robbun. Kata robbun berasal dari kata rabba-yurobbi-tarbiyatan. Artinya mengatur dan juga mendidik. Sehingga robbun yang kita sebut, memiliki makna yang erat kaitannya dengan mendidik atau pendidikan. 

Pengertian ini menunjukkan bahwa Allah adalah Zat tunggal yang mendidik seluruh alam. Untuk itu, kata robbul alamin, selain bermaksud sebagai tuhan seluruh alam, juga pengatur dan pendidik dari semua alam. Manusia sebagai khalifah Allah juga memiliki tugas robbun itu, mendidik agar segala sesuatunya bisa teratur sesuai kemashlahatan yang diinginkan Allah swt.

Kedua, beruntungnya pendidik, selain karena itu adalah profesi Allah, ternyata juga profesi Rasulullah saw. Rasulullah saw bersabda:

قَالَ : خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ مِنْ بَعْضِ حُجَرِهِ ، فَدَخَلَ الْمَسْجِدَ ، فَإِذَا هُوَ بِحَلْقَتَيْنِ ، إِحْدَاهُمَا يَقْرَؤُونَ الْقُرْآنَ ، وَيَدْعُونَ اللَّهَ ، وَالأُخْرَى يَتَعَلَّمُونَ وَيُعَلِّمُونَ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ : كُلٌّ عَلَى خَيْرٍ ، هَؤُلاَءِ يَقْرَؤُونَ الْقُرْآنَ ، وَيَدْعُونَ اللَّهَ ، فَإِنْ شَاءَ أَعْطَاهُمْ ، وَإِنْ شَاءَ مَنَعَهُمْ ، وَهَؤُلاَءِ يَتَعَلَّمُونَ وَيُعَلِّمُونَ ، وَإِنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّمًا , فَجَلَسَ مَعَهُمْ.

Hadis ini menunjukkan betapa mulianya orang-orang yang berprofesi sebagai pendidik di mata Rasulullah. Sehingga sebagaimana yang tertera dalam hadis, Rasulullah justru memilih bersama majelis ilmu. Sebab rahmatan lil alaminnya Rasul karena beliau adalah utusan yang memperbaiki akhlak, dan itu adalah tugas dari seorang pendidik.

Membentuk Peserta Didik yang Shaleh
Prosesi Belajar / Ibtimes.co.uk

Ketiga, dua profesi yang dijalankan Allah dan Rasul tentunya menempatkan profesi pendidik ini sebagai profesi yang diganjar pahala yang sangat banyak. Bahkan tidak berlebihkan jika pendidik adalah orang-orang yang paling kaya dunia dan akhirat. Sebab dengan ilmu yang mereka punya, maka mereka punya investasi amal yang akan terus mengalirkan pahala meskipun mereka telah meninggal. Dikatakan dalam sebuah hadis.

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Berdasarkan hadis ini, maka pendidik, selain menjadikan ilmunya sebagai amal jariyah juga memberikan keuntungan kepada orang tua anak didik sebab telah menjadikan anak tersebut sebagai amal jariyah, jika anak tersebut berhasil dididik menjadi anak shaleh.

Teristimewa buat ilmu ini, bahwa setiap ilmu yang diamalkan, maka setiap itu pula orang yang mengajarkan ilmu tersebut akan mendapatkan pahala:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Semua ini menunjukkan betapa beruntungnya ibu-ibu sebagai para pendidik, orang-orang yang pada hakikatnya adalah orang yang terkaya di dunia ini, karena telah mengambil profesi yang juga dijalankan oleh Allah dan Rasulullah.

Baca Juga: Dasar dan Tujuan Pendidikan dalam Islam

Apa yang harus dididikkan

Pentingnya posisi pendidik sehingga, seorang pendidik pada kenyataannya telah menempatkan diri mereka pada dua keadaan, keadaan mulia dan keadaan riskan. Sebab para pendidik telah diberikan amanah Allah untuk mendidik generasi-generasi hamba Allah yang ketika itu masih menjadi “bahan mentah”, belum diisi apa-apa. Yaitu masih dalam keadaan fitrah. 

Mereka memiliki tugas orang tua untuk mengarahkan anak-anak tersebut. sehingga kemuliaan pendidik ditentukan dari seberapa berhasil mereka mengarahkan anak didik tersebut kepada fitrah keislamannya; ketika itu mereka menjadi orang yang mulia. Tapi ketika anak didik tersebut justru menjauh dari fitrah keislamannya, maka di sinilah titik riskan seorang pengajar. Rasulullah telah memberikan informasi:

كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه

Berdasarkan hadis ini, diketahui bahwa semua anak, awal lahirnya terlahir dengan fitrah keislamannya, atau penghambaannya kepada Allah sebagaimana janji kita ketika di alam sebelum alam rahim. Namun ketika terlahir itulah, orang tua dan para pendidik lah yang mengarahkan mereka kepada keislaman, atau malah nasrani, yahudi dan majusi.

Lalu nilai apa yang menjadi tolak ukur pendidik berhasil mendidik dan mengarahkan kepada menjadi hamba Allah yang baik. Nilai itu adalah nilai kesalehan, sesuai doa nabi Ibrahim:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Dalam ayat ini, sangat jelas, nabi Ibrahim meminta keturunan, tidak dari kalangan berduit, tidak dari seseorang yang akan menjadi raja, tetapi menjadi orang-orang yang shaleh.

Kenapa Peserta Didik Harus Shaleh ?

Tentu pertanyaan mendasar, kenapa bukan meminta anak yang akan menjadi kaya? Yang akan menjadi raja, atau anak pintar dan penguasa? Salah satu alasan mendasarnya adalah karena Allah tidak pernah menjamin orang kaya, tidak pula raja, tidak pula penguasa, tetapi justru Allah menjamin orang-orang shaleh. Di dalam al-Qur’an, Allah berfirman:

إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ

Ayat ini dengan terang menyatakan bagaimana Allah menetapkan dirinya sebagai wali bagi orang-orang yang shaleh, yang akan menjamin mereka. Terkait hal ini, terdapat sebuah cerita yang cukup menarik, bahwa suatu ketika khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz menginfakkan hampir seluruh hartanya. Melihat hal itu, penasehat Umar mengatakan, alangkah baiknya jika ada harta yang kau sisakan buat anak-anakmu wahai khalifah. Mendengar itu, Umar langsung menjawab, “wahai penasehatku, anak-anak ku ke depannya hanya akan menjadi dua, klo tidak shalih, maka akan menjadi mujrim. Kalo mereka ternyata menjadi orang-orang mujrim, maka sebanyak apapun harta yang saya wariskan, tidak akan ada gunanya, sebab Allah dengan jelas menyatakan:

قَالَ رَبِّ بِمَا أَنْعَمْتَ عَلَيَّ فَلَنْ أَكُونَ ظَهِيرًا لِلْمُجْرِمِينَ

Tetapi jika anak-anak saya ke depannya shaleh, maka Allah sendiri yang akan menjaminnya.

Penjaminan Allah yang pasti terhadap orang-orang shaleh adalah surga. Allah swt berfirman:

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

Dalam beberapa tafsir, dikatakan bahwa kata al-ardh di situ menunjukkan surga yang disediakan Allah. Dengan begitu makna yang juga bisa ditangkap adalah penduduk surga salah satu syaratnya adalah memiliki sifat shaleh.

Untuk itu, harusnya kita sadar bahwa semua muslim yang setidaknya shalat juga meminta kepada Allah keshalehan ini.

Sebaliknya, orang-orang yang tidak shaleh, sekaya apapun, seperti qorun, secerdas apapun seperti haman, seberkuasa apapun seperti fir’aun tetap akan hancur dan binasa.

Lalu Apa Makna keshalehan?

وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ كُلًّا هَدَيْنَا وَنُوحًا هَدَيْنَا مِنْ قَبْلُ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِ دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَى وَهَارُونَ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (84) وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَى وَعِيسَى وَإِلْيَاسَ كُلٌّ مِنَ الصَّالِحِينَ (85) وَإِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَيُونُسَ وَلُوطًا وَكُلًّا فَضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ

Maka contoh yang pasti tentang bagaimana itu shaleh adalah melihat para Nabi. Kita ambil salah satu contonhya saja adalah nabi Ismail dikatakan:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا (54) وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا

Pertama, shadiqal wa’di wa kana rasulan nabiya: orang yang shaleh itu ternyata adalah orang yang menegakkan kebenaran dengan nilai kejujuran. Di dunia luar, salah satu nilai yang paling mahal adalah nilai kejujuran ini. Tidak hanya kejujuran perkataan tapi ketersesuaian antara lidah hati dan laku perbuatan. Kejujuran atas keimanan, juga atas nilai-nilai ilahiyah yang dipedomani. Hingga dalam satu kalimat hikmah di katakan, kedamaian itu Cuma butuh satu nilai, yaitu nilai kejujuran. Rasulan dan nabiya: orang yang peduli dan mengindahkan ajaran agama, ajaran-ajaran kebaikan, sebab di dunia ini sudah banyak orang yang tau kebaikan tapi peduli terhadap kebaikan itu masih jarang.

Kedua ya’muru ahlahu bi as-shalah: orang shaleh adalah orang yang menegakkan ibadah kepada Allah juga menjadi teladan agar bisa menyuruh orang-orang untuk juga menegakkan shalat,
Ketiga, kana inda rabihi mardhiyyah. Orang-orang yang diridhai Allah karena hidupnya selalu berada di koridor isilam, wa radhitu lakum al-Islama dina

Baca Juga: Potret Pendidikan Rasulullah hingga Masa Dinasti Abbasiyah

Cara Menanamkan Kesalehan pada Peserta Didik

Dengan begitu maka sudah menjadi misi utama seorang pendidik untuk menanamkan kashalehan pada orang yang dididik. Cara menanamkan tersebut, bisa didapatkan dari contoh remaja, yang di dalam al-Qur’an sendiri telah berhasil mendapatkan derajat shaleh, seperti nabi Yahya. Di dalam al-Qur’an difirmankan

خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا

Pertama, ternyata yang kita ajarakan kepada anak didik kita adalah tentang agama ini. Nilai-nilai kehidupan yang terdapat dalam agama. sebagaimana Nabi yahya diajarkan kitab dan hikmah semenjak kecil. Artinya pribadinya yang diajarkan terlebih dahulu.

Mengajarkan tentang rumus-rumus pada dasarnya adalah perkara mudah. Tapi menanamkan prinsip-prinsip agama di mana dengan itu, mereka akan melalui kehidupan itulah yang susah

وَحَنَانًا مِنْ لَدُنَّا وَزَكَاةً وَكَانَ تَقِيًّا

Yang kedua, adalah pengajarannya dengan kasih sayang. Anak-anak harus diliputi kasih sayang, tidak boleh diajarkan secara bengis. Sebab dengan kasih sayang tersebut mereka bisa menyerap segala pengajaran tidak dengan jiwa yang tertekan. Bukan berarti anak tersebut dimanja. Kasih sayang tersebut juga dibarengi dengan sifat tegas, sabar dan mau mengayomi anak tersebut tujuannya agar menjadi orang yang bertaqwa.

وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ

Ketiga Dididik untuk patuh terhadap orang tua. Kepatuhan ini meliputi kepatuhan menghargai, menaati membenarkan secara baik jika orang tua dalam kesalahan dan peduli. Hal ini diajarkan karena ketika anak sudah bisa berbakti kpada orang tua, maka anak tersebut akan mudah menghargai orang lain. menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda.

لَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا

Keempat mendidik agar jangan sekali-kali menjadi anak yang sombong dan durhaka. Sebab kesombongan adalah dosa tertua manusia, sifat sombong, adalah sifat yang bisa menutupi hati dari menerima kebenaran. Dengan sombong tersebut anak mudah ingkar sebab hatinya telah bebal.

Jika ke empat poin ini dilakukan dengan penuh sungguh-sungguh, bersabar serta berharap penuh kepada Allah, maka pendidik tentunya akan melahirkan Yahya-Yahya di zaman sekarang, seorang anak yang dijamin oleh Allah selamat di waktu ia lahir dan di waktu ia telah kembali kepada Allah.

سَلَامٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا


0 Response to "Pendidik dan Pembentukan Kesalehan Peserta Didik dalam Islam"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!