Aqsam (sumpah) dalam Al-Qur'an

Advertisement
Aqsam (sumpah) dalam Al-Qur'an - Kesediaan jiwa pribadi bagi setiap individu dalam menerima untuk membenarkan sesuatu, dan patuh menuruti perintah Allah swt adalah berbeda-beda. Jiwa yang bersih yang fitrahnya tidak ternoda oleh kejahatan, maka hati orang ini lebih terbuka untuk menerima petunjuk Allah swt. Adapun jiwa yang diselubungi oleh awan kejahilan serta ditutupi oleh kegelapan bathil, maka hati orang seperti ini tidak akan tergugah hatinya dalam menerima kebenaran agama kecuali dipaksakan sampai timbul kegoncangan.[1] Dalam arti dengan pukulan peringatan dan bentuk kalimat yang kuat dan kokoh, sehingga dengan demikian barulah tergoyahkan keingkarannya tersebut. Qasam (sumpah) sebagai pengukuhan kalimat yang diselingi dengan bukti konkrit dan dapat menyeret lawan untuk mengakui apa yang diingkarinya.[2] Dan hal tersebut merupakan salah satu cara yang ampuh untuk menyadarkan mereka. 

Sebagaimana kita ketahui bahwa sudah menjadi kebiasaan manusia dalam semua masa atau waktu jika berbicara, berjanji dan bersemboyang. Mereka selalu ingin memperkuatnya dengan berbagai cara, diantaranya adalah dengan sumpah. Dengan sumpah, pendengar akan yakin dan mantap dalam menerima dan mempercayai ucapan yang didengarnya. Sebab, pembicaraan yang diperkuat dengan itu, berarti sudah dipersaksikan di hadapan Tuhan.

Sumpah yang ada dalam al-Quran cukup meliputi berbagai hal di alam jagad raya ini. Tampil sebagai persoalan yang tidak semata-mata benar, akan tetapi juga merupakan berita besar yang harus dipercayai. Karena akan mendatangkan kemaslahatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Olehnya itu, para ulama sepakat bahwa sumpah sang khaliq dengan suatu makhluknya antara lain dimaksudkan untuk mengagungkan tema sumpah tersebut, termasuk sebagai kesiapan jiwa dalam menerima kebenaran dan tunduk terhadap cahaya-Nya.[3]

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka pada tulisan ini setidaknya akan dipaparkan mengenai hal-hal berikut: pengertian Aqsam al-Quran, Unsur-unsur Aqsam al-Quran, Macam-macam Aqsam al-Quran, faedah atau manfaat Aqsam dalam al-Quran? 

Daftar Ayat-ayat Aqsam (sumpah) dalam Al-Qur'an


Pengertian Aqsam al- Qur’an
Secara etimologi aqsam adalah bentuk jamak dari qasam yang berarti al-hilf dan al-yamin, yakni sumpah. Sighat (akar kata) asli qasam adalah fi’il atau kata kerja yaitu ”aqsama” atau ”ahlafa”, yang dita’addikan (transitifkan) dengan ”ba” untuk sampai kepada muqsam bihi (sesuatu yang digunakan untuk bersumpah). Kemudian barulah disebut muqsam ‘alaihi (sesuatu yang karena sumpah diucapkan), yang dinamakan jawab qasam.[4] Sebagaimana firman Allah swt QS. An-Nahl, 16: 38: 

وَأَقْسَمُواْ بِاللّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لاَ يَبْعَثُ اللّهُ مَن يَمُوتُ بَلَى وَعْداً عَلَيْهِ حَقّاً وَلـكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ ﴿٣٨

Artinya: Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: "Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati". (Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitkannya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.[5]

Dalam buku Mabahis fi Ululmi al-Quran juga dikemukakan bahwa aqsam yang bentuk jamak dari qasam ini juga berarti al-hilf dan al-yamin artinya sumpah. Sumpah dinamakan dengan yamin karena orang Arab ketika sedang bersumpah memegang tangan kanan sahabatnya.[6] Dan kata yamin artinya kanan atau lawan kiri, sumpah dinamai dengan kata ini karena jika orang-orang dahulu saling bersumpah satu sama lain adalah sering memegang tangan kanan temannya. Dan juga karena dapat memelihara sesuatu, seperti halnya tangan kanan memelihara.[7] Lebih jauh, sebagian besar ayat Al-Quran yang memuat Qasam adalah ayat-ayat makkiyyah (diturunkan selama periode Mekkah dalam kehidupan dakwah Nabi Suci Saw.), ini disebabkan kenyataan terdapatnya aktivitas penentangan dari masyarakat Mekah terhadap orisinalitas dan kebenaran Islam. Maka adalah kewajaran adanya jika Al-Quran memuat begitu banyak sumpah dalam dirinya, selain untuk menarik perhatian linguistik masyarakat Arab, qasam juga dimaksudkan sebagai indikasi tantangan intelektual bagi segala upaya penentangan terhadap kebenaran al-Qur’an.

Pengertian qasam secara terminologi adalah mengikat jiwa (hati) agar tidak melakukan atau melakukan sesuatu, dengan suatu makna yang dipandang besar, baik secara hakiki maupun secara i’tiqadi, oleh orang yang bersumpah itu.[8]

Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin menyatakan bahwa qasam (sumpah) adalah memperkuat maksud dengan disertai menyebutkan sesuatu yang memiliki kedudukan lebih tinggi dengan mengfungsikan huruf waw ( و ) atau alatnya yang lain seperti ba ( ب ) dan ta ( ت ).[9] Di samping itu qasam (sumpah) menurut ulama nahwu ibnu al-Qayyim adalah kalimat yang karenanya ditegaskan suatu berita.[10] Sebagaimana firman Allah swt dalam QS. Al-Munafiqun (63) ayat 1 : 

إِذَا جَاءكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ ﴿١  

Artinya : Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: "Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah". Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.[11]

Sebagai sumpah walaupun di dalamnya hanya berita, akan tetapi adanya penegasan terhadap berita tersebut, maka dinamakanlah sumpah.[12]

Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa aqsam al-Qur’an adalah sumpah-sumpah yang dinyatakan oleh Allah dalam al-Qur’an, baik yang diperbuat atau tidak diperbuat terhadap sesuatu perbuatan yang diperkuat dengan kata-kata sumpah sesuai dengan ketentuan syara’.
B. Unsur-unsur Aqsam al-Qur’an

Unsur-unsur aqsam yaitu sebagai berikut:

1. أدوات القسم, yakni sesuatu atau alat yang digunakan dalam sighat sumpah yang berupa huruf الو او – البء - التء, yang berfungsi sebagai huruf jar dan berarti “ demi”, maupun lafaz yang menunjukkan sumpah. Dan karena qasam ini sering digunakan dalam percakapan, maka ia diringkas yakni fiil qasam dihilangkan dan dicukupkan dengan huruf “ب ”, contohnya firman Allah swt dalam QS. Al-Nur (24); 53: 

وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِنْ أَمَرْتَهُمْ لَيَخْرُجُنَّ قُل لَّا تُقْسِمُوا طَاعَةٌ مَّعْرُوفَةٌ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴿٥٣ 

Artinya :  Dan mereka bersumpah dengan nama Allah sekuat-kuat sumpah, jika kamu suruh mereka berperang, pastilah mereka akan pergi. Katakanlah: "Janganlah kamu bersumpah, (karena ketaatan yang diminta ialah) ketaatan yang sudah dikenal. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.[13]

Kemudian huruf “( ب ) pun diganti dengan “( و) pada isim zahir, seperti: 

وَأَقْسَمُواْ بِاللّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ 

“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang).”

Dan diganti dengan “( ت)” pada lafz jalalah, seperti firman Allah swt dalam QS al-Anbiya’(21); 57: 

وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُم بَعْدَ أَن تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ ﴿٥٧ 

Artinya :  “Demi Allah sesungghunya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu.”[14]

Namun qasam dengan “terdiri atas” ini jarang dipergunakan, sedangkan yang banyak adalah”و ”.[15]

2. المقسم بهatau penguat sumpah adalah sumpah yang harus diperkuat sesuatu yang diagungkan oleh yang bersumpah.[16] Jika diamati secara mendalam dari sekian literatur umumnya menggambarkan bahwa dalam al-Quran Allah bersumpah dengan menggunakan dua macam المقسم به , yakni:

a. Allah bersumpah dengan zatnya yang kudus dan mempunyai sifat-sifat khusus, atau dengan ayat-ayatnya memantapkan eksistensi dan sifat-sifatnya

Adapun Allah bersumpah dengan zat-Nya sendiri dalam al-Quran ini terdapat pada tujuh tempat, yaitu:

1. QS. Al-Thagabun (64); 7:

2. QS. Al-Saba (34): 3:

3. QS. Yunus (10): 53:

4. QS. Maryam (19): 68:

5. QS. Al-Hijr (15): 92;

6. QS. Al-Nisa (4): 65:

7. QS. Al-Maarij (70): 40:

Dalam ketiga ayat pertama di atas, Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw agar bersumpah dengan zatnya.

b. Allah bersumpah dengan sebagian makhluknya, untuk menunjukkan penciptaan-Nya, dan juga merupakan isyarat kepada keutaman dan kemanfaatan makhluk tersebut, agar dijadikan pelajaran bagi manusia.[17]

Dan diantara contoh pada bagian ini adalah dalam QS. Al-Lail (92): 1: 

وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى ﴿١ 

Artinya :  “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)”.[18]

Dan juga dalam QS. At-Tin (95): 1: 

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ ﴿١ 

Artinya :  “Demi (buah) Tin dan (buah) zaitun”.[19]

Allah bersumpah dengan apa yang Dia kehendaki, namun bagi seorang hamba (makhluk) tidak boleh bersumpah kecuali dengan nama Allah. Karena apabila bersumpah dengan selian Allah, maka dia termasuk kepada golongan syirik.[20] Ini sesuai dengan hadis Rasulullah saw yang artinya:

“Ibnu Umar ra. Mendengar orang bersumpah : tidak, demi ka’bah, Ibnu Umar memperigatkannya: jangan bersumpah dengan nama selain nama Allah, karena saya mendegar Rasulullah saw. Bersabda; siapa yang bersumpah dengan nama selain Allah, maka telah kafir atau musyrik.” (At-Turmudzy).[21]

3. المقسم عليهadalah suatu ucapan yang ingin supaya diterima/dipercaya orang yang mendengar lalu diperkuat dengan sumpah tersebut. dan juga dikatakan مقسم عليه ini adalah hal-hal yang karenanya patut diadakan Qasam atau sumpah saperti urusan yang jauh dan tersembunyi apabila kita bermaksud menetapkan adanya.[22]

Disamping itu karena tujuan qasam adalah untuk mengukuhkan dan mewujudkan, maka muqsam alaih haruslah berupa hal-hal yang layak didatangkan qasam baginya, seperti yang gaib dan tersembunyi. Dan jika qasam itu dimasukkan maka berfungsi untuk menetapkan eksistensinya[23], seperti dalam Q.S. al-Qiyamah (75): 1-2. 

لَا أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ ﴿١﴾ وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ ﴿٢ 

Artinya : “Aku tidak bersumpah dengan hari kiamat dan aku tidak bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali dirinya.”[24]

Sumpah tersebut mencakup penetapan adanya balasan dari yang berhak mendapatkan balasan, penekanan yang sungguh-sungguh kepada keburukan jiwa untuk mengetahui dan menyakininya.[25] Dan perlu diketahui bahwa kadang-kadang jawab qasam disebutkan (ini yang biasa) dan terkadang juga dihilangkan, seperti halnya jawab “لو” (jika) sering dibuang, contoh dalam Q.S. At-Takatsur (102): 5 
كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ ﴿٥ 

Artinya :  “Jangan begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin.”[26]

contoh yang dibuang ini merupakan salah satu uslub yang paling baik, karena menunjukkan kebesaran dan keagungan. Jadi dapat dipahami bahwa seandainya kamu mengetahui apa yang akan kamu hadapi secara yakin, tentulah kamu akan melakukan kebaikan yang tak terlukiskan banyakanya.[27] Sedangkan jawab qasam yang dibuang, seperti dalam Q.S. Al-Fajr (89): 1-5 

وَالْفَجْرِ ﴿١﴾ وَلَيَالٍ عَشْرٍ ﴿٢﴾ وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ ﴿٣﴾ وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ ﴿٤﴾ هَلْ فِي ذَلِكَ قَسَمٌ لِّذيِ حِجْرٍ ﴿٥

Artinya :  “Demi Fajar, dan malam yang sepuluh, dan yang genap dan yang ganjil, dan malam bila berlalu, pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal”.[28]

Dan yang dimaksud dengan qasam (sumpah) disini adalah masa yang mengandung perbuatan atau amal-amal seperti ini pantas untuk dikajikan oleh Allah sebagai muqsam bih, olehnya itu ia tidak memerlukan jawaban lagi.

Ada juga yang menyatakan bahwa terkadang dibunag atau dihilangkan karena sudah ditujuhkan oleh perkatan yang disebutkan sesudahnya. Seperti dalam Q.S. al-Qiyamah (75): 3 

أَيَحْسَبُ الْإِنسَانُ أَلَّن نَجْمَعَ عِظَامَهُ ﴿٣  

Artinya :  “Apakah manusia mengira, bahwa kami tak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya.”[29]

Jadi takdirnya di sini adalah sungguh kami akan membangkitkannya dan akan mengadilinya.[30]

Muqsam ‘Alaih dalam al-Qur’an terdiri dari hal-hal sebagai berikut:

1. Pokok-pokok keimanan dan ketauhidan seperti dalam Q.S. ash-Shaffat (37) : 1-4:

وَالصَّافَّاتِ صَفّاً ﴿١﴾ فَالزَّاجِرَاتِ زَجْراً ﴿٢﴾ فَالتَّالِيَاتِ ذِكْراً ﴿٣﴾ إِنَّ إِلَهَكُمْ لَوَاحِدٌ ﴿٤ 

Artinya :  “Demi (rombongan) yang bershaf-shaf dengan sebenar-benarnya dan demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar-benarnya (dari perbuatan-perbuatan maksiat), dan demi (rombongan) yang yang membacakan pelajaran, sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Esa.”[31]

2. Penegasan bahwa al-Quran itu adalah benar-benar mulia, seperti dalam QS. Al-Waqiah (56) : 75-76 

فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ ﴿٧٥﴾ وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَّوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ ﴿٧٦ 

Artinya :  “Maka aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar, kalau kamu mengetahui. [32]

3. Keterangan bahwa Rasulullah saw adalah benar-benar utusan Allah swt, seperti penjelasan dalam Q.S. Yaasin (36) : 1-3 

يس ﴿١﴾ وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ ﴿٢﴾ إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ ﴿٣ 

Artinya :  “Yaasin. demi al-Quran yang penuh hikmah, sesungguhnya kamu salah seorang dari Rasul-rasul.”[33]

4. Penjelasan tentang balasan, janji dan ancaman yang benar-benar akan terlaksana, seperti dalam Q.S. Adz. Zariyat. (51) : 1-6.

وَالذَّارِيَاتِ ذَرْواً ﴿١﴾ فَالْحَامِلَاتِ وِقْراً ﴿٢﴾ فَالْجَارِيَاتِ يُسْراً﴿٣﴾ فَالْمُقَسِّمَاتِ أَمْراً ﴿٤﴾ إِنَّمَا تُوعَدُونَ لَصَادِقٌ ﴿٥﴾ وَإِنَّ الدِّينَ لَوَاقِعٌ ﴿٦ 

Artinya :  “Demi (angin) yang menerbangkan debu dengan sekuat-kuatnya, dan awan yang mengandung hujan dan kapal-kapal yang berlayar dengan mudah, dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi urusan, sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar, dan sesungguhnya (hari) pembalasan pasti terjadi.”[34]

5. Keterangan tentang ikhwal manusia, seperti dalam Q.S. Al-Lail (92) : 1-4.

وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى ﴿١﴾ وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى ﴿٢﴾ وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالْأُنثَى ﴿٣﴾ إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّى ﴿٤

Artinya : “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang). Dan siang apabila terang benderang dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.”[35]
Macam-macam Qasam al-Qur’an
1. Ditinjau dari segi tujuan seseorang melakukan sumpah, para ulama membagi sumpah kepada tiga bagian, yaitu:[36]

a. Yamin al-Laghwi

Yamin al-Laghwi adalah suatu sumpah yang menggunakan nama Allah dalam sumpahnya, tetepi tidak dimaksudkan atau diniatkan untuk bersumpah, seperti seseorang mengucapkan “Demi Allah, aku akan benar-benar akan pergi hari ini”. Orang yang mengucapkan perkataan itu tidak bermaksud untuk bersumpah, tetapi semata-mata agar orang yang mendengar ucapannya itu menjadi komitmen kepadannya.

b. Yamin al-Mun’aqidah

Yamin al-Mun’aqidah adalah sumpah dengan menyebut nama Allah dalam sumpahnya dan diucapkan dengan maksud untuk bersumpah, sesuai dengan ketentuan syara’, misalnya, ucapan seseorang “ Demi Allah, Aku benar-benar akan menepati janji yang telah aku ikrarkan kepadamu”. Sumpah semacam ini, dihukum sumpah bila diniatkan untuk bersumpah, dan jika ia melanggarnya, wajib membayar kaffarat.

c. Yamin al-Gumus

Yamin al-Gumus adalah sumpah palsu, sumpah ,yang berisi kedustaan, kepalsuan, untuk mengharamkan yang halal dan meghalalkan yang haram, bukan sumpah untuk menegakkan kebenaran, keadilan, serta menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram. Secara faktual, orang yang mengucapkan sumpah itu adlah orang-orang yang tidak dapat dipercaya, suka mengambil hak orang lain, selalu mengeksploitasi untuk dirinya sendiri atau golongan.

2. Pembagian sumpah, apabila ditinjau dari segi sifatnya, para ulama membaginya ke dalam dua hal:[37]

a. Sumpah yang bersifat konkrit (zahir), yaitu apabila lafal sumpah berasal dari ism zahir.

b. Sumpah yag bersifat abstrak, yaitu sumpah yang dipahami dari segi makna. Sumpah ini terbagi dua:

1) Sumpah yang mempergunakan lam al-qasam

2) Sumpah yang dipahami dari segi makna kalimat.

3. Sumpah ditinjau dari segi karakteristiknya, dibagi dalam tiga bagian:[38]

a. Karena zatnya (bi zatihi), misalnya, QS al-Tin, 95:1

b. Karena prosesnya (fi’lihi)

4. Pembagian sumpah, apabila dilihat dari segi fi’ilnya, qasam dalam al-Qur’an ada dua macam, yaitu

a. Qasam dhahir (nampak/jelas), yaitu qasam yang fi’il qasamnya disebutkanbersama dengan muqasam bihnya. Seperti ayat berikut:

( النحل: ٣٨ ) …. وَأَقْسَمُواْ بِاللّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لاَ يَبْعَثُ اللّهُ مَن يَمُوتُ 

Artinya : “Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: ‘Allah tidak akan akan membangkitkan orang yang mati’.”

Dan diantaranya ada yang dihilangkan fi’il qasamnya, dan dicukupkan dengan huruf “ba’”, “wawu”, dan “ta’”. Seperti:

( الضحى : ١-٢­ ). وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى وَالضُّحَى 

Artinya:  “Demi waktu matahari sepenggalahan naik. Dan demi malam apabila telah sunyi (gelap).”

b. Qasam Mudhma.r (tersimpan/samar) yaitu qasam yang didalamnya tidak dijelaskan/disebutkan fi’il qasam dan muqassam bihnya. Tetapi yang menunjukkan bahwa kalimat tersebut adalah qasam adalah kata-kata setelahnya yang diberi lam taukid yang masuk kedalam jawab qasamnya. Seperti:

( آل عمران : ١٨٦ ) …لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ 

Artinya: “Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu.”
Faedah Qasam Dalam Al-Qur’an
Qasam merupakan salah satu penguat perkataan yang masyhur untuk memantapkan dan memperkuat kebenaran sesuatu di dalam jiwa. Dalam penurunan al-Qur’an ada yang meragukan, ada yang mengingkari dan ada pula yang memusuhi. Karena itu dipakailah qasam dalam Kalamullah, guna menghilangkan keraguan dan kesalahpahaman, membangun argumentasi, menguatkan khabar dan menetapkan hukum dengan cara paling sempurna.

Menuruta al-Imam Abu Qasim al-Qusyairi, bahwa Allah menetapkan sumpah dalam al-Qur’an dengan maksud untuk menyempurnakan sekaligus untuk memperkuat hujjah-Nya. Dengan demikian hukum diparkuat dari dua hal, yaitu melalui saksi dan sumpah.[39]

Menurut Subkhi saleh, surah-surah al-Qur’an yang dimulai dengan sumpah-sumpah Allah dengan alat sumpah yang digunakannya, diantaranya: malaikat, matahari, bintang, dan sebagainya, pada hakekatnya adalah di samping mengandung nilai sastra yang sangat tinggi, juga untuk menggugah para pendengarnya, terutama yang kelihatan ragu, apalagi ingkar, agar ia mau kembali memperhatikan berita yang datang sesudah kata sumpah itu.[40]

Di samping itu, Ada beberapa urgensi atau faedah atau hikmah lain dikemukakannya aqsam dalam Al-Quran. Beberapa urgensi tersebut adalah:

1. Untuk memperkuat pembicaraan agar dipercaya oleh pendengarnya. Aqsam perlu karena pendengar bisa bersikap salah satu dari tiga kemungkinan berikut, pertama, pendengar termasuk orang yang wajar-wajar saja terhadap eksistensi berita, tidak ragu dan tidak mengingkarinya. Pendengar yang bersikap seperti ini bisa diberikan kalam ibtidaiy (berita tanpa diberi taukid atau qasam). Contoh kalimat seperti ini dapat dilihat dalam QS. al-Baqarah ayat 2. Kedua, pendengar bersikap ragu-ragu terhadap kebenaran berita, sehingga apa yang dikemukakan kepadanya perlu diberikan sedikit penguat yang disebut kalam thalabiy (kalimat yang dikuatkan) misalnya dengan qad sebagai mana terdapat dalam QS. al-Hadid ayat 8. Ketiga, pendengar bersikap menentang dan membangkang terhadap berita yang didengarnya Dalam hal ini kalimat beritanya harus menggunakan kalam inkariy (kalimat yang diperkuat dengan kadar keingkarannya). Jika pembangkangan dan pengingkarannya relatif lemah, cukup diberi taukid satu kali saja sebagaimana terdapat dalam QS. an-Nisa ayat 40. Namun jika intensitas penyangkalannya kuat, maka perlu diberi dua taukid, dengan lam taukid dan qad seperti dalam QS. al-Maidah ayat 72. Tetapi kalau intensitas penyangkalannya sangat kuat, maka perlu diberi beberapa taukid, seperti dalam firman Allah swt. pada QS. al-Anbiya ayat 57. Dalam ayat ini, taukid-nya ada tiga, yaitu sumpah dengan ta’, lam taukid dan nun taukid.[41]

2. Aqsam dalam Al-Quran bertujuan untuk menjelaskan tauhid dan kebenaran Al-Quran sebagai mukjizat Nabi Muhammad saw. melalui apa-apa saja yang dikandung oleh Al-Quran..

3. Aqsam dalam Al-Quran merupakan sumber berbagai macam pengetahuan yang tidak sedikit bagi siapa saja yang menelitinya. umpah-sumpah yang dinyatakan oleh Allah dalam al-Qur’an, baik yang diperbuat atau tidak diperbuat terhadap sesuatu perbuatan yang diperkuat dengan kata-kata sumpah sesuai dengan ketentuan syara’.

2. Unsur-unsur aqsam dalam al-Qur’an yaitu adawatul qasam, muqsam bih, dan muqam ‘alaih.

3. Macam-macam aqsam dalam al-Qur’an yaitu

a. Dari segi tujuan: Yamin al-Laghwi, Yamin al-Mun’aqidah, Yamin al-Gumus

b. Dari segi sifatnya: Sumpah yang bersifat konkrit (zahir), Sumpah yag bersifat abstrak

c. Dari segi karakteristiknya,: Karena zatnya (bi zatihi), Karena prosesnya (fi’lihi).

d. Dari segi fi’ilnya,: Qasam dhahir, Qasam Mudhmar

4. faedah atau hikmah dikemukakannya aqsam dalam Al-Quran yaitu memperkuat pembicaraan agar dipercaya oleh pendengarnya, menguatkan dan mewujudkan muqsam ‘alaih, menjelaskan tauhid dan kebenaran Al-Quran, menghilangkan keraguan, melenyapkan kesalahpahaman, menegakkan hujjah, menguatkan khabar dan menetapkan hukum dengan cara paling sempurna, dan sumber pengetahuan

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahannya, (semarang: CV. Toha Putra), 1989

Al-Jauziyyah, al-Qayyim. al-Tibyan fi Aqsam Alquran. Diterjemahkan oleh Asep Saifullah dan Kamaluddin Sa’diyatulharamain dengan judul Sumpah Dalam Alquran, (Cet. I; Jakarta: Pustaka Azzam), 2000

Mardan, Al-Qur’an: Sebuah Pengantar Memahami Al-Qur’an, (Cet. I; Jakarta: Pustaka Mapa), 2009

Al-Mursalim,Sayyid. Riyadh Ash-Shalihin. Diterjemahkan oleh H. Salim Bahreisy, dengan judul Tarjamah Riadlus Shalihim II, (cet. I; Bandung: PT Al-Maarif), 1972.

Sabiq, Sayyid. fiquh Sunnah. Dialihbahasakan oleh H. Kamaluddin A. Marsuki dengan judul, fihq Sunnah12, i(Cet. X; Bandung:Al-Ma’arif) 1996

Ash- Shiddieqy, Tengku Muhammd hasbi. Ilmu-ilmu Alquran, Ilmu-iolmu Pokok Dalam Menafsirkan Alquran, (cet. I; Semarang: PT Pustaka Riski Putra), 2002

Supiana, Drs, M.Ag dan M. Karman, M.Ag, Ulumul Quran, (Cet I; Bandung: Pustaka Islamika, 2002), h. 270-271

As-Suyuthhy, Jalaluddin Abd. Rahman, al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an, Juz I, (Cet. III, Beirut: Dar al-Fikr) 1951.

Al-Utsaimin, Muhammad bin Shaleh. Ushul fi al-Tafsir. Dialihbahasakan oleh Said Agil Husain Munawar dan Ahmad Rifki Mukhtar dengan judul, Dasar-dasar penafsiran Alquran, (Cet. I; Semarang: Dina Utama) 1989

al-Qaththan, Manna’. Mabahis fi Ulum Alquran, (Cet. X; Kairo: Maktabah Wahbah) 1997

Al-Qattan, Manna Khalil, Studi Ilmu-ilmu al-Quran, (Jakarta: PT. Litera Antarnusa) 2009.

Quthan, Mana’ul. Pembahasan Ilmu Alqur’an II, (Cet. I; Jakarta: PT. Rineka Cipta), 1995.


Catatan Kaki

[1]Mana‘ul Quthan, Pembahasan Ilmu Alqur’an II, (Cet. I; Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1995), h. 118.

[2]Manna Al-Qaththan, Mabahis fi Ulum Alquran, (Cet. X; Kairo: Maktabah Wahbah, 1997 M/1417 H), h. 284.

[3]Al-Qayyim al-Jauziyyah, Al-Tibyan fi Aqsam Alquran. Diterjemahkan oleh Asep Saifullah dan Kamaluddin Sa’diyatulharamain dengan judul Sumpah Dalam Alquran, (Cet. I; Jakarta: Pustaka Azzam, 2000), h.18.

[4]Manna Khalil Al-Qattan, Mabahis fi Ulumil Qur’an, diterjemahkan oleh Mudzakir AS dengan Studi Ilmu-ilmu al-Quran, (Cet. III, Bogor: PT. Litera Antarnusa, 2009), hal. 400.

[5]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahan, (Cet. X, Bandung: CV Penerbit Diponegoro, 2009 ), h. 271

[6]Manna Al-Qaththan, Op. Cit., h. 285.

[7]Sayyid Sabiq, fiquh Sunnah. Dialihbahasakan oleh H. Kamaluddin A. Marsuki dengan judul, fihq Sunnah 12, i(Cet. X; Bandung:Al-Ma’arif, 1996), h. 13.

[8] Mana ‘ul Quthan, loc.cit., h. 118.

[9]Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin, Ushul fi al-Tafsir. Dialihbahasakan oleh Said Agil Husain Munawar dan Ahmad Rifki Mukhtar dengan judul, Dasar-dasar penafsiran Alquran, (Cet. I; Semarang: Dina Utama, 1989), h. 67.

[10]Mardan, Al-Qur’an: Sebuah Pengantar Memahami Al-Qur’an Secara Utuh, (Cet. I; Jakarta: Pustaka Mapan, 2009 ), h.153

[11] Departemen Agama RI, Op.cit, h. 554

[12]Jalaluddin Abd. Rahman as-Suyuthhy, Al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an, Juz I, (Cet. III, Beirut: Dar al-Fikr, 1951), h. 133.

[13] Departemen Agama RI, Op. Cit., h. 356
[14] Ibid,. h. 326

[15] Manna al-Qattan, Op. Cit., h. 285.

[16] Jalaluddin Abd. Rahman as-Suyuthhy, Op. cit., h. 374

[17] Manna al-Qattan, Op. Cit., h. 287.
[18] Departemen Agama RI, op. Cit., h. 595

[19] Ibid., h. 597.

[20]Mana”ul Quthan, Op. Cit., h. 122.

[21]Sayyid al-Mursalim, Riyadh ash_Shalihin. Diterjemahkan oleh H. Salim Bahreisy, dengan judul Tarjamah Riadlus Shalihim II, (cet. I; Bandung: PT Al-Maarif, 1972), H. 376.

[22]Tengku Muhammd hasbi Ash- Shiddieqy, Ilmu-ilmu Alquran, Ilmu-ilmu Pokok Dalam Menafsirkan Alquran, (cet. I; Semarang: PT Pustaka Riski Putra, 2002), h. 182.

[23]Manna al-Qaththan, Op. Cit., h. 288.
[24]Departemen Agama RI, Op. Cit., h. 577.

[25]Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah, Op. Cit., h. 14.
[26]Departemen Agama RI. Op. Cit., h. 600.

[27]Manna al-Qaththan, Loc, cit.
[28]Departemen Agama RI. Op. cit., h. 593.

[29]Ibid., h. 577.
[30]Manna al-Qahthtan, Loc. cit.

[31]Departemen Agama RI, Op. cit., h. 446.
[32]Ibid., h. 536.

[33]Ibid., h. 440.
[34]Ibid., h. 520.
[35]Ibid., h. 595.

[36] Mardan, Op.cit h.155
[37] Mardan, Op.cit h.157

[38]Ibid., h.158
[39] Ibid., h. 162
[40] Ibid

[41]Drs. Supiana, M.Ag dan M. Karman, M.Ag, Ulumul Quran, (Cet I; Bandung: Pustaka Islamika, 2002), h. 270-271



0 Response to "Aqsam (sumpah) dalam Al-Qur'an"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!