Sejarah Perkembangan dan Kemunduran Dinasti Murabbitun

Advertisement
Tongkronganislami.net - Murabbitun adalah salah satu dinasti Islam yang berkuasa di Maghribi yang berasal dari hurub Arab r, b, t melambangkan teknik peperangan jarak dekat dengan formasi infantry di depan, penunggang kuda dan unta di barisan belakang, tidak satu deret seperti biasanya pasukan Barbar yang lain.[1] Pada abad V H/XI M, salah seorang pemimpin mereka, Yahya bin Umar melaksanakan ibadah haji. Di tanah suci ia menyadari bahwa pengikutnya masih awam terhadap ilmu pengetahuan agama. Untuk meningkatkan pengetahuan keagamaan mereka dicarilah seorang yang sanggup melaksanakan tugas tersebut. Yahya bertemu dengan Abdullah bin Yasin, guru mazhab Maliki, yang bersedia mengemban tugas tersebut.[2]

Yahya bin Umar yang dibantu Abdullah bin Yasin dan saudaranya Abu Bakar bin Umar besama-sama mendirikan suatu tempat yang dikenal dengan nama rhibat, yang terletak di pulai Niger, Senegal. Para penghuni ribat tersebut dalam perkembangannya disebut al-murabbitun. Murabithun (ribath) adalah sejenis benteng pertahanan Islam yang berada di sekitar masjid. Masjid mempunyai doble fungsi, selain sebagai tempat ibadah, pusat penyebaran da’wah juga sekaligus sebagai benteng pertahanan dari serangan musuh. Anggota pertamanya berasal Lemtunah bagian dari suku Sanhaji yang suka mengembara di padang Sahara.[3] Al-murabbitun berkembang dalam waktu yang relatif singkat, dan para pengikut yang tergabung dalam rhibat ini kemudian dikirim keberbagai suku untuk menyebarkan ajaran mereka.

Sebagai mana kebiasaan orang Barbar yang hidupnya nomaden, mereka memperluas kekuasaannya dengan menaklukan suku satu persatu dan memaksanya untuk mengikuti atau memeluk agama Islam. Di bawah pimpinan spritualnya, Abdullah bin Yasin dan seorang komandan militer, Yahya bin Umar, mereka berhasil memperluas daerah kekuasaannya dan pada tahun 447 H/1055-1056 M berhasil menaklukkan kerajaan Sijilmasat yang dikuasai oleh Mas’ud bin Wanuddin al-Maqrawi.[4]

Ekspansi wilayah pasca kematian Yahya bin Umar dipimpin langsung oleh Abu Bakar bin Umar. Ia meneruskan gerakan penaklukan ke Sahara Maroko, dan pada tahun 450 H/1058 m ia berhasil menyeberang ke Atlas Tinggi, dan setelah itu melancarkan serangan ke Maroko Tengah dan Maroko Selatan. Selanjutnya memerangi suku Barghawata yang dianggap sebagai penganut paham bid’ah. Pada penyerangan ini Abdullah bin Yasin tewas pada tahun 451 H/1059 M.[5] dan sejak saat itu Abu Bakar memegang kekuasaan penuh dan lambat laun mengembangkan system kesultanan.

Sepeninggal Abu Bakar, digantikan oleh Abu Ya’kub Yusuf bin Tasyfin yang pada masanya membangun kota Marakesy untuk dijadikan ibu kota pemerintahan. Pada masa Ibn Tasyfin, ekspansi wilayah diteruskan hingga menguasai Aljazair. Pada masa Yusuf ibn Tasyfin inilah dinasti Murabbitun mengalami puncak kejayaan. Keberhasilan ini dapat diukur melalui keberhasilannya menyeberang ke Spanyol memenuhi undangan amir Cordova, Al-Mu’tamid bin Abbas yang terancam kekuatannya oleh raja Alfonso VI (raja Leon Castillia). Dalam perjalanannya Yusuf bin Tasyfin mendapat dukungan penuh dari Muluk al-Thawaif Andalus.

Pertempuran di Zallakah tanggal 12 rajab 479 H/23 Oktober 1086 M, Yusuf bin Tasyfin berhasil mengalahkan raja Alfonso Vi dan selanjutnya merebut Granada dan Malaga. Sejak saat itulah ia memakai gelar Amir al-mukminin, dan pada akhirnya pula berhasil menaklukkan Muluk al-Thawaif yang semula mengundangnya dan menggabungkan wilayah tersebut dalam kerajaannya.

Sepeninggal Yusuf bin Tasyfin, kekuasaannya diwariskan kepada anaknya, Ali bin Yusuf. Ali bin Yusuf melanjutkan politik para pendahulunya dan berhasil mengalahkan anak Alfonsi VI pada tahun 1108 M. Namun, perubahan sikap mental mereka, yaitu ketidaksiapan menghadapi kemewahan yang berlebihan dalam kehidupan Spanyol yang terbiasa dengan kondisi keras kehidupan Sahara menjadikan dinasti Murabbitun di bawah kekuasaan Ali bin Yusuf lambat laun mengalami kemunduran dalam memperluas wilayahnya. Ali mengalami kekalahan pada pertempuran di Cuhera tahun 522 H/1129 M. Penguasa terakhir dari dinasti Murabbitun, yaitu Ishaq ibn Tasyfin sampai 1147. Yang akhirnya dinasti ini takluk pada dinasti Muwahhidin setelah ibu kota Marrakesh direbut oleh rivalnya dari suku Barbar yang lain.

Kekuasaan dinasti Murabbitun berjalan kurang lebih 90 tahun dengan enam orang penguasa, yaitu Abu Bakar bin Umar, Yusuf bin Tasyfin, Ali binYusuf, Tasyfin bin Ali, Ibrahim bin Tasyfin, dan Ishak bin Ali. Menjelang abad XII Murabbitun mulai retak. Di Spanyol Muluk al-Thawaif menolak kekuasaannya. Di Maroko sebuah gerakan keagamaan mulai mengingkari dinasti Murabbitun.
Perkembangan Dinasti Murabbitun
Peta Kekuasaan Dinasti Murabbitun

Penyebab Kemunduran Dinasti Murabbitun 

Kelamahan kemudian kehancuran dari dinasti Murabbitun disebabkan oleh:

  1. Lemahnya Disiplin tentara dan merajalelanya korupsi yang melahirkan disintegrasi.
  2. Kehidupan Maroko dan Andalus yang mewah mengubah watak keras pembawaan Barbar.
  3. Mereka memasuki Andalus ketika kecemerlangan intelektual kalangan Arab telah mengganti kesenangan perang.
  4. Kontak dengan peradaban yang sedang menurun dan tidak siap mengadakan asimilasi.
  5. Dikalahkan oleh dinasti rumpun keluarganya sendiri, al-Muwahhidun.[6]


Peranan Penting Dinasti Murabbitun 

Afrika Utara sejak abad VII-X M bangsa Barbar menganut paham khawarij, Syi’ah, Sunni dan Sufi. Namun sesudah abad XII M, Islam salaf yang dikembangkan oleh Murabbitun memegang peran penting dalam mempersatukan bangsa Barbar dalam satu kesatuan dengan ciri legitimasi regim puritan.[7]

Pada masa kekuasaannya, Abdullah bin Yasin melarang minuman keras, menghancurkan instrumen musik, menghapus pungutan ilegal, menerapkan hukum Islam tentang pembagian rampasan perang. Penguasa Murabbitun memakai gelar Amir al-Mukminin dan berbai’ah kepada daulah Abbasyiah. Ulama Maliki menduduki kursi dewan eksekutif mendampingi penguasa dan memberikan nasehat di bidang fiqh. Walaupun pengetahuan agama mereka dangkal, tetapi Murabbitun telah melakukan fondasi bagi pemekaran peradaban Afrika Utara. Mereka membantu kemenangan Sunni dan Mazhab Maliki dalam melawan kekuatan Syi’ah dan Khawarij.

Daulah Murabbitun juga yang pertama membuat dinar dengan memakai hurub Arab dengan tulisan Amir al-Mukminin di bagian depan mencontoh uang Abbasyiah dan bertuliskan kalimat iman dibagian belakang. Pembuatan uang in dicontoh oleh Alfonso VIII (1158-1214 M) dengan kalimat amir al-Qatuliqun dibagian depan dan imam al-Bi’ah al-Masihiyah pada bagian belakang. Pada masa kekuasaannya juga menjadi pendukung para penulis, filosof, para penyair dan arsitektur bangsa Spanyol, membangun mesjid di Themsen pada tahun 1136, memperbaiki masjid Qairuwan menurut desain Andalus. Selain itu yang terpenting adalah membangun kota Marakesy menjadi ibu kota kerajaan dan pusat keagamaan.

Baca Juga: Dinasti Gaznawi Munculnya Islam di Afganistan

Catatan Kaki


[1]Ira M. Lapidus, A History of Islamic Societies, (New York: Cambridge University Press, 1988), h. 372.

[2]Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik; Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam (Cet. 3; Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007), h. 129

[3]Philip K. Hitti, History of The Arab, diterjemahkan oleh R. Cecep Lukman Yasin dkk dengan judul Sejarah Arab (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2006 ), h. 688

[4]Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik.., h. 130
[5]Ibid

[6]Philip K. Hitti, History of The Arab.., h. 545
[7]Ira M. Lapidus,Ira M. Lapidus, A History of Islamic..., h. 372



0 Response to "Sejarah Perkembangan dan Kemunduran Dinasti Murabbitun "

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!