Sejarah Perkembangan dan Kemunduran Dinasti Muwahhidun

Advertisement
Tongkronganislami.net - Terbentuknya Dinasti Muwahhidun (1090-1147) beranjak dari kondisi Afrika Utara pada waktu kekuasaan Dinasti Murabithun mulai melemah. Wafatnya Yusuf bin Tasyufin pada tahun 1106 M, berakibat buruk bagi Murabithun, karena pemimpin-pemimpin setelah dia adalah orang-orang yang lemah. Kondisi semakin kacau ketika pimpinan fuqaha’ dipegang oleh seorang sufi yang ekstrim dan mulai menyimpang dari ajaran al-Qur’an dan Sunnah (paham tajassum/mengatakan bahwa Tuhan mempunyai bentuk seperti tubuh manusia). Kehidupan masyarakat sudah materialistis, di samping terjadinya stagnasi dalam pemikiran para pengikut Imam Malik, yang menyatakan tidak perlu lagi mempelajari Tafsir al-Qur’an dan hadits karena semua itu telah dilakukan oleh Imam Malik.

Dalam kondisi demikian muncul Ibn Tumart (1078-1130) dari kabilah masmudah pasca belajar dari beberapa daerah pusat penyebaran Islam (Cordova, Alexandria, Makkah dan Bagdad) dan juga belajar kepada al-Ghazali yang beraliran asy’ariah. Sekitar tahun 1100 M dia kembali ke Maroko dan menyebarkan ajarannya yang mendapat sambutan baik dari masyarakat. Inti ajarannya adalah tauhidullah, mengesakan Tuhan dan praktek-praktek keagamaan yang bertentangan dengan ajaran Islam dia kritik secara tajam. Di samping memperkenalkan ajaran itu Ibn Tumart juga mendakwakan dirinya sebagai al-Mahdi yang akan membangkitkan kebenaran dan keadilan.[1]

Gerakan yang dibangun berdasarkan kebenaran dan kemurnian ajaran Islam tersebut berhasil merangkul banyak pengikut dari masyarakat, walaupun terkadang dakwahnya tidak selalu mulus. Pada tahun 1117 M Ibn Tumart dan pengikutnya terusir dari tempat tersebut, sehingga dia pergi ke Marakesy. Namun, karena ditempat tersebut kehadirannya tidak begitu mendapat sambutan, akhirnya dia pergi ke Tilimsan (Tinmal/Tanmaal). Dari tempat inilah dia menyusun kekuatan yang berwujud menjadi sebuah dinasti di temani oleh Abdul Mu’min yang ia dapatkan di Marakesy.

Untuk menyebarkan dakwahnya ia mengirim da’i keberbagai daerah untuk mengajak kepada kebenaran (amar ma’ruf) dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang buruk (nahi mungkar). Kepada pengikutnya dia menyerukan supaya mendirikan shalat tepat waktu, berakhlak terpuji, taat pada undang-undang, membuat wirid yang dibuat oleh imam Mahdi dan mendalami kitab-kitab aqidah al-Muwahhidun.

Pada tahun 1130, Ibn Tumart digantikan oleh sahabat sekaligus jenderalnya, ’Abd al-Mu’min ibn ’Ali, anak seorang pembuat tembikar dari suku Zanatah, yang dalam perkembangannya menghancurkan pasukan Dinasti Murabbitun dekat Talimcen, yang diduduki beserta Fez, Ceuta, Tangier, dan Agmat; setelah mengepung Maroko selama 11 bulan (1146-1147. Setelah menguasai Maroko dan Spanyol, ’Abd al-Mu’min melanjutkan penaklukan ke Aljazair pada tahun 1152, ke Tunisia tahun 1158, dan Tripoli pada tahun 1160, yang untuk pertama kalinya dalam sejarah muslim, seluruh pesisir dari Atlantik hingga perbatasan Mesir dihimpun dengan Spanyol sebagai suatu imperium independen.

Pasca kematian ’Abd al-Mu’min (w. 1163), ia digantikan oleh seorang putra budak kristen, Abu Yusuf Ya’qub al-Manshur (1184-1199), pemimpin yang paling tenar pada masa kekuasaan dinasti Muwahhidun.[2] Dan pada perkembangan hingga masa kekuasaannya, pemimpin yang pernah berkuasa pada masa kekuasaan dinasti Muwahhidun berjumlah 12 orang yang tidak dibahas satu persatu dalam tulisan ini, di antaranya:
  1. Ibn Tumart (w.1130 M)
  2. Abdul Mu’min (w.1163 M)
  3. Abu Yaqub Yusuf ibn Abdul Mu’min (w.1184 M)
  4. Abu Yusuf Yaqub ibn Abu Yaqub Yusuf (w.1199 M)
  5. Muhammad ibn al-Nashir (w.1214 M)
  6. Al-Muntashir (w.1223 M)
  7. Abdul Wahid ibn al-Muntashir (w.1224 M)
  8. Abu Muhammad al-Adil(w.1227 M)
  9. Al-Ma’mun (w.1233 M)
  10. Abdul Wahid II (w.1243 M)
  11. Al-Mutamid (w.1266 M)
  12. Al-Wasiq.

Perkembangan Islam pada masa Dinasti Muwahhidun
Sejarah Kemunduran Dinasti Muwahhidun
Peta Kekuasaan Dinasti Muwahhidun

Pada zaman Muwahhidun Andalus mencapai puncaknya, terutama pada zaman Al-mu’min, perkembangan peradaban islam, terutama perkembangan ilmu. Meski kemajuan itu pada dasarnya merupakan kelanjutan dari peradaban masa sebelumnya, tetapi mereka memiliki sisi-sisi peradaban yang menarik dan menonjol. Sisi-sisi keindahan dan kedalaman apresiasi mereka terhadap makna kehidupan tercermin dalam karya sastra mereka. Berikut perkembangan pada zaman al-Muwahhidun:

a. Bidang Ilmu Pengetahuan

Dalam bidang sastra dan bahasa, al-Muwahhidun banyak melanjutkan kemajuan yang telah dicapai al-Murabithun, tokoh-tokohnya di antaranya yaitu :[3]

1) Ibn al-Khafajar (w.1139 M)
2) Abu Bakr Muhammad ibn Zuhr (w.1110 M)
3) Ibn Quzman atau Abengusman (w.1160 M).

Pada masa ini muncul pula tokoh-tokoh lexicographer seperti :[4]

1) Ibn Sida’ (w.1066 M)
2) Abu Bakr al-Turtusi yang dikenal dengan Ibn Abi Randaq (w.1130 M), dengan karyanya Siraj Al-Mulk.

Di samping itu juga terdapat beberapa tokoh-tokoh yang terkenal yang hidup pada masa kekuasaan Dinasti Muwahhidun antara lain:

1) Ibn Bajjah (533 H/1139 M), seorang filosof dengan karyanya The Rule of Solitary. Ia juga berada di bidang musik yang disebut Avenpace atau Abenpace.[5]

2) Ibn Thufayl, (581 H/ 1185-1186 M), seorang filosof dengan karyanya Hayy bin Yaqzhan. Ia juga seorang dokter, ahli geografi dan penyair Andalusia atau yang dikenal dengan nama Al-andalusi, Al-Kurtubi, Al-Isibily.[6]

3) Ibn Rusyd (1126-1198 M), ia adalah seorang filosof , dokter, ahli matematika, fikih, ahli hukum, juga seorang poplemik atau dikenal dengan sebutan Averrous.[7] Dan berikut karya-karyanya :

- Bidang filsafat, karyanya Tahafut al-Tahafut.
- Bidang kedokteran, karyanya Kulliyat fi at-Thib (aturan umum kedokteran).
- Bidang fiqih, karyanya Bidayah al-Mujtahid.

4) Ibn Zuhr atau Avenzoar (w.1198 M), ia adalah seorang tabib dan ahli bedah terkenal yang hidup sezaman dengan Ibn Rusyd.[8]

5) Ibn Jubair, seorang pengembara dari Andalusia, buku pengembaraannya dianggap sebagai puncak karya seni satra pengembaraan bangsa Arab yang tiada tandingnya. Dia bekerja sebagai penulis bagi penguasa Granada dari dinasti al- Muwahhidun, ia lebih dikenal sebagai penulis dan penyair. Akan tetapi pengembaraannyalah yang membawanya kepada kedudukan yang sangat terhormat dalam ilmu geografi.[9]

6) Ibn al-Arabi atau Ibn Suraka, ia berada di bidang tasawuf yang mengajarkan Wihdat al-Wujud.[10]

7) Abu Madyan, pendiri tarekat Syadzaliyah di Spanyol.[11]

b. Bidang Arsitektur

Dalam bidang arsitektur pada zaman dinasti al-Muwahhidun juga cukup maju dengan didirikannya berbagai bangunan dan berikut sumbangan peradabannya:

- Menara Giralda di Sevilla.
- Ribatul Fath yang meniru gaya Alexandria.
- Dan juga mendirikan rumah sakit yang besar di Marakesy. [12]

c. Bidang Ekonomi

Dalam bidang ekonomi Dinasti Muwahhidun mengadakan hubungan dagang yang luas terutama dengan pulau-pulau di seputar Italia, seperti Genoa, Pisa, Marseille, Vanice, dan Silsilia.[13]

Kemunduran Dinasti Muwahhidun

Kemegahan Dinasti al-Muwahhidun setelah wafatnya Abu Ya’qub Yusuf I, tidak dapat bertahan lama. Sumber sejarah menyebutkan bahwa pasca pemerintahan Abu Ya’qub Yusuf I, yakni ketika Abu Yusuf al-Mansur tampil menggantikannya, akhir pemerintahannya telah menunjukkan tanda-tanda kemunduran bagi dinasti ini.[14] Kemajuan yang telah dicapai oleh pemimpin terdahulu, tidak mampu dipertahankan lagi oleh pemimpin sesudahnya.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kemunduran bagi Dinasti al-Muwahhidun, antara lain:

Faktor Internal

Salah satu indikasi faktor internal yang menyebabkan terjadinya kemunduran dinasti ini adalah tampilnya pemimpin yang tidak mampu menangkap peluang dan mengakomodasi berbagai trend pengembangan, yakni ketika Muhammad al-Nashr (1184 M) tampil menggantikan pemimpin sebelumnya, dengan usianya yang relatif muda, kurang lebih 17 tahun usianya ketika itu. Ia belum memiliki kapabilitas serta kematangan emosional yang memadai. Padahal untuk menjadi pemimpin sebuah wilayah yang luas, sangat dibutuhkan managerial skill serta pengetahuan dan pengalaman yang cukup, agar memiliki kredibilitas di dalam mengendalikan roda pemerintahan.

Akibat dari berbagai kelemahan yang dimiliki al-Nashr tersebut, maka di dalam mengendalikan pemerintahannya lebih banyak dipegang oleh menteri-menterinya yang saling merebut mengambil simpati khalifah yang masih muda, sehingga situasi ini dimanfaatkan oleh lawan-lawan al-Muwahhidun, termasuk sisa-sisa al-Murabithun yang belum dapat dilumpuhkan, kembali melakukan perlawanan. Termasuk munculnya pemberontakan dari Bani Ghaniyyah yang pernah ditaklukkan oleh penguasa sebelumnya, yaitu Abu Ya’qub. Mereka kembali melakukan perlawanan dengan motifnya menjatuhkan kekuasaan al-Muwahhidun.

Di samping itu, kurangnya kontrol dan perhatian pemerintah pusat terhadap daerah-daerah yang jauh dari pusat pemerintahan, menyebabkan adanya keinginan mereka untuk memisahkan diri. Hal ini menunjukkan bahwa adanya wilayah yang luas yang tidak bisa dimenej dengan baik, justeru sangat berpotensi terhadap terjadinya instabilitas dalam negeri, karena adanya ancaman desintegrasi. Ancaman desintegrasi ini, seperti munculnya Yaghamrasan ibn Zayyan di Tlemen pada tahun 1236 M yang dapat mendirikan kerajaan, Abd al-Wadiyyah yang merdeka di Maghrib. 

Pada tahun berikutnya Abu Zakariyya sebagai gubernur al-Muwahhidun di Ifriqiyyah menyatakan kemerdekaan dari Tunis dan mendirikan Dinasti Hifsiyyah. Keadaan ini semakin memperparah kondisi Dinasti al-Muwahhidundan akhirnya membawa kepada kejatuhan dinasti ini, yakni pada tahun 1269 M, saat ibu kota Maroko jatuh ke tangan Dinasti Marawiyyah. Dengan berdirinya Dinasti Marawiyyah, maka berakhirlah Dinasti al-Muwahhidun yang pernah jaya dan sempat bertahan selama satu abad lebih.

Faktor Eksternal
Bersamaan dengan kemunduran Dinasti al-Muwahhidun, sebagai akumulasi dari berbagai persoalan sosial politik dalam negeri, pasukan Salib yang telah dikalahkan oleh Salahuddin di Palestina kembali ke Eropa dan mulai menggalang kekuatan baru di bawah pimpinan Alfonso IX. Kekuatan Kristen ini mengulangi serangannya ke Andalusia dan berhasil mengalahkan kaum muslimin. Karena penguasa al-Muwahhidun merasa terdesak, akhirnya meninggalkan Spanyol dan kembali ke Afrika Utara (Maroko). Sedangkan Cordova jatuh ke tangan penguasa Kristen pada tahun 1238 M, menyusul Seville jatuh pada tahun 1248 M. Serangan-serangan yang dilakukan pasukan Kristen ini telah menjadikan seluruh Spanyol lepas dari kekuasaan Islam, kecuali Granada.[15]

Catatan Kaki

[1]Philip K. Hitti, History of The Arab, diterjemahkan oleh R. Cecep Lukman Yasin dkk dengan judul Sejarah Arab (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2006 ) h. 693.

[2]Philip K. Hitti, Ibid., h. 697

[3]Dudung Abdurrahman. Sejarah Peradaban Islam Cet. I; Yogyakarta: LESFI, 2004.
[4] Ibid., h. 122

[5] Musurifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik; Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam Cet. 3; Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007.

[6]Ibid., h. 139

[7]Husayin Ahmad Amin, Seratus Tokoh dan Sejarah Islam (Cet. I; Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1997), h. 192.

[8] Dudung Abdurrahman, Dudung Abdurrahman. Sejarah Peradaban..., h. 274. 

[9]Husayn Ahmad Amin, Seratus Tokoh..., h. 199 
[10]Musyrifah Sunanto,ejarah Islam Klasik; Perkembangan..., h. 128
[11]Ibid
[12]Ibid., h. 139
[13]Ibid., h. 140

[14] Dewan Redaksi, Ensiklopedia Islam, Jilid III, Jakarta: PT.Ichtiar Baru van-Hoeve, 1993.

[15] C.E.Broswort, The Islamic Dynasties, diterjemahkan oleh Ilyas Hasan dengan judul “Dinasti-dinasti Islam”, Bandung: Mizan, 1993.



0 Response to "Sejarah Perkembangan dan Kemunduran Dinasti Muwahhidun"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!