Sejarah Sosial Masuknya Islam di Lombok

Advertisement
Tongkronganislami.net - Buku “Sejarah Sosial Islam di Lombok tahun 1740-1935 (Studi Kasus Terhadap Tuan Guru)” merupakan disertasi dari Jamaludin untuk memperoleh gelar Doktor di UIN Syarif Hidayatullah. Sebagaimana judulnya, buku ini banyak mengkaji tentang sosok yang disebut Tuan Guru dalam masyarakat Islam di Lombok.

Tuan guru adalah sebutan bagi seseorang yang memiliki pengetahuan agama yang tinggi yang diberikan oleh masyarakat sebagai wujud dari pengakuan mereka terhadap kelebihan-kelebihan yang dimiliki seseorang. Pada umumnya mereka yang diberikan gelar tuan guru adalah orang yang pernah berhaji yang memiliki jama’ah pengajian (pengajar majelis ta’lim di beberapa tempat), atau pondok pesantren dan memiliki latar belakang hubungan dengan orang yang berpengaruh, misalnya pernah belajar pada ulama-ulama terkenal di timur tengah atau di tempat lainnya, atau boleh jadi karena orang tuanya adalah tuan guru.[1]

Dalam kamus bahasa Sasak istilah “tuan guru” diartikan sebagai ulama, ulama yang keliling dan mengajar atau ceramah. Tuan dimaknai sebagai orang yang pernah berhaji, jadi “tuan guru” adalah haji yang mengajar.[2] Pada masyarakat Sasak seseorang yang dipanggil guru adalah mereka yang mengajar dan memiliki pengikut setia atau anak didik atau bisa juga mereka yang memiliki jama’ah pengajian.

Sejarah Perkembangan Kerajaan Islam di Lombok

1. Fakta Sejarah

Dalam buku ini, penulis banyak menguraikan tentang proses islam masuk ke Lombok serta islamisasi yang terjadi di Lombok. Menurut penulis, yang pertama kali membawa Islam adalah Sunan Prapen dari Giri. Masyarakat yang pertama kali memeluk Islam adalah mereka yang ada di barat daya dan Salut yang berada di pesisir pantai timur.[3] Kemudian dari Salut, islam masuk ke kerajaan Lombok kemudian menyebar ke berbagai wilayah-wilayah lainnya di Lombok, ke utara masuk di kerajaan Bayan, ke arah barat masuk di kerajaan Pejanggik, dan beberapa kerajaan kecil sekitarnya, sedangkan ke arah Selatan masuk di Rembitan, Pujut, dan daerah-daerah yang ada di sekitarnya.

Tentang islamisasi di wilayah Lombok Selatan ditemukannya bukti-bukti arkeologis, berupa bangunan-bangunan kuno dan makam-makam yang juga tidak jauh beda dengan umur bangunan kuno tersebut. Dari beberapa bukti tersebut menunjukkan bahwa kemungkinan besar bahwa di Rembitan dan Pujut merupakan pusat pengajaran Islam di Lombok bagian selatan pada waktu itu. Bukti arkeologis yang ditemukan di Rembitan adalah bangunan masjid kuno yang beratap tumpeng.

Dalam usaha islamisasi di Lombok tidak selalu berjalan dengan mudah. Di beberapa tempat terjadi penolakan bahkan pertempuran, seperti di Perigi dan Suradadi. Rakyat Suradadi di bawah pimpinan Patih Biku Mangkurat mencoba menghalau prajurit Islam, namun dia tewas dalam pertempuran tersebut dan rakyat Suradadi menyatakan diri masuk Islam.[4] beberapa rakyat yang tidak mau memeluk islam melarikan diri ke gunung-gunung.

2. Sumber
Sumber-sumber dalam penulisan buku ini terdiri dari sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer yang dimaksud adalah berupa naskah-naskah atau manuskrip seperti babad Lombok dan Babad Praya. Adapun sumber sekunder adalah buku-buku atau karya ilmiah lain yang relevan dengan pembahasan dalam buku ini, misalnya

3. Metode yang dipakai

Metode dan pendekatan yang dipakai adalah pendekatan penelitian sejarah. Dalam penelitian sejarah merupakan suatu keharusan untuk mendeskripsikan dan menganalisis peristiwa-peristiwa yang historis. Dalam buku ini penulis juga banyak melakukan kritik terhadap peneliti lain atau beberapa teori.[5]

4. Hal-hal yang baru

Menurut saya semua hal mengenai Islam di Lombok dan tuan guru di dalam buku ini adalah baru dari saya. Antara lain:

1. Islam di Lombok mendapat pengaruh dari timur, seperti Gowa/ Makassar. Setelah Gowa menguasai Bone, Bima dan Sumbawa, meluas pula agama Islam di kalangan wilayah kekuasaan kerajaan Gowa. Dan kemudian dengan semangat yang tinggi pula para penguasa daerah di setiap pulau yang ditaklukkan kerajaan tersebut melakukan dakwah islamiyah sampai ke pulau Lombok

2. Lombok dikenal dengan sebutan Gumi Selaparang, karena pada masa-masa kedatangan dan pertumbuhan Islam yang berkuasa di Lombok adalah kerajaan Selaparang. Selaparang adalah nama dari sebuah kerajaan Islam terbesar di Lombok yang didirikan oleh Prabu Rangkesari abad ke-16 M di wilayah timur pulau Lombok. (hal. 59)

3. Kiai (tuan guru) memiliki pengaruh yang besar bagi masyarakat. Misalnya di Pujut, zakat tidak diberikan kepada mereka yang fakir atau miskin tetapi diberikan kepada kiai. Masyarakat sangat tergantung kepada kiai dalam banyak hal kiai dinilai mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan spiritual yang dihadapi masyarakat. (lihat hal.81)

4. Islam masuk ke Lombok diperkirakan sekitar abad ke-15 karena pedagang-pedagang muslim ketika itu telah ada yang bermukim di pulau Lombok. Namun secara tegas dapat dipastikan, berdasarkan sumber lokal dan sumber luar, bahwa Islam masuk di Lombok pada abad ke-16 dibawa oleh mubalig asal Jawa, Sunan Prapen dari Giri masuk melalui kerajaan Lombok di Timur, dan kemudian masuk ke kerajaan-kerajaan di wilayah tengah, utara dan barat. (lihat hal. 85)

5. Tuan guru dalam masyarakat Sasak melebihi popularitas siapapun, bangsawan keturunan raja, atau bahkan pemerintah. Umumnya yang menjadi tuan guru adalah dari kalangan orang yang ekonominya menengah ke atas. Jadi kalau bukan dari kalangan orang-orang kaya, maka tuan guru tersebut memiliki garis keluarga yang memang sebagai tuan guru. Jadi, memiliki pengaruh kuat, atau secara genealogi juga demikian, yang jelas umumnya mereka tuan guru jarang dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. (hal. 173)

Baca Juga: Sejarah Masuknya Islam di Banjar

Catatan Kaki

[1]Hal. 142.
[2] Hal. 138

[3] Lihat hal. 35
[4] Hal. 40.

[5] Misalnya lihat hal.47-50.



0 Response to "Sejarah Sosial Masuknya Islam di Lombok"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!