Peranan Negara Kecil di Timur terhadap Perkembangan Peradaban Islam

Advertisement
Peranan Negara-Negara Kecil di Timur dalam Perkembangan Peradaban Islam (oleh Kamaruddin)

Sebagaimana diketahui bersama bahwa pada periode pertama pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya. Pada periode-periode sesudahnya, pemerintahan dinasti ini mulai menurun, terutama di bidang politik.Pada masa periode pertama, banyak tantangan yang dihadapi dinasti Abbasiyah. Beberapa gerakan mengganggu stabilitas politik muncul dimana-mana, baik dari kalangan intern maupun dari luar yang dapat diatasi dengan baik.

Keberhasilan penguasa Abbasiyah mengatasi gejolak dalam negeri ini makin memantapkan posisi dan kedudukan mereka sebagai pemimpin yang tangguh. Kekuasaan betul-betul berada di tangan Khalifah. Keadaan ini sangat berbeda dengan periode sesudahnya. Setelah periode pertama berlalu, para Khalifah sangat lemah. Mereka berada di bawah pengaruh kekuasaan yang lain.

Perkembangan peradaban dan kebudayaan yang dicapai dinasti Abbasiyah pada periode pertama telah mendorong para penguasa untuk hidup mewah. Setiap Khalifah cenderung ingin lebih mewah dari pendahulunya. Kehidupan mewah ini ditiru oleh para hartawan dan anak-anak pejabat. Kecenderungan bermewah-mewah ditambah kelemahan Khalifah dan faktor lainnya menyebabkan roda pemerintahan terganggu dan rakyat menjadi miskin.

Kondisi ini memberi peluang kepada tentara Profesional asal Turki yang semula diangkat oleh Khalifah Al-Mu’tashim untuk mengambil kendali pemerintahan, meskipun kejayaan tersebut masih dapat bertahan lebih dari empat ratus tahun. Pilihan Khalifah Al-Mu’tashim terhadap unsur Turki dalam ketentaraan terutama dilatarbelakangi oleh adanya persaingan antara golongan Arab dan Persia pada masa Al-Ma’mun dan sebelumnya.

Perebutan kekuasaan antara Al-Amin dan Al-Ma’mun dilatarbelakangi dan diperhebat oleh persaingan antara golongan Arab yang mendukung Al-Amin dan golongan Persia yang mendukung Al-Ma’mun, masuknya unsur Turki dalam pemerintahan Abbasiyah semakin menambah persaingan antar bangsa Al-Mu’tasim dan Khalifah sesudahnya, Al-Watsiq, mampu mengendalikan mereka. Namun, Khalifah Al-Mutawakkil, yang merupakan awal kemunduruan politik Bani Abbas adalah khalifah yang lemah. Pada masa pemerintahannya, orang-orang Turki dapat merebut kekuasaan dengan cepat.

Setelah Al-Mutawakkil wafat, merekalah yang memilih dan mengangkat khalifah. Dengan demikian, kekuasaan tidak lagi berada di tangan Bani Abbas, meskipun mereka tetap memegang jabatan khalifah. Sebenarnya, ada usaha untuk melepaskan diri dari para perwira Turki itu, tetapi selalu gagal. Dari dua belas khalifah pada periode kedua ini, hanya empat orang yang wafat dengan wajar, selebihnya kalau bukan dibunuh, mereka diturunkan dari tahta dengan paksa.

Wibawa khalifah merosot tajam. Setelah tentara Turki itu lemah dengan sendirinya, di daerah-daerah muncul tokoh-tokoh kuat, yang kemudian memerdekakan diri dari kekuasaan pusat, mendirikan dinasti-dinasti kecil. Inilah permulaan masa disintegrasi dalam sejarah politik Islam. maka muncullah Negara-negara kecil di timur Baghdad diantaranya: Dinasti Tahiri (200 H-259 H / 820 M-872 M), Dinasti Safari (254 H-289 H / 867 M-903 M), Dinasti Samani (261 H-389 H / 874 M-999 M).[1]

Dinasti-dinasti yang Memerdekakan Diri dari Baghdad adalah akibat dari adanya sebuah kebijaksanaan yang lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada persoalan politik itu, propinsi-propinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa Bani Abbas, kelemahan pada pusat membawa kepada otonomi yang lebih besar di pinggiran dan ini pada gilirannya menghasilkan keterbatasan keuangan di pusat dan kelemahan yang makin meningkat dan akhirnya muncullah pemberontakan yang dilakukan oleh pemimpin lokal dan mereka berhasil memperoleh kemerdekaan penuh.

Peranan Negara Kecil terhadap Perkembangan Peradaban Islam


Ada kemungkinan bahwa para khalifah Abbasiyah sudah cukup puas dengan pengakuan nominal dari propinsi-propinsi tertentu, dengan pembayaran upeti itu. Alasannya: pertama, mungkin para khalifah tidak cukup kuat untuk membuat mereka tunduk kepadanya; kedua, penguasa Bani Abbas lebih menitikberatkan pembinaan peradaban dan kebudayaan daripada politik dan ekspansi. Akibat dari kebijaksanaan yang lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam dari persoalan politik itu, propinsi-propinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa Bani Abbas. Ini bisa terjadi dalam salah satu dari dua cara:

1) seorang pemimpin lokal memimpin suatu pemberontakan dan berhasil memperoleh kemerdekaan penuh, seperti pedaulat Umayyah di Spanyol dan Idrisiyah di Marokko;

2) Seseorang yang ditunjuk menjadi gubernur oleh khalifah kedudukannya semakin bertambah kuat, seperti daulat Aghlabiyah di Tunisia dan Thahiriyyah di Kurasan. Kecuali Bani Umayyah di Spanyol dan Idrisiyah di Marokko, propinsi-propinsi itu pada mulanya tetap patuh membayar upeti selama mereka menyaksikan Baghdad stabil dan khalifah mampu mengatasi pergolakan-pergolakan yang muncul. Namun, pada saat wibawa khalifah sudah memudar, mereka melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad. Mereka bukan saja menggerogoti kekuasaan khalifah, tetapi beberapa diantaranya bahkan berusaha menguasai khalifah itu sendiri.

Menurut Watt, sebenarnya keruntuhan kekuasaan Bani Abbas mulai terlihat sejak awal dari abad ke sembilan. Fenomena ini mungkin bersamaan dengan datangnya pemimpin-pemimpin yang memiliki kekuatan militer di propinsi-propinsi tertentu yang membuat benar-benar independen. Kekuatan Abbasiyah waktu itu mulai mengalami kemunduran. Sebagai gantinya, para penguasa Abbasiyah mempekerjakan orang-orang profesional di bidang kemiliteran, khususnya tentara Turki dengan sistem perbudakan baru.

Pengangkatan anggota militer Turki ini, dalam perkembangan selanjutnya ternyata menjadi ancaman besar terhadap kekuasan khalifah. Apalagi pada periode pertama pemerintahan dinasti Abbasiyah sudah muncul fanatisme kebangsaan berupa gerakan Syu’ubiyah (kebangsaan atau anti Arab). Gerakan inilah yang banyak memberikan inspirasi terhadap gerakan politik, disamping persoalan-persoalan keagamaan.

Tampaknya, para khalifah tidak sadar akan bahaya politik dari fanatisme kebangsaan dan aliran keagamaan itu sehingga meskipun dirasakan dalam hampir semua segi kehidupan, seperti dalam kesusasteraan dan karya-karya ilmiah, mereka tidak bersungguh-sungguh menghapuskan fanatisme tersebut, bahkan ada diantara mereka yang justru melibatkan ke dalam konflik kebangsaan dan keagamaan itu.

Dinasti-dinasti yang lahir dan melepaskan diri dari kekuasan Baghdad pada masa khalifah Abbasiyah, diantaranya adalah :

Dinasti Thahiriyah (200 H-259 H / 820 M-872 M) di Khurasan

Orang-orang yang pertama mendirikan sebuah negara semi independen di sebelah Timur Baghdad adalah orang yang pernah dipercaya al-Ma’mun untuk menduduki jabatan jenderal, yakni Thahir ibn al-Husain dari Khurasan, yang secara gemilang berhasil meminpin balatentara untuk melawan al-Amin. Dalam perang ini, Thahir si mata satu itu diceritakan sangat lihai menggunakan pedang dengan kedua tangannya, sehingga al-Ma’mun menjuluki dzu al-yaminain (bertangan kanan dua).

Thahir seorang keturunan budak Persia, pada 820 M diangkat oleh al-Ma’mun sebagai gubernur atas semua kawasan di sebelah Timur Baghdad dengan pusat kekuasaanya di Khurasan. Meskipun secara formal para penerus Thahir adalah pengikut Khalifah, mereka memperluas wilayah kekuasaanya hingga perbatasan India. Mereka memindahkan pusat pemerintahan ke Naisabur dan di sini mereka berkuasa sampai tahun 872 M yang akhirnya digantikan oleh Dinasti Saffariyah.[2]

Al-Ma’mun mengangkat panglima perang al- Muzhaffar Thahir ibn Husain sebagai gubernur Khurasan pada tahun 205 H sebagai balasan atas semua jerih payahnya dalam medan perang. Pemerintahan berada di tangan anak-anaknya hingga tahun 259 H. Mereka memerintah secara independen tanpa menyatakan bahwa mereka melepaskan diri dan melakukan pemberontakan terhadap Khalifah. Akhirnya, mereka dikalahkan oleh Ya’qub al-Shaffar. Setelah itu berdirilah pemerintahan Saffariyah.[3]

Dinasti Thahiriyah dibangun oleh Thahir ibn Husain, yang bergelar dzu al-yaminain (yang mempunyai dua tangan), panglima tentara kebangsaan Persia yang ditunjuk oleh Khalifah al-Ma’mun pada tahun 194 H/810 M untuk memerangi al-Amin. Kemudian ia ditunjuk sebagai gubernur Persia dan wilayah timur.

Menjelang wafat, ia menghapuskan nama Khalifah al-Ma’mun dalam khutbah yang berarti pernyataan merdeka penuh dari kekuasaan Abbasiyyah. Bani Thahir berkuasa di Khurasan Persia sampai Muhammad bin Thahir meninggal. Oleh karena itu, Thahir yang meninggal pada tahun 207 H/822 M digantikan oleh anaknya Talhah.

Ia berkuasa selama enam tahun dan meninggal pada tahun 213 H/828 M. Setelah itu, kekuasaan jatuh ke tangan saudaranya, Abdullah bin Thahir sampai tahun 230 H/845 M. Kemudian ia digantikan lagi oleh putranya yang bernama Thahir II sampai tahun 248 H/862 M. Sejak masa Abdullah, Thahiri dengan ibukotanya di Naisabur, menguasai wilayah Rayy dan Kirman (keduanya termasuk Iran sekarang), di samping Khurasan sendiri. Sekalipun secara resmi Dinasti Thahiri hanyalah merupakan gubernur dari Khalifah Abbasiyyah (al-Ma’mun), tetapi kekuasaan mereka demikian kuat di Khurasan, sehingga wilayah itu tidak dapat dipindahkan ke propinsi lain.

Setelah Abdullah meninggal, Thahir bin Abdullah menyatakan diri sebagai pengganti Abdullah bin Thahir. Pada saat yang sama (dari tahun 237 h/851 M sampai tahun 253 H/867 M) putra Abdullah yang lain, Muhammad memegang jabatan sebagai sahib al-syurtah (komandan tentara). Ternyata Muhammad adalah penguasa yang lemah. Ia menyerah kepada Ya’qub bin Lais, pendiri Dinasti Saffariyah. Pada tahun 259 H/873 M di Khurasan.

Kekalahan itu terulang lagi pada tahun 262 H/876 M di Dair al-Aqul, yang akhirnya ditawan. Namun, setelah dibebaskan, Muhammad diangkat kembali oleh Khalifah Abbasiyyah sebagai gubernur di Khurasan pada tahun 271 H/885 M dan meninggal pada tahun 259 H/873 M. Perjuangan untuk menyelamatkan Dinasti Thahiri dilakukan oleh saudaranya, Husain bin Thahir. Namun, seluruh upaya yang dilakukan tidak membawa hasil apapun, sehingga jatuhlah dinasti yang telah berkuasa selama 65 tahun dan digantikan oleh Dinasti Saffariyah.[4]

Sebelum meninggal, Harun al-Rasyid telah menyiapkan dua anaknya yang diangkat menjadi putra mahkota untuk menjadi khalifah: al-Amin dan al-Ma'mun. Al-amin dihadiahi wilayah bagian barat,[5] sedangkan al-Ma'mun dihadiahi wilayah bagian Timur. Setelah Harun al-Rasyid wafat (809 M.) al-Amin putra mahkota tertua tidak bersedia membagi wilayahnya dengan al-Ma'mun. Oleh karena itu,pertempuran dua bersaudara terjadi yang akhirnya dimenangkan oleh al-Ma'mun.Setelah perang usai, al-Ma'mun menyatukan kembali wilayah Dinasti Bani Abbas.

Untuk keperluan itu, ia didukung oleh Tahir seorang panglima militer, dan saudaranya sendiri yaitu al-Mu'tasim.Sebagai imbalan jasa, Tahir diangkat menjadi panglima tertinggi tentara Bani Abbas dan gubernur Mesir (205 H). Wilayah kekuasaannya diperluas sampai ke Khurasan (820-822 M.) dengan janji bahwa jabatan itu dapat diwariskan kepada anak-anaknya.

Dinasti Tahiriyah di Khurasan mengakui khilafah Abasiyah Dinasti ini dipimpin oleh empat amir: Tahir Ibn Husein (207-213 H.), Abdullah Ibn Tahir (213-248), dan Muhammad Ibn Tahir (248-259 H.). Dinasti Tahiriyah dianggap paling berjasa karena berhasil menjadikan kota Naisabur sebagai kota ilmu dan kebudayaan di Timur. Akan tetapi, khalifah Tahiriyah tidak berdya ketika Khalifah Bani Abbas tidak mendukung lagi kekuasaannya dan malah mendukung dinasti Safari yang melakukan ekkspansi dan dianggap berhasil oleh Khalifah Abassiyah (al-Mu'tamid dan al-Muwafaq). Oleh karena itu, dinasti Safari berhasil menghancurkan dinasti Tahriri di Khurasan dan berdirilah dinasti Safari.

Dinasti safariyah (254-289 H / 867-903 M) di Sajastan

Dinasti ini didirikan oleh Ya’kub bin Layts al-Saffar. Gelar al-Saffar dile-katkan di belakang namanya ini menunjukkan bahwa ia adalah seorang ahli dalam menempa tembaga, semacam mpu di Jawa,yang diwarisi secara turun temurun. Kegagalan usaha keluarganya, menjadikan ia terikat dengan sekelompok orang yang mengatasnamakan masyarakat kecil untuk melakuan gerakan perampokan.

Sasaran dari kegiatannya ini adalah para saudagar kaya yang melintas di tengah perjalanan, kemudian diserang dan diambil harta mereka kemudian diberikan kepada para fakir miskin.
Pada mulanya, Ya’kub bin Layts bersama saudaranya bernama ‘Amr bin Layts membantu pasukan pemerintah Bagdad dalam memberantas pemberon-takan yang dilakukan oleh sisa-sisa tentara Thahiriyah di wilayah Sijistan.

Keberhasilannya di Sijistan, membawanya ke puncak pimpinan tentara sebagai komandan untuk menaklukkan wilayah Herat, Sind, dan Makran. Kemudian Kirman dan Persia yang digabungkan dengan Balkh. Atas jasa dan prestasinya, khalifah al-Mu’tamid mengangkatnya menjadi gubernur membawahi wilayah Balkh, Turki stan, Kirman, Sijistan dan Sind. Ambisi Ya’kub ternyata tidak cukup sampai di situ. Ia terus bergerak menuju wilayah lain dan mengalahkan Fars pada 869 M, dan menduduki Syiraj, ibu kota Fars.

Kemudian pada 873 M men-duduki Nisabur dan sisa wilayah Thahiriyah. Dua tahun kemudian, tepatnya pa-da 875 M, dari Fars ia bergerak menuju Bagdad, dan berusaha menduduki ibu kota tersebut. Tetapi menjelang ibu kota, lebih kurang 20 km, pasukannya dihadang oleh pasukan al-Muwaffak pada 876 M. Kekalahannya ini tidak menyurutkan ambisinya, malah ia bersedia mengadakan perundingan. Namun sebelum dilaksanakan, ia keburu mening¬gal dunia pada 879 M. Meskipun ia dianggap se¬bagai gubernur yang tidak loyal, yang melampaui batas mandat yang diberikan khalifah, tetap saja jabatan gubernur untuk wilayah Timur dipercayakan kepada saudara Ya’kub al-Layts, yaitu Amr bin Layts.

Dinasti Shaffariyah yang didirikan oleh Ya’kub bin Layts al-Saffar ini justeru mengalami kehancuran ketika jabatan tertinggi di pemerintahan dipegang oleh ‘Amr bin al-Layts, karena ambisinya yang ingin memperluas wilayah keku-asannya hingga Transoxania (ma wara al-nahr). Di wilayah ini gerakannya di¬ham-bat oleh Bani Saman, dan beberapa daerah kekuasaannya diambil alih (aneksasi) oleh Bani Saman, kecuali Sijistan. Tetapi kekuasannya di Sijistan tidak sepenuh-nya merdeka, karena ia harus tunduk di bawah kekuasaan Bani Saman, dan posisi jabatan gubernur tetap berada di bawah Bani Shaffariyah hingga abad ke-15 M, meskipun seringkali terjadi pergantian penguasa.

Terkadang Bani Shaffariyah silih berganti berada di bawah penguasa lain setelah dinasti Samaniyah, seperti menjadi penguasa lokal (gubernur) yang tunduk pada pemerintahan dinasti Ghaznawiyah, Bani Saljuk, dan Bangsa Mongol, dan tidak lagi menjadi kepanjangan tangan pemerintahan Bani Abbas di Bagdad. Tidak dapat diketahui secara pasti mengapa dinasti ini bertahan begitu lama.

Hal pasti yang dapat ditegaskan di sini bahwa keberadaan dinasti ini karena persoalan politik praktis dan pragmatis. Sebab menurut Jamaluddin Surur, salah satu ciri khas dari dinasti ini adalah ambisinya untuk memperoleh kekuasaan otonomi di Sijistan, sebagai pusat pemerintahannya. Karenannya, ketika kekuasaan datang silih berganti, dinasti ini tetap memperoleh hak otonom di Sijistan hingga abad ke-15 M.

Dalam masa pemerintahannya,terdapat perkembangan yang menarik, terutama perkembangan civil society berkaitan dengan keadilan. Dinasti Saffariyah meletakkan dasar-dasar keadilan dan kesamaan hak di antara orang-orang miskin di Sijistan. Karena itu, faktor inilah yang kemungkinan menjadi salah satu sebab lamanya dinasti ini berkuasa di Sijistan, karena ia begitu peduli dengan keadaan masyarakat yang menjadi pendukung pemerintahan, terutama komunitas masyarakat miskin.

Dinasti Samaniyah (261 H-389 H / 874 M-999 M) di Transoxania

a. Mengenal Dinasti Samaniyah

Dinasti Samaniyah atau dikenal juga sebagai Kekaisaran Samaniyah atau hanya Samaniyah adalah negara atau kekaisaran Tajik yang penting di kawasan Asia Tengah dan Khorasan Raya. Dinasti Samaniyah didirikan oleh Nashr bin Ahmad pada tahun 819 M. Nama “Samaniyah” diambil dari nama kakek Nashr bin Ahmad yang bernama Saman Khuda. Saman Khuda adalah penduduk Iran yang menganut ajaran Islam Sunni atau yang dikenal juga dengan nama Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah (Ahlus-Sunnah wal Jama'ah).

Hal ini cukup unik karena Saman Khuda memiliki darah kebangsawanan teokratik Zoroastrian yang umumnya menganut ajaran agama Zoroastriasnisme atau Zoroaster yang berasal dari Persia kuno. Ajaran agama islam Sunni juga dijadikan agama untuk pengikut dinasti ini. Saman Khuda adalah orang yang menjadi cikal bakal berdirinya keluarga samaniyah (keturunan saman) yang cukup terpandang di wilayah Transoxiana dan Persia. Dinasti samaniyah adalah dinasti persia pertama di Iran Raya dan Asia Tengah setelah penaklukan oleh Arab dan runtuhnya Kekaisaran Sasania.

b. Zaman Keemasan Dinasti Samaniyah

Dinasti samaniyah mencapai era keemasannya pada masa pemerintahan Abd Al-Malik I (855 – 911 M). Karena pada masa ini dinasti samaniyah berhasil memperluas wilayah kekuasaannya hingga Sijistan, Karman, Jurjan, Rayyi, dan Tabaristan. Bahkan pada tahun 900M Kekaisaran Samaniyah berhasil merebut wilayah Khorasan Raya dari genggaman Dinasti Saffariyah. Khorasan Raya adalah istilah modern untuk wilayah timur Persia kuno. Khorasan Raya meliputi wilayah yang kini merupakan bagian dari Iran, Afganistan, Tajikistan, Turkmenistan dan Uzbekistan. Setelah berhasil menaklukan Khorasan, dinasti samaniyah terus memperluas wilayahnya hingga mencapai wilayah-wilayah di bagian Asia Utara dan beberapa bagian wilayah Asia Selatan yang kini menjadi negara Pakistan.

Dinasti atau kekaisaran Samaniyah beribu kota di Bukhara (sekarang masuk wilayah Uzbekistan) dan berbahasa Persia dalam kehidupannya sehari-hari. Pada masa keemasannya Kekaisaran Samaniyah memiliki luas daerah kekuasaan hingga 2.850.000 km². Kekaisaran Samaniyah memiliki bentuk pemerintahan Emirat, yang dipimpin oleh seorang emir (Gubernur). Namun seiring berkembangnya dinasti ini kemudian akan diangkat para sub-gubernur yang akan mengelola wilayah kekaisaran samaniyah yang semakin besar. Namun hal ini pula yang di anggap menjadi salah satu penyebab jatuhnya kekaisaran Samaniyah.

Mayoritas penduduk dinasti Samaniyah bermata pencaharian sebagai pedagang. Salah satu yang menjadi alasan berkembangnya dinasti ini adalah letak wilayahnya yang sangat strategis bagi perekonomian pada masa itu. Ibu kota dinasti samaniyah Bukhara, serta beberapa kota lainnya seperti Samarkand dan Bactra terletak pada “Jalur Sutra”.

Jalur Sutra adalah rute yang digunakan untuk perdagangan antar Negara pada masa itu, Jalur Sutra menghubungkan rute perdagangan antara Cina dan Constantinople , bahkan Roma. Sebagai kota persinggahan yang begitu penting pada saat itu tentulah Bukhara dapat berkembang dengan pesat, karena para pedagang dari Cina maupun Roma sering kali singgah sebelum melanjutkan perjalanan mereka.

Berikut kota yang merupakan rute perdagangan Cina hingga Roma yang melalui kota Bukhara : Chang’an – Anxi – Dunhuang – Kashi – Samarqand – Bukhara – Merv – Seleucia(Sekarang Baghdad) – Palmyra–Antioch–Constantinople–Roma.

Karena eksistensi dan pengaruhnya yang begitu kuat dalam dunia perdagangan pada masa itu, dinasti samaniyah memiliki alat pertukarannya sendiri, yaitu kepingan koin perak yang dibuat oleh para pengrajin Kekaisaran Samaniyah, Koin-koin itu disebut dengan koin perak samanid. Dengan kekuatan Ekonomi yang memadai wajar jika dinasti samaniyah menjadi dinasti yang kuat dan besar.

Dinasti Samaniyah dan Perkembangan Islam

a. Bidang Seni

Salah satu kontribusi terbesar dinasti samaniyah bagi perkembangan islam di bidang seni adalah seni tembikar samanid, yang diproduksi di Neyshabur dan Samarkand. Para pengrajin tembikar dinasti ini mengembangkan tehnik melukis dengan bahan tanah liat setengah cair yang disebut Slip yang dicampur dengan cairan warna tipis (glazes), tehnik ini termasuk tehnik yang rumit pada masa itu. Bentuk paling sederhana dari tembikar produksi dinasti samanid adalah mangkuk dan piring yang umum digunakan dalam acara makan.

Tembikar buatan dinasti samanid memiliki berbagai motif unik yang membedakannya dengan tembikar biasa, yaitu adanya motif ataupun lukisan bergambar Joki samanid, burung, anjing laut, kepala sapi, serta desain kaligrafi Arab. Bahkan tembikar-tembikar ini memiliki beragam warna, tidak seperti tembikar lain yang umumnya berwarna coklat tanah. Tembikar samanid memiliki warna merah, kuning, ungu, hitam, hijau, dan lain sebagainya. Selain tembikar di kota Neyshabur juga dikembangkan seni pengecoran perunggu dan bentuk lainnya dari bidang metalurgi. Seni ini tumbuh subur selama periode dinasti Samaniyah.

b. Bidang Pendidikan

Kota Neyshabur selain memiliki peran penting dalam pengembangan seni Islam juga memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan pendidikan Islam. Para ahli berpendapat bahwa Madrasah pertama didunia dibangun dan dikembangkan di kota ini. Madrasah Neyshabur, di bawah naungan Dinasti Samaniyah berkembang menjadi salah satu pusat kebudayaan dan pendidikan terbesar di dunia Islam sepanjang abad ke-4 M. Pada perkembangannya Neyshabur memiliki semakin banyak madrasah sehingga kota ini kemudian dikenal sebagai kota kelahiran madrasah didunia.

Istilah Madrasah di Neyshabur merujuk pada lembaga pendidikan tinggi. Madrasah pertama di Neyshabur dikembangkan pada abad ke-4. Daerah Neyshabur sendiri saat itu mencakup sebagian Iran, sebagian Afghanistan dan bekas pecahan Uni-Sovyet antara Laut Kaspia dan Laut Aral. Bangunan Madrasah-Madrasah di Naisapur masih sangat sederhana.

Sulit membedakan, dari keformalannya, antara masjid dan bangunan madrasah. Karena hampir rata-rata madrasah di kota ini masih menyatu dengan tempat ibadah. Hanya beberapa saja yang sudah memisahkan diri dan memiliki bangunan sendiri. Namun, disinilah pertama kalinya digunakan istilah Madrasah untuk penyebutan sebuah lembaga pendidikan.

Kebanyakan madrasah pada saat itu bersifat teachers oriented, karena letak keberhasilan pendidikan sangat tergantung pada guru. Pada saat itu guru mempunyai wewenang dan kekuasaan untuk mengembangkan pendidikan sesuai dengan pertimbangannya sendiri. Sehingga, kualitas pendidikannya pun ditentukan oleh gurunya, bukan oleh pemilik tempat yang digunakan dalam proses pendidikan tersebut.

Pelajaran yang sangat diutamakan adalah pelajaran agama, khususnya membaca dan menghafal Al-Quran serta Sastra Arab, khususnya puisi-puisi dan syair. Kurikulum dan materi pelajaran ' belum disusun secara teratur. Guru mengajarkan apa saja yang ia kuasai. Oleh sebab itu, seorang guru, sebelum diterima sebagai pengajar, harus diuji terlebih dahulu tentang keahlian mengajar dan bidang ilmunya. Gurupun harus memperlihatkan ijazahnya sebelum mengajar.

Bentuknya adalah semacam legalisasi dari tempat ia belajar sebelumnya. Sehingga, ia dipercaya untuk memberikan pelajaran yang ia kuasai. Setiap guru hanya mengajar satu kitab saja. Murid yang telah menyelesaikan satu kitab dapat pindah ke madrasah lain untuk mempelajari kitab yang lain.

Seorang murid yang telah menamatkan buku/kitabnya pada seorang guru dan telah melampaui proses penilaian yang dilakukan oleh gurunya, akan memperoleh surat keterangan bahwa dia menguasai kitab tertentu yang diajarkan guru itu dan sanggup untuk mengajarkannya kepada orang lain (semacam rekomendasi mengajar). Surat keterangan itu dapat pula disebut ijazah. Namun, ijazah itu bukan berisi nilai prestasi belajar murid dan bukan pula transkrip nilai dari berbagai mata pelajaran seperti saat ini.

Pada masa awal perkembangan madrasah tersebut, tidak ada jadwal pelajaran yang teratur. Seorang murid bebas menentukan dan meneruskan pelajarannya selama ia memiliki kecerdasan dan kesanggupan dan gurunya memadai untuk maksud tersebut. Waktu bukanlah faktor utama untuk menyelesaikan pendidikan dan pengajaran, begitu pula usia tidak menjadi syarat utama. Proses belajar-mengajar pada saat itu berlangsung secara sederhana. Guru membacakan pelajaran dari satu teks. Murid menyalin teks tersebut sebagaimana yang dibacakan gurunya. Murid kemudian membacakan secara lantang teks tersebut.

Hubungan guru dan murid sangat akrab seperti hubungan orang tua dengan anaknya yang penuh perhatian dan kasih sayang. Proses belajar mengajar diselenggarakan dengan segala kerendahan hati. Sebuah kerangka pelajaran yang mudah dimengerti oleh murid diberikan oleh para guru, lalu ditambah dan dilengkapi dengan rincian sepanjang proses belajar-mengajar. Kesalahan murid diperbaiki tetapi tidak dengan kekerasan. Kegiatan belajar mengajar berlangsung dari pagi sampai siang.

Bangunan madrasah di kota ini mempunyai ciri khusus, yaitu mempunyai sebuah pekarangan luas yang disebut "shahn". Terdapat pula kamar-kamar untuk para pelajar dan dewan guru. Setiap kamar memiliki pilar-pilar tinggi. Bagian terpenting dari madrasah ini adalah ruangan kuliah berbentuk aula besar yang disebut "iwanat", ruangan ini dilengkapi dengan mimbar layaknya ruang sidang. Iwanat inilah yang menjadi ciri dari Madrasah yang ada di Neyshabur dengan madrasah yang berkembang pada periode-periode setelahnya. Madrasah juga bersanding dengan mesjid tempat para pelajar dan juga dewan guru beribadah.

d. Kejatuhan Dinasti Samaniyah

Walaupun memiliki kekuatan Ekonomi yang kuat dan juga memiliki wilayah kekuasaan yang besar, namun dinasti Samaniyah tidak terlepas dari kekurangan yang terbukti telah menghancurkan dinasti-dinasti lain pada periode yang sama, selain persoalan biasa yang muncul dari pergolakan Arristrokrasi militer (pemberontakan dalam wilayah kekuasaan serta perebutan kekuasaan dengan kekaisaran lain) dan situasi sulit menyangkut suksesi pemerintahan (adanya perebutan kekuasaan baik ditingkat Gubernur maupun Sub-Gubernur) , muncul juga ancaman baru yang di yakini merupakan penyebab terbesar jatuhnya dinasti Samaniyah, yakni para pengembara Turki yang bergerak menuju utara, bahkan di dalam negara sendiri, kekuasaan berangsur-angsur diambil alih oleh mereka yang tadinya budak-budak Turki, padahal mereka merupakan golongan yang sering diadili oleh penguasa Samaniyah.

Salah seorang budak Turki yang disukai dan dihargai oleh penguasa Samaniyah, serta dianugerahi posisi penting dalam pemerintahan adalah Alpatigin, yang memulai kariernya sebagai pengawal. Kariernya kemudian meroket menjadi kepala pengawal dan pada tahun 961 dipromosikan menjadi gubernur Khorasan. Tetapi segera setelah itu ia tidak lagi disukai oleh penguasa Samaniyah yang baru hingga akhirnya ia pergi menuju daerah perbatasan sebelah timur kerajaan.

Disini, pada tahun 962 M dia merebut wilayah Ghaznah yang terletak di Afghanistan dari tangan penguasa Pribumi, kemudian mendirikan sebuah kerajaan independen yang kemudian berkembang menjadi imperium Ghaznawi, yang wilayahnya meliputi Afganistan dan Punjab (962-1186) tetapi penegak Ghaznawi yang sesungguhnya adalah Subuktigin (976-997).

Seorang budak dan menantu Alpatigin. Enam belas raja Ghaznawi yang kemudian menggantikannya adalah keturunan langsung darinya. Subuktigen memperluas wilayah kekuasaannya hingga meliputi wilayah pesiar di India dan Khorasan yang pertama kali ia kuasai ketika masih berada di bawah kekuasaan Samaniyah. Kemudian tekanan dari dinasti turki ini semakin kuat, salah satu wilayah Samaniyah, sebelah selatan Oxus, perlahan-lahan dicaplok pula oleh dinasti Ghaznawi, dan terus seperti itu.

Akhirnya setelah mendapat tekanan selama kurang lebih 35 tahun dari Turki pada tahun 999 M dinasti samaniyah runtuh. Saat itu dinasti Samaniyah berada di bawah pimpinan Emir Abd Al-Malik II (911 – 999 M). Dapat disimpulkan runtuhnya dinasti samaniyah diakibatkan oleh adanya perpecahan dalam pemerintahannya sendiri, juga adanya beberapa tindakan penindasan para sub-gubernur yang menghasilkan pemberontakan. Karena perpecahan itulah dinasti samaniyah tidak mampu bersaing dengan kekuatan Turki yang semakin besar sampai pada akhirnya Jatuh.

Faktor-Faktor Munculnya Dinasti Kecil di Timur

Munculnya dinasti-dinasti kecil yang berada di Timur dan Barat dikarenakan beberapa faktor antaranya:[6]

a. Luasnya wilayah kekuasaan daulat Abbasiyah sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukan. Bersamaan dengan itu, tingkat saling percaya di kalangan para penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah.

b. Dengan profesialisasi angkatan bersenjata, ketergantungan khalifah kepada mereka sangat tinggi.

c. Keuangan negara sangat sulit karena biaya yang dikeluarkan untuk tentara bayaran sangat besar. Pada saat kekuatan militer menurun, khalifah tidak sanggup memaksa pengiriman pajak ke Baghdad.

Kesimpulan

Dari berbagai pemaparan materi diatas maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:

Dinasti-dinasti kecil yang muncul pada masa daulah Abbasiyah di timur,diantaranya

1. Dinasti kecil di timur: dinasti thahariya, dinasti safriyah, dinasti smaniyah.

2. Munculnya dinasti-dinasti kecil yang berada di Timur dan Barat dikarenakan beberapa faktor antaranya:

a. Luasnya wilayah kekuasaan daulat Abbasiyah sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukan. Bersamaan dengan itu, tingkat saling percaya di kalangan para penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah.

b. Dengan profesialisasi angkatan bersenjata, ketergantungan khalifah kepada mereka sangat tinggi.

c. Keuangan negara sangat sulit karena biaya yang dikeluarkan untuk tentara bayaran sangat besar. Pada saat kekuatan militer menurun, khalifah tidak sanggup memaksa pengiriman pajak ke Baghdad.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah,Taufik, Ensiklopedi Dunia Islam, Jilid. II; Jakarta: PT. Ikhtiar Baru Van Hoeve, T.t

Amstrong, Karem. Islam dan Sejarah Singkat (terjemahan A. Short History). Yogyakarta: Jendela. 2005.

A. Hasyimy, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta; Bulan Bintang, 1979. Glasse, Chril, Ensiklopedi Islam, PT. Raja Grafindo Persada; Jakarta: 1999

Http/google.com

Mubarak Jaih, Sejarah Peradaban Islam, bandung; CV. Pustaka Islamika, 2008.

Philip, K. Hitti,. History of Arabs (terjemahan). Jakarta: Serambi Ilmu Semesta. 2006

.Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam III. Jakarta: Al-Husna Zikra. 2000

Sunanto, Musyfirah, Sejarah islam klasik, Jakarta cet 1. 2001

W. Montgomery, Watt. Kejayaan Islam. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya. 1990.

Yatim, Badry. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2007.

Catatan Kaki

[1] Http/google.com (Dinasti kecil Bani Abbasiyah di Bagdad) 10-12-2010 M
[2]Ibid.

[3]Ahmad al-‘Usairi, op. cit., h. 262.

[4]Taufik Abdullah, op. cit., h. 115.

[5] Taufik Abdullah, Op. Cit., h.114

[6] A. Hasyimy, Sejarah Kebudayaan Islam,( Jakarta; Bulan Bintang, 1979) h.34

loading...