Amalan-Amalan Keliru di Bulan Sya’ban Yang Tidak Disyariatkan

Advertisement
Tongkronganislami.net - Bulan Sya’ban merupakan salah satu bulan yang mulia. Namun hadirnya bulan ini tidak begitu menjadi perhatian bagi sebagian kaum Muslimin mengingat bulan setelahnya adalah Ramadhan; bulan tang selalu ditunggu kehadirannya oleh umat Islam. Padahal Rasulallah saw bersabda:

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْتُكَ تَصُومُ فِي شَعْبَانَ صَوْمًا لَا تَصُومُ فِي شَيْءٍ مِنَ الشُّهُورِ إِلَّا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَشَهْرِ رَمَضَانَ تُرْفَعُ فِيهِ أَعْمَالُ النَّاسِ فَأُحِبُّ أَنْ لَا يُرْفَعَ لِي عَمَلٌ إِلَّا وَأَنَا صَائِمٌ

“Dari Usamah bin Zaid, ia berkata; Aku bertanya (kepada Rasulallah saw), ‘Wahai Rasulallah! Aku melihat engkau pada bulan Sya’ban banyak berpuasa dari bulan-bulan yang lain kecuali Ramadhan.’ Beliau menjawab: ‘Bulan itu (Sya’ban) antara Rajab dan Ramadhan, banyak dilupakan oleh manusia. Pada bulan Sya’ban, amalan manusia diangkat kepada Allah swt. Dan aku senang bila amalku dinaikkan sedang aku berpuasa
[H.R. an-Nasa’i no. 2357, Ibnu Abi Syaibah no. 9765. Dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani (lihat Tamam al-Minnah Fii at-Ta’liq ‘Ala Fiqh as-Sunnah, I: 412)].”

Khusus bagi sebagian kaum Muslimin di Indonesia, terdapat beberapa amalan yang dilakukan ketika berada di bulan Sya’ban, baik itu pertengahan maupun menjelang bulan berikutnya (Ramadhan). Beberapa diantaranya adalah nyadran, padusan, ruwahan, dan sebagainya. Lantas bagaimanakah amalan tersebut? Apakah bisa dibenarkan dalam timbangan syari’at? Semoga tulisan singkat berikut dapat menambah wawasan kita tentang hal ini.

Amalan-Amalan Keliru di Bulan Sya’ban Yang Tidak Disyariatkan


Berikut paparan singkat tentang amalan yang bisa dilakukan oleh sebagian masyarakat Muslim di bulan Sya’ban.

Padusan sebelum memasuki bulan Ramadhan

Padusan (Jawa) secara harfiyah berarti mandi. Maksudnya, orang yang akan memasuki bulan Ramadhan melaksanakan mandi terlebih dahulu. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada hari terakhir di bulan Sya’ban sebagai tanda kesiapan dan kesucian seseorang ketika hendak memasuki bulan Ramadhan. Mandi dilakukan di tempat tertentu seperti sendang (kolam yang airnya bersumber dari mata air) tempuran (tempat bertemunya arus dari beberapa sliran sungai), sumber mata air, dan lain sebagainya dan sebagian besar dilakukan ketika sore pada hari terkahir di bulan Sya’ban.

Mereka yang melakukan ini berharap agar puasa Ramadhan yang akan mereka jalankan menjadi lebih bermakna dan barakah. Meskipun sebagian lainnya hanya sekedar ikut tradisi yang sudah sedemikian berakar di masyarakat. Bahkan biasanya kegiatan padusan di lakukan di tempat umum (kolam, pantai) dan bercampur baur antara laki-laki dan perempuan.

Kegiatan seperti ini adalah tidak disyari’atkan dan tidak terdapat contohnya dari Rasulallah saw dan generasi Sahabat maupun sesudahnya. Sebab amal ibadah atau yang dilakukan dengan tujuan ibadah kepada Allah setelah datangnya syari’at adalah dilarang kecuali ada dalil yang menerangkannya. Adapun jika terkait dengan kegiatan sehari-hari seperti jual beli, maka hal itu dibolehkan selama tidak ada dalil yang melarangnya (lihat Syifa’ al-Ghalil, hal. 633. Lihat pula Af’al ar-Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wa Dalalatuh ‘ala al-Ahkam asy-Syar’iyyah, karya Muhammad bin Sulaiman bin Abdullah al-‘Asyqar al-‘Utaibiy, Jilid I: 384).

Nyadran/ziarah kubur menjelang Ramadhan
Pada dasarnya, ziarah kubur adalah dibolehkan bahkan disunnahkan jika niat awalnya adalah untuk mengingat kematian. Hal ini sebagaimana sabda Rasulallah saw:

فزُورُوا القبورَ فانها تُذَكِّرُ بالموتِ

“Berziarahlan ke kubur, sebab hal itu mengingatkan pada kematian [H.R. Abu Dawud (3234) Ibnu Majah (1569, 1572), an-Nasa’i (2034) dengan lafal زوروا القبور فإنها تذكركم الآخرة (Berziarahlah ke kubur. Sebab kubur mengingatkan kalian pada akhirat)].”

Namun jika mengkhususkan waktu tertentu untuk melakukan ziarah, maka hal ini tidak dibenarkan. Sebab mengkhususkan waktu tertentu -meskipun kita tidak berniat demikian- untuk melakukan ibadah tertentu adalah perbuatan mengada-ada dalam agama. Ziarah kubur boleh dilakukan kapan pun sebagai sarana untuk mengingat kematian.

Intinya, berziarah ke kubur bukan merupakan sesuatu yang dilarang. Namun jika disertai dengan keyakinan dan atau dikhususkan pada waktu-waktu tertentu, maka hal ini yang tidak dibolehkan. Sebab mengkhususkan suatu amal harus disertai dengan dalil yang valid.

Menghidupkan malam nisfu Sya’ban

Sebagian masyarakat ada yang mengisi malam nisfu Sya’ban (tanggal 15) dengan berbagai amalan seperti shalat, berdoa, berdzikir, membaca kisah orang-orang shaleh, dan sebagainya. Amalan seperti ini tidak dianjurkan -bahkan harus dijauhi- untuk dikerjakan mengingat tidak terdapat satu landasan valid dan sharih yang bisa dijadikan dasar untuk melakukan amalan tersebut (selengkapnya lihat Lathaif al-Ma’arif, hal. 247-248).

Terdapat juga amalan lain yang -mungkin- dilakukan oleh sebagian kaum Muslimin, yaitu shalat alfiyyah (seribu). Dinamakan demikian karena shalat ini dikerjakan sebanyak seratus rakaat dan pada setiap rakaat membaca surat al-Ikhlas sebanyak sepuluh kali. Amalan ini pun tidak memiliki dasar dan contoh dari Nabi saw maupun generasi awal Islam (lihat al-Bida’ al-Hawliyyah, hal. 299. Lihat pula al-Maudlu’at karya Ibn al-Jauziy, II: 127-130).

Ruwahan/ kirim doa bagi orang yang sudah meninggal di bulan Sya’ban

Amalan ini juga dilakukan pada sebagian kalangan masyarakat muslim. Ruwah (Jawa) bermakna arwah, yaitu bulan yang dianggap sebagai saat yang tepat bagi kaum kerabat untuk berkirim pahala -biasanya- berupa bacaan al-Qur’an (seperti surat Yasin). Amalan dan anggapan seperti ini adalah tidak dikenal dalam Islam dan merupakan sesuatu yang baru dalam ibadah.

Berkaitan dengan melakukan amal ibadah, dasar utama kita adalah mengikuti apa yang dicontohkan oleh baginda Rasulallah saw. Sebab sangat dikhawatirkan amal ibadah yang dilakukan tanpa dalil dan atau contoh akan menjerumuskan pelakunya pada perilaku bid’ah. Rasulallah saw bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

“Dari ‘Aisyah ra, ia berkata; Rasulallah saw bersabda: ‘Siapa saja yang membuat perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka ia tertolak (H.R. al-Bukhari no. 20, 2697 dan Muslim no. 1718).”

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa saja yang melakukan suatu amal yang bukan ajaran kami, maka amal itu tertolak (H.R. Muslim no. 1718).”

Abdullah bin Mas’ud berkata:

عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ اتَّبِعُوا وَلَا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: ‘Ikutiilah (petunjuk Rasulallah saw) dan jangan berbuat bid’ah, maka hal itu sudah cukup bagi kalian. (Sebab) setiap bid’ah adalah sesat
(Diriwayatkan oleh imam ath-Thabrani dalam ­al-Mu’jam al-Kabir, IX/154, no. 8770).”

Berdasarkan beberapa riwayat diatas, kita patut berhati-hati dalam beramal (ibadah) sehingga tidak termasuk kategori orang yang membuat perkara baru/bid’ah dan amal yang kita lakukan menjadi tertolak lagi sia-sia. Dalam riwayat yang lain, Rasulallah saw menceritakan:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الحَوْضِ وَلَيُرْفَعَنَّ مَعِي رِجَالٌ مِنْكُمْ ثُمَّ لَيُخْتَلَجُنَّ دُونِي فَأَقُولُ يَا رَبِّ أَصْحَابِي فَيُقَالُ إِنَّكَ لاَ تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud ra, dari Nabi saw beliau bersabda: Aku akan mendahului kalian di al-haudl (telaga). Dihadapanku tampak beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al-haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, itu adalah umatku.’ Lalu Allah berfirman, ‘Engkau sebenarnya tidak mengetahui ajaran yang tanpa tuntunan yang mereka buat sesudahmu (H.R. al-Bukhari no. 6576 dan Muslim no. 2297).”

Baca Juga: Amalan Utama Bulan Sya'ban yang Disyariatkan

Oleh karena itu, mari beribadah sesuai dengan apa yang dituntunkan oleh Rasulallah saw. Hal ini lebih aman untuk dilakukan dan lebih terjaga dari melakukan hal yang tidak dituntunkan oleh Nabi saw baik terkait dengan bulan rajab maupun selainnya. Wallahu a’lam bi ash-shawab.