Apakah Suntik dan Infus di Siang Hari Ramadhan Membatalkan Puasa?

Advertisement
Hukum Suntik dan Infus Ketika Puasa - Sehat adalah salah satu nikmat Allah yang terbesar bagi setiap hamba. Orang yang hati, pikiran, dan badannya sehat akan mengalami banyak kemudahan dalam hidup sekalipun berada dalam kondisi yang tidak berkecukupan di mata orang lain. Meskipun demikian, sehat adalah salah satu nikmat yang banyak disepelekan oleh hamba-Nya. Rasulallah saw bersabda:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ

“Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata; Rasulallah saw bersabda: ‘Ada dua nikmat yang banyak membuat manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu luang’ (H.R. al-Bukhari no 6412).”

Jika dikaitkan dengan ibadah puasa Ramadhan, orang beriman tentu akan merasa sedih jika tidak dapat melaksanakan puasa secara maksimal sampai penghujung bulan. Sebab memang Ramadhan adalah momen langka dalam hidup mengingat manusia tidak ada yang tahu tentang batas umurnya.

Namun bagaimana jika ada orang yang sakit yang mendapat suntikan dan atau infuse ketika puasa? Apakah puasanya tetap sah atau wajib mengqadla di hari yang lain ? berikut paparan singkatnya.
Apakah Suntik dan Infus di Siang Hari Ramadhan Membatalkan Puasa?
Infus saat Puasa

Berkaitan dengan suntik dan infus, terdapat dua kondisi yang menyertainya:

Pertama, suntikan yang tidak memberi efek seperti makanan atau minuman (التغذية), maka tidak membatalkan puasa baik dimasukkan melalui kulit, otot, atau urat nadi/vena. Sebab suntikan seperti ini tidak dapat dimaknai sebagai makan dan minum sehingga puasa tetap sah dan tidak ada kewajiban qadla di hari yang lain.

Kedua, suntik atau infus yang menimbulkan efek seperti makan dan minum, menguatkan tubuh, dan memungkinkan manusia untuk tidak makan dan atau minum selama beberapa. Suntik atau infus model seperti ini adalah membatalkan puasa sebab dapat dimaknai senagai makan dan minum. Oleh karena itu, tidak boleh melakukannya -seperti infus, suntik vitamin, hormon, dan sejenisnya- di siang hari saat puasa Ramadhan kecuali karena ada keadaan darurat. Dan orang yang melakukannya wajib mengganti puasa di hari yang lain.

Berkaitan dengan suntik dan infus, baik dilakukan di kulit, otot, atau nadi, syaikh Bin Baz menyatakan bahwa puasa orang yang melakukan suntik di siang hari adalah sah sebab tidak dapat disamakan dengan makan dan minum. Adapun jika ia bermaksud mengqadla puasanya, maka hal itu lebih baik. Dan mengakhirkan suntikan hingga tiba waktu bebuka adalah lebih baik dan lebih berhati-hati terhadap hukum, sekaligus sebagai jalan keluar dari perselisihan pendapat ulama (lihat Majmu’ al-Fatawa Syaikh Ibn Baz, XV: 257).

Pendapat senada juga dikemukakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Ustaimin. Beliau berkata, memberikan suntikan pada otot atau pangkal paha tidak memberi dampak apapun bagi orang yang berpuasa dan tidak menyebabkan batal puasanya. Sebab tindakan medik seperti ini bukan pembatal dan juga tidak bisa disamakan dengan makna pembatal puasa. Suntikan juga tidak dapat dimaknai sebagai makan dan minum karena ia memang bukan keduanya. Adapun yang berpengaruh terhadap puasa adalah suntik atau infus terhadap orang sakit (maupun sehat –pent) yang bisa mencukupkan seseorang dari makan dan minum untuk beberapa waktu (lihat Fatawa ash-Shiyam, hal. 220).

­Al-Lajnah ad-Daimah, komisi fatwa di Saudi Arabia juga pernah ditanya tentang hukum berobat dengan suntikan atau infus di siang hari Ramadhan baik untuk tujuan mengenyangkan (التغذية) atau pun berobat. Fatwa komisi menjelaskan bahwa berobat dengan suntikan pada otot maupun nadi adalah boleh dilakukan di siang hari Ramadhan. Namun orang yang puasa tidak diperkenankan mendapat suntikan atau infus yang mengenyangkan di siang hari Ramadhan, sebab hal ini dihukumi sama dengan makan dan minum bahkan pelakunya dianggap melakukan rekayasa hukum terkait dengan pembatal puasa. Adapun jika memungkinkan untuk menunda suntikan (berobat) di otot maupun nadi di malam hari, maka hal itu lebih utama (lihat Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, X: 252).

Berdasarkan pemeparan, suntikan (الحقنة) yang diperkenankan untuk dilakukan di siang hari ketika puasa, baik wajib maupun sunnah adalah suntikan yang tidak bersifat mengenyangkan dan atau memberi efek seperti makanan dan minuman. Dan infus masuk dalam kategori ini sehingga orang yang sakit atau pun sehat jika mendapatkan infus di siang hari puasa, maka puasanya batal dan wajib mengqadla jika ia sedang berpuasa wajib. Adapun suntikan untuk tujuan pengobatan dan tidak menimbulkan efek seperti makan dan minum, maka tidak mengapa dilakukan di siang hari saat puasa dan tidak menimbulkan dampak apapun, baik qadla apalagi kafarat. Namun menundanya hingga waktu berbuka -jika dimungkinkan- adalah lebih utama dan baik.

Baca Juga:
  1. Bolehkah orang yang bepergian setelah Fajar Membatalkan Puasa?
  2. Batalkah Puasa Saat Kita Pingsan?
  3. Apakah Menangis Bisa Membatalkan Puasa?

Wallahu a’lam bi ash-shawab.