Bolehkah orang yang bepergian setelah Fajar Membatalkan Puasa?

Advertisement
Tongkronganislami.net - Seseorang yang sedang melaksanakan puasa -baik sunnah seperti puasa Dawud maupun wajib ketika bulan Ramadhan- tidak terlepas dari aktivitas yang telah rutin dijalani dalam keseharian. Tidak jarang seseorang harus melakukan perjalanan jauh untuk suatu keperluan, dan di Indonesia itu bisa dilihat sekitar sepuluh hari menjelang akhir bulan Ramadhan dimana banyak orang berbondong-bondong untuk pulang ke kampung halaman (mudik).

Banyak umat Muslim yang melakukan perjalanan di malam hari, namun juga tidak sedikit orang yang melakukan perjalanan selepas fajar di bulan Ramadhan. Lantas bagaimanakah keadaan keduanya? Apakah orang yang bepergian dalam keadaan puasa diperbolehkan untuk berbuka? Berikut paparan singkatnya.

Hal yang perlu sama kita fahami, orang yang sedang melakukan safar mempunyai keringanan dalam melakukan ibadah tertentu, seperti puasa dan shalat. Dan khusus di bulan Ramadhan, orang yang sedang safar boleh berbuka (tidak berpuasa), baik ia merasa berat maupun tidak (lihat al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah, XXVIII/73). Hal ini sebagaimana irman Allah:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَر

“Siapa saja diantara kalian sedang sakit atau dalam perjalanan/safar (dan tidak berpuasa) maka wajib mengganti di hari yang lain [Q.S. al-Baqarah (2): 184].”

Namun sebagian kaum Muslimin masih menyimpan pertanyaan, manakah yang lebih utama untuk dilakukan oleh orang yang sedang dalam perjalanan? Berpuasa atau tidak?
Bolehkah orang yang bepergian setelah Fajar Membatalkan Puasa
Bepergian dengan Pesawat

Berkaitan dengan keadaan orang safar, bisa digambarkan dengan beberapa poin berikut:

Pertama, jika puasa tidak memberi dampak terhadap diri orang yang bersafar, maka yang lebih utama adalah berpuasa (lihat Radd al-Mukhtar, II: 421-423, Hasyiyah ad-Dasuqiy, I: 515, Mughn al-Muhtaj, I: 529). Rasulallah saw bersabda:

عَنْ أُمِّ الدَّرْدَاءِ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فِي حَرٍّ شَدِيدٍ حَتَّى إِنْ كَانَ أَحَدُنَا لَيَضَعُ يَدَهُ عَلَى رَأْسِهِ مِنْ شِدَّةِ الْحَرِّ وَمَا فِينَا صَائِمٌ إِلَّا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ

“Dari Ummu Darda` dari Abu Darda' radliallahu 'anhu, ia berkata; "Kami pernah keluar bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di bulan Ramadlan saat terik matahari begitu menyengat hingga salah seorang dari kami meletakkan tangannya di atas kepala. Di antara kami tidak ada yang berpuasa kecuali Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan Abdullah bin Rawahah (H.R. Muslim no. 1122).”

Dalam Riwayat yang lain, beliau menerangkan:

عَنْ حَمْزَةَ بْنِ عَمْرٍو الْأَسْلَمِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَجِدُ بِي قُوَّةً عَلَى الصِّيَامِ فِي السَّفَرِ فَهَلْ عَلَيَّ جُنَاحٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ رُخْصَةٌ مِنْ اللَّهِ فَمَنْ أَخَذَ بِهَا فَحَسَنٌ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَصُومَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ

“Dari Hamzah bin Amru Al Aslami radliallahu 'anhu, bahwa ia berkata, "Wahai Rasulullah, aku kuat untuk berpuasa dalam perjalanan. Berdosakah jika aku berpuasa?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Berbuka puasa saat dalam perjalanan merupakan rukhshah (keringanan) dari Allah. Siapa yang mengambilnya maka itu adalah baik, namun siapa yang lebih suka untuk berpuasa, maka tidak ada dosa atasnya (H.R. Muslim no. 1121).”

Kedua riwayat ini memberi gambaran bahwa puasa ketika safar merupakan pilihan; melaksanakan atau tidak. Namun bagi orang yang mampu melaksanakannnya maka puasa Ramadhan lebih baik ditunaikan ketika itu. Hal ini mengingat ia sedang berada pada bulan yang agung dan utama, sekaligus sebagai tindakan bersegera dalam melaksanakan kewajiban.

Kedua, membatalkan puasa adalah lebih baik bagi orang yang sedang safar jika ia merasa berat dalam melaksanakannya. Sehingga apabila seseorang tetap melaksanakan puasa disertai dengan adanya rasa berat ketika menjalankannya, maka dihukumi makruh. Sebab melaksanakan hal yang mendatangkan rasa berat (masyaqqah) padahal terdapat keringanan (rukhshah) dalam pelaksanaannya adalah tindakan berpaling dari keringanan Allah swt. Berkiatan dengan ini, Rasulallah saw bersabda:

عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ

“Dari Nafi' dari Ibnu Umar dia berkata; Rasulullah Shallallahu'alaihi wa Sallam bersabda: "Allah mencintai jika rukhshah (keringangan dari) -Nya dilaksanakan sebagaimana Dia benci jika kemaksiatan kepada-Nya terjadi [H.R. Ahmad (5866, 5873), Ibnu Hibban (2742), al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra, III: 140. Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth].”

Pada riwayat lainnya, Rasulallah saw menerangkan:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَرَأَى زِحَامًا وَرَجُلًا قَدْ ظُلِّلَ عَلَيْهِ فَقَالَ مَا هَذَا فَقَالُوا صَائِمٌ فَقَالَ لَيْسَ مِنْ الْبِرِّ الصَّوْمُ فِي السَّفَرِ

“Dari Jabir bin 'Abdullah radliallahu 'anhu berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah dalam suatu perjalanan melihat kerumunan orang, yang diantaranya ada seseorang yang sedang dipayungi. Beliau bertanya: "Ada apa ini?" Mereka menjawab: "Orang ini sedang berpuasa". Maka Beliau bersabda: "Tidak termasuk kebajikan berpuasa dalam perjalanan (H.R. al-Bukhari no. 1946)."

Ketiga, seseorang yang benar-benar merasa berat untuk berpuasa atau bisa membahayakan jiwanya, maka puasa yang ia lakukan dihukumi haram. Rasulallah saw bersabda:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَامَ الْفَتْحِ إِلَى مَكَّةَ فِي رَمَضَانَ فَصَامَ حَتَّى بَلَغَ كُرَاعَ الْغَمِيمِ فَصَامَ النَّاسُ ثُمَّ دَعَا بِقَدَحٍ مِنْ مَاءٍ فَرَفَعَهُ حَتَّى نَظَرَ النَّاسُ إِلَيْهِ ثُمَّ شَرِبَ فَقِيلَ لَهُ بَعْدَ ذَلِكَ إِنَّ بَعْضَ النَّاسِ قَدْ صَامَ فَقَالَ أُولَئِكَ الْعُصَاةُ أُولَئِكَ الْعُصَاةُ

“Dari Jabir bin Abdullah radliallahu 'anhuma, bahwa pada tahun Fathu Makkah (pembebasan kota Mekkah) Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar menuju Makkah, yakni tepatnya pada bulan Ramadhan. Saat itu, beliau berpuasa hingga sampai di Kura' Al Ghamim, dan para sahabat pun ikut berpuasa. Kemudian beliau meminta segayung air, lalu beliau mengangkatnya hingga terlihat oleh para sahabat kemudian beliau meminumnya. Setelah itu dikatakanlah kepada beliau, "Sesungguhnya sebahagian sahabat ada yang terus berpuasa." Maka beliau bersabda: "Mereka adalah orang-orang yang bermaksiat, mereka adalah orang-orang yang bermaksiat (H.R. Muslim no. 1114).”

Pada riwayat yang lain, Rasulallah saw bersabda:

عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, beliau berkata; Rasulallah saw bersabda: ‘Tidak boleh berbuat madlarat dan hal yang menimbulkan madlarat [H.R. Ibnu Majah (2341), Ahmad (2865), ath-Thabrani (11806), al-Baihaqi dalam al-Mu’jam al-Kabir, VI: 69. Dinilai shahih oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth].”

Berdasarkan pemaparan diatas, orang yang sedang melakukan safar diberi keringanan untuk mengqashar shalat atau berbuka/tidak berpuasa dan kemudian mengganti puasa di hari yang lain. Namun jika safar menyebabkan mudlarat seperti mual, pusing, muntah, dan sejenisnya maka sangat dianjurkan untuk membatalkan puasa ketika itu dan mengambil keringanan yang Allah sediakan. Adapun jika sampai pada taraf kondisi yang mengancam keselamatan jiwa, maka diharamkan untuk berpuasa.

Baca Juga:
  1. Air Tertelan saat Berwudhu dan Air Masuk Telinga saat Mandi di Bulan Ramadhan
  2. Hukum dan Kriteria Muntah yang Membatalkan Puasa
  3. Meninggal, Namun Memiliki Hutang Puasa Ramadhan

Dan bagi yang tidak terhalang oleh hal-hal diatas, maka dianjurkan untuk tetap berpuasa (lihat surat al-Baqarah: 184). Wallahu a’lam bi ash-shawab.

loading...