Hukum Buka Warung Makan ketika Bulan Puasa Ramadhan

Advertisement
Hukum Buka Warung Makan ketika Orang-orang Berpuasa (Ramadhan)

Tongkronganislami.net - Di beberapa Negara dengan mayoritas Muslim, Ramadhan merupakan momen langka yang selalu dinanti kedatangannya. Sebab agama Islam mengajarkan Ramadhan merupakan bulan yang dipenuhi barakah dan pelipat gandaan pahala sampai batas yang hanya diketahui oleh Allah swt. Pun setiap Muslim mengetahui bahwa belum tentu ia punya kesempatan untuk bertemu dengan bulan mulia ini pada tahun mendatang mengingat batas umur manusia tidak ada yang tahu kecuali Allah swt semata. Meski beberapa oknum tidak menyambutnya dengan penuh antusias. Atau antusiasme penyambutan Ramadhan didasari oleh motivasi yang berbeda; bukan karena Allah atau setidaknya tidak sepenuhnya karena Allah. Mudah-mudahan Allah swt menjauhkan kita dari pencuri niat dalam ibadah.

Karena didasari oleh hal ini, hampir semua wilayah dengan mayoritas Muslim -baik secara formal maupun hanya sebatas norma kemasyarakatan- melarang warganya untuk membuka warung makan di siang hari. Beberapa hanya menganjurkan dan menutup sebagian besar muka warung sebagai pertanda bahwa orang yang puasa dilarang masuk, hanya orang yang punya udzur Syar’i yang diperkenankan untuk membeli makanan di tempat itu seperti wanita haid, musafir, anak kecil, dan sebagainya. Lalu bagaimana Islam (baca:fikih) memandang hal ini? Apakah boleh menjual makanan kepada non Muslim? Berikut bahasan singkatnya.

Hukum Buka Warung Makan ketika Bulan Puasa Ramadhan


Berkaitan dengan jual beli pada siang hari bulan Ramadhan, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian bersama:

Pertama, hukum jual beli antara seorang Muslim dengan Muslim lainnya di siang hari Ramadhan.

Kedua, jual beli antara Muslim terhadap non Muslim/Kafir pada siang hari Ramadhan.

Ketiga, jula beli antara Muslim dengan orang yang tidak dibebani untuk puasa ketika itu.

Untuk poin pertama, tentu kita sudah mengtahui bahwa membantu seorang untuk berbuat dosa dan atau maksiat adalah ikut serta menanam saham keburukan dan mendapat bagian dari keburukan yang dilakukan. Puasa Ramadhan merupakan ketaatan kepada Allah swt dan termasuk pilar/rukun Islam yang lima. Sehingga tidak boleh seseorang member, menjual, atau pun membantu seseorang untuk bermaksiat kepada Allah swt, termasuk dalam hal puasa Ramadhan. Allah swt berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa serta janganlah tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah maha berat siksanya [Q.S. al-Maidah (5): 2].”

Rasulallah saw bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

“Rasullalah saw bersabda: ‘Siapa saja yang membuka jalan kebaikan dalam Islam kemudian diamalkan/diikuti oleh (orang-orang) setelahnya, maka ditetapkan baginya (bagian) pahala semisal dari orang yang mengamalkan tanpa mengurangi pahala mereka (yang membuka jalan kebaikan) sedikit pun. Sedangkan siapa saja yang membuka jalan keburukan dalam Islam, maka ditetapkan baginya (bagian) dosa semisal dari orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi dosa mereka (yang membuka jalan keburukan) sedikit pun
(H.R. Muslim no. 1017).”

Adapun berkaitan dengan azab orang yang sengaja meninggalkan puasa, Rasulallah saw bersabda:

نا الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْمُرَادِيُّ وَبَحْرُ بْنُ نَصْرٍ الْخَوْلَانِيُّ قَالَا ثنا بِشْرُ بْنُ بَكْرٍ نا ابْنُ جَابِرٍ عَنْ سُلَيْمِ بْنِ عَامِرٍ أَبِي يَحْيَى حَدَّثَنِي أَبُو أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ إِذْ أَتَانِي رَجُلَانِ فَأَخَذَا بِضَبْعَيَّ فَأَتَيَا بِي جَبَلًا وَعْرًا فَقَالَا اصْعَدْ فَقُلْتُ إِنِّي لَا أُطِيقُهُ فَقَالَا إِنَّا سَنُسَهِّلُهُ لَكَ، فَصَعِدْتُ حَتَّى إِذَا كُنْتُ فِي سَوَاءِ الْجَبَلِ إِذَا بِأَصْوَاتٍ شَدِيدَةٍ قُلْتُ مَا هَذِهِ الْأَصْوَاتُ قَالُوا هَذَا عُوَاءُ أَهْلِ النَّارِ ثُمَّ انْطُلِقَ بِي فَإِذَا أَنَا بِقَوْمٍ مُعَلَّقِينَ بِعَرَاقِيبِهِمْ مُشَقَّقَةٍ أَشْدَاقُهُمْ تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا قَالَ قُلْتُ مَنْ هَؤُلَاءِ قَالَ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ

“Ar-Rabi bin Sulaiman al-Muradi dan Bahr bin Nashr al-Khaulani telah menceritakan kepada kami, Bisyr bin Bakr telah menceritakan kepada kami, Ibnu Jabir telah menceritakan kepada kami, dari Sulaim bin Amir, yaitu Abu Yahya, Abu Umamah al-Bahiliy telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Rasulallah saw bersabda: ‘Ketika aku sedang tidur, tiba-tiba ada dua laki-laki yang mendatangiku, keduanya memegangi lenganku kemudian membawaku ke sebuah gunung terjal. Keduanya berkata kepadaku, Naiklah! Aku menjawab, Aku tidak mampu! Keduanya berkata, kami akan memudahkannya untukmu. Maka aku naik. Ketika aku berada di tengah gunung itu, tiba-tiba aku mendengar suar-suara yang keras, maka aku bertanya, Suara apa itu? Mereka menjawab, itu teriakan penduduk neraka. Kemudian aku dibawa, tiba-tiba aku melihat sekelompok orang tergantung (terbalik) dengan urat-urat kaki mereka (di sebelah atas), ujung-ujung mulut mereka sobek mengalirkan darah. Aku bertanya, Siapakah mereka? Kedua laki-laki tersebut menjawab, mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum waktunya
[H.R. an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra no. 3273, Ibnu Khuzaimah no. 1986, Ibnu Hibban no 7491, ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir no. 7666. Dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 3951. Beliau berkomentar, hadits ini berbicara tentang hukuman orang yang sengaja berbuka tidak pada waktunya. Lantas bagaimana jika seseorang tidak puasa sejak awal waktu? (Tentu lebih berat lagi hukumannya).”

Bahkan dalam beberapa atsar dari Sahabat Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan oleh Imam ath-Thabrani (no. 9459) dan juga Ali bin Abi Thalib (lihat al-Muhalla karya Ibnu Hazm, VI/184) menyatakan bahwa orang yang sengaja berbuka sebelum waktunya tidak dapat mengganti puasa tersebut di hari yang lain meski ia berpuasa selama setahun penuh. Imam Ibnu Hazm menceritakan, Sahabat Ali bin Abi Thalib pernah mendera seorang yang bernama an-Najasyi sebanyak 100 kali karena meminum khamr di bulan Ramadhan. Beliau menganggap tindakan meminum khamr di bulan Ramadhan merupakan bentuk kelancangan terhadap Allah swt (lihat al-Muhalla, VI/184). Hal ini sekaligus menjadi peringatakan bahwa meninggalkan puasa Ramadhan tanpa uzur merupakan dosa besar dimana pelakunya diancam oleh Allah dengan siksa yang amat pedih.

Berdasarkan uraian ini, seorang muslim tidak diperkenankan membantu muslim lainnya untuk menerjang larangan Allah swt. Terkhusus bulan Ramadhan dan bagi pemilik warung, silahkan layani pembeli menjelang waktu berbuka. Sebab sejatinya keuntungan materi sangat amat tidak sepadan jika dibandingkan dengan siksa Allah swt yang menanti di akhirat. Kalau dilihat secara lebih dalam, hadits ini tidak hanya menyasar kepada para pemilik warung yang menjual makanannya kepada orang yang berpuasa, tetapi secara umum kepada semua umat Islam yang turut memberi makan dan atau minum kepada Muslim lainnya di bulan Ramadhan sebelum waktu berbuka tiba.

Lalu bagaimana jika pembeli adalah non Muslim atau kafir?

Berkaitan dengan hal ini, ulama terbagi dalam dua pandangan. Sebagian berpendapat bahwa orang kafir tidak dibebani khitab perkara partikelir (furu’) dan mereka hanya dibebani perkara ushul, yaitu seruan untuk beriman kepada Allah swt (lihat I’anah ath-Thalibin, III/80). Sebab amalan furu’ yang dilakukan tanpa iman adalah tertolak dan tidak berfaedah apapun. Namun sebagian besar ulama berpendapat bahwa orang kafir juga dibebani khitab terhadap perkara partikelir. Imam an-Nawawi (Syarh Muslim, XIV/39. Lihat pula fatwa dari asy-Syabakah al-Islamiyyah no. 37319) berkata:

والمذهب الصحيح الذي عليه المحققون والأكثرون أن الكفار مخاطبون بفروع الشرع فيحرم عليهم الحرير كما يحرم على المسلمين

“Madzhab yang sahih yang dipegangi oleh para pentahqiq dan sebagian besar ulama adalah, orang-orang kafir dikenai khitab/perintah terhadap perkara-perkara partikelir. Oleh karena itu, memakai surta (bagi laki-laki, pent) juga diharamkan bagi mereka sebagaimana diharamkan terhadap kaum Muslimin.

Secara lebih terperinci, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata:

وسئل الشيخ محمد الصالح العثيمين رحمه الله :

كيف يحاسب الكافر يوم القيامة وهو غير مطالب بالتكاليف الشرعية ؟

فأجاب :

هذا السؤال مبني على فهم ليس بصحيح ؛ فإن الكافر مطالب بما يطالب به المؤمن ، لكنه غير ملزم به في الدنيا ، ويدل على أنه مطالب : قوله تعالى: ( إلا أصحاب اليمين . في جنات يتساءلون . عن المجرمين . ما سلككم في سقر . قالوا لم نك من المصلين . ولم نك نطعم المسكين . وكنا نخوض مع الخائضين . وكنا نكذب بيوم الدين) فلولا أنهم عوقبوا بترك الصلاة وترك إطعام المساكين ما ذكروه ؛ لأن ذكره في هذه الحال لا فائدة منه ، وذلك دليل على أنهم يعاقبون على فروع الإسلام ، وكما أن هذا هو مقتضى الأثر فهو أيضاً مقتضى النظر : فإذا كان الله تعالى يعاقب عبدَه المؤمن على ما أخل به من واجب في دينه فكيف لا يعاقب الكافر ؟ بل إني أزيدك أن الكافر يعاقب على كل ما أنعم الله به عليه من طعام وشراب وغيره قال تعالى: ) ليس على الذين آمنوا وعملوا الصالحات جناح فيما طعموا إذا ما اتقوا وآمنوا وعملوا الصالحات ثم اتقوا وآمنوا ثم اتقوا وأحسنوا والله يحب المحسنين( فمنطوق الآية : رفع الجناح عن المؤمنين فيما طعموه ، ومفهومها : وقوع الجناح على الكافرين فيما طعموه.

“Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin ditanya, bagaimana orang kafir dihisab (amalnya) di akhirat sedang mereka tidak dibebani dengan kewajiban syar’i? Beliau menjawab:

‘Soal ini didasari oleh pemahaman yang tidak benar. Orang kafir juga dituntut melakukan hal-hal yang dibebankan kepada Muslim, namun hal itu tidak ditekankan (mulzam) di dunia ini. Hal ini sebagaimana firman Allah swt:

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ (38) إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ (39) فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ (40) عَنِ الْمُجْرِمِينَ (41) مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ (42) قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ (43) وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ (44) وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ (45) وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ (46) حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ (47)

“Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya (38). Kecuali golongan kanan (39). Berada di dalam surga mereka saling menanyakan (40) tentang keadaan orang-orang yang berdosa (41), ‘Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam neraka Saqar?’ (42) Mereka menjawab, ‘Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat (43), dan kami juga tidak membei makan orang miskin (44), bahkan kami biasa berbincang (untuk tujuan yang batil) bersama orang-orang yang membicarakannya (45), dan kami mendustakan hari pembalasan (46), sampai datang kepada kami kematian (47) [Q.S. al-Muddatsir (74): 38-47].”

Pada ayat diatas, sekiranya orang kafir tidak dihukum (‘iqab) karena meninggalkan shalat dan tidak memberi makan kepada orang miskin, maka tentu tidak akan disebutkan dalam ayat ini. Sebab jika hanya disebutkan (tanpa menunjukkan adanya taklif kepada orang kafir atas persoalan partikelir, pent), maka tidak ada faedahnya. Dan ini merupakan maksud sekaligus kandungan fikiran dari ayat ini; jika orang yang beriman kepada Allah dihukum karena lalai akan kewajiban agama, maka bagaimana bisa orang kafir tidak dihukum? Bahkan hukuman dikenakan kepada orang kafir karena mereka lalai terhadap nikmat yang Allah berikan. Allah swt berfirman:

لَيْسَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جُنَاحٌ فِيمَا طَعِمُوا إِذَا مَا اتَّقَوْا وَآمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ثُمَّ اتَّقَوْا وَآمَنُوا ثُمَّ اتَّقَوْا وَأَحْسَنُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Tidak berdosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan tentang apa yang mereka makan (dahulu), apabila mereka bertakwa dan beriman serta mengerjakan kebajikan, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, selanjutnya mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan
[Q.S. al-Maidah (5): 93].”

Makna tersurat dari ayat ini adalah Allah swt memaafkan makanan (dan minuman haram) yang dulu mereka konsumsi. Sedangkan makna tersiratny adalah Allah menghukum orang kafir atas makanan dan minuman haram yang mereka konsumsi (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, II; Soal no 164).

Kesimpulannya, sebab orang kafir -menurut pendapat yang rajih- juga dikenai beban taklif atas masalah partikelir, maka seorang Muslim dilarang untuk memberikan atau menjual makanan kepada mereka di siang hari saat puasa jika diduga (zhann) ia akan mengkonsumsinya ketika itu meskipun kita tidak dapat mencegah mereka dari makan dan minum (lihat Nihayah al-Muhtaj, V/543, Hasyiyah al-Jamal, V/226, Hasyiyah asy-Syarwani, IV/317).

Adapun jika yang membeli makanan adalah orang yang berada dalam uzur syar’i seperti musafir, wanita haid, orang yang sudah tua renta, orang sakit, anak kecil, dan sebagainya maka tidak mengapa jika transaksi dilakukan. Pun hal ini berlaku apabila kita menduga (zhann) bahwa seseorang membeli makanan untuk orang yang boleh tidak puasa karena sebab syar’i. Namun apabila diragukan penggunaannya, maka yang lebih utama adalah tidak melanjutkan transaksi dengan pembeli agar kita tidak terjatuh dalam membantu orang untuk bermaksiat kepada Allah swt. Berdasarkan hal ini pula sebagian Negara dan atau wilayah provinsi membuat perda tentang rumah makan di bulan Ramadhan utamanya terkait dengan pelayanan kepada pembeli (lihat Fatawa asy-Syabakah al-Islamiyyah no. 2097).

Kesimpulannya, membuka warung di siang hari Ramadhan sangat terkait dengan orang dan kondisi di daerah tersebut. Oleh karena itu setiap pedagang bahkan umat Islam wajib memperhatikan siapa yang membeli dan kapan makanan tersebut kiranya (zhann) akan dikonsumsi. Jika ia menduga atau bahkan mengetahui bahwa makanan akan dikonsumsi sebelum waktu berbuka, maka transaksi tidak boleh dilakukan demi menjaga kesucian dan marwah bulan Ramadhan. Pun hal ini berlaku bagi konsumen non muslim atau kafir berdasarkan pendapat mayoritas ulama. Adapun jika makanan tersebut akan dikonsumsi oleh orang yang sedang mengalami udzur syar’i, maka boleh untuk menjualnya. Namun jika ragu, maka lebih baik tidak melanjutkan transaksi supaya kita tidak tercatat sebagai orang yang menolong orang lain untuk bermaksiat kepada Allah swt.

Baca Juga:
  1. Hukum Donor Darah dan Bekam bagi Orang Berpuasa
  2. Berhubungan Intim Berulang Kali di Siang Hari Bulan Ramadhan
  3. Apakah Suntik dan Infus di Siang Hari Ramadhan Membatalkan Puasa?
Jika pada suatu daerah terdapat peraturan berupa perda, perwil, dan sebagainya terkait dengan warung makan, maka silahkan dipatuhi untuk terciptanya kondusifitas dalam menjalankan ibadah dan sebagai penutup jalan (sad adz-dzari’ah) dari perbuatan maksiat. Sebab jika pada zaman khalifah Ali bin Abi Thalib saja ada orang yang mabuk di siang hari Ramadhan, maka bagaimana dengan zaman kita ini. Tentu butuh penanganan yang lebih lagi, baik secara preventif, persuasif, bahkan represif jika memang dipandang perlu untuk dilakukan.

Wallahu a’lam bi ash-shawab.

loading...