Hukum dan Kriteria Muntah yang Membatalkan Puasa

Advertisement
Tongkronganislami.net - Ketika memasuki bulan Ramadhan, tentunya kita semua berharap dapat menjalankan puasa di dalamnya secara penuh dan maksimal. Sebab Ramadhan adalah momen langka yang belum tentu akan terulang kembali di tahun berikutnya mengingat ahal manusia tidak diketahui batasnya kecuali oleh Allah swt.

Meskipun berharap demikian, terkadang kita juga mengalami sakit yang -bagaimanapun- mengurangi semangat untuk beribadah secara maksimal. Dan beberapa mungkin pernah mengalami muntah, baik ketika di perjalanan maupun selainnya. Terkait dengan puasa, tentu kita pernanh mendengar bahwa muntah dapat membatalkan puasa. Namun muntah yang bagaimanakah itu? Apakah jika seseorang mengalami mual, ia boleh melakukan hal yang merangsang terjadinya muntah? Berikut paparan singkatnya.

Guna menjawab beberapa pertanyaan tersebut, mari kita sama membaca hadits dari Abu Hurairah berikut ini:

عن محمدِ بنِ سِيرينَ عن أبي هريرة قال قال رسولُ الله صلَّى الله عليه وسلم مَنْ ذَرَعَهُ قيءٌ وهو صَائِمٌ فليسَ عليهِ قَضَاءٌ وإن استقاء فَلْيَقْضِ

“Dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulallah saw bersabda: ‘Siapa saja yang dikalahkan oleh muntah ketika ia puasa, maka tidak ada qadla baginya. Adapun jika sengaja muntah, maka wajib qadla baginya [H.R. Abu Dawud (2380), at-Tirmidzi (729), an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra (3117), Ibnu Majah (1676), Ahmad (10463). Dinilai sahih oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth (lihat tahqiq beliau dalam Sunan Abi Dawud, IV: 56-57 terbitan Dar ar-Risalah al-‘Ilmiyyah tahun 1430 H/2009 M). Lihat juga takhrij Syaikh al-Albani dalam Shahih Abi Dawud, VII: 140 (hadits no. 2059)].”
Hukum dan Kriteria Muntah yang Membatalkan Puasa
Muntah saat Puasa

Berdasarkan riwayat ini, muntah yang membatalkan puasa adalah disertai dengan unsur kesengajaan di dalamnya dengan cara apapun, seperti memasukkan benda seperti sikat gigi ke mulut, dengan jari tangan, mencium bau anyir hingga menyebabkan muntah, dan sebagainya. Adapun jika ia dikuasai oleh muntahnya; tidak sanggup lagi menahan dan dipaksa oleh tubuh untuk muntah, maka puasanya tidak batal. Hal ini berlaku selama tidak ada muntahan yang kembali ke perutnya atas pilihannya sendiri. Adapun jika ada sisa muntahan yang tertelan dan kita tidak punya kuasa untuk menahannya, maka hal itu tidak membatalkan puasa (lihat Majmu’ah al-Fatawa, XXV: 266 dan Hasyiyah Syaikh Ibrahim al-Bajuri, I: 556).

Dalam hal ini, tidak terdapat perselisihan ulama bahwa muntah dengan sengaja membatalkan puasa dan ia wajib mengqadla di hari yang lain. Namun jika seseorang tidak sanggup lagi menahan dan dipaksa oleh kondisi tubuh yang sedang sakit, maka muntah yang seperti ini tidak membatalkan puasa (lihat al-Mughni, IV: 368).

Ketentuan ini juga berlaku dalam kondisi sedang tidak sakit, misal ketika menggosok gigi dengan melihat kelaziman ketika ia sedang menggosok gigi. Jika biasanya cara yang ia gunakan ketika menggosok gigi tidak menyebabkan muntah, maka dihukumi sebagai muntah tidak sengaja. Adapun jika ia mengetahui atau berprasangka kuat (dzann) bahwa cara menggosok gigi yang ia lakukan dapat menyebabkan muntah, maka ini dihukumi sebagai muntah dengan sengaha dan ia wajib mengganti puasanya di hari yang lain.

Lalu bagaimana jika seseorang merasa perutnya mual dan ingin muntah namun tidak bisa keluar? Apakah ia boleh sengaja muntah dengan cara apapun? Dalam hal ini, ia tetap menahan diri agar tidak muntah dengan sengaja. Sebab muntah dengan sengaja merupakan pembatal puasa tanpa memandang kondisi seseorang ketika itu. Jika ia merasa berat karena sakit yang diderita, ia boleh berbuka, kemudian mengganti puasanya di hari yang lain (lihat surat al-Baqarah: 184).

Kesimpulannya, muntah dengan sengaja -dengan cara apapun atau menggunakan perantaran apa saja- adalah membatalkan puasa. Orang yang melakukannya mendapat dosa dan wajib mengqadla puasa di hari yang lain. Adapun jika terjadi secara tidak sengaja -baik karena kondisi tubuh yang tidak sanggup lagi menahan untuk muntah maupun karena hal lain seperti ketika menyikat gigi lalu secara tidak sengaja menyebabkan muntah (dengan melihat kelaziman orang tersebut ketika menyikat gigi)- maka hal ini tidak membatalkan puasa.

Baca Juga:
  1. Air Tertelan saat Berwudhu dan Air Masuk Telinga saat Mandi di Bulan Ramadhan
  2. Jarak Perjalanan Musafir yang Dibolehkan untuk Tidak Berpuasa
  3. Meninggal, Namun Memiliki Hutang Puasa Ramadhan

Sudah selayaknya seseorang menjaga diri dari pembatal puasa. Sebab Ramadhan merupakan bulan yang agung dan juga kesempatan untuk meraup pahala dan mendapar ridlo Allah swt. Wallahu a’lam bi ash-shawab.