Hukum Mengeraskan Niat Puasa Ramadhan setelah Shalat Tarawih

Advertisement
Tongkronganislami.net - Seringkali kita jumpai sebagian kaum muslimin mengeraskan niat puasa yang biasanya dilakukan setelah selesai shalat tarawih. Lalu bagaimanakah hukumnya? Berikut ulasannya.

Hal yang perlu difahami, segala ibadah yang tidak didasar oleh niat maka dihukumi tidak sah. Hal ini bedasarkan sabda Rasulallah saw dalam sebuah hadits yang bersumber dari Umar Ibn al-Khattab:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Semua amalan bergantung pada niatnya, dan setiap orang mendapatkan apa yang ia niatkan (H.R. al-Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907).”

Dalam memahami hadits ini sebagian ulama mengatakan, hadits ini adalah sepertiga ilmu dan masuk dalam 70 pembahasan dalam fikih (lihat al-Asybah wa an-Nazhair karya imam as-Suyuthi).
Hukum Mengeraskan Niat Puasa setelah Shalat Tarawih
Puasa Ramadhan

Adapun berkaitan dengan puasa, niat harus diadakan setiap malamnya. Hal ini sebagaimana riwayat:

عَنْ حَفْصَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

“Dari Hafshah, dari Rasulallah saw beliau bersabda: Siapa saja yang tidak berniat hingga fajar, maka tidak ada puasa baginya [H.R. Abu Dawud (2454), an-Nasa’i (2331, 2332, 2334), Ibnu Khuzaimah (1933), ad-Daruquthni (hal. 234). Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Irwa al-Ghalil no. 914 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir Wa Ziyadatih no. 6535].”

Adapun makna hadits ini adalah barang siapa yang tidak berniat dan berazam (keinginan kuat) dari malam hari (hingga sebelum fajar), maka tidak ada puasa baginya.

Kemudian bagamaina dengan mengeraskan niat? Berkaitan dengan hal ini Imam Ibnu Taimiyyah mengatakan, niat dalam ibadah tidak perlu diucapkan dengan lisan. Hal ini merupakan kesepakatan pata ulama; sebab niat tempatnya adalah di hati. Sekiranya seseorang sengaja melafalkan niatnya secara keliru (berbeda dengan apa yang ada di hatinya), maka yang diambil adalah niat di hatinya, bukan pada pelafalannya.

Tidak ada seorang pun yang menyelisihi pendapat ini. Akan tetapi sebagian ulama muta’akhir penganut madzhab Syafi’i mentakhrij pendapat ini (mengeraskan niat), namun diingkari oleh ulama Syafi’iyyah lainnya.

Adapun terkait dengan melafalkan niat, para ulama berselisih pendapat tentangnya. Sebagian ulama penganut madzhab Hanafi, Syafi’i, dan Ahmad mengatakan, disukai (mustahab) untuk melafalkan niat karena lebih menguatkan. Sedangkan ulama madzhab Maliki, sebagian ulama madzhab Hanbali dan selain mereka mengatakan, tidak disukai apabila niat dilafalkan. Yang demikian itu adalah bid’ah; tidak terdapat riwayat dari Rasulallah saw maupun Sahabatnya. Rasul saw tidak pernah memerintahkan seorang pun untuk melafalkan niat. Sekiranya melafalkan niat adalah disyari’atkan, maka Nabi saw dan para Sahabatnya tidak akan membiarkannya. Selain itu, umat akan merasa berat dengan hal ini (melafalkan niat di setiap ibadah).

Niat mengikuti ilmu. Kapan saja seseorang memahami apa yang dilakukan, maka ia pasti telah berniat sehingga tidak bisa dikatakan orang yang melakukan apa yang diketahuinya sebagai orang yang melakukan amalan tanpa niat. Para ulama telah bersepakat bahwa mengeraskan dan mengulang-ulang niat adalah perkara yang tidak disyari’atkan. Bahkan siapa saja yang terbiasa melakukannya, maka wajib diberi tahu bahwa itu merupakan perbuatan bid’ah dan wajib dijauhi (lihat al-Fatawa al-Kubra, I: 214-215. Lihat juga Kifayah al-Akhyar hal 248 dan Majmu’ah al-Fatawa, XXII: 233).

Baca Juga:
  1. Hukum Menggunakan Obat Penghalang Haid Agar Bisa Berpuasa di Bulan Ramadhan
  2. Mimisan dan Gusi Berdarah Saat Puasa, Batalkah?
  3. Bolehkah Supir Bus antar Provinsi tidak Berpuasa di Bulan Ramadhan?

Berdasarkan keterangan diatas, pendapat yang lebih aman untuk diterapkan adalah tidak melafalkan -apalagi mengeraskan- niat. Mengingat niat yang dilafalkan masih menjadi perselisihan para ulama, maka mengambil pendapat yang tidak menimbulkan perselisihan adalah lebih utama; tidak melafalkan niat dalam melakukan ibadah apapun, termasuk puasa. Sebab pada dasarnya ibadah yang kita lakukan semata-mata merujuk pada petunjuk dan contoh dari Rasulalah saw. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

loading...