Keutamaan Bulan Sya'ban yang Sering Diabaikan

Advertisement
Tongkronganislami.net - Kini kita tengah berada di bulan Sya'ban, bulan dimana segala persiapan Ramadhan tengah digiatkan. Namun tahukah kita mengenai bulan ini? Apa saja yang harus dilakukan dan bagaimana tuntunan Nabi Muhammad SAW menjalani keseharian di bulan Sya'ban?

Mengenai keutamaan bulan Sya’ban, mari kita sama menyimak riwayat berikut:

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْتُكَ تَصُومُ مِنَ الشَّهْرِ شَيْئًا مَا لَا تَصُومُهُ مِنَ الشُّهُورِ أَكْثَرَ إِلَّا رَمَضَانَ قَالَ أَيُّ شَهْرٍ قُلْتُ شَعْبَانُ قَالَ هُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Dari Usamah bin Zaid ra, ia berkata; ‘Aku berkata, ‘Wahai Rasulallah! Aku melihat puasa engkau pada bulan itu lebih banyak dari bulan-bulan yang lain, kecuali Ramadhan.’ Beliau bertanya, ‘Bulan yang mana?’ Aku menjawab, ‘Bulan Sya’ban.’ Beliau bersabda, ‘Bulan Sya’ban merupakan bulan diangkatnya amal kepada Rabb Semesta Alam. Dan aku senang ketika amalku diangkat aku sedang berpuasa (H.R. an-Nasa’i no. 2357, Ahmad no. 21753. Dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab al-Irwa, IV: 103).”

Berkaitan dengan hadits ini, imam Ibnu Rajab al-Hanbali mengatakan, hadits ini memiliki beberapa faedah. Salah satu diantaranya adalah Sya’ban merupakan bulan yang terlupakan, terletak antara Rajab dan Ramadhan. Sebab bulan ini diapit oleh dua bulan yang agung, Bulan Haram (Rajab) dan Ramadhan dimana banyak manusia yang menyibukkan diri untuk beramal shaleh pada dua bulan tersebut, namun tidak dengan bulan Sya’ban.

Keutamaan Bulan Sya'ban yang Sering Diabaikan


Dalam riwayat lain yang bersumber dari Usamah bin Zaid, terdapat tambahan lafal:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ

“Itu adalah bulan yang dilupakan oleh Manusia, (terletak) antara Rajab dan Ramadhan (lihat Sunan an-Nasa’i no. 2357, Musnad Ahmad no. 21753, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no. 9765. Dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani).”

Riwayat ini menjadi isyarat bahwa sesuatu yang tidak masyhur terkadang lebih utama (afdlal) daripada waktu, tempat, atau orang yang telah dikenal memiliki keutamaan, baik secara umum maupun khusus. Ketidakmasyhuran ini menyebabkan banyak orang tidak tahu sehingga mereka sibuk untuk beramal pada hal-hal yang sudah dikenal (masyhur) dan melewatkan keutamaan amal yang tidak masyhur bagi mereka. Keterangan pada riwayat ini juga sebagai anjuran untuk memakmurkan waktu-waktu yang dilalaikan oleh manusia dan mengisinya dengan ketaatan, sebab hal ini adalah disukai Allah swt sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian salaf ash-shalih.

Terkait dengan menghidupkan waktu yang terlupakan, terdapat beberapa faedah didalamnya:

Pertama, dapat menyembunyikan ibadah sunnah, dan ini merupakan tindakan utama. Terlebih jika ibadah tersebut adalah puasa; rahasia antara seorang hamba yang berpuasa dengan Rabbnya. Pun dapat menghindarkan pelakunya dari sikap pamer/riya.

Dulu, ada ulama salaf yang berpuasa sunnah selama 40 tahun dan tidak satu pun orang yang tahu ketika itu. Ketika hendak ke pasar (untuk berdagang), beliau membawa dua buah roti, namun disedekahkan lalu ia berpuasa. Keluarga beliau menyangka bahwa beliau memakannya di pasar, dan orang-orang yang dipasar mengira beliau menyantapnya di rumah. Ini adalah kebiasaan orang shaleh pada zaman dahulu.

Apabila mereka puasa (sunnah), mereka melakukan hal yang dapat menyembunyikan amalan puasa yang sedang dilakukan. Hal ini sebagaimana sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud:

عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ إِذَا أَصْبَحْتُمْ صِيَامًا فَأَصْبِحُوا مُدَّهَنِينَ

“Dari Masruq, dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: ‘Apabila engkau berada di waktu pagi dalam keadaan puasa, maka oleskanlah minyak (di kepala) (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya, no. 9757).”

Tindakan beliau ini dalam rangka menyembunyikan amal (puasa) yang sedang beliau lakukan. Sehingga tatkala orang-orang melihat beliau dalam keadaan segar dan rapi, orang tidak akan mengira kalau beliau sedang berpuasa.

Kedua, menyembunyikan amal adalah tindakan yang berat bagi diri seseorang, dan amal yang paling utama adalah yang paling berat pelaksanaannya. Adapun sebabnya, jika seseorang melakukan suatu ketaatan kemudian diikuti oleh banyak orang, maka ketaatan tersebut terasa ringan. Namun apabila sebaliknya, tentu akan dirasa berat bagi yang menjalankannya. Dan inilah makna hadits Rasulallah saw: 

عَنْ عُتْبَةَ بْنِ أَبِي حَكِيمٍ قَالَ حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ جَارِيَةَ اللَّخْمِيُّ حَدَّثَنِي أَبُو أُمَيَّةَ الشَّعْبَانِيُّ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيَّ فَقُلْتُ يَا أَبَا ثَعْلَبَةَ كَيْفَ تَقُولُ فِي هَذِهِ الْآيَةِ {عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ} [المائدة: 105] قَالَ أَمَا وَاللَّهِ لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْهَا خَبِيرًا سَأَلْتُ عَنْهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَلِ ائْتَمِرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَهَوًى مُتَّبَعًا وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ، فَعَلَيْكَ يَعْنِي بِنَفْسِكَ وَدَعْ عَنْكَ الْعَوَامَّ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِهِ وَزَادَنِي غَيْرُهُ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْهُمْ؟ قَالَ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ

“Dari Utbah bin Abu Hakim ia berkata; telah menceritakan kepadaku Amru bin Jariyah Al Lakhmi, ia berkata, telah menceritakan kepadaku Abu Umayyah Asy Sya'bani, ia berkata, "Aku pernah bertanya kepada Abu Tsa'labah Al Khusyani, aku katakan kepadanya, "Wahai Abu Tsa'labah, apa pendapatmu tentang ayat ini: ‘jagalah dirimu (Al Maidah: 105)" Ia menjawab, "Demi Allah, engkau telah menanyakan hal itu kepada orang yang tepat. Aku pernah menanyakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau lalu menjawab: "Bahkan perintahkanlah kepada perkara yang ma'ruf dan cegahlah dari perkara yang munkar, sehingga ketika engkau melihat sifat kikir ditaati, hawa nafsu diikuti, dunia lebih diutamakan (dari urusan agama), dan setiap orang bangga dengan pendapatnya sendiri, maka hendaklah engkau jaga dirimu sendiri, dan jauhilah orang-orang awam (bodoh). Sebab di belakang kalian ada hari-hari (yang kalian wajib) bersabar, sabar pada saat itu seperti seseorang yang memegang bara api, dan orang yang beramal pada saat itu pahalanya sebanding dengan lima puluh kali amalan orang yang beramal seperti amalnya, ia menambahkan untukku, "seperti amalan selainnya." Abu Tsa'labah bertanya, "Wahai Rasulullah, seperti pahala lima puluh orang dari mereka!" beliau menjawab: "(Bahkan) seperti pahala lima puluh orang dari kalian [H.R. Abu Dawud no. 4341, Ibnu Majah no. 4014. Dinilai hasan oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth (lihat Sunan Abi Dawud edisi Syu’aib al-Arnauth dan Muhammad Kamil Qurrah al-Balaliy, penerbit Dar ar-Risalah al-‘Ilmiyyah: 1430 H/2009 M, VI/396)].”

Ketiga, ketaatan yang dilakukan oleh orang yang bermaksiat dapat menjadi sebab tertolaknya bencana (bala’) terhadap semua manusia. Seolah-olah mereka terlindung dan terjaga (lihat Lathaif al-Ma’arif, hal 191-193).

Berkaitan dengan hal ini, para ulama mengatakan bahwa amal setiap hamba diangkat/dibawa bertahap pada tiga waktu:

Tahap pertama, amal seorang hamba diangkat pada waktu shalat subuh dan shalat ashar. Hal ini sebagaimana riwayat:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ وَصَلَاةِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي فَيَقُولُونَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ 

“Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda; Di antara kalian ada malaikat yang bergantian di waktu malam dan siang, mereka berkumpul ketika shalat fajar dan shalat ashar, lantas malaikat yang bermalam naik dan Tuhan mereka menanyai mereka -sekalipun Dia paling tahu terhadap mereka- bagaimana kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku? Jawab mereka; "Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat, dan kami datangi mereka juga dalam keadaan shalat (H.R. al-Bukhari no. 555 dan Muslim no. 632).”

Tahap kedua, amal seorang hamba diangkat setiap minggu pada hari kamis. Hal ini sebagaimana riwayat:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَعْمَالَ بَنِي آدَمَ تُعْرَضُ كُلَّ خَمِيسٍ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فَلَا يُقْبَلُ عَمَلُ قَاطِعِ رَحِمٍ

“Dari Abu Hurairah, dia berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya amalan anak cucu Adam disodorkan pada setiap hari kamis malam jum'at, kemudian tidak akan diterima amalan orang yang memutuskan hubungan selaturahim (H.R. Ahmad no. 10272, al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman no. 7595, al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad no. 61. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth).”

Tahap ketiga, amal seorang hamba diangkat setiap tahun, dan itu terjadi di bulan Sya’ban. Rasulallah saw bersabda:

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْتُكَ تَصُومُ مِنَ الشَّهْرِ شَيْئًا مَا لَا تَصُومُهُ مِنَ الشُّهُورِ أَكْثَرَ إِلَّا رَمَضَانَ قَالَ أَيُّ شَهْرٍ قُلْتُ شَعْبَانُ قَالَ هُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Dari Usamah bin Zaid ra, ia berkata; ‘Aku berkata, ‘Wahai Rasulallah! Aku melihat puasa engkau pada bulan itu lebih banyak dari bulan-bulan yang lain, kecuali Ramadhan.’ Beliau bertanya, ‘Bulan yang mana?’ Aku menjawab, ‘Bulan Sya’ban.’ Beliau bersabda, ‘Bulan Sya’ban merupakan bulan diangkatnya amal kepada Rabb Semesta Alam. Dan aku senang ketika amalku diangkat aku sedang berpuasa (H.R. an-Nasa’i no. 2357, Ahmad no. 21753. Dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab al-Irwa, IV: 103).”

Imam Ibn al-Jauziy berkata, sebagian besar waktu yang dilalaikan oleh manusia adalah karena mereka sibuk melakukan amalan menurut adat dan syahwat. Dalam kondisi seperti ini, apabila seorang hamba tetap membiasakan diri untuk mencari amal utama, maka hal ini menunjukkan ia memang sangat tamak terhadap kebaikan. Hal itu seperti shalat subuh berjamaah, melaksanakan qiyam al-lail pada separuh malam, dan ketika waktu sahur tiba (lihat at-Tabshirah, II: 50).

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali berkata, puasa Sya’ban adalah latihan menuju puasa Ramadhan agar setiap hamba tidak merasa berat ketika melaksanakan puasa Ramadhan. Sebab telah terbiasa, maka akan merasa semangat dalam menjalankan puasa Ramadhan karena telah mengecap manisnya puasa pada bulan Sya’ban.

Puasa Sya’ban tak ubahnya seperti pengantar terhadap bulan Ramadhan, maka disyari’atkan di dalamnya apa saja yang ada di dalam bulan Ramadhan, seperti membaca al-Qur’an dan puasa. Hal ini bertujuan untuk menimbulkan rasa gembira dalam menyambut bulan Ramadhan dan menumbuhkan kerelaan jiwa untuk taat kepada Allah swt. Kebiasaan seperti ini dilakukan oleh ulama salaf seperti ‘Amr bin Qais al-Mulaiy, dimana ia menutup tempat dagangannya dan meluangkan banyak waktu untuk membaca al-Qur’an. Pun demikian dengan Habib bin Abi Tsabit yang meluangkan sebagian besar waktunya di bulan Sya’ban untuk membaca al-Qur’an (lihat Lathaif al-Ma’arif, hal. 196).

Pemaparan ini memberi gambaran tentang mulianya bulan Sya’ban sekaligus sebagai bulan yang banyak dilalaikan oleh sebagian besar manusia. Para ulama salaf dan kaum terdahulu menyambutnya dengan antusias dan mengisi bulan Sya’ban dengan berbagai amalan, terutama puasa dan membaca al-Qur’an. Amal ibadah ini mereka lakukan sebagai upaya persiapan untuk menyambut bulan yang paling agung dari seluruh bulan, Ramadhan.

Oleh karenanya, mari kita semaksimal mungkin mengisi bulan ini dengan berbagai amal shaleh dalam rangka menyiapkan diri untuk menyambut bulan Ramadhan. Apalagi bulan ini banyak dilupakan oleh manusia mengingat ia diapit oleh dua bulan mulia, Rajab dan Ramadhan.
Walahu a’lam bi ash-shawab.

loading...