Ciri-ciri Akhlaq yang Dapat Membangkitkan Umat

37
Akhlaq adalah
bentuk plural dari al-khulq atau al-khuluq. Secara literal, al-khulq atau al-khuluqbermakna al-sajiyahal-filaan[1]al-muru`ahal-‘aadah, dan al-thib’ [karakter,
kejiwaan, kehormatan diri, adat kebiasaan, dan sifat alami]. Al-Mawardiy
menyatakan bahwa, makna hakiki dari al-khuluq adalah adab (budi pekerti)  yang diadopsi oleh seseorang,
yang kemudian dijadikan sebagai karakter dirinya. [Imam Qurthubiy, Tafsir Qurthubiy]  Sedangkan budi
pekerti yang telah melekat pada diri seseorang disebut dengan al-khiim, al-syajiyah, dan al-thabi’ah (karakter).   Atas dasar itu, akhlaq adalah al-khiim al-mutakallaf (tabiat
(karakter)  yang dibebankan (karakter ciptaan), sedangkan al-khiim adalah
al-thab’u al-ghariziy (karakter yang bersifat naluriah (tabiat, atau karakter
bawaan).
 Kadang-kadang al-khuluq
digunakan dengan makna agama (al-diin) dan kebiasaan (al-‘adah).    Al-Quran telah menggunakan kata al-khuluq
dengan makna agama dan  kebiasaan, di
dalam surat   al-Syu’araa’ :137, dan  al-Qalam: 4.
Allah swt berfirman;
(agama kami) ini tidak
lain hanyalah adat kebiasaan orang terdahulu.”[26:137]. 

“Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”[68:4]

          Makna
al-khuluq yang terdapat di dalam surat al-Qalam ayat 4 adalah al-diin
(agama).   Al-‘Aufiy berkata, “Khuluq
‘adziim”
maknanya adalah diinuka al-‘adziim.  Penafsiran semacam ini juga dianut oleh
al-Dlahak, Mujahid, Abu Malik, al-Rabii’ bin Anas, dan Ibnu Zaid, Imam Ahmad
dan lain sebagainya.  Sedangkan Ibnu
‘Athiyyah menafsirkan “khuluq ‘adziim
dengan “adab al-‘adziim” [budi pekerti atau karakter yang agung].[Imam
Ibnu Katsir
, Tafsir Ibnu Katsiir]   Sedangkan yang dimaksud “adab” di
sini, bukanlah budi pekerti (karakter) yang lahir secara alamiah atau
nilai-nilai universal yang luhur, akan adab yang terlahir dari al-Quran.  Imam Thabariy, menyatakan bahwa maksud dari “wa
innaka” la’ala khuluqin ‘adzim
” adalah “adabin ‘adziim”.  Maksudnya, karakter budi pekerti
Rasulullah adalah budi pekerti yang dibentuk oleh al-Quran, bukan karakter
alamiah yang terpisah dari al-Quran dan sunnah.   Dengan kata lain, budi pekerti Rasulullah
saw (adab) adalah Islam dan syariatNya (hukum-hukum Allah swt).  Menurut Imam Thabariy, ini adalah pendapat
para ahli tafsir. [Imam Thabariy, Tafsir al-Thabariy]
          Qatadah
menuturkan sebuah riwayat yang menyatakan bahwa ‘Aisyah pernah ditanya tentang
akhlaq Rasulullah saw.   Beliau ra
menjawab, “Akhlaq Rasulullah saw adalah al-Quran.”  Sa’id bin Abi ‘Arubah, tatkala
menafsirkan firman Allah swt, “wa innaka la’ala khuluq ‘adziim”,
menyatakan, “Telah dituturkan kepada kami, bahwa Sa’id bin Hisyam bertanya
kepada ‘Aisyah tentang akhlaq Rasulullah saw.
‘Aisyah menjawab, “Bukankah kamu membaca al-Quran.” 
Imam Abu Dawud dan Nasa’iy juga
meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Aisyah ra, yang menyatakan bahwa akhlaq
Rasulullah saw adalah al-Quran.
          Imam
Ibnu Katsir menyatakan bahwa akhlaq Rasulullah saw adalah  refleksi dari al-Quran.  Beliau menambahkan lagi, sesungguhnya
karakter (akhlaq) Rasulullah saw merupakan wujud dari ketaatan beliau saw
terhadap perintah dan larangan Allah swt.
Beliau saw senantiasa mengerjakan apa yang diperintahkan Allah, dan
meninggalkan apa yang dilarang olehNya.
Wajar saja bila di dalam sebuah riwayat Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya
aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq”. [
HR. Imam Ahmad]
 
          Dari
seluruh penjelasan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa akhlaq adalah karakter
ciptaan (fabricated), bukan karakter bawaan (al-khiim).  Akhlaq seorang muslim berbeda dengan akhlaq
non muslim.   Akhlaq seorang muslim
dibentuk berdasarkan al-Quran (aqidah dan syariatNya).   Akhlaq non muslim dibentuk berdasarkan
prinsip-prinsip non Islam.   Untuk itu,
meskipun sama-sama jujur, kita tidak bisa menyatakan bahwa seorang kapitalis
dan seorang muslim sama-sama memiliki akhlaq yang baik.   Sebab, proses pembentukkan karakter dirinya
tidaklah sama.  Kejujuran seorang muslim
selalu didasarkan pada aqidah dan syariat Islam.   Dengan kata lain, kejujurannya adalah buah
dari pelaksanaan ajaran-ajaran Islam.
Kejujurannya tidak dibentuk, semata-mata karena jujur itu adalah
nilai-nilai universal atau karena bermanfaat.
Berbeda dengan kapitalis
maupun sosialis.   Kejujurannya tidak
didasarkan pada prinsip-prinsip Islam.
Kejujurannya hanya didasarkan pada prinsip manfaat dan kemanusiaan
belaka.   Kejujurannya sama sekali tidak
dibangun di atas prinsip ketaqwaan kepada Allah swt.  Walhasil, akhlaq seorang muslim berbeda
dengan akhlaq orang kafir, meskipun penampakannya sama.
Akhlaq seorang muslim merupakan
refleksi dari pelaksanaan dirinya terhadap hukum-hukum syara’.   Seseorang tidak disebut berakhlaq Islam
ketika nilai-nilai akhlaq tersebut dilekatkan pada perbuatan-perbuatan yang diharamkan
Allah swt.    Misalnya, pegawai bank
ribawiy  tidak disebut berakhlaq Islam,
meskipun ia terkenal jujur, disiplin dan sopan.
Sebab, ia telah melekatkan sifat-sifat akhlaq pada perbuatan yang
diharamkan Allah swt.   Anggota parlemen
yang suka membuat aturan-aturan kufur juga tidak bisa disebut memiliki akhlaq
Islam, meskipun ia terkenal jujur, amanah dan seterusnya.  Sebab, nilai-nilai akhlaqnya telah melekat
pada perbuatan haram.
          Walhasil, akhlaq seorang muslim harus
dibentuk berdasarkan al-Quran al-Karim.
Dengan kata lain, akhlaq seorang muslim adalah refleksi dari pelaksanaan
hukum-hukum Allah swt.
PersoalanUtama Kaum Muslim: Bukanlah Akhlaq Yang Rusak
 
          Ada sebagian kaum muslim
memahami , bahwa kebangkitan umat harus dimulai dari kebangkitan akhlaq.   Mereka mengajukan sebuah asumsi, “Jika
setiap individu memiliki akhlaq yang baik, maka masyarakat pun akan menjadi
baik.  Kemunduran dan kebangkitan suatu
masyarakat sangat ditentukan oleh kebangkitan dan kemunduran akhlaqnya.”
          Mereka juga
mengetengahkan dalil-dalil syara’ untuk membangun argumentasi mereka.   Dari al-Quran, mereka mengetengahkan ayat,
          “Dan sesungguhnya kamu benar-benar
berbudi pekerti.”[al-Qalam:4],
serta nash-nash yang senada pengertiannya.
          Dari sunnah mereka juga berhujjah dengan hadits yang
berbicara tentang akhlaq, salah satu contohnya adalah,
          “Sesungguhnya aku ini hanya diutus
untuk menyempurnakan akhlaq.”
           Benar, akhlaq merupakan salah satu bagian dari ajaran
Islam.  Namun demikian, kita tidak boleh
memahami, bahwa akhlaq yang dimaksud di sini sekedar sebagai nilai-nilai
universal, dan terlepas sama sekali dengan konteks hukum syari’at.
Kejujuran, amanah, disiplin, rasa hormat, dan lain-lain
merupakan nilai akhlaq yang mulia.
Kesemuanya adalah nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh umat manusia, tanpa
memperhatikan agama, ras, suku dan jenis kelamin.    Kaum Kristen, Budhis, Yahudi, Konghucu,
serta kaum kapitalis pun sangat menjunjung tinggi nilai-nilai itu, bahkan
berusaha untuk menerapkannya.   Kaum
muslim juga menjunjung tinggi dan berusaha menerapkan nilai-nilai tersebut di
dalam kehidupannya.   Namun, seorang
muslim tatkala hendak menerapkan nilai-nilai yang sangat mulia itu, bukan
didorong oleh sebuah motivasi bahwa nilai-nilai tersebut adalah nilai universal.  Akan tetapi, ia melaksanakan semua
nilai-nilai itu karena diperintahkan oleh Allah swt.   Seorang muslim bersikap jujur, karena ia
memang diperintahkan oleh Allah swt, bukan karena jujur itu bermanfaat atau
nilai universal.   Dengan kata lain,
akhlaq seorang muslim adalah refleksi dari pelaksanaan syariatNya.   Sebab, seluruh perbuatan seorang muslim
wajib bersandar pada syariat Islam.
Di sisi lain, seorang muslim harus memahami, kapan ia jujur,
dan kapan ia tidak boleh jujur.   Seorang
muslim, tatkala melakukan jual beli dengan orang lain, harus jujur dan
amanah.  Namun, ketika dalam peperangan
melawan kaum kafir, ia tidak diperbolehkan jujur membeberkan kekuatan kaum
muslim.
          Kenyataan di
atas menunjukkan bahwa akhlaq merupakan bagian dari syari’at Islam.  Menurut pandangan Islam, akhlaq bukan sekedar
nilai universal yang berlaku di tengah-tengah manusia, akan tetapi, ia adalah
sifat yang harus dimiliki seorang muslim, berdasarkan perintah dari Allah
swt.  Dengan kata lain, akhlaq adalah
syari’at Islam yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri.
          Bantahan atas
pendapat yang menyatakan, bahwa kebangkitan umat, atau persoalan mendasar
umat  adalah kebangkitan akhlaqnya dapat
diperinci sebagai berikut;
Pertama, sebenarnya,
konteks yang hendak dikaji adalah kebangkitan umat atau kebangkitan masyarakat,
bukan kebangkitan individu.   Individu
berbeda dengan masyarakat dari sisi karakter, maupun penyusunnya. Atas dasar
itu, cara membangkitkan individu berbeda dengan cara membangkitkan masyarakat
atau umat.   Akhlaq adalah hukum syariat
yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri.   Oleh karena itu, akhlaq adalah salah satu
variable penting untuk membangkitkan individu.
Berbeda dengan konteks kebangkitan masyarakat.   Untuk membahas kebangkitan masyarakat, kita
harus memahami unsur-unsur penyusun masyarakat, serta cara untuk mengubah
masyarakat.   Begitu pula jika kita
hendak mengubah individu, maka kita mesti memahami terlebih dahulu unsure-unsur
penyusun individu dan bagaimana cara membangkitkannya.
Masyarakat sendiri tersusun atas manusia , pemikiran,
perasaan dan aturan yang diberlakukan di tengah-tengah masyarakat.
Benar, manusia merupakan salah satu faktor penyusun
masyarakat.  Namun demikian, perubahan
manusia tidak secara otomatis menyebabkan perubahan masyarakat, maupun warna
masyarakat.   Sebab, masyarakat tidak
hanya tersusun dari manusia belaka.
Namun ia juga tersusun oleh pemikiran, perasaan dan aturan.   Selain itu faktor yang menentukan corak dan
warna masyarakat bukanlah manusia, akan tetapi pemikiran dan aturan yang
diterapkan.
          Masyarakat
Budha terkenal orang yang menjunjung nilai-nilai akhlaq, bahkan terkenal
memiliki sifat-sifat akhlaq yang mulia.
Namun demikian, warna masyarakat yang tersusun oleh orang-orang Budha  dan agama Budha adalah masyarakat kufur,
bukan masyarakat Islam.  Ini menunjukkan,
bahwa faktor yang menentukan corak dan warna masyarakat adalah pemikiran dan
aturan yang diterapkan di dalamnya, akhlaq individunya.
          Negeri-negeri
yang berpenduduk mayoritas Islam yang terkenal jujur, amanah, dan berbudi
pekerti luhur, tetap saja disebut masyarakat kufur, jika sistem aturan yang
diberlakukan di negeri-negeri tersebut adalah sistem aturan kufur.   Negeri Baghdad ketika dikuasai bangsa Mongol,
tidak lagi disebut negeri Islam, sebab, sistem yang diberlakukan di Baghdad
bukan sistem Islam.   Ini semua
menunjukkan, bahwa perubahan akhlaq individu tidak secara otomatis merubah
warna masyarakat.  Bahkan, perubahan
akhlaq –sebagai nilai-nilai universal– sama sekali tidak berhubungan dengan
perubahan warna masyarakat.
          Masyarakat
Jahiliyah sebelum Islam, juga menjunjung nilai-nilai akhlaq yang tinggi
–menghargai tamu, perwira dan sebagainya.
Sifat-sifat akhlaqiyyah ini tidak berubah ketika masyarakat Jahiliyyah
berubah menjadi masyarakat Islam.  Ini
menunjukkan bahwa akhlaq tidak berhubungan dengan perubahan warna
masyarakat.
          Walhasil,
jika konteks pembicaraan kita adalah mengubah warna atau corak masyarakat, maka
aktivitas perubahannya tidak boleh difokuskan hanya kepada perubahan individunya
belaka, namun harus difokuskan kepada perubahan pemikiran dan aturan yang ada
di tengah-tengah masyarakat.
          Di sisi yang
lain, nilai-nilai akhlaq –sebagai nilai universal– bukanlah nilai yang berdiri
sendiri.   Akan tetapi, ia selalu melekat
pada perbuatan tertentu.   Jujur adalah
nilai akhlaq.    Namun, anda tidak bisa
mengetahui apakah seseorang itu jujur atau tidak, kecuali ketika ia melakukan
suatu aktivitas tertentu.   Jujur bisa
melekat pada perbuatan apapun, halal maupun haram.   Jujur bisa melekat pada seorang pegawai Bank
yang mengkonsumsi ribawi.  Jujur juga
bisa melekat pada pada anggota parlemen yang suka menelorkan aturan-aturan
kufur.   Namun demikian, jujur yang
melekat pada perbuatan-perbuatan haram tersebut tidak memiliki nilai sama
sekal.  Bahkan, kita tidak boleh
menyatakan bahwa orang tersebut berakhlaq.
Sebab, kejujurannya telah melekat pada perbuatan haram.
Dedikasi yang tinggi, disiplin, dan amanah bisa saja melekat
kepada pasukan-pasukan perang yang menjadi pembela sistem  kufur.
Tetapi, kita tidak mungkin menyatakan orang-orang ini menjunjung tinggi
nilai-nilai Islam.  Bahkan, akhlaq yang
menempel pada sistem kufur semacam ini, tidak memiliki arti sedikitpun.
          Yang
terpenting adalah mengubah pemikiran dan sistem aturan yang berlaku di
tengah-tengah masyarakat.  Sedangkan
akhlaq, hanyalah sekedar bagian dari aturan-aturan Allah swt yang mengatur
hubungan manusia dengan dirinya sendiri.
Perubahan akhlaq sama sekali tidak berkaitan dengan perubahan warna
masyarakat.
Kedua, pernyataan
di atas tidak berarti bahwa kami meremehkan akhlaq, atau menganggap bahwa
akhlaq bukanlah perkara penting jika dibandingkan dengan perkara-perkara yang
lain.   Al-Quran sendiri tidak menyebut
kata khuluq di banyak tempat, kecuali pada surat al-Qalam:4 dan al-Syu’araa’
:137.    Selain itu, para fuqaha hanya
mengkaji masalah-masalah yang berhubungan dengan hukum syari’at.  Mereka tidak pernah mengkaji akhlaq dalam bab
fiqh tersendiri.    Ini menunjukkan bahwa
akhlaq adalah bagian dari syariat Islam yang mengatur hubungan manusia dengan
dirinya sendiri.
Ketiga  Seandainya kita bandingkan dengan
bangsa-bangsa yang saat ini mengalami kemajuan, kita bisa menyimpulkan bahwa,
akhlaq yang dimiliki oleh kaum muslim lebih tinggi dibandingkan dengan
bangsa-bangsa lain.   Namun demikian,
kaum muslim tetap saja dalam posisi kemunduran.
Mereka tertinggal jauh dengan bangsa-bangsa yang akhlaqnya lebih rendah
dibandingkan mereka.
Keempat.  Fakta juga telah menunjukkan, bahwa propaganda-propaganda,
seruan-seruan, maupun buku-buku, selebaran, poster, dan lain-lain yang
menyerukan kepada akhlaq sama sekali tidak memberikan pengaruh bagi kebangkitan
kaum kaum muslim.  Umat Islam tetap
mundur dari sisi ekonomi, politik dan hukum.
Ini membuktikan bahwa akhlaq bukanlah asas atau dasar dari
perubahan.  Ia juga bukan masalah utama
bagi kaum muslim.
          Seluruh
penjelasan di atas tidak boleh dipahami, bahwa kami meremehkan akhlaq, atau
tidak menganggap penting masalah akhlaq.
Namun, kami hanya ingin menjelaskan, bahwa akhlaq bukanlah persoalan
utama kaum muslim, dan juga bukan asas dan dasar kebangkitan umat.
          Adapun ayat
al-Quran yang menyatakan, “
          “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi
pekerti.”[al-Qalam:4], serta nash-nash yang senada pengertiannya, semisal
hadits,”
          “Sesungguhnya
aku ini hanya diutus untuk menyempurnakan akhlaq”, tidak bisa dipahami bahwa
asas perubahan adalah akhlaq, atau dipahami bahwa persoalan yang menjadi fokus
perhatian utama Rasulullah saw adalah perubahan akhlaq.
          Mufasir-mufasir terkenal, seperti Mujahid, Dlahak, Imam
Thabari dan Qurthubiy, menyatakan bahwa yang dimaksud dengan kata “khulq” pada
surat al-Qalam ayat 4, bukan sekedar “akhlaq”, akan tetapi bermakna “diin”
(agama).   Di dalam shahih Bukhari  telah diriwayatkan bahwa ‘Aisyah ra pernah
ditanya tentang akhlaq Rasulullah saw.
Ia menyatakan,
“Akhlaq beliau saw adalah al-Quran.”[lihat pada catatan kaki, ‘Ali
al-Shabuniy
, Shafwat al-Tafaasir, juz III, hal.465]
          Ini menunjukkan, bahwa al-Quran merupakan pembentuk akhlaq
Rasulullah saw dan kaum muslim.   Akhlaq
Islam hanya akan terbentuk dengan panduan al-Quran al-Karim. Tidak ada
gunanya mengklaim dirinya berakhlaq sementara itu, mereka berkecimpung dan
turut aktif di dalam sistem kufur, atau malah masuk ke dalam parlemen untuk
membuat aturan-aturan kufur.
          Riwayat-riwayat
sharih juga menuturkan bahwa fokus utama dakwah Rasulullah saw adalah mengubah
sistem kemasyarakatan jahiliyyah, kemudian diganti dengan sistem Islam.   Dengan kata lain, beliau senantiasa
memfokuskan dirinya untuk merubah pemikiran yang ada di tengah-tengah
masyarakat.        Fakta
perubahan masyarakat di jaman Rasulullah saw dan juga fakta perubahan
masyarakat yang ada di dunia ini, menunjukkan bahwa masyarakat hanya akan
berubah jika pemikiran mereka telah berubah.
          Demikianlah
anda telah kami jelaskan dengan gamblang bahwa akhlaq bukanlah asas atau dasarbagi kebangkitan umat, dan ia juga bukan masalah utama kaum muslim.
[1]
Lihat Imam al-Raziy, Mukhtaar al-Shihaah, hal.187.

SHARE