Siapakah Orang Yang Paling Kuat Di Dunia Ini

338
        Orang yang paling kuat adalah orang yang bisa
menahan dan mengendalikan amarahnya. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw menyatakan :
Orang kuat bukanlah orang yang
menang bergulat, tetapi yang disebut orang kuat adalah orang yang bisa
mengendalikan dirinya pada saat marah”.[HR. Bukhari dan Muslim]
 
          Marah (ghadlab)
merupakan fithrah yang telah diberikan Allah kepada setiap manusia.   Setiap manusia pasti pernah merasakan rasa
amarah.   Namun demikian, Islam telah
memerintahkan umatnya agar bisa menahan amarah.   Allah swt berfirman, artinya :
          “..dan orang-orang yang bisa
menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain.”[Ali Imron:135]
 
          Ayat ini menjelaskan
bahwa mengendalikan amarah adalah salah satu sifat orang-orang yang
bertaqwa.   Bahkan akan lebih utama lagi
apabila ia memaafkan kesalahan orang yang membuat dirinya marah.   Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan bahwa
Nabi Musa as pernah bertanya kepada Allah swt:
Ya Rabbi!
Siapakah di antara hambaMu yang lebih mulia menurut pandanganMu?  Allah berfirman,”Ialah orang yang apabila
berhail menguasai musuhnya darpat segera memaafkannya.”[HR. Kharaithi dari Abu
Hurairah].
 
Atas dasar itu, orang yang memiliki kemuliaan
tinggi adalah orang yang mampu memaafkan musuh-musuhnya.  Sungguh, memaafkan orang-orang yang telah
menyakiti dan memusuhi kita merupakan perkara yang sangat berat dan membutuhkan
pengendalian emosi.    Wajar saja apabila
orang yang bisa memaafkan kesalahan orang lain terkategori orang-orang bertaqwa
dan akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah swt.  Al-Quran juga telah menyinggung masalah ini
di beberapa tempat.
          “Memaafkan itu lebih mendekatkan
kepada taqwa.”[al-baqarah:237]
“Dan hendaklah mereka suka memaafkan
dan mengampuni.  Apakah kalian tidak suka
Allah mengampuni kalian?’[al-Nuur:22]
 
       Dalam hadits-hadits
shahih dituturkan keutamaan orang yang bisa menahan amarah dan bisa memaafkan
orang lain.  Rasulullah saw bersabda:
          “Ada tiga hal yang apabila dilakukan
akan dilindungi Allah dalam pemeliharaanNya, ditaburi rahmatNya, dan
dimasukkanNya ke dalam surgaNya, yaitu: Apabila diberi ia berterima kasih;
apabila berkuasa ia suka memaafkan dan apabila marah ia menahan diri”. [HR.
Hakim dan Ibnu Hibban dari Ibnu ‘Abbas]
 
          “Nabi saw bersabda kepada ‘Uqbah bin
‘Amir ra, “Wahai ‘Uqbah! Maukah engkau aku beritahukan budi pekerti yang paling
utama ahli dunia dan akherat? Yaitu, menyambung silaturahim dengan orang yang
telah memutuskannya, memberi orang yang tidak pernah memberimu, dan memaafkan
orang yang pernah menganiayamu”. [Ihyaa’ ‘Ulumuddin juz III, hal.158]
 
          Pada dasarnya, marah
(ghadlab) menunjukkan gejala mendidihnya darah dalam jantung yang didorong oleh
motif ingin membinasakan dan yang menyebabkan panasnya mengalir di kepala.  Muka menjadi merah padam, matanya bersinar
tajam, telinganya memerah tidak mau mendengarkan nasehat dan peringatan.  Bahkan rasa amarah yang telah memuncak bakal
memadamkan akal dan pikiran.   Nafas
memburu dan menyesakkan rongga dada.
Gejala-gejala semacam ini bisa dimaklumi, sebab, amarah itu ibaratnya
bara api yang menyala di dalam hati manusia.
Perhatian sabda Rasulullah saw,”
          “Jagalah dirimu dari perbuatan
marah, sesungguhnya marah itu laksana bara api yang menyala di dalam hati bani
Adam.  Cobalah perhatikan (ketika orang
sedang marah) lehernya berkembang dua biji matanya memerah.”
 
          Lantas, bagaimana cara mengatasi dan mengendalikan rasa
marah?  Rasulullah saw telah memberikan
bimbingan ringkas untuk mengendalikan rasa marah.   Dalam sebuah hadits dituturkan bahwa
Rasulullah saw pernah bersabda:
          “Sesungguhnya marah itu berasal
dari setan dan setan diciptakan dari api, dan api hanyalah dapat dipadamkan
dengan air.  Apabila di antara kalian
marah, hendaklah berwudlu.”[HR. Ahmad dan Abu Daud]
 
          Kemarahan bisa
dipadamkan dengan cara mengambil air wudlu’.
Air wudlu akan mendinginkan kepala dan meredakan panas yang muncul dari
luapan emosi.  Akibatnya, dendam kesumat
menjadi padam dan pikiran akan jernih kembali.
          Dalam hadits-hadits yang lain disebutkan bahwa rasa amarah
bisa dihilangkan dengan cara dzikir kepada Allah swt.  Sebab, dengan dzikir hati seseorang akan
menjadi tenang dan tentram.  Kontrol diri
semakin mantap dan hatinya selalu terpaut kepada Allah swt.  Tatkala hatinya selalu terpaut kepada Allah
swt, maka ia akan berfikir jernih dan sabar.
Atas dasar itu, dzikrullah adalah kendali dari rasa amarah.   Dalam sebuah hadits qudsiy dituturkan bahwa,
apabila ada orang yang tetap mengingat Allah di saat marah maka dirinya akan
mendapatkan rahmat dari Allah swt.
          “Barangsiapa yang ingat kepadaKu
ketika marah, niscaya Aku ingat kepadanya ketika Aku marah, dan tidak akan Aku
hilangkan rahmatKu sebagaimana orang-orang yang Aku binasakan atau hilangkan
rahmatnya”[HR. Dailami dari Anas ra]
 
          Namun demikian, seorang
muslim harus membenci dan marah tatkala ia menyaksikan kemungkaran dan
kemaksiyatan.   Ia tidak boleh ridlo dan
cenderung terhadap kemungkaran dan kemaksiyatan.   Allah SWT berfirman:
          “Dan janganlah kamu cenderung
kepada orang-orang yang dzalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan
sekali-kali kamu tiadak mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah,
kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.”[Huud:113]
 
          Dalam sebuah riwayat
dituturkan bahwa Rasulullah saw selalu menunjukkan amarahnya tatkala
menyaksikan kemungkaran dan kemaksiyatan.
Dari Abu Mas’ud ‘Ukhbah bin ‘Amr al-Badriy berkata,”Ada
seorang laki-laki mendatangi Rasulullah saw dan berkata, “Sesungguhnya saya
terpaksa mundur dari jama’ah sholat Shubuh karena di fulan memanjangkan bacaan
sholatnya bersama kami.  “  Maka saya tidak pernah melihat Rasulullah saw
marah di dalam memberikan nasehat melebihi marahnya saat itu, dimana beliau
bersabda,”Wahai sekalian manusia, sesungguhnya ada diantara kamu sekalian
orang-orang yang menjadikan jauh.
Barangsiapa di antara kamu sekalian menjadi imam maka hendaklah ia
memperpendek bacaannya, karena di belakangnya ada orang yang sudah tua, ada
orang yang lemah, dan ada orang mempunyai keperluan lain.”[HR. Bukhari Muslim]
 
          Dari ’Aisyah ra
dituturkan bahwa ia berkata,”Rasulullah saw datang dari
bepergian, sedangkan di dalam rumah saya pasang sebuah tabir yang ada
lukisannya, kemudian setelah Rasulullah saw melihatnya maka beliau
mengoyak-ngoyak dan berubahlah wajahnya seraya bersabda,”Wahai A’isyah,
seberat-berat siksaan Allah nanti di hari akhir yaitu siksaan orang-orang yang
menyaingi ciptaan Allah.”[HR. Bukhari dan Muslim]
 
          Seorang muslim juga
harus menunjukkan rasa marahnya ketika melihat aturan-aturan Allah swt mulai
dicampakkan dan diganti dengan aturan-aturan kufur.   Ia harus marah ketika para penguasa mulai
bermesraan dan bermuwalah dengan orang-orang kafir.  Ia juga harus menunjukkan rasa marahnya
ketika melihat para penguasa mulai menerapkan aturan-aturan kufur yang
bertentangan dengan syari’at Allah swt.
          Atas dasar itu, kaum muslim harus bisa mengendalikan rasa
marahnya, dan memenejnya sesuai dengan aturan-aturan Islam.   Apabila seorang muslim melihat kemungkaran
atau kemaksiyatan maka hatinya akan marah dan berusaha untuk mengubah
kemungkaran tersebut.   Sebaliknya, ia
akan bergembira tatkala menyaksikan perintah Allah swt dijunjung tinggi.
Agar kaum muslim menjadi orang-orang yang kuat,
sudah sewajibnya mereka mengendalikan rasa amarahnya dan memupuk ketaqwaan
kepada Allah swt.
SHARE