Ketentuan Nisab Zakat Perdagangan (perniagaan)

65
Zakat Perdagangan (perniagaan),- Yang dimaksud
dengan harta perdagangan adalah semua bentuk harta yang diproduksi untuk
dijualbelikan dengan bermacam-macam cara dan membawa kenaikan dan manfaat bagi
manusia.[1] Adapun dalil yang
menunjukkan adanya kewajiban zakat pada harta perdagangan adalah firman Allah:
ياأيهاالذّين
امنواأنفقوامن طيّبات ماكسبتم وممّاأخرجنالكم من الأرض [2]
Ayat ini
mengandung makna bahwa wajib bagi semua harta yang dipergunakan dalam usaha
kerja yang produktif untuk dikeluarkan zakatnya. Demikian pendapat Iman Abu
Bakar Ibn Arabi dalam Ahkām al-Qur’ānnya, juga Imam al-Razi yang
dikutip oleh Yūsuf al-Qaradawi.[3]
Pendapat mereka diperkuat lagi dengan hadis Nabi saw sebagai berikut:
كان
يأمرناان نخرج الصّدقة من الّذي نعدّللبيع [4]
Mengenai zakat tijarah
ini, ulama zahiriyyah berbeda pendapat, bahwa tidak wajib dikeluarkan zakatnya
atas harta perdagangan.[5] Adapun syarat
harta benda menjadi tijarah menurut Ibnu Qudamah yang dikutip oleh
as-Sayyid Sabiq dalam Fiqh as-Sunnahnya 
ada dua macam syarat, yaitu:
1.   
Hendaklah dimiliki secara nyata
seperti dari jual beli
2.   
Hendaklah ketika dimiliki itu
diniatkan untuk diperdagangan[6]
Disamping kedua
syarat tersebut, harta perdagangan itu juga harus mencapai nisab dan haul.
Adapun nisabnya adalah seharga 20 misqal emas atau 94 gram emas murni,
sedangkan kadar zakatnya adalah 2,5%.[7]
Zakat Perdagangan (perniagaan)

Adapun cara mengeluarkan
zakat barang dagangan
tersebut menurut Maimun bin Mihram, Hasan al-Basri dan
Ibrahim Naba’i yang dikutip oleh Yūsuf al-Qaradawī dalam bukunya Fiqh
az-Zakāh
adalah sebagi berikut: apabila sudah tiba waktu untuk mengeluarkan
zakat, hitunglah berapa jumlah uang kontan yang ada, barang yang ada dan
hitunglah nilai barang itu secara piutang yang ada pada orang yang mampu,
kemudian keluarkanlah hutangnya, baru dikeluarkan zakatnya.
[1] Djamaluddin Ahmad al-Buny, Problematika Harta dan Zakat,
cet. Ke-2, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1983), hlm. 115.
[2] Al-Baqarah (2): 167.
[3] Yūsuf   al- Qaradawī, Fiqh
az-Zakāh,
I: 315
[4] Imām Abī Dawūd, Sunān Abī Dawūd, Kitab az-Zakāh,
Bab al-‘urud Iża kāna li at-tijārah, II: 95, Hadis no. 1562 Hadis
dari samurah bin jundab ra.
[5] As-Sayyid Sabiq, Fiqh as-Sunnah, I: 346.
[6] Syechul Hadi Purmono, Sumber-sumber Penggalian Zakat,
(Jakarta: Pustaka Firdaus, 1992), hlm. 133.
[7] Yusuf al-Qaradawi, Ibid, I: 322-323.

Demikianlah artikel mengenai Ketentuan Nisab Zakat Perdagangan (perniagaan) yang harus diperhatikan oleh para muzakki. Mudahan Bermanfaat.

SHARE