Ada Apa Dibalik Pernikahan ?

38
Nikah. Untuk satu kata ini, banyak pandangan sekaligus
komentar yang berkaitan dengannya. Bahkan sehari-hari pun, sedikit
atau banyak, tentu pembicaraan kita akan bersinggungan dengan hal
yang satu ini. Tak terlalu banyak beda, apakah di majelisnya para
lelaki, pun di majelisnya wanita. Sedikit diantara komentar yang
bisa kita dengar dari suara-suara di sekitar, diantaranya ada yang
agak sinis, yang lain merasa keberatan, menyepelekan, atau cuek-cuek
saja. 
Mereka yang menyepelekan nikah, bilang “Apa
tidak ada alternatif yang lain selain nikah ?”, atau
“Apa untungnya nikah?”. 
Bagi yang merasa berat pun berkomentar
“Kalau sudah nikah, kita akan terikat alias tidak bebas”,
semakna dengan itu “Nikah ! Jelasnya bikin
repot, apalagi kalau sudah punya anak”. 

 Yang lumayan banyak ‘penggemarnya’ adalah yang mengatakan
“Saya pingin meniti karier terlebih dahulu,
nikah bagi saya itu gampang kok”. 
Terakhir, para orang tua pun turut memberi nasihat
untuk anak-anaknya “Kamu nggak usah buru-buru
menikah, cari duit dulu yang banyak”. 
Ironisnya bersamaan dengan banyak orang yang ‘enggan’
nikah, ternyata angka perzinaan atau ‘kecelakaan”
semakin meninggi ! Itu beberapa pandangan orang tentang pernikahan.
Tentu saja tidak semua orang berpandangan seperti itu. Sebagai seorang
muslim tentu kita akan berupaya menimbang segalanya sesuai dengan
kaca mata islam. Apa yang dikatakan baik oleh syariat kita, pastinya
baik bagi kita. Sebaliknya, bila islam bilang sesuatu itu jelek
pasti jelek bagi kita. Karena pembuat syariat, yaitu Allah adalah
yang menciptakan kita, yang tentu saja lebih tahu mana yang baik
dan mana yang buruk bagi kita. 
Persoalan yang mungkin muncul di tengah masyarakat
kita sehingga timbul berbagai komentar seperti di atas, tak lepas
dari kesalahpahaman atau ketidaktahuan seseorang tentang tujuan
nikah itu sendiri. 
Nikah di dalam pandangan islam, memiliki kedudukan
yang begitu agung. Ia bahkan merupakan sunnah (ajaran) para nabi
dan rasul, seperti firman Allah :
“dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa rasul
sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan
keturunan” (QS Ar-ra’d : 38)
 
Sedikit memberikan gambaran kepada kita, nikah di
dalam ajaran islam memiliki beberapa tujuan yang mulia, diantaranya
:

Nikah dimaksudkan untuk menjaga keturunan, mempertahankan
kelangsungan generasi manusia. Tak hanya untuk memperbanyak generasi
saja, namun tujuan dari adanya kelangsungan generasi tersebut
adalah tetap tegaknya generasi yang akan membela syariat Allah,
meninggikan dienul islam , memakmurkan alam dan memperbaiki bumi.

Memelihara kehormatan diri, menghindarkan diri
dari hal-hal yang diharamkan, sekaligus menjaga kesucian diri.
Mewujudkan maksud pernikahan
yang lain, seperti menciptakann ketenangan, ketenteraman. Kita
bisa menyaksikan begitu harmoninya perpaduan antara kekuatan laki-laki
dan kelembutan seorang wanita yang diikat dengan tali pernikahan,
sungguh merupakan perpaduan yang begitu sempurna.

Pernikahan pun menjadi
sebab kayanya seseorang, dan terangkatnya kemiskinannya. Nikah
juga mengangkat wanita dan pria dari cengkeraman fitnah kepada
kehidupan yang hakiki dan suci (terjaga). Diperoleh pula kesempurnaan
pemenuhan kebutuhan biologis dengan jalan yang disyariatkan
oleh Allah. Sebuah pernikahan, mewujudkan kesempurnaan kedua
belah pihak dengan kekhususannya. Tumbuh dari sebuah pernikahan
adanya sebuah ikatan yang dibangun di atas perasaan cinta dan
kasih sayang.
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia
menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya
kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan Nya
diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”
(QS Ar Ruum : 21)
Itulah beberapa tujuan mulia yang dikehendaki oleh
Islam. Tentu saja tak keluar dari tujuan utama kehidupan yaitu beribadah
kepada Allah.
SHARE