Ada Kemauan Allah Pasti Memberi Jalan

218
Allah SWT berfirman, artinya:
          “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari
keridloan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan
Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”

(29:69)
          Makna dari
firman Allah SWT, “Dan orang-orang
yang berjihad untuk (mencari keridloan) Kami”,
adalah,” Siapa saja yang berjihad melawan orang kafir
untuk mencari keridloaan Kami “.

 Al-Suddiy berkata, “Ayat
ini turun sebelum diturunkannya ayat-ayat mengenai kewajiban perang.
  Ibnu
‘Athiyyah
berkata, ” Ayat ini turun sebelum perang ‘Arafiy.  Makna
jihad di sini adalah jihad secara umum di jalan Allah untuk mendapatkan
keridloanNya.
  Abu Sulaiman al-Daraniy, “Jihad
dalam ayat ini tidak hanya memerangi orang-orang kafir saja, akan tetapi juga
mencakup; menolong agama, menghancurkan ahli bathil, dan mengalahkan
orang-orang dzalim.  Jihad di sini juga
bermakna, melakukan aktivitas amar ma’ruf dan nahi ‘anil munkar; salah satunya
adalah bersungguh-sungguh di dalam taat kepada Allah.
Sofyan bin
‘Uyainah
berkata kepada Ibnu Al-Mubarak, “Jika kamu melihat manusia berselisih, maka hendaknya kamu memihak
orang-orang yang berjihad di jalan Allah, karena Allah SWT berfirman,
“benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka (orang-orang yang berjihad
di jalan Allah)
 
Adl-Dlohak berkata, “Orang-orang
yang bersungguh-sungguh dalam hijrah, Kami benar-benar akan memberikan petunjuk
kepada mereka jalan-jalan menuju keteguhan iman.
  Kemudian ia berkata, “ Orang-orang yang berjihad di jalan Allah,
akan diberi petunjuk di dunia dan akan mendapatkan surga di akherat.  Barangsiapa di akherat masuk surga, sungguh
ia telah selamat.  Namun, barangsiapa
mendapatkan petunjuk jalan di dunia, maka ia akan selamat.
  Ibnu Abbas ra berkata, “ Orang yang bersungguh-sungguh ta’at kepada
Allah, benar-benar Allah akan menunjukkan kepada mereka jalan pahala.  Semua ini bisa dicapai dengan cara
melaksanakan keta’atan pada semua hal.
 
Adapun penggalan “lanahdiyannahum subulana”,
menurut al-Suddiy, berarti jalan
menuju surga.  Al-Naqaasiy berkata,
Sungguh mereka akan diberi petunjuk menuju agama yang haq, yakni Islam. Allah
SWT akan memberikan pertolongan, bantuan, penjagaan, dan petunjuk kepada mereka
dengan sebenar-benarnya.”

          Surat Al-‘Ankabut di atas diawali dengan
peringatan kepada manusia akan cobaan dan ujian.  Allah swt berfirman, “ Apakah manusia itu mengira bahwa mereka
dibiarkan saja mengatakan:”Kami telah beriman,” sedang mereka tidak
diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka
, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya
Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”
(29:2-3) 
Ayat ini merupakan hiburan
bagi  mustadl’afiin (orang-orang lemah)
dari kalangan kaum muslimin yang ditindas oleh orang-orang Quraisy.  Ayat ini juga berisikan pemberitahuan kepada
orang-orang yang berjuang di jalan Allah hingga hari kiamat nanti, bahwa mereka
akan menjumpai kesusahan dan perlawanan dari kaumnya.  Mereka juga akan ditimpa bala’ (cobaan) baik
pada harta maupun jiwanya.  Akan tetapi,
mereka diharuskan untuk  sabar dan teguh
sampai Allah mendatangkan pertolonganNya kepada mereka 
Imam Bukhari dari Khubbab bin al-Arats: “Kami (shahabat) mengadu kepada Rasulullah SAW, sedangkan beliau sedang
berbaring di dekat Ka’bah.  Kami berkata
kepada beliau,” Mengapa anda tidak memintakan pertolongan kepada
kami?  Mengapa anda tidak mendo’akan
kepada kami?  Rasul berkata,
“Sungguh bahwa ada orang-orang sebelum kalian yang dikubur hidup-hidup,
digergaji kepalanya hingga terbelah dua, dan 
disisir dengan sisir besi daging dan tulangnya.  Namun, semua itu tidak memalingkan mereka
dari agamanya.  Demi Allah, sungguh Allah
benar-benar akan memenangkan agama ini sampai Allah memudahkan para pengendara
dari Suna’a sampai Hadramaut, dan mereka 
tidak pernah merasa takut kecuali kepada Allah dan serigala yang
menyerang ternaknya.  Akan tetapi kalian
tergesa-gesa”
  Sa’ad bin Abi
Waqash meriwayatkan sebuah hadits, “Saya
bertanya, “Wahai  Rasulullah SAW siapakah
orang yang paling berat cobaannya? 
Rasulullah SAW menjawab, “Para Nabi, kemudian orang setelahnya dan
kemudian orang setelahnya.  Seseorang
diuji berdasar kadar agamanya. Seseorang tidak akan pernah berhenti dicoba
sampai ia dibiarkan berjalan di muka bumi ini dan ia tidak mempunyai dosa
lagi.”

          Surat ini
ditutup dengan khabar gembira bagi kaum muslimin yang berjihad di jalan Allah
semata untuk mencari keridloan Allah; yaitu, orang-orang yang mengemban dakwah
di jalan Allah.  Mereka tidak akan pernah
mundur, berputus asa, sabar atas fitnah manusia dan fitnah yang menimpa dirinya
sendiri.  Orang yang mengemban tugas
dakwah semata karena Allah, akan tetap menjalani jalan dakwah meskipun jalannya
panjang dan berliku.   Namun, Allah telah
memberikan kabar gembira kepada mereka, bahwa Allah tidak akan meninggalkan
mereka seorang diri. Allah tidak akan pernah menghapus iman mereka. Allah tidak
akan pernah melupakan kesungguhan mereka. Allah akan menyaksikan mereka dari
ketinggianNya.  Lalu, Allah ridlo terhadap
mereka. Allah akan melihat kesungguhan mereka dalam berjuang di jalanNya.  Selanjutnya, Allah akan memberikan
sebaik-baik jalan kepada mereka.  Allah
juga akan melihat usaha mereka di dalam merealisasikan cita-cita mereka.  Lalu, melalui tangan-tangan mereka (para
pengemban dakwah), Allah swt akan membidas kekufuran, kedzaliman, dan
kefasikan.   Tak lama kemudian, datanglah
pertolonganNya, sehingga mereka bisa mewujudkan cita-cita mereka.  
Allah akan melihat kesabaran dan
ketulusan mereka.  Namun, Allah akan
memberikan kepada mereka sebaik-baik balasan.  
“Dan sesungguhnya Allah
benar-benar bersama dengan orang-orang 
yang berbuat baik
. 
Makna ayat tersebut di atas terus diulang-ulang dalam Al-Quran Al-Kariim
di berbagai surat. 
Di ayat yang lain, Allah
berfirman, artinya, “Sesungguhnya
Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan
dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat)”

(al-Mu’min:51). “Hai orang-orang
yang beriman, jika kamu menolong  (agama)
Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”

(Muhammad:7). ” Sesungguhnya Allah
pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. 
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”.

(al-Hajj:40)
Lalu, kapan dan bagaimana
pertolongan itu terjadi?  Jawabnya hanya
ada di tangan Allah semata.  Kita bisa
bercermin pada sejarah, bahwa Nabi Musa as telah mendoakan  Fir’aun dan pemuka kaumnya, sebagaimana
firman Allah,”Ya Tuhan kami,
binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka”
(Yunus:88).  Allah mengabulkan doanya,Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan
kamu berdua..”
(Yunus:89).  
Akhirnya, raja Fir’aun dan bala tentaranya tenggelam di laut Merah. 
Kita harus ingat, tenggelamnya
raja Fir’aun dan pengikutnya terjadi setelah 40 tahun dari doa nabi Musa as,
sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Thabariy. 
Yang jelas, Allah swt pasti akan menolong hamba-hambaNya yang istiqamah
berjuang di jalan Allah swt. 

Nabi Mohammad saw menyampaikan
dakwah sejak wahyu diturunkan kepadanya.  Beliau berjuang di jalan Allah dengan
sungguh-sungguh.  Akan tetapi,
pertolongan Allah belum juga datang kepada beliau.  Namun, setelah 13 tahun beliau berdakwah,
datanglah pertolongan Allah dengan perantara orang-orang Anshor ra.  Tak seorangpun dapat memperlambat atau
mempercepat datangnya pertolongan Allah. 
Sebab, masalah ini hanya Allah yang mengetahui. Sedangkan janji Allah
Allah akan memberikan pertolongan pada hamba Alah yang beriman– adalah haq.  Ini didasarkan pada firman Allah, “ Sesungguhnya Allah pasti menolong orang
yang menolong(agama)-Nya.”


Seorang
pengemban dakwah harus yakin, tatkala beristiqamah di jalan Allah, ia akan
mendapatkan pertolongan dan kemudahan.  
Siapa saja yang beristiqamah di jalan Allah, ia akan dihibur para
malaikat dengan kata-kata manis dan menyejukkan hati,”Janganlan kalian takut, janganlah kalian khawatir”.  Tidak hanya itu saja, Allah akan menjadi
penolong (waliy) bagi dirinya. 
Seorang pengemban dakwah rela mengorbankan
harta dan jiwanya di jalan Allah.  Ia
yakin, rejeki dan kematian hanya di tangan Allah.  Sementara itu, ia tahu dengan pasti, bahwa
setan telah menakut-nakuti dirinya dengan kemiskinan dan kematian.   Namun, ia tidak akan pernah terjebak oleh
tipu daya setan. 
Mengemban
dakwah dengan sungguh-sungguh dan penuh keikhlasan bukanlah sebab kemiskinan,
ataupun kematian.   Atas dasar itu, ia
tidak pernah takut dan khawatir akan rejeki Allah.  Ia hanya takut dan khawatir jika Islam musnah
dan lenyap dari muka bumi ini.   Demi
Allah, inilah sifat-sifat utama yang harus dimiliki oleh para pengemban
dakwah.   Islam hanya akan mulia melalui
orang-orang semacam ini.  
Islam tidak akan mulia dan
dimuliakan melalui orang-orang yang banyak omong tapi kosong dari pengorbanan
dan ketaqwaan.  Apa gunanya omong kosong
tentang kemajuan Islam, bila kenyataannya mereka tidak pernah berbuat secara
real untuk memajukan Islam?  Islam hanya
mereka besarkan melalui opini-opini kosong yang menjerumuskan dan
menyesatkan.  Islam juga tidak pernah
jaya, kecuali jika diemban oleh orang-orang mukhlish yang lebih mementingkan
urusan agamanya dibandingkan urusan-urusan dunianya.   Islam akan tegak melalui tangan dan kaki
para pengemban dakwah yang berani, serius, jujur, dan amanah.   Ingatlah, kepengecutan, ketidakseriusan, dan
ketidakjujuran akan menjauhkan dari pertolongan Allah swt.  
Mengemban dakwah adalah
tugas yang dahulu pernah dipikul oleh para nabi dan rasul.  Bila demikian, sudah selayaknya kita harus
meniru dan menteladani para nabi dan rasul dalam mengemban dakwah.  Sudah seharusnya juga, kita meniru
sifat-sifat mulia yang dimiliki mereka.  
Sebab, tanpa sifat-sifat yang mulia ini, seseorang tidak mungkin bisa
menjalankan tugas mengemban dakwah Islam.  
Walhasil, sudah seharusnya seorang pengemban dakwah selalu mendekatkan
diri kepada Allah dengan jalan taqarrub dan menjalankan semua ketaatan kepada
Allah swt.   Jikalau para pengemban
dakwah memiliki sifat-sifat  para nabi
dan rasul, sungguh kemenangan hanya tinggal menunggu waktu saja. 
Semoga Allah menjadikan kita
sebagai pengemban dakwah yang mukhlish dan memiliki sifat-sifat yang pernah
dimiliki oleh para nabi dan rasul. 
SHARE