Akhirat Lebih Utama

29

Allah SWT berfirman yang artinya, “Katakanlah, ‘Inginkah aku
kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu? Untuk
orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Rab mereka ada
surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di
dalamnya. Dan, (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan, serta
keridaan Allah. Dan, Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.”

(Ali Imran: 15)
Ayat sebelumnya menerangkan tentang apa-apa yang dijadikan indah
di mata manusia. “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia
kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita,
anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan,
binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia,
dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga).”

Sudah menjadi sifat manusia bahwa mereka mencintai wanita,
membangga-banggakan anaknya, ingin harta kekayaan yang melimpah. Hal
itu memang yang telah dijadikan oleh Allah tampak indah di mata
manusia, sehingga mereka berusaha untuk meraihnya. Selain itu,
manusia juga akan selalu berambisi untuk memiliki pangkat dan
kedudukan yang tinggi.

Memang dunia dan nafsu merupakan
kerabat dekat yang keduanya sama-sama seperti bayang-bayang. Nafsu
sering diibaratkan dengan air laut, yang apabila diminum tidak
menghilangkan dahaga tetapi hanya akan menambah haus. Jadi, tidak
akan puas manusia memperturutkan hawa nafsunya. Sedangkan dunia tak
ubahnya bagaikan fatamorgana.

Orang yang hanya mementingkan
kehidupan dunia akan sangat merugi dan menyesal. Karena, ia merasa
memiliki kebaikan yang banyak tetapi pada hakikatnya semu belaka.
Ibarat orang yang berjalan di padang pasir saat panas terik yang
teramat sangat. Waktu itu dia merasakan haus yang tiada tara,
kemudian di kejauhan dia melihat seperti ada air yang banyak sekali.
Lalu ia berusaha untuk mendekati dan mencapainya. Ia acap kali
berusaha mendapatkannya tetapi tidak pernah bisa menyentuhnya.
Semakin jauh dia mengejarnya, semakin jauh pula apa yang hendak
didapatnya. Itulah fatamorgana. Ini sama dengan amalan orang-orang
kafir yang oleh Allah diibaratkan bagaikan fatamorgana.

Pada
ayat di atas, yang pertama kali disebutkan oleh Allah dari kecintaan
manusia adalah wanita, karena wanita termasuk fitnah yang sangat
berat. Rasulullah saw. bersabda, “Aku tidak meninggalkan suatu
fitnah yang lebih bahaya bagi kaum laki-laki dari pada wanita.”

Rasulullah saw. sendiri termasuk orang yang mencintai
wanita. Beliau bersabda, “Dijadikan aku menyukai wanita dan
wangi-wangian. Dan, dijadikan kesejukan mata hatiku di dalam
shalat.”
(HR An-Nasai dan Hakim).

Setelah itu disebutkan
kecintaan kepada anak-anak dan harta benda mulai dari emas, perak,
kuda, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang.

Pada ayat
lain Allah berfirman (yang artinya), “Ketahuilah, bahwa
sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang
melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu, serta
membangga-banggakan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan
yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman
itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi
hancur. Dan, di akhirat nanti ada azab yang keras, dan ampunan,
serta keridaan-Nya. Dan, kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah
kesenangan yang menipu.”
(Al-Hadid: 20).

Kebanyakan
manusia orientasi kehidupannya hanya ditujukan kepada dunia.
Bagaimana dia bisa memiliki harta kekayaan, rumah megah lengkap
dengan segala perabotan yang serba wah, kendaraan mewah,
wanita-wanita cantik, kursi jabatan atau kedudukan yang tinggi, dan
semua yang diinginkannya berusaha untuk dia dapatkan. Mereka merasa
hebat dan berhasil jika sudah memiliki itu semua. Walaupun pada
hakikatnya nafsu tiadak akan pernah merasa puas. Bahkan, pada saat
sekarang ini pandangan masyarakat tentang kesuksesan hidup sudah
keliru. Terbukti bahwa tolok ukur masyarakat mengenai kesuksesan
seseorang adalah apabila sudah berhasil mengumpulkan dunia dan
menumpuk harta sebanyak-banyaknya. Ini adalah pandangan yang
benar-benar keliru ditinjau dari sisi syar’i.

Semua itu
merupakan kesenangan hidup di dunia. Namun demikian, bukan berarti
kita dilarang untuk menikmatinya. Manusia diciptakan di dunia
dilengkapi dengan nafsu. Yaitu, nafsu pada kehidupan dunia. Oleh
karena itu, untuk memenuhi keinginan nafsunya, Allah sudah
menyediakan aturan yang harus ditaati.

Orang yang beriman
mempunyai kontrol untuk mengendalikan hawa nafsunya. Kendali itu di
antaranya adalah takwa. Allah berfirman, “Sesungguhnya, kehidupan
dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan, jika kamu beriman
serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu, dan Dia tidak
akan meminta harta-hartamu.”
(Muhammad: 36).

Sekarang
tinggal bagaimana manusia menempatkan nafsunya. Jika dia mampu
menyalurkannya sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh
Allah, hal itu akan menjadi kebaikan bagi dia, dan berubah menjadi
hal yang terpuji. Hal itu diterangkan dalam beberapa hadis, di
antaranya yang disebutkan dalam kitab tafsir Ibnu Katsir, Rasulullah
saw. bersabda, “Dan, sebaik-baik umat ini, yang paling banyak
istrinya.”
Jika keinginan terhadap wanita dimaksudkan untuk
menjaga kesucian, dan lahirnya keturunan, maka hal itu justru yang
diharapkan. Bahkan, hadis di atas menganjurkan untuk banyak menikah.

Selain itu, diterangkan dalam hadis lain, “Dunia ini
adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang
salihah. Jika ia (suami) memandangnya, dia (istri) menyenangkannya.
Jika suami memerintahkannya, dia menaatinya. Jika suami tidak berada
di sisinya, dia senantiasa menjaga dirinya dan harta suaminya.”

(HR Muslim, Nasai, dan Ibnu Majah).

Mengenai kuda yang
menjadi bagian dari kesukaan manusia, jika dia memeliharanya dalam
rangka menggapai keridaan Allah, seperti untuk persiapan perang, hal
itu akan menjadi pahala yang besar baginya. Karen, hal itu juga
diperintahkan oleh Allah. “Dan, siapkanlah untuk menghadapi
mereka apa saja yang kalian sanggupi dari kuda-kuda yang ditambatkan
untuk berperang.”
(Al-Anfal: 60).

Dan, apabila seseorang
yang dikaruniai oleh Allah harta kekayaan yang melimpah, kemudian
dia menginfakkannya pagi dan petang. Hal itu justru akan menjadi
kebaikan baginya.

Ayat, hadis, dan contoh tersebut
menunjukkan bahwa kesenangan hidup di dunia jika ditempatkan pada
tempat yang benar sesuai aturan syari akan menjadi kebaikan.

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa kebanyakan orang hanya
mementingkan dunianya saja tanpa tujuan kebaikan di akhirat. Karena
menjadi puncak harapannya, sering kali dunia itu melalaikan dirinya
dari mengingat Allah dan dari kehidupan akhirat yang jelas-jelas
lebih utama.

Sebagai muslim jangan sampai kita diperdaya
oleh dunia, kalau bisa justru kita yang memperdaya dunia demi untuk
meraih kehidupan akhirat. Makanya, pada ayat 15 di atas disebutkan
bahwa orang-orang yang bertakwa akan mendapatkan surga yang lebih
baik dari semua kesenangan dunia.

Jadi, kehidupan akhirat
adalah lebih baik dari semua kesenagan dunia yang dijadikan indah di
mata manusia dalam kehidupan dunia ini. Karena, orang yang beriman
akan mendapat surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungi yang
terdiri dari berbagai macam minuman, baik yang berupa air, susu,
khamr, madu, dan lain sebagainya, yang hal itu semua belum pernah
dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum
pernah terdetik dalam hati manusia. Selain itu, mereka akan
dikaruniai istri-istri yang disucikan berupa bidadari-bidadari yang
bermata jeli. Setelah itu mereka akan diberi keridaan Allah.
Keridaan Allah adalah merupakan hal yang paling besar, dan lebih
besar daripada kenikmatan abadi yang mereka dapatkan. Karena,
setelah mendapatkan keridaan Allah, mereka tidak akan mendapat
murka-Nya untuk selamanya.

Meskipun sudah tahu bahwa
kehidupan akhirat lebih utama, tetapi justru kebanyakan manusia
tidak menempuh jalan untuk menggapainya. Jika manusia disuruh untuk
memilih dua hal berikut: “mulia di dunia tetapi sengsara di akhirat
dan mulia di akhirat namun sengsara di dunia”. Manusia akan membuat
satu pilihan lain yaitu mulia di dunia dan mulia di akhirat. Itu
memang idealnya. Atau, minimal dia akan mulia di akhirat meskipun
sengsara di dunia. Itu pilihan mereka, tapi pada kenyataannya itu
hanya pilihan belaka dan mereka tidak mau mengambil risiko, atau
berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan kemuliaan di akhirat, yang
kemuliaan itu sangat tidak mudah alias sulit sekali untuk didapat.

Jadi, seharusnya segala hal yang kita upayakan dan semua
aktivitas yang kita lakukan adalah “akherat oriented“, agar
setiap langkah kita gerakkan, setiap keringat yang kita cucurkan,
dan setiap pengorbanan yang kita persembahkan mempunyai nilai di
sisi Allah SWT dan menjadi catatan kebaikan bagi kita yang akan
sangat dibutuhkan kelak.

Jangan sampai kita sudah banyak
mengorbankan sesuatu tetapi pengorbanan itu sia-sia saja, dan kita
tidak mendapatkan kebahagiaan akhirat melainkan hanya dunia saja.
Karena, bisa jadi sebagian orang telah disegerakan kebaikannya di
dunia ini, yaitu apa yang mereka upayakan sudah dibalas oleh Allah
pada kehidupan dunia, dan mereka bisa menikmati dunia dan menuruti
hawa nafsu sepuasnya, sedangkan mereka tidak mendapat kebaikan di
akhirat. Na’udzubillah.

Makanya, dalam berdoa kita
tidak boleh hanya meminta kebaikan dunia saja, seperti sebagian
orang yang berdoa, “Ya Rab kami, berilah kami kebaikan dunia.
Dan, tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.”

(Al-Baqarah: 200). Mereka hanya meminta hal-hal yang berkaitan
dengan dunia saja tanpa menyebutkan urusan akhirat. Akan tetapi,
orang yang beriman akan berdoa untuk kebaikan dunia dan akhirat.
Allah berfirman, “Dan, di antara mereka (manusia) ada yang
berdoa, ‘Wahai Rab kami, berikanlah kebaikan untuk kami di dunia,
dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari api neraka’.”

(Al-Baqarah: 201).

Kebaikan di akhirat yang terutama adalah
surga. Idealnya kita mampu mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat.
Al-Qasim Abu Abdurrahman mengatakan, “Barang siapa di anugerahi hati
yang bersyukur, lisan yang berzikir, dan diri yang sabar, berarti
dia telah diberikan kebaikan dunia dan kebaikan akhirat, serta
dilindungi dari azab neraka. Oleh karena itu, sunah Rasulullah saw.
menganjurkan doa tersebut.”

Semoga Allah selalu membimbing
kita ke jalan yang diridai-Nya, sehingga kelak kita bisa meraih
kebahagian yang hakiki di negeri akhirat yang kita dambakan. Amin.
(Zen Muhammad Yusuf).

SHARE