Pengantar Akhlak

45


Insya Allah kita akan belajar akhlaq yang menjadi perangai para
salaf ash shaleh. Mulai dari Uswah kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam, berlanjut kepada Khulafaur Rasyidin, tiga generasi utama dan
para imam yang mengikuti mereka dengan baik. Mudah-mudahan Allah
berkenan mengumpulkan kita kelak bersama mereka. Amiin.
Berikut ini kita mulai dari pengertian Akhlaq menurut bahasa..
1. Definisi Akhlaq menurut Etimologi.
Al-Akhlak merupakan bentuk plural dari al-khuluq yang
digunakan untuk mengistilahkan sebuah karakter dan tabiat dasar
penciptaan manusia. Kata ini terdiri dari huruf kha-la-qa yang biasa
digunakan untuk menghargai sesuatu.
Imam Ar-Raghib menyatakan, “Pada dasarnya kata Al-khalqu, al-khulqu,
dan al-khuluqu memiliki makna yang sama. Namun, al-khalqu lebih
dikhususkan untuk bentuk yang dapat dilacak panca indra, sedangkan
al-khuluqu dikhususkan untuk kekuatan dan tabiat yang bisa ditangkap
oleh mata hati.
Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman,
وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ
A
“Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS. Al-Qalam[68]: 4).
Akhlak mulia didalam ayat ini, sebagaimana dikemukakan oleh Imam
Ath-Thabari, bermakna tata karma yang tinggi; yaitu tatakrama Al-Qur’an
yang telah Allah tanamkan  di dalam jiwa Rasul-Nya. Tata karma ini
tercermin melalui Islam dan ajarannya. Makna ini diriwayatkan oleh Ibnu
Abbas –radliyallahu ‘ahnuma- yang ketika itu menjabarkan makna dari
ayat,
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung,”
dengan berkata, “yaitu memeluk kepercayaan yang agung, dalam hal ini
ialah Islam.”
Mujahid (seorang tabi’in) mengatakan hal serupa dalam menafsirkan
firman Allah ‘Azza wa Jalla tersebut. Ia berkata, “yaitu beragama yang
agung.”
Imam Junaid Radhiyallahu’anhu menerangkan bahwa akhlak Rasulallah
Shalallahu’alaihi wa sallam dikatakan umat terpuji karena beliau hanya
mengedepankan ajaran Allah.
Disamping itu, ada juga ulama yang berpendapat bahwa Akhlak
Rasulallah Shalallahu’alaihi wa sallam dikatakan terpuji karena beliau
memiliki potensi semua budi pekerti yang baik. 
Hal ini tersirat dari
hadits yang di riwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu
إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق
“Sungguh aku di utus untuk menyempurnakan budi luhur.” (HR Muslim).
Imam al Mawardi -rahimahullaah- berkata bahwa lafadz وَإِنَّكَ لَعَلى
خُلُقٍ عَظِيمٍ dapat dipahami memiliki tiga makna berikut ini:

Adab yang di agungkan Al-Qur’an.
Agama Islam.
Budi luhur. Makna inilah yang lebih mendekati makna lahiriyah ayat.

Mengenai hal ini, Fairuz Abadi berkata, “Ketahuilah! Komponen utama
agama Islam adalah akhlak. Jika seseorang memiliki akhlak yang lebih
baik dari pada akhlakmu, berarti dia lebih tinggi derajatnya daripada
dirimu dalam hal agama. Akhlak yang baik ini berdiri diatas empat
pondasi, yaitu kesabaran, keberanian, keadilan, dan kesucian.”
Fairuz Abadi juga menyebutkan bahwa keempat pondasi tersebut saling
menyeru akhlak sehingga dapat membawa sang pemilik akhlak untuk
menerapkan akhlak mulia lainnya.
Dengan kesabaran, misalnya, seseorang dapat melatih diri untuk
ditempa menahan emosi, menyingkirkan bahaya, bersikap waspada dan
hati-hati, lemah-lembut dan santun, serta tidak tergesa-gesa dan
sembrono. Disebutkan juga bahwa sikap tidak berlebihan dalam segala hal
merupakan asas utama dari keempat akhlak mulia ini.
http://akhlaqsalaf.wordpress.com/2010/01/13/definisi-akhlaq/
SHARE