Al Isti’adzah

42
Makna Al Isti’adzah Al Isti’adzah adalah kembali kepada Allah dan bergantung di sisiNya dari
segala bentuk kejahatan. Dengan demikian, maka kalimat ‘A’udzu billahi
minasyaithani-rrajim’ dapat diuraikan maknanya dengan : “Aku memohon
perlindungan kepada Allah dari Syetan yang terkutuk agar ia tidak
mencelakakanku dalam urusan agama dan duniaku, atau agar ia tidak
menghalangiku untuk mengerjakan apa yang diperintahkan kepadaku, atau
agar ia tidak mendorongku untuk melakukan apa yang dilarang”.
Perbedaan Antara Syetan Manusia dan Syetan Jin
 
Apa yang diungkapkan oleh seorang muslim dalam kalimat isti’adzah
tersebut secara khusus ditujukan untuk menghadapi syetan yang tidak
nampak wujudnya, atau yang sering dikenal dengan syetan dari kalangan
jin. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan ‘siasat’ dalam menghadapi
syetan dari kalangan manusia dan syetan dari kalangan jin. Bila terhadap
syetan berwujud manusia kita diperintahkan untuk melakukan kebaikan
demi membujuknya agar kembali ke tabi’atnya yang lurus dan tidak
mengganggu kita lagi. Namun terhadap syetan yang berasal dari kalangan
jin, kita diperintahkan untuk beristi’adzah karena mereka tidak bisa
menerima suap dan hati mereka tidak tergugah dengan sikap dan perlakuan
baik kita, sebab pada dasarnya tabiat asal mereka adalah tabiat jahat,
dan tidak ada yang bisa melindungi kita dari mereka selain Yang
menciptakan mereka ; Allah Azza wa Jalla.
Prinsip ini dijelaskan dengan sangat jelas dalam tiga bagian ayat-ayat Al Qur’an, yaitu :
1. Firman Allah Ta’ala : 

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ
عَنِ الْجَاهِلِينَ إِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ
فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Jadilah engkau pema`af dan suruhlah orang
mengerjakan yang ma`ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang
bodoh. Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah
kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui..”
(Al A’raf : 199-200)
2. Firman Allah Ta’ala :
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ
ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ
عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ
صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ وَإِمَّا
يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ
هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah
(kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang
antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman
yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan
melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan
melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.
Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah
perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui.” (Fushshilat : 34-36)
3. Allah Ta’ala berfirman :
ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ
نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَصِفُون َ. وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ
هَمَزَاتِ الشَّيَاطِين. وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ
“Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih
baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Dan katakanlah:
“Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan.
Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan
mereka kepadaku.” (Al Mu’minun : 96-98)
Perhatikanlah ketiga kelompok ayat ini ! Ketiganya
menunjukkan bagaimana Allah Ta’ala memberikan petunjuk perlakuan yang
berbeda dalam menghadapi syetan dari kalangan jin dan manusia seperti
yang telah dijelaskan sebelumnya. Maka semoga kita termasuk orang yang
memahami dan mengamalkan petunjuk tersebut.
Tentang Syaitan


Kata Syaitan dalam bahasa Arab kemungkinan berasal dari salah satu dari
dua kata : Pertama, ia berasal dari kata Syathana ; sebuah kata kerja
yang berarti telah menjauh. Berdasarkan ini, maka Syaitan itu adalah
makhluq yang telah jauh menyimpang dari tabi’at kemanusiaan dan dengan
kedurhakaan dan kefasikannya telah jauh dari segala kebaikan. Kedua,
Bisa juga Syaitan berasal dari dari bentukan kata Syaatha yang
menunjukkan bahwa ia tercipta dari api.
Para ulama berbeda pandangan dalam hal ini. Walaupun
sebagian ulama berpandangan bahwa kedua asal kata itu semuanya benar,
namun yang paling tepat adalah asal kata yang pertama yaitu bahwa kata
Syaitan berasal dari syathana yang berarti menjauh dan menyimpang dari
yang seharusnya. Itulah sebabnya –dalam bahasa Arab- makhluk manapun
apakah ia berupa jin, manusia atau binatang yang membangkang disebut
sebagai syaitan.

Tentang adanya syaitan dari kalangan jin dan manusia, Allah Ta’ala mengatakan : 
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا
شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ
الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا
يَفْتَرُونَ
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi
itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis)
jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain
perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau
Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka
tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (Al An’am : 112)

Sedangkan tentang syaitan dari kalangan manusia secara khusus,
Rasulullah saw juga pernah berpesan kepada sahabat Abu Dzar –radhiallahu
‘anhu- : “Wahai Abu Dzar, memohon perlindunganlah engkau kepada Allah
dari syaitan-syaitan manusia dan jin.” Maka Abu Dzar berkata : “Apakah
pada bangsa manusia juga terdapat syaitan ?”, beliau menjawab : “Iya.”
(HR. Ahmad)

Adapun tentang syaitan dari kalangan makhluq lain (binatang), maka
Rasulullah saw juga pernah mengatakan : “Shalat (seseorang) itu terputus
(disebabkan oleh lewatnya) wanita, keledai dan anjing hitam (di
depannya saat ia shalat-pen).” Sahabat Abu Dzar bertanya : “Wahai
Rasulullah, mengapa (hanya) anjing hitam (saja), tidak yang merah dan
kuning ?” Maka beliau saw menjawab : “Anjing hitam itu adalah syaitan”.
(HR. Muslim)
Makna ‘Ar Rajiim’
Kata Ar Rajiim bermakna yang dilempar dan dijauhkan dari segala kebaikan. Allah Ta’ala mengatakan : 
وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا
بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ
عَذَابَ السَّعِيرِ
“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat
dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat
pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang
menyala-nyala.” (Al Mulk : 5)
Allah Ta’ala juga berfirman :
وَلَقَدْ جَعَلْنَا فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَزَيَّنَّاهَا لِلنَّاظِرِينَ .وَحَفِظْنَاهَا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan
bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi
orang-orang yang memandang (nya), dan Kami menjaganya dari tiap-tiap
syaitan yang terkutuk (tertolak dari segala kebaikan)” (Al Hijr : 16-17)
Namun ada pula sebagian ulama yang mengatakan bahwa
makna Ar Rajiim itu adalah yang melempar dan merajam, sebab syaitan itu
selalu melemparkan berbagai bentuk was-was, bisikan dan keraguan kepada
manusia. Namun pendapat pertamalah yang nampaknya lebih mendekati
kebenaran dan masyhur di kalangan para ulama. Wallahu a’lam.
diambil dari : www.wahdah.or.id
SHARE