Amalan Apakah yang Kita Kerjakan pada Siang Hari yang Allah Tidak Menerimanya pada malam Hari, dan Sebaliknya?

138
Syekh Ibnu Taimiyah ditanya tentang suatu amalan yang dikerjakan
karena Allah pada siang hari yang Allah SWT tidak menerimanya pada
malam hari, dan amalan pada malam hari yang tidak Allah terima pada
siang hari.
Jawaban:Adapun amalan pada siang hari yang tidak
Allah SWT terima pada malam hari, dan amalan pada malam hari yang
tidak Allah SWT terima pada siang hari adalah salat duhur dan salat
asar.

Tidak boleh seseorang mengakhirkan dua salat itu
hingga malam hari. Bahkan, telah tsabit (tetap) dalam
Ash-Shahih dari Nabi saw., bahwa beliau bersabda (yang
artinya), “Barang siapa yang luput darinya salat asar, maka
seakan-akan ia seperti kehilangan keluarga dan hartanya.”
(HR
Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Nasai, Ibnu Majah, dan Tirmizi).

Disebutkan dalam Shahih Bukhari, dari Rasulullah
saw., beliau bersabda, “Barang siapa luput darinya salat asar,
niscaya terhapus amalannya.”
(HR Bukhari, Nasai, Ahmad, dan Ibnu
Majah).

Barang siapa tertidur dari suatu salat atau lupa,
maka sungguh Nabi saw. besabda, “Barang siapa tetidur dari suatu
salat atau lupa dari suatu salat, maka hendaklah ia kerjakan salat
itu pada saat ia mengingatnya, karena sesungguhnya itu adalah
waktunya.”
(HR Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmizi, Abu Dawud,
Nasai, Ibnu Majah).

Sedang seseorang yang meninggalkan salat
secara sengaja, maka sungguh ia telah bebuat dosa besar dari
sebesar-besarnya dosa besar, dan wajib bagi dia menggantinya menurut
pendapat mayoritas ulama.

Menurut sebagian ulama, pada
asalnya tidak sah mengerjakan salat itu, sebagai qadha
(ganti) atas salat yang telah ia tinggalkan. Meskipun telah
mengqadhanya, tidak lantas ia bebas/lepas dari seluruh
kewajiban ini.

Dan, Allah SWT tidak akan menerima salat itu
darinya yang kemudian membebaskannya dari siksaan dan ia berhak
mendapat pahala, akan tetapi diringankan darinya siksaan itu dan
tetap baginya dosa melalaikan salat itu karena termasuk dosa yang
membutuhkan penggugur lain.

Seperti kedudukan seseorang yang
memiliki beban dua hak, dengan mengerjakan salah satunya dan
meninggalkan yang lain, Allah SWT berfirman, “Maka, kecelakaanlah
bagi orang-orang yang salat, yang mereka lalai dari salat
mereka.”
(Al-Ma’un: 4–5)

Mengakhirkan salat dari
waktunya termasuk melalaikannya menurut kesepakatan ulama. Allah SWT
berfirman, “Maka, datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek)
yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka
mereka kelak akan menemui kesesatan.”
(Maryam: 59).

Tidak hanya seorang dari salaf yang menyatakan bahwa makna
kata menyia-nyiakan salat adalah mengakhirkan salat dari waktunya.
(Lihat Tafsir Ibnu Katsir III/128, Fathul Qadir
III/339, Adhwa’ul Bayan IV/307).

Sungguh Allah SWT
telah memberitahukan bahwa kecelakaan itu bagi orang yang
menyia-nyiakan meskipun dia mengerjakannya, dan barang siapa yang
mendapatkan kecelakaan, maka tidak akan diterima amalannya.

Jika ia mempunyai dosa-dosa lain, apabila ia tidak
menunaikan suatu perintah dalam suatu amalan yang sama, maka
tidaklah diterima amalannya itu.

Berkata Abu Bakar Ash
Shiddiq
r.a. dalam wasiat beliau kepada Umar bin Khattab r.a.,
“Dan, ketahuilah, sesungguhnya Allah memiliki hak pada malam hari
yang Allah tidak akan menerimanya pada siang hari. Dan, Allah
memiliki hak pada siang hari dan tidak menerimanya pada malam hari.
Sesungguhnya Allah tidak menerima salat sunah hingga yang wajib
ditunaikan.” Wallahu’alam.

Keterangan: Riwayat
tersebut di atas, perkataan Abu Bakar r.a., dikeluarkan oleh Ibnul
Mubarak dalam Az-Zuhd hlm. 319; Abu Ubaid dalam Al-Khuthab
wa al-Mawa’idh
hlm. 198; Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah
I/36-37. Lihat Al-‘Aqd al-Farid III/90, Mawa’idhul
Hukama
dan kitab Ash-Shalah karya Imam Ibnul Qayyim hlm.
39.

Sumber: Diadaptasi dari Mutiara Fatwa dari Lautan
Ilmu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
terjemahan dari Fatawa
Muhimmah min Ajwibati Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah
, Abdullah bin
Yususf al-‘Ajlan

SHARE