Analisis Filosofis Lingkungan Pendidikan Islam

44

 A. Pendahuluan

Lingkungan yang nyaman dan mendukung
terselenggaranya suatu pendidikan amat dibutuhkan dan turut berpengaruh
terhadap pencapaian tujuan pendidikan yang diinginkan. Demikian pula dalam
sistem pendidikan Islam, lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa sesuai
dengan karakteristik pendidikan Islam itu sendiri.
Dalam literatur pendidikan, lingkungan
biasanya disamakan dengan institusi atau lembaga pendidikan. Meskipun kajian
ini tidak dijelaskan dalam al-Qur’an secara eksplisit, akan tetapi terdapat
beberapa isyarat yang menunjukkan adanya lingkungan pendidikan tersebut. Oleh
karenanya, dalam kajian pendidikan Islam pun, lingkungan pendidikan mendapat
perhatian.
Untuk mengetahui lebih jelas tentang apa
dan bagaimana hakikat lingkungan pendidikan Islam, maka perlu dilakukan kajian
yang komprehensif dan mendalam tentang lingkungan tersebut dalam perspektif
filsafat pendidikan Islam. Makalah ini sengaja disusun sebagai pengantar untuk
membahas tentang masalah di atas yang selanjutnya akan didiskusikan dan
disempurnakan dalam forum diskusi Mahasiswa Program Doktor IAIN Imam Bonjol
Padang T.A. 2008/2009. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat konstruktif dari pembaca sehingga apa yang diharapkan dapat terpenuhi
dengan baik.

B. Analisis Filosofis tentang Lingkungan Pendidikan
1. Pengertian Lingkungan Pendidikan
Lingkungan pendidikan adalah suatu
institusi atau kelembagaan di mana pendidikan itu berlangsung. Lingkungan
tersebut akan mempengaruhi proses pendidikan yang berlangsung. Dalam beberapa
sumber bacaan kependidikan, jarang dijumpai pendapat para ahli tentang
pengertian lingkungan pendidikan Islam. Menurut Abuddin Nata, kajian lingkungan
pendidikan Islam (tarbiyah Islamiyah) biasanya terintegrasi secara implisit
dengan pembahasan mengenai macam-macam lingkungan pendidikan. Namun demikian,
dapat dipahami bahwa lingkungan pendidikan Islam adalah suatu lingkungan yang
di dalamnya terdapat ciri-ciri ke-Islaman yang memungkinkan terselenggaranya
pendidikan Islam dengan baik.
Sebagaimana yang telah disinggung di bagian
pendahuluan, bahwa dalam al-Qur’an tidak dikemukakan penjelasan tentang
lingkungan pendidikan Islam tersebut, kecuali lingkungan pendidikan yang
terdapat dalam praktek sejarah yang digunakan sebagai tempat terselenggaranya
pendidikan, seperti masjid, rumah, sanggar para sastrawan, madrasah, dan
universitas. Meskipun lingkungan seperti itu tidak disinggung secara lansung
dalam al-Qur’an, akan tetapi al-Qur’an juga menyinggung dan memberikan
perhatian terhadap lingkungan sebagai tempat sesuatu. Seperti dalam
menggambarkan tentang tempat tinggal manusia pada umumnya, dikenal istilah
al-qaryah yang diulang dalam al-Qur’an sebanyak 52 kali yang dihubungkan dengan
tingkah laku penduduknya. Sebagian ada yang dihubungkan dengan pendidiknya yang
berbuat durhaka lalu mendapat siksa dari Allah (Q.S. 4: 72; 7:4; 17:16; 27:34)
sebagian dihubungkan pula dengan penduduknya yang berbuat baik sehingga
menimbulkan suasana yang aman dan damai (16:112) dan sebagian lain dihubungkan
dengan tempat tinggal para nabi (Q.S. 27: 56; 7:88; 6:92). Semua ini
menunjukkan bahwa lingkungan berperan penting sebagai tempat kegiatan bagi
manusia, termasuk kegiatan pendidikan Islam.
C. Macam-macam Lingkungan Pendidikan
Lingkungan pendidikan sangat dibutuhkan
dalam proses pendidikan, sebab lingkungan pendidikan tersebut berfungsi
menunjang terjadinya proses belajar mengajar secara aman, nyaman, tertib, dan
berkelanjutan. Dengan suasana seperti itu, maka proses pendidikan dapat
diselenggarakan menuju tercapainya tujuan pendidikan yang diharapkan.
Pada periode awal, umat Islam mengenal
lembaga pendidikan berupa kutab yang mana di tempat ini diajarkan membaca dan
menulis huruf al-Qur’an lalu diajarkan pula ilmu al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama
lainnya. Begitu di awal dakwah Rasulullah SAW, ia menggunakan rumah Arqam
sebagai institusi pendidikan bagi sahabat awal (assabiqunal awwalun). Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa pendidikan Islam mengenal adanya rumah, masjid,
kutab, dan madrasah sebagai tempat berlangsungnya pendidikan, atau disebut juga
sebagai lingkungan pendidikan.
Pada perkembangan selanjutnya, institusi pendidikan
ini disederhanakan menjadi tiga macam, yaitu keluarga—disebut juga sebagai
salah satu dari satuan pendidikan luar sekolah—sebagai lembaga pendidikan
informal, sekolah sebagai lembaga pendidikan formal, dan masyarakat sebagai
lembaga pendidikan non formal. Ketiga bentuk lembaga pendidikan tersebut akan
berpengaruh terhadap perkembangan dan pembinaan kepribadian peserta didik.
1. Lingkungan Keluarga
Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sisdiknas disebutkan bahwa keluarga merupakan bagian dari lembaga pendidikan
informal. Selain itu, kelurga juga disebut sebagai satuan pendidikan luar
sekolah. Pentingnya pembahasan tentang keluarga ini mengingat bahwa keluarga
memiliki peranan penting dan paling pertama dalam mendidik setiap anak. Bahkan
Ki Hajar Dewantara, seperti yang dikutip oleh Abuddin Nata, menyebutkan bahwa
keluarga itu buat tiap-tiap orang adalah alam pendidikan yang permulaan. Dalam
hal ini, orang tua bertindak sebagai pendidik, dan si anak bertindak sebagai
anak didik. Oleh karena itu, keluarga mesti menciptakan suasana yang edukatif
sehingga anak didiknya tumbuh dan berkembang menjadi manusia sebagaimana yang
menjadi tujuan ideal dalam pendidikan Islam.
Agar keluarga mampu menjalankan fungsinya
dalam mendidik anak secara Islami, maka sebelum dibangun keluarga perlu
dipersiapkan syarat-syarat pendukungnya. Al-Qur’an memberikan syarat yang
bersifat psikologis, seperti saling mencintai, kedewasaan yang ditandai oleh
batas usia tertentu dan kecukupan bekal ilmu dan pengalaman untuk memikul
tanggung jawab yang di dalam al-Qur’an disebut baligh. Selain itu, kesamaan
agama juga menjadi syarat terpenting. Kemudian tidak dibolehkan menikah karena
ada hal-hal yang menghalanginya dalam ajaran Islam, yaitu syirik atau
menyekutukan Allah dan dilarang pula terjadinya pernikahan antara seorang pria
suci dengan perempuan pezina. Selanjutnya, juga persyaratan kesetaraan
(kafa’ah) dalam perkawinan baik dari segi latar belakang agama, sosial,
pendidikan dan sebagainya. Dengan memperhatikan persyaratan tersebut, maka
diharapkan akan tercipta keluarga yang mampu menjalankan tugasnya—salah satu di
antaranya—mendidik anak-anaknya agar menjadi generasi yang tidak lemah dan
terhindar dari api neraka. Allah SWT berfirman:
Surat al-Tahrim/66 ayat 6:
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu
dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;
penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah
terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa
yang diperintahkan.
Karena besarnya peran keluarga
dalam pendidikan, Sidi Gazalba, seperti yang dikutip Ramayulis,
mengkategorikannya sebagai lembaga pendidikan primer, utamanya untuk masa bayi
dan masa kanak-kanak sampai usia sekolah. Dalam lembaga ini, sebagai pendidik adalah orang tua,
kerabat, famili, dan sebagainya. Orang tua selain sebagai pendidik, juga
sebagai penanggung jawab.
Oleh karena itu, orang tua dituntut menjadi
teladan bagi anak-anaknya, baik berkenaan dengan ibadah, akhlak, dan
sebagainya. Dengan begitu, kepribadian anak yang Islami akan terbentuk sejak
dini sehingga menjadi modal awal dan menentukan dalam proses pendidikan
selanjutnya yang akan ia jalani.
Untuk memenuhi harapan tersebut, al-Qur’an
juga menuntun keluarga agar menjadi lingkungan yang menyenangkan dan
membahagiakan, terutama bagi anggota keluarga itu sendiri. Al-Qur’an
memperkenalkan konsep kelurga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Firman Allah SWT:
Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah
Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu
cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa
kasih dan sayang. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang
berfikir. (Q.S. ar-Rum/30: 21)
Menurut Salman Harun, kata sakinah dalam
ayat di atas diungkapkan dalam rumusan li taskunu (agar kalian memperoleh
sakinah) yang mengandung dua makna: kembali dan diam. Kata itu terdapat empat
kali dalam al-Qur’an, tiga di antaranya membicakan malam. Pada umumnya, malam
merupakan tempat kembalinya suami ke rumah untuk menemukan ketenangan bersama
istrinya. Saat itu, akan tercipta ketenangan sehingga istri sebagai tempat
memperoleh penyejuk jiwa dan raga. Sementara mawaddah adalah cinta untuk
memiliki dengan segenap kelebihan dan kekuarangannya sehingga di antara suami
istri saling melengkapi. Sedangkan rahmah berarti rasa cinta yang membuahkan
pengabdian. Kata ini memiliki konotasi suci dan membuahkan bukti, yaitu
pengabdian antara suami istri yang tidak kunjung habis. Ketiga istilah inilah
yang menjadi ikon keluarga bahagia dalam Islam, yaitu adanya hubungan yang
menyejukkan (sakinah), saling mengisi (mawaddah), dan saling mengabdi (rahmah)
antara suami dan istri.
Dengan demikian, keluarga harus
menciptakan suasana edukatif terhadap anggota keluarganya sehingga tarbiyah
Islamiyah dapat terlaksana dan menghasilkan tujuan pendidikan sebagaimana yang
diharapkan.
2. Lingkungan Sekolah
Sekolah atau dalam Islam sering disebut
madrasah, merupakan lembaga pendidikan formal, juga menentukan membentuk kepribadian
anak didik yang Islami. Bahkan sekolah bisa disebut sebagai lembaga pendidikan
kedua yang berperan dalam mendidik peserta didik. Hal ini cukup beralasan,
mengingat bahwa sekolah merupakan tempat khusus dalam menuntut berbagai ilmu
pengetahuan.
Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati
menyebutkan bahwa disebut sekolah bila mana dalam pendidikan tersebut diadakan
di tempat tertentu, teratur, sistematis, mempunyai perpanjangan dan dalam kurun
waktu tertentu, berlangsung mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan
tinggi, dan dilaksanakan berdasarkan aturan resmi yang telah ditetapkan.
Secara historis keberadaan sekolah
merupakan perkembangan lebih lanjut dari keberadaan masjid. Sebab, proses
pendidikan yang berlangsung di masjid pada periode awal terdapat pendidik,
peserta didik, materi dan metode pembelajaran yang diterapkan sesuai dengan
materi dan kondisi peserta didik. Hanya saja, dalam mengajarkan suatu materi,
terkadang dibutuhkan tanya jawab, pertukaran pikiran, hingga dalam bentuk
perdebatan sehingga metode seperti ini kurang serasi dengan ketenangan dan rasa
keagungan yang harus ada pada sebagian pengunjung-pengunjung masjid.
Abuddin Nata menjelaskan bahwa di dalam
al-Qur’an tidak ada satu pun kata yang secara langsung menunjukkan pada arti
sekolah (madrasah). Akan tetapi sebagai akar dari kata madrasah, yaitu darasa
di dalam al-Qur’an dijumpai sebanyak 6 kali. Kata-kata darasa tersebut
mengandung pengertian yang bermacam-macam, di antaranya berarti mempelajari
sesuatu (Q.S. 6: 105); mempelajari Taurat (Q.S. 7: 169); perintah agar mereka
(ahli kitab) menyembah Allah lantaran mereka telah membaca al-Kitab (Q.S. 3:
79); pertanyaan kepada kaum Yahudi apakah mereka memiliki kitab yang dapat
dipelajari (Q.S. 68: 37); informasi bahwa Allah tidak pernah memberikan kepada
mereka suatu kitab yang mereka pelajari (baca) (Q.S. 34: 44); dan berisi
informasi bahwa al-Quran ditujukan sebagai bacaan untuk semua orang (Q.S. 6:
165). Dari keterangan tersebut jelaslah bahwa kata-kata darasa yang merupakan
akar kata dari madrasah terdapat dalam al-Qur’an. Hal ini membuktikan bahwa
keberadaan madrasah (sekolah) sebagai tempat belajar atau lingkungan pendidikan
sejalan dengan semangat al-Qur’an yang senantiasa menunjukkan kepada umat
manusia agar mempelajari sesuatu.
Di Indonesia, lembaga pendidikan yang selalu
diidentikkan dengan lembaga pendidikan Islam adalah pesantren,
madrasah—Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah
Aliyah (MA)—dan sekolah milik organisasi Islam dalam setiap jenis dan jenjang yang
ada, termasuk perguruan tinggi seperti IAIN dan STAIN. Semua lembaga ini akan
menjalankan proses pendidikan yang berdasarkan kepada konsep-konsep yang telah
dibangun dalam sistem pendidikan Islam.
3. Lingkungan Masyarakat
Masyarakat sebagai lembaga pendidikan non
formal, juga menjadi bagian penting dalam proses pendidikan, tetapi tidak
mengikuti peraturan-peraturan yang tetap dan ketat. Masyarakat yang terdiri
dari sekelompok atau beberapa individu yang beragam akan mempengaruhi
pendidikan peserta didik yang tinggal di sekitarnya. Oleh karena itu, dalam
pendidikan Islam, masyarakat memiliki tanggung jawab dalam mendidik generasi
muda tersebut.
Menurut an-Nahlawi, tanggung
jawab masyarakat terhadap pendidikan tersebut hendaknya melakukan beberapa hal,
yaitu: pertama, menyadari bahwa Allah menjadikan masyarakat sebagai penyuruh
kebaikan dan pelarang kemungkaran/amar ma’ruf nahi munkar (Qs. Ali Imran/3: 104); kedua, dalam masyarakat
Islam seluruh anak-anak dianggap anak sendiri atau anak saudaranya sehingga di
antara saling perhatian dalam mendidik anak-anak yang ada di lingkungan mereka
sebagaimana mereka mendidik anak sendiri; ketiga, jika ada orang yang berbuat
jahat, maka masyarakat turut menghadapinya dengan menegakkan hukum yang
berlaku, termasuk adanya ancaman, hukuman, dan kekerasan lain dengan cara yang
terdidik; keempat, masyarakat pun dapat melakukan pembinaan melalui
pengisolasian, pemboikotan, atau pemutusan hubungan kemasyarakatan sebagaimana
yang pernah dicontohkan oleh Nabi; dan kelima, pendidikan kemasyarakatan dapat
dilakukan melalui kerja sama yang utuh karena masyarakat muslim adalah
masyarakat yang padu.
Ibn Qayyim mengemukakan istilah tarbiyah
ijtimaiyah atau pendidikan kemasyarakatan. Menurutnya tarbiyah ijtimaiyah yang
membangun adalah yang mampu menghasilkan individu masyarakat yang saling
mencintai sebagian dengan sebagian yang lainnya, dan saling mendoakan walaupun
mereka berjauhan. Antara anggota masyarakat harus menjalin persaudaraan. Dalam
hal ini, ia mengingatkan dengan perkataan hikmah “orang yang cerdik ialah yang
setiap harinya mendapatkan teman dan orang yang dungu ialah yang setiap harinya
kehilangan teman”.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan
bahwa masyarakat sebagai lingkungan pendidikan yang lebih luas turut berperan dalam
terselenggaranya proses pendidikan. Setiap individu sebagai anggota dari
masyarakat tersebut harus bertanggung jawab dalam menciptakan suasana yang
nyaman dan mendukung. Oleh karena itu, dalam pendidikan anak pun, umat Islam
dituntut untuk memilih lingkungan yang mendukung pendidikan anak dan
menghindari masyarakat yang buruk. Sebab, ketika anak atau peserta didik berada
di lingkungan masyarakat yang kurang baik, maka perkembangan kepribadian anak
tersebut akan bermasalah. Dalam kaitannya dengan lingkungan keluarga, orang tua
harus memilih lingkungan masyarakat yang sehat dan cocok sebagai tempat tinggal
orang tua beserta anaknya. Begitu pula sekolah atau madrasah sebagai lembaga
pendidikan formal, juga perlu memilih lingkungan yang mendukung dari masyarakat
setempat dan memungkinkan terselenggaranya pendidikan tersebut.
Berpijak dari tanggung jawab
tersebut, maka dalam masyarakat yang baik bisa melahirkan berbagai bentuk
pendidikan kemasyarakatan, seperti masjid, surau, Taman Pendidikan Al-Qur’an
(TPA), wirid remaja, kursus-kursus keislaman, pembinaan rohani, dan sebagainya.
Hal ini menunjukkan bahwa
masyarakat telah memberikan kontribusi dalam pendidikan yang ada di sekitarnya.
Mengingat pentingnya peran masyarakat sebagai
lingkungan pendidikan, maka setiap individu sebagai anggota masyarakat harus
menciptakan suasana yang nyaman demi keberlangsungan proses pendidikan yang
terjadi di dalamnya. Di Indonesia sendiri dikenal adanya konsep pendidikan
berbasis masyarakat (community basid education) sebagai upaya untuk
memberdayakan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. Meskipun konsep ini
lebih sering dikaitkan dengan penyelenggaraan lembaga pendidikan formal
(sekolah), akan tetapi dengan konsep ini menunjukkan bahwa kepedulian
masyarakat sangat dibutuhkan serta keberadaannya sangat berpengaruh terhadap
pelaksanaan pendidikan di suatu lembaga pendidikan formal.
4. Rekomendasi
Untuk mewujudkan pendidikan yang
berkualitas, maka ketiga lembaga atau lingkungan pendidikan di atas perlu
bekerja sama secara harmonis. Orang tua di tingkat keluarga harus memperhatikan
pendidikan anak-anaknya, terutama dalam aspek keteladanan dan pembiasaan serta
penanaman nilai-nilai. Orang tua juga harus menyadari tanggung jawabnya dalam
mendidik anak-anaknya tidak sebatas taat beribadah kepada Allah semata, seperti
shalat, puasa, dan ibadah-ibadah khusus lainnya, akan tetapi orang tua juga
memperhatikan pendidikan bagi anaknya sesuai dengan tujuan pendidikan yang ada
dalam Islam. Termasuk di antaranya mempersiapkan anaknya memiliki
kemampuan/keahlian sehingga ia dapat menjalankan hidupnya sebagai hamba Allah
sekaligus sebagai khalifah fil ardhi serta menemukan kebahagiaan yang hakiki,
dunia akhirat. Selain itu, orang tua juga dituntut untuk mempersiapkan anaknya
sebagai anggota masyarakat yang baik, sebab, masyarakat yang baik berasal dari
individu-individu yang baik sebagai anggota dari suatu komunitas masyarakat itu
sendiri. Mengenai hal ini, Allah SWT juga telah menegaskan:
إِنَّ اللّهَ لاَ
يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Artinya: Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan
sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
(Q.S. ar-Ra’du/13: 11)
Menyadari besarnya tanggung jawab
orang tua dalam pendidikan anak, maka orang tua juga seyogyanya bekerja sama
dengan sekolah atau madrasah sebagai lingkungan pendidikan formal untuk
membantu pendidikan anak tersebut. Dalam hubungannya dengan sekolah, orang tua mesti berkoordinasi dengan
baik dengan sekolah tersebut, bukan malah menyerahkan begitu saja kepada
sekolah. Sebaliknya, pihak sekolah juga menyadari bahwa peserta didik yang ia
didik merupakan amanah dari orang tua mereka sehingga bantuan dan keterlibatan
orang tua sangat dibutuhkan. Kemudian sekolah juga harus mampu memberdayakan
masyarakat seoptimal mungkin, dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan yang
diterapkan.
Begitu pula masyarakat pada
umumnya, harus menyadari pentingnya penyelenggaraan pendidikan yang dimulai
dari tingkat keluarga hingga kepada sekolah serta lembaga-lembaga pendidikan
non formal lainnya dalam upaya pencerdasan umat. Sebab antara pendidikan dengan peradaban yang
dihasilkan suatu masyarakat memiliki korelasi positif, semakin berpendididikan
suatu masyarakat maka semakin tinggi pula peradaban yang ia hasilkan; demikian
sebaliknya.
Jadi, dibutuhkan pendidikan terpadu antara
ketiga lingkungan pendidikan tersebut. Dengan keterpaduan ketiganya diharapkan
pendidikan yang dilaksanakan mampu mewujudkan tujuan yang diinginkan.
Pendidikan terpadu seperti inilah yang diinginkan dalam perspektif pendidikan
Islam. Bahkan prinsip integral (terpadu) menjadi salah satu prinsip dalam
sistem pendidikan Islam. Prinsip ini tentu tidak hanya keterpaduan antara dunia
dan akhirat, individu dan masyarakat, atau jasmani dan rohani; akan tetapi
keterpaduan antara lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat juga termasuk di
dalamnya.
D. Penutup
Dari paparan di atas dapat disimpulkan
bahwa lingkungan pendidikan sangat berperan dalam penyelenggaraan pendidikan
Islam, sebab lingkungan yang juga dikenal dengan institusi itu merupakan tempat
terjadinya proses pendidikan. Secara umum lingkungan tersebut dapat dilihat
dari tiga hal, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Keluarga yang ideal dalam perspektif Islam
adalah keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Profil keluarga semacam ini
sangat diperlukan pembentukannya sehingga ia mampu mendidik anak-anaknya sesuai
dengan prinsip-prinsip ajaran Islam. Kemudian orang tua harus menyadari
pentingnya sekolah dalam mendidik anaknya secara profesional sehingga orang tua
harus memilih pula sekolah yang baik dan turut berpartisipasi dalam peningkatan
sekolah tersebut.
Sementara sekolah atau madrasah juga
berperan penting dalam proses pendidikan. Sekolah sebagai lembaga pendidikan
formal yang pada hakikatnya sebagai institusi yang menyandang amanah dari orang
tua dan masyarakat, harus menyelenggarakan pendidikan yang profersional sesuai
dengan prinsip-prinsip dan karakteristik pendidikan Islam. Sekolah harus
mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan dan keahlian bagi peserta didiknya sesuai
dengan kemampuan peserta didik itu sendiri.
Begitu pula masyarakat, dituntut perannya
dalam menciptakan tatanan masyarakat yang nyaman dan peduli terhadap
pendidikan. Masyarakat diharapkan terlibat aktif dalam peningkatan kualitas
pendidikan yang ada di sekitarnya. Selanjutnya, ketiga lingkungan pendidikan
tersebut harus saling bekerja sama secara harmonis sehingga terbentuklah
pendidikan terpadu yang diikat dengan ajaran Islam. Dengan keterpaduan seperti
itu, diharapkan amar ma’ruf nahi munkar dalam komunitas masyarakat tersebut
dapat ditegakkan sehingga terwujudlah masyarakat yang diberkahi dan tatanan
masyarakat yang baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur.

SHARE