Analisis Filosofis Metoda dan Alat Pendidikan

29
A.Pendahuluan
Pendidikan Islam merupakan suatu sistem yang
terdiri dari beberapa komponen penting yang saling berhubungan. Di antara
komponen yang ada dalam sistem tersebut adalah metode dan alat. Pengkajian
terhadap metode dan alat memang menjadi bahan diskusi yang tetap aktual dan
menarik, sebab keduanya turut menentukan berhasil tidaknya proses pendidikan
yang dilaksanakan dalam mencapai tujuan pendidikan. Untuk itu metode dan alat
mesti dikembangkan secara dinamis sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan zaman.
Dalam konteks pendidikan Islam, metode dan alat
pendidikan tentu memiliki karakteristik yang berbeda dengan sistem pendidikan
lainnya. Maka pengembangan metode dan alat yang diinginkan dalam sistem
pendidikan Islam harus sesuai dengan karakteristik pendidikan Islam itu
sendiri.
Pengembangan metode dan alat pendidikan itu harus
dilakukan, khususnya para pelaksana pendidikan Islam. Jika metode dan alat yang
digunakan—meminjam istilah Mastuhu—masih bersifat klasik, statis dan cenderung
membosankan peserta didik, maka akan berdampak terhadap kualitas kehidupan umat
Islam itu sendiri yang akan terus terbelakang. Memang ada kecenderungan selama
ini bahwa dinamika pendidikan Islam dalam tataran pelaksanaanya kurang mampu
bersaing dengan lembaga-lembaga pendidikan lain. Hal itu tentu dipengaruhi oleh
banyak faktor, salah satu di antaranya adalah lemahnya pengembangan metode dan
alat pendidikan.

Untuk itu, makalah yang sederhana ini akan
menganilisis secara filosofis tentang metode dan alat dalam perspektif filsafat
pendidikan Islam, dengan harapan kajian ini memberikan pemahaman yang lebih
utuh tentang konsep keduanya sehingga memberikan kontribusi yang jelas terhadap
pengembangan keilmuan di bidang pendidikan Islam. Namun, apa yang tertulis
secara eksplisit dalam makalah ini tentu kurang memadai untuk memenuhi harapan
tersebut tanpa adanya kritik, saran dan diskusi lebih lanjut tentang
gagasan-gagasan yang ada. Maka kritik dan saran yang bersifat konstruktif
sangat diharapkan dari peserta diskusi untuk memenuhi harapan dimaksud.
B.Analisi Filosofis tentang Metode Pendidikan
1.Antara Epistemologi, Metodologi dan Metode

Dalam kajian filsafat, ontologi, epistemologi, dan
aksiologi merupakan tiga sub sistem dari filsafat. Ontologi merupakan teori
tentang ”ada”, yaitu tentang apa hakikat sesuatu yang dipikirkan, yang menjadi
objek pemikiran. Epistemologi merupakan teori pengetahuan, yaitu membahas
tentang bagaimana cara mendapatkan pengetahuan dari objek yang ingin
dipikirkan. Sementara aksiologi adalah teori tentang nilai yang membahas
tentang manfaat, kegunaan atau fungsi dari objek yang dipikirkan. Dengan
gambaran sederhana dapat dikatakan bahwa ada sesuatu yang perlu dipikirkan
(ontologi), lalu dicari cara-cara memikirkannya (epistemologi), kemudian timbul
hasil pemikiran yang memberikan suatu manfaat atau kegunaan (aksiologi).
Pendidikan juga merupakan suatu sistem yang
terdiri dari beberapa komponen. Salah satu komponen penting dalam sistem
pendidikan adalah metode. Secara sederhana dapat dipahami bahwa metode dalam
pendidikan adalah cara yang digunakan untuk mewujudkan suatu tujuan yang
diinginkan. Dengan demikian ada kaitan yang erat antara epistemologi dengan
metode, bahkan dengan metodologi. Epistemologi adalah cabang filsafat yang
membahas tentang sumber, struktur, metode-metode dan validitas pengetahuan.
Metodologi adalah ilmu tentang metode atau ilmu yang mempelajari
prosedur/cara-cara mengetahui sesuatu. Sedangkan metode adalah suatu prosedur
atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah sistematis. Jadi,
jika metode bicara tentang prosedur sesuatu maka metodologilah yang merangkai
secara konseptual tentang prosedur tersebut.
Dari pengertian itu dapat dipahami bahwa jika
diurutkan, epistemologi merupakan bagian dari filsafat, metodologi bagian dari
epistemologi, dan metode merupakan bagian dari metodologi. Sementara dalam
kajian makalah ini, akan dibahas tentang metode pendidikan dalam perspektif
filsafat pendidikan Islam. Mengenai apa dan bagaimana metode pendidikan dalam
perspektif filsafat pendidikan Islam akan dijelaskan pada bagian berikut.
2.Pengertian Metode Pendidikan Islam

Istilah “metode” berasal dari dua kata yaitu meta
dan hodos. Meta artinya “melalui”, sedangkan hodos berarti “jalan atau cara”.
Jadi metode bisa dipahami sebagai jalan yang harus ditempuh atau dilalui untuk
mencapai tujuan tertentu. Jika dikaitkan dengan pendidikan, maka metode adalah
jalan atau cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan pendidikan.
Dalam bahasa Arab, kata metode diungkapkan dalam
berbagai kata. Terkadang digunakan kata al-tharīqah, manhaj, atau al-wasīlah.
Al-Tharīqah berarti jalan, manhaj berarti sistem, sedangkan al- wasīlah berarti
perantara atau mediator. Jadi kata Arab yang lebih dekat dengan metode adalah
al-tharīqah yang berarti langkah-langkah strategis yang dipersiapkan untuk
melakukan suatu pekerjaan. Kata-kata al-tharīqah juga banyak dijumpai dalam
al-Qur’an. Menurut Muhammad Fuad Abd Baqy, sebagaimana yang dikutip oleh
Abuddin Nata, bahwa di dalam al-Qur’an kata al-tharīqah diulang sebanyak 9
kali. Kata ini terkadang dihubungkan dengan objek yang dituju, seperti neraka
sehingga menjadi jalan menuju neraka (Q.S. an-Nisa/4: 169) ; terkadang
dihubungkan dengan sifat dari jalan tersebut, seperti al-tharīqah
al-mustaqimah, yang diartikan jalan lurus (Q.S. al-Ahqaf/46:30) ; terkadang
dihubungkan dengan jalan yang ada di tempat tertentu, seperti al-tharīqah fi
al-bahr yang berarti jalan (yang kering) di laut (Q.S. Thaha/20: 77) ; dan
terkadang pula al-tharīqah berarti tata surya atau langit (Q.S. al-Mukminun/23:
17).
Dari pendekatan kebahasan tersebut tampak bahwa
metode lebih menunjukkan kepada jalan dalam arti jalan yang bersifat non fisik,
yakni jalan dalam bentuk ide-ide yang mengacu kepada cara yang mengantarkan
seseorang untuk sampai pada tujuan yang diinginkan. Namun secara terminologis,
kata metode bisa membawa kepada pengertian yang beragam sesuai dengan konteks.
Dalam konteks pendidikan Islam, metode dapat dipahami sebagai cara atau jalan
yang ditempuh oleh pendidik dalam mendidik peserta didiknya dengan seperangkat
pengalaman belajar sehingga tujuan atau kompetensi yang telah ditetapkan dapat
tercapai secara efektif dan efisien. Defenisi ini secara substansi tidak jauh
berbeda dengan berbagai defenisi yang dikemukakan oleh para ahli pendidikan
Islam. Al-Syaibany, misalnya berpendapat bahwa metode pendidikan adalah:
Segala segi kegiatan yang tearah yang dikerjakan
oleh guru dalam rangka kemestian-kemestian mata pelajaran yang diajarkan,
ciri-ciri mata pelajaran yang diajarkannya, ciri-ciri perkembangan
murid-muridnya, dan suasana alam sekitarnya dan tujuan menolong murid-muridnya
untuk mencapai proses belajar yang diinginkan dan perubahan yang dikehendaki
pada tingkah laku mereka. Selanjutnya menolong mereka memperoleh maklumat,
pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, sikap, minat dan nilai-nilai yang
diinginkan.
3.Urgensi dan Fungsi Metode Pendidikan Islam

Dari pengertian pendidikan yang telah dijelaskan
di atas dapat dipahami bahwa metode merupakan komponen yang amat penting dalam
sistem pendidikan. Bahkan jika ditelusuri ayat-ayat al-Qur’an juga terdapat
ayat-ayat yang mengajak manusia untuk berpikir untuk mempertanyakan ”bagaimana
cara” sesuatu sebagai bentuk motivasi bagi manusia agar mengembangkan suatu
metode. Seperti firman Allah dalam surat al-Ghasyiyah/88: 17-20.
Artinya: Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia
diciptakan, dan langit bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia
ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?
Dalam kaitannya dengan pendidikan, metode sangat
menentukan berhasil tidaknya suatu proses pembelajaran yang dilakukan dalam
mewujudkan tujuan pendidikan. Bahkan sebaik apa pun materi pendidikan yang
telah dirumuskan, tanpa metode yang baik maka peserta didik akan sulit untuk
menguasai materi tersebut. Al-Qur’an, misalnya, merupakan kumpulan wahyu yang
mutlak kebenarannya dan jika dikuasai oleh umat Islam maknanya lalu mampu
mengamalkannya, niscaya keselamatan dan kebahagiaan akan diperoleh. Namun,
ketika umat Islam tidak memiliki metode yang baik dalam memahami makna
al-Qur’an serta mengembangkan isyarat-isyarat ilmiah yang terkandung di
dalamnya, maka konsep al-Qur’an yang ideal itu hanya sekedar doktrin dan umat
Islam tetap terbelakang.
Begitu pentingnya metode dalam sistem pendidikan
Islam, maka metode pun mempunyai fungsi yang amat penting pula. Abuddin Nata
menyebutkan bahwa secara umum metode berfungsi sebagai pemberi jalan atau cara
yang sebaik mungkin bagi pelaksanaan operasional dari ilmu pendidikan. Selain
itu metode dapat merupakan sarana untuk menemukan, menguji dan menyusun data
yang diperlukan bagi pengembangan disiplin suatu ilmu. Dari pemahaman seperti
ini, Abuddin mengatakan bahwa pada intinya metode berfungsi mengantarkan pada
suatu tujuan kepada objek sasaran tersebut.
Sementara M. Arifin menyebutkan bahwa dari sudut
filosofis, metode merupakan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan
pendidikan. Secara esensial, metode yang digunakan mempuunyai fungsi ganda.
Pertama, fungsi polipragmatis, yaitu manakala metode itu mengandung kegunaa
yang serba ganda (multi purpose). Misalnya metode tertentu pada suatu situasi
dan kondisi tertentu dapat dipergunakan untuk merusak, pada situasi dan kondisi
yang lain dapat digunakan untuk membangun atau memperbaiki. Kegunaannya dapat
bergantung kepada di pemakai atau pada corak dan bentuk serta kemampuan dari
metode sebagai alat. Misalnya audio visual methods yang mempergunakan Video
Casette Record (VCR) yang dapat merekam dan menayangkan semua jenis film, baik
yang moralis maupun pornografis, dan dapat pula dijadikan sebagai media dalam
proses pendidikan.
Kedua, fungsi monopragmatis, yaitu alat yang hana
daat dipergunakan untuk mencapai satu amcam tujuan saja. Misalnya metode
eksperimen ilmu alam yang menggunakan laboratorium ilmu alam, hanya dapat
dipergunakan untuk eksperimen-eksperimen di bidang ilmu alam saja dan tidak
bisa dipergunakan untuk bidang ilmu sosial dan ilmu-ilmu lainnya.
4.Karakteristik Metode Pendidikan Islam

Selain dari asas-asas di atas, perlu pula mengenal
karakteristik metode pendidikan Islam. Mengenal karakter ini penting, sebab
metode yang digunakan dan dikembangkan dalam pendidikan Islam memiliki
karakteristik tersendiri dan berbeda dengan pendidikan non-Islam. Dengan
mengenal karakteristik tersebut, maka penggunaan dan pengembangan metode
pendidikan Islam akan membuatnya lebih unggul dan sesuai dengan karakteristik
sistem pendidikan Islam itu sendiri.
Adapun karakteristik metode pendidikan Islam
tentunya sesuai dengan karakteristik sistem pendidikan Islam itu sendiri.
Kaarakteristik yang paling menonjol adalah pendikan Islam berdasarkan kepada
al-Qur’an dan Sunnah serta pendidikan Islam sarat nilai (full value) bukan
bebas nilai. Maka metode pendidikan yang diterapkan dan dikembangkan harus
berladaskan kepada semangat al-Qur’an dan Sunnah serta sarat akan nilai yang
sesuai dengan sumber Islam itu sendiri.
Lebih lanjut, Samsul Nizar dan al-Rasyidin
merumuskan ada delapan yang menjadi karakteristik metode pendidikan Islam,
yaitu:
a.Keseluruhan proses penerapan metode pendidikan Islam, mulai dari
pembentukannya, penggunaannya sampai pada pengembangannya tetap didasarkan pada
nilai-nilai asasi Islam sebagai ajaran yang universal.
b.Proses pembentukan, penerapan dan pengembangannya tetap tidak dapat
dipisahkan dengan konsep al-akhlak al-karīmah sebagai tujuan tertinggi dari
pendidikan Islam.
c.Metode pendidikan Islam bersifat luwes dan fleksibel dalam artian
senantiasa membuka diri dan dapat menerima perubahan sesuai dengan situasi dan
kondisi yang melingkupi proses pendidikan Islam tersebut, baik dari segi
peserta didik, pendidik, materi pelajaran dan lain-lain.
d.Metode pendidikan Islam berusaha sungguh-sungguh untuk menyeimbangkan
antara teori dan praktek.
e.Metode pendidikan Islam dalam penerapannya menekankan kebebasan peserta
didik untuk berkreasi dan mengambil prakarsa dalam batas-batas kesopanan dan
al-akhlak al-karīmah.
f.Dari segi pendidik, metode pendidikan Islam lebih menekankan nilai-nilai
keteladanan dan kebebasan pendidik dalam menggunakan serta mengkombinasikan
berbagai metode pendidikan yang ada dalam mencapai tujuan pengajarannya.
g.Metode pendidikan Islam dalam penerapannya berupaya menciptakan situasi
dan kondisi yang memungkinkan bagi terciptanya interaksi edukatif yang
kondusif.
h.Metode pendidikan Islam merupakan usaha untuk memudahkan proses
pengajaran dalam mencapai tujuannya secara efektif dan efesien.
Selain dari karakteristik di atas, setiap pendidik
muslim juga harus mengetahui pendekatan umum dalam pembentukan dan penerapan
metode pendidikan Islam sebagaimana yang telah dijelaskan Allah SWT dalam
proses pendidikan Rasulullah, yaitu dengan pendekatan tilawah (membaca
ayat-ayat Allah), tazkiyah (penyucian jiwa), dan ta’lim (mengajarkan kitab
dengan hikmah). Bahkan metode pendidikan Islam dikembangkan juga dari konsepsi
amr ma’ruf nahi munkar dengan pendekatan ishlah atau perbaikan serta pendekatan
penuh hikmah, mau’idzhah dan mujadalah. Berdasarkan hal ini maka paradigma
pengembangan dan penerapan metode pendidikan Islam dalam proses internasilasi
sejumlah pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang terpuji harus
dilakukan dengan pendekatan yang menyeluruh, integral dan sistematis.
5. Asas-asas Metode Pendidikan Islam

Untuk menggunakan metode yang sesuai dengan
kebutuhan, perlu diperhatikan dasar-dasar umum metode pendidikan Islam
tersebut. Menurut al-Syaibani, ada empat dasar metode pendidikan Islam, yaitu:
pertama, dasar agamis yaitu meliputi pertimbangan bahwa metode yang digunakan
diambil dari tuntunan al-Qur’an dan hadis, kemudian dari sumber yang lain
dengan berbagai cabangnya dan dari peninggalan dan amalan orang-orang terdahulu
yang shaleh; kedua, dasar biologis, yang meliputi pertimbangan kebutuhan
jasmani peserta didik dan tingkat perkembangan usia anak didik; ketiga, dasar
psikologis, yaitu meliputi pertimbangan terhadap sejumlah kekuatan psikologis
termasuk motivasi, kebutuhan, emosi, minat, sikap, keinginan, kesediaan,
bakat-bakat, dan kecakapan akal (intelektual); dan keempat, dasar sosial, yaitu
meliputi pertimbangan kebutuhan sosial di lingkungan peserta didik, artinya
metode yang digunakan mesti disesuaikan dengan nilai-nilai masyarakat dan
tradisi-tradisi yang berkembang di dalamnya.
Kemudian, dari sudut pelaksanaannya, Samsul Nizar dan al-Rasyidin
mengemukakan bahsa asas-asas metode pendidikan Islam dapat diformulasikan
kepada beberapa asas berikut ini.
a. Asas motivasi, yaitu usaha pendidik untuk membangkitkan perhatian
peserta didik ke arah bahan pelajaran yang sedang disajikan.
b. Asas aktivitas, yaitu memberikan kesempatakn kepada peserta didik untuk
mengambil bagian secara aktif dan kreatif dalam seluruh kegiatan pendidikan
yang dilaksanakan.
c. Asas apersepsi, yaitu mengupayakan respon-respon tertentu dari peserta
didik sehingga mereka memperoleh perubahan pada tingkah laku, perbendaharaan
konsep, dan kekayaan akan informasi.
d. Asas peragaan, yaitu memberikan variasi dalam cara-cara mengajar dengan
mewujudkan bahan yang diajarkan secara nyata, baik dalam bentuk asilnya maupun
tiruan.
e. Asas ulangan, yaitu usaha untuk mengetahui taraf kemajuan atau
keberhasilan belajar peserta didik dalam aspek pengetahuan, keterampilan dan
sikap.
f. Asas korelasi, yaitu menghubungkan suatu bahan pelajaran dengan bahan
pelajaran lainnya, sehingga membentuk mata rantai yang erat.
g. Asas konsentrasi, yaitu memfokuskan pada suatu pokok masalah tertentu
dari keseluruhan bahan pelajaran untuk melaksanakan tujuan pendidikan serta
memperhatikan peserta didik dalam segala aspeknya.
h. Asas individualisasi, yaitu memperhatikan perbedaan-perbedaan individual
peserta didik.
i. Asas sosialisasi, yaitu menciptakan situasi sosial yang membangkitakn
semangat kerja sama peserta didik dengan pendidik atau sesama peserta didik dan
masyarakat, dalam menerima pelajaran agar berdaya guna.
j. Asas evaluasi, yaitu memperhatikan hasil dari penilaian terhadap
kemampuan yang dimiliki peserta didik sebagai umpan balik pendidik dalam
memperbaiki cara mengajar.
k. Asas kebebasan, yaitu memberi keleluasaan keinginan dan tindakan bagi
peserta didik dnegan dibatasi atas kebebasan yang mengacu pada hal-hal yang
positif.
l. Asas lingkungan, yaitu menentukan metode dengan berpijak pada pengaruh
lingkungan akibat interaksi dengan lingkungan.
m. Asas globalisasi, yaitu memperhatikan reaksi peserta didik terhadap
lingkungan secara keseluruhan, tidak hanya secara intelektual, tetapi juga
secara fisik, sosial dan sebagainya.
n. Asas pusat-pusat minat, yaitu memperhatikan kecenderungan jiwa yang
tetap ke jurusan suatu yang berharga bagi seseorang.
o. Asas ketauladanan, yaitu memberikan contoh terbaik untuk ditiru dan
ditauladani peserta didik.
p. Asas pembiasaan, yaitu membiasakan hal-hal positif dana diri peserta
didik sebagai upaya praktis dalam pembinaan mereka.
Sementara Ibn Khaldun dalam kitabnya Muqaddimah juga menyinggung masalah
asas-asas atau prinsip-prinsip metode pendidikan Islam. Di antara asas atau
prinsip metode pendidikan Islam yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
1. Mengajarkan materi dari yang inderawi kepada yang rasional; menurut Ibn
Khaldun kemampuan manusia dalam berpikir terjadi dalam tiga tingakatan, yaitu
al-Aql al-tamyīziy yang bersifat empiris, al-Aql al-tajrībiy yang mampu
melakukan berbagai eksperimen dan mulai mampu berpikir lebih rasional, dan
al-Aql al-Nazhori atau berpikir spekulatif yaitu kemampuan akal untuk berpikir
lebih abstrak dari tingkatan sebelumnya. Maka dalam mengajarkan sesuatu,
hendaknya bertahap (al-tadrīj) dari yang inderawi kepada rasional sesuai dengan
tingkatan akal manusia tersebut.
2. Menggunakan sarana tertentu untuk menjabarkan pelajaran; karena
kemampuan anak didik biasanya diawali dari hal-hal yang empiris baru kemudian
diarahkan kepada hal-hal yang rasional atau abstrak, maka dalam mengajar pun
hendaknya sarana atau alat peraga yang bersifat kongkrit digunakan oleh guru
sehingga membantu pemahaman peserta didik terhadap materi yang diajarkan.
3. Prinsip spesifikasi dan integrasi; menurut Ibn Khaldun, ilmu memiliki
beberapa cabang, seperti kelompok ilmu naqliyah, aqliyah dan ilmu alat.
Masing-masing kelompok memiliki cabang-cabang tersendiri. Meskipun terdapat
banyak cabang ilmu, peserta didik tidak diharuskan untuk menguasai seluruhnya.
Ibn Khaldun justru memandang perlunya spesifikasi ilmu pengetahuan. Artinya,
seorang pelajar mesti mengkhususkan kajiannya kepada satu bidang keilmuan.
Menurutnya, apabila seorang pelajar dihadapkan kepada persoalan yang banyak
sekaligus niscaya ia tidak akan sanggup memahami secara keseluruhan. Akibatnya,
otaknya akan jemu dan tidak sanggup untuk beraktivitas sehingga bisa membuatnya
meninggalkan ilmu yang sedang dipelajarinya.
4. Prinsip kontinuitas dalam penyajian materi; Ibn Khaldun juga berpendapat
bahwa setiap pendidik seharusnya memperhatikan prinsip kontinuitas atau
kesinambungan dalam menyajikan materi pelajaran yang sejenis kepada
murid-muridnya. Dengan demikian antara penyajian suatu materi ke materi lainnya
hen¬daknya tidak ada jarak waktu yang terlalu lama, sebab hal itu dapat
menyebabkan murid lupa terhadap materi-materi sebelumnya.
5. Tidak mencampuradukkan antara dua ilmu pengetahuan dalam satu waktu;
Sejalan dengan prinsip spesifikasi dan integrasi di atas, Ibn Khaldun
menegaskan seorang guru agar tidak mencampuradukkan antara dua ilmu pengetahuan
dalam satu waktu sekaligus, khususnya bagi peserta didik tingkat pemula.
Mengajarkan dua atau lebih ilmu pengetahuan dalam satu waktu hanya akan
membingungkan, sebab metode seperti itu akan sukar sekali dikuasai oleh peserta
didik dan perhatiannya akan terbagi serta dapat terganggu oleh satu ilmu dengan
yang lainnya.
6. Menghindari kekerasan terhadap murid; Ibnu Khaldun mengharuskan kepada
guru agar bersikap kasih-sayang kepada anak dan tidak menggunakan kekerasan
terhadap mereka, karena sikap kasar atau kekerasan dalam mengajar membahayakan
jasmani anak (peserta didik). Jika anak diperlakukan secara kasar dan keras,
menjadi sempit hatinya, dan hilang kecerdasannya, bahkan ia akan terdorong
untuk berdusta, malas, dan berbuat kotor. Sementara pemberlakuan sanksi
(punishment) bisa dilakukan, tetapi sanksi tersebut bersifat edukatif. Sanksi
ini hendaknya diterapkan oleh guru dalam keadaan terpaksa karena tak ada jalan
lain, (sesudah semua cara yang lemah-lembut tidak berhasil). Dengan begitu,
hukuman menjadi salah satu alat atau metode dalam pendidikan Islam
7. Jangan mengajarkan ilmu dari hasil ringkasannya; Ibn Khaldun menerangkan
bahwa para sarjana di zamannya, telah banyak yang membuat ringkasan dari
berbagai buku, atau yang disebut dengan mukhtashar. Buku-buku ringkasan ini
bisa membuat peserta didik—khususnya peserta didik tingkat lanjutan—tidak
menguasai suatu ilmu dengan utuh sebagaimana yang diinginkan oleh penulisnya,
padahal mereka harus menguasai ilmu secara spesifik.
Asas-asas, dasar, atau prinsip metode pendidikan
di atas mesti menjadi pertimbangan setiap pendidik dalam menentukan dan
mengembangkan metode pendidikan yang akan digunakan. Dengan asas-asas itu pula
diharapkan metode yang digunakan mampu mengantarkan peserta didik kepada tujuan
yang diinginkan secara efektif dan efisien dan tentunya tidak terlepas dari
nilai-nilai Islam.
6. Macam-macam Metode Pendidikan Islam

Terdapat beberapa macam metode yang digunakan
dalam pendidikan Islam. Al-Syaibany mengemukakan ada dua belas metode yang
dapat digunakan dalam pendidikan Islam, yaitu: metode pengambilan kesimpulan
atau induktif, metode perbandingan (qiyasiah), metode kuliah, metode dialog dan
perbincangan, metode lingkaran (halaqah), metode riwayat, metode mendengar,
metode membaca, metode imla’ (dictation), metode hafalan, metode pemahaman, dan
metode lawatan untuk menuntut ilmu (pariwisata).
Abdurrahman an-Nahlawi juga mengemukakan beberapa
metode yang dapat digunakan dalam pendidikan Islam. Menurutnya, metode yang
dianggap paling penting dan paling menonjol adalah sebagai berikut:
a. metode dialog Qur’ani dan Nabawi, meliputi dialog khithabi dan
ta’abbudi, dialog deskriptif, dialog naratif, dialog argumentatif, dan dialog
nabawi;
b. mendidik melalui kisah-kisah Qur’ani dan Nabawi;
c. mendidik melalui perumpamaan (amtsal) Qur’ani dan Nabawi;
d. mendidik melalui keteladanan;
e. mendidik melalui aplikasi dan pengamalan;
f. mendidik melalui ibrah dan nasehat; dan
g. mendidik
melalui targhib (membuat senang) dan tarhib (membuat takut).
Selain pendapat an-Nahlawi di atas, Ramayulis mengemukakan tiga
belas metode yang dapat digunakan dalam mengajar, yaitu: metode ceramah, tanya
jawab, demonstrasi, eksperimen, diskusi, sosio drama dan bermain peranan, drill
(latihan), mengajar beregu (team teaching), pemecahan masalah, pemberian tugas
belajar dan resitasi, kerja kelompok, imla’ (dikte), dan simulasi.
Dari beberapa metode di atas, dalam makalah yang
terbatas ini akan diuraikan beberapa metode yang diisyaratkan dalam al-Qur’an.
a. Metode Teladan
Metode keteladanan merupakan metode yang paling
berpengaruh dalam mendidik peserta didik, khususnya dalam hal pembentukan
kepribadian. Pentingnya metode ini juga dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW sebagai
utusan Allah. Bahkan al-Qur’an menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW itu menjadi
teladan bagi para umatnya. Keteladanan itu terlihat dari setiap perilaku yang
ditampilkan oleh Rasulullah, sehingga Allah pun memujinya dalam al-Qur’an: dan
sesungguhnya engkau (Muhammad) memiliki akhlak yang agung (Q.s. Qalam/68:4).
Selain kepada Nabi Muhammad SAW, al-Qur’an juga
menjelaskan bahwa keteladanan itu ada pada diri Nabi Ibrahim AS. Keteladanan
Nabi Ibrahim AS yang mendapat julukan khalilullah ini juga dapat dilihat dari
kepribadiannya yang mulia dalam mendidik kaumnya agar menegakkan agama tauhid.
Bahkan metode keteladanan ini menjadi salah satu kunci keberhasilan Nabi
Ibrahim dalam mendidik anaknya Isma’il sehingga menjadi anak yang shaleh lagi
halim.
Kedua nabi yang disebut al-Qur’an sebagai uswatun
hasanah ini patut diteladani oleh umat Islam, khususnya pendidik Islam sebagai
pewaris nabi. Dengan keteladanan tersebut diharapkan peserta didik memiliki
kepribadian yang islami dan pada gilirannya akan menjadi teladan bagi
sekelilingnya.
b. Metode
ceramah
Metode ceramah merupakan metode yang paling banyak digunakan dalam
proses pendidikan. Meskipun metode lain dipakai, tetapi metode itu selalu
dikombinasikan dengan metode ceramah ini. Al-Qur’an juga mengisyaratkan adanya
metode ceramah. Menurut Abuddin Nata, metode ini disebut al-Qur’an dengan kata
khutbah yang diulang sebanyak 9 kali dan kata tabligh yang diulang sebanyak 78
kali. Metode ini juga dilakukan oleh nabi dalam mengajak dan mendidik kaumnya
ke jalan yang benar.
Metode ini juga
bisa efektif diterapkan jika penyampaiannya menggunakan bahasa yang jelas,
mudah dipahami dan mengandung pesan-pesan yang bermutu sehingga memperkaya
wawasan peserta didik secara kognitif. Metode ceramah juga bisa menyentuh qalbu
peserta didik sehingga ceramah tidak hanya bersifat kognitif tetapi juga ranah
apektif.
c. Metode
Nasehat
Metode nasehat merupakan penyampaian kata-kata yang menyentuh hati
dan disertai dengan keteladanan. Dengan demikian metode ini memadukan antara
metode ceramah dengan keteladanan, namun lebih diarahkan kepada bahasa hati,
tetapi bisa pula disampaikan dengan pendekatan rasional. Di dalam al-Qur’an
juga dijelaskan tentang metode nasehat yang dilakukan oleh para nabi kepada
kaumnya, seperi Nabi Shaleh As yang menasehati kaumnya agar menyembah Allah,
dan Nabi Ibrahim AS yang menasehati ayahnya, Azar, agar menyembah Allah dan
tidak lagi membuat patung . Begitu pula al-Qur’an mengisahkan Luqman memberi
nasehat kepada anaknya agar menyembah Allah dan berbakti kepada orang tua serta
melakukan sifat-sifat yang terpuji seperti yang terdapat dalam Q.S. Luqman/31:
12-13.
Selain dari kisah nabi dan Luqman di atas, al-Qur’an sendiri
mengandung ayat-ayat yang mengandung nasehat, seperti nasehat agar tidak
mempersekutukan Allah dan berbuat baiklah kepada manusia. Dalam al-Qur’an juga
terdapat nasehat yang berulang-ulang. Hal ini menunjukkan bahwa masalah yang
dinasehati itu penting sesuai dengan konteksnya.
Abuddin Nata menegaskan bahwa al-Qur’an secara eksplisit menggunakan
nasehat sebagai salah satu cara untuk menyampaikan suatu ajaran. Al-Qur’an
berbicara tentang penasehat, yang dinasehati, obyek nasehat, situasi nasehat,
dan latar belakang nasehat. Karenanya sebagai suatu metode pengajaran nasehat
dapat diakui kebenarannya untuk diterapkan sebagai upaya mencapai suatu tujuan.
d. Metode
Diskusi
Metode diskusi juga mendapat perhatian dalam al-Qur’an. Seperti
dalam surat al-Nahl/16 ayat 125 dijelaskan agar kita mengajak ke jalan yang
benar dnegan hikmah dan mau’izhah yang baik dan membantah mereka dengan
berdiskusi dengan cara yang paling baik pula. Kemudian dalam surat al-Ankabut
ayat 46 juga dijelaskan agar kita tidak berdebat dengan Ahli Kitab kecuali dengan
cara yang paling baik.
Dengan demikian, dalam proses pembelajaran metode diskusi juga dapat
digunakan. Namun penerapan metode ini harus dilakukan dengan baik, seperti
tidak menyinggung perasaan orang lain, menghargai pendapat dan pembicaraannya,
tidak memonopoli forum dan tidak pula egois serta dibutuhkan kedewasaan
berpikir.
e. Metode
targhib dan tarhib
Menurut Abdurrahman an-Nahlawi, berdasarkan
analisis terhadap ayat-ayat al-Qur’an dapat didefenisikan bahwa targhib adalah
janji yang disertai bujukan dan rayuan untuk menunda kemaslahatan, kelezatan,
dan kenikmatan. Namun penundaan itu bersifat pasti,
baik, murni dan dilakukan melalui amal shaleh atau pencegahan diri dari
kelezatan yang membahayakan. Sementara tarhib adalah ancaman atau intimidasi
melalui hukuman yang disebabkan oleh terlaksananya sebuah dosa, kesalahan, atau
perbuatan yang telah dilarang Allah. Kedua metode ini bisa dilihat dalam surat
Zalzalah ayat 7-8. .
Dalam ilmu modern, targhib dikenal dengan istilah reward yang
berarti ganjaran, hadiah, penghargaan atau imbalan dan merupakan salah satu
alat pendidikan dan berbentuk reinforcement yang positif, sekaligus sebagai
motivasi yang baik. Sementara tarhib dikenal dengan istilah punishment hukuman
atau sanksi sebagai bentuk reinforcement yang negatif, tetapi kalau diberikan
secara tepat dan bijak bisa menjadi metode pendidikan yang baik. Keduanya dapat
diterapkan dalam pendidikan dan menyesuaikannya dengan kondisi yang dihadapi.
Namun jika dibandingkan antara keduanya, seharusnya metode targhib lebih
diprioritaskan dari pada tarhib. Misalnya, jika ada peserta didik yang
mengerjakan tugas dan yang lainnya tidak membuat tugas, maka yang terlebih
dahulu diberikan respon adalah kepada peserta didik yang telah membuat tugas.
Meskipun demikian, metode tarhib memang tetap dibutuhkan, tetapi
harus terlebih dahulu dilalui dengan metode keteladanan, atau nasehat yang
baik. Dalam hal ini Muhammad Qutb menegaskan bahwa bila metode teladan dan
nasehat juga tidak mampu, maka harus diadakan tindakan berupa tarhib. Tetapi
yang harus ditekankan bahwa sanksi atau hukuman yang diberikan harus bersifat
edukatif.
Masih banyak macam-macam metode yang dikemukakan oleh para tokoh
pendidikan. Semua metode tersebut dapat digunakan dalam pendidikan Islam tetapi
tetap menyesuaikan dengan karakteristik dan asas-asas di atas. Namun tidak ada
satu pun metode yang mutlak ideal di antara metode-metode lain. Masing-masing
metode memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Pendidik juga bisa
menggunakan metode secara bervariasi dengan tetap mempertimbangkan kelebihan
dan kelemahannya serta relevansinya dengan kebutuhan.
Metode tersebut akan tepat dan benar digunakan jika disesuaikan
dengan kebutuhan, baik yang berhubungan dengan materi, tujuan pendidikan,
suasana lingkungan belajar, hingga kepada kondisi psikologis peserta didik.
Oleh karena itu, dituntut kompetensi pendidik dalam memilih dan menentukan
metode yang tepat sehingga pencapaian tujuan pendidikan dapat dilakukan secara
efektif dan efisien.
C. Analisis
Filosofis Alat Pendidikan Islam

1. Pengertian
Alat Pendidikan Islam


Sutari Imam Barnadib berpendapat bahwa alat
pendidikan adalah “suatu tindakan atau perbuatan atau situasi atau benda yang
dengan tindakan untuk mencapai suatu tujuan pendidikan”. Sementara Ahmad D. Marimba mendefinisikannya sebagai “segala sesuatu
atau apa yang dipergunakan dalam usaha mencapai tujuan.” Ramayulis mengatakan
bahwa dari beberapa literatur tidak terdapat perbedaan antara alat dengan media
pendidikan. Oleh karenanya, ia tidak membedakan antara alat dengan media.
Zakiah Daradjat juga tidak membedakan antara alat dengan media. Menurutnya,
media atau alat pendidikan meliputi segala sesuatu yang dapat membantu proses
pencapaian tujuan pendidikan.
Dari pengertian yang dikemukakan di atas, dapat dipahami bahwa alat
juga merupakan komponen penting dalam pendidikan. Dengan alat tersebut, tujuan
pendidikan akan mudah untuk dicapai.
2. Urgensi
dan Fungsi Alat Pendidikan
Alat pendidikan memiliki peranan penting dalam proses pendidikan
dalam mencapai statu tujuan. Menurut Yusuf Hadi Miarso, dkk, sebagaimana yang
dikutip oleh Ramayulis bahwa alat/media pendidikan itu mempunyai nilai-nilai
praktis yang berupa kemampuan antara lain: (1) membuat konkrit konsep yang
abstrak, (2) membawa obyek yang sukar didapat ke dalam lingkungan belajar
siswa, (3) menampilkan obyek yang terlalu besar, (4) menampilkan obyek yang tak
dapat diamati dengan mata telanjang, (5) mengamati gerakan yang teralu cepat,
(6) memungkinkan keseragaman pengamatan dan persepsi bagi pengalaman belajar
siswa, (7) membangkitkan motivasi belajar, dan (8) menyajikan informasi belajar
secara konsisten dan dapat diulang maupun disimpan menurut kebutuhan.
Mengenai pentingnya alat ini, Ali Jumbulati juga
menyatakan bahwa dalam pekerjaan mengajar, alat-alat peraga merupakan sarana
pembuka cakrawala yang lebih luas, yang berlawanan dengan kebiasaan merumuskan
kalimat-kalimat yang ditulis atau diucapkan. Di samping
itu, alat peraga juga menjadikan pengetahuan anak bersentuhan langsung dengan
pengalaman indrawi yang hakiki. Maka dari itu makna yang terkandung di dalam
komponen pendidikan ini adalah lebih memudahkan anak memahami pelajaran dan
meminimalisir kesalahan dalam penerimaan ilmu yang diajarkan.
Adapun fungsi alat pendidikan, D. Ahmad Marimba
menyebutkan setidaknya ada tiga fungsi alat pendidikan, yaitu sebagai
perlengkapan, sebagai pembantu mempermudah usa mencapai tujuan, dan sebagai
tujuan untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, seperti tujuan mempelajari
bahasa Arab untuk mengetahui isi al-Qur’an. Dengan
demikian, alat pendidikan sangat membantu terwujudnya tujuan pendidikan. Oleh
karena itu, Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain menyebut media sebagai alat
bantu sekaligus sumber belajar.
3.
Karakteristik Alat Pendidikan


Seperti halnya metode pendidikan, maka karakteristik alat pendidikan
Islam juga berlandaskan kepada karakteristik pendidikan Islam itu sendiri.
Ramayulis berpendapat bahwa karakteristik sistem pendidikan Islam setidaknya
dapat dilihat dari tiga hal dimana ketiga karakter ini sekaligus membedakannya
dengan sistem pendidikan non-Islam. Pertama, sistem idiologi; Islam memiliki
idiologi al-tauhid yang bersumber dari al-Qur’an dan sunnah, sedangkan
non-Islam memiliki berbagai macam ideologi yang bersumber dari isme-isme materialis,
sosialis, komunis, dan sebagainya. Dengan idiologi tauhid, maka pendidikan
Islam tidak mengenal istilah dikotomis, dualisme, bahkan sekuralis. Akan tetapi
sistem pendidikan Islam menghendaki adanya integralistik yang menyatukan
kebutuhan duniawi dan ukhrasi, jasmani dan rohani, materi dan spiritual serta
oleh oleh roh tauhid yang dinafasi dan dijiwai. Kedua, sistem nilai; pendidikan
Islam bersumber dari nilai al-Qur’an dan Sunnah, berasal dari wahyu yang
memiliki kebanaran mutlak. Sedangkan non-Islam bersumber dari nilai-nilai yang
berasal dari hasil pemikiran manusia, penelitian para ahli atau adat kebiasaan
masyarakat. Dalam pendidikan Islam, nilai-nilai al-Qur’an dan Sunnah tersebut
diinternalisasikan dalam proses pembelajarannya. Ketiga, orientasi pendidikan;
dalam pendidikan Islam orientasinya kepada duniawi dan ukhrawi, sementara
non-Islam berorientasi kepada duniawi saja.
Demikian halnya alat pendidikan Islam, tiga karakteristik di atas
juga menjadi karakter alat pendidikan Islam. Alat yang digunakan dan
dikembangkan harus beridiologi al-tauhid sehingga penggunaan alat tidak
bercorak dikotomis, pragmatis dan materialistis. Alat pendidikan Islam juga
memiliki karakteristik sistem nilai yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah,
sehingga alat apapun yang ingin digunakan tidak terlepas dari semangat
al-Qur’an dan Sunnah, tetapi sebagai upaya untuk mengaplikasikan nilai-nilai
kedua sumber tersebut. Begitu pula orientasi dari metode pendidikan Islam tidak
hanya mengantarkan peserta didik menguasai materi ajar yang disampaikan, tetapi
berorientasi pada tercapainya kebahagiaan dan keselamatan dunia akhirat.
4.
Macam-macam Alat Pendidikan


Adapun jenis dari alat tersebut, tidak saja berupa benda (material)
tetapi juga yang bukan benda (non materi). Menurut Zakiah Dardjat, alat berupa
benda ini meliputi: pertama, media tulis atau cetak seperti al-Qur’an, hadis,
tauhid, fiqh, sejarah, dan sebagainya; kedua, benda-benda alam seperti manusia,
hewan, tumbuh-tumbuhan, zat padat, zat cair, zat gas, dan sebagainya; ketiga,
gambar-gambar, lukisan, diagram, peta dan grafik. Alat ini dapat dibuat dalam
ukuran besar dan dapat pula dipakai dalam buku-buku teks atau bahan bacaan
lain; keempat, gambar yang dapat diproyeksi, baik dengan alat atau tanpa suara
seperti foto, slide, film strip, televisi, video, dan sebagainya; dan kelima,
audio recording (alat untuk didengar) seperti karet tape, radio, piringan
hitam, dan lain-lain yang semuanya diwarnai dengan ajaran agama.
Adapun alat yang berupa non-benda, dapat berupa keteladanan,
perintah/larangan, ganjaran dan hukuman, dan sebagainya. Jadi, alat berupa
non-benda ini tampaknya sama dengan metode. Hal ini dapat diterima mengingat
bahwa metode juga dapat disebtu sebagai alat pendidikan untuk mewujudkan tujuan
pendidikan.
Dari pembagian alat pendidikan di atas dapat disimpulkan bahwa alat
pendidikan tersebut amat luas cakupannya. Berbagai benda yang ada di alam
sekitar dapat dijadikan sebagai alat, mulai dari hal-hal sederhana, seperti
tumbuhan, hewan, bebatuan, hingga kepada benda-benda yang telah menjadi temuan
ilmiah, seperti TV, LCD, komputer, dan sebagainya. Begitu pula dalam hal
non-benda, berbagai metode yang dikenal dalam pendidikan juga dapat disebut
sebagai alat pendidikan.
Dalam al-Qur’an juga ditemukan ayat-ayat yang menunjukkan bahwa
pentingnya alat dalam pendidikan. Makhluk Allah berupa hewan yang dijelaskan
dalam al-Qur’an juga bisa menjadi alat dalam pendidikan. Seperti nama salah
satu surat dalam al-Qur’an adalah an-Nahl yang artinya lebah. Dalam ayat ke
68-69 di surat itu Allah menerangkan:
Artinya: Dan
Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di
pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”, kemudian
makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang
telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang
bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi
manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda
(kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.
Jelaslah bahwa ayat di atas menerangkan bahwa
lebah bisa menjadi media atau alat bagi orang-orang yang berpikir untuk
mengenal kebesaran Allah yang pada gilirannya akan meningkatkan keimanan dan
kedekatan (taqarrub) seorang hamba kepada Allah SWT. Nabi
Muhammad SAW dalam mendidik para sahabatnya juga selalu menggunakan alat atau
media, baik berupa benda maupun non-benda. Salah satu alat yang digunakan
Rasulullah dalam memberikan pemahaman kepada para sahabatnya adalah dengan menggunakan
gambar.
Diriwayatkan
oleh Imam Ahmad dan al-Hakim dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, ”Rasulullah
membuatkan kami garis dan bersabda, ”Ini jalan Allah.” Kemudian membuat
garis-garis di sebelah kanan dan kirinya, dan bersabda, ”Ini adalah jalan-jalan
(setan).” Yazid berkata, ”(Garis-garis) yang berpencar-pencar.” Rasulullah SAW
bersabda, ”Di setiap jalan ada setan yang mengajak kepadanya. Kemudian beliau
membaca,
Artinya: Dan
bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia,
dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) , karena jalan-jalan itu
mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah
agar kamu bertakwa. (Q.S. al-An’am/6: 153).
Hadis di atas terlihat jelas bahwa Rasulullah SAW menggunakan
garis-garis sebagai alat pendidikan untuk menjelaskan apa yang ingin beliau
sampaikan kepada para sahabatnya.
Perlu pula ditegaskan bahwa dalam konteks pendidikan Islam, M.
Arifin menyebutkan alat-alat pendidikan harus mengandung nilai-nilai
operasional yang mampu mengantarkan kepada tujuan pendidikan Islam yang sarat
dengan nilai-nilai. Nilai-nilai tersebut tentunya berdasarkan kepada dasar atau
karakteristik pendidikan Islam itu sendiri.
Dewasa ini, pengembangan alat pendidikan semakin pesat seiring
dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan Islam juga
tetap melakukan berbagai inovasi termasuk dalam pengembangan penggunaan alat
pendidikan sehingga membantu kelancaran proses pendidikan tersebut. Namun
penggunaan alat tersebut mesti tetap berlandaskan kepada dasar-dasar pendidikan
Islam dan mengacu kepada tujuan yang telah direncanakan.
5.
Prinsip-prinsip Pemilihan dan Penggunaan Alat


Dalam memilih dan menentukan alat pendidikan, diperlukan
prinsip-prinsip yang harus dipahami oleh seorang pendidik. Menurut Nana Sudjana
mengemukakan ada empat prinsip yang harus diperhatikan, yaitu:
1) menentukan
jenis alat peraga dengan tepat, artinya sebaiknya guru memilih terlebih dahulu
alat peraga manakah yang sesuai dengan tujuan dan bahan pelajaran yang hendak
diajarkan.
2) Menetapkan
atau memperhitungkan subjek dengan tepat, artinya perlu diperhitungkan apakah
penggunaan alat peraga itu sesuai dengan tingkat kematangan/kemampuan anak
didik.
3) Menyajikan
alat peraga dengan tepat, artinya teknik dan metode penggunaan alat peraga
dalam pengajaran harus disesuaikan dengan tujuan, bahan, metode, waktu, dan
sarana yang ada.
4) Menempatkan
atau memperlihatkan alat peragaan pada waktu, tempat, dan situasi yang tepat.
Artinya kapan dan dalam situasi mana pada waktu mengajar alat peraga digunakan.
Tentu tidak setiap saat atau selama proses mengajar terus-menerus
memperlihatkan atau menjelaskan sesuatu dengan alat peraga.
Prinsip yang
dikemukakan oleh Nana Sudjana di atas memang lebih berkenaan dengan alat
pendidikan berupa benda. Sementara alat dalam bentuk non-benda pada dasarnya
tidak berbeda dengan prinsip-prinsip dalam menentukan metode, sebab alat
non-benda tersebut juga merupakan bagian dari metode.
D.
Rekomendasi
Salah satu problematika pendidikan Islam dewasa ini adalah persoalan
metode pembelajaran yang masih monoton dan cenderung membosankan peserta didik
serta lemahnya kemampuan tenaga pendidik dalam memanfaatkan dan mengembangkan
alat/media pendidikan. Oleh karena, pembaharuan di bidang metode dan alat
pendidikan Islam harus dilakukan.
Mengenai persoalan metode, juga telah pernah disinggung oleh para
pendidikan Islam. Mastuhu, misalnya, berpendapat bahwa metode belajar yang
digunakan selama ini masih bersifat “klasik”, yaitu mewariskan sejumlah materi
ajaran agama yang diyakini benar untuk disampaikan kepada peserta didik tanpa
memberikan kesempatan kepadanya agar disikapi secara kritis. Maka metode
belajar dan mengajar sistem pendidikan Islam bercorak menghafal, mekanis, dan lebih
mengutamakan pengayaan materi, sehingga ilmu lebih dipandang dari segi hasil
dari pada proses. Lalu ia menawarkan perlu segera diadakan reorientasi
metodologi pengajaran dan cara belajar pasif ke aktif. Dari murid menunggu,
menerima, dan memperoleh materi pelajaran sebanyak-banyaknya menjadi aktif
mencari dan menguasai metodologi berpikir yang kuat dan konstruktif. Dari
dimensi belajar “memiliki” menjadi belajar “menjadi”, atau dari dimensi
“menganalisis” kemudian “mensintesa”, “mengevaluasi”, dan “mengantisipasi”.
Selain itu, Mastuhu juga menawarkan ada delapan hal yang perlu
dilakukan perubahan dan pengembangan metode belajar dan mengajar pada
pendidikan Islam di Indonesia, yaitu:
(1) mengubah cara belajar dari model warisan menjadi cara belajar pemecahan
masalah; (2) dari hafalan ke dialog; (3) dari pasif ke heuristic; (4) dari
memiliki ke menjadi; (5) dari mekanis ke kreatif; (6) dari strategi menguasai
materi sebanyak-banyaknya menjadi menguasai metodologi yang kuat; (7) dari
memandang dan menerima ilmu sebagai hasil final yang mapan, menjadi memandang
dan menimba ilmu dalam dimensi proses, dan (8) fungsi pendidikan bukan hanya
mengasah dan mengembangkan akal, tetapi mengolah dan mengembangkan hati (moral)
dan keterampilan.
Pendapat Mastuhu perlu dijadikan bahan pertimbangan untuk
meningkatkan motivasi pendidik dalam mengembangkan metode dalam proses
pendidikan. Guru atau tenaga pendidik harus mampu menentukan metode yang dapat
membuat peserta didik memiliki respon dan daya kritis yang kuat sehingga proses
pembelajaran lebih bersifat berpusat pada siswa (student-centris), paling tidak
seimbang, berpusat antara guru dengan siswa; bukan malah sebaliknya hanya
berpusat pada guru (teacher centris).
Dalam hal pengembangan metode dalam proses belajar-mengajar, perlu
juga dilakukan berbagai inovasi metode mengajar, atau saat ini dikenal dengan
sebutan ”model pembelajaran”. Model-model pembelajaran ini diperlukan untuk
dikembangkan lagi sehingga proses pembelajaran membuat siswa lebih aktif tanpa
terbebani.
Selain masalah metode, pengembangan alat atau media juga harus
dilakukan. Sistem pembelajaran berbasis ICT (information, communication and
technology). Agar perkembangan teknologi ini tidak berdampak negatif, maka
pemanfaatannya harus sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan Islam yang
berlandaskan kepada nilai-nilai ajaran Islam itu sendiri.
Tidak kalah penting lagi adalah mengenai metodologi keilmuan yang
dikembangkan dalam lembaga pendidikan Islam. Selama ini ada kecenderungan bahwa
metode yang dikembangkan oleh pendidikan Islam berbeda dengan yang dikembangkan
oleh pendidikan Barat, bahkan ada semacam dikotomi yang saling bertolak
belakang. Akibatnya, lembaga pendidikan yang mengikuti pola pendidikan Barat
dalam hal metodologinya lebih cenderung menguasai sains tetapi mengalami
kehampaan spiritual dan terkesan jauh dari nilai-nilai religius (baca: Islam);
sebaliknya lembaga pendidikan yang mengikuti pola pendidikan Islam lebih
cenderung menguasai ilmu-ilmu agama, namun tertinggal dalam penguasaan sains
dan teknologi.
Perbedaan ini
berangkat dari pendekatan epistemologi pendidikan yang dikembangkan.
Epistemologi keilmuan yang berkembang di Barat berangkat dari hal-hal yang
empiris, rasional, dan tangkapan inderawi serta mengabaikan hal-hal yang
bersifat metafisis, termasuk eksistensi agama. Sementara epistemologi
pendidikan Islam justru berangkat dari motivasi agama melalui wahyu Allah yang
dibawa oleh Rasulullah SAW dimana alam semesta yang bersifat materi serta
hal-hal yang bersifat metafisika dikaji secara integral sehingga dikenal
pendekatan intuisi di samping pendekatan-pendekatan lainya.

Namun dalam
kenyataannya, lembaga pendidikan Islam masih cenderung bersifat dikotomis,
dalam artian lebih menekankan metodologi yang didasarkan kepada intuisis mistis
dari manusia dan terbatas pada hubungan antara manusia dengan Tuhan an sich.
Oleh karena itu, pendidikan Islam harus kembali kepada prinsip dasarnya yang
bersifat integral, komprehensif dan seimbang. Tegasnya, metodologi ilmu-ilmu
umum yang berkembang di Barat harus diintegrasikan dengan metodologi ilmu-ilmu
agama yang selama ini lebih digeluti.
Dalam hal integrasi antara kedua bentuk ilmu di atas juga telah
mendapat kajian dari beberapa pakar pendidikan, salah satu di antaranya adalah
Isma’il al-Faruqi yang menawarkan Islamisasi Ilmu. Konsep ini juga berimplikasi
kepada pentingnya menggunakan metodologi yang dikembangkan dalam ilmu-ilmu
umum, tetapi diintegrasikan dengan nilai-nilai Islam sehingga terhindar dari
pendekatan yang dikotomis.
Akhir-akhir ini muncul pula paradigma integritas transdisipliner.
Keahlian transdisipliner adalah keahlian seseorang dipandang lebih ideal
apabila mamu meliat secara transparan disiplin ilmu lain. Artinya mengenal
substansi ilmu lain sampai batas tertentu; bukan mesti menjadi multidisiplin
dan interdisiplin, melainkan mengenal beragam hal mengenai substansi banyak
disiplin ilmu lain sehingga dalam mengembangkan disiplin ilmunya sendiri tahu
kawasan disiplin ilmunya dan tahu komplementasi atau kontradiksi yang dapat terjadi
dengan disiplin ilmu lain.
Tegasnya, metode pendidikan Islam yang harus
dikembangkan untuk menjawab tantangan saat ini dan masa yang akan datang,
tampaknya pendekatan nondikotomik atau integrasi ilmu ini patut dijadikan
sebagai solusi alternatif. Jika lembaga pendidikan
Islam mampu mengembangkannya secara konsisten, maka kejayaan ilmu pengetahuan
akan dapat diraih.
Untuk mewujudkan pemikiran-pemikiran di atas,
PTAI, seperti Fakulatas Tarbiyah, diharapkan mampu mempersiapkan guru yang
mampu mengembangkan metode dan alat/media pembelajaran yang dinamis, inovatif
dan kreatif sehingga peserta didik dapat belajar aktif dan akhirnya membantunya
dalam meraih tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Begitu pula dalam hal pengembangan metodologi keilmuan yang
transdisipliner di atas, juga saatnya untuk dimulai secara bertahap dan
konsisten. Program pascasarjana di PTAI pun diharapkan mampu mengembangkan
kajian ke arah yang lebih spesifik sesuai yang diinginkan dalam disiplin ilmu
pendidikan itu sendiri. Saat ini, konsentrasi atau bidang ilmu pendidikan Islam
masih bersifat umum; idealnya, sudah ada konsentrasi/bidang yang lebih spesifik
lagi, seperti konsentrasi kurikulum pendidikan Islam, konsentrasi teknologi
pendidikan Islam, konsentrasi evaluasi pendidikan Islam, konsentrasi manajemen
pendidikan Islam, dan sebagainya. Jika spesifikasi keilmuan pendidikan Islam
telah dimulai dari program pascasarjana, maka akan memudahkan untuk
mempersiapkan calon-calon tenaga pendidik di tingkat program S.1 sehingga melahirkan
guru-guru yang berpikir integral, sesuai dengan karakteristik pendidikan Islam
itu sendiri.
E. Penutup
Dari paparan mengenai metode dan alat pendidikan Islam dalam
perspektif Filsafat Pendidikan Islam di atas, dapat ditarik beberapa
kesimpulan.
Pertama, metode merupakan salah satu komponen penting dalam sistem
pendidikan Islam. Sebaik apapun materi ajar yang telah disiapkan atau
direncanakan, tanpa metode yang baik dan tepat, maka proses pembelajaran itu
bisa menuai kegagalan dalam mencapai tujuan. Oleh karena itu, kemampuan
pendidik dalam memilih dan menerapkan metode sangat menentukan. Metode dalam
pendidikan Islam memiliki karakteristik yang berbeda dengan sistem pendidikan
non-Islam. Metode pendidikan Islam tetap berlandaskan kepada karakteristik
pendidikan Islam itu sendiri. Oleh karena itu, dalam mengembangkan metode harus
menunjukkan karakteristik tersebut lalu mempertimbangkan asas-asas metode
pendidikan Islam sebagaimana yang telah diuraikan di atas.
Kedua, alat atau media juga menjadi komponen penting dalam sistem
pendidikan Islam. Alat pendidikan amat membantu proses pendidikan dalam
mewujudkan tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Maka setiap
guru/pendidik juga dituntut untuk kreatif dalam memilih dan menggunakan alat
pendidikan. Penggunaan alat pendidikan juga harus mempertimbangkan materi ajar,
kondisi siswa/peserta didik, lingkungan, sarana prasarana, dan aspek-aspek lain
yang turut mempengaruhi penggunaan alat tersebut.
Ketiga, begitu pentingnya metode dan alat dalam pendidikan, maka
pendidik dituntut profesionalitasnya dalam mengembangkan metode dan alat
tersebut. Pendidik harus mengetahui keunggulan dan kelemahan dari masing-masing
metode dan alat yang akan digunakan serta menentukan pilihan yang paling tepat
sehingga peserta didik lebih aktif dan kritis dalam proses pembelajaran. Dan
yang paling terpenting adalah dengan metode dan alat itu, peserta didik sampai
kepada tujuan yang diinginkan.
Keempat, selain dari profesionalitas dalam menentukan dan
menerapkan, pendidik juga dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam menciptakan
metode dan alat-alat pendidikan, baik dalam memvariasikan antara metode dan
alat yang satu dengan lainnya atau menemukan metode dan alat yang baru.
Kelima, epistemologi pendidikan Islam yang berkembang selama ini
merupakan sub sistem dari filsafat yang berkaitan erat dengan pembahasan metode
pendidikan. Oleh karena itu perlu pengembangan lebih lanjut epistemologi
pendidikan Islam serta kajian metodologi keilmuan ke arah integrasi ilmu dan
paradigma transdisipliner. Hal ini dapat dilakukan mengingat salah satu
karakteristik dari pendidikan Islam itu adalah idiologi yang bercorak tauhid. Oleh: Muhammad Kosim LA
SHARE