Analisis Filosofis Pendidik dan Peserta Didik

84
A.Pendahuluan
Pendidik dan peserta didik merupakan komponen penting dalam sistem
pendidikan Islam. Kedua komponen ini saling berinteraksi dalam proses
pembelajaran untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang diinginkan. Oleh karena
itu, pendidik sangat berperan besar sekaligus menentukan ke mana arah potensi
peserta didik yang akan dikembangkan.
Demikian pula peserta didik, ia tidak hanya sekedar objek pendidikan, tetapi
pada saat-saat tertentu ia akan menjadi subjek pendidikan. Hal ini membuktikan
bahwa posisi peserta didik pun tidak hanya sekedar pasif laksana cangkir kosong
yang siap menerima air kapan dan dimanapun. Akan tetapi peserta didik harus
aktif, kreatif dan dinamis dalam berinteraksi dengan gurunya, sekaligus dalam
upaya pengembangan keilmuannya.
Konsep pendidik dan peserta didik dalam perspektif pendidikan Islam
memiliki karakteristik tersendiri yang sesuai dengan karakteristik pendidikan
Islam itu sendiri. Karakteristik ini akan membedakan konsep pendidik dan
peserta didik dalam pandangan pendidikan lainnya. Hal itu juga dapat ditelusuri
melalui tugas dan persyaratan ideal yang harus dimiliki oleh seorang pendidik
dan peserta didik yang dikehendaki oleh Islam. Tentu semua itu tidak terlepas
dari landasan ajaran Islam itu sendiri, yaitu al-Qur’an dan Sunnah yang
menginginkan perkembangan pendidik dan peserta didik tidak bertentangan dengan
ajaran kedua landasan tersebut sesuai dengan pemahaman maksimal manusia.

Jika karakteristik yang diinginkan oleh pendidikan Islam tersebut dapat
dipenuhi, maka pendidikan yang berkualitas niscaya akan dapat diraih. Untuk
itu, kajian dan analisis filosofis sangat dibutuhkan dalam merumuskan konsep
pendidik dan peserta didik dalam perspektif pendidikan Islam sehingga diperoleh
pemahaman yang utuh tentang kedua komponen tersebut.
Makalah yang sederhana ini akan menguraikan tentang analisis filosofis
tentang pendidik dan peserta didik dalam perspektif filsafat pendidikan Islam.
Diharapkan makalah ini menjadi bahan diskusi lebih lanjut agar dapat memberikan
pemahaman yang lebih jelas tentang kedua komponen itu sehingga berguna dalam
upaya mewujudkan tujuan pendidikan yang diinginkan secara efektif dan efisien.
B. Analisis Filosofis Pendidik
1. Pengertian Pendidik
Pendidik adalah orang yang mendidik. Dalam pendidikan formal tingkat dasar
dan menengah disebut guru, sedangkan pada perguruan tinggi disebut dengan
dosen. Dalam bahasa Arab, juga ditemukan beberapa istilah yang memiliki makna
pendidik, yaitu ustadz, mudarris, mu’allim, dan mu’addib. Abuddin Nata
mengemukakan bahwa kata ustadz jamaknya asātidz yang berarti teacher (guru),
professor (gelar akademik), jenjang di bidang intelektual, pelatih, penulis,
dan penyiar. Adapun kata mudarris berarti teacher (guru), instructor (pelatih),
lecture (dosen). Sedangkan kata mu’allim yang juga berarti teacher (guru),
instructor (pelatih), dan trainer (pemandu). Sementara kata mu’addib berarti
educator (pendidik) atau teacher in koranic school (guru dalam lembaga
pendidikan al-Qur’an).
Adanya perbedaan dalam penggunaan istilah pendidik, juga berangkat dari
penggunaan istilah pendidikan yang digunakan. Bagi orang yang berpendapat bahwa
istilah yang tepat untuk menggunakan pendidikan adalah tarbiyah, maka seorang
pendidik disebut murabbi, jika ta’līm yang dianggap lebih tepat, maka
pendidiknya disebut mu’allim, dan jika ta’dīb yang dianggap lebih cocok untuk
makna pendidikan, maka pendidik disebut dengan mu’addib.
Kata ”murabbi”, sering dijumpai dalam kalimat yang orientasinya lebih
mengarah pada pemeliharaan, baik yang bersifat jasmani atau rohani.
Pemeliharaan seperti ini terlihat dalam proses orang tua membesarkan anaknya.
Mereka tentunya berusaha memberikan pelayanan secara penuh agar anaknnya tumbuh
dengan fisik yang sehat dan kepribadian serta akhlak terpuji. Term mu’addib
mengacu kepada guru yang memiliki sifat-sifat rabbany yaitu nama yang diberikan
bagi orang-orang yang bijaksana dan terpelajar yang memiliki sikap tanggung
jawab yang tinggi serta mempunyai jiwa kasih sayng terhadap peserta didik.
Sedangkan kata ”mu’allim” memberikan konsekuensi bahwa guru adalah seorang yang
alim (ilmuan), menguasai ilmu pengetahuan, keratif dan memiliki komitmen dalam
pengembangan ilmu. Dalam pengertian ini maka seorang guru harus kaya dengan
ilmu dan aktivitas dan ia berusaha untuk memberikan pengetahuannya tersebut
kepada peserta didiknya.
Meskipun terdapat berbagai perbedaan istilah, yang jelasnya makna dasar
dari masing-masing istilah tersebut terkandung di dalam konsep ”pendidik” dalam
pendidikan Islam. Dengan demikian, ”pendidik” tidak hanya sebagai orang yang
menyampaikan materi an sich kepada peserta didik (transfer of knowladge),
tetapi lebih dari itu ia juga bertugas untuk mengembangkan kemampuan peserta
didik secara optimal (tranformation of knowladge) serta menanamkan nilai
(internalitation of values) yang berlandaskan kepada ajaran Islam. Tegasnya,
seorang pendidik berperan besar dalam menumbuh-kembangkan berbagai potensi
positif peserta didik secara optimal sehingga tujuan pendidikan Islam yang
ideal dapat diraih.
Menurut Ramayulis, pendidik dalam pendidikan Islam setidaknya ada empat
macam. Pertama, Allah SWT sebagai pendidik bagi hamba-hamba dan sekalian
makhluk-Nya. Kedua, Nabi Muhammad SAW sebagai utusan-Nya telah menerima wahyu
dari Allah kemudian bertugas untuk menyampaikan petunjuk-petunjuk yang ada di
dalamnya kepada seluruh manusia. Ketiga, orang tua sebagai pendidik dalam
lingkungan keluarga bagi anak-anaknya. Keempat, Guru sebagai pendidik di
lingkungan pendidikan formal, seperti di sekolah atau madrasah. Namun pendidik
yang lebih banyak dibicarakan dalam pembahasan ini adalah pendidik dalam bentuk
yang keempat.
2. Kedudukan Pendidik
a. Pendidik dalam al-Qur’an
Secara eksplisit, memang tidak ditemukan ayat-ayat al-Qur’ann yang
berbicara tentang pendidik. Namun secara implisit, al-Qur’an membicarakan
tentang pendidik. Hal itu dapat dilihat dari konsep al-Qur’an tentang ilmu dan
kedudukan orang-orang yang berilmu. Orang yang berilmu ini tentunya memiliki
hubungan erat dengan pendidik, dimana pendidik adalah orang yang memiliki dan
mengajarkan ilmu.
Dalam al-Qur’an ditemukan ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Allah
memposisikan pendidik pada tempat terhormat. Seperti firman-Nya:
Artinya: Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu:
“Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah
akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah
kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang
beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat. Dan Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. al-Mujadilah/58: 11)
Selain dari ayat di atas, juga terdapat firman Allah dalam surat az-Zumar
tentang posisi seorang pendidik dengan ilmu yang dimilikinya. Firman-Nya:
Artinya: Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan
orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah
yang dapat menerima pelajaran. (Q.S. az-Zumar/39: 9).
Selain dari posisi di atas, seorang pendidik yang berilmu tersebut memiliki
karakter takut, tunduk dan taat kepada Allah (khasyyatullah). Hal ini berarti
bahwa secara implisit seorang pendidik memiliki kelebihan dari manusia lain
ketika menjalankan perintah Allah. Firman-Nya:
Artinya: Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata
dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya).
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama
. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Q.S. Fathir/35: 28).
Menurut Ramayulis, dari ayat-ayat yang berkenaan dengan ilmu (pendidik) di
atas, dapat disimpulkan bahwa Allah menempatkan seorang pendidik pada posisi
yang terhormat. Jika digunakan logika berfikir yang linear maka tentunya posisi
ulama akan terus meningkat derajatnya apabila ia mengaplikasikan ilmunya dalam
sikap hidup dan perilaku sehari-hari. Selanjutnya posisi terhormat seorang
pendidik tersebut akan terus meningkat ke derajat yang lebih tinggi bila ilmu
tersebut diwariskan kepada orang lain melalui usaha pendidikan.
b. Pendidik dalam Hadis
Dari beberapa hadis dapat dilihat bahwa Nabi Muhammad SAW juga memposisikan
pendidik di tempat yang mulia dan terhormat. Dia menegaskan bahwa ulama adalah
pewaris para nabi, sementara makna ulama adalah orang yang berilmu. Dalam
perspektif pendidikan Islam, pendidik termasuk ulama. Tegasnya, pendidik adalah
pewaris para nabi. Hadis itu berbunyi:
Artinya: ……Para ulama (guru) adalah pewaris para nabi…(Dari Abu Darda’
r.a. dan diriwayatkan oleh Ibn Majah)
Hadis di atas juga menunjukkan bahwa Rasulullah SAW memberikan perhatian
yang besar terhadap ”pendidik” sekaligus memberikan posisi terhormat kepadanya.
Hal ini beralasan mengingat peran pendidik sangat menentukan dalam mendidik
manusia untuk tetap konsisten dan komitmen dalam menjalankan risalah yang
dibawa oleh Rasulullah SAW.
c. Pendidik dalam Sistem Pendidikan Nasional
Dalam sejarah bangsa Indonesia, status pendidik juga mendapat penghormatan
yang mulia. Bahkan sering dikenal pepatah yang menyebutkan bahwa guru adaha
”digugu dan ditiru”. Di beberapa wilayah Indonesia, ada beberapa ungkapan
populer untuk menyebut guru. Di Minangkabau, misalnya, guru biasanya disebut
Buya berasal dari kata abuyya yang berarti Bapakku tercinta; sementara di
daerah lain, seperti Sunda, dikenal sebutan Yang guru, Nyai guru, Kang guru,
Uwa guru dan Aki guru. Walaupun sebutan itu ditujukan kepada guru yang memiliki
keunggulan, namun hal ini bisa dijadikan alasan kuat untuk menyatakan bahwa
guru berada pada posisi terhormat di mata masyarakat.
Dalam sistem pendidikan nasinal, pendidik dikenal dengan beberapa sebutan,
seperti yang ditegaskan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional (UUSPN) pasal 1 ayat (6): ” Pendidik adalah tenaga
kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar,
widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai
dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan”.
Sementara dalam
pendidikan formal, pendidik dikenal dengan sebutan guru untuk tingkat sekolah
dasar dan menengah dan dosen untuk tingkat perguruan tinggi. Hal ini dapat
dilihat dari Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru
dan Dosen. Pada Bab II pasal 2 disebutkan bahwa:
1. Guru adalah
pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan
anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan
menengah.
2. Dosen adalah
pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan,
mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dalam UU No. 14
Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pada pasal 8 disebutkan juga bahwa ”Guru
wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat
jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan
nasional.”
Kompetensi yang
dimaksud dijelaskan sebelumnya pada pasal 1 ayat (10): ”Kompetensi adalah
seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki,
dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas
keprofesionalan.” Sedangkan kompetensi itu meliputi empat aspek, sebagaimana
yang dijelaskan pada pasal 10 ayat (1) ”Kompetensi guru sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi
sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi”.
Adanya
konstitusi di atas menunjukkan bahwa pendidik memang memiliki peran penting
serta berkedudukan yang mulia dan terhormat, tidak saja dalam perspektif Islam,
tetapi juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Hal ini tentunya
berangkat dari kesadaran bahwa pendidik memiliki peran strategis sekaligus
memberikan kontribusi yang besar terhadap pembangunan dan peningkatan peradaban
suatu bangsa.
Berkaitan dengan
ini, maka dalam pendidikan Islam disebutkan bahwa pendidik dipandang sebagai
abu al-ruh (orang tua spiritual atau rohani) bagi para muridnya. Guru hadir di
hadapan muridnya dalam kelas memberikan bimbingan jiwa dengan berbagai hikmah,
dan mauizhah dalam melaksanakan pendidikan, terutama dalam membimbing akhlak
dan moral. Atas dasar ini maka menghormati pendidik juga berarti menghormati
Bapaknya (orang tua) sendiri, dan penghargaan terhadap pendidik berarti juga
menghargai orang tuanya juga.
3. Tugas Pendidik
Mengenai tugas
pendidik dalam perspektif pendidikan Islam, Ramayulis membaginya ke dalam dua
tugas, yaitu tugas umum dan tugas khusus. Secara umum, tugas pendidik adalah
mengemban misi rahmatan li al-‘ālamīn, yakni suatu misi yang mengajak manusia
untuk tunduk dan patuh pada hukum-hukum Allah guna memperoleh keselamatan dunia
dan akhirat. Kemudian misi dikembangkan kepada pembentukan kepribadian yang
berjiwa tauhid, kreatif, beramal shaleh, dan bermoral tinggi.
Secara khusus,
tugas pendidik ada tiga macam. Pertama, sebagai pengajar (instruksional) yang
bertugas merencanakan program pengajaran dan melaksanakan program yang telah
disusun, dan penilaian setelah program itu dilaksanakan. Kedua, sebagai
pendidik (educator) yang mengarahkan peserta didik pada tingkat kedewasaan yang
berkepribadian insan kamil, seiring dengan tujuan Allah menciptakan manusia.
Ketiga, sebagai pemimpin (managerial), yang memimpin dan mengendalikan diri
sendiri, peserta didik dan masyarakat yang terkait. Tugas ketiga ini menyangkut
upaya pengarahan, pengawasan, pengorganisasian, pengontrolan, partisipasi atas
program yang dilakukan itu.
Sementara
Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali, seperti yang dikutip Samsul Nizar, bahwa tugas
pendidik yang utama adalah menyempurnakan, membersihkan, mensucikan, serta
membawa hati manusia untuk taqarrub ila Allah. Para pendidik hendaknya
mengarahkan peserta didik untuk mengenal Allah lebih dekat melalui seluruh
ciptaannya. Para pendidik dituntut untuk dapat mensucikan jiwa peserta
didiknya. Hanya dengan melalui jiwa-jiwa yang suci manusia akan dapat dekat
dengan Khaliq-Nya. Begitu pula an-Nahlawi berpendapat bahwa selain bertugas
mengalihkan berbagai pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik, tugas
utama yang perlu dilakukan pendidik adalah tazkiyat an-nafs yaitu
mengembangkan, membersihkan, mengangkat jiwa peserta didik kepada Khaliq-Nya,
menjauhkan dari kejahatan, dan menjaganya agar tetap berada pada fitrah-Nya
yang hanif. Pendapat ini menunjukkan bahwa tugas seorang pendidik yang tidak
kalah penting adalah sebagai muzakky.
Dalam al-Qur’an
juga disinggung bahwa tugas pendidik—dalam konteks pendidik sebagai waratsatul
an-biya’—memang bertugas sebagai sekaligus mu’allim sebagai muzakky. Hal ini
sesuai dengan tugas Rasul dalam firman-Nya:
Artinya: Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni’mat Kami kepadamu) Kami
telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami
kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan
Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (Q.S. al-Baqarah/2: 151).
4. Karakteristik
Pendidik
Perlu juga
dipahami bahwa pendidik dalam pendidikan Islam memiliki karakteristik
tersendiri. Karakteristik ini tentunya membedakan pendidik dalam perspektif
pendidikan Islam dengan pandangan pendidikan non-Islam lainnya. Al-Abrasy
mengemukakan beberapa karakteristik pendidik.
a. Seorang
pendidik bersifat zuhud, artinya melaksanakan tugasnya bukan semata-mata karena
materi, melainkan mendidik untuk mencari keridhaan Allah.
b. Seorang
pendidik harus bersih tubuhnya, jauh dari dosa dan kesalahan, bersih jiwanya,
terhindar dari dosa, sifat ria dengki, permusuhan, dan sifat –sifat tercela
lainnya.
c. Seorang
pendidik harus ikhlas dalam menjalankan tugasnya dan memiliki sifat-sifat terpuji
lainnya, seperti rendah hati, jujur, lemah lembut, dan sebagainya.
d. Seorang
pendidik mesti suka memaafkan orang lain, terutama kesalahan peserta didiknya,
lalu ia juga sanggup menahan diri, menahan kemarahan, lapang hati, banyak sabar
dan mempunyai harga diri.
e. Seorang
pendidik harus mencintai peserta didiknya seperti cintanya terhadap
anak-anaknya sendiri dan memikirkan keadaan mereka seperti ia memikirkan
keadaan anak-anaknya.
f. Seorang
pendidik harus mengetahui karakter/tabiat peserta didiknya.
g. Seorang
pendidik mesti menguasai pelajaran yang ia berikan.
Sementara
an-Nahlawi menyebutkan beberapa karakteristik seorang pendidik, yaitu:
a. Mempunyai
watak dan sifat rubbaniyah yang terwujud dalam tujuan, tingkah laku, dan pola
pikirnya.
b. Bersifat
ikhlas; melaksanakan tugasnya sebagai pendidik semata-mata untuk mencari ridha
Allah dan menegakkan kebenaran.
c. Bersifat
sabar dalam mengajarkan berbagai pengetahuan kepada peserta didik.
d. Jujur dalam
menyampaikan apa yang diketahuinya.
e. Senantiasa
membekali diri dengan ilmu, kesediaan diri untuk terus mendalami dan
mengkajinya lebih lanjut.
f. Mampu
menggunakan metode mengajar secara bervariasi sesuai dengan prinsip-prinsip
penggunaan metode pendidikan.
g. Mampu
mengelola kelas dan peserta didik, tegas dalam bertindak dan proporsional.
h. Mengetahui
kondisi psikis peserta didik.
i. Tanggap
berbagai kondisi dan perkembangan dunia yang dapat mempengaruhi jiwa, keyakinan
atau pola berpikir peserta didik.
j. Berlaku adil
terhadap peserta didiknya.
Dari
karakteristik di atas dapat dipahami bahwa pendidik dalam pandangan Islam
memiliki posisi yang tinggi dan terhormat. Namun tugas yang mesti mereka emban
tidaklah mudah, sebab Islam menuntut pendidik tersebut melakukan terlebih
dahulu apa-apa yang akan ia ajarkan. Dengan begitu, pendidik akan mampu menjadi
teladan (uswah) bagi peserta didiknya, sebagaimana yang telah dilakukan oleh
pendidik yang mulia, yaitu Nabi Muhammad SAW.
Ibn Khaldun,
dalam kitabnya Muqaddimah, juga berpendapat bahwa seorang guru harus memiliki
karakter yang baik. Dalam hal ini ia mengutip wasiat al-Rasyd kepada Khalaf bin
Ahmar, guru puteranya MUhammad al-Amin. Wasiat ini merupakan hal-hal yang perlu
diperhatikan oleh seorang guru. Wasiat itu berbunyi,
“O Ahmar,
Amirul Mu’minin telah mempercayakan anaknya kepada Anda, kehidupan jiwanya, dan
buah hatinya. Maka, ulurkan tangan Anda padanya, dan jadikan dia taat pada
Anda. Ambillah tempat di sisinya yang telah Amirul Mukminin berikan pada Anda.
Ajari dia membaca Al Qur’an. Perkenalkan dia sejarah. Ajak dia meriwayatkan
syiir-syiir dan ajari dia Sunnah-sunnah Nabi. Beri dia wawasan bagaimana
berbicara dan memulai suatu pembicaraan secara baik dan tepat. Larang dia
tertawa, kecuali pada waktunya. Biasakan dia menghormati orang-orang tua Bani
Hasyim yang bertemu dengannya, dan agar ia menghargai para pemuka militer yang
datang ke majlisnya. Jangan biarkan waktu berlalu kecuali jika Anda gunakan
untuk mengajarnya sesuatu yang berguna, tapi bukan dengan cara yang
menjengkelkannya, cara yang dapat mematikan pikirannya. Jangan pula terlalu
lemah-lembut, bila umpamanya ia mencoba membiasakan hidup santai. Sebisa
mungkin, perbaiki dia dengan kasih-sayang dan lemah-lembut. Jika dia tidak mau
dengan han itu, Anda harus mempergunakan kekerasan dan kekasaran.”
Wasiat di atas
menjadi hal yang penting untuk diketahui oleh setiap pendidik. Dari wasiat itu
pula dapat disimpulkan bahwa setiap pendidik mesti bijaksana dalam mendidik
anaknya, penuh kesabaran dan kasih sayang serta tanggung jawab yang tinggi
sehingga si anak memiliki kompetensi di bidang yang ia ajarkan.
5. Persyaratan
Pendidik
Dari penjelasan
tugas dan karakteristik pendidik di atas, dapat dipahami bahwa menjadi seorang
pendidik yang sesungguhnya tidaklah mudah; butuh upaya yang sungguh-sungguh.
Agar tugas tersebut dapat dijalankan dan karakteristik pendidik itu bisa
dimiliki, maka seorang guru harus memiliki beberapa persyaratan. Al-Kanani (w.
733 H), seperti yang dikutip oleh Ramayulis, bahwa ada beberapa persyaratan
seorang pendidik dalam pandangan pendidikan Islam. Persyaratan tersebut sebagai
berikut:
Pertama,
syarat-syarat pendidik berhubungan dengan dirinya sendiri, yaitu:
1. Pendidik
hendaknya senantiasa insyaf akan pengawasan Allah terhadapnya dalam segala
perkataan dan perbuatan bahwa ia memegang amanat ilmiah yang diberikan Allah
kepadanya. Karenanya ia tidak mengkhianati amanat itu, malah ia tunduk dan
merendahkan diri kepada Allah SWT.
2. Pendidik
hendaknya memelihara kemuliaan ilmu. Salah satu bentuk pemeliharaannya ialah
tidak mengajarkannya kepada orang yang tidak berhak menerimanya, yaitu
orang-orang yang menuntut ilmu untuk kepentingan dunia semata.
3. Pendidik
hendaknya bersifat zuhud.
4. Pendidik
hendaknya tidak berorientasi duniawi dengan menjadikan ilmunya sebagai alat
untuk mencapai kedudukan, harta, prestise atau kebanggaan atas orang lain.
5. Pendidik
hendaknya menjauhi mata pencaharian yang hina dalam pandangan syara’ dan
menjauhi situasi yang bisa mendatangkan fitnah dan tidak melakukan sesuatu yang
dapat menjatuhkan hara dirinya di mata orang banyak.
6. Pendidik
hendaknya memelihara syi’ar-syi’ar Islam, seperti melaksanakan shalat berjamaah
di masjid, mengucapkan salam, dsb.
7. Pendidik
hendaknya rajin melakukan hal-hal yang disunahkan oleh agama, baik dengan lisan
maupun perbuatan, seperti membaca al-Qur’an, berzikir dan shalat tengah malam.
8. Pendidik
hendaknya memelihara akhlak yang mulia dalam pergaulannya dengan orang banyak
dan menghindarkan diri dari akhlak buruk.
9. Pendidik
hendaknya selalu mengisi waktu-waktu luangnya dengan hala-hal yang bermanfaat,
seperti beribadah, membaca, mengarang, dsb.
10. Pendidik
hendaknya selalu belajar dan tidak merasa malu untuk menerima ilmu dari orang
yang lebih rendah dari padanya, baik dari segi kedudukan maupun usianya.
11. Pendidik
hendaknya rajin meneliti, menyusun dan mengarang dengan memperhatikan
keterampilan dan keahlian yang dibutuhkan untuk itu.
Kedua,
syarat-syarat yang berhubungan dengan pelajaran (syarat-syarat
paedagogis-didaktis), yaitu:
1. Sebelum
keluar dari rumah untuk mengajar, hendaknya pendidik bersuci dari hadas dan
kotoran serta mengenakan pakaian yang baik dengan maksud mengagungkan ilmu dan
syari’at.
2. Ketika keluar
dari rumah, hendaknya pendidik selalu berdoa agar tidak sesat menyesatkan dan
terus berzikir kepada Allah SWT. Artinya, sebelum mengajarkan ilmu, seorang
pendidik harus membersihkan hati dan niatnya.
3. Hendaknya
pendidik mengambil tempat pada posisi yang membuatnya dapat terlihat oleh semua
peserta didik.
4. Sebelum mulai
mengajar, pendidik hendaknya membaca sebagian dari ayat al-Qur’an agar
memperoleh berkah dalam mengajar, kemudian membaca basmalah.
5. Pendidik
hendaknya mengajarkan bidang studi sesuai dengan hirarki nilai kemuliaan dan
kepentingan yaitu tafsir al-Qur’an, hadis, ilmu-ilmu ushuluddin, ushul fiqh,
dan seterusnya.
6. Hendaknya
pendidik selau mengatur volume suaranya agar tidak terlalu keras.
7. Hendaknya
pendidik menjaga ketertiban majelis dengan mengarahkan pembahasan pada objek
tertentu.
8. Pendidik
hendaknya menegur peserta didik-peserta didik yang tidak menjaga sopan santun
dalam kelas.
9. Pendidik
hendaknya bersikap bijak dalam melalkukan pembahasan, menyampaikan pelajaran
dan jawaban pertanyaan.
10. Terhadap
peserta didik, pendidik hendaknya berperilaku wajar dan menciptakan suasana
yang membuatnya merasa telah menjadi bagian dari kesatuan teman-temannya.
11. Pendidik
hendaknya menutup setiap akhir kegiatan pembelajaran dengan kata-kata wallahu
a’lam yang menunjukkan keikhlasan kepada Allah SWT.
12. Pendidik
hendaknya tidak mengasuh bidang studi yang tidak disukainya.
Ketiga,
syarat-syarat pendidik di tengah-tengah peserta didiknya, antara lain:
1. Pendidik
hendaknya mengajar dengan niat mengharapkan ridha Allah, menyebarkan ilmu,
menghidupkan syara’, menegakkan kebenaran, melenyapkan kebatilan, dan
memelihara kemaslahatan umat.
2. Pendidik
hendaknya menolak untuk mengajar peserta didik yang tidak mempunyai niat tulus
dalam belajar.
3. Pendidik
hendaknya mencintai peserta didiknya seperti ia mencintai dirinya sendiri.
4. Pendidik
hendaknya memotivasi peserta didik untuk menuntut ilmu seluas mungkin.
5. Pendidik
hendaknya menyampaikan pelajaran dengan bahasa yang mudah dan berusaha agar
peserta didiknya dapat memahami pelajaran.
6. Pendidik
hendaknya melakukan evaluasi terhadap kegiatan belajar mengajar yang
dilakukannya.
7. Pendidik
hendaknya bersikap adil terhadap semua peserta didiknya.
8. Pendidik
hendaknya berusaha membantu memenuhi kemaslahatan peserta didik, baik dengan
kedudukan ataupun hartanya.
9. Pendidik
hendaknya terus memantau perkembangan peserta didik, baik intelektual maupun
akhlaknya. Peserta didik yang shaleh akan menjadi “tabungan” bagi pendidik,
baik di dunia maupun di akhirat.
Syarat-syarat di
atas harus diupayakan oleh seorang guru secara optimal sehingga ia akan menjadi
guru yang profesional, baik dalam kemampuan paedagogik, profesional, individual
hingga kepada sosialnya. Semua kemampuan/kompetensi tersebut tentunya
berlandaskan kepada ajaran Islam.
C. Peserta
Didik
1. Pengertian
Peserta Didik
Dalam bahasa
Arab, setidaknya ada tiga istilah yang menunjukkan makna peserta didik, yaitu
murid, al-tilmīdz, dan al-thālib. Murid berasal dari kata ‘arada, yuridu,
iradatan, muridan yang berarti orang yang menginginkan (the willer). Pengertian
ini menunjukkan bahwa seorang peserta didik adalah orang yang menghendaki agar
mendapatkan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan kepribadian yang
baik untuk bekal hidupnya agar berbahagia di dunia dan akhirat dengan jalan
belajar yang sungguh-sungguh. Sedangkan al-tilmīdz tidak memiliki akar kata dan
berarti pelajar. Kata ini digunakan untuk menunjuk kepada peserta didik yang
belajar di madrasah. Sementara al-thālib berasal dari thalaba, yathlubu,
thalaban, thālibun, yang berarti orang yang mencari sesuatu. Hal ini
menunjukkan bahwa peserta didik adalah orang yang mencari ilmu pengetahuan,
pengalaman, dan keterampilan dan pembentukan kepribadiannya untuk bekal masa
depannya agar bahagia dunia dan akhirat.
Kemudian, dalam
penggunaan ketiga istilah tersebut biasanya dibedakan berdasarkan tingkatan
peserta didik. Murid untuk sekolah dasar, al-tilmīdz untuk sekolah menengah,
dan al-thālib untuk perguruan tinggi. Namun, menurut Abuddin Nata, istilah yang
lebih umum untuk menyebut peserta didik adalah al-muta’allim. Istilah yang
terakhir ini mencakup makna semua orang yang menuntut ilmu pada semua
tingkatan, mulai dari tingkat dasar sampai dengan perguruan tinggi.
Terlepas dari
perbedaan istilah di atas, yang jelasnya peserta didik dalam perspektif
pendidikan Islam sebagai objek sekaligus subjek dalam proses pendidikan. Ia
adalah orang yang belajar untuk menemukan ilmu. Karena dalam Islam diyakini
ilmu hanya berasal dari Allah, maka seorang peserta didik mesti berupaya untuk
mendekatkan dirinya kepada Allah dengan senantiasa mensucikan dirinya dan taat
kepada perintah-Nya. Namun untuk memperoleh ilmu yang berasal dari Allah
tersebut, seorang peserta didik mesti belajar pada orang yang telah diberi
ilmu, yaitu guru atau pendidik. Karena peserta didik memiliki hubungan dengan
ilmu dalam rangka upaya untuk memiliki ilmu, maka seorang peserta didik mesti
berakhlak kepada gurunya. Akhlak tersebut tentunya tetap mengacu kepada
nilai-nilai yang terkandung di dalam al-Qur’an dan hadis.
2. Tugas dan
Kewajiban Peserta Didik
Agar proses
pendidikan yang dilalui oleh peserta didik berjalan dengan baik dan mampu
mencapai tujuan pendidikan sebagaimana yang diinginkan, maka peserta didik
hendaknya mengetahui tugas dan kewajibannya. Al-Abrasyi menyebutkan ada dua
belas kewajiban tersebut, yaitu:
a. Sebelum
belajar, peserta didik mesti membersihkan hatinya karena menuntut ilmu adalah
ibadah.
b. Belajar
diniatkan untuk mengisi jiwanya dengan fadhilah dan mendekatkan diri kepada
Allah, bukan untuk sombong.
c. Bersedia
meninggalkan keluarga dan tanah air serta pergi ke tempat jauh sekalipun demi
untuk mendatangi guru.
d. Jangan sering
menukar guru, kecuali atas pertimbangan yang panjang/matang.
e. Menghormati
guru karena Allah dan senantiasa menyenangkan hatinya.
f. Jangan
melakukan aktivitas yang dapat menyusahkan guru kecuali ada izinnya.
g. Jangan
membuka aib guru dan senantiasa memaafkannya jika ia salah.
h.
Bersungguh-sungguh menuntut ilmu dan mendahulukan ilmu yang lebih penting.
i. Sesama
peserta didik mesti menjalin ukhuwah yang penuh kasih sayang.
j. Bergaul
dengan baik terhadap guru-gurunya, seperti terdahulu memberi salam.
k. Peserta didik
hendaknya senantiasa mengulangi pelajarannya pada waktu-waktu yang penuh
berkat.
l. Bertekad
untuk belajar sepanjang hayat dan menghargai setiap ilmu.
Sementara Imam
al-Ghazali, yang juga dikembangkan oleh Said Hawa, berpendapat bahwa seorang
peserta didik memiliki beberapa tugas zhahir (nyata) yang harus ia lakukan,
yaitu:
1) Mendahulukan
penyucian jiwa dari pada akhlak yang hina dan sifat-sifat tercela karena ilmu
merupakan ibadah hati, shalatnya jiwa, dan pendekatan batin kepada Allah.
2) Mengurangi
keterkaitannya dengan kesibukan duniawi karena hal itu dapat menyibukkan dan
memalingkan.
3) Tidak sombong
dan sewenang-wenanga terhadap guru.
4) Orang yang
menekuni ilmu pada tahap awal harus menjaga diri dari mendengarkan perselisihan
di antara banyak orang. Artinya, hendaknya di tahap awal ia mempelajari satu
jalan ilmu, setelah ia menguasainya barulah ia mendengarkan beragam mazhab atau
pendapat.
5) Seorang
penuntut ilmu tidak meninggalkan satu cabang pun dari ilmu-ilmu terpuji.
6) Tidak
sekaligus menekuni bermacam-macam cabang ilmu, melainkan memperhatikan
urutan-urutan dan memulai dari yang paling penting.
7) Hendaknya ia
memasuki sebuah cabang ilmu kecuali jika telah menguasai cabang ilmu yang
sebelumnya, karena ilmu itu tersusun rapi secara berurut.
8) Hendaklah
seorang penuntut ilmu mengetahui faktor penyebab yang dengan pengetahuan itu ia
dapat mengetahui ilmu yang lebih mulia.
9) Hendaknya tujuan
seorang peserta didik dalam menuntut ilmu di dunia untuk menghiasi diri dan
mempercantik batin dengan keutamaan, sedangkan di akhirat nanti untuk
mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meningkatkan diri agar dapat berdekatan
dengan makhluk tertinggi dari kalangan malaikat dan orang-orang yang didekatkan
kepada Allah.
Tugas dan
kewajiban di atas idealnya dimiliki oleh setiap peserta didik, sehingga ilmu
yang ia tuntut dapat dikuasai dan keberkahan ilmu pun ia peroleh. Selain tugas
dan kewajiban tersebut, peserta didik juga diharapkan mempersiapkan dirinya
baik secara fisik maupun mental sehingga tujuan pendidikan yang ia cita-citakan
dapat tercapai secara optimal, efektif dan efisien.
3. Sifat-sifat
Ideal Peserta Didik
Selain dari
tugas dan kewajiban di atas, peserta didik juga mesti memiliki sifat-sifat
terpuji dalam kepribadiannya. Imam al-Ghazali, seperti yang dikutip oleh Samsul
Nizar, bahwa sifat-sifat ideal yang mesti dimiliki oleh setiap peserta didik
paling tidak meliputi sepuluh hal.
a. Belajar
dengan niat ibadah dalam rangka taqarrub ila Allah. Konsekuensi dari sikap ini,
peserta didik akan senantiasa mensucikan diri dengan akhlaq al-karimah dalam
kehidupan sehari-harinya dan berupaya meninggalkan watak dan akhlak yang
rendah/tercela sebagai refleksi atas firman Allah dalam Q.S. al-An’am/6: 162
dan adz-Dzariyat/51:56).
b. Mengurangi
kecenderungan pada kehidupan duniawi dibanding ukhrawi atau sebaliknya. Sifat
yang ideal adalah menjadikan kedua dimensi kehidupan (dunia akhirat) sebagai
alat yang integral untuk melaksanakan amanah-Nya, baik secara vertikal maupun
horizontal.
c. Bersikap
tawadhu’ (rendah hati).
d. Menjaga
pikiran dari berbagai pertentangan yang timbul dari berbagai aliran. Dengan
pendekatan ini, peserta didik akan meihat berbagai pertentangan dan perbedaan
pendapat sebagai sebuah dinamika yang bermanfaat untuk menumbuhkan wacara
intelektual, bukan sarana saling menuding dan menganggap diri paling benar.
e. Mempelajari
ilmu-ilmu yang terpuji, baik ilmu umum maupun agama.
f. Belajar secara
bertahap atau berjenjang dengan memulai pelajaran yang mudah (konkrit) menuju
pelajaran yang sulit (abstrak); atau dari ilmu yang fardhu ‘ain menuju ilmu
yang fardhu kifayah (Q.S. a;l-Fath/48: 19).
g. Mempelajari
ilmu sampai tuntas untuk kemudian beralih pada ilmu yang lainnya. Dengan cara
ini, peserta didik akan memiliki spesifikasi ilmu pengetahuan secara mendalam.
h. Memahami
nilai-nilai ilmiah atas ilmu pengetahuan yang dipelajari.
i.
Memprioritaskan ilmu diniyah sebelum memasuki ilmu duniawi.
j. Mengenal
nilai-nilai pragmatis bagi suatu ilmu pengetahuan, yaitu ilmu pengetahuan yang
bermanfaat, membahagiakan, mensejahterakan, serta memberi kesematan hidup dunia
dan akhirat, baik untuk dirinya maupun manusia pada umumnya.
Dari beberapa
pemikiran di atas, dapat dipahami bahwa seorang peserta didik dalam perspektif
pendidikan Islam tidak hanya menuntut dan menguasai ilmu tertentu secara
teoritis an sich, akan tetapi lebih dari itu ia harus berupaya untuk mensucikan
dirinya sehingga ilmu yang akan ia peroleh memberi manfaat baik di dunia maupun
di akhirat. Oleh karena itu, pendidikan Islam sangat mengutamakan akhlak
seorang peserta didik. Akhlak tersebut harus diawali dari niat peserta didik
itu sendiri, dimana niat menuntut ilmu tersebut haruslah semata-mata karena
Allah SWT, bukan karena tujuan-tujuan yang bersifat duniawi dijadikan prioritas
utama. Selain itu, peserta didik harus menuntut ilmu berorientasi kepada
duniawi dan ukhrawi. Dengan konsep semacam ini, maka peserta didik akan
menuntut ilmu sesuai dengan dasar dan prinsip-prinsip pendidikan Islam itu
sendiri yang berlandaskan kepada al-Qur’an dan sunnah serta berorientasi kepada
dunia dan akhirat secara integral dan seimbang.
D.
Rekomendasi
Demikian
pentingnya pendidik dan peserta didik, maka kedua komponen ini harus
menjalankan tugas dan memahami perannya masing-masing sebagaimana yang
dijelaskan di atas. Dalam konteks pelaksanaan pendidikan di Indonesia,
pendidik, baik guru maupun dosen memang telah mendapat perhatian dari
pemerintah, terbukti dengan adanya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang
Guru dan Dosen. Namun, pendidik harus menyadari bahwa pendidik tidak hanya
sekedar profesi formal yang bertanggung jawab dalam menyampaikan materi
sebaik-baiknya, dengan perencanaan pembelajaran yang matang dan menerapan
metode yang baik. Hal yang lebih penting adalah pendidik seharusnya sebagai
figur-central (uswatun hasanah) bagi peserta didiknya.
Apalagi adanya
pergerseran nilai yang semakin tajam di era globalisasi ini, prinsip
pragmatisme dan materialisme selalu menjadi pertimbangan—terkadang menjadi
pertimbangan utama—dalam setiap profesi, termasuk profesi guru. Berkualitas
tidaknya suatu pembelajaran hanya diukur dengan seberapa besar materi yang ia
dapatkan.
Oleh karena itu,
prinsip keikhlasan dan keteladan seharunya lebih mendapat perhatian bagi guru
dalam konteks kekinian. Sikap yang ikhlas bukan berarti tidak membutuhkan
materi, tetapi materi bukanlah tujuan utama dan penentu akhir berhasil tidaknya
suatu pendidikan. Begitu pula keteladanan, bukan hanya tugas guru yang
berkenaan dengan bidang studi akhlak an sich, seperti bidang studi agama dan
bidang studi kewarganegaraan; akan tetapi keteladanan harus menjadi kepribadian
setiap guru–terlepas apa pun bidang studi yang dibimbingnya—terutama guru yang
beragama Islam. Hendaknya, masing-masing guru tersebut telah memiliki
kepribadian Islami, sebab keteladanan kepribadian ini sangat menentukan
berhasil tidaknya seorang pendidik dalam mempengaruhi pembentukan karakter
(caracter bulding) peserta didik yang sesuai dengan ajaran Islam.
Hal ini tentu
bisa mereka miliki, meskipun background pendidikan dari masiang-masing guru
tersebut tidak berasal dari lembaga pendidikan Islam, seperti madrasah dan
Pergutuan Tinggi Agama, akan tetapi di lembaga pendidikan umum pun mereka sudah
mendapat pendidikan agama melalaui bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI).
Diperkuat lagi pendidikan keluarga dan masyarakat yang berkenaan dengan
pendidikan agama Islam itu sendiri. Oleh karena itu, meskipun kepribadian Islami
menjadi tanggung jawab semua guru, akan tetapi guru bidang studi Pendidikan
Agama Islam (PAI) tetap mendapat prioritas dan bekerja keras agar mampu
mewarnai bidang studi lain di lembaga pendidikan umum. Hanya saja, kebersamaan
visi dan misi dari lembaga tersebut sangat dibutuhkan untuk mewujudkan pendidik
yang memiliki karakteristik sebagaimana yang diinginkan dalam konsep pendidikan
Islam. Pentingnya memperkuat dan mempertegas peran guru dalam membentuk
kepribadian peserta didik yang Islami juga tersirat dalam UU No. 14 Tahun 2005
tentang Guru dan Dosen pada pasal 6 disebutkan bahwa “kedudukan guru dan
dosen sebagai tenaga professional bertujuan untuk melaksanakan sistem
pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional…”.
Sementara dalam
UU Sisdiknas Tahun 2003 pasal 3 ditegaskan pula bahwa tujuan pendidikan
nasional adalah “…untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab”. Dari tujuan ini terlihat jelas bahwa
mewujudkna menusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan
berkahlak mulia merupakan substansi dari kepribadian yang diinginkan dalam
konsep pendidikan Islam itu sendiri.
Demikian pula
peserta didik, juga diharapkan tidak terjebak pada paham pragmatisme dan
materialisme. Ada kecendrungan ketika peserta didik bersikap demikian, maka
guru pun kurang dihormati. Guru hanya dianggap sebagai instrumen atau alat
dalam pendidikan. Sebagaimana yang dikenal dalam falsafah alat, ia akan
digunakan selagi dibutuhkan. Ketika tidak lagi dibutuhkan, maka guru pun tidak
dihormati lagi.
Untuk itu,
peserta didik juga harus memahami apa tugas dan tanggung jawabnya sebagai
peserta didik dalam perspektif pendidikan Islam. peserta didik yang dalam
pandangan pendidiakn Islam sering disebut sebagai murid sebenarnya memiliki
arti ”orang yang menginginkan”. Artinya, seorang murid atau peserta didik harus
menunjukkan sikap yang membutuhkan kehadiran seorang guru. Rasa ”membutuhkan”
ini tentu tidak bersifat sesaat ketika ada perlu saja, tetapi dalam pandangan
pendidikan Islam, seorang guru tidak hanya dihormati di saat belajar pada
sekolah formal saja, sehingga disebut pula bahwa ”tidak ada mantan guru dalam
pandangan pendidikan Islam”. Dengan konsep seperti ini maka seorang peserta
didik harus menunjukkan sikap kesungguhannya dalam belajar dibarengi dengan
adab-nya kepada guru dengan harapan ilmu yang ia peroleh bermanfaat bagi
dirinya.
Selain itu,
peserta didik juga harus menuntut ilmu didasari oleh motivasi awal, yaitu
motivasi karena Allah SWT. Dengan motivasi ini, maka selama dalam menuntut ilmu
ia harus meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT. Hal ini pula yang
pernah dialami oleh Imam Syafi’i. Suatu ketika ia pernah meminta nasehat kepada
gurunya, Imam Waki’ sebagai berikut: “Syakautu ilâ Waki’in sûa hifzi, wa
arsyadani ilâ tarki al-maâhi, fa akhbarani bianna al-‘ilma nūrun, wa nur Allahi
la yubdalu al-âshi”. Dari nasehat ini, ada dua hal yang perlu digarisbawahi,
pertama, untuk memperkuat ingatan diperlukan upaya meninggalkan
perbuatan-perbuatan maksiat; dan kedua, ilmu itu adalah cahaya yang tidak akan
tampak dan terlahirkan dari orang yang suka berbuat maksiat. Dengan demikian
irsyâd merupakan aktivitas pendidikan yang berusaha menularkan penghayatan
(transinternalisasi) akhlak dan kepribadian kepada peserta didik, baik yang
berupa etos kerjanya, etos belajarnya, maupun dedikasinya yang serba li Allah
Ta’ala.
Jika pendidik
dan peserta didik mampu melaksanakan tugas dengan memiliki karakteristik atau
sifat-sifat seperti di atas dengan istiqamah, maka proses pembelajaran tidak
hanya menyentuh aspek kognitif an sich, tetapi lebih dari itu berbagai potensi
peserta didik dapat dikembangkan secara optimal dalam ridha Allah SWT. Agaknya
inilah yang disebut denga keberkahan ilmu, tidak sekedar diketahui, tetapi
mempengaruhi kepribadiannya sehingga dapat diamalkan dalam kehidupan
sehari-hari.
E. Penutup
Dari uraian
mengenai pendidik dan peserta didik dalam perspektif filsafat pendidikan Islam
di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan. Pertama, seorang pendidik tidak
hanya bertugas untuk mendidik intelektual peserta didik (transfer if
knowladge), tetapi pendidik juga bertugas dalam mengembangkan kemampuan
intelektual (transformation of knowladge) dan menanamkan nilai-nilai Islam
dalam kepribadian peserta didik (internalitation of values). Oleh karena itu,
seorang pendidik dituntut memiliki kemampuan sesuai dengan bidangnya sekaligus
menjadi uswatun hasanah bagi peserta didiknya.
Kedua, dalam
konsep pendidikan Islam, peserta didik bisa menjadi objek sekaligus subjek
pendidikan. Sebab, peserta didik harus aktif dan dinamis dalam proses
pembelajaran; bukan justru pasif laksana cangkir kosong yang siap menerima
tuangan ilmu dari guru begitu saja tanpa daya kritis.

Ketiga, peserta
didik yang pada dasarnya menginginkan ilmu sangat membutuhkan seorang pendidik.
Maka peserta didik harus menunjukkan sikap yang baik dan menghormati
pendidiknya sehingga ilmu yang ia peroleh tidak sebatas pengetahuan intelektual
an sich, tetapi yang terpenting adalah kemampuan mengiternalisasikan
nilai-nilai pengetahuan dalam kepribadiannya serta mengamalkannya dalam
kehidupan sehari-hari.
BIBLIOGRAFI
Al-Qur’an dan
Tejemahnya
Al-Abrasyi,
Athiyah, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, Yakarta: Bulan Bintang, 1974
Arifin, M.,
Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1991
Hawa, Said,
al-Mustakhlash fi Tazkiyatu al-Anfus, Penj. Abdul Amin, dkk, Yakarta: Pena
Pundi Aksara, 2008, cet. ke-VI
Ibn Majah,
Al-Hafizh Abi Abdillah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn Yazid al-Qazwayani,
Sunan Ibn Majah, Kairo: Dar al-Hadis, t.th., Juz I
Ilahi, Fadhl,
Muhammad SAW Sang Guru yang Hebat; Sirah Nabi sebagai Guru Berdasarkan
al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih, Surabaya: Pustaka eLBA, 2006
al-Jumbulati,
Ali, dan Abdul Futuh at-Tuwaanisi, Dirasatun Muqaaranatun fit Tarbiyyatil
Islamiyyah, Penj. H. M. Arifin, Jakarta: Rineka Cipta, 1994
Khaldun,
Abdurrahman Ibn, Muqaddimah Ibn Khaldūn; wa Hiya Muqaddimah al-Kitāb al-Musamma
Kitāb al-Ibar wa Dīwān al-Mubtada’ wa al-Khabar fī Ayyām al-Arb wa al-‘Ajam wa
al-Barbar wa Man ‘Āsharahum min Dzawī al-Sulthān al-Akbar, Beirut: Dar al-Kitab
al-Ilmiyah, 1993
Marimba, Ahmad
D., Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: al-Ma’arif, 1980
Muhaimin, Nuansa
Baru Pendidikan Islam; Mengurai Benang Kusut Dunia Pendidikan, Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, 2006
an-Nahlawi,
Abdurrahman, Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam, Penj. Herry Noer Ali,
Bandung: CV. Diponegoro, 1992
Nata, Abuddin,
Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005
____________,
Perspektif Islam tentang Pola Hubungan Guru-Murid, Jakarta: PT RagaGrafindo
Persada, 2001
Nizar, Samsul
dan al-Rasyidin, Filsafat Pendidikan Islam, Pendekatan Historis, Teoritis, dan
Praktis, Jakarta: PT Ciputat Press, 2005, edisi revisi
Qutb, Muhammad,
Sistem Pendidikan Islam, Penj. Salman Harun, Bandung: al-Ma’arif
Ramayulis, Analisis Filosofis Sistem Pendidikan Islam, Padang, Diktat, 2007

SHARE