Apakah Dosa Juga Dilipatgandakan di Bulan Ramadhan?

232
Tongkronganislami.net – Bulan Ramadhan adalah bulan amal. Setiap muslim yang mendapatinya harus berusaha untuk memaksimalkan setiap saat yang tersedia di semua waktu, baik malam maupun siang. Pada siang hari, kita menambah ketaatan yang selama ini kita lakukan dengan ibadah sunnah, seperti shadaqah, shalat rawatib, shalat dluha, dan sebagainya. Ketika malam hari tiba, kita melaksanakan qiyam Ramadhan bersama imam hingga selesai. Sebab jangan sampai kita masuk dalam sabda Rasulallah saw:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَقِيَ الْمِنْبَرَ فَقَالَ آمِينَ آمِينَ آمِينَ فَقِيلَ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا كُنْتَ تَصْنَعُ هَذَا فَقَالَ قَالَ لِي جِبْرِيلُ أَرْغَمَ اللَّهُ أَنْفَ عَبْدٍ أَوْ بَعُدَ دَخَلَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ فَقُلْتُ آمِينَ ثُمَّ قَالَ رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ أَوْ بَعُدَ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا لَمْ يُدْخِلْهُ الْجَنَّةَ فَقُلْتُ آمِينَ ثُمَّ قَالَ رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ أَوْ بَعُدَ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ فَقُلْتُ آمِينَ


“Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam naik mimbar lalu beliau mengucapkan, ‘Amin … amin … amin.’ Para sahabat bertanya, ‘Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?’ Kemudian, beliau bersabda, ‘Baru saja Jibril berkata kepadaku, ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan,’ maka kukatakan, ‘Amin.’ Kemudian, Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tua atau salah satunya masih hidup, namun itu tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua),’ maka aku berkata, ‘Amin.’ Kemudian, Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang tidak bersalawat ketika disebut namamu,’ maka kukatakan, ‘Amin
(H.R. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad no. 646, Ibnu Khuzaimah no 1888, Ibnu Hibban no. 907).”

Apakah Dosa Juga Dilipatgandakan di Bulan Ramadhan?

Meski ancaman Rasulallah begitu nyata terkait orang yang menyia-nyiakan Ramadhan, namun tidak bisa dipungkiri jika masih banyak Muslim yang tidak menseriusi Ramadhan, bahkan sebagiannya lagi tidak berpuasa tanpa uzur syar’i. tentu ini merupakan sebuah kerugian besar bagi mereka. Kita berlindung kepada Allah swt dari hal ini.

Lantas, apakah dosa yang mereka lakukan juga dilipatgandakan sebagaimana jika mereka melakukan kebaikan di bulan Ramadhan? Berikut bahasan singkatnya.

Terkait dengan perbuatan buruk yang dilakukan di bulan Ramadhan, terdapat sebuah riwayat:

فَاتَّقُوا شَهْرَ رَمَضَانَ فَإِنَّ الْحَسَنَاتِ تُضَاعَفُ فِيهِ مَا لَا تُضَاعَفُ فِيمَا سِوَاهُ وَكَذَلِكَ السَّيِّئَاتُ

“Berhati-hatilah kalian di bulan Ramadhan. Karena kebaikan (dibalas) berlipat ganda pada saat itu dan tidak didapati pada bulan lainnya, demikian juga dengan keburukan [H.R. ath-Thabrani dalam al-Mu’jam ash-Shaghir (697) dan al-Mu’jam al-Ausath (3688, 4827). Al-Haitsmi dalam Majma’ Az-Zawaid (3/190) berkata, ‘Dalam sanadnya terdapat perawi bernama Isa bin Sulaiman, dia dinilai lemah oleh Ibn Ma’in. Dia bukan orang yang sengaja berdusta, akan tetapi dia lemah hafalannya].”

Riwayat diatas secara terang menjelaskan tentang dosa yang dilipat gandakan di bulan Ramadhan. Namun hadits ini lemah secara sanad karena Isa bin Sulaiman oleh para kritikus sanad hadits dianggap lemah secara hafalan.

Meski begitu, bukan berarti dosa yang dilakukan pada bulan Ramadhan tidak dianggap besar. Waktu dan tempat yang mulia mempengaruhi apakah suatu dosa dipandang besar atau tidak. Pengarang kitab Mathalib Uli an-Nuha (II/385) mengatakan:

وتضاعف الحسنة والسيئة بمكان فاضل كمكة والمدينة وبيت المقدس وفي المساجد وبزمان فاضل كيوم الجمعة والأشهر الحرم ورمضان أما مضاعفة الحسنة فهذا مما لا خلاف فيه وأما مضاعفة السيئة فقال بها جماعة تبعا لابن عباس وابن مسعود وقال بعض المحققين قول ابن عباس وابن مسعود في تضعيف السيئات إنما أرادوا مضاعفتها في الكيفية دون الكمية


“Kebaikan dan keburukan dilipatgandakan (balasannya) jika dilakukan di tempat utama seperti Mekah, Madinah, Baitul Maqdis, Masjid-masjid, dan juga di waktu utama seperti hari Jum’at, Bulan-bulan Haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, Rajab), dan Ramadhan. (Balasan) kebaikan yang dilipat gandakan tidak lagi ada perselisihan. Sedangkan balasan keburukan yang berlipat ganda adalah pendapat sekelompok ulama sesuai dengan pendapat Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Mas’ud. Sebagian Muhaqqiq berkata, perkataan Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Mas’ud tentang ganjaran keburukan yang berlipat adalah dari segi kaifiyyah (kualitas) dan bukan kammiyyah (kuantitas).”

Hal senada juga diungkapkan oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam kitab asy-Syarh al-Mumthi’ (VII/262). Beliau berkata, kebaikan diganjar berlipat ganda secara kualitas dan kuantitas. Adapun keburukan, maka balasan yang berlipat adalah secara kualitas jika dilakukan di tempat dan atau waktu tertentu. Allah swt berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ الَّذِي جَعَلْنَاهُ لِلنَّاسِ سَوَاءً الْعَاكِفُ فِيهِ وَالْبَادِ وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

“Sungguh, orang-orang kafir dan yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan dari Masjidilharam yang telah kami jadikan terbuka untuk semua manusia, baik yang bermukim disana maupun yang datang dari luar. Dan siapa saja yang bermaksud melakukan kejahatan secara zalim di dalamnya, niscaya akan kami rasakan kepadanya siksa yang pedih [Q.S. al-Hajj (22): 25].”

Ancaman yang ada pada ayat ini adalah secara Kaifiyyah, bukan Kammiyyah.

Kesimpulannya, karena Ramadhan merupakan bulan mulia dan utama, maka dosa yang dilakukan dibalas berlipat oleh Allah swt sebagaimana jika dosa dikerjakan di tempat utama seperti Mekah dan Madinah. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita menyingkirkan segala perilaku buruk ketika berada di bulan Ramadhan dan menjadikannya sebagai ladang amal kebaikan. Apalagi jika kita menilik pernyataan malaikat Jibril a.s. yang diamini oleh Rasulallah saw. 

Hal ini seharusnya menjadi alarm peringatan bagi setiap pribadi Muslim untuk tidak meremehkan perbuatan dosa, baik di luar Ramadhan terlebih lagi ketika Ramadhan. Sebab meremehkan perbuatan buruk sendiri dapat menyebabkan balasan yang berlipat ganda. Apalagi jika dikerjakan pada tempat dan waktu yang utama. Semoga Allah swt melindungi kita semua. Wallahu a’lam bi ash-shawab.
SHARE