Klasifikasi dalam Al-Qur’an dan Sunnah

32
Al-Qur’an dan
as-Sunnah adalah nash tasyrî’ (hukum syara’). Di dalamnya berisi
tuntutan untuk melakukan (thalab al-fi’l) dan meninggalkan perbuatan (thalab
at-tark
). Juga berisi nash umum (al-‘âm) dan khusus (khâsh),
mutlak (al-muthlaq) dan terikat (al-muqayyad), serta ungkapan
global (al-mujmal) yang memerlukan penjabaran, juga penjelasan (al-bayân)
dan konteks yang dijelaskan (al-mubayyan). Disamping itu, juga berisi
hukum yang dihapus (al-mansûkh) dan tidak (ghayr al-mansûkh).
Semuanya tadi harus diketahui, sehingga hukum syara’ bisa ditarik dan
disimpulkan dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Karena itu, mengetahui sumber mana
yang bisa digunakan untuk menggali hukum, dan mana yang tidak –atau dalil ijmâli
serta klasifikasi dalam al-Qur’an dan as-Sunnah tersebut jelas sangat penting.
Setelah
menganalisis al-Qur’an dan as-Sunnah, bisa diketahui bahwa klasifikasi dalam al-Qur’an
dan as-Sunnah itu hanya ada lima: Pertama, perintah dan larangan (al-amr
wa an-nahy
); Kedua, umum dan khusus (al-‘âm wa al-khâsh); Ketiga,
mutlak dan mengikat (al-muthlaq wa al-muqayyad); Keempat, global
dan penjelasan (al-mujmal wa al-mubayyan); Kelima, penghapus dan
dihapus (an-nâsikh wa al-mansûkh). Selain itu, tidak bisa dimasukkan
sebagai klasifikasi tersendiri, namun bisa dimasukkan pada salah satu dari
kelima klasifikasi tersebut, atau kembali kepada bahasa, atau tidak mempunyai
konotasi apapun. Misalnya, klasifikasi dhâhir dan mu’awwal, masing-masing
didefinisikan dengan makna yang digunakan secara konvensional atau asli, dan
makna lafazh yang tidak merujuk kepada makna lahir. Atau, klasifikasi nashh yang
didefinisikan dengan lafazh yang lebih jelas ketimbang lafazh dhâhir.
Dan masih banyak yang lain lagi, semuanya tadi sejatinya tidak bisa dimasukkan
sebagai klasifikasi tersendiri, namun bisa dimasukkan pada salah satu dari
kelima klasifikasi tersebut, atau kembali kepada bahasa, atau tidak mempunyai
konotasi apapun.
 1. al-Amr wa an-Nahy (Perintah dan Larangan)


al-Amr (perintah) adalah permintaan untuk melakukan (thalab al-fi’l) secara
superior, sedangkan an-nahy (larangan) adalah permintaan untuk
meninggalkan (thalab at-tark) secara superior. Al-Amr dan an-nahy
masing-masing bermakna permintaan (thalab), baik untuk melakukan
ataupun meninggalkan sesuatu.
1.1. Ragam al-Amr
wa an-Nahy


Dilihat dari
bentuk al-amr wa an-nahy (perintah dan larangan) tersebut, maka bisa diklasifikasikan
menjadi dua: Pertama, jelas (sharîh) dan; Kedua, tidak
jelas (ghayr sharîh).
1.1.1. Perintah
dan Larangan yang Sharîh


Perintah dan larangan
yang Sharîh (jelas) harus memenuhi kualifikasi sebagai berikut:
1)  Menggunakan Ungkapan Perintah dan
Larangan (lafzh al-amr wa an-nahy).


Perintah dan larangan
yang sharîh (jelas) yang menggunakan ungkapan perintah dan
larangan, atau lafazh: amar[a]-ya’mur[u]-amr[an], atau nah[â]-yanh[â]-nahy[an].
Misalnya firman Allah SWT. yang mengatakan:
} إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ
أَنْ تُؤَدُّوا الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا
{
Sesungguhnya Allah
menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.
(QS. an-Nisâ’ [4]: 58).
} إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ
الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ
وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ
{
Sesungguhnya Allah
hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu
karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk
mengusirmu.
(QS. al-Mumtahanah
[60]: 9).
2) Menggunakan Ungkapan yang Secara Bahasa bisa Digunakan untuk Menunjukkan
Perintah dan Larangan.


Perintah dan larangan
yang sharîh (jelas) yang menggunakan ungkapan yang secara bahasa bisa
digunakan untuk menunjukkan perintah dan larangan, antara lain dengan
menggunakan:
1. Fi’l al-amr dan fi’l an-nahy, misalnya firman Allah SWT. yang mengatakan:
} وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا
أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ
{
Laki-laki yang
mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai)
pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah.
(QS. al-Mâidah [5]: 38).
} وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً {
Dan janganlah kamu
mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan
suatu jalan yang buruk.
(QS. al-Isrâ’ [17]:
32).
2. Fi’l al-mudhâri’ yang disertai lâm al-amr, misalnya firman Allah SWT. yang
mengatakan:
} وَلْتَكُنْ
مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ
وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
{
Dan hendaklah ada
di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada
yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
(QS. Ali ‘Imrân [3]: 104).
3. Mashdar yang berfungsi perintah, misalnya firman Allah SWT. yang mengatakan:
} فَإِذا
لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَضَرْبَ الرِّقَابِ
{
Apabila kamu
bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher
mereka.
(QS. Muhammad
[47]: 4).
4. Ism fi’l al-amr, misalnya firman Allah SWT. yang mengatakan:
} قُلْ هَلُمَّ شُهَدَاءَكُمُ الَّذِينَ
يَشْهَدُونَ أَنَّ اللَّهَ حَرَّمَ هَذَا
{
Katakanlah:
“Bawalah ke mari saksi-saksi kamu yang dapat mempersaksikan bahwasanya
Allah telah mengharamkan (makanan yang kamu) haramkan ini.”
(QS. al-An’âm [6]: 150).
1.1.2. Perintah
dan Larangan yang Tidak Sharîh
Adapun perintah dan larangan yang
tidak sharîh adalah perintah dan larangan yang tidak menggunakan lafazh:
amar[a]-ya’mur[u]-amr[an], atau nah[â]-yanh[â]-nahy[an] dan juga
tidak menggunakan ungkapan yang secara bahasa bisa digunakan untuk menunjukkan
perintah dan larangan. Namun, struktur kalimat yang dinyatakan dalam nash
kadang mempunyai konotasi perintah dan larangan. Dalam hal ini, bisa
diklasifikasikan menjadi dua:
1) Kalimat yang Terstruktur dalam Ungkapan Tekstual (Manthûq) dengan Konotasi
Perintah
Dalam bahasa Arab,
gaya ungkapan permintaan (at-thalab) –baik untuk dikerjakan maupun
ditinggalkan– yang terstruktur dalam ungkapan tekstual (manthûq) dengan
konotasi perintah, antara lain:
1. Menggunakan harf
al-Jarr,
seperti Li (untuk atau buat), Fî (di dalam) dan ‘Alâ (di atas); semuanya dengan makna aslinya,
dan dinyatakan di permulaan kalimat. Misalnya, firman Allah SWT. yang
menyatakan:
} لِلرِّجَالِ
نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا
تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا
مَفْرُوضًا
{
Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan
ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta
peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian
yang telah ditetapkan.
(QS. an-Nisâ’ [4]: 7).
Ini yang
berkonotasi perintah, sedangkan yang berkonotasi larangan, misalnya firman
Allah SWT. yang mengatakan:
} لَيْسَ عَلَى الأَعْمَى حَرَجٌ وَلاَ عَلَى الأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلاَ عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ وَلاَ
عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَنْ تَأْكُلُوا
{
Tidak ada halangan
bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang
sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka).
(QS. an-Nûr [24]: 61).
Ini artinya sama
dengan: La tataharraj (janganlah kamu merasa berat) terhadap
orang buta dan sebagainya.
2.  Menggunakan harf
al-‘Aradh,
seperti Lawlâ (Kalau bukan), Alâ (Ingatlah) dan
sebagainya. Ini berkaitan dengan konteks perintah. Misalnya firman Allah
SWT. yang menyatakan:
} أَلاَ تُقَاتِلُونَ قَوْمًا نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ وَهَمُّوا بِإِخْرَاجِ الرَّسُولِ
وَهُمْ بَدَءُوكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ أَتَخْشَوْنَهُمْ فَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ
تَخْشَوْهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
{
Mengapakah kamu
tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka
telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama kali
memulai memerangi kamu? Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah
yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman.
(QS. at-Taubah [9]: 13).
3.  Menggunakan
pertanyaan yang ditakwilkan untuk perintah yang didasarkan pada tuntutan yang
bentuk kalimat berita (mathlûb khabarî). Misalnya firman Allah
SWT. yang menyatakan:
} إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ
بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ
وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلاَةِ فَهَلْ أَنْتُمْ
مُنْتَهُونَ
{
Sesungguhnya
syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara
kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari
mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan
pekerjaan itu).
(QS. al-Mâidah [5]: 91).
4.  Perintah secara
kiasan yang disertai dengan hâl, dimana hâl
tersebut merupakan sesuatu yang diperintahkan. Misalnya sabda Nabi saw. yang
menyatakan:
« فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ
عَنِ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ فَلْتَـأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ
يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ
»
Maka, siapa saja
yang ingin menjauhkan diri dari neraka dan masuk surga, hendaknya ia dijemput
oleh kematiannya sementara dia tetap dalam keadaan beriman kepada Allah dan
Hari Akhir.
(HR. Muslim dari ‘Amr
bin al-‘Ash).
Frasa: falta’tihi
maniyyah
(hendaknya ia dijemput oleh kematiannya) adalah perintah kiasan,
yang disertai dengan hâl, yaitu: wahuwa yu’min[u] bi-Llâh[i]
wa al-yawm al-âkhir[i]
(sementara dia tetap dalam keadaan beriman kepada
Allah dan Hari Akhir). Artinya, pertahankanlah keimanan kalian, hingga kematian
menjemput kalian. Hal yang sama bisa berlaku dalam konteks larangan. Misalnya
firman Allah SWT. yang menyatakan:
} يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا
اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
{
Hai orang-orang
yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan
janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.
(QS. Ali ‘Imrân [3]: 102).
Artinya: Janganlah
kamu meninggalkan Islam, dan tetaplah berpegang teguh dengannya hingga kematian
menjemputmu, sementara kamu tetap seperti itu.


5.  Menggunakan khabar (kalimat berita) yang berimplikasi jawaban pasti,
maka kalimat berita tersebut mempunyai konotasi perintah dan tuntutan. Misalnya,
firman Allah SWT. yang menyatakan:
} يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ
أَلِيمٍ
~ تُؤْمِنُونَ
بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ
وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
~ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ
تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ
{
Hai orang-orang
yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat
menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang
lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni
dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga
`Adn.
(QS. as-Shaff [61]: 10-13).
Frasa: Tu’minûna
bi-Llâh[i] wa Rasûlih[i]
(Kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya) dan
seterusnya –yang merupakan kalimat berita, bukan perintah– telah dijawab oleh
Allah dengan frasa: Yaghfir lakum (maka, Dia akan mengampuni kamu)
mempunyai konotasi perintah, maka kalimat tersebut mempunyai konotasi perintah.
Artinya, sama dengan: Berimanlah kepada Allah, Rasul-Nya, dan
berjihadlah di jalan Allah
dan seterusnya.
6.  Menggunakan kalimat bersyarat (jumlah syarthiyyah) dalam bentuk
kalimat berita, dengan jawaban yang berisi pujian atau celaan untuk
aktivitasnya, maka kalimat tersebut mempunyai konotasi perintah atau larangan melakukan
aktivitas tadi. Misalnya, firman Allah SWT. yang mempunyai konotasi perintah:
} إِنْ يَكُنْ
مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ
مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ
لاَ يَفْقَهُونَ
{
Jika ada dua puluh
orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus
orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat
mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu
kaum yang tidak mengerti.
(QS.
al-Anfâl [8]: 65).
Frasa: Inyakun
minkum shâbirûna
(jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu)
adalah kalimat bersyarat dalam bentuk kalimat berita, bukan perintah. Namun,
adanya jawaban yang memuji orang-orang yang sabar: yaghlibûna (maka,
mereka akan bisa mengalahkan) tadi menunjukkan, bahwa sabar atau keteguhan
–yang menjadi aktivitas orang yang sabar– dalam menghadapi musuh itu diperintahkan.
 Sedangkan yang berkonotasi
larangan, seperti firman Allah yang menyatakan:
} وَمَنْ يَكْسِبْ خَطِيئَةً أَوْ إِثْمًا ثُمَّ يَرْمِ بِهِ بَرِيئًا فَقَدِ احْتَمَلَ بُهْتَانًا وَإِثْمًا
مُبِينًا
{
Dan barangsiapa
yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang
tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa
yang nyata.
(QS. an-Nisâ’ [4]: 112).
2) Kalimat yang Terstruktur dalam Ungkapan Kontekstual (Mafhûm) dengan Konotasi
Perintah


Gaya ungkapan
permintaan (at-thalab) yang terstruktur dalam ungkapan kontekstual (mafhûm)
dengan konotasi perintah atau larangan tersebut biasanya dinyatakan oleh dalâlah
iqtidhâ’
, yang ­nota bene merupakan salah satu bentuk mafhûm dengan
konotasi perintah. Antara lain:
1.
Jika ungkapan
penyampai (mutakallim)-nya menuntut harus benar. Misalnya, firman Allah
SWT. yang menyatakan:
} وَالْمُطَلَّقَاتُ
يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاثَةَ قُرُوءٍ
{
Wanita-wanita yang
ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru.
(QS. al-Baqarah [2]: 228).
Struktur kalimat
di atas adalah struktur kalimat berita. Dalam kalimat berita, isi kalimatnya
bisa mempunyai dua kemungkinan, benar dan salah. Namun, struktur surat
al-Baqarah: 228 di atas, kandungan makna beritanya adalah benar, karena itu
frasa: yatarabbashna tersebut mempunyai konotasi: layatarabbashna (hendaklah
menahan diri), yang berarti perintah. Tidak lagi berkonotas
berita, yang bisa benar dan salah. Sama dengan mafhûm dari struktur
kalimat berikut ini, yang mempunyai konotasi larangan:
} وَلَنْ يَجْعَلَ
اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلاً
{
Maka Allah akan
memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak
akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang
beriman.
(QS. an-Nisâ’ [4]: 141).
2.
Jika dituntut oleh apa yang secara syar’i absah terjadi. Ini bisa dilakukan
dengan gaya berdo’a, namun dengan kalimat berita (khabariyyah), bukan
perintah atau larangan (insyâ’iyyah), baik menggunakan kata kerja masa
lampau (mâdhî), kekinian dan futuristik (mudhâri’), atau kata
jadian (mashdar). Misalnya do’a:
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ
اللهِ وَبَرَكَاتُه
Semoga Allah
memberikan keselamatan, rahmat dan berkat-Nya kepadamu.
Lafazh: as-salâm,
rahmah
dan barakâtuh adalah kata jadian (mashdar) dari
bentuk dasar masing-masing. Masing-masing lafazh tersebut digunakan dalam
konteks do’a, sehingga mempunyai konotasi permintaan (perintah dan larangan).
Disamping bentuk ungkapan di atas, juga bisa digunakan ungkapan lain, dengan
menggunakan makna hukum dalam bentuk kalimat berita, seperti lafazh: Kutib[a],
Ahall[a], Harram[a]
dan sebagainya. Misalnya firman Allah
SWT. yang menyatakan:
} يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى
الَّذِينَ مِنْ قَبْلِـكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
{
Hai orang-orang
yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
(QS. al-Baqarah [2]: 183).
Atau firman Allah:
} حُرِّمَتْ
عَلَيْكُمْ
أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ
وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ
{
Diharamkan atas
kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang
perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan.
(QS. an-Nisâ’ [4]: 23).
3.
Jika dituntut oleh keabsahan pelaksanaan hukum syara’ agar hukum tersebut
bisa dilaksanakan. Misalnya firman Allah yang menyatakan:
} وَإِمَّا
تَخَافَنَّ مِنْ قَوْمٍ خِيَانَةً فَانْبِذْ إِلَيْهِمْ عَلَى سَوَاءٍ إِنَّ
اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْخَائِنِينَ
{
Dan jika kamu
khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka
kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang sama. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.
(QS. al-Anfâl [8]: 58).
Agar hukum di atas
bisa diimplementasikan dengan benar, maka negara Khilafah harus mempunyai
mata-mata yang bertugas memata-matai aktivitas musuh, sehingga kejujuran dan
pengkhianatan mereka bisa dibuktikan. Maka, adanya mata-mata yang memata-matai
musuh tadi menjadi tuntutan yang dituntut oleh keabsahan pelaksanaan hukum di
atas.
4.
Jika dituntut oleh apa yang secara rasional (berdasarkan analisis bahasa)
absah terjadi. Ini bisa dengan menggunakan mashdar untuk menjawab kalimat
bersyarat, dengan indikasi perintah. Misalnya:
} فَمَنْ لَمْ
يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا
رَجَعْتُمْ
{
Tetapi jika ia
tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga
hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali.
(QS. al-Baqarah [2]: 196).
Faman lam yajid (tetapi jika ia tidak menemukan [binatang korban atau
tidak mampu]) adalah kalimat bersyarat, yang dijawab dengan mashdar: Fashiyâm
(maka, wajib berpuasa), yang menurut analisis bahasa sama dengan: Fa
‘alaykum as-siyâm
. Namun, frasa: ‘alaykum disembunyikan. Jadi,
frasa: Fashiyâm tersebut mempunyai konotasi perintah, sekalipun tidak
berbentuk kata perintah. Karena, frasa tersebut strukturnya berbentuk mashdar
yang menjadi jawaban kata bersyarat.
1.2. Konotasi
Makna al-Amr wa an-Nahy
Permintaan (thalab)
–baik untuk dikerjakan (al-amr) maupun ditinggalkan (an-nahy)–
mempunyai dua konotasi, riil (at-thalab ‘alâ wajh al-haqîqah) dan
tidak (at-thalab ‘alâ wajh ghayr al-haqîqah).
1.2.1. Konotasi Makna Perintah dan Larangan yang Tidak Riil
Perintah dan
larangan yang tidak riil adalah permintaan yang: Pertama, tidak dimaksud
untuk dikerjakan; Kedua, di luar kemampuan pihak yang diseru (al-mukhâthab);
Ketiga, disandarkan kepada pihak yang diseru (al-mukhâthab)
sebagai pihak yang tidak terbebani hukum (ghayr al-mukallaf) dengan
sandaran yang tidak riil. Inilah yang dimaksud dengan permintaan (thalab)
–baik untuk dikerjakan (al-amr) maupun ditinggalkan (an-nahy)– yang
tidak riil (at-thalab ‘alâ wajh ghayr al-haqîqah).
Untuk memudahkan
pembagian, dalam hal ini bisa diklasifikasikan menjadi dua: Pertama, permintaan
yang menuntut dikerjakan (thalab al-fi’l) atau perintah (al-amr);
Kedua, permintaan yang menuntut ditinggalkan (thalab at-tark)
atau larangan (an-nahy).
1) Perintah (al-amr) yang Tidak Riil
Shîghat al-amr (struktur harfiah perintah) yang tidak riil (‘alâ wajh ghayr al-haqîqah)
bisa diklasifikasikan sebagai berikut:
1.
Taswiyyah: adalah shîghat al-amr (struktur harfiah perintah) yang statusnya
sama jika dikerjakan atau ditinggalkan. Contohnya:
} اصْلَوْهَا فَاصْبِرُوا
أَوْ لاَ تَصْبِرُوا سَوَاءٌ عَلَيْكُمْ
{
Masuklah kamu ke
dalamnya (rasakanlah panas apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak, sama
saja bagimu.
(QS. at-Thûr [52]: 16).
2.
Ihânah: adalah shîghat al-amr (struktur harfiah perintah) yang bertujuan
untuk menghina pihak yang diperintahkan. Contohnya:
} قُلْ مُوتُوا
بِغَيْظِكُمْ
{
Katakanlah (kepada
mereka): “Matilah kamu dengan kemarahanmu itu”.
(QS. Ali ‘Imrân [3]: 119).
3.
Istihzâ’ wa
Sukhriyyah:
adalah shîghat al-amr (struktur
harfiah perintah) yang bertujuan membanggakan diri dan merendahkan pihak yang
diperintahkan. Contohnya:
} ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ {
Rasakanlah,
sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia.
(QS. ad-Dukhân [44]: 49).
4.
Tahdîd: adalah shîghat al-amr (struktur harfiah perintah) yang bertujuan
untuk mengancam pihak yang diperintahkan. Contohnya:
} قُلْ يَاقَوْمِ اعْمَلُوا عَلَى
مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ
الدَّارِ
{
Katakanlah:
“Hai kaumku, berbuatlah dengan segala kemampuanmu, sesungguhnya akupun
berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan
memperoleh hasil yang baik dari dunia ini.
(QS. al-An’âm [6]: 135).
5.
Ta’jîz: adalah shîghat al-amr (struktur harfiah perintah) yang mempunyai
konotasi melemahkan pihak yang diperintahkan. Contohnya:
} وَإِنْ كُنْتُمْ
فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ
مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
{
Dan jika kamu
(tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad),
buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah
penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.
(QS. al-Baqarah [2]: 23).
6.
Taskhîr: adalah shîghat al-amr (struktur harfiah perintah) yang mempunyai
konotasi menyihir pihak yang diperintahkan. Contohnya:
} قُلْ كُونُوا
حِجَارَةً أَوْ حَدِيدًا
{
Katakanlah: “Jadilah
kalian batu atau besi.”
(QS.
al-Isrâ’ [17]: 50).
7.
Tahaddî: adalah shîghat al-amr (struktur harfiah perintah) yang bertujuan
untuk menantang pihak yang diperintahkan. Contohnya:
} فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ
الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ
{
“Sesungguhnya
Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,”
lalu heran terdiamlah orang kafir itu.
(QS. al-Baqarah [2]: 258).
8.
Imtinân: adalah shîghat al-amr (struktur harfiah perintah)  yang mempunyai konotasi mengungkit karunia
atau nikmat. Contoh:
 } كُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ {
Makanlah dari
rezki yang telah diberikan Allah kepadamu.
(QS. al-An’âm [6]: 142).
9.
Ikrâm bi
al-ma’mûr:
adalah shîghat al-amr (struktur
harfiah perintah) yang mempunyai konotasi memuliakan pihak yang diperintahkan.
Contohnya:
} ادْخُلُوهَا بِسَلاَمٍ ءَامِنِينَ {
(Dikatakan
kepada mereka): “Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman”.
(QS. al-Hijr [15]: 46).
10.  Ihtiqâr: adalah shîghat al-amr (struktur
harfiah perintah) yang berkonotasi penghinaan kepada pihak yang diperintahkan.
Contoh:
} قَالَ لَهُمْ
مُوسَى أَلْقُوا مَا أَنْتُمْ مُلْقُونَ
{
Berkatalah Musa
kepada mereka: “Lemparkanlah apa yang hendak kamu Lemparkan”.
(QS. as-Syu’arâ’ [26]: 43).
11.   At-Takwîn: adalah shîghat al-amr (struktur harfiah perintah) yang mempunyai
konotasi penciptaan. Contohnya:
} إِنَّمَا
أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
{
Sesungguhnya
perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya:
“Jadilah!” maka terjadilah ia.
(QS. Yasin [36]: 82).
12.  Khabar: adalah shîghat al-amr (struktur
harfiah perintah) yang mempunyai konotasi kalimat berita. Contohnya:
} وَالْوَالِدَاتُ
يُرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ
{
Para ibu hendaklah
menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh.
(QS. al-Baqarah [2]: 233).
13.  Du’â’: adalah shîghat al-amr (struktur
harfiah perintah) yang mempunyai konotasi meminta kepada pihak yang lebih
tinggi. Contohnya:
} رَبَّنَا اغْفِرْ
لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
{
“Ya Tuhan
kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mu’min
pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).”
(QS. Ibrahîm [14]: 41).
14.  Tamanni: adalah shîghat al-amr (struktur
harfiah perintah) yang merupakan harapan yang mustahil teriilisir. Contohnya:
« ألاَ أَيُّهَا اللَّيْلُ الطَّوِيْلُ أَلاَ انْجِلْي
»
Duhai malam yang
panjang, berhentilah!
15.  Tarajjî: adalah shîghat al-amr (struktur
harfiah perintah) yang merupakan harapan yang mungkin diriilisir. Contohnya:
أمْطِرِيْ أيَّتُهَا السَّمَاءُ فَقَدْ جَفَّ الضَّرْعُ
Hujanlah wahai
langit, sebab tetek lembu itu telah kering!
2) Larangan (al-nahy) yang Tidak Riil
Shîghat al-nahy (struktur harfiah larangan) yang tidak riil (‘alâ wajh ghayr al-haqîqah)
bisa diklasifikasikan sebagai berikut:
1.
Taswiyyah: adalah shîghat al-nahy (struktur harfiah larangan) yang statusnya
sama jika dikerjakan atau ditinggalkan. Contohnya:
} اصْلَوْهَا فَاصْبِرُوا
أَوْ لاَ تَصْبِرُوا سَوَاءٌ عَلَيْكُمْ
{
Masuklah kamu ke
dalamnya (rasakanlah panash apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak, sama
saja bagimu.
(QS. at-Thûr [52]: 16).
2.
Tahqîr: adalah shîghat al-nahy (struktur harfiah larangan) yang bertujuan
untuk meremehkan pihak yang dilarang. Contohnya:
} وَلاَ
تَمُدَّنَّ
عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ
أَزْوَاجًا
{
Dan janganlah kamu
tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada
golongan-golongan dari mereka.
(QS. Thâha
[20]: 131).
3.
Bayân al-‘âqibah: adalah shîghat al-nahy (struktur harfiah larangan) yang mempunyai
konotasi menjelaskan akibat. Contohnya:
} وَلاَ
تَحْسَبَنَّ
اللَّهَ غَافِلاً عَمَّا يَعْمَلُ
الظَّالِمُونَ
{
Dan janganlah
sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat
oleh orang-orang yang zalim.
(QS. Ibrâhîm
[14]: 42).
4.
Al-Ya’s: adalah shîghat al-nahy (struktur harfiah larangan) yang mempunyai
konotasi keputusasaan pihak yang dilarang. Contohnya:
} يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ كَفَرُوا لاَ تَعْتَذِرُوا الْيَوْمَ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا
كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
{
Hai orang-orang
kafir, janganlah kamu mengemukakan uzur pada hari ini. Sesungguhnya kamu hanya
diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakan.
(QS. at-Tahrîm [66]: 7).
5.
Tasliyyah: adalah shîghat al-nahy (struktur harfiah larangan) yang mempunyai
konotasi menghibur pihak yang dilarang. Contohnya:
} وَاصْبِرْ وَمَا
صَبْرُكَ إِلاَّ بِاللَّهِ وَلاَ تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلاَ تَكُ فِي
ضَيْقٍ
مِمَّا يَمْكُرُونَ
{
Bersabarlah (hai
Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan
janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu
bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.
(QS. an-Nahl [16]: 127).
6.
Irsyâd: adalah shîghat al-nahy (struktur harfiah larangan) yang mempunyai
konotasi membimbing pihak yang dilarang. Contohnya:
} يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ
تَسُؤْكُمْ
{
Hai orang-orang
yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika
diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu.
(QS. al-Mâidah [5]: 101).
7.
Syafaqah: adalah shîghat al-nahy (struktur harfiah larangan) yang mempunyai
konotasi empati atau simpati.  Contohnya
sabda Nabi saw. yang mengatakan:
« لاَ
تَتَّخِذُوا
الدَّوَابَّ كَرَاسِيَّ فَرُبَّ مَرْكُوبَةٍ عَلَيْهَا هِيَ
أَكْثَرُ ذِكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى مِنْ رَاكِبِهَا
»
Janganlah kamu
menjadikan hewan tunggangan sebagai kursi (tempat duduk); Bisa jadi yang
ditunggangi lebih banyak dzikirnya kepada Allah ketimbang yang menungganginya.
(HR. Ahmad).
1.2.2. Konotasi
Makna Perintah dan Larangan yang Riil
Sedangkan perintah
dan larangan yang riil adalah permintaan (thalab) yang merupakan
kebalikan perintah dan larangan di atas. Pertama, ia dimaksud untuk
dikerjakan; Kedua, dalam kemampuan pihak yang diseru (al-mukhâthab);
Ketiga, disandarkan kepada pihak yang diseru (al-mukhâthab)
sebagai pihak yang terbebani hukum (al-mukallaf) dengan sandaran secara riil.
Inilah yang dimaksud dengan permintaan (thalab) –baik untuk dikerjakan
(al-amr) maupun ditinggalkan (an-nahy)– yang riil (at-thalab
‘alâ wajh al-haqîqah
). Karena itu, konteks perintah dan larangan
tersebut berkaitan dengan seruan tanggungjawab hukum (khithâb at-taklîf).
Dan karena konteks
perintah serta larangan yang riil tersebut berkaitan dengan hukum syara’ –sebagai
seruan pembuat syariat– baik dalam konteks tuntutan untuk dikerjakan (thalab
al-fi’l
) maupun ditinggalkan (thalab at-tark), maka konotasi makna
perintah dan larangan tersebut tidak akan terlepas dari lima hal: wajib, mandûb,
haram, makruh dan mubah. Untuk memudahkan klasifikasinya, maka dalam hal
ini bisa diklasifikasikan menjadi dua bentuk: Pertama, shîghat al-amr; Kedua,
shîghat an-nahy.
1) Perintah yang Riil
Dalam konteks
perintah yang riil, shîghat al-amr (struktur harfiah perintah) yang
digunakan dalam struktur kalimat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, pada dasarnya
hanya mempunyai konotasi permintaan (thalab). Namun, qarînah (indikasi)lah
bisa mengarahkan konotasi permintaan secara umum tadi menjadi wajib, mandûb dan
mubah. Antara lain, sebagai berikut:
A.
Wâjib: Shîghat
al-amr
yang mempunyai konotasi permintaan untuk dikerjakan
dengan permintaan secara tegas (thalab al-fi’l jâzim[an]). Contohnya
firman Allah SWT. yang menyatakan:
} وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ {
Dan dirikanlah
shalat.
(QS. an-Nur [24]: 73).
Frasa: wa aqîmû
(dan dirikanlah) hanya mempunyai konotasi permintaan untuk dikerjakan, yang
kemudian bisa berkonotasi wajib setelah adanya indikasi. Adapun indikasi yang
menunjukkan permintaan tertentu sebagai permintaan yang tegas adalah sebagai
berikut:
(1)
Jika ada dalil yang menunjukkan, bahwa kalau perintah tersebut ditinggalkan
akan berimplikasi pada dijatuhkannya sanksi di dunia dan siksa di akhirat.
Misalnya:
} مَا سَلَكَكُمْ
فِي سَقَرَ
~ قَالُوا لَمْ
نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ
{
Apakah yang
memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: “Kami dahulu
tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat.
(QS. al-Mudatstsir [74]: 42-43).
merupakan siksaan
di akhirat bagi orang yang meninggalkan shalat. Maka, perintah shalat adalah
perintah yang harus dikerjakan dengan perintah yang tegas.
(2)
Jika di dalamnya ada perbuatan atau perkataan yang dilakukan secara
terus-menerus tanpa henti, kecuali karena udzur, sehingga udzur tersebut
menjadi rukhshah, ampunan ataupun harus diganti. Misalnya:
} يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا قُمْتُمْ
إِلَى الصَّلاَةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى
الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ
وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى
سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسَاءَ
فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا
بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ
{
Hai orang-orang
yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan
tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai
dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit
atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh
perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang
baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak
menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan
ni`mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.
(QS. al-Mâidah [5]: 6).
(3)
Jika ada penjelasan perintah, yang hukumnya wajib, atau konteksnya dengan
wajib, atau mempunyai konotasi menjaga Islam. Misalnya:
« مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ
أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ
وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ »
Perintahkanlah
anakmu shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika
berusia sepuluh tahun, serta pisahkan tempat tidur mereka.
(HR. Abû Dâwud dari ‘Amr bin Syu’ayb dari Kakeknya).
(4)
Jika ada penjelasan untuk melaksanakan perintah dengan pilihan sejumlah
hukum yang telah ditentukan. Misalnya:
} فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ
عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ

أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاثَةِ
أَيَّامٍ
ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ وَاحْفَظُوا
أَيْمَانَكُمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ ءَايَاتِهِ لَعَلَّكُمْ
تَشْكُرُونَ
{
Maka kaffarat
(melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari
makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada
mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan
yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu
adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan
jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar
kamu bersyukur (kepada-Nya).
(QS. al-Mâidah
[5]: 89).
(5)
Jika ada penjelasan mengenai pengulangan perbuatan, yang seandainya tidak
fardhu, pasti sudah dilarang. Seperti dua ruku’ shalat Khusûf:
« خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِي عَهْدِ رَسُولِ
اللَّهِ
r فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ r بِالنَّاسِ فَقَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ
الرُّكُوعَ ثُمَّ قَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الأَوَّلِ
ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأَوَّلِ ثُمَّ
سَجَدَ فَأَطَالَ السُّجُودَ »
Telah terjadi
gerhana matahari pada zaman Rasulullah saw., kemudian Rasulullah saw. shalat
bersama orang ramai, lalu memanjangkan berdiri, kemudian ruku’ dan memanjangkan
ruku’nya, kemudian berdiri dan memanjangkan berdirinya, berdiri yang lain
dengan berdiri yang pertama, kemudian ruku’ lalu memanjangkan ruku’ yang tidak
sama dengan ruku’ yang pertama, kemudian sujud dan memanjangkan sujudnya.
(HR. Bukhâri dari Aisyah).
(6)
Jika ada nash yang secara tegas menyatakan wajib. Misalnya dengan
menggunakan lafazh: farîdhah. Contohnya firman Allah SWT. yang
menyatakan:
} إِنَّمَا
الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا
وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ
اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ
حَكِيمٌ
{
Sesungguhnya
zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin,
pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk
(memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan
orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang
diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
(QS. at-Taubah [9]: 60).
(7)
Jika perintah tersebut diperintahkan, sekalipun sangat memberatkan orang
yang diperintahkan. Misalnya firman Allah SWT. yang menyatakan:
} انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالاً وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
{
Berangkatlah kamu
baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan
harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu
jika kamu mengetahui.
(QS. at-Taubah [9]:
61).
(8)
Jika perintah tersebut merupakan perintah yang akan menyempurnakan
kewajiban, yang tanpanya kewajiban tersebut tidak akan sempurna. Misalnya
firman Allah SWT. yang menyatakan:
} يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا
اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأَمْرِ مِنْكُمْ
{
Hai orang-orang
yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di
antara kamu.
(QS. an-Nisâ’ [4]: 59).
Perintah mentaati
Allah, Rasul dan ûlî al-amr (khalifah) bukanlah perintah mentaati
sesuatu yang tidak ada (al-ma’dûm). Sebab, jika yang ditaati (al-muthâ’)
tidak ada, maka perintah mentaatinya juga mustahil diperintahkan. Karena itu,
adanya perintah mentaati, memastikan adanya al-muthâ’, dan jika al-muthâ’
tidak ada, sementara hukum mentaatinya diperintahkan, maka mengadakan
kewujudannya adalah wajib. Jadi, perintah mentaati ûlî al-amr (khalifah)
juga menunjukkan adanya perintah untuk mewujudkan keberadaannya yakni
mewujudkan keberadaan khalifah.
B.
Mandûb: Shîghat
al-amr
yang mempunyai konotasi permintaan untuk dikerjakan
dengan permintaan secara tidak tegas (thalab al-fi’l ghayr jâzim).
Contohnya firman Allah SWT. yang menyatakan:
} وَالَّذِينَ
يَبْتَغُونَ الْكِتَابَ مِمَّا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ فَكَاتِبُوهُمْ إِنْ
عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا وَءَاتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي ءَاتَاكُمْ
{
Dan budak-budak
yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian
dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah
kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu.
(QS. an-Nûr [24]: 33).
Perintah menulis
perjanjian dengan budak serta memberikan sebagian harta kepada mereka adalah mandûb.
Sebab, perintah tersebut disertai pahala, namun tidak disertai sanksi di dunia
atau siksa di akhirat bagi yang meninggalkannya. Adapun indikasi yang
menunjukkan permintaan tertentu sebagai permintaan yang tidak tegas adalah
sebagai berikut:
(1)
Jika ada dalil yang menunjukkan perintah tertentu disertai tarjîh
(penguatan perintah). Misalnya hadits Nabi yang menyatakan:
« مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُقْرِضُ مُسْلِمًا قَرْضًا مَرَّتَيْنِ إِلاَّ كَانَ كَصَدَقَتِهَا
مَرَّةً »
Tidaklah seorang
Muslim menghutangi Muslim yang lain dua kali hutang, kecuali yang sekali
sebagai sedekahnya.
(HR. Ibn Mâjjah).
(2)
Jika tuntutan melaksanakan perintah disertai dengan pembenaran atau sukût
terhadap pelanggaran perintah tersebut. Misalnya sabda Nabi saw. yang
menyatakan:
« يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ
فَلْيَتَزَوَّجْ »
Wahai para pemuda,
siapa saja di antara kamu yang mampu berumah tangga, hendaknya menikah.
(HR. Bukhâri dari Ibrâhîm bin ‘Alqamah).
Namun, perintah
tersebut disertai dengan pembenaran atau sukût terhadap pelanggaran dari
perintah tersebut, ketika ada sahabat yang mampu menikah tetapi tidak menikah,
dan dibiarkan oleh Rasul saw.
(3)
Jika ada dalil yang menunjukkan perintah tertentu sebagai bentuk
mendekatkan diri kepada Allah, tanpa disertai indikasi yang menunjukkan kewajibannya.
Misalnya sabda Nabi saw. yang menyatakan:
« إِنَّ الدُّعَاءَ هُوَ الْعِبَادَةُ »
Sesungguhnya do’a
adalah ibadah.
(HR. Ibn Mâjjah).
Ibadah adalah
bentuk mendekatkan diri kepada Allah, karena merupakan hubungan antara manusia
dengan Rabb-nya. Maka, berdo’a hukumya adalah mandûb, bukan
wajib.
C.
Mubah: Shîghat
al-amr
yang mempunyai konotasi memilih untuk mengerjakan atau
meninggalkan apa yang diperintahkan. Contohnya firman Allah SWT. yang
menyatakan:
} كُلُوا
وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ
{
Makan dan minumlah
rezki (yang diberikan) Allah.
(QS. al-Baqarah
[2]: 60).
Perintah makan dan
minum tersebut adalah permintaan untuk memilih, antara melaksanakan atau
meninggalkannya. Sebab, izin makan dan minum tersebut disyariatkan kepada kita
sebagai hak kita, bukan sebagai kewajiban. Mengenai indikasi yang menunjukkan ibâhah
adalah sebagai berikut:
(1)
Jika ada dalil yang menjelaskan bahwa Rasul telah melakukan perbuatan dan
meninggalkannya pada waktu yang lain. Misalnya:
« أنَّ جَنَازَةَ مَرَّتْ عَلَى ابْنِ
عَبَّاسِ وَالْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ فَقَالَ أَحَدُهُمَا وَقَعَدَ الأخَرُ، فَقَالَ
القَائِمُ لِلْقَاعِدِ: أَلَيْسَ قَدْ قَامَ رَسُوْلُ اللهِ
r فَقَالَ: بَلَى، وَقَعَدَ »
Bahwa ada jenazah
telah melintasi Ibn ‘Abbâs dan Hasan bin ‘Ali; salah satunya berdiri, sedangkan
yang lain duduk. Yang berdiri berkata kepada yang duduk: ‘Tidakkah Rasulullah
saw. berdiri? Yang duduk berkata: Benar, dan beliau juga duduk.
(HR. at-Thabari).
(2)
Jika ada ampunan terhadap perbuatan yang dinyatakan dalam hukum umum, bukan
karena udzur apapun. Misalnya ketika Rasul ditanya tentang hukum keju dan
minyak samin, beliau menyatakan:
« الْحَلاَلُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ
اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ »
Perkara halal
(mubah) adalah apa yang dihalalkan Allah dalam kitab-Nya, dan haram adalah
perkara yang diharamkan Allah dalam kitab-Nya, sedangkan apa yang didiamkan
adalah apa yang dimaafkan.
(HR.
Abû Dâwud).
(3)
Jika perbuatan haram atau dilarang dengan larangan yang tegas, kemudian
dihalalkan kembali setelah sebabnya hilang. Maka, penghalalan tersebut berarti
mubah. Misalnya sabda Nabi saw. yang menyatakan:
} يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاَةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ
فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ
ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ
إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
~ فَإِذَا
قُضِيَتِ الصَّلاَةُ فَانْتَشِرُوا
فِي الأَرْضِ
وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ
{
Hai orang-orang
yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum`at, maka
bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang
demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan
sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi.
(QS. al-Jumu’ah [62]: 9-10).
(4)
Jika perbuatan Jibiliyyah yang dilakukan berkaitan dengan
karakteristik jasmani. Misalnya, firman Allah SWT. yang menyatakan:
} هُوَ الَّذِي
جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ ذَلُولاً فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ
رِزْقِهِ
{
Dialah Yang
menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan
makanlah sebahagian dari rezki-Nya.
(QS.
al-Mulk [67]: 15)
2) Larangan yang Riil
Dalam konteks
larangan yang riil, shîghat al-nahy yang digunakan dalam struktur
kalimat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, pada dasarnya juga hanya mempunyai
konotasi permintaan (thalab). Namun, qarînah-lah bisa mengarahkan
konotasi permintaan secara umum tadi menjadi haram, makrûh dan mubah.
Antara lain, sebagai berikut:
A.
Harâm: shîghat al-nahy yang mempunyai konotasi permintaan untuk ditinggalkan dengan permintaan
secara tegas (thalab al-tark jâzim[an]). Contohnya sabda Nabi saw. yang
menyatakan:
« وَلاَ تَسْرِقُوا وَلاَ تَزْنُوا »
Dan hendaknya kamu
tidak mencuri dan berzina.
(HR.
Bukhâri dari ‘Ubâdah bin Shâmit).
adalah larangan
yang berkonotasi haram, karena disertai indikasi yang memastikan larangan
tersebut, yaitu adanya sanksi di dunia bagi orang yang melanggarnya. Mengenai
indikasi lain yang menunjukkan permintaan tertentu sebagai permintaan yang
tegas adalah sebagai berikut:
(1)
Jika ada nash yang menjelaskan, bahwa Allah membenci dan memurkai perbuatan
tersebut. Misalnya:
} وَلاَ
تَنْكِحُوا
مَا نَكَحَ ءَابَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ
إِلاَّ مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلاً
{
Dan janganlah kamu
kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang
telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan
seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).
(QS.
an-Nisâ’ [4]: 22).
(2)
Jika perbuatan yang dilarang tersebut dinyatakan sebagai perbuatan syaitan.
Misalnya:
} يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنْصَابُ وَالأَزْلاَمُ
رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
{
Hai orang-orang
yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk)
berhala, mengundi nashib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan
syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.
(QS. al-Mâidah [5]: 90).
(3)
Jika ada nash yang menyatakan adanya laknat Allah atau Rasul-Nya terhadap
orang yang melakukannya. Misalnya:
« لَعَنَ اللَّهُ الْوَاشِمَاتِ
وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ »
Allah melaknat
orang yang mentato dan yang minta ditato, juga orang yang mencukur alis.
(HR. Bukhâri dari ‘Abdullâh).
(4)
Jika ada nash yang secara tegas menyatakan wajib. Misalnya dengan
menggunakan lafazh: hurima atau harram[a]. Contohnya
sabda Nabi saw. yang menyatakan:
« إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوقَ الأُمَّهَاتِ وَوَأْدَ
الْبَنَاتِ
»
Sesungguhnya Allah
mengharamkan kepadamu durhaka kepada ibu, mengubur hidup-hidup anak perempuan.
(HR. Bukhâri dari al-Mughîrah).
B.
Makrûh: Shîghat
al-nahy
yang mempunyai konotasi permintaan untuk ditinggalkan
dengan permintaan secara tidak tegas (thalab al-tark ghayr jâzim).
Contohnya sabda Nabi saw. yang menyatakan:
« نَهَى رَسُولُ اللَّهِ r عَنْ كَسْبِ الْحَجَّامِ »
Rasulullah saw.
melarang pekerjaan tukang bekam (cantuk).
(HR. Ibn Mâjjah dari ‘Uqbah bin ‘Amr).
Larangan ini tidak
mengindikasikan keharaman, selain tarjîh (penguatan) untuk
meninggalkan larangan tersebut. Adapun indikasi yang menunjukkan permintaan
tertentu sebagai permintaan yang tidak tegas adalah sebagai berikut:
(1)
Jika ada larangan disertai dengan pembenaran atau sukût terhadap
dilanggarnya larangan tersebut. Misalnya hadits Nabi yang menyatakan:
« يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ بِأَرْضِنَا
أَعْنَابًا نَعْتَصِرُهَا فَنَشْرَبُ مِنْهَا قَالَ لاَ فَرَاجَعْتُهُ قُلْتُ
إِنَّا نَسْتَشْفِي بِهِ لِلْمَرِيضِ قَالَ إِنَّ ذَلِكَ لَيْسَ بِشِفَاءٍ
وَلَكِنَّهُ دَاءٌ »
Ya Rasulullah,
sesungguhnya di negeri kami terdapat banyak anggur yang kami biasa peras, kemudian
kami meminumnya. Beliau (Nabi) bersabda: ‘Jangan.’ Kemudian kami mengulanginya.
Kami bertanya: Sesungguhnya kami menggunakannya untuk obat oran sakit. Beliau
(Nabi) menjawab: ‘Sesungguhnya itu bukan obat, nemun penyakit.’
(HR. Ibn Mâjjah dari Suwayd al-Hadhramî).
Sementara larangan
berobat dengan perkara haram, dibenarkan dalam kasus lain:
« أَنَّ نَاسًا اجْتَوَوْا فِي الْمَدِينَةِ فَأَمَرَهُمُ النَّبِيُّ r أَنْ يَلْحَقُوا بِرَاعِيهِ يَعْنِي الإِبِلَ فَيَشْرَبُوا
مِنْ أَلْبَانِهَا وَأَبْوَالِهَا
»
Orang-orang di
Madinah telah disierang sakit perut, kemudian mereka diperintahkan oleh Nabi
saw. untuk menyertakan penggembalanya, yaitu (penggembala) unta, kemudian
mereka meminum susu dan air kencingnya.
(HR. Bukhâri dari Anash).
(2)
Jika larangan tidak disertai adanya pengharaman (tahrîm).
Misalnya sabda Nabi saw. yang menyatakan:
« أَنَّ نَفَرًا أَتَوُا النَّبِيَّ r فَوَجَدَ مِنْهُمْ رِيحِ الْكُرَّاثِ فَقَالَ أَلَمْ أَكُنْ
نَهَيْتُكُمْ عَنْ أَكْلِ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَتَأَذَّى
مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ الإِنْسَانُ »
Beberapa orang
telah datang kepada Nabi saw. kemudian beliau mencium bau bawang perai, seraya
bersabda: ‘Tidakkah saya telah melarang kalian untuk memakan buah pohon ini,
sebab malaikat juga akan tidak senang dengan apa yang membuat manusia tidak
senang.
(HR. Ibn Mâjjah dari
Jâbir).
C.
Mubah: Shîghat al-nahy yang mempunyai konotasi memilih untuk mengerjakan atau meninggalkan apa
yang diperintahkan. Contohnya firman Allah SWT. yang menyatakan:
} أُحِلَّ لَكُمْ
صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ وَحُرِّمَ
عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا
{
Dihalalkan bagimu
binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang
lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu
(menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram.
(QS. al-Mâidah [5]: 96).
Kemubahan
larangan tersebut bisa dibuktikan melalui keharaman atau adanya larangan yang
tegas karena kondisi tertentu, kemudian dihalalkan kembali setelah kondisinya
hilang. Maka, penghalalan tersebut berarti mubah.
3) Perintah dan
Larangan dalam Konteks Kesegeraan
Shîghat perintah dan larangan tidak dengan sendirinya mempunyai konotasi segera
dilaksanakan atau ditinggalkan (al-fawr). Hanya saja, setelah
menganalisis penjelasan Rasulullah saw. dan apa yang telah dilakukan oleh para
sahabat dengan pembenaran beliau membuktikan:
1.
Perintah
membutuhkan qarînah yang mempunyai konotasi segera dilaksanakan atau
tidak; Jika waktu pelaksanaannya luas (muwassa’), seperti waktu shalat
atau menunaikan zakat fitrah, maka bisa dilaksanakan kapan saja dalam waktu
pelaksanaannya. Jika waktunya terbatas (mudhayyaq), seperti puasa
Ramadhan, maka harus dilaksanakan segera. Jika pelaksanaannya tidak terikat
dengan waktu, maka bisa dilaksanakan kapan saja, contohnya seperti kafarat.
2.
Larangan pada
dasarnya harus ditinggalkan seketika atau segera, begitu larangannya turun,
jika larangan tersebut bukan mâni’ (halangan), seperti larangan puasa
dan shalat bagi wanita yang haid, maka larangan tersebut akan berhenti begitu
halangannya hilang.
4) Perintah dan Larangan dalam Konteks Pengulangan (at-tikrâr)
Shîghat perintah dan larangan juga tidak dengan sendirinya mempunyai konotasi
dilaksanakan atau ditinggalkannya perintah dan larangan tersebut sekali, dua
kali atau lebih. Hanya saja, setelah menganalisis penjelasan Rasulullah saw.
dan apa yang telah dilakukan oleh para sahabat dengan pembenaran beliau
membuktikan:
1.
Perintah, begitu
dilaksanakan sekali, sesungguhnya telah cukup, sementara untuk mengulangnya
dibutuhkan qarînah, baik dari perbuatan maupun perkataan Rasul. Para
sahabat mengetahui, bahwa  shalat fardhu
harus diulang berdasarkan perbuatan Rasulullah. Demikian halnya pelaksanaan
haji atau sebagian shalat yang lain, yang tidak perlu diulang, juga bisa mereka
ketahui melalui perbuatan atau perkataan Rasul.
2.
Sebaliknya,
larangan pada dasarnya harus ditinggalkan untuk selamanya, dan tidak boleh
ditinggalkan sekali, kemudian dilaksanakan pada kali lain. Kecuali, jika
larangan tersebut bergantung dengan qarînah atau nashkh.
5) Perintah dan Larangan Tidak Berkonotasi Kebalikannya
Shîghat perintah dan larangan masing-masing mempunyai bentuk yang unik, dan
masing-masing tidak mempunyai konotasi selain perintah melakukan bagi shîghat
al-amr
(perintah), dan perintah meninggalkan bagi shîghat al-nahy (larangan).
Masing-masing mempunyai konotasi tekstualnya, dan tidak yang lain. Misalnya,
ketika nash al-Qur’an memerintahkan agar mendirikan shalat (QS. Hûd [11]:
114
) tidak berarti, bahwa perkara di luar shalat dilarang. Namun, jika ada
larangan tersebut, maka datangnya dari dalil-dalil lain.
Demikian halnya
ketika nash al-Qur’an melarang berzina (QS. al-Isrâ’ [17]: 32) tidak
berarti, bahwa larangan tersebut sekaligus mengindikasikan perintah untuk
menikah. Sebaliknya, perintah menikah tersebut harus dinyatakan dengan
dalil-dalil lain yang bisa difahami seperti itu.
6) Pengaruh Perintah dan Larangan terhadap Akad dan Tasharruf
Larangan terhadap
akad dan tasharruf bisa terjadi dalam tiga kondisi. Masing-masing adalah:
1.
Larangan yang mengenai
rukun akad, maka larangan tersebut akan menyebabkan batilnya akad, jika
larangan tersebut tidak ditinggalkan. Jika larangan tersebut mengenai barang
yang diakadkan, seperti jual-beli bangkai, maka jual-belinya batil. Demikian
juga jika larangan tersebut berkaitan dengan ketidaklayakan pelaku akad
tersebut, seperti gila, maka akadnya juga tidak sah.
2.
Larangan yang mengenai
syarat akad, bukan rukun –baik barang yang diakadkan ataupun pelaku akadnya–
seperti jual-beli antara orang kampung dengan orang kota –karena adanya faktor
ketidaktahuan harga– maka larangan tersebut hanya merusak jual beli. Namun
ketika ketidaktahuan harga tersebut telah hilang, jual-belinya menjadi sah.
3.
Larangan yang mengenai
perkara di luar syarat dan rukun, misalnya larangan jual-beli ketika adzan
Jumu’ah telah diserukan, maka jual-belinya tetap sah, namun berdosa.
2. Umum dan Khusus
Lafazh umum adalah
lafazh tunggal dengan satu makna, yang di bawahnya mengalir dua atau lebih ujud
derivat (fard), dimana masing-masing ujud derivat tersebut tidak berbeda
dengan yang lain dari aspek dalâlah,
kecuali jika ada takhshîsh.
Disebut lafazh
tunggal (lafzh mufrad), bukan hanya lafazh, sehingga lafazh ganda (lafzh
murakkab
) dipisahkan dari lafazh umum. Sebab, jika lafazh tersebut
berbentuk ganda, yang di bawahnya mengalir dua atau lebih ujud derivat (fard),
maka lafazh tersebut tidak disebut lafazh umum, tetapi lafazh kulli. Demikian
juga disebut “dengan satu makna” agar lafazh musytarak (yang
mempunyai makna ganda) terpisahkan dari lafazh umum. Sebab, lafazh musytarak
tersebut masuk dalam lafazh mujmal (global). Dan dinyatakan
“masing-masing ujud derivat tersebut tidak berbeda dengan yang lain dari
aspek dalâlah” agar lafazh manqûl, majâz dan kinâyah terenyahkan
dari lafazd tersebut.
2.1. Lafazh Umum
dan Khusus
Lafazh umum bisa
diidentifikasi melalui tiga cara: Pertama, dibuktikan secara kebahasaan,
yang diperoleh melalui peletakan lafazh dalam konteks bahasa Arab; Kedua, dibuktikan
secara konvensional, yang diperoleh melalui penggunaan pemilik bahasa, bukan
melalui asal peletakan lafazhnya; Ketiga, dibuktikan melalui akal, yang
diperoleh melalui penggalian, bukan akal murni. Dengan demikian,
pengindentifikasian lafazh umum tersebut bisa dilakukan melalui dua cara: Pertama,
melalui proses penukilan, baik melalui peletakan bahasanya maupun
penggunaan lafazh oleh pemilik bahasanya; Kedua, melalui penggalian.
Lafazh umum yang
teridentifikasi melalui peletakan bahasanya, ada dua macam: Pertama, umum
dengan sendirinya, atau berdasarkan peletakan lafazh dalam bahasa Arabnya; Kedua,
umum karena adanya qarînah. Yang terakhir ini, qarînah-nya
bisa berbentuk kalimat negatif (an-nafy) atau positif (al-itsbât).
Sementara lafazh umum yang teridentifikasi melalui penggunaan lafazh oleh
pemilik bahasa, atau melalui kovensi, seperti lafazh: ummahât (ibu-ibu)
dalam kalimat: Hurrimah ‘alaykum ummatukum (telah diharamkan
kepadamu ibu-ibu kamu). Lafazh: ummahât tidak hanya berkonotasi zatnya,
tetapi juga seluruhnya, baik tubuh, kecantikan dan sebagainya yang melekat pada
ibu. Sedangkan lafazh umum yang teridentifikasi melalui proses penggalian, atau
melalui akal, bisa ditetapkan berdasarkan ketentuan hukum yang jatuh setelah
sifat disertai huruf Fa’ at-ta’qîb (akibat) atau at-tasbîb (sebab-akibat).
Misalnya, lafazh: as-sâriq[u] wa as-sâriqat[u] yang jatuh sebelum
hukum potong tangan: faqtha’û. Maka, lafazh: as-sâriq[u] wa
as-sâriqat[u] 
tersebut bisa
diidentifikasi sebagai lafazh umum secara istinbâti.  
2.1.1. Shîghat
Umum
Shîghat lafazh umum berdasarkan peletakan bahasanya, baik yang mempunyai konotasi
umum dengan sendirinya maupun disertai qarînah bisa dideskripsikan
sebagai berikut:
1) Plural yang
Disertai dengan Partikel “Al”
Partikel
“al” yang menyertai lafazh yang berbentuk plural (jam’), baik plural
tanpa gender, seperti Jamak Taksîr, misalnya: ar-rijâl, ataupun
plural yang bergender, seperti Jamak Mudzakkar Sâlim (laki-laki plural),
misalnya: al-muslimûn atau Jamak Mu’annats Sâlim (perempuan
plural), misalnya: al-muslimât umumnya adalah partikel “al”
yang berkonotasi genus yang disebut “Al”  al-Jinsiyyah atau yang  berkonotasi penyedotan seluruh genus yang
biasanya disebut “Al” al-Istighrâqiyyah. Contoh firman Allah
SWT. yang menyatakan:
} لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاءِ
نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ
أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا
{
Bagi laki-laki ada
hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi wanita ada
hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit
atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.
(QS. an-Nisâ’ [4]: 7).
2) Singular yang
Disertai dengan Partikel “Al”
Partikel “al”
yang menyertai lafazh yang berbentuk singular (mufrad), umumnya adalah
partikel “Al”  al-Jinsiyyah,
atau al-Istighrâqiyyah, dan bukan partikel “al” yang
berkonotasi zaman terjadinya peristiwa, yang biasa disebut “Al”
al-Ahdiyyah,
seperti dalam lafazh: al-Ghârr, dalam surat at-Taubah:
40, yang berkonotasi gua Tsûr, bukan yang lain. Maka, lafazh al-Ghârr  tersebut tidak bisa diidentifikasi sebagai lafazh
umum, karena telah mempunyai konotasi tertentu, sebagai akibat masuknya
partikel “Al” al-Ahdiyyah. Mengenai partikel “Al”  al-Jinsiyyah, atau al-Istighrâqiyyah yang
menyertai lafazh yang berbetuk singular, contohnya seperti firman Allah SWT.:
} الزَّانِيَةُ
وَالزَّانِي
فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا
مِائَةَ جَلْدَةٍ
{
Perempuan yang
berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari
keduanya seratus kali dera.
(QS. an-Nûr [24]: 2).
3) Isim yang
Dima’rifatkan Dengan Idhâfah
Ism al-Ma’rifat adalah kata benda yang menunjukkan makna tertentu, bisa berbentuk (1) kata
ganti (ad-dhamîr), (2) nama (al-‘alam), (3) penunjuk (al-isyârah),
(4) sambung (al-mawshûl), (5) kata benda yang diserati dengan partikel
“al”, (6) disandarkan (mudhâf) kepada salah satu bentuk Ma’rifat
sebelumnya, atau (7) obyek seruan tertentu (al-munâdâ al-maqshûdah).[1] Namun, dari sekian bentuk ism al-ma’rifat tadi yang dimaksud di
sini adalah bentuk ke-6, yaitu kata benda yang di-ma’rifat-kan dengan idhâfah
(disandarkan) pada salah satu bentuk ma’rifat. Misalnya, firman
Allah SWT. yang menyatakan:
} يُوصِيكُمُ
اللَّهُ فِي أَوْلاَدِكُمْ
{
Allah
mensyari`atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu.
(QS. an-Nisâ’
[4]: 11).
4) Isim Nakirah Dalam Konteks Penafian, Syarat atau Larangan
Ism Nakirah adalah kata benda yang tidak menunjukkan makna tertentu, dan merupakan
kebalikan Ma’rifat. Karena itu, ia bukan merupakan salah satu bentuk
dari ketujuh bentuk ism al-Ma’rifat di atas. Misalnya, lafazh: Basyar,
Fâsiq[un]
dan Qawm –masing-masing dalam konteks penafian, syarat
dan larangan– dalam firman Allah SWT.:
} مَا أَنْزَلَ
اللَّهُ عَلَى بَشَرٍ مِنْ شَيْءٍ
{
Allah tidak akan
menurunkan apapun kepada manusia.
(QS. al-An’âm [6]: 91).
} إنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ
بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوْا
{
Jika ada orang
fasik membawa berita kepadamu, maka periksalah.
(QS. al-Hujurât
[49]: 06).
} لاَ يَسْخَرْ قَوْمٌ
مِنْ قَوْمٍ
{
Hendaknya suatu
kaum tidak membanggakan diri terhadap kaum lain.
(QS. al-Hujurât
[49]: 11).
5) Isim
Syarat 
Ism Syarat adalah kata yang digunakan untuk menyusun struktur kalimat bersyarat,
seperti: Man (siapa saja) atau (apa saja), dan lain-lain.
Misalnya, lafazh: Man dandalam firman Allah SWT.:
} فَمَنْ
شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
{
Siapa saja di
antara kalian yang menyaksikan bulan (Ramadhan), maka hendaknya berpuasalah
pada bulan tersebut.
(QS. al-Baqarah [2]: 185).
} وَمَا
تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لاَ تُظْلَمُونَ
{
Dan apa saja
harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan
cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).
(QS. al-Baqarah
[2]: 272).
6) Isim Istifhâm
Ism Istifhâm adalah kata yang digunakan untuk menyusun struktur kalimat bertanya,
seperti: Man (siapakah) atau Mâdzâ (apakah), dan lain-lain.
Misalnya, lafazh: Man dan Mâdzâ dalam firman Allah SWT.:
} مَنْ فَعَلَ هَذَا بِآلِهَتِنَا {
Siapakah yang
melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami.
(QS. al-Anbiyâ’
[21]: 59).
} مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلاً {
Apakah maksud
Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?
(QS. al-Baqarah [2]: 26).
7) Isim Mawshûl
Ism Mawshûl adalah kata yang digunakan untuk menyambung bagian-bagian dalam struktur
kalimat, seperti: Man (siapa saja atau semua), (apa saja atau
semua), yang masing-masing berkonotasi plural, atau al-Ladzîna, al-Lâî
dan lain-lain. Misalnya, lafazh: Man, Mâ atau al-Ladzîna dalam
firman Allah SWT.:
} وَلِلَّهِ يَسْجُدُ
مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَظِلاَلُهُمْ
بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ
{
Hanya kepada
Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan
kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu
pagi dan petang hari.
(QS. ar-Ra’d [13]: 15).
} وَأُحِلَّ
لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ
{
Dan dihalalkan
bagi kamu selain yang demikian (yaitu).
(QS. an-Nisâ’ [4]: 24).
} وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ
بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا
{
Orang-orang yang
meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para
isteri itu) menangguhkan dirinya (ber`iddah) empat bulan sepuluh hari.
(QS. al-Baqarah
[2]: 234).
8) Plural yang
Berbentuk Nakirah
Misalnya, lafazh: Rijâl[un]
dalam firman Allah SWT.:
} رِجَالٌ لاَ تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلاَ بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ
وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ
الْقُلُوبُ وَالأَبْصَارُ
{
laki-laki yang
tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari
mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan
zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan
menjadi goncang.
(QS. an-Nûr [24]: 37).
9) Lafazh:
Kull, Jamî’, Ajma’ûn dan Akta’ûn
Misalnya, lafazh: Kull,
Jamî’, Ajma’ûn
dan Akta’ûn dalam firman Allah SWT.:
} كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ {
Agar dibalasi
tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya.
(QS. al-Jâtsiyah
[45]: 22).
} إِنْ كَانَتْ
إِلاَّ صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ
{
Tidak adalah
teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua
dikumpulkan kepada Kami.
(QS. Yasin [36]: 53).
} لأَمْلأَنَّ
جَهَنَّمَ مِنْكَ وَمِمَّنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ أَجْمَعِينَ
{
Sesungguhnya Aku
pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang
yang mengikuti kamu di antara mereka kesemuanya.
(QS. Shad [38]:
85)
2.1.2. Shîghat
Khusus
Shîghat yang digunakan untuk membentuk lafazh dengan konotasi khusus, bisa
diidentifikasi sebagai berikut:
1) Ism al-‘Alam
Ism al-Alam adalah kata yang digunakan untuk menunjukkan nama tertentu, baik nama
manusia, tempat, waktu dan lain-lain. Masing-masing bisa dicontohkan seperti Muhammad,
Madînah
dan Ramadhân. Misalnya, firman Allah:
} وَمَا مُحَمَّدٌ
إِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ
{
Muhammad itu
tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa
orang rasul.
(QS. Ali ‘Imrân [3]: 144).
} وَمِمَّنْ
حَوْلَكُمْ مِنَ الأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ
مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لاَ تَعْلَمُهُمْ
{
Di antara
orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan
(juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya.
Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka.
(QS. at-Taubah [9]: 101).
2) Ism al-Ma’rifat
Dengan Partikel “Al” al-Ahdiyyah
Ism al-Ma’rifat yang di-ma’rifat-kan dengan partikel “Al” al-Ahdiyyah, misalnya
lafazh: al-Ghâr dalam firman Allah:
} إِلاَّ
تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ
اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ
إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
{
Jikalau kamu
tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu)
ketika orang-orang kafir (musyrikin Makah) mengeluarkannya (dari Makah) sedang
dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua (Tsûr), di
waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita,
sesungguhnya Allah beserta kita.”
(QS. at-Taubah [9]: 40).
3) Al-Musyâr Ilayh
Al-Musyâr Ilayh adalah kata benda yang ditunjuk oleh kata penunjuk (ism al-Isyârah).
Misalnya, lafazh: al-Kitâb dalam firman Allah:
} ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ
هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
{
Inilah adalah
kitab yang tiada sedikitpun keraguan di dalamnya; merupakan petunjuk bagi
orang-orang yang bertakwa
(QS. al-Baqarah [2]: 2).
4) Angka Tertentu
Angka (al-‘adad)
adalah kata hitung, sekalipun artinya lebih dari satu, misalnya 20, 30 atau
100, statusnya tetap merupakan lafazh khusus. Misalnya, lafazh: Mi’ah
dalam firman Allah:
} الزَّانِيَةُ
وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ
{
Perempuan yang
berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari
keduanya seratus kali dera.
(QS. an-Nûr [24]: 2).
2.1.3. Taghlîb
Taghlîb adalah istilah yang digunakan oleh orang Arab untuk menyebut penggunaan lafazh
umum yang meliputi ujud derivat yang sejenis dan tidak, dengan hanya
menggunakan satu lafazh, karena dominannya jenis yang disebutkan. Misalnya,
penggunaan lafazh: Rijâl yang secara harfiah berarti laki-laki, kadang
digunakan untuk menyebut sekelompok orang yang terdiri dari laki-laki dan
perempuan. Dalam hal ini, Taghlîb bisa diklasifikasikan menjadi tiga:
1) Penggunaan Lafazh Mudzakkar (Laki-laki) Meliputi Perempuan
Ini bisa
diidentifikasi melalui penggunaan lafazh yang berkonotasi laki-laki, namun di
dalamnya include perempuan. Misalnya, lafazh: Rijâl dalam firman
Allah:
} مِنَ
الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ
فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا
تَبْدِيلاً
{
Di antara
orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka
janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara
mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah
(janjinya).
(QS. al-Ahzâb [33]: 23).
Di lihat dari keumuman lafazh:
âhadû
(apa yang telah mereka janjikan) –sekalipun konteks turunnya ayat
ini berkaitan dengan jihad, yang nota bene hanya diwajibkan untuk kaum
pria– maka penggunaan lafazh: Rijâl[un] di sini bisa disebut Taghlîb,
yang meliputi laki-laki dan perempuan.
2) Penggunaan Lafazh Bagi yang Berakal Meliputi yang Tak Berakal
Ini bisa
diidentifikasi melalui penggunaan lafazh yang digunakan untuk menyeru yang
berakal dan tidak. Misalnya, lafazh: Man yang secara harfiah berarti
“yang berakal”, digunakan juga untuk konteks “yang tidak
berakal” dalam firman Allah:
} وَرَبُّكَ
أَعْلَمُ بِمَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ
{
Dan Tuhanmu
lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di bumi.
(QS. al-Isrâ’
[17]: 55).
3) Penggunaan Sifat Bagi yang Berakal Meliputi yang Tak Berakal
Ini bisa
diidentifikasi melalui penggunaan lafazh dalam bentuk sifat yang digunakan
untuk menyeru yang  berakal dan tidak.
Misalnya, lafazh: Sâjidîn dan Hum yang secara harfiah berarti
“bersujud” dan “mereka (manusia)” digunakan juga untuk
konteks makhluk “yang tidak berakal” seperti bintang, matahari dan
bulan, sebagaimana dalam firman Allah:
} إِنِّي رَأَيْتُ
أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ
{
Sesungguhnya aku
bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud
kepadaku.
(QS. Yûsuf [12]: 4).
2.2. Takhshîsh Umum
Takhshîsh adalah bentuk pengalihan lafazh yang asalnya berkonotasi umum menjadi
khusus. Dengan takhshîsh ini, maka lafazh yang asalnya umum, konotasinya
akan berubah mengikuti spesifikasi lafazh yang mengkhususkannya. Dalam hal ini,
ada dua bentuk: Muttashil (tidak terpisah) dan Munfashil (terpisah).
2.2.1. Takhshîsh Tidak Terpisah
Takhshîsh Muttashil (tidak terpisah) adalah takhshîsh yang tidak
berdiri sendiri, namun dinyatakan bersama konteks lafazh umum dalam satu nash
yang di-takhshîsh, dengan makna yang berhubungan dengan lafazh umum,
serta menjadi bagian dari kalimat yang mengandung lafazh umum. Takhshîsh  ini bisa diuraikan sebagai berikut:
1) Istitsnâ’
(Pengecualian)
Takhshîsh dengan istitsnâ’ (pengecualian) ini biasanya menggunakan adât istitsnâ’
(perangkat untuk mengecualikan), seperti Illâ, Ghayr[a], Siwâ,
Khalâ, Hâsyâ, ‘Adâ, Mâ ‘Adâ, Mâ Khalâ
dan Lays[a]. Takhshîsh
dengan istitsnâ’ (pengecualian) ini mempunyai konotasi mengeluarkan
konteks yang jatuh setelah adât istitsnâ’, atau yang biasa disebut Mustatsnâ
 dari konteks sebelumnya, atau yang
biasa disebut Mustatsnâ Minhu.
1.
Illâ: Perangkat ini hanya bisa berfungsi untuk men-takhshîsh jika dalam
konteks istitsnâ’ muttashil (tidak terpisah). Artinya, antara konteks
yang jatuh setelah adât istitsnâ’ (Mustatsnâ) dengan
konteks sebelumnya (Mustatsnâ Minhu) adalah satu jenis. Misalnya, firman
Allah SWT.:
} مَنْ كَفَرَ
بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ
بِالإِيمَانِ
{
Barangsiapa yang
kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali
orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap teguh dalam beriman (dia tidak
berdosa).
(QS. an-Nahl [16]: 106).
Lafazh: Man
ukriha wa qalbuh[u] muthmainn[un] bi al-îmân
(orang yang dipaksa kafir
padahal hatinya tetap teguh beriman) adalah Mustatsnâ yang dikeluarkan
dari keumuman konteks sebelum Illâ (kecuali), Mustatsnâ Minhu yaitu:
Man kafar[a] bi-Llâh[i] min ba’d[i] îmânih[i] (siapa saja yang kafir
kepada Allah sesudah dia beriman). Kedua konteks Mustatsnâ dan Mustatsnâ
Minhu
tersebut juga sejenis, manusia dengan manusia, bukan malaikat dengan
iblis, misalnya. Maka, ketika perangkat Illâ dalam struktur kalimat yang
terpisah, misalnya firman Allah:
} وَإِذْ قُلْنَا
لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاّ إِبْلِيسَ
{
Dan (ingatlah)
ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,”
maka sujudlah mereka kecuali Iblis.
(QS. al-Baqarah [2]: 34).
Lafazh: Iblîs
dalam konteks di atas memang dikeluarkan dari makhluk yang telah bersujud
kepada Adam, tetapi konteks pengeluaran tersebut bukan dalam konteks takhshîsh.
Sebab, iblis adalah genus yang berbeda dengan malaikat. Maka dalam hal
ini, Illâ tidak berfungsi men-takhshîsh, karena berada dalam konteks yang terpisah, atau tidak sejenis.
2.
Ghayr: Perangkat ini kadang mempunyai maksud yang sama dengan Illâ, sebagaimana
dalam firman Allah:
} لاَ يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ
الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ
{
Tidaklah sama
antara mu’min yang duduk (yang tidak turut berperang), kecuali yang mempunyai udzur.
(QS. an-Nisâ’ [4]: 95).
Frasa: Ulî
ad-dharar
(yang mempunyai udzur), telah dikeluarkan dari konteks Mustatsnâ
Minhu
-nya, al-Qâ’idûna min al-mu’minîn (orang-orang mukmin yang
duduk tidak berjihad), sehingga Ulî ad-dharar telah dikecualikan dari
keumuman al-Qâ’idûna min al-mu’minîn.
2) Syarat
Perangkat syarat (adât
as-syarth
) ini meliputi: Idzâ (jika), Man (siapa saja), Mahmâ
(bila), Haitsumâ (ketika), Aynamâ (di mana saja).
Misalnya, firman Allah:
} وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ أَزْوَاجُكُمْ إِنْ
لَمْ يَكُنْ لَهُنَّ وَلَدٌ
{
Dan bagimu
(suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika
mereka tidak mempunyai anak.
(QS. an-Nisâ’ [4]: 12).
Frasa: In lam yakun lahunna
walad[un]
(jika mereka tidak mempunyai anak), telah mengeluarkan konteks
sebelumnya, yaitu: separoh bagian harta yang ditinggalkan isteri (mayit).
Artinya, dengan adanya anak laki-laki, maka suami tidak lagi mendapatkan
setengah dari harta waris isterinya.
3) Sifat
Takhshîsh dengan sifat, antara lain, seperti dalam firman Allah:
} وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ مِنْكُمْ طَوْلاً أَنْ
يَنْكِحَ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ فَمِنْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ مِنْ
فَتَيَاتِكُمُ الْمُؤْمِنَاتِ
{
Dan barangsiapa
di antara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini
wanita merdeka yang beriman, ia boleh mengawini pemudi wanita yang beriman,
dari budak-budak yang menjadi milik kamu.
(QS. an-Nisâ’ [4]: 25).
Sifat: al-Mu’minât (beriman),
yang menjadi sifat fatayâtikum (para pemudi wanita kamu), telah men-takhshîsh keumuman fatayâtikum –Muslimah dan non-Muslimah– yang menjadi miliki orang mukmin.
Dengan sifat al-Mu’minât (beriman) tersebut, berarti hanya yang beriman saja yang
boleh dikawini. Selain itu, tidak dibolehkan.
4) Ghâyah (Target)
Ghâyah mempunyai dua perangkat (adât), yaitu: Ilâ (sampai) dan Hattâ
(hingga). Takhshîsh dengan Ghâyah ini, misalnya:
} فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى
الْمَرَافِقِ
{
Maka basuhlah
wajah dan tangan kamu sampai siku-siku.
(QS. al-Mâidah [5]: 6).
Target: Ilâ l-Marâfiq (sampai
ke siku-siku) telah men-takhshîsh keumuman aydiyakum, yang berkonotasi umum dari ujung jari sampai lengan,
sehingga yang wajib dibasuh hanya sebatas ujung jari hingga siku-siku.
2.2.2. Takhshîsh Terpisah
Takhshîsh Munfashil (terpisah) adalah takhshîsh yang berdiri sendiri,
terpisah dari konteks lafazh umum. Takhshîsh  ini bisa diidentifikasi melalui sejumlah
dalil sam’î, yaitu al-Qur’an, as-Sunnah, Ijma’ Sahabat dan Qiyas. Dalam
hal ini, bisa diklasifikasikan menjadi:
1) Takhshîsh al-Qur’an dengan al-Qur’an
Takhshîsh al-Qur’an dengan al-Qur’an ini misalnya terlihat pada masing-masing
dalil umum dan khusus berikut ini:
 } وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ
أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا
{
Orang-orang yang
meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para
isteri itu) menangguhkan dirinya (ber`iddah) empat bulan sepuluh hari.
(QS. al-Baqarah
[2]: 234).
 } وَأُولاَتُ الأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ
يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ
{
Dan perempuan-perempuan
yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.
(QS. at-Thalâq [65]: 4).
Isteri-isteri –baik yang hamil
maupun tidak– yang ditinggal mati suaminya, masa ‘iddah-nya, menurut
surat al-Baqarah: 234 adalah 4 bulan 10 hari. Namun, keumuman konteks ini
dikecualikan dari isteri-isteri yang mengandung, sehingga dia wajib menunggu
masa ‘iddah-nya hingga melahirkan.
2) Takhshîsh al-Qur’an dengan as-Sunnah
Takhshîsh al-Qur’an dengan as-Sunnah ini misalnya terlihat pada masing-masing dalil
umum dan khusus berikut ini:
 } يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلاَدِكُمْ
لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الأُنْثَيَيْنِ
{
Allah
mensyari`atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu:
bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan.
(QS. an-Nisâ’
[4]: 11).
 « الْقَاتِلُ لاَ يَرِثُ »
Orang yang
membunuh tidak bisa mewarisi.
(HR. at-Tirmîdzi dari Abû Hurairah).
Anak laki-laki bisa mendapatkan dua
bagian harta waris, namun hadits di atas mengeluarkan anak yang membunuh orang
tuanya (mayit) dari keumuman anak yang berhak mendapatkan harta warisan.
3) Takhshîsh al-Qur’an dengan Ijma’ Sahabat
Takhshîsh al-Qur’an dengan Ijma’ Sahabat ini misalnya terlihat pada masing-masing
dalil umum dan khusus berikut ini:
 } وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ
ثَمَانِينَ جَلْدَةً
{
Dan orang-orang
yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak
mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan
puluh kali dera.
(QS. an-Nûr [24]: 4).
Keumuman frasa: wa-ladzîna
yarmûna al-muhshanât
(orang yang menuduh orang baik-baik berzina) yang
kemudian dikenai sanksi 80 kali dera, telah dikecualikan dari budak berdasarkan
Ijma’ Sahabat. Dalam hal ini, Ijma’ Sahabat menyepakati, bahwa budak yang
menuduh orang baik-baik berzina hanya didera 40 kali. Dengan kata lain, ayat di
atas konotasinya khusus untuk orang merdeka.
4) Takhshîsh al-Qur’an dengan Qiyas
Takhshîsh al-Qur’an dengan Qiyas ini misalnya terlihat pada masing-masing dalil umum
dan khusus berikut ini:
 } الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ {
Perempuan yang
berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya
seratus kali dera.
(QS. an-Nûr [24]: 2).
Budak yang melakukan zina telah
dikecualikan dari keumuman lafazh: az-zâniyyah dan az-zâni (perempuan
dan laki-laki pezina). Ini dianalogikan pada nash al-Qur’an yang menyatakan:
 } فَإِنْ أَتَيْنَ بِفَاحِشَةٍ فَعَلَيْهِنَّ
نِصْفُ مَا عَلَى الْمُحْصَنَاتِ مِنَ الْعَذَابِ
{
Apabila mereka (budak)
telah menjaga diri dengan kawin, kemudian mereka mengerjakan perbuatan yang
keji (zina), maka atas mereka setengah hukuman dari hukuman wanita-wanita
merdeka yang bersuami.
(QS. an-Nisâ’ [4]: 25).
Ayat ini menyatakan, bahwa hukuman
budak ketika melakukan perbuatan keji adalah separoh sanksi orang merdeka. Maka,
dalam kasus zina, ketika secara umum dinyatakan bahwa perempuan dan laki-laki
yang berzina akan dicambuk 100 kali, maka berdasarkan hasil analog terhadap
surat an-Nisâ’: 25 di atas bisa disimpulkan, bahwa untuk budak hanya dikenakan
50 kali cambukan.
5) Takhshîsh as-Sunnah dengan al-Qur’an
Takhshîsh al-Sunnah dengan al-Qur’an ini misalnya terlihat pada masing-masing dalil
umum dan khusus berikut ini:
 « أَنَّهُ لاَ يَأْتِيكَ مِنَّا أَحَدٌ وَإِنْ كَانَ
عَلَى دِينِكَ إِلاَّ رَدَدْتَهُ إِلَيْنَا »
Bahwa tidak
seorang pun –laki-laki atau perempuan– di antara kami (orang-orang Musyrik
Quraisy) yang datang kepadamu (Muhammad) –jika dia memeluk agama kamu (Islam)–
kecuali kamu kembalikan kepada kami.
(HR. Bukhâri).
Keumuman lafazh: Ahad (seorang
laki-laki atau perempuan) telah dikhususkan untuk laki-laki, setelah di-takhshîsh
dengan firman Allah:
 } يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ
فَامْتَحِنُوهُنَّ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ
مُؤْمِنَاتٍ فَلاَ تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ
{
Hai orang-orang
yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang
beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui
tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka
(benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami
mereka) orang-orang kafir.
(QS. al-Mumtahanah [60]: 10).
Dengan kata lain, hadits di atas
konotasinya khusus untuk kaum laki-laki, tetapi tidak untuk kaum wanita,
setelah dikecualikan dari keumuman lafazh: ahad sebelumnya.
6) Takhshîsh as-Sunnah dengan as-Sunnah
Takhshîsh al-Sunnah dengan as-Sunnah ini misalnya terlihat pada masing-masing dalil
umum dan khusus berikut ini:
 « فِيمَا سَقَتِ السَّمَاءُ وَالْعُيُونُ أَوْ كَانَ
عَثَرِيًّا الْعُشْرُ »
Terhadap tanaman
yang diairi dengan hujan, mata air atau pohon korma yang tumbuh tanpa
pengairan, terdapat kewajiban zakat 1/10.
(HR. Bukhâri).
Keumuman lafazh: Fîmâ saqat (terhadap
tanaman yang diairi) telah di-takhshîsh dengan sabda Nabi saw.:
 « وَلَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسَةِ أَوْسُقٍ صَدَقَةٌ »
Terhadap harta
yang kurang dari 5 Wasaq tidak ada kewajiban zakat.
(HR. Bukhâri
dari Abû Sa’îd al-Khudri).
Dengan demikian,
keumuman hadits pertama telah dikhususkan untuk konteks tanaman atau
buah-buahan yang jumlahnya mencapai 5 Wasaq atau lebih. Kurang dari itu, tidak
ada kewajiban zakatnya, baik 1/10 ataupun 1/20 dari hasil panenya.
7) Takhshîsh as-Sunnah dengan Ijma’ Sahabat
Takhshîsh al-Sunnah dengan Ijma’ Sahabat ini misalnya terlihat pada masing-masing
dalil umum dan khusus berikut ini:
 « فَإِنَّهُ لاَ يَنْبَغِي لِجِيفَةِ مُسْلِمٍ أَنْ تُحْبَسَ
بَيْنَ ظَهْرَانَيْ أَهْلِهِ »
Tidak selayaknya
jenazah seorang Muslim ditahan di tengah-tengah keluarganya.
(HR. Abû Dâwud
dari al-Husayn bin Wahwah).
Keumuman konteks hadits di atas,
yaitu larangan menanggung-nangguhkan pemakaman jenazah di tengah keluarganya,
telah dikecualikan dari penangguhan pemakaman jenazah karena kesibukan
mengangkat khalifah. Ini berdasarkan takhshîsh Ijma’ Sahabat yang menyepakati penangguhan jenazah Rasul di tengah keluarganya,
sementara mereka sibuk membahas calon pengganti Rasul dalam memimpin negara.
8) Takhshîsh as-Sunnah dengan Qiyas
Takhshîsh al-Sunnah dengan Qiyas ini misalnya terlihat pada masing-masing dalil umum
dan khusus berikut ini:
 « أَاللَّهُ أَمَرَكَ أَنْ تَأْخُذَ هَذِهِ الصَّدَقَةَ مِنْ
أَغْنِيَائِنَا فَتَقْسِمَهَا عَلَى فُقَرَائِنَا فَقَالَ النَّبِيُّ
r اللَّهُمَّ نَعَمْ »
Apakah Allah
memerintahkan kamu untuk mengambil zakat ini dari orang-orang kaya di antara
kami, kemudian dibagikan kepada orang-orang fakir di antara kami. Maka, Nabi
saw. menjawab: Ya.
(HR. Bukhâri  dari Anash
bin Mâlik).
Keumuman konteks hadits di atas
telah di-takhshîsh dengan Qiyas, sehingga konteks hadits
tersebut berlaku untuk sedekah wajib (zakat). Karena berdasarkan Qiyas, bisa
disimpulkan, bahwa sedekah sunah boleh diberikan kepada orang fakir yang Kafir,
sementara zakat hanya boleh diberikan kepada orang fakir yang Muslim.
9) Takhshîsh
Manthûq
dengan Mafhûm
Takhshîsh Manthûq dengan Mafhûm ini misalnya terlihat pada
masing-masing dalil umum dan khusus berikut ini:
 « وَفِي الْغَنَمِ فِي كُلِّ أَرْبَعِينَ شَاةً شَاةٌ إِلَى
عِشْرِينَ وَمِائَةٍ »
Terhadap
kambing, dalam setiap 40 puluh kambing ada kewajiban zakat seekor kambing
hingga mencapai 120 ekor.
(HR. Abû Dâwud dari Sâlim dari bapaknya).
Keumuman lafazh: al-Ghanam yang
secara harfiah berarti kambing secara umum, baik yang digembala di padang gembalaan umum, milik negara ataupun tidak, dalam hadits tersebut telah di-takhshîsh dengan Mafhûm Mukhâlafah hadits:
 « وَفِي سَائِمَةِ الْغَنَمِ إِذَا كَانَتْ أَرْبَعِينَ
فَفِيهَا شَاةٌ إِلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ »
Terhadap kambing
yang digembala di padang gembalaan umum, jika telah mencapai 40 ekor, maka ada
kewajiban zakat seekor kambing hingga mencapai 120 ekor.
(HR. Abû Dâwud).
Sâimah al-ghanam adalah kambing yang digembalakan di padang gembalaan umum atau milik
negara. Sifat tersebut bisa diambil Mafhûm Mukhâlafah (konotasi
terbalik)-nya. Artinya, jika kambing tersebut tidak digembalakan di padang
gembalaan umum atau milik negara, misalnya diternak dengan fasilitas, makanan,
minuman dan lain-lain sendiri, berarti kambing tersebut tidak wajib dizakati,
sekalipun telah mencapai 40 ekor.
2.3. Kaidah Lain
Seputar Umum dan Khusus
Ada beberapa
konteks umum dan khusus di luar ketentuan di atas yang perlu dikemukakan.
Antara lain, umum dan khusus dalam konteks soal-jawab, sebab turunnya ayat
al-Qur’an, peluang keumuman lafazh setelah di-takhshîsh.
2.3.1. Umum dan
Khusus dalam Konteks Soal-Jawab
Jika ada khithâb
(seruan) dinyatakan sebagai jawaban atas pertanyaan penanya yang
membutuhkan jawaban, maka jawaban tersebut bisa jadi tidak berdiri sendiri,
atau berdiri sendiri.
1) Jawaban yang
Tidak Berdiri Sendiri
Jika jawaban
tersebut tidak berdiri sendiri, maka status jawaban tersebut mengikuti
pertanyaannya, baik dari aspek keumuman maupun kekhususannya. Mengenai status
keumuman jawaban –seiring dengan keumuman pertanyaan– tersebut memang tidak
ada perbedaan pendapat. Ini, misalnya, seperti hadits:
 « أَيَنْقُصُ الرُّطَبُ إِذَا يَبِسَ قَالُوا نَعَمْ فَنَهَى
عَنْ ذَلِكَ »
Apakah kurma
basah itu akan berkurang, jika kering? Mereka (sahabat) menjawab: Benar. Maka,
beliau saw. melarangnya.
(HR. at-Tirmîdzi dari Sa’ad).
Mengenai status kekhususan,
sebagaimana takhshîsh dalam kasus Abî Bardah seputar hewan korban
kambing bandot (al-ma’z), usia 6 bulan hingga 1 tahun (jadz’ah),
Nabi menjawab:
 « وَهِيَ خَيْرُ نَسِيكَتَيْكَ وَلاَ تُجْزِئُ جَذَعَةٌ
بَعْدَكَ »
Itu merupakan
sebaik-baik sembelihan kamu untuk mendekatkan diri kepada Allah, namun Jadz’ah
(kambing bandot usia 6-12 bulan) tidak akan mencukupi setelah kamu.
(HR. at-Tirmîdzi).
2) Jawaban yang
Berdiri Sendiri
Jika jawaban
tersebut berdiri sendiri, maka bisa diklasifikasikan menjadi tiga bentuk:
1.
Jika pertanyaan
dan jawabannya selevel dari aspek keumuman dan kekhususannya, maka status
jawaban tersebut mengikuti pertanyaannya, sebagaimana dalam kasus jawaban yang
tidak berdiri sendiri. Misalnya:
 « أَفَنَتَوَضَّأُ مِنْ مَاءِ الْبَحْرِ فَقَالَ رَسُولُ
اللَّهِ
r هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ »
Apakah kami bisa
berwudhu dengan air laut? Rasulullah saw. menjawab: Laut itu airnya suci.
(HR. at-Tirmîdzi
dari Abû Hurairah).
2.
Jika pertanyaannya
lebih umum daripada jawabannya, maka jawaban tersebut statusnya khusus. Misalnya,
ketika ‘Umar bertanya mengenai apa yang dihalalkan terhadap wanita yang haid,
Nabi saw. menjawab:
 « لَكَ مِنْهَا فَوْقَ الإِزَرِ »
Kamu berhak
menikmati darinya (isteri yang sedang haid) apa yang ada di atas sarung.
(HR. at-Tirmîdzi).
Dalam hal ini,
jawabannya lebih khusus ketimbang pertanyaannya. Sebab, pertanyaannya meliputi
apa saja yang dihalalkan dari wanita (isteri) yang tengah haid, namun
jawabannya spesifik untuk untuk sesuatu yang ada di luar sarung. Berarti hukum
tersebut secara spesifik berlaku untuk jawaban tadi, sementara boleh-tidaknya
bagian-bagian yang ada di dalam sarung, memerlukan dalil lain.
3.
Jika jawabannya
lebih umum daripada pertanyaannya, maka yang berlaku adalah keumuman jawaban
tersebut.
2.3.2. Umum dan Khusus dalam Konteks Sebab Turunnya Wahyu
Dalam konteks
sebab turunnya wahyu –baik al-Qur’an maupun as-Sunnah– baik karena pertanyaan
atau peristiwa tertentu, maka ulama’ telah menetapkan kaidah kulliyah
yang menyatakan:
 « اَلْعِبْرَةُ بِعُمُوْمِ اللَّفْظِ لاَ بِخُصُوْصِ السَّبَبِ
»
Hukum yang
berlaku didasarkan pada keumuman lafazh, bukan sebabnya yang spesifik.
Misalnya, ayat Kalâlah, surat
an-Nisâ’: 176 diturunkan berkaitan dengan pertanyaan Jabir bin ‘Abdillah.[2] Ayat Li’ân, surat
an-Nûr: 4 diturunkan berkaitan dengan pengaduan laki-laki Anshar terhadap
isterinya kepada Rasulullah saw.[3] Namun, hukum-hukum
tersebut telah dipraktekkan oleh Rasul dan para sahabat dalam kasus-kasus
serupa yang lain. Demikian juga sabda Nabi mengenai penyamakan kulit bangkai
hewan, yang dinyatakan ketika beliau melihat bangkai kambing budak Maymunah:
 « هَلاَّ أَخَذْتُمْ إِهَابَهَا فَدَبَغْتُمُوهُ
فَانْتَفَعْتُمْ بِهِ فَقَالُوا إِنَّهَا مَيْتَةٌ فَقَالَ إِنَّمَا حَرُمَ
أَكْلُهَا »
Mengapa tidak
kamu ambil kulitnya, kemudian kamu samak, dan kamu manfaatkan. Mereka (para
sahabat) bertanya: ‘Itu kan bangkai?’ Beliau saw. menjawab: Yang diharamkan
hanya memakannya.
(HR. Muslim dari Ibn ‘Abbâs).
Demikianlah, semua
lafazh umum yang dinyatakan berkaitan dengan kasus tertentu, atau pertanyaan
tertentu, maka keumuman lafazhnya tetap bisa digunakan. Seperti kata as-Syâfi’i:
 « السَّبَبُ لاَ يَصْنَعُ شَيْئًا وَإِنَّمَا تَصْنَعُ
الأًلْفَاظُ »
Sebab, tidak
akan membentuk apapun, namun lafazhlah sejatinya yang membentuk (makna).
[4]
2.3.3. Peluang Keumuman Lafazh setelah Adanya Takhshîsh
Mengenai peluang
menarik kesimpulan (istidlâl) dengan dalil umum setelah di-takhshîsh tetap
terbuka.
Pertama, karena lafazh umum memang meliputi keseluruhan konteksnya, sehingga tetap
menjadi hujah terhadap bagian-bagian dari keseluruhan tersebut. Maka,
dikeluarkannya bagian dari sebagian konteksnya melalui dalil yang
mengkhususkan, tidak menyebabkan penunjukan lafazh bagain lain yang tersisa
menjadi hilang.
Kedua, penarikan kesimpulan terhadap dalil umum yang di-takhshîsh dalam
konteks di luar yang di-takhshîsh memang tetap bisa. Contohnya:
« وَلاَ يَحِلُّ لامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ
بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ
وَاحِدٍ إِلاَّ وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ »
Tidak dihalalkan
bagi wanita yang beriman kepada Allah, Rasul-Nya serta Hari Akhir untuk
bepergian sejauh perjalanan sehari semalam, kecuali bersamanya disertai
Mahramnya.
(HR. Ahmad dari Abû Hurairah).
Hadits ini telah
di-takhshîsh dengan hadits wanita yang telah memeluk Islam di Dâr
al-Kufr,
yang diberi hak untuk meninggalkan negerinya menuju Dâr al-Islâm
tanpa disertai mahram. Ini didasarkan pada pembenaran Rasul terhadap Ummu
Salamah yang tidak disertai mahram, dan juga suami.[5] Namun, keumuman hadits tersebut tetap berlaku di luar yang di-takhshîsh,
yaitu selain wanita yang hijrah ke Dâr al-Islâm.
3. Mutlak dan Muqayyad
Muthlaq adalah setiap lafazh yang menunjukkan madlûl (maksud) yang
meliputi  semua jenisnya. Dikatakan
“yang meliputi semua jenisnya” supaya nama, ism al-Ma’rifat yang
di-ma’rifat-kan dengan partikel “al” al-Ahdiyyah, atau al-Istighrâqiyyah,
serta bentuk plural yang di-ma’rifat-kan. Sebab, “yang meliputi
semua jenisnya” mempunyai konotasi digunakannya lafazh tersebut untuk
semua derivat jenis, tanpa adanya penentuan yang mana. Misalnya, lafazh: Muslim
bisa digunakan untuk menyebut semua individu Muslim; Ini muslim, dan itu
juga muslim. Namun, ini tidak mungkin ketika kita menggunakan nama, seperti: Muhammad
atau ‘Alî untuk menyebut semua jenis Muhammad atau ‘Ali. Ia digunakan
hanya untuk menyebut individu tertentu, dan tidak yang lain. Demikian juga
ketika kita menyatakan: al-Muslim —dengan partikel “al” al-Istighrâqiyyah–
maka, yang dimaksud adalah semua individu yang masuk dalam jenisnya,
Muslim. Berbeda dengan: Muslim –tanpa partikel “al”– adalah lafazh
mutlak, yang mempunyai konotasi seorang Muslim, yang tidak dibatasi jenisnya. Sementara
muqayyad adalah lafazh yang telah dihilangkan cakupan jenisnya, baik
secara kullî maupun juz’î.
3.1. Lafazh Mutlak
dan Muqayyad
Maka, bisa
disimpulkan, bahwa lafazh mutlak dengan konotasi yang telah dijelaskan, adalah ism
an-Nakirah
hakiki dalam konteks kalimat positif (itsbât),
bukan negatif (nafy). Dikatakan “ism an-Nakirah
karena ia merupakan lafazh yang tidak ditentukan jenisnya. Dikatakan
“dalam konteks kalimat positif (itsbât)” karena jika ism
al-Nakirah
tersebut dalam konteks kalimat negatif, ia tidak akan menjadi lafazh
mutlak, tetapi lafazh umum.
3.1.1. Shîghat Mutlak
Dengan demikian, shîghat
Mutlak adalah ism an-Nakirah yang hakiki dalam konteks kalimat
positif (itsbât), bukan negatif (nafy). Sementara ism
an-Nakirah
yang hakiki tersebut bisa berada dalam struktur kalimat:
1) Perintah yang
Menggunakan Mashdar (Kata Jadian)
Kalimat perintah
mempunyai banyak uslûb (gaya bahasa), di antaranya menggunakan Mashdar
kata kerja transitif. Jika ism an-Nakirah berada dalam struktur kalimat
seperti ini, maka statusnya adalah mutlak. Misalnya, firman Allah:
 } فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ {
Maka, hendaknya
memerdekakan budak
(QS. an-Nisâ’ [4]: 92).
Lafazh: tahrîr
(hendaknya memerdekakan) adalah bentuk Mashdar dari: Harrar[a]-yuharrir[u]-tahrir[an].
Sedangkan: raqabah (budak perempuan) adalah ism an-Nakirah yang
berada dalam struktur kalimat perintah dengan menggunakan Mashdar.
2) Perintah yang
Menggunakan Kata Kerja
Jika ism
an-Nakirah
berada dalam struktur kalimat perintah yang menggunakan kata
kerja transitif, maka statusnya adalah mutlak. Misalnya:
« حَرِّر رَقَبَةً »
Memerdekakanlah
budak perempuan.
Lafazh: harrir
(memerdekakanlah) adalah bentuk kata kerja perintah (fi’l al-amr).
Sedangkan: raqabah (budak perempuan) adalah ism an-Nakirah yang
berada dalam struktur kalimat perintah dengan menggunakan kata kerja perintah.
Maka, lafazh tersebut juga merupakan bentuk lafazh mutlak.
3) Berita dalam Konteks Kekinian dan Futuristik (al-Mudhâri’)
Jika ism
an-Nakirah
berada dalam struktur kalimat berita yang menggunakan kata kerja
transitif berbentuk Mudhâri’, maka statusnya adalah mutlak. Misalnya:
« أُحَرِّرُ رَقَبَةً »
Saya akan
memerdekakan budak perempuan.
Lafazh: uharrir[u]
(saya akan memerdekakan) adalah bentuk kata kerja kekinian dan futuristik (fi’l
al-Mudhâri’
). Sedangkan: raqabah (budak perempuan) adalah ism
an-Nakirah
yang berada dalam struktur kalimat berita dengan menggunakan
kata kerja al-Mudhâri’. Maka, lafazh raqabah (budak perempuan)
tersebut bisa disebut lafazh mutlak. Mengapa bukan fi’l al-Mâdhi? Sebab,
kata kerja tersebut mempunyai konotasi masa lalu, atau aktivitas yang sudah
lewat. Konsekuensinya, beritanya atau raqabah (budak perempuan) yang
dibebaskan pasti tertentu untuk budak yang sudah dibebaskan, bukan yang lain.
3.1.2. Shîghat Muqayyad
Sementara muqayyad
–lafazh yang telah dihilangkan cakupan jenisnya, baik secara kullî maupun
juz’î– bentuknya sebagai berikut:
1) Ism al-‘Alam
Nama (ism al-‘alam)
bisa menjadi taqyîd –yang menghilangkan cakupan jenis– kemutlakan lafazh
mutlak, secara kullî (menyeluruh). Misalnya:
« سَأَزُوْرُ رَجُلاً اِسْمُهُ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ »
Saya akan
mengunjungi seorang laki-laki, namanya Muhammad bin ‘Abdullah.
Cakupan jenis
“orang laki-laki” telah hilang dan telah ditentukan hanya Muhammad
bin Abdullah, bukan Muhammad bin ‘Ali atau yang lain.
2) Isyârah
Isyarat (al-isyârah)
bisa menjadi taqyîd –yang menghilangkan cakupan jenis– kemutlakan lafazh
mutlak, secara kullî (menyeluruh). Misalnya:
« أكْرِمُ مُسْلِمًا هُوَ هَذَا  »
Saya akan
memuliakan seorang Muslim; inilah dia (orangnya).
Cakupan jenis
“orang Muslim” telah hilang dan telah ditentukan hanya orang ini,
bukan itu, atau yang lain.
3) Sifat
Sifat (al-washf),
atau lain-lain yang sejenis –seperti syarat dan ghâyah— bisa menjadi taqyîd
–yang menghilangkan cakupan jenis– kemutlakan lafazh mutlak, secara juz’î
(parsial). Misalnya:
« أكْرِمُ مُسْلِمًا عِرَاقِيًّا »
Saya menghormati
Muslim Irak.
Cakupan jenis
“orang Muslim” telah hilang dan telah ditentukan hanya Muslim Irak,
bukan yang lain, sementara jenis Muslim yang lain tetap mutlak. Mutlak seperti
ini disebut Mutlak Dua Arah; di satu sisi mutlak, di sisi lain muqayyad.
3.2. Taqyîd Mutlak
Apapun bentuk taqyîd,
baik menyeluruh maupun parsial, sejatinya tidak akan terlepas dari dua bentuk: Muttashil
(tidak terpisah) dan Munfashil (terpisah).
3.2.1. Taqyîd Tidak Terpisah
Taqyîd Muttashil (tidak terpisah) itu terjadi ketika lafazh mutlak dan muqayyad berada
dalam satu struktur kalimat, atau nash yang sama. Ini bisa terjadi, sebagaimana
yang telah dibahas dalam pembahasan takhshîsh.
1) Sifat
Sifat yang dimaksud di sini bukan an-na’t wa al-man’ût dalam konteks ilmu
Nahwu, melainkan semua sifat yang bisa menghilangkan bagian dari cakupan jenis lafazh
mutlak. Sebab, sifat kadangkala berbentuk an-na’t dalam konteks ilmu
Nahwu, seperti: Raqabah Mu’minah (budak Mukmin). Lafazh: Mu’minah adalah
sifat yang berbentuk an-na’t dalam konteks ilmu Nahwu. Berbeda dengan: Qiyam
rak’at[an] layl[an]
(shalat satu rakaat di malam hari). Lafazh: Layl[an]
pada dasarnya bukan sifat, tetapi statusnya menjadi sifat, yang bisa
membatasi kemutlakan “shalat satu rakaat” yang hanya dilakukan malam
hari. Sifat yang kedua ini bukanlah sifat yang berbentuk an-na’t dalam
konteks ilmu Nahwu. Sekalipun demikian, masing-masing bisa berfungsi sebagai taqyîd.
Dalam hal ini, bisa dicontohkan firman Allah:
 } فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ
{
Maka, hendaknya
memerdekakan budak yang mukmin
(QS. an-Nisâ’ [4]: 92).
Lafazh: Mu’minah
adalah sifat yang mengikat konotasi “budak perempuan” secara
mutlak, sehingga dengan adanya sifat tersebut, kemutlakannya hilang.
2) Syarat
Dalam konteks
syarat, bisa dicontohkan firman Allah:
 } يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَحْلَلْنَا لَكَ أَزْوَاجَكَ اللاَّتِي
ءَاتَيْتَ أُجُورَهُنَّ وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْكَ
وَبَنَاتِ عَمِّكَ وَبَنَاتِ عَمَّاتِكَ وَبَنَاتِ خَالِكَ وَبَنَاتِ خَالاَتِكَ
اللاَّتِي هَاجَرْنَ مَعَكَ وَامْرَأَةً مُؤْمِنَةً إِنْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا
لِلنَّبِيِّ
إِنْ أَرَادَ النَّبِيُّ أَنْ يَسْتَنْكِحَهَا خَالِصَةً لَكَ
مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ
{
Hai Nabi,
sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu
berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang
kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian
pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan
dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki
ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah
bersama kamu dan perempuan mu’min, jika mereka menyerahkan dirinya kepada Nabi,
kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua
orang mu’min.
(QS. al-Ahzâb [33]: 50).
Lafazh: In
wahabat nafsahâ li an-nabiyy[i]
(jika mereka menyerahkan dirinya kepada Nabi) adalah syarat yang mengikat konotasi lafazh: imra’at[an] (wanita) secara
mutlak, sehingga dengan adanya sifat tersebut, kemutlakannya hilang.
3) Ghâyah
Dalam konteks ghâyah,
bisa dicontohkan firman Allah:
 } سَلاَمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ {
Malam itu
(penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.
(QS. al-Qadar [97]:
5).
Lafazh: Hatta
mathla’ al-fajr[i]
(sampai terbit fajar) adalah ghâyah (batas waktu)
yang mengikat konotasi lafazh: salâm[un] (kesejahteraan) secara mutlak,
sehingga dengan ghâyah (batas waktu) tersebut, kemutlakan salâm[un] (kesejahteraan)
tersebut hilang, selain hanya sampai terbitnya fajar.
4) ‘Alam (Nama)
Dalam konteks ‘alam
(nama), bisa dicontohkan firman Allah:
 } وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ {
Dan memberi
kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang
namanya Ahmad (Muhammad).
(QS. as-Shaf [61]: 6).
Lafazh: Ahmad
(Ahmad) adalah nama, yang mengikat konotasi lafazh: Rasûl[in]
(Rasul) secara mutlak, sehingga dengan nama tersebut, kemutlakan Rasûl[in]
(Rasul) tersebut hilang.
5) Isyârah
Dalam konteks isyârah
(kata penunjuk), bisa dicontohkan firman Allah:
 } هَذَا
فَوْجٌ مُقْتَحِمٌ مَعَكُمْ لاَ مَرْحَبًا بِهِمْ إِنَّهُمْ صَالُوا النَّارِ
{
(Dikatakan
kepada mereka): “Ini adalah suatu rombongan (pengikut-pengikutmu) yang
masuk berdesak-desak bersama kamu (ke neraka)”. (Berkata pemimpin-pemimpin
mereka yang durhaka): “Tiadalah ucapan selamat datang kepada mereka karena
sesungguhnya mereka akan masuk neraka”.
(QS. Shad [38]:
59).
Lafazh: Fawj (suatu rombongan) adalah lafazh mutlak, yang kemudian konotasi kemutlakannya diikat dengan:
Hâdzâ (ini), sehingga dengan kata penunjuk tersebut, kemutlakan Fawj (suatu rombongan) tersebut hilang.
3.2.2. Taqyîd Terpisah
Taqyîd Munfashil (terpisah) itu terjadi ketika lafazh mutlak dan muqayyad itu
merupakan dua dalil atau nash yang berbeda. Ini bisa terjadi, antara lain,
sebagai berikut:
1) Taqyîd al-Qur’an dengan al-Qur’an
Taqyîd al-Qur’an dengan al-Qur’an, antara lain, bisa dicontohkan sebagaimana
firman Allah:
 }وَإِذْ
قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً
{
Dan (ingatlah),
ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih
seekor sapi betina”.
(QS. al-Baqarah [2]: 67).
Dalam ayat ini,
Allah memerintahkan kepada Bani Israel untuk menyembelih lembu betina secara
mutlak, dengan menggunakan lafazh: Baqarah. Namun, kemutlakannya
kemudian di-taqyîd dengan ayat-ayat lain. Allah SWT. befirman:
 }إِنَّهَا
بَقَرَةٌ لاَ فَارِضٌ وَلاَ بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَلِكَ
{
Bahwa sapi
betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara
itu.
(QS. al-Baqarah [2]: 68).
 }إِنَّهَا
بَقَرَةٌ صَفْرَاءُ فَاقِعٌ لَوْنُهَا تَسُرُّ النَّاظِرِينَ
{
Bahwa sapi
betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi
menyenangkan orang-orang yang memandangnya.
(QS. al-Baqarah
[2]: 69).
 }إِنَّهَا
بَقَرَةٌ لاَ ذَلُولٌ تُثِيرُ الأَرْضَ وَلاَ تَسْقِي الْحَرْثَ مُسَلَّمَةٌ
لاَ شِيَةَ فِيهَا
{
Bahwa sapi
betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah
dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.
(QS. al-Baqarah
[2]: 71).
2) Taqyîd al-Qur’an dengan as-Sunnah
Taqyîd al-Qur’an dengan as-Sunnah, antara lain, bisa dicontohkan sebagai berikut.
Allah berfirman:
 } فَمَنْ
كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِنْ صِيَامٍ
أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ
{
Jika ada di
antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka
wajiblah atasnya berfidyah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban.
(QS. al-Baqarah
[2]: 196).
Lafazh: Shiyâm,
Shadaqah
atau Nusuk dalam ayat ini adalah lafazh mutlak, yang
kemudian kemutlakannya di-taqyîd dengan as-Sunnah yang menyatakan:
« فَاحْلِقْ رَأْسَكَ وَأَطْعِمْ فَرَقًا بَيْنَ سِتَّةِ
مَسَاكِينَ وَالْفَرَقُ ثَلاَثَةُ آصُعٍ أَوْ صُمْ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ أَوِ
انْسُكْ نَسِيكَةً »
Cukurlah rambut
kepalamu, berilah makan (shadaqah) sebanyak 6 orang miskin; 3 sha’ untuk
mereka, atau berpuasalah 3 hari, atau sembelihlah seekor hewan sembelihan.
(HR. Muslim dari
Ka’ab bin ‘Ujrah).
Hadits tersebut men-taqyîd kemutlakan puasa, sedekah dan korban, dengan ketentuan
masing-masing puasa 3 hari, sedekah kepada 6 orang miskin sebanyak 3 sha’, dan
menyembelih seekor kambing.
3) Taqyîd as-Sunnah dengan as-Sunnah
Taqyîd as-Sunnah dengan as-Sunnah, antara lain, bisa dicontohkan sebagai berikut. As-Sunnah,
sebagaimana dituturkan oleh Ibn ‘Umar telah menyatakan:
 } أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ
r
فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ
عَلَى كُلِّ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنَ الْمُسْلِمِينَ *
 {
Sesungguhnya
Rasulullah saw. telah memfardhukan zakat fitrah 1 sha’ kurma, atau 1 sha’
gandum kepada setiap orang merdeka atau budak, laki-laki atau perempuan yang
Muslim.
(HR. Bukhâri dari Ibn ‘Umar).
Lafazh: Sha’ dalam
hadits ini adalah lafazh mutlak, yang kemudian kemutlakannya di-taqyîd
dengan as-Sunnah yang lain:
« الْمِكْيَالُ
مِكْيَالُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ
وَالْوَزْنُ وَزْنُ
أَهْلِ مَكَّةَ »
Takaran (yang
digunakan) itu adalah takaran penduduk Madinah, sementara timbangan itu adalah
timbangan penduduk Makkah.
(HR. an-Nashâ’i dari Ibn ‘Umar).
Hadits tersebut men-taqyîd kemutlakan Sha’ –yang meliputi takaran penduduk
Irak, Madinah dan lain-lain– dengan ketentuan: Mikyâl Ahl al-Madînah.
Sebab, Sha’ adalah jenis takaran, maka hadits tersebut merupakan muqayyad
yang berfungsi men-taqyîd kemutlakan Sha’.
3.3. Cara Menggunakan
Mutlak dan Muqayyad
Dalil mutlak dan muqayyad
tersebut bisa digunakan untuk menarik hukum dengan ketentuan sebagai
berikut:
3.3.1. Jika Lafazh
Mutlak tanpa Taqyîd
Jika ada dalil
mutlak tanpa disertai taqyîd —baik Muttashil atau Munfashil
maka, dalil mutlak tersebut tetap bisa digunakan untuk menarik hukum
berdasarkan kemutlakannya. Contohnya firman Allah SWT:
 }وَالَّذِينَ
يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ
مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا
{
Orang-orang yang
menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka
ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami
isteri itu bercampur.
(QS. al-Mujâdalah [58]: 3).
Lafazh: Raqabah dalam
konteks kafarat Dhihâr (menyamakan isteri dengan ibu) adalah lafazh
mutlak, yang meliputi budak kafir atau muslim. Karena tidak ada dalil yang men-taqyîd
kemutlakannya, maka kemutlakannya berlaku seperti apa adanya.
3.3.2. Jika Lafazh
Mutlak Disetai Taqyîd Muttashil
Jika ada dalil
mutlak disertai taqyîd Muttashil, maka dalil mutlak tersebut telah
hilang kemutlakannya, sedangkan yang berlaku adalah taqyîd-nya.
Contohnya firman Allah SWT:
 }فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ
{
Maka, hendaknya
memerdekakan budak yang mukmin
(QS. an-Nisâ’ [4]: 92).
Lafazh: Raqabah dalam
konteks kafarat pembunuhan yang salah (khatha’) adalah lafazh mutlak,
yang meliputi budak kafir atau muslim, namun kemutlakannya di-taqyîd dengan
lafazh: Mu’minah, sehingga yang berlaku
adalah pembebasan budak mukmin. Jika yang dibebaskan, misalnya
budak  perempuan kafir, maka belum cukup.
3.3.3. Jika Lafazh
Mutlak Disertai Taqyîd Munfashil
Jika ada dalil
mutlak disertai taqyîd Munfashil, maka harus dianalisis dahulu:
1.
Jika konteks
pembahasannya sama, misalnya ayat Baqarah yang mutlak dengan ayat Baqarah
yang muqayyad, maka yang muqayyad harus digunakan, sedangkan
yang mutlak harus ditinggalkan. Ini sebagaimana dicontohkan di atas.
2.
Jika konteks
pembahasannya berbeda, misalnya ayat Dhihâr yang menyatakan pembebasan
budak secara mutlak, dengan pembebasan budak mukmin yang muqayyad dalam
kasus pembunuhan yang salah, maka dalil muqayyad dalam kasus pembunuhan
yang salah tersebut tidak bisa digunakan untuk men-taqyîd kemutlakan
pembebasan budak dalam kasus Dhihâr. Sebaliknya, karena masing-masing
merupakan dua konteks yang berbeda, maka masing-masing berlaku sesuai dengan
konteksnya, dan bukan untuk konteks yang lainnya.
4. Mujmal dan
Mubayyan
Secara etimologis,
lafazh: Mujmal berarti al-jam’ (plural). Secara terminologis,
adalah sesuatu yang menunjukkan lebih dari satu madlûl (maksud), tanpa
adanya pengistimewaan satu atas yang lainnya, dimana madlûl (maksud)nya
memerlukan penjelasan.
Dikatakan
“sesuatu yang menunjukkan” dan tidak dikatakan “lafazh yang
menunjukkan” karena Mujmal tidak hanya berkaitan dengan lafazh,
tetapi juga perbuatan. Ini jelas berbeda dengan ‘Am-Khâsh atau Muthlaq-Muqayyad,
yang masing-masing berkaitan dengan lafazh. Dikatakan “lebih dari satu
madlûl (maksud)” karena dengan begitu deskripsi tersebut akan
mengeluarkan lafazh mutlak yang hanya menunjukkan satu madlûl (maksud),
seperti Raqabah –yang hanya berarti budak, selain orang merdeka– sementara
lafazh: Sulthân —yang bisa berarti hujah dan penguasa– telah
menunjukkan lebih dari satu madlûl (maksud), dan karenanya disebut Mujmal.
Dikatakan “tanpa adanya pengistimewaan satu atas yang lainnya”
agar bisa mengeluarkan lafazh yang salah satu madlûl (maksud)nya
diunggulkan atas yang lain, seperti Haqîqah dan Majâz atau
Dalâlah Iqtidhâ’ yang dipalingkan dari konotasi kalimat berita menjadi thalab.
Dikatakan “madlûl (maksud)nya memerlukan penjelasan”
agar bisa mengenyahkan lafazh umum dari deskripsi, karena sekalipun lafazh
tersebut meliputi jenis derivatnya, namun ia tidak memerlukan penjelasan. Berbeda
dengan Mujmal, yang memang memerlukan penjelasan. Misalnya, al-‘ayn (mata)
yang khasiatnya untuk melihat, adalah lafazh umum. Bukan lagi lafazh Mujmal,
karena tidak perlu penjelasan, atau qarînah untuk menentukan maksudnya.
Berbeda jika dikatakan: apa komentar anda tentang al-‘ayn? Dalam konteks
pertanyaan ini, lafazh al-‘ayn adalah Mujmal, karena pertanyaan
tersebut tidak mungkin dijawab, kecuali setelah diberi penjelasan atau
keterangan dengan qarînah lain.
4.1. Konteks Mujmal
dan Mubayyan
Melalui batasan di
atas, maka konteks Mujmal bisa meliputi dua aspek, perbuatan dan
perkataan, atau bahasa verbal dan lisan. Dalam konteks yang pertama, bahasa
verbal, tidak ada lafazh, sementara dalam bahasa lisan terdapat lafazh. Karena
itu, Mujmal meliputi keduanya, lafazh dan perbuatan. Dengan demikian,
istilah shîghat yang berkonotasi struktur harfiah, tidak berlaku dalam
konteks Mujmal-Mubayyan.
4.1.1. Bentuk
Mujmal
Istilah
“bentuk” digunakan di sini untuk membedakan dengan shîghat. Maka,
setelah menganalisis nash-nash syara’, konteks Mujmal –sebagaimana
konotasi yang telah dideskripsikan di atas– mempunyai bentuk sebagai berikut:
1) Mujmal dalam
Konteks Perbuatan
Mujmal dalam konteks perbuatan ini, misalnya, jika Rasul melakukan sesuatu di
depan para sahabat yang madlûl (maksud)nya tidak jelas bagi
mereka. Misalnya hadits Dzu al-Yadayn mengenai salam, yang
menyatakan:
« صَلَّى بِنَا رَسُولُ
اللَّهِ
r إِحْدَى صَلاَتَيِ الْعَشِيِّ إِمَّا
الظُّهْرَ وَإِمَّا الْعَصْرَ فَسَلَّمَ فِي رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَتَى جِذْعًا فِي
قِبْلَةِ الْمَسْجِدِ فَاسْتَنَدَ إِلَيْهَا مُغْضَبًا وَفِي الْقَوْمِ أَبُو
بَكْرٍ وَعُمَرَ فَهَابَا أَنْ يَتَكَلَّمَا وَخَرَجَ سَرَعَانُ النَّاسِ قُصِرَتِ
الصَّلاَةُ فَقَامَ ذُو الْيَدَيْنِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَقُصِرَتِ
الصَّلاَةُ أَمْ نَسِيتَ فَنَظَرَ النَّبِيُّ
r
يَمِينًا وَشِمَالاً فَقَالَ مَا يَقُولُ ذُو الْيَدَيْنِ قَالُوا صَدَقَ لَمْ
تُصَلِّ إِلاَّ رَكْعَتَيْنِ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَسَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ ثُمَّ
سَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ فَرَفَعَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ وَرَفَعَ »
Rasulullah s.a.w
pernah shalat bersama kami di suatu petang, baik shalat Asar atau Dhuhur. Pada
rakaat yang kedua beliau salam. Kemudian beliau bersandar di batang kurma yang mengarah
ke Kiblat. Di antara sahabat yang menjadi makmum, termasuk Abû Bakar dan ‘Umar,
namun keduanya tidak berani mengucapkan sepatah katapun. Sementara
sahabat-sahabat lain terpegun kerana shalat yang dilakukan terlalu singkat.
Lalu seorang sahabat bernama Dzu al-yadayn berdiri seraya berkata: Wahai
Rasulullah! Adakah shalat tadi disingkat, diqasar atau Anda terlupa? Rasulullah
s.a.w memandang ke kanan dan kiri lalu beliau bertanya: Adakah benar apa yang
diucapkan oleh Dzu al-yadayn tadi? Para sahabat menjawab: Benar! Anda hanya shalat
dua rakaat saja. Seketika itu juga Rasulullah s.a.w menyambung sembahyang dua
rakaat lagi dan beliau memberi salam. Setelah itu, beliau bertakbir kemudian
sujud, kemudian bertakbir lalu bangkit dari sujud, kemudian beliau bertakbir
lagi lalu sujud untuk kedua kalinya, kemudian bertakbir dan bangkit dari sujud.
(HR. Bukhâri dan Muslim dari Abû Hurairah).
Kasus salamnya
Rasul setelah rakaat kedua tersebut mempunyai dua kemungkinan madlûl; Pertama,
ada kemungkinan beliau memendekkan shalat; Kedua, juga mungkin
beliau lupa. Spekulasi tersebut membutuhkan jawaban dari Rasul untuk
menjelaskan maksud tindakan beliau.
2) Lafazh
Musyratak
Musytarak adalah kata yang mempunyai lebih dari satu makna. Lafazh Musytarak ini
merupakan lafazh Mujmal yang membutuhkan penjelasan, melalui salah satu madlûl
(maksud)-nya. Misalnya, lafazh: Quru’ dalam firman Allah:
 }وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاَثَةَ قُرُوءٍ {
Wanita-wanita
yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali Qurû’.
(QS. al-Baqarah
[2]: 228).
adalah lafazh Mujmal,
yang mempunyai konotasi suci dan haid, sebab masih memerlukan penjelasan
melalui sejumlah indikasi (qarînah).
3) Lafazh Ganda
(Murakkab)
Lafazh Murakkab
adalah lafazh yang terbentuk lebih dari satu lafazh. Lafazh Murakkab ini
merupakan lafazh Mujmal jika konotasinya memunculkan spekulasi lebih
dari satu maksud; dimana untuk menentukannya perlu penjelasan. Misalnya, lafazh:
al-Ladzî biyadih[i] ‘uqdat[u] an-nikâh (orang yang di tangannya
memegang otoritas tali perkawinan) dalam firman Allah:
 } أَوْ يَعْفُوَ الَّذِي بِيَدِهِ عُقْدَةُ النِّكَاحِ {
Atau dima`afkan
oleh orang yang memegang ikatan nikah.
(QS. al-Baqarah [2]: 238).
adalah lafazh Mujmal,
yang mempunyai konotasi suami atau wali pihak perempuan.
4) Kata Ganti yang
Merujuk Lebih Pada Satu Arah
Kata ganti (dhamîr)
yang merujuk lebih pada satu rujukan (mudhmar minhu) yang sederajat
–karena memerlukan penjelasan melalui sejumlah indikasi lain– maka bisa
disebut lafazh Mujmal. Misalnya, firman Allah:
 } مَنْ
كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا إِلَيْهِ يَصْعَدُ
الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ
{
Barangsiapa yang
menghendaki kemuliaan, maka milik Allah-lah kemuliaan itu semuanya.
Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal kebajikan dinaikkan-Nya.
(QS. Fâthir [35]: 10).
Frasa: Yarfa’uh[u]
(menaikannya) terbentuk dari lafazh: yarfa'[u] (menaikkan) dan h[u]
(nya). Dalam hal ini, kata ganti (dhamîr): h[u] (nya) –yang
merupakan kata ganti laki-laki pihak ketiga tunggal– bisa merujuk kepada lafazh:
al-‘amal as-shâlih (amal kebajikan) atau: al-kalim[u]
at-thayyib[u]
(perkataan-perkataan yang baik). Jika merujuk kepada lafazh: al-‘amal
as-shâlih
(amal kebajikan) berarti konotasinya adalah Allah akan
mengangkat al-‘amal as-shâlih (amal kebajikan) tersebut, dalam
arti menerimanya. Jika merujuk kepada lafazh: al-kalim[u] at-thayyib[u] (perkataan-perkataan
yang baik), berarti konotasinya adalah amal kebajikan tersebut akan mengangkat al-kalim[u]
at-thayyib[u]
(perkataan-perkataan yang baik) tadi kepada Allah. Dua
konotasi ini, sama-sama benarnya atau sederajat.   
5) Spekulasi
Berhenti (Waqf) dan Bermula
Spekulasi antara waqf
(berhenti) dan bermula, juga mengundang spekulasi maksud. Karena itu, ini juga
merupakan bentuk Mujmal. Misalnya, firman Allah:
 } وَمَا
يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ
{
Padahal tidak
ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah, dan orang-orang yang mendalam
ilmunya..
(QS. Ali ‘Imrân [3]: 7).
Berhenti setelah
masing-masing bacaan: Allâh, atau bacaan: wa ar-râsikhûna fî
al-‘ilm[i]
akan mempunyai implikasi maksud yang berbeda. Jika berhenti pada
bacaan: Allâh, konotasinya hanya Allah yang Maha Mengetahui takwil
ayat-ayat Mutasyâbihât tersebut. Jika berhenti pada bacaan: wa
ar-râsikhûna fî al-‘ilm[i]
, berarti konotasinya Allah dan orang-orang yang
mendalam ilmunya sama-sama mengetahui takwil ayat-ayat Mutasyâbihât
tersebut. Masing-masing, baik waqf maupun bermula –dengan masing-masing
implikasi konotatifnya– memerlukan penjelasan dari indikasi yang lain. Konteks
seperti ini juga bisa disebut Mujmal.
6) Ambiguitas
Makna yang Digunakan
Ambiguitas makna
yang digunakan itu bisa saja terjadi karena lafazhnya itu sendiri mubham (kabur),
tidak jelas maksud dan maknanya bagi pihak yang dikenai seruan (al-mukhâthab),
kecuali dengan penjelasan sebagai tafsir atas ambiguitasnya, atau melalui
sejumlah indikasi lain. Misalnya, firman Allah:
 }
يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلاَلَةِ إِنِ امْرُؤٌ
هَلَكَ لَيْسَ لَهُ وَلَدٌ وَلَهُ أُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَ وَهُوَ
يَرِثُهَا إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهَا وَلَدٌ فَإِنْ كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا
الثُّلُثَانِ مِمَّا تَرَكَ وَإِنْ كَانُوا إِخْوَةً رِجَالاً وَنِسَاءً
فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الأُنْثَيَيْنِ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ أَنْ
تَضِلُّوا وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
{
Mereka meminta
fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: “Allah memberi fatwa
kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak
mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang
perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang
laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai
anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua
pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli
waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian
seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah
menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu.
(QS. an-Nisâ’ [4]: 176).
Lafazh: Kalâlah
adalah lafazh Mujmal, dan masih memerlukan penjelasan, yang kemudian
maksudnya dijelaskan oleh Allah SWT. dalam ayat yang sama.
7) Lafazh Manqûl
Lafazh Manqûl yang
dimaksud di sini adalah lafazh yang mengalami pengalihan makna, dari konteks
kebahasaan (haqîqah lughawiyyah) kepada konteks syara’ (haqîqah
syar’iyyah
). Di lihat dari aspek pengalihan makna lafazh tersebut, dari
satu konteks kepada konteks lain, sehingga mempunyai implikasi makna A atau B,
bisa dikatakan bahwa lafazh tersebut merupakan lafazh Mujmal yang masih
memerlukan penjelasan. Misalnya:
« لاَ صَلاَةَ إِلاَّ بِقِرَاءَةِ فَاتِحَةِ الْكِتَابِ »
Tidak sah suatu
shalat, kecuali dengan membaca Fâtihah al-Kitâb (surat al-Fâtihah).
(HR. at-Tirmîdzi dari Abû Hurairah).
Lafazh: Shalât dalam
konteks hadits ini adalah lafazh ‘Umûm, karena berbentuk ism
an-Nakirah
dalam struktur kalimat negatif. Lafazh shalât di sini
bisa diaplikasikan untuk semua kasus shalat, sehingga tidak sah shalat apapun
kecuali dengan membaca surat al-Fâtihah.
Ini jelas berbeda
dengan lafazh: Shalât dalam firman Allah:
 }وَأَقِيْمُوا
الصَّلاَةَ
{
Dan dirikanlah
shalat.
(QS. Yûnus [10]: 87).
yang merupakan lafazh
Mujmal, karena masih memerlukan penjelasan, baik melalui perkataan
maupun perbuatan Rasulullah saw. mengenai tatacaranya. Misalnya, bagaimana
Rasulullah mengajarkan cara shalat kepada kaum Muslim, dan bagaimana beliau
shalat di depan mereka, agar mereka mengikuti tatacara shalat seperti shalat
beliau.
4.1.2. Bentuk Mubayyan
Mengenai Mubayyan,
atau sesuatu yang dijelaskan, adalah bentuk Mujmal yang disertai
penjelasan, baik secara terpisah maupun tidak. Dengan demikian, jika bentuk Mujmal
tersebut telah hilang ambiguitasnya, kemudian maknanya menjadi jelas atau madlûl
yang digunakannya telah dimenangkan, berarti bentuk tersebut menjadi Mubayyan.
Karena itu, bentuk Mubayyan tersebut bisa diklasifikasikan menjadi:
1) Perkataan
Mubayyan dalam bentuk perkataan ini, misalnya bisa dicontohkan dalam firman Allah:
 }إِذَا
مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا
~
وَإِذَا
مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا
{
Apabila ia
ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat
kikir.
(QS. al-Ma’ârij [70]: 20-21).
yang merupakan Bayân Qawlî terhadap
kemujmalan lafazh: Halû'[an] dalam firman-Nya:
 }إِنَّ
الإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا
{
Sesungguhnya
manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.
(QS. al-Ma’ârij
[70]: 19).
Contoh lain adalah
sabda Nabi saw. yang menyatakan:
« الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ »
Orang idiot
(yang berbicara) mengenai urusan (kepentingan) orang banyak.
(HR. Ibn Mâjjah
dari Abû Hurairah).
adalah bentuk Bayân Qawlî (penjelasan
lisan), yang menjelaskan maksud lafazh: ar-Ruwaybidhah dalam hadits yang
sama:
« وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ
»
Pada zaman itu,
Ruwaybidhah akan angkat bicara. Beliau ditanya: ‘Siapakah Ruwaybidhah itu?
(HR. Ibn Mâjjah
dari Abû Hurairah).
2) Perbuatan
Mubayyan dalam bentuk perbuatan ini, misalnya bisa dicontohkan dalam konteks
penjelasan Rasul:
« لِتَأْخُذُوا مَنَاسِكَكُمْ »
Hendaknya kalian
mengambil tatacara ibadah haji kalian (dariku).
(HR. Muslim dari
Jâbir).
yang merupakan Bayân Fi’lî terhadap
kemujmalan perintah haji.
3) Perkataan dan
Perbuatan
Mubayyan dalam bentuk perkataan dan perbuatan ini, bisa terjadi:
1.
Jika masing-masing
perkataan dan perbuatan tersebut konteks maksudnya sama-sama layak untuk
menjelaskan maksud kemujmalan seruan pembuat syartiat; dimana satu sama lain
bisa saling menguatkan maksudnya. Misalnya ketika Rasul menjelaskan tatacara
shalat dengan perbuatan beliau, kemudian diikuti dengan pernyataan beliau:
« وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي »
Shalatlah kalian
sebagaimana kalian melihat aku shalat.
(HR. Bukhâri dari Mâlik).
Maka,
masing-masing hadits tersebut merupakan Bayân Fi’lî dan Qawlî terhadap
kemujmalan perintah shalat.
2.
Jika masing-masing berbeda konteks
penunjukan maksudnya, maka masing-masing tidak bisa menjadi penjelasan, kecuali
setelah melalui analisis ushul terhadap kedua konteks dalil tersebut, baik
untuk dikompromikan ataupun diunggulkan salah satunya. Penjelasan mengenai hal
ini secara lebih rinci dalam pembahasan tarjîh, dalam bab
berikutnya. Hanya sekedar contoh, dalam hal ini bisa diambil hadits Nabi, yang
beliau nyatakan setelah turunnya ayat haji:
« مَنْ قَرِنَ حَجًّا إِلَى عُمْرَةٍ فَلْيَطُفْ طَوَافًا وَاحِدًا
وَيَسْعَى سَعْيًا وَاحِدًا »
Siapa saja yang
menyertakan haji dengan umrah, hendaknya thawaf sekali, dan sa’i sekali.
(HR. at-Tirmîdzi).
Namun, ada
riwayat lain mengenai perbuatan Rasul, bahwa beliau pernah haji dan umrah,
namun tidak hanya thawaf dan sa’i, masing-masing sekali. Beliau
justru telah melakukannya masing-masing dua kali.[6] Maka untuk mengetahui hal
ini, bisa dijelaskan sebagai berikut:
(1)    Jika diketahui, bahwa yang terdahulu adalah penjelasan lisan, maka
penjelasan lisan tersebut adalah yang dikehendaki. Artinya, thawaf dan sa’i,
masing-masing hanya sekali, sementara tambahannya adalah sunah.
(2)    Jika diketahui, bahwa yang terdahulu adalah penjelasan verbal, maka
penjelasan lisan itulah yang dikehendaki. Adapun tambahan yang terdapat dalam
penjelasan verbal yang lebih dulu tadi; bisa jadi merupakan kekhususan bagi
Rasul, jika disertai indikasi takhshîsh, dan bisa jadi tambahannya
–yaitu thawaf dan sa’i lebih dari sekali– tadi dihapus dengan
penjelasan lisan. Alasannya, karena konteks penunjukan makna penjelasan lisan
bagi ummat Nabi saw. itu lebih kuat ketimbang penjelasan verbal beliau.
(3)    Jika tidak diketahui mana yang terdahulu, maka lebih baik penjelasan lisan
dianggap lebih dulu. Sebab, tambahannya –sebagaimana yang dinyatakan dalam
penjelasan verbal– dalam konteks ini adalah sunah. Jika dibalik, artinya
penjelasan verbalnya lebih dahulu, berarti tambahannya ada kemungkinan telah
dihapus, atau dikhususkan untuk Nabi. Sementara, bagi ummat Nabi saw.
menggunakan dua dalil sekaligus, lebih baik ketimbang menggugurkan salah
satunya.
4.2. Penjelasan
terhadap Mujmal
Mubayyan (konteks  yang dijelaskan) pada
dasarnya merupakan bentuk Mujmal yang disertai penjelasan, baik secara
terpisah maupun tidak. Karena itu, Mubayyan –atau Mujmal yang disertai
penjelasan– tersebut bisa diklasifikasikan menjadi:
4.2.1. Muttashil
Mubayyan Muttashil adalah bentuk Mujmal yang disertai penjelasan yang terdapat dalam
satu nash atau dalil. Misalnya, kemujmalan lafazh Kalâlah, telah
dijelaskan dengan penjelasan yang terdapat dalam nash atau dalil yang sama. Allah
berfirman:
 }
يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلاَلَةِ إِنِ امْرُؤٌ
هَلَكَ لَيْسَ لَهُ وَلَدٌ
وَلَهُ أُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَ وَهُوَ
يَرِثُهَا إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهَا وَلَدٌ فَإِنْ كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا
الثُّلُثَانِ مِمَّا تَرَكَ وَإِنْ كَانُوا إِخْوَةً رِجَالاً وَنِسَاءً
فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الأُنْثَيَيْنِ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ أَنْ
تَضِلُّوا وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
{
Mereka meminta
fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: “Allah memberi fatwa
kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak
mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang
perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang
laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai
anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua
pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli
waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian
seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah
menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu.
(QS. an-Nisâ’ [4]: 176).
Kalâlah adalah orang yang meninggal dunia, yang tidak mempunyai anak. Makna inilah
yang diambil oleh ‘Umar bin al-Khaththâb, seraya menyatakan:
 « اَلْكَلاَلَةُ مَنْ لاَ وَلَدَ لَهُ »
Kalâlah adalah
orang yang tidak mempunyai anak.
[7]
4.2.2. Munfashil
Mubayyan Munfashil
adalah bentuk Mujmal yang disertai penjelasan yang
tidak terdapat dalam satu nash atau dalil. Dengan kata lain, penjelasan
tersebut terpisah dari dalil Mujmal.
1) al-Qur’an
dengan al-Qur’an
Dalil Mujmal al-Qur’an
yang dijelaskan dengan penjelasan al-Qur’an, misalnya firman Allah:
 } وَمَا
يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ
{
Padahal tidak
ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah, dan orang-orang yang mendalam
ilmunya.
(QS. Ali ‘Imrân [3]: 7).
Allâh wa
ar-râsikhûna fî al-‘ilm[i]
(Allah, dan orang-orang yang mendalam
ilmunya) adalah konteks Mujmal karena ambiguitas huruf Waw, yang
bisa berkonotasi ‘athaf (kata penghubung), atau isti’nâf (kata
permulaan kalimat baru). Jika Waw tersebut dipercayai sebagai kata
penghubung, maka konotasi kalimat tersebut adalah “hanya Allah dan
orang-orang yang mendalam ilmunya yang mengetahui takwilnya”, namun jika Waw
tersebut dipercayai sebagai kata permulaan kalimat baru, maka konotasinya
adalah “hanya Allah yang mengetahui takwilnya, sedangkan orang-orang yang
mendalam ilmunya –yang nota bene tidak mengetahuinya– mengatakan: Kami
beriman.
Karena itu, ini
diperlukan penjelasan. Dan, penjelasannya tidak terdapat dalam satu nash.
Antara lain, firman Allah SWT:
 }وَنَزَّلْنَا
عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ
{
Dan Kami
turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu.
(QS. an-Nahl
[16]: 89).
Pernyataan Allah
yang menyatakan, bahwa al-Qur’an adalah: tibyân[an] likull[i] syay'[in] (untuk
menjelaskan segala sesuatu), dan ia diturunkan kepada manusia,
menunjukkan bahwa tidak ada kandungan al-Qur’an yang tidak dapat difahami oleh
manusia, termasuk di antaranya ayat-ayat Mutasyâbihât. Dengan demikian,
ayat-ayat Mutasyâbihât tersebut tidak hanya diketahui oleh Allah, tetapi
juga dapat difahami orang-orang yang ilmunya mendalam.
Indikasi yang
kedua, bahwa konteks pernyataan Allah: Yaqulâna âmannâ (mereka
mengatakan beriman), juga menguatkan konotasi di atas. Sebab, untuk menyatakan
beriman, tidak memerlukan ilmu yang mendalam. Artinya, orang biasa dengan kadar
intelektual biasapun bisa mempunyai keimanan yang mendalam. Inilah yang juga
dibuktikan oleh keimanan orang Arab Badui. Semuanya ini merupakan indikasi yang
menguatkan penjelasan, bahwa Waw yang terdapat dalam nash di atas
merupakan kata penghubung. Dengan demikian, penjelasan yang bisa digunakan
untuk menjelaskan kemujmalan Allâh wa ar-râsikhûna fî al-‘ilm[i]  (Allah, dan orang-orang yang mendalam
ilmunya) adalah penjelasan melalui sejumlah indikasi sebagaimana yang
dijelaskan di atas. Ini sekaligus menunjukkan, bahwa ini merupakan Mubayyan
Munfashil,
karena penjelasannya tidak terdapat dalam nash yang sama,
melainkan dalam nash-nash lain.
2) al-Qur’an
dengan as-Sunnah
Dalil Mujmal al-Qur’an
yang dijelaskan dengan as-Sunnah, misalnya firman Allah:
 }وَأَعِدُّوا
لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ
{
Dan siapkanlah
untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.
(QS. al-Anfâl
[8]: 60).
Dalil ini
dijelaskan dengan dalil lain, yaitu as-Sunnah:
« سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ r
وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ يَقُولُ
}
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ
{
أََلاَ
إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ أَلاَ إِنَّ
الْقُوَّةَ الرَّمْيُ »
Saya (‘Uqbah)
mendengar Rasulullah saw. bersabda –sementara beliau masih di atas mimbar– Dan
siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Ingatlah,
sesungguhnya kekuatan itu adalah panah. Ingatlah, sesungguhnya kekuatan itu
adalah panah. Ingatlah, sesungguhnya kekuatan itu adalah panah.
(HR. Muslim dari
‘Uqbah bin ‘Amir).
4.2.3. Cara
Menggali Penjelasan
Penjelasan yang
digunakan untuk menjelaskan dalil Mujmal harus digali melalui penunjukan
berbagai indikasi (dalâlah al-qarâ’in) lain, baik yang digali melalui
penjelasan lisan, verbal, atau penjelasan lisan dan verbal, atau berbagai
indikasi seperti yang telah dijelaskan di atas.
5. Nâsikh dan Mansûkh
Nasakh secara etimologis adalah menghilangkan, atau memindahkan sesuatu dan
mengalihkannya dari satu kondisi kepada kondisi lain sementara ia sendiri tetap
seperti sedia kala. Secara terminologis, Nasakh adalah seruan pembuat
syariat yang menghalangi keberlangsungan hukum seruan pembuat syariat
sebelumnya yang telah ditetapkan. Adapun Nâsikh (penghapus), kadang
digunakan untuk menyebut Allah, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah
[2]: 106, dan kadang digunakan untuk menyebut ayat, sehingga ayat pedang dalam
surat at-Taubah [9]: 29 bisa dikatakan telah menasakh.
Sementara Mansûkh
adalah hukum yang dihilangkan, seperti hukum ‘iddah setahun penuh
bagi wanita yang ditinggal mati suaminya. Dalam nasakh, hukum yang dinasakh
secara syar’i wajib ditunjukkan oleh dalil yang menjelaskan dihilangkannya
hukum secara syar’i, yang datangnya setelah khithâb yang hukumnya dinasakh.
Mengenai
keberadaan nasakh dan hukum yang dinasakh ini secara riil telah
dijelaskan dalam nash al-Qur’an:
 }مَا
نَنْسَخْ مِنْ ءَايَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
{
Ayat mana saja
yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan
yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu
mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?
(QS. al-Baqarah
[2]: 106).
 }وَإِذَا
بَدَّلْنَا ءَايَةً مَكَانَ ءَايَةٍ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُنَزِّلُ قَالُوا إِنَّمَا
أَنْتَ مُفْتَرٍ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ
{
Dan apabila Kami
letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah
lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: “Sesungguhnya
kamu adalah orang yang mengada-adakan saja”. Bahkan kebanyakan mereka
tiada mengetahui.
(QS. an-Nahl [16]: 101)
5.1. Ragam Nasakh
Nasakh hukum khithâb
mempunyai beragam bentuk; ada yang hukum seruannya dinasakh tanpa mengalami
perubahan, ada yang mengalami perubahan lebih ringan, ada yang serata dan ada
yang lebih berat. Hanya saja, bahwa dalam konteks nasakh tersebut tidak pernah
terjadi penasakhan bacaan, sementara hukumnya masih. Jika ada, kesimpulan ini
tidak didukung dengan dalil qath’î, seperti kasus bacaan ayat zina: as-Syaykh[u]
wa as-syaykhat[u] idzâ zanayâ
yang dilansir oleh kalangan tertentu, dimana
konon bacaan ini telah dinasakh dengan surat an-Nûr [24]: 2.
5.1.1. Nasakh Hukum Khithâb Tanpa Disertai Perubahan Hukum
Nasakh hukum khithâb
yang tidak diikuti perubahan, contohnya firman Allah SWT. yang menyatakan:
 }يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا نَاجَيْتُمُ الرَّسُولَ فَقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيْ
نَجْوَاكُمْ صَدَقَةً ذَلِكَ خَيْرٌ لَكُمْ وَأَطْهَرُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا
فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
~
ءَأَشْفَقْتُمْ
أَنْ تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيْ نَجْوَاكُمْ صَدَقَاتٍ فَإِذْ لَمْ تَفْعَلُوا
وَتَابَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ
وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
{
Hai orang-orang
yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah
kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu. Yang
demikian itu adalah lebih baik bagimu dan lebih bersih; jika kamu tiada
memperoleh (yang akan disedekahkan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang. Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu
memberikan sedekah sebelum pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tiada
memperbuatnya dan Allah telah memberi taubat kepadamu, maka dirikanlah
sembahyang, tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah
Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS. al-Mujâdalah [58]: 12-13).
Ayat ini telah menasakh
hukum mengeluarkan sedekah sebelum melakukan pembicaraan dengan Rasul. Namun, nasakh-nya
tidak sampai mengubah. Sebaliknya, hukumnya tetap, namun jika ada yang tidak
melakukannya, dan Allah berkenan menerima taubatnya, maka dia diperintahkan
untuk mendirikan shalat, menunaikan zakat dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
5.1.2. Perubahan
yang Lebih Ringan
Mengenai nasakh
hukum khithâb dengan disertai perubahan hukum yang lebih ringan, antara
lain, bisa dilihat dalam firman Allah:
 }يَاأَيُّهَا
النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ
عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ
يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لاَ يَفْقَهُونَ
{
Hai Nabi,
kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang
yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang
musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat
mengalahkan seribu orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum
yang tidak mengerti.
(QS. al-Anfâl [8]: 65).
Hukum ini kemudian
dinasakh dengan perubahan yang lebih ringan, melalui firman-Nya:
 }الْآنَ
خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا فَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ
مِائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ أَلْفٌ
يَغْلِبُوا أَلْفَيْنِ بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ
{
Sekarang Allah
telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan.
Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat
mengalahkan dua ratus orang; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang
sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah.
Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.
(QS. al-Anfâl [8]: 66).
Semula, dalam
surat al-Anfâl: 65 dinyatakan, bahwa jika ada 10 orang yang bersabar, mereka
bisa mengalahkan 200 orang musuh, namun setelah ummat Islam pada saat itu
diketahui lemah, Allah menurunkan target 10:200, menjadi 100:200 orang.
Artinya, jika ada 100 orang mukmin yang bersabar, maka mereka akan bisa
mengalahkan 200 orang. Ini merupakan bentuk perubahan yang lebih ringan.
5.1.3. Perubahan
Setara
Nasakh dengan
implikasi perubahan setara itu terjadi sebagaimana dihapusnya hukum menghadap Baitul
Maqdis,
al-Quds dengan menghadap ke Ka’bah, di Makkah. Dikatakan
setera, karena masing-masing hukum yang menasakh dan dinasakh sama-sama
merupakan perintah menghadap kiblat. Hanya, kiblat yang pertama statusnya telah
digantikan dengan yang kedua. Firman Allah:
 }قَدْ
نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا
فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا
وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ
الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ
{
Sungguh Kami
(sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan
memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah
Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.
Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nashrani) yang diberi Al Kitab (Taurat
dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah
benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka
kerjakan.
(QS. al-Baqarah [2]: 144).
5.1.4. Perubahan
yang Lebih Berat
Mengenai nasakh
dengan implikasi perubahan hukum yang lebih berat, misalnya terlihat dalam
konteks zina. Firman Allah:
 }وَاللاَّتِي
يَأْتِينَ الْفَاحِشَةَ مِنْ نِسَائِكُمْ فَاسْتَشْهِدُوا عَلَيْهِنَّ أَرْبَعَةً
مِنْكُمْ فَإِنْ شَهِدُوا فَأَمْسِكُوهُنَّ فِي الْبُيُوتِ حَتَّى يَتَوَفَّاهُنَّ
الْمَوْتُ أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ لَهُنَّ سَبِيلاً
~
وَاللَّذَانِ
يَأْتِيَانِهَا مِنْكُمْ فَآذُوهُمَا فَإِنْ تَابَا وَأَصْلَحَا فَأَعْرِضُوا
عَنْهُمَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ تَوَّابًا رَحِيمًا
{
Dan (terhadap)
para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi
diantara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi
persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka
menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadanya. Dan
terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji di antara kamu, maka berilah
hukuman kepada keduanya, kemudian jika keduanya bertaubat dan memperbaiki diri,
maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
(QS. an-Nisâ’ [4]: 16).
Sanksi untuk
pelaku zina pada awalnya adalah tahanan rumah hingga meninggal dunia. Namun,
sanksi hukum ini kemudian dinasakh dengan sanksi hukum yang lebih berat,
sebagaimana yang dinyatakan Allah:
 }الزَّانِيَةُ
وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ وَلاَ
تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ
بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ
الْمُؤْمِنِينَ
{
Perempuan yang
berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari
keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya
mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah,
dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh
sekumpulan dari orang-orang yang beriman.
(QS. an-Nûr [24]: 2).
5.2. Proses
Terjadinya Nasakh
Nasakh dalil satu
dengan yang lain bisa dilakukan jika yang menasakh status sumbernya lebih
tinggi, bukan sebaliknya. Dari sini, bisa disimpulkan, bahwa nasakh tersebut
bisa terjadi melalui prosedur sebagai berikut:
5.2.1. Nasakh
al-Qur’an dengan al-Qur’an
Nasakh hukum ‘iddah
selama satu tahun dalam nash al-Qur’an, misalnya, telah dinasakh dengan
hukum ‘iddah selama 4 bulan 10 hari. Masing-masing telah dinyatakan
dalam nash al-Qur’an:
 }وَالَّذِينَ
يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا وَصِيَّةً لأَزْوَاجِهِمْ مَتَاعًا
إِلَى الْحَوْلِ غَيْرَ إِخْرَاجٍ فَإِنْ خَرَجْنَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِي
مَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ مِنْ مَعْرُوفٍ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
{
Dan orang-orang
yang akan meninggal dunia di antaramu dan meninggalkan isteri, hendaklah
berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya
dengan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). Akan tetapi jika mereka pindah
(sendiri), maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal)
membiarkan mereka berbuat yang ma`ruf terhadap diri mereka. Dan Allah Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(QS. al-Baqarah [2]: 240)
 }وَالَّذِينَ
يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ
أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلاَ جُنَاحَ
عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَاللَّهُ بِمَا
تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
{
Orang-orang yang
meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para
isteri itu) menangguhkan dirinya (ber`iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian
apabila telah habis `iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan
mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa
yang kamu perbuat.
(QS. al-Baqarah [2]: 234)
5.2.2. Tidak Boleh Menasakh al-Qur’an dengan Hadits Mutawatir
Sekalipun hadits
mutawatir statusnya qath’î, namun ia tetap tidak bisa menasakh al-Qur’an
karena alasan sebagai berikut:
1.
Allah berfirman:
 }وَإِذَا
بَدَّلْنَا ءَايَةً مَكَانَ ءَايَةٍ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُنَزِّلُ
{
Dan apabila Kami
letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah
lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya.
(QS. an-Nahl [16]: 101).
Dalam ayat tersebut, dengan jelas Allah menyatakan, bahwa jika Allah
mengganti ayat satu, sejatinya menggantikan posisi ayat yang lain. Dalam hal
ini, Allah juga Maha Tahu terhadap apa yang akan diturunkan-Nya. Ini artinya,
proses pergantian itu terjadi antara ayat satu dengan ayat lain.
2.
Firman Allah:
 }مَا
نَنْسَخْ مِنْ ءَايَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
{
Ayat mana saja
yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan
yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu
mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?
(QS. al-Baqarah
[2]: 106).
yang menyatakan: Na’t[i] (Kami datangkan), jelas kata gantinya
kepada Allah SWT. Artinya, Allahlah yang mendatangkan nasakh suatu ayat,
sementara as-Sunnah adalah apa yang didatangkan oleh Nabi. Sebab, lafazh
as-Sunnah dari Nabi, sementara al-Qur’an dari Allah sekalipun substansinya
masing-masing merupakan wahyu dari Allah. Jika demikian, ayat al-Qur’an hanya
bisa dinasakh dengan ayat al-Qur’an yang lain.
3.
Firman Allah:
 }وَأَنْزَلْنَا
إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ
يَتَفَكَّرُونَ
{
Dan Kami
turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang
telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.
(QS. an-Nahl
[16]: 44).
Kedudukan Rasul dalam ayat tersebut jelas dinyatakan sebagai orang yang
bertugas menjelasakan ayat yang diturunkan kepada manusia. Namun, ia tidak menasakhnya,
sebab nasakh berarti menghapus, bukan menjelaskan.
Berdasarkan
alasan-alasan tersebut, maka hadits mutawatir jelas tidak bisa menasakh
al-Qur’an. Lebih-lebih hadits âhâd. Mengenai alasan kalangan yang
membolehkan al-Qur’an dinasakh dengan hadits mutawatir karena perubahan kiblat,
dari Baitul Maqdis ke Ka’bah, maka yang terjadi sesungguhnya adalah,
bahwa tindakan sahabat yang berpindah kiblat dengan hadits mutawatir itu sebenarnya
dalam konteks menerima hukum syara’. Sementara nasakhnya itu sendiri terjadi
bukan karena hadits tersebut, melainkan karena nash al-Qur’an, sebagaimana yang
disebutkan di atas.
5.2.3. Nasakh
as-Sunnah dengan as-Sunnah
Nasakh as-Sunnah
bisa dilakukan antara hadits mutawatir dengan mutawatir, âhâd
dengan mutawatir, atau âhâd dengan âhâd. Misalnya
hadits Nabi yang menyatakan:
« نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا »
Saya telah
melarang kalian melakukan ziarah kubur, maka ziarahlah.
(HR. Muslim dari
Ibn Buraydah dari bapaknya).
5.2.4. Nasakh
as-Sunnah dengan al-Qur’an
As-Sunnah bisa dinasakh
dengan al-Qur’an. Misalnya, kasus puasa Asyûrâ’ yang telah ditetapkan
berdasarkan as-Sunnah, telah dinasakh dengan al-Qur’an, sebagaimana yang diceritakan
dalam hadits Aisyah:
« كَانُوا يَصُومُونَ عَاشُورَاءَ قَبْلَ أَنْ يُفْرَضَ رَمَضَانُ
وَكَانَ يَوْمًا تُسْتَرُ فِيهِ الْكَعْبَةُ فَلَمَّا فَرَضَ اللَّهُ رَمَضَانَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
r
مَنْ شَاءَ أَنْ يَصُومَهُ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ شَاءَ أَنْ يَتْرُكـَهُ
فَلْيَتْرُكْهُ
»
Mereka (para
sahabat) dahulu puasa Asyûrâ’ sebelum difardhukannya puasa Ramadhan, di
hari  dimana Ka’bah ditutup. Ketika Allah
memfardhukan puasa Ramadhan, Rasulullah saw. bersabda: ‘Saipa saja yang mau
berpuasa Asyûrâ’, hendaknya berpuasa Asyûrâ’, dan siapa saja yang ingin
meninggalkannya, hendaknya meninggalkannya.
(HR. Bukhâri
dari Aisyah).
Adapun ayat yang menasakh adalah:
 }يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ
مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ 
~
أَيَّامًا
مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ
أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ
فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ
كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
~
فَمَنْ
شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ
فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
{
Hai orang-orang
yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang
tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan
(lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang
ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang
berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu):
memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan
kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu
jika kamu mengetahui. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan,
bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi
manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara
yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di
negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan
itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka
(wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada
hari-hari yang lain.
(QS. al-Baqarah [2]: 183-185).
5.2.5. Tidak Ada Nasakh
terhadap Hukum Ijma’
Penetapan hukum
berdasarkan Ijma’ Sahabat sejatinya merupakan penetapan hukum karena ketiadaan
hadits yang dinyatakan dalam masalah tersebut, selain bahwa para sahabat telah
mengetahui adanya hadits tersebut, hanya tidak dinyatakan, tetapi hukumnya saja
yang mereka kemukakan. Sementara setelah terputusnya wahyu, tidak ada lagi nash
yang diturunkan, baik al-Qur’an maupun as-Sunnah, dengan demikian tidak ada
Ijma’ atau Qiyas kedua. Dengan alasan itulah, maka tidak ada nash baru yang
bisa menasakh hukum yang telah ditetapkan berdasarkan Ijma’ Sahabat yang
membuktikan adanya hadits yang pernah diketahui oleh para sahabat.
5.2.6. Nasakh
terhadap Hukum Qiyas
Nasakh terhadap
hukum Qiyas secara mutlak tidak bisa dilakukan. Sebab, Qiyas yang diakui adalah
Qiyas yang ‘illat-nya syar’i, baik yang dinyatakan oleh nash secara
jelas (sharâhah), atau melalui indikasi (dalâlah), atau
dihasilkan melalui istinbât, atau melalui Qiyas. Qiyas tetap bisa
berlaku, selama dalilnya masih tetap ada. Maka, nasakh hukum yang digali melalui
Qiyas tidak bisa dilakukan, selama hukum asalnya masih ada. Jika telah terjadi nasakh
terhadap hukum asal, berarti tidak ada lagi Qiyas, sebab ‘illat-nya
sudah hilang. Namun, ini tidak bisa dikatakan bahwa nasakh tersebut telah
terjadi pada hukum Qiyas. Sebab, yang terjadi adalah nasakh terhadap hukum
asal, yang telah ditetapkan berdasarkan nash.
[1]  Kata ganti (ad-dhamîr), contohnya seperti: Huwa (dia
laki-laki), Hiya (dia perempuan); nama (al-‘alam), contohnya
seperti: Muhammad (nama orang), Irâq (nama wilayah); penunjuk (al-isyârah),
seperti Hâdzâ (ini untuk benda bergender laki-laki), Hâdzihi (ini
untuk benda bergender perempuan); sambung (al-mawshûl), contohnya: al-Ladzî
(laki-laki), al-Latî (perempuan); kata benda yang diserati dengan
partikel “al”, contohnya: al-Masjid; disandarkan (mudhâf)
kepada salah satu bentuk Ma’rifat sebelumnya, seperti: Masjid Muhammad;
atau obyek seruan tertentu (al-munâdâ al-maqshûdah) seperti: Ya
Rajul[an]
dengan maksud orang laki-laki tertentu, yang dipanggil demikian
karena identitasnya tidak diketahui oleh si pemanggil. Lafazh: Rajul[an] dalam
struktur kalimat tersebut adalah bentuk Ma’rifat.
[2]  HR. Bukhâri, Shahîh al-Bukhâri, hadits no. 5244.
[3]  HR. Muslim, Shahîh Muslim, hadits no. 2748.
[4]  Lihat, ‘Abdullâh, al-Wâdhih, hal. 327.
[5]  HR. Ibn Hisyâm, Sîrah, hal. 469.
[6]  HR. at-Tirmîdzi, Sunan at-Tirmîdzi, hadits no. 870.
[7]  Ibn Qudâmah, al-Mughnî, juz VI, hal. 168. Lihat, Rawwâs Qal’ah Jie, Mawsûah
Fiq ‘Umar ibn al-Khaththâb,
Dâr an-Nafâ’is, Beirut, cet. V, 1997, hal.
747-748.
Sumber: Buku Membangun Paradigma Berfikir Tasyri’î
SHARE