BAB V CARA MENARIK HUKUM MELALUI NASH

38
Istidlâl (menarik hukum) melalui nash, al-Qur’an dan as-Sunnah, memerlukan
pengetahuan tentang klasifikasi yang terdapat dalam kedua nash tersebut,
seperti perintah dan larangan, âm-khâsh, Muthlaq-Muqayyad, Mujmal-Mubayyan, nasakh
dan mansûkh, sebagaimana yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya.
Namun, pengetahuan tersebut belum cukup untuk melakukan penarikan hukum dari
kedua nash tersebut, sebelum bahasa kedua nash tersebut difahami. Karena itu,
memahami  bahasa kedua nash tersebut
sangat penting. Dan karena keduanya dinyatakan dalam bahasa Arab, maka pembahasan
mengenai bahasa Arab ini penting dilakukan.
1. Studi Kebahasaan
Bahasa adalah
sarana pengungkap isi hati seseorang. Maka, bahasa tidak lain merupakan
kata-kata yang digunakan untuk mengungkapkan maksud atau makna tertentu. Ketika
makna lafazh diperoleh melalui pemakaian pengguna, maka mengetahui penggunaan (al-wadh’),
dan selanjutnya mengetahui makna lafazh itu menjadi keharusan. Yang dimaksud
dengan penggunaan (al-wadh’) di sini adalah pengkhususan sebuah lafazh
untuk makna tertentu. Jika penggunaan ini diketahui, maka maknanya juga pasti
bisa difahami. Karena itu, bisa disimpulkan bahwa lafazh sejatinya merupakan
ungkapan isi hati.

Dengan demikian,
bahasa Arab adalah ungkapan yang digunakan oleh orang Arab untuk mengungkapkan isi
hati mereka. Maka, bahasa merupakan istilah yang dibuat dan digunakan oleh
manusia, bukan Allah. Mengenai firman Allah yang menyatakan:

} وَعَلَّمَ ءَادَمَ الأَسْمَاءَ
كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ
هَؤُلاَءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
{
Dan Dia
mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian
mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah
kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!”.
(QS. al-Baqarah [2]: 31).
maksudnya adalah
nama-nama sesuatu, dan bukan bahasa. Artinya, Allah telah mengajarkan kepada
Adam hakikat sesuatu dan karakteristiknya, dimana Allah memberikannya agar Adam
bisa menggunakannya untuk menghukumi sesuatu yang diinderanya.
1.1. Karakteristik
Bahasa al-Qur’an dan as-Sunnah
Tidak dapat
disangkal, bahwa secara real bahasa al-Qur’an dan as-Sunnah adalah bahasa Arab.
Allah berfirman:
} بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ {
Dengan bahasa Arab yang jelas. (QS. as-Syu’arâ’ [26]: 195).
Allah juga
berfirman:
} وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْءَانًا
أَعْجَمِيًّا لَقَالُوا لَوْلاَ فُصِّلَتْ ءَايَاتُهُ ءَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ
{
Dan jikalau Kami jadikan al-Qur’an itu suatu bacaan dalam
selain bahasa Arab tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan
ayat-ayatnya?” Apakah (patut al-Qur’an) dalam bahasa asing, sedang (rasul
adalah orang) Arab?
(QS. al-Fushilat
[41]: 44).
Dengan demikian,
jelas bahasa al-Qur’an dan Rasul yang membawanya adalah bahasa Arab. Masalahnya
adalah, apakah ada di dalam al-Qur’an lafazh lain selain Arab? Jawabannya tidak
ada. Semua yang ada dalam al-Qur’an adalah lafazh Arab. Jika ada lafazh yang
asalnya dari bahasa lain, maka setelah diambil oleh al-Qur’an lafazh tersebut
telah diarabkan, sehingga telah berubah menjadi lafazh Arab. Misalnya, lafazh: Misykât
dalam surat an-Nûr [24]: 35, Qisthâs dalam surat al-Isrâ’ [17]: 35
dan as-Syu’arâ’ [26]: 182, Sijjîl dalam surat Hûd [11]: 82, al-Hijr
[15]: 74 dan al-Fîl [105]: 4 serta Istabraq dalam surat al-Kahfi [18]:
31, ad-Dukhân [44]: 53, ar-Rahmân [55]: 54 dan al-Insân [76]: 21.
1.2. Cara
Mengetahui Bahasa Arab
Bahasa Arab adalah
setiap lafazh yang digunakan oleh orang Arab untuk mengungkapkan makna atau
maksud tertentu, maka tidak ada cara lain untuk mengetahui bahasa Arab kecuali
dengan meriwayatkan penggunaan lafazh oleh orang Arab yang digunakan untuk
mengungkapkan maksud atau makna tertentu. Bahasa bukanlah logika. Tetapi,
bahasa adalah alat penuturan pemilik atau pengguna bahasa, sehingga
interpretasi terhadap maksud dan maknanya tidak bisa dikembalikan kepada logika
orang yang mendengarkannya, melainkan harus dikembalikan kepada  maksud dan makna penggunanya. Karena itu,
satu-satunya metode untuk mengetahui bahasa adalah periwayatan. Dengan
demikian, cara mengetahui bahasa Arab adalah dengan meriwayatkannya dari orang
Arab. Dan karena bahasa itu merupakan lafazh yang digunakan untuk mengungkapkan
makna tertentu, maka pembahasan mengenai lafazh ini merupakan pembahasan pokok
dalam studi kebahasaaraban, disamping pembahasan mengenai lafazh dan makna.
1.2.1. Ragam Lafazh
Arab
Ungkapan bahasa (kalâm)
sejatinya merupakan huruf yang disuarakan, yang keluar dari rongga paling jauh
hingga ke ujung mulut ketika berbicara. Ragam huruf yang disuarakan dalam
bahasa Arab itu hanya ada 28 huruf. Mulai dari Alif hingga Ya’.
Dua puluh delapan huruf inilah yang disebut Huruf Hijâ’iyyah. Dari huruf-huruf
inilah, orang Arab menyusun ungkapan bahasa yang mempunyai makna tertentu. Secara
umum, lafazh Arab tersebut bisa diklasifikasikan menjadi dua:
1) Mufrad
(Tunggal)
Lafazh Mufrad (tunggal)
adalah lafazh yang terbentuk dari satu kata. Dalam hal ini, bisa dibagi menjadi
tiga:
1.
Hurûf: Kata Hurûf adalah kata yang bisa
menjelaskan maksud tertentu dengan disertai yang lain. Jika tidak disertai
dengan yang lain, maka ia tidak akan mempunyai makna. Mengenai contoh dan
klasifikasinya, terutama yang mendesak diketahui dalam konteks penarikan hukum
dari nash adalah sebagai berikut:
(1)   Huruf Jarr: Huruf Jarr ini ada banyak
ragamnya. Masing-masing dengan fungsi dan maksudnya, bisa diuraikan sebagai
berikut:
(1)   Min (مِـنْ  ): jika
digunakan untuk menyusun ungkapan, bisa digunakan dengan beberapa maksud:
a-
Ibtidâ’ al-ghâyah: yang berarti permulaan tujuan, bisa permulaan tempat, atau waktu. Masing-masing
bisa dicontohkan, misalnya:
} سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ
لَيْلاً مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْـجِدِ الأَقْصَى
{
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada
suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha.
(QS. al-Isrâ’ [17]: 1).
} لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ
أَوَّلِ يَوْمٍ
أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ
{
Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu
selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid
Quba), sejak hari pertama dimana lebih layak kamu bersembahyang di
dalamnya.
(QS. at-Taubah [9]: 108).
b-
Tab’îdh: yang berarti sebagian. Misalnya:
} وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ
يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ
الْمُنْكَرِ
{
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat
yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari
yang munkar.
(QS. Ali ‘Imrân [3]:
104).
c-
Bayân: yang  berarti penjelasan. Misalnya:
} وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ
مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ
اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ
{
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja
yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang
dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu.
(QS. al-Anfâl [8]: 60).
d-
Zâ’idah: tambahan, yang tidak berarti apa-apa. Misalnya:
} يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ
تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ
بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ
{
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil
musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada
mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya
mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu.
(QS. al-Mumtahanah [60]: 1).
e-
Badal: yang  berarti pengganti. Misalnya:
} أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ
الآخِرَةِ
فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ قَلِيلٌ
{
Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti
kehidupan di akhirat? padahal keni`matan hidup di dunia ini (dibandingkan
dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.
(QS. at-Taubah [9]: 38).
(2)   Ilâ (إلـَى  ): jika
digunakan untuk menyusun ungkapan, bisa digunakan dengan maksud:
a-
Intihâ’ al-ghâyah: yang berarti akhir tujuan. Misalnya:
} سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ
لَيْلاً مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْـجِدِ الأَقْصَى
{
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada
suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha.
(QS. al-Isrâ’ [17]: 1).
b-
Ma’a: yang berarti bersama. Misalnya:
} وَلاَ تَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ إِلَى
أَمْوَالِكُمْ
{
Jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. (QS. an-Nisâ’ [4]: 2).
(3)   Hattâ (حَـتَّى  ): jika
digunakan untuk menyusun ungkapan, bisa digunakan dengan maksud:
a-
Ghâyah: yang berarti tujuan atau target. Misalnya:
} سَلاَمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ
الْفَجْر
ِ
{
Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.
(QS. al-Qadar [97]: 5).
(4)   (فِـيْ  ): jika
digunakan untuk menyusun ungkapan, bisa digunakan dengan maksud:
a-
Dharfiyyah: yang berarti keterangan. Misalnya:
} كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ
{
Sama dengan orang yang kekal dalam neraka. (QS. al-Muhammad [47]: 15).
b-
‘Alâ: yang berarti di atas. Misalnya:
} وَلأُصَلِّبَنَّكُمْ فِي جُذُوعِ
النَّخْلِ
{
Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu
sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan
menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma.
(QS. Thâha [20]: 71).
c-
Sababiyyah: yang berarti sebab-akibat. Misalnya:
« دَخَلَتِ امْرَأَةٌ النَّارَ فِي هِرَّةٍ رَبَطَتْهَا فَلَمْ
تُطْعِمْهَا وَلَمْ تَدَعْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الأَرْضِ »
Seorang wanita telah masuk neraka karena kucing
yang diikatnya. Dia tidak pernah memberinya makanan, dan tidak membiarkannya
makan dari sisa (yang tertinggal) di tanah.
(HR. Bukhâri dari Ibn ‘Umar).
(5)   Bi (بِـ  ): jika digunakan untuk menyusun ungkapan,
bisa digunakan dengan maksud:
a-
Isti’ânah: yang berarti alat bantu yang digunakan. Misalnya:
} وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ وَلاَ
طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلاَّ أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ
{
Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan
burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat
(juga) seperti kamu.
(QS. al-An’âm [6]:
38).
b-
Mushâhabah:
yang berarti dengan. Misalnya:
} فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ
وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
{
Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan
mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.
(QS. an-Nashhr [110]: 3).
c-
Ta’addiyah: yang berarti transitif. Misalnya:
} ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ
وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لاَ يُبْصِرُونَ
{
Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka,
dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.
(QS. al-Baqarah [2]: 17).
d-
‘Alâ: yang berarti di atas. Misalnya:
} وَمِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ إِنْ
تَأْمَنْهُ بِقِنْطَارٍ يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ إِنْ
تَأْمَنْهُ بِدِينَارٍ لاَ يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ
{
Di antara Ahli Kitab ada orang yang jika kamu
mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di
antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu Dinar,
tidak dikembalikannya padamu.
(QS. Ali
‘Imrân [3]: 75).
e-
Sababiyyah: yang berarti sebab-akibat. Misalnya:
} فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ
هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ
سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًا
{
Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami
haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya)
dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari
jalan Allah.
(QS. an-Nisâ’ [4]: 160).
f-
Dharfiyyah: yang berarti keterangan. Misalnya:
} وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ
وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
{
Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan
Badar
, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu
bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.
(QS. Ali ‘Imrân [3]: 123).
g-
Qasam: yang berarti sumpah. Misalnya:
« أُقْسِمُ بالله »
Saya bersumpah demi Allah!
h-
Min Ajl: yang berarti dalam rangka atau karena. Misalnya:
} وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ
رَبِّ شَقِيًّا
{
Dan aku belum pernah kecewa karena berdo`a kepada
Engkau
, ya Tuhanku.
(QS. Maryam [19]: 4).
i-
Zâ’idah: yang tidak mempunyai makna apa-apa. Misalnya:
} وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ
إِلَى التَّهْلُكَةِ
{
Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam
kebinashaan.
(QS. Ali ‘Imrân [3]: 75).
j-
Badal: yang berarti pengganti. Misalnya:
} أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا
الضَّلاَلَةَ بِالْهُدَى فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا
مُهْتَدِينَ
{
Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan
petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka
mendapat petunjuk.
(QS. al-Baqarah
[2]: 16)
k-
‘An: yang berarti tentang. Misalnya:
} سَأَلَ سَائِلٌ بِعَذَابٍ
وَاقِعٍ
{
Seseorang peminta telah meminta kedatangan azab yang
bakal terjadi.
(QS. al-Ma’ârij [70]: 1).
(6)   Li (لِـ  ): jika digunakan untuk menyusun ungkapan,
bisa digunakan dengan maksud:
a-
Istihqâq: yang berarti menjadi hak. Misalnya:
} الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ
الْعَالَمِينَ
{
Segala puji menjadi hak Allah, Tuhan seluruh alam.
(QS. al-Fâtihah [1]: 1).
b-
Ikhtishâsh: yang berarti pengkhususan. Misalnya:
} وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ
وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
{
Dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang
disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.
(QS. Ali ‘Imrân [3]: 133).
c-
Milk: yang berarti milik. Misalnya:
} وَلِلَّهِ مَا فِي
السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ
{
Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan
apa yang ada di bumi.
(QS. an-Najm [53]:
31).
d-
Syibh at-tamlîk: yang berarti semi penyerahan. Misalnya:
} وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ
أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ
وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ
{
Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari
jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu,
anak anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik.
(QS. an-Nahl [16]: 72).
e-
Ta’lîl: yang berarti alasan (penyebab). Misalnya:
} لإِيلاَفِ قُرَيْشٍ {
Karena kebiasaan orang-orang Quraisy. (QS. Quraisy [106]: 1).
f-
Muwâfiqah Ilâ: yang berarti sama dengan Ilâ (ke ). Misalnya:
} بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا
{
Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang
sedemikian itu) kepadanya.
(QS. al-Zalzalah
[99]: 5).
g-
Muwâfiqah ‘Alâ: yang berarti sama dengan ‘Alâ (di atas). Misalnya:
} إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلأَذْقَانِ
سُجَّدًا
{
Apabila al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka
menyungkur atas muka mereka sambil bersujud.
(QS. al-Isrâ’ [17]: 107).
h-
Muwâfiqah Fî: yang berarti sama dengan (di dalam). Misalnya:
} وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ
الْقِيَامَةِ
فَلاَ تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا
{
Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari
kiamat
, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun.
(QS. al-Anbiyâ’ [21]: 47).
i-
Muwâfiqah ‘An: yang berarti sama dengan ‘an (mengenai/tentang). Misalnya:
} وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ
ءَامَنُوا
لَوْ كَانَ خَيْرًا مَا سَبَقُونَا إِلَيْهِ وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا
بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ
{
Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang
beriman: “Kalau sekiranya dia (al-Qur’an) adalah suatu yang baik, tentulah
mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. Dan karena mereka tidak
mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: “Ini adalah dusta
yang lama”.
(QS. al-Ahqâf
[46]: 11).
(7)   ‘Alay (عَلَى  ): jika digunakan
untuk menyusun ungkapan, bisa digunakan dengan maksud:
a-
: yang berarti di dalam. Misalnya:
} وَدَخَلَ الْمَدِينَةَ عَلَى حِينِ
غَفْلَةٍ
مِنْ أَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلاَنِ هَذَا مِنْ
شِيعَتِهِ وَهَذَا مِنْ عَدُوِّهِ
{
Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya
sedang lengah
, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang
berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari
musuhnya (kaum Fir`aun).
(QS. al-Qashash
[28]: 15).
Artinya, hîn[i]
ghaflat[in].
b-
‘An: yang berarti terhadap. Misalnya:
« إذَا رَضِيْتَ عَلَيَّ » أي إذَا رَضِيْتَ عَنِّي
Jika anda ridha terhadap kami.
c-
Fawq[a]: yang berarti di atas. Misalnya:
« غَدَتْ مَنْ عَلَيْهِ بَعْدَ مَا تَمَّ ظَمْؤُهَا » أي غدت من فوقه
Telah makan yang ada di atasnya, setelah sebelumnya
benar-benar haus.
(8)   ‘An (ِعَنْ  ): jika
digunakan untuk menyusun ungkapan, bisa digunakan dengan maksud:
a-
Mubâ’adah: yang berarti menjauhi. Misalnya:
} فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ
أَمْرِهِ
أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِـ،يبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
{
Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah
Rasul
takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.
(QS. an-Nûr [24]: 63).
b-
Ba’d: yang berarti setelah. Misalnya:
} لَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَنْ طَبَقٍ
{
Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam
kehidupan).
(QS. al-Insyiqâq [84]:
19).
c-
Apa yang jatuh
setelah ‘an
mempunyai konotasi ditambah. Misalnya:
} قَالَ عَمَّا قَلِيلٍ
لَيُصْبِحُنَّ نَادِمِينَ
{
Allah berfirman: “Dalam waktu sebentar lagi pasti
mereka akan menjadi orang-orang yang menyesal.”.
(QS. an-Najm [53]: 31).
(9)   Ka (ِكَـ  ): jika
digunakan untuk menyusun ungkapan, bisa digunakan dengan maksud:
a-
Tasybîh: yang berarti menyerupai. Misalnya:
«
عَلِيٌّ كَالأَسَدِ »
Ali bak seekor singa.
b-
Tawkîd: yang berarti menguatkan impresi. Misalnya:
} لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ {
Tiada sesuatu pun yang menyerupai-Nya. (QS. as-Syûrâ [42]: 11).
(10)
Mudz dan Mundzu (ِمُـذْ / مُنْذُ): jika digunakan untuk menyusun ungkapan, bisa
digunakan dengan maksud:
a-
: yang berarti di; jika waktunya sekarang (present). Misalnya:
« ماَ رَأَيْتُهُ مُذْ يَوْمِنَا »
Saya tidak melihatnya pada hari ini.
b-
Min: yang berarti dari atau sejak. Misalnya:
« ماَ رَأَيْتُهُ مُذْ يَوْمَ الْجُمْعَةِ »
Saya tidak melihatnya sejak hari Jum’at.
(11)
Khalâ, Hâsyâ,
‘Adâ, Gayr[a]
dan Sîwâ (ِخلا/ حاشا/عدا/غير/سيوى ): jika digunakan untuk menyusun
ungkapan, bisa digunakan dengan maksud pengecualian, sebagaimana dalam kasus istisnâ’
yang telah dijelaskan sebelumnya.
(2)   Hurf ‘Athaf: Huruf ini secara umum digunakan untuk
menggabungkan kata atau frasa yang jatuh sebelum dan setelahnya. Huruf ini juga
banyak ragamnya, dengan masing-masing fungsi dan maksud yang bisa diuraikan
sebagai berikut:
(1)   Waw (وَ  ): jika digunakan untuk menyusun ungkapan,
bisa digunakan dengan maksud:
a-
‘Alâ Mushâhibih[i]: yang berarti dia dan orang yang menyertainya. Misalnya:
} فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَصْحَابَ
السَّفِينَةِ
وَجَعَلْنَاهَا ءَايَةً لِلْعَالَمِينَ
{
Maka Kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang
bahtera itu
dan Kami jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semua umat
manusia.
(QS. al-Ankabût [29]: 15).
b-
‘Alâ Sâbiqih[i]: yang berarti dia dan pendahulunya. Misalnya:
} وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا وَإِبْرَاهِيمَ
وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِمَا النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ
{
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim
dan Kami jadikan kepada keturunan keduanya kenabian dan al-Kitab.
(QS. al-Hadîd [57]: 26).
c-
‘Alâ Lâhiqih[i]:
yang berarti dia dan penerusnya. Misalnya:
} كَذَلِكَ يُوحِي إِلَيْكَ وَإِلَى
الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ
اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
{
Demikianlah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana,
mewahyukan kepada kamu dan kepada orang-orang yang sebelum kamu.
(QS. as-Syûrâ [42]: 3).
(2)   Fa’ (فـَ  ): jika digunakan untuk menyusun ungkapan,
bisa digunakan dengan maksud:
a-
Tartîb: yang berarti urut-urutan. Misalnya:
} الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ
فَعَدَلَكَ
{
Yang telah menciptakan kamu, lalu menyempurnakan
kejadianmu
dan menjadikan (susunan tubuh) mu seimbang.
(QS. al-Infithâr [82]: 7).
} وَإِنْ كُنْتُمْ عَلَى سَفَرٍ وَلَمْ
تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانٌ مَقْبُوضَةٌ
{
Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara
tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada
barang tanggungan
yang dipegang (oleh yang berpiutang).
(QS. al-Baqarah [2]: 283).
Farihân[un] (maka hendaklah ada barang tanggungan) adalah penjelasan yang menguraikan kemujmalan
“mu’amalah yang dilakukan pada saat bepergian, sementara tidak ada
pencatat yang mencatat transaksi tersebut”. Maka, huruf Fa’ di sini
berfungsi sebagai penghubung yang mengurai kemujmalan konteks sebelumnya.
Ketika ini jatuh setelah ayat hutang-piutang (mudâyanah) (QS. 2: 282)
yang memerintahkan pencatatan, sebaliknya ayat ini memberikan opsi, jika tidak
ada pencatat, harus ada barang tanggungan yang diserahterimakan, maka konteks
ayat ini –yang menyangkut hutang-piutang dengan barang tanggungan– harus
ditakwilkan.
b-
Ta’qîb: yang urutan berikutnya. Misalnya:
} ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً
فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا
فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا ءَاخَرَ
{
Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu
Kami menjadikan segumpal darah itu segumpal daging, lalu Kami jadikan segumpal
daging itu tulang belulang, lalu Kami bungkus tulang belulang itu dengan
daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain.
(QS. al-Mu’minûn [23]: 14).
c-
Sababiyyah: yang  berarti sebab-akibat. Misalnya:
} لآكِلُونَ مِنْ شَجَرٍ مِنْ زَقُّومٍ ~ فَمَالِئُونَ
مِنْهَا الْبُطُونَ
~ فَشَارِبُونَ عَلَيْهِ مِنَ
الْحَمِيمِ
{
Benar-benar akan memakan pohon zaqqum, karena itu ia akan
memenuhi perutmu. Sesudah itu kamu akan meminum air yang sangat panash.
(QS. al-Wâqi’ah [56]: 52).
(3)   Tsumma (ثُـمِّ ): jika digunakan untuk menyusun ungkapan, bisa
digunakan dengan maksud:
a-
Tarakhkhî: yang berarti kemudian. Misalnya:
} وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ
وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى
{
Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang
bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.
(QS. Thâha [20]: 82).
b-
Waw: yang berarti dan. Misalnya:
} فَإِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ ثُمَّ
اللَّهُ
شَهِيدٌ عَلَى مَا يَفْعَلُونَ
{
Maka kepada Kami jualah mereka kembali, dan Allah menjadi
saksi atas apa yang mereka kerjakan.
(QS. Yûnus
[10]: 46).
Mempunyai maksud
demikian, sebab sebelumnya tidak menjadi saksi, kemudian setelah itu dinyatakan
menjadi saksi.
(4)   Hattâ (حَـتّى ): jika digunakan untuk menyusun ungkapan, bisa
digunakan dengan beberapa maksud:
Mûjabah: yang berarti pasti, sebab ma’thûf
merupakan bagian dari ma’thûf alayh.
Misalnya:
« مَاتَ النَّاسُ حَتَّى الأنْبِيَاءُ »
Manusia pasti mati, hingga para Nabi.
Artinya, Nabi juga
pasti mati, karena Nabi adalah manusia. Manusia (an-nâs), dalam hal ini,
adalah ma’thûf alayh, sedangkan nabi (al-anbiyâ’) adalah ma’thûf.
(5)   Aw ( أوْ ): jika digunakan untuk menyusun ungkapan, bisa
digunakan dengan maksud:
a-
Takhyîr wa al-Ibâhah: yang berarti pilihan dan mubah, jika Aw jatuh setelah thalab
(permintaan atau perintah). Misalnya:
« تَزَوَّجْ هِنْدًا أَوْ أُخْتَهَا »
Nikahilah Hindun atau saudaranya.
« جَالِسِ الْعُلَمَاءَ أَوْ الزُّهَّادَ »
Bersamalah ulama’ atau orang-orang zuhud.
Yang pertama,
konteksnya dengan pilihan, sedangkan yang kedua konteksnya dengan kemubahan.
Yang pertama karena tidak bisa dilakukan kedua-duanya, selain dipilih salah
satunya. Sementara yang kedua bisa dilakukan salah satunya, atau keduanya
sekali.
b-
Syakk aw Ibhâm: yang berarti meragukan, atau kabur. Ini terjadi, jika Aw jatuh
setelah kalimat berita. Misalnya:
} قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ
بَعْضَ يَوْمٍ
{
“Kita
berada (di sini) sehari atau setengah hari.”
(QS. al-Kahfi [18]: 19).
} قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ
السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ قُلِ اللَّهُ وَإِنَّا أَوْ إِيَّاكُمْ لَعَلَى
هُدًى أَوْ فِي ضَلاَلٍ مُبِينٍ
{
Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu
dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah”, dan
sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran
atau dalam kesesatan yang nyata.
(QS. al-Kahfi
[18]: 19).
Ayat yang pertama
mempunyai konotasi syakk (ragu-ragu), sedangkan yang kedua mempunyai
konotasi ibhâm (tidak jelas).
c-
Taqsîm: yang berarti pembagian. Misalnya:
« اَلْكَلاَمُ اِسْمٌ أَوْ فِعْلٌ أَوْ حَرْفٌ »
Kata itu adalah isim, fi’il atau huruf.
d-
Tafshîl: yang berarti uraian atau rincian. Misalnya:
} قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُوْنٌ
{
Mereka berkata: “Dia adalah tukang sihir.” atau
(yang lain lagi mengatakan): “Dia adalah gila.”
(QS. ad-Dzariyyât [51]: 52).
e-
Idhrâb: yang berkonotasi Bal (bahkan). Misalnya:
} وَأَرْسَلْنَاهُ إِلَى مِائَةِ أَلْفٍ
أَوْ يَزِيدُونَ
{
Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang bahkan lebih.
(QS. as-Shaffât [37]: 147).
(6)   Immâ ( إمَّـا ): jika digunakan untuk menyusun ungkapan, bisa
digunakan dengan maksud:
a-
Takhyîr: yang berarti pilihan, jika Immâ  jatuh setelah thalab (permintaan).
Misalnya:
« أطْعِمْ إِمَّا أَحْمَدَ وَإِمَّا حَسَنًا »
Berilah makan, Ahmad atau Hasan.
b-
Syakk: yang berarti ragu-ragu. Ini terjadi, jika Immâ jatuh setelah kalimat
berita. Misalnya:
« جَاءَ
إِمَّا أَحْمَدُ وَإِمَّا حَسَنُ »
Ahmad ataukah Hasan yang datang.
c-
Taswiyyah: yang berarti sama saja, jika jatuh dalam konteks kalimat bertanya.
Misalnya:
} إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ
عَلَيْهِمْ ءَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لاَ يُؤْمِنُونَ
{
Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka,
kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan
beriman.
(QS. al-Baqarah: 6)
(7).  ( لا ): jika digunakan untuk menyusun ungkapan, bisa
digunakan dengan maksud bukan, seperti:
« جَائَنِي زَيْدٌ لاَ عُمَرُ »
Zaidlah yang telah datang kepadaku, bukan Umar.
(3)   Huruf Nafy: Huruf ini secara umum digunakan untuk
menyusun kalimat negatif. Huruf ini juga ada beberapa macam, dengan
masing-masing fungsi dan maksud yang bisa diuraikan:
(1)   Ma (مـاَ  ): jika digunakan untuk menyusun ungkapan,
bisa digunakan dengan maksud:
a-
Nafy al-Hâl: yang berarti menafikan konteks sekarang. Misalnya:
« ماَ تَفْعَلُ »
Anda kini tidak melakukan..
b-
Nafy al-Mâdhî
al-Qarîb
: yang berarti menafikan konteks masa lalu, pada waktu
dekat. Misalnya:
« ماَ فَعَلَ »
Anda tidak melakukan (sebelumnya).
(2)   (لاَ  ): jika digunakan untuk menyusun ungkapan,
bisa digunakan dengan maksud nafy al-mustaqbal (menafikan konteks yang
akan datang). Bisa jadi dalam konteks kalimat berita (khabar), atau insyâ’î:
a-
Khabar: yang berarti menafikan konteks yang akan datang dalam konteks kalimat
berita. Misalnya:
« لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إلاَّ بِالله »
Tiada daya dan kekuatan selain hanya pada Allah.
b-
Insyâ’: yang berarti menafikan konteks yang akan datang dalam konteks kalimat
permintaan (perintah-larangan) atau do’a. Misalnya:
} يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ
تَدْخُلُوا
بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ
{
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian masuk
rumah yang bukan rumah kalian.
(QS. an-Nûr
[24]: 27).
Atau konteks do’a:
« لاَ رَعَاكَ اللهُ »
Semoga Allah tidak menjaga kamu.
(3)   Lam dan Lammâ (لم / لمـا  ): jika
digunakan untuk menyusun ungkapan, bisa digunakan dengan maksud mengubah
konteks Mudhâri’ (saat ini dan akan datang) menjadi Mâdhî (masa
lalu). Misalnya:
} لَـمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أحَد {
Dia tidak pernah mempunyai satu sekutu pun. (QS. al-Ikhlâsh
[112]: 4).
(4)   Lan (لن  ): jika digunakan untuk menyusun ungkapan,
bisa digunakan dengan maksud:
a-
Ta’kîd nafy
al-mustaqbal
: yang berarti menguatkan penafian
konteks yang akan datang. Misalnya:
} فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوْا وَلَنْ
تَفْعَلُوْا
{
Jika kamu tidak mampu melakukan (pembuatan satu surat),
dan sekali-kali  kamu tidak akan pernah
mampu melakukan.
(QS. al-Baqarah [2]: 24).
b-
Nafy al-Istimrâr: yang berarti menafikan konteks dulu, kini dan  yang akan datang. Misalnya:
} وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلاً {
Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada
orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.
(QS. an-Nisâ’ [4]: 141).
(5)   In (إن  ): jika digunakan untuk menyusun ungkapan,
bisa digunakan dengan maksud nafy al-hâl, atau menafikan konteks
kekinian. Misalnya:
} إنِ الْحُكْمُ إِلاَّ للهِ {
Hukum itu hanyalah hak Allah. (QS. al-An’âm [6]: 57).
(4)   Huruf Tashdîq: Huruf ini secara
umum digunakan untuk menyusun konteks jawaban. Huruf ini juga ada beberapa
macam, dengan masing-masing fungsi dan maksud sebagai berikut:
(1)   Na’am ( نَعَـم ): jika digunakan untuk menyusun ungkapan, bisa
digunakan dengan maksud untuk membenarkan pernyataan atau pertanyaan
sebelumnya. Misalnya:
« أقَامَ مُحَمَّدٌ؟ نَعَم »
Apakah Muhammad berdiri? Benar.
(2)   Balâ (
بَلَـى 
): jika digunakan untuk menyusun ungkapan, bisa
digunakan dengan maksud untuk menjawab apa yang dinafikan. Misalnya:
} أَلَيْسَ هَذَا بِالْحَقِّ قَالُوا
بَلَى وَرَبِّنَا
{
Bukankah (azab) ini benar? Mereka menjawab: “Ya benar, demi Tuhan
kami”.
(QS. al-Ahqâf [46]: 34).
(3)   Ajal (  أجـل): jika digunakan untuk menyusun ungkapan, bisa
digunakan dengan maksud untuk membenarkan berita. Misalnya:
« قاَمَ عَلِيٌّ؟ أجَلْ »
Ali berdiri? Benar.
(5)   Huruf-huruf Lain:
(1)   Lam ( لِـ ): Huruf Lam selain yang
telah dijelaskan di atas, bisa diklasifikasikan sebagai berikut:
a-
Lam al-Juhûd: Huruf yang masuk dalam kata kerja al-Mudhâri’ untuk me-nashhab-kan.
Karena selalu digunakan untuk melakukan penolakan, maka disebut Lam al-Juhûd.
Jika digunakan untuk menyusun ungkapan, ia mempunyai maksud tawkîd an-nafy,
yang berarti menguatkan penolakan. Huruf ini biasanya masuk pada struktur
kalimat yang didahului dengan Mâ Kâna, atau Lam Yakun dengan
bersandar kepada apa yang menjadi sandaran kata kerja yang disertai Lam.
Misalnya:
} وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ
عَلَى الْغَيْبِ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ
{
Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada
kamu
hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang
dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya.
(QS. Ali ‘Imrân [3]: 179).
} إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَظَلَمُوا لَمْ
يَكُنِ
اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلاَ لِيَهْدِيَهُمْ
طَرِيقًا
{
Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan
kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak
(pula) akan menunjukkan
jalan kepada mereka,.
(QS. an-Nisâ’ [4]: 168).
b-
Lam al-Aqibah: yang jika digunakan untuk menyusun ungkapan, ia mempunyai maksud shayrûrah
(akibatnya menjadi). Misalnya:
} فَالْتَقَطَهُ ءَالُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ
لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَنًا، إِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا كَانُوا
خَاطِئِينَ
{
Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir`aun yang
akibatnya dia menjadi
musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir`aun
dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.
(QS. al-Qashash [28]: 8).
c-
Lam az-Zâ’idah: yang jika digunakan untuk menyusun ungkapan, ia mempunyai maksud tawkîd
(menguatkan). Misalnya:
} إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ
عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
{
Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan
dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.
(QS. al-Ahzâb [33]: 33).
d-
Lam at-Taqwiyyah: yang jika digunakan untuk menyusun ungkapan, ia mempunyai maksud mazîdah
litaqwiyyah
(menambah penguatan). Hanya ini tidak masuk pada kata kerja. Misalnya:
} وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ ءَامِنُوا بِمَا
أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا نُؤْمِنُ بِمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرُونَ بِمَا
وَرَاءَهُ وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَهُمْ
{
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah
kepada al-Qur’an yang diturunkan Allah”, mereka berkata: “Kami hanya
beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami”. Dan mereka kafir kepada al-Qur’an
yang diturunkan sesudahnya, sedang al-Qur’an itu adalah (Kitab) yang hak; yang
membenarkan apa yang ada pada mereka.
(QS. al-Baqarah [2]: 91).
e-
Lam at-Ta’ajjub: yang jika digunakan untuk menyusun ungkapan, ia mempunyai maksud
mengungkap kekaguman. Hanya ini tidak masuk pada kata kerja, terpisah dari
konteks sumpah, dan digunakan dalam konteks panggilan (nidâ’). Misalnya:
« فَيَا لَكَ مِنْ لَيْلٍ … »
Aduhai engkau, wahai malam.
f-
Lam at-Thalab: yang jika digunakan untuk menyusun ungkapan, ia mempunyai maksud thalab
(menyatakan tuntutan). Ini masuk pada kata kerja al-Mudhâri’ dan berfungsi men-jazem-kannya. Misalnya:
} وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي
فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا
لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
{
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku,
maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang
yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu
memenuhi (segala perintah)
Ku dan hendaklah mereka beriman
kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
(QS. al-Baqarah [2]: 186).
g-
Lam at-Ibtidâ’: yang jika digunakan untuk menyusun ungkapan, ia mempunyai maksud tawkîd
(menguatkan), baik sebagai subjek (mubtada’) maupun predikat (khabar).
Misalnya:
} لأَنْتُمْ أَشَدُّ رَهْبَةً فِي صُدُورِهِمْ مِنَ اللَّهِ {
Sesungguhnya kamu dalam hati mereka
lebih ditakuti daripada Allah.
(QS. al-Hasyr
[59]: 13).
} الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي
عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ
{
Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan
kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar
Maha Mendengar
(memperkenankan) do`a.
(QS. Ibrâhîm [14]: 39).
} وَإِنَّ رَبَّكَ لَيَحْكُمُ
بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ
{
Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar akan memberi
putusan
di antara mereka di hari kiamat terhadap apa yang telah mereka
perselisihkan itu.
(QS. an-Nahl
[16]: 124).
} وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ
عَظِيمٍ
{
Dan sesungguhnya
kamu benar-benar berada pada agama yang agung.
(QS. al-Qalam [68]: 4).
h-
Lam at-Jawâb: yang biasanya digunakan untuk menjawab konteks kalimat bersyarat, baik
jawab Law, Lawlâ, atau sumpah. Misalnya:
} لَوْ
كَانَ فِيهِمَا ءَالِهَةٌ إِلاَّ اللَّهُ لَفَسَدَتَا
{
Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah
keduanya itu telah rusak binasha.
(QS. al-Anbiyâ’
[21]: 22).
} وَلَوْلاَ دَفْعُ اللَّهِ
النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الأَرْضُ وَلَكِنَّ اللَّهَ ذُو
فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ
{
Seandainya Allah tidak menolak (keganashan) sebahagian
manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi
Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.
(QS. al-Baqarah [2]: 251).
} وَتَاللَّهِ لأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ
بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ
{
Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya
terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya.
(QS. al-Anbiyâ’ [21]: 57).
i-
Lam al-Mu’dzinah
aw al-mûthi’ah
: yang masuk pada adât (perangkat)
syarat untuk membolehkan adanya jawaban yang didasarkan pada sumpah yang jatuh
setelahnya, bukan syarat. Misalnya:
} لَئِنْ أُخْرِجُوا لاَ يَخْرُجُونَ مَعَهُمْ وَلَئِنْ
قُوتِلُوا لاَ يَنْصُرُونَهُمْ وَلَئِنْ نَصَرُوهُمْ لَيُوَلُّنَّ
الأَدْبَارَ ثُمَّ لاَ يُنْصَرُونَ
{
Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu
tiada akan keluar bersama mereka, dan sesungguhnya jika mereka diperangi;
niscaya mereka tiada akan menolongnya; sesungguhnya jika mereka menolongnya
niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan
mendapat pertolongan.
(QS. al-Hasyr
[59]: 12).
(2)   Waw ( وَ ): Huruf Waw selain yang telah dijelaskan di
atas, bisa diklasifikasikan sebagai berikut:
a-
Waw al-Isti’nâf: Huruf yang digunakan untuk mengawali kalimat atau konteks pembicaraan. Misalnya:
} يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ
فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ
نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ
مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ
إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى
{
Hai manusia, jika
kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah)
sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani,
kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna
kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu; dan
Kami
tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah
ditentukan.
(QS. al-Hajj
[22]: 5).
b-
Waw al-Hal: yang jika digunakan untuk menyusun ungkapan, ia mempunyai maksud hâl
(menjelaskan keadaan subyek). Misalnya:
« جَاءَ فُلاَنٌ وَالشَّمْسُ طَالِعَةٌ »
Fulan datang ketika matahari terbit.
c-
Waw al-Maf’ûl: yang jika digunakan untuk menyusun ungkapan, ia mempunyai maksud maf’ûl
(obyek penderita). Misalnya:
« سِرْتُ وَالنِّيْلَ »
Saya melewati sungai Nil.
d-
Waw al-Qasam: yang jika digunakan untuk menyusun ungkapan, ia mempunyai maksud qasam
(demi). Huruf ini –dengan bi dan ta yang berfungsi untuk
bersumpah– sebenarnya merupakan bagian dari huruf al-Jarr, yang telah
dijelaskan sebelumnya. Misalnya:
} وَالْقُرْآنِ  الْحَكِيْمِ {
Demi al-Qur’an yang penuh hikmah. (QS. Yasin [36]: 2).
e-
Waw al-Ma’iyyah: yang jika digunakan untuk menyusun ungkapan, ia mempunyai maksud ma’a (bersama).
Misalnya:
« جَاءَ حَمِيْدُ إِلَيْهِ وَأَحْمَدَ »
Hamid datang kepadanya bersama Ahmad.
2.
Fi’il: adalah kata yang
menunjukkan kejadian yang disertai dengan waktu (zamân), Mâdhî (masa lalu), Hâl (kini), Mustaqbal (akan
datang). Bisa juga disebut kata kerja (verb). Dalam hal ini, bisa dibagi
menjadi tiga:
(1)   Fi’il al-Mâdhî: adalah kata kerja yang menunjukkan
konteks masa lalu. Ciri-cirinya, antara lain:
1-
Bisa menerima ta’ at-ta’nîts (huruf ta’ yang
menunjukkan perempuan). Misalnya:
} وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً
لِلَّذِينَ ءَامَنُوا اِمْرَأَةَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ
{
Dan Allah membuat isteri Fir`aun perumpamaan bagi
orang-orang yang beriman, ketika ia berkata.
(QS. at-Tahrîm
[66]: 11).
2-
Bisa menerima nûn an-niswah (huruf nûn yang
menunjukkan perempuan). Misalnya:
} وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا {
Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu
perjanjian yang berat.
(QS. an-Nisâ’ [4]: 21).
3-
Bisa menerima ta’ al-fâ’il (huruf ta’ yang
menunjukkan pelaku). Misalnya:
} وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ
وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى
{
Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu
melempar
, tetapi Allah-lah yang melempar..
(QS. al-Anfâl [8]:
17).
(2)   Fi’il al-Mudhâri’: adalah kata kerja yang menunjukkan
konteks kekinian dan futuristik. Ciri-cirinya, antara lain:
1-
Diawali dengan salah satu dari keempat huruf: hamzah,
ta’, nûn
dan ya’. Misalnya:
} كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ
الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ
{
Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar
dan yang bathil.
(QS. ar-Ra’d [13]: 17).
} أَفَنَضْرِبُ عَنْكُمُ
الذِّكْرَ صَفْحًا أَنْ كُنْتُمْ قَوْمًا مُسْرِفِينَ
{
Maka apakah Kami akan berhenti menurunkan Al
Qur’an kepadamu, karena kamu adalah kaum yang melampaui batas?
(QS. az-Zukhruf
[43]: 5).
2-
Bisa menerima huruf Sîn atau Sawfa (yang
masing-masing menunjukkan konotasi akan datang, jangka pendek dan jangka
panjang). Misalnya:
} وَسَيَجْزِي اللَّهُ
الشَّاكِرِينَ
{
Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang
bersyukur.
(QS. Ali ‘Imrân [3]: 144).
} فَسَوْفَ يُحَاسَبُ
حِسَابًا يَسِيرًا
{
Maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah. (QS. al-Insyiqâq
[84]: 8).
3-
Bisa menerima Lam (alamat Jazm). Misalnya:
} لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ {
Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. (QS. al-Ikhlâsh
[112]: 3).
(3)    Fi’il al-Amar: adalah kata kerja perintah.
Ciri-cirinya, antara lain:
1-
Bisa dimasuki nûn at-tawkîd (yang  berfungsi menguatkan maksud): Misalnya:
« اضْرِبَنْ ، اضْرِبَنَّ  »
Pukullah sekeras-kerasnya..
3.
Ism: adalah kata yang menunjukkan makna
dengan sendirinya, tanpa disertai zaman yang keluar dari maknanya. Ciri-cirinya,
antara lain, bisa dimasuki partikel “al”, tanwîn di belakang,
baik [un], [in], maupun [an], disusun dengan isim lain.
2) Murakkab
(Ganda)
Murakkab adalah lafazh yang terbentuk bukan dari satu kata, seperti lafazh mufrad
(tunggal), sebaliknya dibentuk dari dua kata atau lebih. Disebut Murakkab
karena tidak hanya terdiri dari satu lafazh. Dalam hal ini, lafazh Murakkab
bisa diklasifikasikan berdasarkan ragam struktur lafazhnya, antara lain,
sebagai berikut:
1.      Murakkab Isnâdi: adalah lafazh
yang dibentuk dengan struktur Musnad (subyek) dan Musnad Ilayh (predikat).
Dalam bahasa Arab, yang disebut subyek (Musnad) meliputi: (1) Fâ’il, (2)
Nâ’ib al-Fâ’il, (3) Mubtada’, (4) Isim Fi’il Nâqish, (5) Isim
Inna,
(6) Isim Lâ an-Nafiyah li al-Jins. Sedangkan predikat (Musnad
Ilayh
), meliputi: (1) Fi’il, (2) Khabar Mubtada’, (3) Khabar
Fi’il Nâqish,
(4) Khabar Laysa, (5) Khabar Inna. Karena itu, lafazh
Murakkab Isnâdi meliputi:
(1)
F’il-Fâ’il, misalnya:
} جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ {
Telah tiba kebenaran, dan sirnalah kebatilan. (QS. al-Isrâ’ [17]:
81).
(2)
Fi’il-Na’ib
al-Fâ’il,
misalnya:
} وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ {
Sedangkan mereka tidak dizalimi. (QS. az-Zumar [39]:
69).
(3)
Mubtada’-Khabar, misalnya:
} إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ
إِخْوَةٌ
{
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. (QS. al-Hujurât
[49]: 10).
(4)
Fi’il Nâqish-Isim,
misalnya:
} وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا
حَكِيمًا
{
Dan Allah Maha Mulia lagi Bijaksana. (QS. al-Fath
[48]: 19).
(5)
Isim Inna-Khabar, misalnya:
} إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ {
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang terdapat
dalam hati.
(QS. Luqmân [31]: 23).
(6)
Lâ-isim, misalnya:
} لاَ خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ {
Tiada sedikitpun kebaikan pada kebanyakan bisikan bisikan
mereka.
(QS. an-Nisâ’ [4]: 114).
2.      Murakkab Idhâfi: adalah lafazh
yang dibentuk dengan struktur Mudhâf (kata yang disandarkan) dan Mudhâf
Ilayh
(yang menjadi sandaran).
(1)  Mudhâf-Mudhâf Ilayh, misalnya:
} وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ
اللَّهِ
مَغْلُولَةٌ
{
Dan orang-orang Yahudi berkata: ”Tangan Allah itu
terbelenggu.”
(QS. al-Mâidah [5]: 64).
3.      Murakkab Bayâni: adalah lafazh
yang dibentuk dengan struktur Bayân (penjelasan) dan Mubayyan (yang
dijelaskan). Dalam bahasa Arab, struktur tersebut bisa berbentuk:
(1)  Na’at-Man’ût, misalnya:
} وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا
حَكِيمًا
{
Dan Allah Maha Mulia lagi Bijaksana. (QS. al-Fath
[48]: 19).
(2)  Badal-Mubdal Minh[u], misalnya:
} مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ
إِلاَّ رَسُولٌ
{
Al-Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul. (QS. al-Mâidah [5]:
75).
(3)
Taukid-Muakkad, misalnya:
} إِذْ نَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ
أَجْمَعِينَ
{
(Ingatlah)
ketika Kami selamatkan dia dan keluarganya (pengikut-pengikutnya) semua.
(QS. as-Shaffât
[37]: 134).
4.      Murakkab ‘Athfî: adalah lafazh
yang dibentuk dengan struktur Ma’thûf (yang dirangkai) dan Ma’thûf
‘Alayh
(yang menjadi rangkaian).
(1)  Ma’thûf-Ma’thûf Alayh, misalnya:
} إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ
وَالْفَتْحُ
{
Jika pertolongan Allah dan kemenangan telah datang. (QS. an-Nashhr
[110]: 1).
5.      Murakkab Mazji: adalah lafazh
yang dibentuk dengan mengintegrasikan dua lafazh dengan satu maksud baru, yang
berbeda dengan maksud sebelumnya. Misalnya: Hadhramawt, Bayt al-Lahm,
Ba’albak
dan lain-lain.
6.      Murakkab ‘Adadî: adalah lafazh yang
dibentuk dengan struktur ‘adad-ma’dûd.
(1)  ‘Adad-Ma’dûd, misalnya:
} أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ
يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلاَثَةٍ
إِلاَّ هُوَ رَابِعُهُمْ وَلاَ خَمْسَةٍ إِلاَّ هُوَ سَادِسُهُمْ
{
Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah
mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan
rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada
(pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya.
(QS. al-Mujâdalah
[58]: 7).
(2) Dzâti (substansi hitungannya), misalnya: Ihdâ ‘Asyar,
Tsalâtsa ‘Asyar
dan sebagainya.
1.2.2. Ragam Lafazh
dari Aspek Lafazh dan Makna
Inilah ragam lafazh
dilihat dari aspek lafazhnya, atau ad-dâll. Sedangkan, jika lafazh
tersebut dilihat dari aspek lafazh dan makna yang ditunjukkan oleh lafazh –atau
aspek ad-dâll wa al-madlûl– tersebut, bisa dibagi menjadi tujuh bagian:
1) Al-Munfarid:
Al-Munfarid adalah kata yang lafazh dan maknanya satu. Misalnya lafazh: Allâh. Lafazh
tersebut satu, maknanya juga hanya satu, yaitu Dzat yang wajib ada dan
azali.
2) Al-Musytarak:
Al-Musytarak adalah kata yang lafazhnya satu, tetapi maknanya banyak. Misalnya lafazh: al-‘ayn
(mata); bisa berarti penglihatan (‘ayn bâshirah), emas (dzahab)
dan mata-mata (jâsûs).
3) Al-Mutawâthi’:
Al-Mutawâthi’ adalah kata yang lafazhnya digunakan untuk menyebut obyek yang berbeda
dengan satu makna. Ini merupakan kebalikan al-Musytarak. Misalnya lafazh:
al-Insân (manusia) digunakan untuk menyebut ‘Ali, Muhammad, Ahmad, Ali
dan lain-lain. Al-Lawn (warna) digunakan untuk menyebut: merah, hijau,
kuning, biru dan sebagainya. Semuanya adalah lawn.
4) Al-Mutarâdif:
Al-Mutharâdif adalah kata yang lafazhnya banyak, dengan satu makna. Ini biasanya disebut
sinonim. Misalnya lafazh: Shalhab dan Syawdzab digunakan untuk
menyebut panjang (thawîl).
5) Al-Mutabâyin:
Al-Mutabâyin adalah lawan kata, yang biasa disebut antonim. Misalnya lafazh: al-abyadh
(putih) dengan al-aswad (hitam), al-wujûd (ada) dengan al-‘adam
(tiada), ar-rajul (laki-laki) dengan al-mar’ah (perempuan).
6) Al-Haqîqah:
Al-Haqîqah adalah kata yang lafazhnya digunakan sebagaimana pertama kali dipergunakan
dalam konteks kebahasaan. Misalnya lafazh: al-asad (singa) yang
digunakan dengan konotasi hewan buas. Ini tampak pada konteks  kalimat seperti berikut:
« رَأَيْتُ
أَسَدًا ضَخْمًا فِيْ حَدِيْقَةِ الْحَيَوَانِ
»
Saya telah melihat singa besar di kebun binatang.
(1)
Lughawiyyah Wadh’iyyah: adalah kata yang lafazhnya digunakan
untuk menunjukkan makna hakiki berdasarkan konteks penggunaan asal kata
tersebut. Ini juga biasa disebut dengan al-Haqîqah al-Lughawiyyah
saja. Misalnya lafazh: ar-Rajul yang digunakan untuk menyebut
laki-laki dewasa.
(2)
Lughawiyyah Manqûlah: adalah kata yang lafazhnya digunakan
untuk menunjukkan makna hakiki setelah mengalami transformasi maksud, baik yang
dilakukan oleh ahli bahasa atau pembuat syariat. Maka, dalam hal ini bisa
diklasifikasikan menjadi dua:
1-
Al-Haqîqah al-Lughawiyyah al-‘Urfiyyah: adalah lafazh yang mengalami tranformasi
maksud dari makna asal penggunaannya, kepada makna lain, yang kemudian
populer dengan makna tersebut, sehingga makna lafazh asalnya ditinggalkan.
Misalnya lafazh: ad-Dâbbah (hewan melata). Asalnya lafazh ini mempunyai
konotasi hewan melata di muka bumi, yang meliputi manusia dan hewan. Namun,
kemudian digunakan oleh orang Arab dengan konotasi hewan berkaki empat,
sehingga makna asalnya ditinggalkan. Maka, makna baru ini disebut Haqîqah
Lughawiyyah ‘Urfiyyah
. Yang juga termasuk jenis ini adalah penggunaan
istilah oleh pakar keilmuan, seperti ulama’ Nahwu menyebut Fâ’il, Mubtada’,
Nâ’ib al-Fâ’il
untuk maksud tertentu, yang secara fungsional mempunyai
konotasi subyek kalimat.
2-
Al-Haqîqah al-Lughawiyyah as-Syar’iyyah: adalah lafazh yang mengalami transformasi maksud dari makna asal
penggunaannya kepada makna lain, yang digunakan oleh pembuat syariat. Karena
yang melakukan transformasi maksud lafazh ini adalah pembuat syariat, maka
konotasi maknanya harus dinyatakan oleh dalil syara’. Misalnya lafazh: shalât,
as-shiyâm, al-Islâm, al-kufr
dan sebagainya.
7) Al-Majâz:
Al-Majâz adalah lafazh yang digunakan tidak sesuai dengan asal penggunaannya yang
pertama, karena adanya indikasi yang menghalangi dinyatakannya makna yang
hakiki. Misalnya lafazh: Raqabah, dalam firman Allah:
} فَتَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ {
Maka, hendaknya memerdekakan budak yang beriman (QS. an-Nisâ’ [4]: 92).
digunakan untuk
menyebut budak yang dimiliki (‘abd mamlûk). Sebab, ia merupakan bagian
dari budak, sehingga hubungannya merupakan hubungan bagian. Dalam istilah ahli Balâghah,
disebut: Ithlâq al-juz'[i] wa irâdat al-kull[i] (yang dinyatakan
sebagian, sementara maksudnya keseluruhan). Dalam hal ini, yang menentukan
bahwa lafazh tersebut Majâz adalah hubungan dan indikasi, yang diperoleh
oleh ahli bahasa dan Balâghah melalui penelitian dan analisis yang
mendalam. Dari aspek hubungan antara makna yang digunakan dengan makna yang
diletakkan pertama kali, maka Majâz bisa dibagi menjadi dua:
(1)
Isti’ârah: Secara harfiah, isti’ârah berarti
meminjam. Disebut demikian, karena pada dasarnya Majâz dalam konteks ini
disusun dengan meminjam lafazh asal untuk digunakan dengan maksud baru, karena
adanya persamaan (musyâbahah) antara masing-masing. Maka, di sini
berlaku konteks persamaan; Musyabbah (yang disamakan), Musyabbah
bih[i]
(obyek yang menjadi persamaan) dan Wajh as-Syabah (bentuk
persamaan). Contoh:
« أَنْتَ بَدْرٌ ضِيَاءً »
Anda, auranya bak
bulan purnama
.
Maka, anda statusnya sebagai Musyabbah (yang disamakan), auranya
adalah Wajh as-Syabah (bentuk persamaan), dan bak bulan purnama adalah
Musyabbah bih[i] (obyek yang menjadi persamaan). Isti’ârah kemudian
diklasifikasikan menjadi:
1-
Isti’ârah Tashrîhiyyah: Disebut Tashrîhiyyah karena
lafazh yang dipinjam digunakan untuk menjelaskan persamaan Musyabbah bih[i] dengan
Musyabbah. Maka, dalam Isti’ârah Tashrîhiyyah ini,
biasanya Musyabbah bih[i]-nya disebutkan. Misalnya:    
} الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ
إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ
{
Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan
kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya
terang benderang
.
(QS. Ibrâhîm [14]: 1).
Lafazh: ad-dhulumât
(gelap gulita) dan an-nûr (cahaya terang benderang) di sini
dipinjam, masing-masing untuk menjelaskan ad-dhalâlah (kesesatan atau
kekufuran) dan al-hidâyah (petunjuk atau Islam). Sebenarnya yang
dikehendaki oleh Allah, melalui indikasi diturunkannya al-Kitab kepada
Rasulullah saw. adalah “mengeluarkan dari kesesatan menuju jalan
hidayah”, karena itu masing-masing ad-dhalâlah dan al-hidâyah –yang
tidak dinyatakan dalam ayat tersebut– disebut Musyabbah (yang
disamakan), sedangkan ad-dhulumât dan an-nûr disebut Musyabbah
bih[i]
(obyek yang menjadi persamaan). Kedua lafazh ini dipinjam dengan
maksud untuk menjelaskan ad-dhalâlah dan al-hidâyah dengan majâz
(kiasan): ad-dhulumât dan an-nûr dengan maksud untuk
menguatkan impresi pihak yang dijelaskan. Karena itu, disebut Isti’ârah
Tashrîhiyyah,
sebab di dalamnya terjadi peminjaman lafazh untuk
menguatkan penjelasan maksud pihak penyeru.
2-
Isti’ârah Makaniyyah: adalah isti’ârah yang Musyabbah
bih[i]-
nya dibuang, kemudian digantikan dengan lafazh yang mencerminkan
sifatnya yang dominan. Misalnya:
} وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ
الذُّلِّ
مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي
صَغِيرًا
{
Dan rendahkanlah “sayap kerendahan” terhadap
mereka berdua (ibu-bapak) dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: “Wahai
Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik
aku waktu kecil”.
(QS. al-Isrâ’ [17]: 24).
Di sini, lafazh: ad-dzull (kerendahan) –yang
merupakan Musyabbah (yang disamakan)disamakan dengan at-thayr
(burung) –yang merupakan Musyabbah bih[i] (obyek yang menjadi
persamaan). Musyabbah bih[i] (burung) ini telah dihilangkan, lalu
posisinya digantikan dengan sifatnya yang dominan, janâh (sayap).
Inilah yang disebut isti’ârah makaniyyah, karena dalam konteks ayat ini
telah terjadi peminjaman lafazh: at-thayr (burung) yang kemudian
posisinya dihilangkan, lalu diganti dengan sifatnya yang dominan, janâh
(sayap). Sementara digandingkannya lafazh: janâh dan ad-dzull mengindikasikan
adanya Majâz dalam bentuk tasybîh (persamaan). Sebab,
masing-masing lafazh tersebut tidak relevan. Dari sinilah, kemudian bisa
disimpulkan, bahwa ad-dzull merupakan persamaan at-thayr (burung),
karena ada lafazh: janâh (sayap) yang menjadi ciri khas burung.
3-
Isti’ârah Takhyîliyyah: adalah isti’ârah yang menetapkan
keberadaan Musyabbah bih[i] bagi Musyabbah, sehingga pihak yang
diseru akan membayangkan, bahwa Musyabbah (yang disamakan) tadi sejenis
dengan Musyabbah bih[i] (obyek yang menjadi persamaan). Ciri takhyîliyyah
ini adalah adanya penetapan sesuatu yang sejatinya tidak menjadi miliknya,
untuk dimiliki. Misalnya:
} تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ
الْغَيْظِ
كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ
يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ
{
Hampir-hampir
(neraka) itu meledak-ledak lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya
sekumpulan (orang-orang kafir). Penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada
mereka: “Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi
peringatan?”
(QS. al-Mulk [67]: 8).
Lafazh: tamayyaz[u] min al-ghayth (meledak-ledak
karena marah) adalah karakter manusia, yang perangainya keras dan kasar. Dalam
hal ini, neraka (Musyabbah) disamakan dengan manusia (Musyabbah
bih[i]
), tanpa menyebut sama sekali kata: “manusia” selain
karakternya saja, tamayyaz[u] min al-ghayth (meledak-ledak karena
marah). Peminjaman lafazh: tamayyaz[u] min al-ghayth (meledak-ledak
karena marah) yang seharusnya menjadi milik manusia untuk diberikan kepada
neraka (Musyabbah), dan ditetapkannya apa yang lazim pada Musyabbah bih[i]
(manusia), yaitu lafazh tamayyaz[u] min al-ghayth (meledak-ledak
karena marah) tersebut sebagai
karakter Musyabbah (neraka) ketika marah, sehingga ada kesan (image)
neraka itu sebangsa manusia yang bisa meledak-ledak kemarahannya. Inilah yang
disebut isti’ârah takhyîliyyah.
4-
Isti’ârah Tamtsîliyyah: adalah susunan kata (tarkîb) yang
digunakan tidak pada tempatnya, disebabkan karena adanya hubungan persamaan,
dengan dihilangkannya ujud persamaan (wajh as-syabah)-nya dari beberapa
perkara, dimana Musyabbah­-nya masuk dalam jenis atau kelompok Musyabbah
bih[i]
. Misalnya:
} أَفَمَنْ يَمْشِي مُكِبـًّا عَلَى
وَجْهِهِ أَهْدَى أَمَّنْ يَمْشِي سَوِيًّا عَلَى صِـرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
{
Maka apakah orang yang berjalan dengan muka terjungkal
itu lebih banyak mendapat petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas
jalan yang lurus?
(QS. al-Mulk [67]: 22).
Struktur (tarkîb): man yamsy[i] mukibb[an] ‘alâ
wajhih[i]
(orang yang berjalan dengan muka terjungkal) dan man yamsy[i]
sawiyy[an] ‘alâ shirâth[in] mustaqîm
(orang yang berjalan dengan tegak
mengikuti jalan yang lurus) adalah struktur yang masing-masing tidak digunakan
pada tempatnya, atau Majâz. Namun, karena adanya persamaan antara
masing-masing dengan Musyabbah (yang disamakan)-nya, maka struktur
tersebut digunakan. Masing-masing digunakan untuk menyebut orang Kafir dan
orang Mukmin. Orang Kafir disamakan –secara tamtsîl (permisalan)–
dengan orang yang berjalan dengan muka terjungkal (man yamsy[i] mukibb[an]
‘alâ wajhih[i]
), sementara orang Mukmin dengan cara yang sama disamakan
dengan orang yang berjalan dengan tegak mengikuti jalan yang lurus (man
yamsy[i] sawiyy[an] ‘alâ shirâth[in] mustaqîm
). Peminjaman struktur lafazh
(tarkîb) karena persamaan antara masing-masing dengan gaya permisalan (tamtsîl)
inilah yang disebut isti’ârah tamtsîliyyah.
(2)
Mursal: adalah bentuk Majâz; jika
hubungan antara makna yang digunakan dengan makna yang diletakkan pertama kali
tidak mempunyai persamaan. Berdasarkan hubungan antara makna yang digunakan
dengan makna yang diletakkan pertama kali, Majâz Mursal  bisa diklasifikasin menjadi:
1-
Juz’iyyah: Disebut Juz’iyyah karena
sesuatu disebut dengan menyebut bagiannya. Misalnya:    
} قُمِ اللَّيْلَ إِلاَّ قَلِيلاً {
Bangunlah (shalatlah) di malam hari, kecuali sedikit
(daripadanya).
(QS. al-Muzammil [73]: 2).
Lafazh: qum dengan
konotasi: shalatlah, adalah bentuk penyebutan bagian dari shalat, yaitu
berdiri, tetapi dengan maksud keseluruhan shalat. Ini juga biasa disebut
dengan: Ithlâq al-juz'[i] wa irâdat al-kull[i] (menyebut bagian dengan
maksud keseluruhan).
2-
Kulliyyah: Disebut demikian, karena yang dinyatakan
adalah seluruhnya, sementara yang dimaksud hanya sebagiannya saja. Misalnya:
} يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ
فِي ءَاذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ
{
Mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena
(mendengar suara) petir, sebab takut akan mati.
(QS. al-Baqarah
[2]: 19).
Lafazh: ashâbi’ahum (anak-anak jarinya) yang
berarti seluruh jarinya digunakan untuk menyumbat telinga, sementara lubang
telinga hanya cukup untuk satu jari, membuktikan bahwa sebenarnya yang dimaksud
adalah sebagian jari, masing-masing kanan satu, dan kiri satu. Karena itu, bisa
disebut: Ithlâq al-kull[i] wa irâdat
al-juz'[i]
(menyebut keseluruhan
dengan maksud sebagian).
3-
Sababiyyah: adalah menyebut sesuatu sesuai dengan
sebutan sebabnya. Misalnya:
} فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ
فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ
{
Maka, siapa saja yang
menyerang kamu, maka balaslah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu.
(QS. al-Baqarah [2]: 194).
Lafazh: fa’tadû (balaslah) adalah lafazh yang
sama, yang digunakan dalam konteks sebelumnya: faman i’tadâ (siapa saja
yang menyerang), padahal maksudnya: raddû (balaslah). Penggunaan lafazh
yang sama dengan maksud yang berbeda, yang satu “menyerang” sedangkan
yang lain “membalas” didasarkan pada sebabnya inilah yang disebut Sababiyyah.
Juga bisa disebut Bayân Musyâkalah.
4- Musabbabiyyah: Disebut demikian, karena yang menjadi dasar
penyebutan adalah akibatnya. Misalnya:
} فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا
مِمَّا تُنْبِتُ الأَرْضُ مِنْ بَقْلِهَا وَقِثَّائِهَا وَفُومِهَا
وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا
{
Maka, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia
mengeluarkan bagi kami dari apa yang bumi tumbuhkan, yaitu: sayur-mayurnya,
ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya dan bawang merahnya”.
(QS. al-Baqarah
[2]: 61)
.
Penyebutan: tunbit[u] al-ardh[u] (bumi tumbuhkan),
dimana bumi dinyatakan sebagai subyek dari predikat: tunbit[u] (menumbuhkan),
adalah bentuk Musabbabiyyah. Sebab, sebenarnya yang menumbuhkan tanaman
adalah Allah, hanya Allah menumbuhkannya di bumi, dimana bumi sejatinya
merupakan akibat dari perbuatan Allah menumbuhkan tanaman di atasnya. Namun,
ayat ini tidak menyebut Allah sebagai Dzat yang menumbuhkan, sebaliknya bumi
disebut-sebut sebagai yang menumbuhkan. Maka, penyebutan seperti ini disebut Musabbabiyyah.
5-
Disebut mengikuti apa yang akan menjadi haknya. Misalnya:
} إِنِّي أَرَانِي أَعْصِرُ خَمْرًا
{
Sesungguhnya saya telah diberi isyarat sedang memeras
khamer
(QS. Yûsuf [36]: 36).
Penyebutan: a’shir[u] khamr[an] (memeras khamer),
padahal maksudnya jelas memeras anggur, sebab khamer tidak bisa diperas.
Sebaliknya, khamer adalah hasil perasan dari anggur.   
6-
Disebut mengikuti apa yang telah menjadi haknya. Misalnya:
} وَآتُوْا اليَتَامَى أَمْوَالَهُمْ {
Dan berikanlah
kepada anak-anak yatim itu harta mereka.
(QS. an-Nisâ’ [4]: 2).
Padahal maksudnya
jelas agar harta mereka diberikan ketika mereka sudah akil baligh, bukan
sebelumnya. Penyebutan seperti ini, karena harta tersebut telah menjadi hak
mereka, baik sebelum maupun setelah baligh.   
7-
Disebut mengikuti Tempat, padahal yang dimaksud
adalah orangnya. Misalnya:
} وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ {
Dan bertanyalah
kepada (penduduk) kampung.
(QS. Yûsuf
[12]: 82)
.
Struktur kalimat: was’al[i]
al-qaryat[a]
(bertanyalah kepada kampung) maksudnya jelas bukan bertanya
kepada tempatnya, yaitu kampung, melainkan orangnya. Sebab, kampung tidak bisa
berbicara.  
8-
Disebut mengikuti Keadaan, padahal yang dimaksud
adalah tempat. Misalnya:
} وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ
وُجُوهُهُمْ
فَفِي رَحْمَةِ اللَّهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
{
Adapun orang-orang
yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga);
mereka kekal di dalamnya.
(QS. Ali
‘Imrân [3]: 107)
.
Struktur kalimat: ibyadhdhat
wujûhuhum
(putih berseri mukanya), adalah ungkapan mengenai keadaan para
penghuni syurga. Namun, di sini lafazh yang menunjukkan tempat (syurga)
tersebut sama sekali tidak disinggung, selain kondisi para penghuninya. 
2. Dalâlah Lafazh
Dalâlah adalah petunjuk atau isyarat yang menunjukkan makna atau konotasi tertentu pada
lafazh. Makna atau konotasi tertentu pada lafazh yang bisa difahami dari
petunjuk atau isyarat lafazh, dapat ditangkap melalui dua aspek, Manthûq (tekstual
dan harfiah), dan Mafhûm (kontekstual dan maknawiyah). Sementara dari
aspek penunjukannya pada makna, dalâlah tersebut bisa diklasifikasikan
menjadi: Dalâlah al-Muthâbaqah, at-Tadhammun dan al-Iqtidhâ’, sekalipun
ketiga dalâlah ini kemudian tidak terlepas dari dua aspek di atas, Manthûq
dan Mafhûm.
2.1. Manthûq
Manthûq adalah apa yang bisa difahami dari petunjuk lafazh secara qath’î berdasarkan
posisi prononsisi (mahall an-nuthq). Misalnya, larangan berkata
“Hus” kepada kedua orang tua, bisa difahami secara qath’î berdasarkan
posisi prononsisi (mahall an-nuthq) firman Allah:
} فَلاَ تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ {
Maka, janganlah
kamu berkata: “Hus” kepada keduanya (ibu-bapak).
(QS. al-Isrâ’ [17]: 23).
2.1.1. Ragam Dalâlah
Manthûq
Berdasarkan
realitas dalâlah lafazh sebagai petunjuk dan isyarat yang menunjukkan
makna tertentu, yang dalam hal ini tidak akan terlepas dari salah satu di
antara ketiga dalâlah di atas.
1) Dari Aspek
Cakupannya
Dari aspek cakupan
maknanya, dalâlah Manthûq bisa diklasifikasikan menjadi dua:
(1)
Dalâlah al-Muthâbaqah: adalah petunjuk lafazh
yang menunjukkan konotasinya yang sempurna, seperti al-Insân (manusia)
yang  identik dengan hewan berakal. Contoh
lain adalah firman Allah SWT yang menyatakan:
} يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ
تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ
رِئَاءَ النَّاسِ وَلاَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ
{
Hai orang-orang
beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan
menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima), seperti orang yang
menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada
Allah dan hari kemudian.
(QS. al-Baqarah [2]: 264).
} وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ
الْمُكَذِّبِينَ الضَّالِّينَ
{
Dan adapun jika
dia termasuk golongan orang yang mendustakan lagi sesat.
(QS. al-Wâqi’ah
[56]: 92).
Lafazh: shadaqâtikum (sedekah kamu) dan ad-dhâllîn (orang-orang
yang tersesat) dalam kedua konteks ayat ini merupakan dalâlah al-Muthâbaqah.
Sebab, masing-masing menunjukkan maknanya yang lengkap dan sempurna, bukan
hanya makna parsialnya. Dalam surat al-Baqarah: 264, misalnya shadaqah digunakan
untuk menyebut apa saja yang dibelanjakan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Demikian juga lafazh: ad-dhâllîn dalam surat al-Wâqi’ah: 92, juga
digunakan untuk menyebut orang-orang yang tersesat, yaitu orang kafir. Sebuah
makna yang berkonotasi menyeluruh, bukan parsial.
(2)
Dalâlah at-Tadhammun: adalah petunjuk lafazh
yang menunjukkan konotasinya secara parsial, seperti al-Insân (manusia)
yang identik dengan hewan saja. Contoh lain adalah firman Allah SWT yang
menyatakan
} خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً
تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا
{
Ambillah zakat
dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan
mereka.
(QS. at-Taubah [9]: 103).
} غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ
{
Bukan orang yang
dimurkai (Yahudi) dan juga bukan orang-orang yang tersesat (Nashrani).
(QS. al-Fâtihah
[1]: 7).
Lafazh: shadaqat[an] (zakat) dan ad-dhâllîn (Nashrani) dalam
kedua konteks ayat ini merupakan dalâlah at-Tadhammun. Sebab,
masing-masing menunjukkan maknanya yang tidak lengkap, atau secara parsial.
Dalam surat at-Taubah: 103, misalnya shadaqah digunakan untuk menyebut
sedekah wajib atau zakat, bukan sedekah secara umum. Karena ayat ini
menggunakan kalimat perintah secara paksa: Ambillah. Perintah yang tidak
berlaku dalam sedekah sunah. Demikian juga lafazh: ad-dhâllîn dalam
surat al-Fâtihah: 7, juga tidak digunakan untuk menyebut orang-orang
yang tersesat (orang kafir) secara umum atau keseluruhan, melainkan hanya untuk
menyebut orang-orang Nashrani. Hal ini karena ada keterangan dari Rasulullah
saw. mengenai konteks al-maghdhûb dan ad-dhâllîn.
2) Dari Aspek
Jelas dan Tidaknya
Dalâlah Manthûq di atas, diklasifikasikan berdasarkan cakupannya, menyeluruh atau parsial. Adapun
dari aspek kejelasan dan kekaburan dalâlah-nya, bisa diklasifikasikan
menjadi:
(1)    Muhkam: adalah lafazh yang paling kuat level kejelasannya. Dengan kata lain, ia
adalah lafazh yang makna konteksnya tidak mengandung sedikitpun kemungkinan
untuk ditakwilkan, atau dinasakh. Misalnya:
} إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
{
Sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
(QS. al-Mujâdalah [58]: 7).
(2)    Mufassar: adalah lafazh yang
makna konteksnya jelas, tanpa ada kemungkinan untuk ditakwilkan, sekalipun
memungkinkan terjadinya nasakh pada era kerasulan. Misalnya:
} وَقَاتِلُوْا المُشْرِكِيْنَ كَافَّةً {
Maka, perangilah
orang-orang Musyrik secara menyeluruh.
(QS. at-Taubah [9]: 36).
(3)    Nashh: adalah sistem yang
makna konteksnya jelas, dengan disertai adanya kemungkinkan untuk ditakwilkan,
atau sesuatu yang –melalui shîghat-nya itu sendiri– menunjukkan maksud
asal konteksnya. Misalnya:
} ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا
الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
{
Keadaan mereka
yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya
jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan
mengharamkan riba.
(QS. al-Baqarah [2]: 275)
Nash ini dengan
tegas menafikan adanya persamaan, antara riba dengan jual-beli.
(4)    Dhâhir: adalah dalâlah yang
menunjukkan makna penggunaan asal, atau konvensional, yang memungkinkan
dikonotasikan dengan makna lain secara marjûh (terkalahkan).
Misalnya:
} فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ
وَلاَ عَادٍ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ
{
Tetapi
barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya
dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya..
(QS. al-Baqarah
[2]: 173).
Lafazh: Bâgh[in]
digunakan untuk menyatakan dua maksud: Pertama, bodoh; Kedua, dzalim.
Makna yang pertama, menurut konteks ayat ini, jelas marjûh
(lemah), sedangkan yang kedua adalah râjih (kuat).
(5)    Mu’awwal: adalah dalâlah lafazh
yang mustahil dibawa kepada konotasi dhâhir, sehingga harus dialihkan
kepada makna lain yang dikehendaki oleh konteksnya. Ini juga merupakan jenis Manthûq,
karena dhâhir-nya mustahil dan lemah, sementara makna yang
dikehendaki oleh konteksnya jelas lebih kuat. Misalnya:
} وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَمَا كُنْتُمْ {
Dia (Allah)
bersama kalian, di mana saja kalian berada.
(QS. al-Hadîd
[57]: 4).
Membawa
pengertian eksplisitnya jelas sulit, yaitu dengan mengasumsikan dzat Allah
bersama manusia di mana saja. Namun, ketika ditakwilkan bahwa kebersamaan-Nya
dengan manusia adalah kebersamaan dalam arti Dia Maha Kuasa, Mengetahui dan
Mengurusi manusia, maka takwil ini justru sahih, tanpa ada rekayasa.
(6)    Khafi: adalah dalâlah yang
paling rendah level kekaburannya. Petunjuk maknanya jelas, namun memungkinkan
terjadinya kesalahan karena faktor tertentu. Misalnya:
} وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوْا
أَيْدِيَهُمَا
{
Pencuri
laki-laki dan perempuan, maka potonglah tangan keduanya.
(QS. al-Mâidah
[5]: 38).
Lafazh: as-Sâriq
(pencuri) adalah lafazh dhâhir sebagaimana asal penggunaan-nya. Namun,
apakah makna tersebut relevan untuk at-tharâr, yaitu seorang
“‘pencuri” yang menghipnotis kesadaran korban, kemudian mengambil hartanya
di depan mata korban. Juga apakah konteks tersebut relevan dengan an-nabâsy,
yaitu seorang pencuri kain kafan di kuburan, yang mengambil harta yang
tidak disukai dan diinginkan orang. Maka, setelah dianalisis, makna sariqah (pencurian)
dalam kedua konteks tersebut, bisa digunakan untuk konteks at-tharâr,
sedangkan untuk an-nabâsy masih memerlukan kerja keras. Jadi,  at-tharâr dan an-nabâsy merupakan lafazh
yang dalâlah-nya khafî.
(7)    Musykil: adalah dalâlah
yang ketidakjelasannya terdapat pada lafazhnya itu sendiri, sedangkan maksudnya
bisa diketahui melalui analisis. Misalnya:
} وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاَثَةَ
قُرُوْءٍ
{
Wanita-wanita
yang ditalak, hendaknya mereka menunggu masa iddah untuk diri mereka selama
tiga qurû’.
(QS. al-Baqarah [2]: 228).
Lafazh: qurû’ tersebut bisa difahami dengan
melalui perenungan dan analisis yang didukung dengan dalil.
(8)    Mujmal: seperi lafazh: shalât,
hajj
dan lain-lain yang memerlukan penjelasan.
(9)    Mutasyâbih: adalah dalâlah lafazh yang tidak jelas.
3) Dari Aspek Lafazh
dan Maknanya
Dalâlah Manthûq di atas, diklasifikasikan berdasarkan cakupannya, menyeluruh atau parsial,
juga dari aspek jelas dan tidaknya. Adapun dari klasifikasi berdasarkan aspek lafazh
dan maknanya, dalâlah Manthûq juga bisa terdiri dari lafazh Haqîqi dan
Majâzi:
(1)
Haqîqi-Haqîqi: Dalâlah al-Muthâbaqah dan at-Tadhammun yang menggunakan
lafazh haqîqi- haqîqi,  misalnya
firman Allah
} وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ
الْمُكَذِّبِينَ الضَّالِّينَ
{
Dan adapun jika
dia termasuk golongan orang yang mendustakan lagi sesat.
(QS. al-Wâqi’ah
[56]: 92).
Lafazh: ad-dhâllîn di sini merupakan lafazh haqîqi dengan
konotasi syar’i, atau disebut haqîqah syar’iyyah. Sementara dalâlah-nya
merupakan dalâlah al-Muthâbaqah. Sedangkan lafazh yang sama dalam firman
Allah:
} غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ
{
Bukan orang yang
dimurkai (Yahudi) dan juga bukan orang-orang yang tersesat (Nashrani).
(QS. al-Fâtihah
[1]: 7).
juga merupakan lafazh: haqîqi dengan konotasi syar’i, atau haqîqah
syar’iyyah.
Sementara dalâlah-nya merupakan dalâlah at-Tadhammun.
(2)
Haqîqi-Majâzi: Dalâlah al-Muthâbaqah dan at-Tadhammun yang menggunakan lafazh
haqîqi-Majâzi,  misalnya
firman Allah: 
} ثُمَّ صُبُّوا فَوْقَ رَأْسِهِ
مِنْ عَذَابِ الْحَمِيمِ
{
Kemudian
tuangkanlah di atas kepalanya siksaan (dari) air yang amat panash.
(QS. ad-Dukhân [44]:
48).
Lafazh: ra’sih[i] di sini merupakan lafazh haqîqi dengan
konotasi etimologis, atau disebut haqîqah lughawiyyah wadh’iyyah. Sementara
dalâlah-nya merupakan dalâlah al-Muthâbaqah, karena konotasinya
adalah kepala secara keseluruhan.
Sedangkan lafazh
yang sama dalam firman Allah:
} قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ
مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ
شَقِيًّا
{
Ia berkata:
“Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah
ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo`a kepada Engkau, ya
Tuhanku.
(QS. Maryam [19]: 4).
merupakan lafazh: majâzi, yang merupakan majâz mursal, dengan
konotasi sebagian kepala, yaitu rambut. Atau bisa disebut: ithlâq
al-kull[i] wa irâdat al-juz'[i]
(menyebut keseluruhan dengan maksud
sebagian). Sedangkan dalâlah-nya merupakan dalâlah at-Tadhammun.
2.2. Mafhûm
Mafhûm adalah apa yang  bisa difahami dari lafazh
di luar posisi prononsisi (mahall an-nuthq). Maknanya menjadi
maksud bagi pihak yang berbicara. Misalnya, larangan berkata “Hus”
kepada kedua orang tua dalam firman Allah:
} فَلاَ تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ {
Maka, janganlah
kamu berkata: “Hus” kepada keduanya (ibu-bapak).
(QS. al-Isrâ’ [17]: 23).
tidak hanya bisa difahami secara qath’î
berdasarkan posisi prononsisi (mahall an-nuthq), yaitu
larangan berkata “Hus”, namun lebih dari itu, termasuk larangan
memaki, menyakiti hati orang tua, serta memukul dan menendangnya. Semuanya ini
merupakan fahw al-khithâb, isi seruan.
2.2.1. Ragam Dalâlah Mafhûm
Di antara ketiga dalâlah
di atas, selain dari dua dalâlah, Muthâbaqah dan Tadhammun, yang
merupakan bagian dari dalâlah Mafhûm adalah dalâlah al-Iltizâm, yang
darinya dalâlah lain, seperti iqtidhâ’, tanbîh wa imâ’ dan isyârah
dihasilkan. Harus dicatat, bahwa dalâlah Mafhûm ini tidak
disandarkan kepada posisi prononsisi (mahall an-nuthq)-nya,  atau lafazh dan shîghat, melainkan apa
yang menjadi kelaziman makna lafazh (lâzim al-ma’ânî)-nya. Karena itu,
disebut dalâlah Iltizâm yang berarti sesuatu yang menjadi keharusan atau
tuntutan makna lafazh.
1) Dari Aspek Konotasi
Maknanya
Dari konotasi
makna yang menjadi konsekuensi logis lafazhnya, atau konotasi interpretatif
yang dibentuk oleh pikiran ketika mendengarkan lafazh tersebut, atau dalâlah
Iltizâm,
maka bisa diklasifikasikan sebagai berikut:
(1)
Dalâlah al-Iqtidhâ’: adalah dalâlah yang makna
konotatifnya tidak tersurat (ghayr manthûq), sebaliknya tersirat (mudhmar);
baik karena tuntutan dari kebenaran penyampainya, atau kesahihan terjadinya apa
yang dilafalkannya. Mengenai tuntutan dari kebenaran penyampainya, bisa
dicontohkan:
« رُفِعَ عَنْ أُمَّتَِيْ الخَطَأُ وَالنِّسْيَانُ وَمَا اُسْتُكْرِهُوْا
عَلَيْهِ
»
Telah diangkat
dari ummatku, kesalahan, lupa dan apa yang dipaksakan terhadap mereka.
(HR. al-Hâkim).
Dilihat melalui
posisi prononsisinya, diangkatnya semua hal tadi jelas tidak mungkin, karena
ketiga-tiganya jelas real dan terjadi. Karena itu, yang mungkin adalah
diangkatnya: “beban hukum” atau “sanksi” dari ummatku,
karena salah, lupa dan terpaksa. Sebab, dimunculkannya “beban hukum”
atau “sanksi” dalam konteks tersebut merupakan tuntutan dari
kebenaran konteks kalimat yang disampaikan oleh penyampai pesan. Sebaliknya,
jika tidak dimunculkan, menyebabkan terjadinya peyangkalan terhadap ketiga
realitas –salah, lupa dan terpaksa– di atas dari diri manusia, padahal secara
real jelas ada. Adapun tuntutan dari kesahihan adanya apa yang dilafalkan, bisa
secara logis, etimologis dan syar’i. Secara logis, misalnya:
} وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ {
Bertanyalah kepada
(penduduk) kampung.
(QS. Yûsuf [12]:
82)
.
Lafazh: al-Qaryah
(kampung), secara logis tidak mungkin ditanya, sehingga memaksa adanya
obyek berakal yang bisa ditanya. Maka, logika ini menuntut adanya
“penduduk” sebagai konsekuensi dari apa yang dilafalkan. Adapun
secara syar’i, misalnya:  
} فَكُّ رَقَبَةٍ {
Memerdekakan budak.
(QS. al-Balad [90]: 13).
Lafazh: Fakk (melepaskan
atau memerdekakan), secara syar’i baru bisa dicapai jika pemilikan terhadap
budak tersebut diakhiri, misalnya dengan membayar sejumlah tebusan. Maka, lafazh
tersebut juga menuntut adanya tindakan yang lain, yang ditetapkan oleh syara’
sehingga pembebasan budak tersebut benar-benar terjadi.
(2)
Dalâlah at-Tanbîh wa al-Imâ’: adalah maksud pembuat syariat yang lazim
dari lafazh berdasarkan dalâlah yang digunakan dalam bahasa. Biasanya
berlaku dalam lafazh yang menunjukkan ‘illat-ma’lûl. Misalnya, ketika
syara’ menyatakan nash yang mempunyai konsekuensi hukum, karena adanya huruf Fa’
at-ta’qîb,
atau sifat mufhimah sehingga dengan struktur dan indikasi
tersebut, menjelaskan (tanbîh) dan mengisyaratkan (imâ’) adanya ‘illat
hukum. Jika tidak, indikasi dan struktur tersebut tentu tidak ada artinya.
Dalam hal ini bisa dicontohkan:
« فِي الْغَنَمِ السَّائِمَةِ زَكاَةٌ »
Terhadap kambing
bandot yang digembalakan di padang gembalaan umum atau negara terdapat
kewajiban zakatnya.
Lafazh: as-sâ’imah
(yang digembalakan di padang gembalaan) adalah sifat mufhimah, yang
bisa memberikan keterangan (tanbîh) mengenai ‘illat kewajiban
zakat kambing. Di sisi lain, ia juga memberikan isyarat (îmâ’) bahwa negara
wajib menyediakan padang gembalaan sehingga bisa meringankan beban perawatan
ternak bagi masyarakat. Disamping itu, ini akan mendorong bertambahnya
pendapatan melalui zakat di Baitulmal.
(3)
Dalâlah al-Isyârah: adalah dalâlah yang memberikan
makna melalui isyarat lafazh, yakni dengan menganalisis lafazh secara
integatif. Misalnya:
} وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاَثُونَ
شَهْرًا
{
Dan mengandung dan
menyapihnya selama 30 bulan
(QS.
al-Ahqâf [46]: 15)
.
} وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ {
Dan menyapihnya
dalam dua tahun
(QS. Luqmân [31]: 14).
Dari kedua nash
tersebut, secara integratif bisa disimpulkan, bahwa jangka waktu kehamilan yang
paling singkat adalah 6 bulan. Sebab, 30 bulan (masa kehamilan dan penyapihan)
– 24 bulan (masa penyapihan) = 6 bulan masa kehamilan.   
2) Dari Aspek Lafazh
dan Maknanya
Dalâlah Mafhûm dilihat dari lafazh dan maknanya, tidak bisa disamakan dengan dalâlah
Manthûq.
Sebab, dalâlah Manthûq berpijak pada posisi prononsisi lafazh
(mahall an-nuthq)-nya, sedangkan dalâlah Mafhûm tidak
berpijak pada mahall an-nuthq. Karena itu, pembahasan dari aspek lafazh
dan makna sebagaimana yang terdapat pada dalâlah Manthûq tidak pernah
dibahas oleh ulama’ ushul fiqih.
2.2.2. Bentuk Mafhûm
Pembahasan Mafhûm
sebagai dalil yang dibahas oleh ulama’ ushul fiqih tidak terlepas dari dua
macam: Pertama, Mafhûm Muwâfaqah; dan Kedua, Mafhûm
Mukhâlafah.
1) Mafhûm
Muwâfaqah
Mafhûm Muwâfaqah adalah mafhûm yang mempunyai makna lafazh yang relevan atau sesuai,
antara yang dilafalkan (mahall an-nuthq) dengan yang tidak dilafalkan
(mahall as-sukût). Ini juga disebut Fahw al-Khithâb dan
Lahn al-Khithâb. Adakalanya merupakan keterangan dari yang lebih
rendah kepada yang lebih tinggi, dan kadangkala dari yang lebih tinggi kepada
yang lebih rendah atau min bâb awlâ.
(1)    Keterangan dari yang lebih rendah kepada yang lebih
tinggi:
ini merupakan keterangan (tanbîh)
yang dinyatakan dengan menyatakan sesuatu yang lebih kecil atau rendah,
sehingga jika yang lebih kecil atau rendah dinyatakan, tentu yang lebih besar
atau tinggi lebih utama untuk diterangkan. Sekalipun keterangan yang terakhir
ini tidak dilafalkan. Misalnya, firman Allah yang menyatakan:
} وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا
تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ
{
Kami benar-benar
telah menciptakan manusia, dan kami tentu mengetahui apa yang bisikkan oleh
hatinya
(QS. Qaf [50]: 16)
Artinya, jika
Allah mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, maka yang lebih dari sekedar
bisikan hati, seperti tingkah laku, ucapan dan lain-lain, pasti Allah juga Maha
Tahu. Ini merupakan bentuk Mafhûm Muwâfaqah, dimana makna lafazh yang
dinyatakan dengan yang tidak itu sesuai, atau relevan.
(2)    Keterangan dari yang lebih tinggi kepada yang lebih
rendah:
ini merupakan keterangan (tanbîh)
yang dinyatakan dengan menyatakan sesuatu yang lebih besar atau tinggi,
sehingga jika yang lebih besar atau tinggi dinyatakan, tentu yang lebih kecil
atau rendah lebih utama untuk diterangkan. Sekalipun keterangan yang terakhir
ini tidak dilafalkan. Misalnya, sabda Nabi saw. yang menyatakan:
« كُوْنُـوْا كَأَصْحَابِ عِيْسَى نُشِرُوْا بِالْمَنَاشِيْرِ وَحُمِلُوْا
عَلَى الْخَشَبِ
»
Jadilah kalian
seperti para pengikut Isa; mereka telah digergaji dengan gergaji, dan salib di
atas kayu.
[1]
Artinya, jika Rasul
memerintahkan untuk menjadi seperti para pengikut Isa as., dimana mereka telah
diuji dengan cara digergaji dengan gergaji dan disalib, maka jika hanya sekedar
ditangkap dan dipenjara lebih diperintahkan lagi. Ini juga merupakan bentuk Mafhûm
Muwâfaqah,
dimana makna lafazh yang dinyatakan dengan yang tidak itu
sesuai, atau relevan.
(3)    Keterangan obyek juga menerangkan sesuatu yang
berhubungan dengan obyek itu sendiri:
ini merupakan
keterangan (tanbîh) yang dinyatakan dengan menyatakan sesuatu yang
mempunyai kaitan atau hubungan dengan obyek pembahasan. Misalnya, sabda Nabi
saw. yang menyatakan:
« تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ »
Senyum kamu di
depan saudaramu adalah sedekah bagimu
(HR. at-Tirmîdzi dari Abû Dzarr)
Ini juga berarti, bahwa
bermuamalah dengan baik, dan berakhlak dengan baik adalah sedekah bagi para
pelakunya.
2) Mafhûm
Mukhâlafah
Mafhûm Mukhâlafah adalah mafhûm yang dinyatakan jika makna lafazh antara yang
dilafalkan dengan yang tidak, tidak sesuai atau bertentangan. Karena itu,
disebut Mafhûm Mukhâlafah, atau Dalîl al-Khithâb. Hanya saja, yang
bisa digunakan sebagai hujah adalah konotasi terbalik dari empat hal berikut
ini:
(1)
Sifat Mufhimah: atau sifat yang
relevan dengan hukum dan menerangkan alasan pensyariatannya. Misalnya, sabda
Nabi saw. yang menyatakan:
« الثَّيِّبُ أَحَقُّ بِنَفْسِهَا مِنْ وَلِيِّهَا »
Wanita yang telah
menikah lebih berhak terhadap dirinya, ketimbang walinya
(HR. Muslim dari Ibn ‘Abbâs).
Lafazh: ats-tsayyib
(wanita yang telah menikah) adalah sifat mufhimah, yang relevan
dengan frasa berikutnya: ahaqq[u] min nafsihâ (lebih berhak
terhadap dirinya), sehingga menjelaskan alasan. Artinya, mengapa dia lebih
berhak terhadap dirinya, ketimbang walinya? Sebab, dia adalah wanita yang telah
menikah (ats-tsayyib). Maka, mafhûm Mukhâlafah-nya adalah jika
dia adalah wanita yang belum pernah menikah, atau gadis (al-bikr), maka
tentu hukum tersebut tidak berlaku.
(2)
Adad (angka): Misalnya
firman Allah SWT yang menyatakan:
} وَالَّذِينَ يَرْمُونَ
الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ
ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلاَ تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا
{
Dan orang-orang
yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak
mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan
puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat
selama-lamanya.
(QS. an-Nûr [24]: 4).
Perintah mencambuk
80 kali cambukan adalah ‘adad (angka) yang diperintahkan. Maka, cambukan
tersebut tidak boleh kurang atau lebih dari hitungan angka yang telah
ditetapkan. Inilah bentuk mafhûm Mukhâlafah dari ayat di atas.
(3)
Syarat: Misalnya,
firman Allah SWT yang menyatakan:
} وَإِنْ كُنَّ أُولاَتِ حَمْلٍ
فَأَنْفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ
{
Dan jika mereka
(isteri-isteri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada
mereka nafkahnya hingga mereka bersalin.
(QS. at-Thalâq [65]: 6).
Perintah
memberikan nafkah kepada isteri yang telah ditalak itu disyaratkan ketika
mereka dalam keadaan hamil. Maka, konotasi terbaliknya, jika mereka tidak
sedang hamil, maka tidak diwajibkan seorang suami memberikan nafkah kepadanya.
Inilah bentuk mafhûm Mukhâlafah dari ayat di atas.
(4)
Ghâyah (target
waktu)
: Misalnya kewajiban memberi nafkah di atas, dinyatakan oleh
Allah dengan:
} حَتَّى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ {
Hingga mereka
bersalin.
(QS. at-Thalâq [65]: 6).
Perintah tersebut
diberi batas atau target waktu hingga bersalin, berarti lebih dari itu tidak
wajib. Inilah juga merupakan bentuk mafhûm Mukhâlafah dari ayat di atas,
berdasarkan konteks: hattâ yadha’na hamlahunna
Hanya saja, jika Mafhûm
Mukhâlafah
tersebut bertentangan dengan nash, maka mafhûm tersebut
tidak bisa digunakan. Misalnya:
}وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لاَ يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّى يُغْنِيَهُمُ
اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَالَّذِينَ يَبْتَغُونَ الْكِتَابَ مِمَّا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ
فَكَاتِبُوهُمْ إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا وَءَاتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ
الَّذِي ءَاتَاكُمْ وَلاَ تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ
أَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِتَبْتَغُوا عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
{
Dan orang-orang
yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)-nya, sehingga Allah
memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan budak-budak yang kamu miliki yang
menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika
kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka
sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu. Dan janganlah kamu
paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, jika mereka sendiri
menginginkan kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi.
(QS. an-Nûr [24]: 33).
Konteks larangan memaksa
budak-budak wanita untuk melakukan pelacuran, dikaitkan dengan syarat jika
mereka sendiri menginginkan kesucian. Maka, konotasi terbaliknya adalah, jika
mereka sendiri tidak menginginkan kesucian, berarti memaksa mereka melakukan
zina dibolehkan. Mafhûm Mukhâlafah seperti ini jelas bertentangan dengan
nash yang secara umum menyatakan larangan melakukan perzinaan:
} وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً
وَسَاءَ سَبِيلاً
{
Dan janganlah kamu
mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan
suatu jalan yang buruk.
(QS. al-Isrâ’ [17]:
32).

[1] Musnad Syâmiyyîn,
juz I, hal. 379. Lihat, Athâ’ bin Khalîl, Taysîr, hal. 167.
Sumber: Buku Membangun Paradigma Berfikir Tasyri’î
SHARE