Bab VI Panduan Lengkap Tata Cara Berwudhu Berdasarkan Sunnah Nabi SAW

189

Bab VI Panduan Tata Cara Berwudhu
Berdasarkan Sunnah Nabi SAW
a. Membaca basmalah pada permulaan wudhu, sesuai dengan hadis dari an-Nasa’i : Tawadha’uu- bismillah dengan niat yang ikhlas semata mata karena Allah swt.

b. Membersihkan kedua telapak tangan sebanyak tiga kali, hendaknya pada cela-cela jari tangan dibersihkan sebersih mungkin. [lih. HPT hadis ke 3 bab wudhu]

c. Menggosok gigi dengan kayu arok atau sejenisnya. Berdasarkan hadis

”kalau aku tidak khawatir akan menyusahkan umatku, niscaya aku perintahkan kepada mereka bersiwak (menggosok gigi) pada tiap wudhu”. ( H.R. Malik, Ahmad dan an-Nasa’i).

d. Berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung dari telapak tangan sebelah kanan serta menyemburkanya kembali, yang masing-masing dilakukan tiga kali. Hal tersebut dilakukan keculi ketika berpuasa.e. Membasuh muka tiga kali dengan mengusap dua sudut mata, menggosok dan melebihkan dalam membasuhnya serta menyela-nyelai janggut.
f. Membasuh kedua tangan sampai kedua siku dengan digosok tiga kali sambil menyelai jari-jari tangan dengan melebihkan dalam membasuh keduanya serta memulai dengan tangan sebelah kanan

g. Mengusap ubun-ubun dan bagian atas sorban [mengusap kepala] dengan menjalankan kedua telapak tangan dari ujung muka kepala hingga tengkuk dan dikembalikan lagi pada permulaan kemudian mengusap kedua telinga sebelah luar dengan dua ibu jari dan sebelah dalam dengan kedua telunjuk.
h. Membasuh kedua kaki beserta mata kaki dengan melebihkan dalam membasuh keduanya, memulai dari yang kanan dan menyempurnakan dalam membasuhnya.Berdoa setelah Berwudhu

أأََشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

Permasalahan Seputar Tata Cara Berwudu yang Berkembang di Masyarakat

1. Mengusap dengan Air yang Baru

عَنْ عَبْدِاللّهِ بْنِ زَيْدٍ أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَ صلعم يَأْخُذُ لأُذُنَيْهِ ماَءً غَيْرَ الْماَءِ الّذِيْ أَخَذَ لِرأْسِهِ

“Dari Abdullah bin Zaid bahwasanya ia melihat Nabi Saw mengambil air untuk dua telinganya bukan air yang ia ambil untuk mengusap kepalanya”. ( HR. al-Baihaqi )

Secara dzahir hadis ini menunjukkan perintah untuk mengambil air baru ketika mengusap kedua telinga. Sementara hadis yang menyebutkan kaifiyah wudlu secara sempurna (hadis Utsman) tidak menyebutkan bahwa Nabi mengambil air yang baru ketika mengusap telinga. Sekalipun pendapat ini dibantah dengan alasan bahwa tidak disebutkanya hal tersebut bukan berarti Nabi tidak melakukanya.

Pendapat ini kemudian terbantahkan oleh praktek para sahabat ketika mengusap kedua telinga dengan menggunakan sisa air ketika mengusap kepala. Meskipun sanad-sanad ini diperbincangkan tetapi banyak riwayat lain yang saling menguatkan seperti hadist Ali, Ibnu Abbas, Rubba’i, Ustman. (lih. Subulussalam hadis ke 50 bab wudhu)

2. Mengusap kepala Sebagian

Persoalan mengusap kepala memang terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama, sebab ayat wamsahuu biruusikum mengandung dua kemungkinan, bisa seluruhnya juga bisa bermakna sebagian kepala. Akan tetapi imam Syafi’i menguatkan makna sebagian berdasarkan hadis Mursal dari jalur Atha’

أَنَّ رَسُوْلُ اللّهِ صلعم تَوَضََّأَ فَحَسَرَ العِماَمَةَ عَنْ رَأْسِهِ وَمَسَحَ مُقَدَّمَ رَأْسِهِ

Rasulullah saw berwudhu lalu beliau mencukupkan mengusap sorbannya dan bagian depan kepalanya”

Meskipun hadis ini Mursal tapi dikuatkan oleh hadis Anas ra :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ وَعَلَيْهِ عِمَامَةٌ قِطْرِيَّةٌ فَأَدْخَلَ يَدَهُ مِنْ تَحْتِ الْعِمَامَةِ فَمَسَحَ مُقَدَّمَ رَأْسِهِ وَلَمْ يَنْقُضْ الْعِمَامَة

”Dari Anas ra ; Aku melihat Rasulullah saw berwudhu dengan mengenakan sorban qitriyah, beliau memasukkan tangannya dibagian bawah sorban lalu mengusap bagian depan kepalanya tanpa melepas sorbannya”. (H.R Abu Dawud)

Dalam hadis Anas ini terdapat seorang rawi yang dinilai Majhul yaitu Ma’qol, demikian komentar Ibnu Hajar. Demikian pula Ibnu Qayyim berkata tentang masalah ini : sesungguhnya tidak sah bahwa Nabi SAW. Hanya membatasi mengusap sebagian kepala saja. Akan tetapi yang ada adalah apabila Nabi SAW. Mengusap ubun-ubunya maka ia menyempurnakanya pada bagian atas sorbanya. Mengenai hadis Anas ini, Ibnu Qayyim berkata :

”Maksud hadis Anas ra tersebut bahwasanya Nabi saw tidak melepas sorbannya hingga mengusap seluruh rambutnya dan beliau tetap menyempurnakan mengusap pada bagian atas sorbannya”.

(Subulussalam sarah hadis ke 30 bab wudhu dan Nailul Authar sarah hadis 188 bab mengusap kepala seluruhnya atau sebagianya).

3. Mengusap Tiga Kali

Tidak ditemukan satupun hadis Bukhari Muslim yang menyebutkan pengulangan dalam menyapu kepala, dan ini menjadi pendapat mayoritas ’ulama. Namun imam Syafi’i berkata ”mengusap anggota wudhu tiga kali adalah disukai sebagaimana halnya membasuh”. Beliau melandasi pendapatnya ini dengan makna dzahir hadis yang terkandung dalam riwayat imam Muslim :

عن عَبْدَ اللَّهِ بْنَ زَيْدِ بْنِ عَاصِمٍ الْمَازِنِيَّ يَذْكُرُ أَنَّهُ رَأَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ فَمَضْمَضَ ثُمَّ اسْتَنْثَرَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا وَيَدَهُ الْيُمْنَى ثَلَاثًا وَالْأُخْرَى ثَلَاثًا وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ بِمَاءٍ غَيْرِ فَضْلِ يَدِهِ وَغَسَلَ رِجْلَيْهِ حَتَّى أَنْقَاهُمَا [ رواه مسلم ]

”Dari Abdullah bin Zaid bin Ashim al-Maziniyyi menyebutkan bahwa dia melihat Rasulullah saw berwudhu dengan berkumur-kumur lalu beristinsyar kemudian membasuh mukanya tiga kali dan tangan kanannya tiga kali dan tangan kirinya tiga kali kemudian mengusap kepalanya dengan air bukan dari sisa tangannya kemudian membasuh kedua kaki sampai mata kakinya. ( HR. Muslim )

Akan tetapi alasan imam Syafi’i ini dapat dijawab dengan riwayat imam Muslim tersebut yang masih bersifat global, sementara dalam riwayat-riwayat shahih lainnya yang menerangkan praktek wudhu Nabi secara terperinci disebutkan bahwa menyapu kepala hanya dilakukan sekali saja. Dengan demikian makna tiga kali pada riwayat Muslim berlaku bagi sebagian besar anggota wudhu bukan keseluruhanya atau dapat dipahami bahwa berwudhu tiga kali-tiga kali berlaku untuk anggota wudhu yang dibasuh bukan yang diusap. [ Fathul Bari 2 hadis no. 24]

4. Memisahkan antara Berkumur-kumur dengan Istinsyar.

Dalam riwayat imam Muslim dari jalur Khalid disebutkan :

ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ اسْتَخْرَجَهاَ فَمَضْمَضَ

“Kemudian Nabi saw. memasukkan tanganya ke dalam bejana setelah itu dikeluarkanya lalu beliau berkumur – kumur”.

Riwayat ini dijadikan sebagai dalil bahwa berkumur-kumur lebih didahulukan (terpisah) dari istinsyar. Namun persoalan ini perlu pembahasan lebih mendalam.

Sementara dari jalur Khalid bin Abdullah berikut ini disebutkan :

مَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ مِنْ كُفٍّ وَاحِدٍ فَعَلَ ذَلِكَ ثَلاَثًا

”Rasulullah berkumur-kumur dan beristinsyaq dari satu telapak tangan, beliau melakukanya tiga kali”.

Riwayat ini sangat tegas menyatakan bahwa berkumur-kumur dan memasukkan air kedalam hidung dilakukan dengan sekali ciduk.

Kemudian dalam riwayat Sulaiman bin Bilal yang dikutip oleh imam Bukhari pada bab ”Berwudhu dari bejana kecil” disebutkan

فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْثَر ثَلاَث مَرَّاتٍ مِنْ غَرْفَةٍ وَاحِدَةٍ

Rasulullah berkumu-kumur dan beristinsyar tiga kali dengan satu kali cidukan”.

Riwayat ini juga dijadikan dalil untuk menyatukan antara berkkumur-kumur dan beristinsyar dengan satu kali cidukan [ Fathulbari Hadis 38 Jilid 2 Syarah ;Tsumma madhmadha istantsara]

5. Doa sesudah Wudhu.

Mengenai doa sesudah wudhu imam Muslim meriwayatkan hadis Umar :

عن عمرقَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللّهِ صلعم مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ أَوْ فَيُسْبِغُ الْوَضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ

”Dari Umar ra berkata Rasulullah saw. bersabda : Siapa diantara kamu yang berwudhu maka sempurnakanlah wudhunya lalu berdoa ”Asyhadualla ilaha illAllah wahdahu laa syarikalah wa asyhadu anna muhammadan ’abduhu wa rasuuluhu” Maka dibukakan baginya delapan pintu syurga lalu ia masuk kedalamnya dari arah yang dia kehendaki”. (HR. Muslim)

Sementara tambahan lafadz

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنْ الْمُتَطَهِّرِينَ

”Ya Allah jadikanlah Aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan juga orang-orang yang mensucikan”.

Adalah berasal dari riwayat imam Tirmidzi. Akan tetapi imam Tirmidzi sendiri mengomentarinya : dalam hadis ini terdapat kegoncangan sanadnya (Mutthorib).

Perkara yang tidak Masyru’ (Disyariatkan) dalam Berwudhu

Bacaan Doa pada Anggota Wudhu

Hadis-Hadis tentang adanya doa pada masing-masing anggota wudhu semuanya dha’if bahkan sebagian ulama’ berkata riwayat tersebut tidak ada asalnya.Semantara imam Nawawi berkata: ”doa-doa dipertengahan wudhu tidak ada asalnya dan orang-orang terdahulu tidak pernah menyebutknya”. Sementara Ibnu Shalah berkata : ”Hadis-Hadis tentang doa ketika membasuh tiap-tiap anggota wudhu tidak terdapat satupun hadis shahih tentangnya [ Subulussalam Hadis ke 53 bab wudhu ].

Yusuf Qaradhawi ketika ditanya tentang hal ini beliau menjawab doa-doa ini [ doa tiap-tiap anggota wudhu ] dan semacamnya merupakan bid’ah yang diada-adakan setelah abad pertama [ Fatwa Kontemporer ; Yusuf Qaradhawi 1 ].

 

 

 

 

 

Wudhu Bagi Orang Yang Memakai Perban?

Bila perban atau pembalut yang dipakai seseorang dimaksudkan untuk pengobatan, seperti karena luka atau patah tulang, maka ia boleh berwudhu dengan mengusap bagian yang dibalut itu, dan hal itu sudah mencukupi (yakni dengan mengusap bagian yang dibalut, sedangkan bagian yang tidak dibalut dibasuh seperti biasa).

Tetapi dalam hal ini ada perbedaan pendapat di kalangan para imam. Sebagian di antara mereka mensyaratkan bahwa perban atau pembalut itu harus dipasang dalam keadaan suci, sedangkan sebagian yang lain tidak mensyaratkan demikian. Sebagian lagi mewajibkan tayamum, tetapi sebagian yang lain tidak mewajibkanya.

Baca Juga: Panduan Lengkap Tata Cara Sholat Berdasarkan Sunnah Nabi SAW.

SHARE