Bahaya Pemikirn Orientalisme

21
Orientalisme, sebuah kata asing
yang sudah popular bahkan digandrungi oleh sebagian kalangan secara berlebihan
sehingga mendudukannya sebagai primadona dalam metodologi pemikiran. Untuk
mengetahui apa dan bagaimana sepak terjang mereka, secara singkat tulisan ini
akan memaparkan seputar latar belakang dan motivasi kemunculannya serta sikap
kaum muslimin yang seharusnya dalam menyikapinya.
Latar Belakang
Kemunculannya
Sesuai dengan istilah yang
digunakannya, orientalisme mengandung arti sebuah aliran yang
mempelajari masalah-masalah ketimuran (Orient:
timur; dan Isme: aliran). Dalam bahasa
Edward W. Said adalah suatu cara untuk memahami dunia timur. (Edward W. Said
dalam Orientalisme, 1985, hal. 1-2).
Sementara para peneliti WAMY (World
Assembly Moslems Youth
) menyebutkan: gelombang pemikiran yang mencerminkan
berbagai studi ketimuran yang islami. (Al-Mausû’at
Al-Muyassarah Fil Adyan Wal Madzhahibil Mu’ashirah
, 1993, hal. 15)
Terlepas dari perbedaan definisi,
orientalisme mempunyai obyek studi yang jelas, mencakup peradaban, agama, seni,
sastra, bahasa dan kebudayaan. Gelombang ini memberikan andil besar dalam
membentuk persepsi Barat dalam menyudutkan Islam dan membeberkan kelemahannya dalam rangka pertarungan
Timur dan Barat. Namun demikian, dunia Islam sendiri tidak boleh menafikan
jasa-jasa baik mereka berupa sumbangan ilmiyah atas karya-karyanya, sekalipun madlaratnya tentu lebih besar dari mashlahatnya. Mengapa demikian?
Jawabannya adalah karena latar belakang kemunculannya tidak lepas dari dendam
kesumat Barat yang Nashrani untuk menghancurkan Negara-negara Timur yang Islam.
Maka sangatlah wajar apabila para sejarawan menyebutkan kemunculan orientalisme
bermula semenjak Perang Salib terjadi, sekalipun ada pendapat lain yang menyebutkan
semenjak zaman Daulah Islamiyah di Andalusia.
Motivasi Kemunculannya
Dengan merujuk kepada beberapa
sumber, para peneliti menyimpulkan sesungguhnya gerakan orientalisme memiliki
motivasi antara lain:

Motivasi Agama

Motivasi ini sebagaimana dijelaskan
DR. Musthafa as-Syiba’i dalam bukunya Al-Isyraq
wal Musytaraq, Ma Lahum Wa Mâ ‘Alaihim
bahwa karya mereka banyak
mendatangkan sikap-sikap yang sangat buruk dan keji terhadap Islam,
diantaranya: meragukan kerasulan Muhammad saw. dengan berbagai penghinaan,
mendatangkan keraguan terhadap al-Qur’an dengan anggapan al-Qur’an ketinggalan
zaman dan sulit dimengerti, bacaannya menjemukan, tidak beraturan, melelahkan,
tidak ada orang yang mau membacanya, demikian penuturan H.A.R. Gibb dalam
bukunya Mohammadisme, bahkan dalam
kesempatan lain diapun mempertanyakan dan menyangsikan apakah ajaran Islam
layak disejajarkan dengan ajaran Yahudi dan Nashrani?.  Ucapan ini sejalan dengan ucapan Philip K.
Hitty dalam bukunya Dunia Arab yang
menyebutkan Islam dan al-Qur’an cenderung lebih dekat kepada Judaisme
dalam perjanjian lama dari pada menjadi agama mandiri. Sumber lain menyebutkan,
mereka mendatangkan keraguan terhadap hadits dan fiqih Islam sehingga
memunculkan gerakan Inkarus Sunnah dengan tokohna Goldziher (Lihat Daud
Rasyid, Pembaharuan Islam dan Orientalisme Dalam Sorotan, 1993, hal.
133). 
Mereka memojokkan bahasa Arab dan
menjauhkannya dari ilmu pengetahuan, sebagaimana Louis Massignan yang
menganjurkan supaya bahasa Arab ditulis dengan huruf latin dan bahasa pasaran (‘ammiyah), mereka menuduh bahwa
kebudayaan Islam merupakan adopsi dari Romawi dan Persia seperti diungkapkan
Saledon Amous dimana Ernest Renan berkata: ‘Filsafat Islam adalah filsafat
Yunani yang ditulis dengan huruf Arab’ (HM. Amin Djamaluddin, Bahaya Inkarus Sunnah, 1986).
Mereka pun melemahkan jiwa
ukhuwwah Islamiyyah dengan mendorong berbagai pertentangan sehingga kaum
muslimin semakin terdorong untuk mempopulerkan hadits-hadits palsu, diantaranya
‘Ikhtilafi Ummatî Rahmatun’;
pertentangan diantara ummatku adalah rahmat.

Motivasi Ekonomi dan Penjajahan

Dalam kepentingan ekonomi dan
penjajahan, DR. Mahmud Hamdy Zaqzuq menguraikan dalam bukunya Al-Isytisyraq Wal Khalfiyyat al-Fikriyyat
Lis Shirail Hadhari
bahwa abad ke-19 dan 20 bangsa Barat sangat berambisi
meluaskan perdagangannya sampai ke dunia Timur guna mendatangkan bahan baku
bagi kepentingan industri mereka yang mengalami kemajuan pesat. Lawatan demi
lawatan dilakukan, tujuannya untuk mengenal geografis, alam pertanian dan
manusianya, sehingga lebih mudah melakukan penjajahan.  Tahun 1830 M. Aljazair diserang Perancis dan
mendudukinya di tahun 1857 M., sedangkan Tunisia dan Mesir jatuh pada tahun
1881 M. Adapun tahun 1898 M. secara politis Inggris mencaplok India. (Mahmud
Hamdy Zaqzuq. 1984, hal. 32)

Motivasi Politik

Pada dasarnya, semua motivasi kaum
Orientalis merupakan politik, terlebih setelah kokohnya penjajahan Barat.
Negara-negara Barat mengharuskan orang-orangnya mempelajari bahasa, tradisi dan
agama negara-negara jajahan. Oleh karenanya, konfrensi gereja di Wina
memutuskan untuk membuka jurusan Bahasa Arab di Universitas Cambridge dan baru
terlaksana setelah tiga abad, kemudian menerbitkan majalah The Moslem World tahun 1911 yang dikomandani Samuel Zwimmer sebagai
ketua Missionaris Timur Tengah. (Mahmud Hamdy Zarzuq, hal. 66)

Motivasi Keilmuan

Sebagian kaum Orientalis, ada yang
mengarahkan penelitiannya untuk pengetahuan semata, bahkan sampai kepada esensi
Islam, misalnya Thomas W. Arnold yang menyusun buku The Preaching In Islam (Sejarah Dakwah Islam). Diantara isi bukunya
adalah kekaguman terhadap Islam, terutama sikap toleran kaum muslimin dalam
memperlakukan penduduk yang dikuasainya (Ali Abdul Halim Mahmud, Nahwal Buhuts al-Islamy, 1992, hal. 61).
Demikian pula munculnya karya-karya
ilmiah yang sangat berbobot dan bermanfaat bagi khazanah Islamiyah lainnya
seperti Sejarah Kesusasteraan Arab
karya orientalis Jerman Karl Broklman (wafat 1956 M.). Atas idzin penulisnya,
serta rekomendasi Dirjen Kebudayaan Liga Arab, buku tersebut diterjemahkan oleh
DR. Abdul Halim Najjar (1948 M.). Lalu Fu’ad Sizkin (Turki) murid Helmut Riter
(Orientalis Jerman) menyempurnakannya dan menerjemahkan kembali dengan judul Tarikh al-Turats al-‘Araby. Karya ini
telah menerima hadiah dari Raja Faishal. (Mahmud Hamdy Zaqzuq, hal. 62)
Karya lainnya adalah Ensiklopedia Islam yang dicetak dengan
bahasa Inggris, Perancis dan Jerman tahun 1913-1938 M., lalu dicetak kembali
pada tahun 1945-1977 M. dengan menggunakan bahasa Inggris dan Perancis saja.
Berikutnya, mereka pun melahirkan buku-buku kamus (ma’ajim), diantaranya: Mu’jam
‘Arab Latin
karya George Vilhelm (wafat 1861 M.), Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyyah al-Qadimah karya Ogist Fisher (wafat
1949 M.), dan Mu’jam al-Mufahras
Lialfazhil Hadîts as-Syarîf
(Kamus Pencarian Kitab-kitab Hadist) yang
disusun dari tahun 1936-1963 M.
Ummat
Islam dan Orientalisme
Setelah memahami latar belakang
dan motivasi kemunculan orientalisme, minimal ada dua sikap yang menjadi
catatan bagi ummat Islam; menerima kegigihan semangat ilmiyyah mereka dan tetap
waspada terhadap pendangkalan (tasykik)
yang mereka jalankan.
Sikap yang kedua inilah yang harus
mendapatkan perhatian maksimal, sehubungan hal ini menyinggung nilai-nilai
esensi dalam Islam yang wajib diselamatkan, dikarenakan banyak Orientalis yang
kehilangan rasa objektifitasnya. Mereka adalah A.J. Arberry, Alfred Geom,
Barron Carrade Vaux, H.A.R. Gibb, Goldziher, John Maynard, S.M. Zwimmer, G. Van
Grunbaun, Philip K. Hitty, Joseph Schacht, G. Margholiut, Stenbrink dan
sejumlah Orientalis lainnya yang digolongkan sebagai Orientalis fanatik.
Benarlah apa yang disampaikan
Syaikh Muhammad bin Sa’id bin Salim al-Qahthany dalam bukunya Al-Wala’ Wal Bara’ Fil Islam: “………Buku karya orientalis, senantiasa
menimbulkan keraguan bagi orang-orang yang lemah imannya, didalamnya mengandung
racun yang dipoles dengan madu……”
(Al-Qahthany, 1402, hal. 406)
Demikianlah, mereka membuat makar,
namun Allah ‘Azza wa Jalla lebih Maha Pandai dan Maha Mengetahui segala
kelemahan mereka.

SHARE