Basmalah Bagian Awal Dari Setiap Surah Atau Berdiri Sendiri?

20
Basmalah; Bagian Awal Dari Setiap Surah Atau Berdiri Sendiri ?
 
Para sahabat yang mengumpulkan Al Qur’an dalam satu mushhaf mengawali Kitabullah dengan Bismillahirrahmanirrahim. 
Kalimat ini dijadikan sebagai ayat pembuka Al
Qur’an. Para ulama juga bersepakat bahwa kalimat ini juga adalah
sebagian ayat dari surah An Naml ;
إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
“Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan
sesungguhnya (isi) nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah
lagi Maha Penyayang.” (An Naml : 30)
Lalu kemudian mereka berbeda pendapat ; apakah
basmalah adalah ayat yang berdiri sendiri di awal setiap surah, atau
apakah ia termasuk bagian dari setiap surah ? Pendapat-pendapat itu
dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Basmalah adalah merupakan ayat dari setiap surah kecuali surah At
Taubah (Bara’ah). Pendapat ini diriwayatkan dari Ibn ‘Abbas, Ibn ‘Umar,
Ibn Az Zubair, Abu Hurairah, ‘Ali ibn Abi Thalib, -dan dari kalangan
tabi’in- ‘Atha’ ibn Abi Rabah, Thawus, Sa’id ibn Jubair, Makhul dan Az
Zuhry. Pendapat yang sama juga dipegangi oleh ‘Abdullah ibn Al Mubarak,
Asy Syaf’iy, Ahmad ibn Hanbal dalam salah satu riwayat, Ishaq ibn
Rahawaih dan Abu ‘Ubaid Al Qasim ibn Sallam –semoga Allah melimpahkan
rahmatNya kepada mereka semua-.

2. Basmalah bukanlah merupakan ayat dari surah Al Fatihah dan bukan pula
bagian dari surah yang lainnya. Pendapat ini dikatakan oleh Malik dan
Abu Hanifah –semoga Allah merahmati mereka.


3. Basmalah adalah ayat yang berdiri sendiri dan terdapat pada awal
setiap surah. Pendapat ini dikatakan oleh Dawud Azh Zhahiry dan
diriwayatkan dari Ahmad ibn Hanbal.
Pendapat yang banyak dikuatkan oleh para ulama adalah pendapat yang pertama. Wallahu a’lam.
Membaca Basmalah Dalam Shalat 
 
Para ulama yang berpandangan bahwa basmalah bukanlah merupakan bagian /
ayat dari surah Al Fatihah berpendapat bahwa orang yang mengerjakan
shalat tidak harus menjahrkan (mengeraskan) bacaan basmalah.

Demikian pula yang berpandangan bahwa basmalah adalah ayat yang berdiri
sendiri pada awal surah dan bukan merupakan bagian dari Al Fatihah.
Adapun para ulama yang mengatakan bahwa basmalah adalah merupakan bagian
/ ayat pertama dari setiap surah –kecuali surah At Taubah-, maka mereka
berbeda pendapat tentang apakah basmalah itu dikeraskan atau tidak
bacaanya dalam shalat :

1. Basmalah itu dikeraskan bacaannya dalam shalat, baik ketika membaca
surah Al Fatihah dan surah yang lainnya. Pendapat ini dikatakan oleh Abu
Hurairah, Ibn ‘Umar, Ibn ‘Abbas, Mu’awiyah, ‘Umar dan ‘Ali –seperti
yang diriwayatkan oleh Ibn ‘Abdil Barr dan Al Baihaqy-, Sa’id ibn
Jubair. ‘Ikrimah, Abu Qilabah, Az Zuhry, ‘Ali ibn Al Hasan, Sa’id ibn Al
Musayyib, Atha’, Thawus, Asy Syafi’iy, Ibn Hazm dan yang lainnya.
Landasan mereka di antaranya adalah hadits Abu Hurairah –radhiallahu
‘anhu- yang diriwayatkan oleh An Nasa’iy, Ibn Hibban dan Al Hakim, di
mana beliau pernah mengerjakan shalat dengan menjaharkan basmalah, dan
seusai itu ia mengatakan : “Sesungguhnya aku adalah yang paling mirip di
antara kalian dengan shalat Rasulullah saw.”

2. Basmalah itu tidak dikeraskan bacaannya dalam shalat. Pendapat ini
adalah pendapat ini adalah pendapat yang tsabit dari para khalifah yang
empat ( Al Khulafa’ Ar Rasyidun ) dan sekelompok ulama salaf dan khalaf.
Pendapat ini juga merupakan madzhab Abu Hanifah, Sufyan Ats Tsaury dan
Ahmad ibn Hanbal. Salah satu pegangan mereka adalah hadits yang
diriwayatkan oleh Anas ibn Malik –radhiallahu ‘anhu- yang mengatakan :
“Aku telah mengerjakan shalat di belakang Nabi saw, Abu Bakr, ‘Umar dan
‘Utsman, namun mereka mengawalinya dengan (langsung) membaca
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.” (HR. Bukhari dan Muslim).

3. Basmalah tidak dibaca sama sekali, baik secara jahar maupun sirr.
Pendapat ini dikatakan oleh Imam Malik. Landasannya adalah bahwa
–sebagaimana dikatakan oleh ‘Aisyah- Rasulullah saw mengawali shalatnya
dengan takbir dan membaca Alhamdulillah rabbil ‘alamin (HR. Muslim). Ibn
Katsir –yang lebih menguatkan dan memilih pendapat yang pertama-
memberikan pandangan yang menyejukkan seputar perbedaan ini dengan
mengatakan : “Inilah pegangan para ulama dalam masalah ini, yang
semuanya sesungguhnya berdekatan, sebab mereka semua telah bersepakat
bahwa orang yang menjahar ataupun mensirrkan basmalah shalatnya tetap
sah, walhamdulillahi wal minnah.”
Keutamaan Basmalah
Pada dasarnya kalimat ini sangat berberkah. Itulah sebabnya, Allah
Ta’ala memudahkan setiap muslim untuk mengingatnya. Bukankah tidak ada
seorang muslim pun yang tidak bisa mengucapkan bismillah ? Maka bisa
dikatakan, basmalah adalah dzikir yang paling mudah diingat. Oleh sebab
itu, jangan pernah lupa mengucapkannya setiap kali Anda mengawali dan
memulai setiap aktifitas Anda. Ketika mengawali pembicaraan, pada saat
masuk ke tempat buang hajat, ketika memulai wudhu’, makan bahkan saat
memenuhi kebutuhan biologis Anda. Insya Allah, Allah akan memberi berkah
untuk Anda ! Rasulullah saw mengatakan : “Seandainya salah seorang dari
kalian bila hendak mendatangi istrinya lalu mengatakan Bismillah
Allahumma Jannibna-syaithan, wa jannibi-syaithan ma razaqtana (Dengan
menyebut nama Allah –aku mengerjakan ini-, ya Allah jauhkanlah kami dari
syaithan dan jauhkanlah syaitan dari apa yang engkau karuniakan kepada
kami), maka bila ia ditakdirkan mendapatkan anak maka syaithan tidak
akan mendatangkan mudharat kepadanya selamanya.” (HR. Bukhari dan
Muslim)

Di samping itu, basmalah juga –dengan idzin Allah- dapat membantu Anda
menghadapi musuh terberat dalam kehidupan ini ; Syaithan. Dengan membaca
basmalah Anda dapat membuatnya kehilangan kekuatan dan menjadi kecil.
Suatu ketika, salah seorang sahabat yang menyertai Nabi saw –namanya
Usamah ibn ‘Umair- mengatakan : “Celakalah syaithan !”. Maka Rasulullah
saw menegurnya dengan mengatakan : “Engkau jangan mengatakan :
‘Celakalah syaithan’, sebab jika engkau mengatakannya maka syaithan akan
semakin membesar sembari mengatakan : “Dengan kekuatanku aku akan
melawannya”. Namun jika engkau mengatakan ‘Bismillah’, maka ia akan
mengecil hingga menjadi seperti seekor lalat.” (HR. Ahmad dan An
Nasa’iy). Tentu saja, ini adalah salah satu bentuk keberkahan kalimat
yang agung ini.

Oleh sebab itu, jangan pernah lupa mengucapkannya. Latihlah lisan Anda agar menjadi ringan dan mudah melafalkannya.
Makna Lafzhul Jalalah ; ALLAH
Allah adalah nama yang diperuntukkan untuk sang Rabb alam semesta ini.
Secara bahasa ia berasal dari kata Al-Ilah yang berarti sesembahan. Dan
Allah Azza wa Jalla sendirilah yang menamai DzatNya dengan Allah.
Sebagian ulama mengatakan ini adalah nama yang paling agung sebab inilah
nama yang disifatkan dengan seluruh sifat kemahasempurnaan. Hal ini
seperti yang dinyatakan oleh Allah sendiri dalam Al Qur’an : 
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ
عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ . هُوَ
اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ
الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ
سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ . هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ
الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا
فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak
disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah
Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan
(yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha
Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha
Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci,
Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah Yang Menciptakan,
Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang
Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi.
Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al Hasyr : 22-24)
Perhatikanlah bagaimana ayat-ayat ini menunjukkan bahwa

(1) Allah sendirilah yang menamai dan menyebut DzatNya dengan nama Allah,
(2) nama inilah yang menjadi nama Allah yang paling agung dan
(3) kepada nama inilah semua nama dan sifat kemahasempurnaan Allah dinisbatkan.
Makna ‘Ar Rahman’ dan ‘Ar Rahim’
Secara bahasa, kedua kata ini merupakan bentukan kata dari Ar Rahmah
(kasih sayang). Dari kata Ar Rahmah inilah kata Ar Rahman dan Ar Rahim
dibentuk untuk menunjukkan bentuk kasih sayang yang sangat besar.
Walaupun kata Ar Rahman memiliki makna kasih sayang yang lebih tinggi
daripada Ar Rahim. Secara tersirat Ibn Jarir Ath Thabary menyebutkan
kesepakatan para ulama dalam masalah ini.

Berikut ini beberapa nukilan perkataan para ulama yang menjelaskan perbedaan antara Ar Rahman dan Ar Rahim :

1. Ibn ‘Abbas mengatakan : “Kedua nama ini adalah nama (yang
menunjukkan) kelembutan, namun salah satunya lebih lembut dari yang
lainnya –artinya lebih menunjukkan kasih sayang yang lebih besar-.”

2. Abu ‘Ali Al Farisy mengatakan : “Ar Rahman adalah nama yang mencakup
segala bentuk rahmat yang hanya khusus dimiliki Allah Ta’ala, sedangkan
Ar Rahim adalah (untuk menunjukkan) rahmat dari sisi kaum mu’minin.”

3. Ibn Jarir Ath Thabary meriwayatkan perkataan Al ‘Azramy yang
menyatakan : “Ar Rahman adalah (menunjukkan kasih) yang ditujukan untuk
semua makhluq, sedangkan Ar Rahim adalah khusus untuk orang-orang
beriman.”
Nama ‘Ar Rahman’ Hanya Untuk Allah
Dengan melihat cakupan Ar Rahman yang lebih luas, maka tidak
mengherankan bila nama dan sifat ini hanya untuk Allah Ta’ala –berbeda
dengan Ar Rahim yang terkadang diberikan kepada makhluq seperti ketika
Allah menjelaskan bagaimana kasih Rasulullah sw kepada kaum beriman ; wa
kaana bil mu’minina rahima.

Itulah sebabnya, Ar Rahman secara khusus disebut dalam perintah berdo’a kepada Allah ;
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ
أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى وَلَا تَجْهَرْ
بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا
“Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman.
Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna
(nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam
shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di
antara kedua itu” (Al Isra’ :110)
Tidak dibenarkan siapapun menyebut dirinya sebagai Ar
Rahman sebab ia adalah kekhususan Allah Ta’ala. Maka ketika si nabi
palsu Musailamah menyebut dirinya sebagai rahman al yamamah (sang
rahman-nya wilayah Yamamah), Allah Ta’ala memberinya label yang akan
terus abadi hingga akhir zaman ; Al Kadzdzab (sang pendusta). Hingga
kini, siapapun yang menyebut nama Musailamah hampir tidak pernah lupa
menggandengkannya dengan Al Kadzdzab.

Berdasarkan penjelasan ini, maka kita dapat memahami mengapa dalam
kalimat basmalah, nama Ar Rahman didahulukan daripada nama Ar Rahim.
Sebab nama Ar Rahman lebih mulia dibandingkan dengan nama Ar Rahim.
Wallahu Ta’ala a’lam.
diambil dari : www.wahdah.or.id dan http://tookiman.wordpress.com/2008/02/14/tafsir-basmalah/
SHARE