Batalkah Puasa Saat Kita Pingsan?

131
Hukum Puasa Bagi Orang yang Pingsan – Perkembangan dunia pengobatan yang semakin maju, selain memberi dampak yang positif, juga member tantangan dan tuntutan dalam hal tertentu. Adapun bagi umat Islam, tuntutan tersebut adalah berkaitan dengan boleh atau tidak penemuan tersebut digunakan, atau sah atau batal jika dikaitkan dengan suatu ritus ibadah tertentu.

Salah satu yang menjadi bahasan para fukaha -baik sejak zaman imam Madzhab maupun kekinian- adalah masalah orang pingsan ketika puasa; apakah puasanya batal atau tetap sah. Hal ini terkait dengan salah satu syarat taklif puasa; berakal. Lalu bagaimana pembahasannya? Berikut paparan singkat dari kami.

Salah satu syarat wajib puasa adalah berakal. Maksudnya, seseorang dalam melaksanakan ibadah mengetahui apa yang sedang ia lakukan. Sehingga orang gila, pingsan, dan mabuk, tidak dibebani kewajiban untuk puasa sampai akal mereka pulih. Imam al-Baijuri berkata, jika seseorang hilang kesadarannya ketika puasa, maka puasanya tidak sah. Namun apabila ia sempat siuman walau hanya sejenak di siang hari (sampai sebelum waktu berbuka) maka puasanya sah. Kecuali apabila ia pingsan sejak sebelum fajar sampai datang waktu berbuka (lihat Hasyiyah Syaikh Ibrahim al-Baijuri, I: 551-552).

Apakah Puasa Akan batal Saat Seorang Pingsan?

Lalu bagaimana kriteria orang yang batal puasanya karena pingsan?

Dalam madzhab Syafi’i dan Hanbali, orang yang pingsan ketika puasa -baik Ramadhan maupun selainnya- tidak terlepas dari dua kondisi berikut:

Pertama, seseorang mengalami pingsan di sepanjang siang (dari sejak sebelum fajar sampai tiba waktu berbuka –pent). Puasa orang yang berada dalam kondisi ini dihukumi tidak sah dan ia wajib menggantinya di hari yang lain. Ketentuan ini berlaku bagi puasa wajib, seperti Ramadhan, qadla, kafarat, dan sebagainya.

Adapun landasan/dalil dari pendapat ini adalah sebuah hadits Qudsi berikut ini:

يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي

“Ia meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya karena Aku (H.R. al-Bukhari no 1894 dan Muslim no. 1151).”

Dalam riwayat ini, orang puasa (Ramadhan) didefenisikan sebagai mereka yang meninggalkan makan, minum, dan berhubungan intim di siang hari. Adapun orang yang pingsan sejak sebelum fajar sampai tenggelam matahari tidak dapat dimaknai sebagai orang yang menahan diri sehingga tidak dapat dibebankan taklif kepadanya.

Adapun dalil tentang wajibnya qadla bagi orang yang pingsan adalah:

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Siapa saja diantara kalian sedang sakit atau dalam perjalanan safar (dan tidak berpuasa) maka mengganti di hari yang lain [Q.S. al-Baqarah (2): 185].”

Orang yang pingsan disamakan dengan orang yang sakit, dimana keduanya tidak mampu melaksankan puasa Ramadhan sehingga wajib menggantinya di hari yang lain.

Kedua, orang yang pingsan tersadar di sebagian siang (sampai sebelum waktu berbuka) meskipun hanta sebentar, baik tersadar di awal siang, pertengahan, maupun di akhir. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh imam an-Nawawi bahwa siuman merupakan syarat sah puasanya orang yang pingsan. Adapun argument dari pendapat ini adalah, seseorang puasa yang pingsan kemudian siuman di sebagian waktu puasanya secara umum dapat dikatakan telah melakukan al-imsak; menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan intim.

Berbeda halnya dengan orang pingsan sejak sebelum terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Sebab dalam kondisi seperti ini ia tidak dikatakan sedang menahan diri dari pembatal puasa (lihat Hasyiyah Ibnu Qasim ‘Ala ar-Raudl al-Murabba’, III: 381).

Adapun ulama madzhab Hanafi dan al-Muzani dari ulama madzhab Syafi’i mengatakan, orang yang pingsan dihukumi seperti orang yang tidur, sehingga puasanya sah. Namun pendapat ini dipandang kurang tepat karena pingsan dan tidur adalah dua kondisi yang berbeda. Orang yang tidur jika dibangunkan maka akan tersadar. Adapun pingsan menyebabkan hilangnya kesadaran seseorang terhadap diri dan keadaan yang berada di sekitarnya. Oleh karena itu menyamakan orang yang pingsan dengan tidur adalah tidak tepat.

Kesimpulannya, orang yang pingsan ketika melaksanakan puasa wajib, puasanya dihukumi tidak sah apabila ia pingsan di sepanjang waktu puasa; sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Adapun jika ia sempat siuman di sebagian waktu puasa meski hanya sebentar, maka puasanya sah. Sebab al-imsak (menahan diri dari pembatal puasa) tidak dipersyaratkan harus di seluruh waktu puasa (lihat al-Majmu’ karya Imam an-Nawawi, VI: 346, al-Mughni, IV: 344, dan asy-Syarh al-Mumthi’ karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, VI: 365).

Lalu bagaimana dengan orang yang melaksanakan puasa sunnah?

Adapun orang yang melakukan puasa sunnah tidak dipersyaratkan apapun jika puasanya batal; baik qadla maupun kafarat. Hal ini sebagaimana sabda Rasulallah saw:

عَنْ أُمِّ هَانِئٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ الصَّائِمُ الْمُتَطَوِّعُ أَمِينُ أَوْ أَمِيرُ نَفْسِهِ إِنْ شَاءَ صَامَ وَإِنْ شَاءَ أَفْطَرَ

“Dari Ummu Hani’, bahwa Nabi saw pernah bersabda: ‘Orang yang berpuasa sunnah adalah pemegang kendali (amin) atau tuan (amir) bagi dirinya sendiri. Jika mau ia berpuasa, dan jika tidak ia dapat membatalkannya [H.R. at-Tirmidzi (732), an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra (3288), Ahmad (26893), ad-Daruquthni (2224, 2229), al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra (8347, 8349). Dinilai sahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir Wa Ziyadatih, II: 717 (hadits no. 3854)].”

Baca Juga:

Bolehkah orang yang bepergian setelah Fajar Membatalkan Puasa?
Hukum dan Kriteria Muntah yang Membatalkan Puasa
Apakah Menangis Bisa Membatalkan Puasa?

Wallahu a’lam bi ash-shawab.


SHARE