Benarkah DNA Menjadi Bukti Hubungan Nasab?

47

Kemunculan DNA, menciptakan diskusi menarik di kalangan ahli fikih.
Terlebih, isu DNA belum pernah muncul di kajian fikih klasik. Konsensus
ulama pun terkait masalah ini belum pernah didapati Tes DNA
hanya boleh dalam kondisi tertentu. Tak ada konsen- sus ulama soal boleh
atau tidaknya tes DNA untuk mengu – kuh kan nasab.

 
sejak
dibuktikan pertama kali oleh Oswald Avery pada 1944, bah wa DNA bisa
dijadi kan sebagai penguat akurasi keterkaitan hubungan nasab, DNA
dijadikan alat bukti kuat bagi beberapa kasus seperti kriminalitas dan
bantahan atau pengukuhan atas klaim nasab seseorang. Tes DNA yang
pernah dilakukan terhadap mantan presiden AS, Tho mas Jefferson,
misalnya, sempat menggemparkan. Kajian itu menyimpulkan bahwa salah satu
pendiri Negara Paman Sam terbukti memiliki anak dari perempuan ber
kulit hitam. Meskipun temuan itu mendapat penolakan dari para ahli dari
kulit putih.

Di Rusia, metode yang sama juga digunakan untuk
mengidentifikasi sejumlah mayat yang diduga adalah keluarga Kaisar
Nicholas II. Keberadaan mereka tak dapat dilacak, pascahukuman mati yang
berlangsung pada 1918. Setelah membandingkan dengan DNA keluarga yang
masih hidup, dinyatakan bahwa mayat-mayat itu adalah keluarga Sang
Kaisar.

Dalam Islam, hubungan nasab pada dasarnya diketahui,
antara lain, dengan adanya hubungan pernikahan yang sah. Hal ini sesuai
dengan hadis Rasulullah yang menyatakan bahwa anak adalah hasil hubungan
suami-istri yang sah (alwalidu li al firasy). Pengukuhan nasab juga
bisa ditempuh dengan persaksian (bayyinah) oleh dua orang laki-laki yang
memenuhi syarat.
Cara selanjutnya berupa pengakuan bapak biologis di hadapan pengadilan (iqrar). Kemunculan DNA menciptakan diskusi menarik di kalangan ahli fikih. Terlebih,
isu DNA belum pernah muncul dalam kajian fikih klasik. Konsensus ulama
pun terkait masalah ini belum pernah ada.
Sedangkan perselisihan
soal terkait atau tidaknya nasab itu sendiri pada dasarnya bisa dipicu
oleh faktor sepele. Perbedaan kulit, misalnya. Konon,
permasalahan tersebut pernah terjadi di antara Usamah dan Zaid bin
Haritsah. Hubungan nasab antarkeduanya sempat dipersoalkan. Pasalnya,
kulit Usamah berwarna hitam. Sedangkan sang ayah, Zaid, berkulit putih.
Menghasilkan beberapa rekomendasi terkait penggunaan DNA untuk
memastikan nasab, antara lain, yaitu DNA digunakan dengan penuh
kehati-hatian dan prosedur yang ketat. Kaidah penetapan nasab yang telah
diakui syariat, harus lebih dikedepankan. Selain itu, DNA tidak
boleh dipergunakan untuk menafikan nasab yang telah dipastikan
kebenarannya secara syariat. Penggunaan DNA diperbolehkan dalam
kondisi-kondisi tertentu, misalnya, tidak teridentifikasinya nasab
karena beberapa faktor, seperti ketiadaan bukti fisik ataupun bukti
tertulis. Menurut komite ini pula, DNA sah dipakai untuk
mengidentifikasi bayibayi yang tertukar ketika berada di rumah sakit.
Menurut
Syekh Yusuf al-Qaradhawi, DNA tak bisa dijadikan bukti pengukuhan nasab
dari hasil perbuatan zina. Meskipun syariat menekankan pentingnya
pengukuhan nasab, tetapi khusus dalam kasus zina, hal itu harus
ditutupi. Menutupi aib dari zina penting dilakukan agar tatanan sosial
masyarakat Muslim tetap terjaga dan tindakan keji tersebut tidak
menjalar dan menjadi hal biasa di tengah-tengah mereka.
Rasulullah
SAW pernah mengomentari sikap sahabat yang menolak pengakuan berzina
dari Ma’iz bin Malik. “Tidakkah engkau tutupi dengan ujung pakaianmu,”
sabda Rasulullah. Tetapi, dalam kasus tertentu DNA bisa digunakan
seperti sebagai bukti atas tuduhan berzina yang ditujukan seseorang.
Dalam
pandangan Mufti Dar alIfta, Mesir, Syeh Ali Jum’ah, sesuai dengan
kaidah yang berlaku dalam kajian fikih Islam, nasab seorang anak apa pun
kondisinya, akan tetap kembali ke ibu. Hal ini sesuai dengan ayat:
“Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka.” (QS
al-Mujaadilah [58] : 2).
Pengukuhan nasab anak ke ayah nya
hanya melelui pernikahan yang sah. Namun, penggunaan DNA dianggap boleh
saat kondisi tertentu. Misalnya, ketika seorang sua mi ingkar terhadap
anak kan dungnya dari pernikahan sah. Sementara, di saat bersamaan tak
ditemu kan bukti atau dokumen per nikahan. DNA dalam kasus seperti ini
sah digunakan. Tes DNA juga boleh dipergunakan ketika terjadinya ka sus
bayi tertukar. (republika)
SHARE