Berserah Diri (Tawakal)

27
Berserah Diri (Tawakal),- Tawakal berarti memasrahkan,
mempercayakan segala urusan kepada Allah.[1]
Menurut Yusuf Qardhawi, menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Orang yang
tawakal akan merasakan ketenangan dan ketentraman. Ia senantiasa merasa mantap
dan optimis dalam bertindak. Di samping itu juga akan mendapatkan kekuatan
spiritual, serta keperkasaan luar biasa, yang dapat mengalahkan segala kekuatan
yang material.[2]
Perumpamaan tentang orang yang tawakal digambarkan oleh Buya Hamka bahwa
bukanlah orang yang tawakal itu orang yang tidur dibawah pohon yang lebat
buahnya seumpama buah durian. Karena kalau buah itu jatuh digoyang angin, dan
orang yang tidur tersebut ditimpanya, itu adalah kesia-sian belaka. Contoh
lainnya menurutnya adalah kalau bahaya datang dari sesama manusia, maka
sekiranya ada jalan sabar, atau jalan yang mengelakkan diri atau menangkis,
pilihlah dulu yang pertama, yaitu sabar. Kalau tidak dapat lagi pilihlah yang
kedua yaitu mengelakkan diri. Kalau tidak dapat pula barulah menangkis. Kalau
hanya tinggal jalan semata-mata menangkis, tidak juga ditangkis tidak lah
bernama tawakal lagi tetapi sia-sia.[3]
Ayat ini merupakan bentuk tawakal
yang dicontohkan oleh Rasulullah:
إِلَّا
تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ
اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ
مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ
تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ
هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Jikalau
kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya
(yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah)
sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di
waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya
Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada
(Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah
menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah
itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(at-Taubah: 40)
Ayat ini menjelaskan agar jangan
takut berbagai macam serangan serangan hadapilah dengan tawakal kepada Allah.[4]
Hamka menggambarkan ayat di atas: Ingatlah seketika Rasulullah SAW meninggalkan
negeri Makkah hendak ke Madinah. Bersembunyi di dalam gua di atas bukit Jabal
Tsur seketika dikejar oleh kafir Quraisy, berdua dengan sahabatnya Abu Bakar.
Setelah bersembunyi dan tidak akan kelihatan musuh lagi, barulah ia berkata
kepada sahabatnya itu: “Jangan takut, Allah bersama kita.” Yaitu
beserta mereka bersembunyi. Coba kalau Rasulullah SAW menyatakan dirinya,
padahal musuhnya sebanyak itu, tentu menurut sunnatullah dia akan tertangkap
atau binasa lantaran kesia-siannya.[5]Pengalaman
Rasulullah SAW tersebut, merupakan contoh untuk berbuat secara maksimal akan
tetapi ketika mendapat ujian dan cobaan, umat Islam harus berserah diri hanya
kepada Allah semata.

 

Berserah Diri (Tawakal)
            Berikut ini juga anjuran agar kita
jangan membuat orang lain memiliki citra negatif terhadap dirinya yang dapat
merendakan diri dan penafsiran tentang orang yang tawakal.
مَا النَّجْوَى مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ ءَامَنُوا
وَلَيْسَ بِضَارِّهِمْ شَيْئًا إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ
 وَعَلَى اللَّهِ
فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِن
Sesungguhnya
pembicaraan rahasia itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang yang beriman
itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun
kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allah-lah hendaknya
orang-orang yang beriman bertawakkal.(al-Mujadilah: 10)
             Berserah diri hendaknya hanya kepada
Allah dalam ayat ini ditegaskan tentang larangan berbisik-bisik dihadapan orang
lain karena akan menimbulkan kesedihan bagi orang mukmin yang lain. Dengan
mengutip hadits rasul yang diriwayatkan oleh Shahihaini melalui Ibnu Umar
bahwasanya Rasulullah saw berkata: apabila terdapat tiga orang yang berkumpul
bersama janganlah keduanya berbisik-bisik tanpa sepengetahuan satu orang
lainnya [6]
dan orang-orang yang beriman adalah orang yang bertawakal kepada Allah, dan
meminta semua urusannya melalui pertolongan Allah, mohon perlindungan dari
syetan dan kejahatan. 
وَكَأَيِّنْ
مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا
أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا
 وَاللَّهُ
يُحِبُّ الصَّابِرِينَ
Dan
berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari
pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang
menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada
musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (Ali Imron: 146)
            Allah membesarkan hati para mukminin
dengan menghibur mereka akibat kekalahan mereka dalam perang Uhud; bahwa betapa
banyaknya Nabi yang berperang dan bersama mereka, sahabat-sahabat mereka yang
banyak bertakwa. Dan mereka tidak merasa lemah karena apa yang mereka alami dan
derita di jalan Allah dan tidak juga mereka merasa lesu atau menyerah.[7]
Inilah yang dimaksud tawakal yaitu adanya kemauan yang kuat dan usaha yang
maksimal baru diiringi dengan tawakal faiza azamta fatawakkal ‘alallah.

Berserah Diri (Tawakal)

 

 
       Kaitan tawakal dengan percaya diri
adalah pada tindakan yang ia lakukan dengan usaha yang maksimal cara yang
dihormatinya sendiri. Karena sadar bahwa ia tidak dapat selalu menang, ia
menerima keterbatasannya. Akan tetapi selalu berusaha untuk mencapai sesuatu
dengan usaha sebaik-baiknya, sehingga baik ia berhasil, gagal ataupun tidak
berhasil dan tidak gagal, ia tetap memiliki harga dirinya.[8]
[1] Amatullah Amstrong,
Khazanah Istilah Sufi, Kunci Memasuki Dunia Tasawuf
(Bandung:  Mizan,1996) hal. 188.
[2] Hasyim Muhammad.
Dialog Antara Tasawuf dan Psikologi, Telaah atas Pemikiran Psikologi Humanistik
Abraham Maslow
(Yogyakarta: Pustaka
Pelajar,2002) hal. 45-46.
[3] Hamka, Tasawuf
Modern
(Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), hal. 185.
[4] Tafsir Ibnu Katsir,
Sakhr Software.
[5] Hamka, Tasawuf
Modern
(Jakarta: Pustaka Panjimas,1983), hal. 186.
[6] Tafsir
al-Qurthubi,
Sakhr Software
[7] Tafsir Ibnu Katsir,
Sakhr Software.
[8] lihat bab II tentang
karakteristik Pribadi PD Herbert Fensterheim PH.D. dan Jean Baer, Jangan
Bilang :Ya” Bila Anda Akan Mengatakan “Tidak”
(Jakarta :
Gunung Jati, 1980) hal. 14-15.
SHARE