Biografi Imam Bukhari Perawi Hadis

66
Nama lengkapnya
adalah Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Muqirah ibn
Bardizbah al-Jufi al-Bukhari
. Lahir di Bukhara pada tanggal 13 Syawal 194 H dan
wafat tanggal 30 Ramadhan 256 H. Beliau mendapat gelar tertinggi bagi ahli
hadis yaitu sebagai Amir
al-Mu’minin fi al-Hadis 
karena
ketekunan dan kecerdasannya dalam bidang ilmu hadis sehingga ia disepakati
sebagai pengarang kitab hadis yang paling sahih. Ayahnya yang bernama Isma’il
terkenal sebagai seorang ulama yang saleh.
Imam Bukhari sejak
kecil telah menunjukkan bakatnya yang cemerlang dan luar biasa. Dia mempunyai
ketajaman ingatan dan hafalan yang melebihi orang lain. Ketika berusia sepuluh
tahun, Imam Bukhari selalu datang dan mempelajari ilmu hadis kepada ad-Dakhili, salah
seorang ulama yang ahli dalam bidang tersebut. Setahun kemudian dia mulai
menghafal hadis Nabi SAW, dan sudah mulai berani pula mengoreksi kesalahan dari
guru yang keliru menyebutkan periwayatan hadis. Dalam usia 16 tahun, dia telah
menghafal hadis-hadis yang terdapat di dalam kitab karangan Ibnu Mubarak dan
karangan Waki’ al-Jarrah.
Guru-gurunya dalam bidang hadis lebih
seribu orang, Imam Bukhari sendiri pernah mengatakan bahwa kitab al-Jami’
as-Sahih, atau yang terkenal dengan nama Sahih al-Bukhari, disusunnya sebagai
hasil dari menemui 1.080 orang guru ahli (sarjana) dalam bidang ilmu hadis.
Guru-guru tersebut, kata Ibnu Hajar al-Asqalani, dapat dibagi menjadi lima
tingkatan, mulai dari tabiin sampai kepada para mahasiswa yang sama-sama
belajar dengan Imam Bukhari sendiri. Setiap guru tersebut diberinya
penilaian yang jujur dan tanpa pilih kasih untuk menetapkan dapat diterima atau
tidaknya hadis-hadis yang mereka riwayatkan.
Untuk mendapat keterangan yang lengkap
tentang suatu hadis, baik mengenai hadis itu sendiri maupun mengenai orang yang
meriwayatkannya, Bukhari melawat ke daerah Syam (Suriah), Mesir, dan Aljazair
masing-masing dua kali, ke Basra empat kali, menetap di Hedzjaz (Mekah dan
Madinah) selama enam tahun, dan berulang kali ke Kufah dan Bagh­dad. Dari
pertemuannya dengan para ahli hadis tersebut, dia berhasil memperoleh hadis
sebanyak 600.000 buah, 300.000 buah di antaranya dihafalnya. Hadis-hadis yang
dihafalnya itu terdiri atas 200.000 hadis yang tidak sahih, dan 100.000 hadis
yang sahih.
Di samping
terkenal sebagai penghafal hadis, Imam Bukhari juga terkenal sebagai pengarang
yang produktif. Di antara karangan-karangan Imam Bukhari yang terkenal adalah al-Jami’
as-Sahih, at-Tarikh as-Sagir, at-Tarikh al-Ausat, at-Tarikh al-Kabir, Tafsir
al-Musnad al-Kabir, Kitab al-’Ilal, Kitab al-du’afa’,Asami as-Sahabah, dan
Kitab al-Kuna. Semuanya mengenai hadis. Kitab al-Jami’ as-Sahih atau Sahih
al-Bukhari
merupakan karangannya yang terpenting dan terbesar dalam bidang
hadis.
Sesuai dengan
namanya, kitab al-Jami’ as-Sahih adalah kitab yang khusus memuat hadis-hadis sa­hih.
Dari 100.000 hadis yang diakuinya sahih, hanya sebanyak 7.275 buah hadis yang
dimuatnya dalam kitab tersebut. Jumlah inilah yang betul-betul diyakininya
sebagai hadis-hadis sahih, dan diakui pula oleh sebagian besar ahli hadis
kenamaan.
Ketelitiannya yang begitu tinggi dalam
periwayatan hadis tersebut menyebabkan para ulama ha­dis belakangan menempatkan
kitab Sahih al-Bu­khari pada peringkat pertama dalam urutan kitab-kitab hadis
yang muktabar. Setelah itu, barulah muncul kitab Sahih Muslim, Sunan
Abu Dawud, Sunan at-Tirmizi, Sunan an-Nasd’i, dan Sunan Ibn Mdjah
. Kitab Sahih
al-Bukhari
beserta kelima kitab hadis lainnya itu disebut “al-Kutub as-Sittah”.
Kitab Sahih
al-Bukhari tersebut telah pula diberi syarah (komentar) oleh beberapa orang
ulama ha­dis berikutnya. Kitab-kitab yang memuat syarah itu berjumlah 82 judul.
Di antaranya, ada beberapa kitab yang terkenal. Misalnya, kitab Fath al-Bari
karangan Ibnu Hajar al-Asqalani
yang terdiri atas tiga belas jilid besar.
SHARE