Bolehkah jihbiz dalam Praktek Perbankan

21

Dalam urusan muamalat, hukum asal sesuatu adalah diperbolehkan
kecuali ada dalil yang melarangnya. Ini berarti ketika suatu
transaksi baru muncul di mana belum dikenal sebelumnya dalam hukum
Islam, maka transaksi tersebut dianggap dapat diterima kecuali
terdapat implikasi dari dalil Quran dan Hadist yang melarangnya
secara eksplisit maupun implisit.

Begitu pula Islam menyikapi perbankan atau jihbiz. Pada dasarnya
ketiga fungsi utama perbankan adalah boleh dilakukan, kecuali bila
dalam melaksanakan fungsinya perbankan melakukan hal-hal yang
dilarang syariah. Nah, dalam praktek perbankan konvensional yang
dikenal saat ini, fungsi tersebut dilakukan berdasarkan sistem bunga.
Bank konvensional tidak serta merta identik dengan riba, namun
kebanyakan praktek bank konvensional dapat digolongkan sebagai
transaksi ribawi.

Dari definisi riba, sebab (illat) dan tujuan (hikmah)
pelarangan riba, maka dapat diidentifikasi praktek perbankan
konvensional yang tergolong riba. Riba fadl dapat ditemui
dalam transaksi jual beli valuta asing yang tidak dilakukan secara
tunai. Riba nasi’ah dapat ditemui dalam pembayaran bunga
kredit dan pembayaran bunga tabungan / deposito / giro. Riba
jahiliyah dapat ditemui dalam transaksi kartu kredit yang tidak
dibayar penuh tagihannya.

Jelaslah bahwa perbankan konvensional dalam melaksanakan beberapa
kegiatannya tidak sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Oleh karena
itu, perlu dilakukan upaya untuk memperkenalkan praktek perbankan
berdasarkan prinsip syariah.

Lima
transaksi yang lazim dipraktekkan oleh perbankan syariah :
Transaksi
yang tidak mengandung riba.
Transaksi
yang ditujukan untuk memiliki barang dengan cara jual beli
(murabahah).
Transaksi
yang ditujukan untuk mendapatkan jasa dengan cara sewa (ijarah)
Transaksi
yang ditujukan untuk mendapatkan modal kerja dengan cara bagi hasil
(mudharabah)
Transaksi
deposito, tabungan, giro yang imbalannya adalah bagi hasil
(mudharabah) dan transaksi titipan (wadiah).
SHARE