Kemuliaan Bulan Muharram

25
Bulan Muharram– atau yang lebih dikenal masyarakat jawa dengan nama bulan syuro– bukanlah bulan yang mendatangkan bala atau bulan sial. Akan tetapi bulan ini adalah bulan yang Allah muliakan. Sepantasnya juga kita memuliakan bulan ini dengan ibadah dan amalan shaleh

Bulan Muharram Bulan suci

Kaum muslimin yang berbahagia, di dalam syariat islam telah dijelaskan kemulian bulan muharram. Allah swt:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ



Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah
adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit
dan bumi, di antaranya empat bulan haram[640]. Itulah (ketetapan) agama yang
lurus, Maka janganlah kamu menganiaya diri[641] kamu dalam bulan yang empat
itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi
kamu semuanya, dan Ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang
bertakwa. (QS. AT Taubah: 36)

Kemuliaan Bulan Muharram
[640]  maksudnya antara lain ialah: bulan Haram
(bulan Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab), tanah Haram (Mekah) dan
ihram.
[641]  maksudnya janganlah kamu menganiaya dirimu
dengan mengerjakan perbuatan yang dilarang, seperti melanggar kehormatan bulan
itu dengan mengadakan peperangan.
Empat bulan suci tersebut adalah bulan Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Sebagaiman sabda Rasulullah Saw yang artinya: ” satu tahun itu ada 12 bulan. Di antaranya ada 4 bulan haram, yaitu 3 belan berturut-turut, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram serta Rajab yang berada di antara bulan jumada dan sya’ban.” (HR. Bukhari no 2958).
Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, ” Dinamakan bulan haram Karena ada 2 alasan. Pertama, karena diharamkan pembunuhan pada bulan tersebut sebagaiman hal ini juga diyakini orang jahiliyyah. kedua, karena pelanggaran untuk melakukan berbagai perbuatan haram pada bulan tersebut lebih keras dari pada bulan-bulan lainnya. (lihat Zadul Maysir, Ibnu Jauziy).
Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma menjelaskan tentang firman Allah surah at-taubah ayat 36 di atas, “Allah menghusukan 4 bulan yang haram dan menegaskan keharamnnya. Allah juga menjadikan dosa pada bulan tersebut lebih besar. demikian pula pahala amal saleh pada bulan tersebut juga menjadi lebih besar. 
sangat disayangkan sebagian kaum muslimin masih percaya dengan berbagi mitos tentang bulan suro. misalnya, masih banyak yang takut mengadakan acara pernikahan di bulan suro dengan alasan bisa mendatangkan sial, seperti perceraian, dililit utang, atau yang lain.ada yang takut bepergian jauh di bulan suro dengan alasan bisa mendatangkan sial, seperti kecelakan, kematian, atau yang lain. mereka menunda aktivitasnya ke bulan yang lainnya.
Semua ahli
tafsir sepakat bahwa empat bulan yang tersebut dalam ayat di atas adalah
Zulqa’dah, Zul-Hijjah, Muharam dan Rajab.
Ketika haji wada’ Rasulallah bersabda:
Dari Abi Bakrah RA bahwa Nabi SAW
bersabda: “Setahun ada dua belas bulan, empat
darinya adalah bulan suci. Tiga darinya berturut-turut; Zulqa’dah, Zul-Hijjah,
Muharam dan Rajab”
. (HR. Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ahmad).
Dalam hadist di atas Nabi SAW hanya menyebut nama empat bulan, dan
ini bukan berarti selain dari nama bulan yang disebut di atas tidak suci,
karena bulan Ramadhan tidak disebutkan dalam hadist diatas. Dan kita semua tahu
bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan kesucian, ada Lailatul
Qadar, juga dinamakan dengan bulan rahmat, maghfirah dan pembebasan dari api
neraka.
Ibnu Rajab al-Hambali ( 736 – 795
H ) mengatakan, Muharam disebut dengan syahrullah (bulan Allah) karena memiliki
dua hikmah. Pertama, untuk
menunjukkan keutamaan dan kemuliaan bulan MuharamKedua,
untuk menunjukkan otoritas Allah SWT dalam mensucikankan bulan Muharam.
Bulan Muharram mempunyai
karakteristik tersendiri, dan diantara karakteristik bulan Muharram adalah:
Karakteristik
Pertama:
 Semangat
Hijrah
Setiap memasuki tahun baru Islam, kita hendaknya memiliki semangat
baru untuk merancang dan melaksanakan hidup ini secara lebih baik. Kita
seharusnya merenung kembali hikmah yang terkandung di balik peristiwa hijrah
yang dijadikan momentum awal perhitungan Tahun Hijriyah.
Tahun hijriyah mulai diberlakukan pada masa Khalifah Umar bin
Khattab. Sistem penanggalan Islam itu tidak mengambil nama ‘Tahun Muhammad’
atau ‘Tahun Umar’. Artinya, tidak mengandung unsur pemujaan seseorang atau
penonjolan personifikasi, tidak seperti sistem penanggalan Tahun Masehi yang
diambil dari gelar Nabi Isa, Al-Masih (Arab) atau Messiah (Ibrani).
Tidak juga seperti sistem
penanggalan Bangsa Jepang, Tahun Samura, yang mengandung unsur pemujaan
terhadap Amaterasu O Mi Kami (dewa matahari) yang diproklamasikan berlakunya
untuk mengabadikan kaisar pertama yang dianggap keturunan Dewa Matahari, yakni
Jimmu Tenno (naik tahta tanggal 11 pebruari 660 M yang dijadikan awal
perhitungan Tahun Samura) Atau penangalan Tahun Saka bagi suku Jawa yang
berasal dari Raja Aji Saka.
Penetapan nama Tahun Hijriyah (al-Sanah al-Hijriyah) merupakan
kebijaksanaan Khalifah Umar. Seandainya ia berambisi untuk mengabadikan namanya
dengan menamakan penanggalan itu dengan Tahun Umar sangatlah mudah baginya
melakukan itu. Umar tidak mementingkan keharuman namanya ataumembanggakan
dirinya sebagai pencetus ide sistem penanggalaan Islam itu.
Ia malah menjadikan penanggalan itu sebagai zaman baru
pengembangan Islam, karena penanggalan itu mengandung makna spiritual dan nilai
historis yang amat tinggi harganya bagi agama dan umat Islam.
Selain Umar, orang yang berjasa dalam penanggalan Tahun Hijriyah
adalah Ali bin Abi Thalib. Beliaulah yang mencetuskan pemikiran agar
penanggalan Islam dimulai penghitungannya dari peristiwa hijrah, saat umat
Islam meninggalkan Makkah menuju Yatsrib (Madinah).
Dalam sejarah hijrah nabi dari Makkah ke madinah terlihat jalinan
ukhuwah kaum Ansor dan Muhajirin yang melahirkan integrasi umat Islam
yang  angat kokoh. Kaum Muhajirin-Anshar membuktikan, ukhuwah Islamiyah
bisa membawa umat Islam jaya dan disegani.
Bisa dimengerti, jika umat Islam dewasa ini tidak disegani
musuh-musuhnya, menjadi umat yang tertindas, serta menjadi bahan permainan umat
lain, antara lain akibat jalinan ukhuwah Islamiyah yang tidak seerat kaum
Mujahirin-Anshar.
Dari situlah mengapa konsep dan
hikmah hijrah perlu dikaji ulang dan diamalkan oleh umat Islam. Setiap
pergantian waktu, hari demi hari hingga tahun demi tahun, biasanya memunculkan
harapan baru akan keadaan yang lebih baik.
Islam
mengajarkan, hari-hari yang kita lalui hendaknya selalu lebih baik dari
hari-hari sebelumnya. Dengan kata lain, setiap Muslim dituntut untuk menjadi
lebih baik dari hari ke hari.
Hadis Rasulullah yang sangat
populer menyatakan, ‘‘Barangsiapa
yang hari ini lebih baik dari kemarin, adalah orang yang beruntung”. Bila hari
ini sama dengan kemarin, berarti orang merugi, dan jika hari ini lebih jelek
dari kemarin, adalah orang celaka.”
Oleh karena itu, sesuai dengan firman Allah:
”Hendaklah setiap diri
memperhatikan (melakukan introspeksi) tentang apa-apa yang telah diperbuatnya
untuk menghadapi hari esok (alam akhirat) dan bertakwalah, sesungguhnya Allah
maha tahu dengan apa yang kamu perbuatkan”
. (QS. Al-Hasyar: 18).
Karakteristik
Kedua:
 Di
sunnahkan berpuasa
Pada zaman Rasulullah, orang Yahudi juga mengerjakan puasa pada
hari ‘asyuura. Mereka mewarisi hal itu dari Nabi Musa AS.
Dari Ibnu
Abbas RA, ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang
Yahudi berpuasa. Rasulullah SAW bertanya, “Hari apa ini? Mengapa kalian
berpuasa?” Mereka menjawab, “Ini hari yang agung, hari ketika Allah
menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun. Maka Musa berpuasa
sebagai tanda syukur, maka kami pun berpuasa. “Rasulullah SAW bersabda, “Kami
orang Islam lebih berhak dan lebih utama untuk menghormati Nabi Musa daripada
kalian.” (HR. Abu Daud).
Puasa Muharram merupakan puasa
yang paling utama setelah puasa ramadhan.
Rasululllah SAW bersabda:
Dari Abu Hurairah RA, Rasululllah
SAW bersabda: “Sebaik-baik puasa setelah puasa
ramadhan adalah puasa dibulan muharram, dan sebaik-baik shalat setelah shalat
fardhu adalah shalat malam”.
 (HR.
Muslim, Abu Daud, Tarmizi, dan Nasa’ ).
Puasa pada bulan Muharam yang
sangat dianjurkan adalah pada hari yang kesepuluh, yaitu yang lebih dikenal
dengan istilah ‘asyuura.
Aisyah RA pernah ditanya tentang
puasa ‘asyuura, ia menjawab, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah
SAW puasa pada suatu hari yang beliau betul-betul mengharapkan fadilah pada
hari itu atas hari-hari lainnya, kecuali puasa pada hari kesepuluh Muharam.”
 (HR Muslim).
Dalam hadits lain Nabi juga menjelaskan bahwa puasa pada hari
‘asyura (10 Muharram) bisa menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah lewat.ו
Dari Abu Qatadah RA, Rasululllah
SAW ditanya tentang puasa hari ‘asyura, beliau bersabda: ”Saya
berharap ia bisa menghapuskan dosa-dosa satu tahun yang telah lewat”
 (HR. Muslim).
Disamping itu disunnahkan untuk
berpuasa sehari sebelum ‘Asyura yaitu puasa Tasu’a pada tanggal 9 Muharram,
sebagaimana sabda Nabi SAW yang termasuk dalam golongan sunnah hammiyah (sunnah
yang berupa keinginan/cita2 Nabi tetapi beliau sendiri belum sempat
melakukannya):
Ibnu Abbas RA menyebutkan,
Rasulullah SAW melakukan puasa ‘asyuura dan beliau memerintahkan para sahabat
untuk berpuasa. Para sahabat berkata, “Ini adalah hari yang dimuliakan orang
Yahudi dan Nasrani. Maka Rasulullah saw. bersabda, “Tahun
depan insya Allah kita juga akan berpuasa pada tanggal sembilan Muharam.”
 Namun, pada tahun berikutnya
Rasulullah telah wafat. (HR Muslim, Abu Daud).
Berdasar pada hadis ini, disunahkan bagi umat Islam untuk juga
berpuasa pada tanggal sembilan Muharam. Sebagian ulama mengatakan, sebaiknya
puasa selama tiga hari: 9, 10, 11 Muharam.
Ibnu Abbas r.a. berkata,
Rasulullah saw. bersabda, “Puasalah pada hari ‘asyuura dan
berbedalah dengan
 orang Yahudi. Puasalah
sehari sebelum dan sehari sesudahnya.”
 (HR Ahmad).
Ibnu Sirrin berkata: melaksanakan hal ini dengan alasan
kehati-hatian. Karena, boleh jadi manusia salah dalam menetapkan masuknya satu
Muharam.
Boleh jadi yang kita kira tanggal
sembilan, namun sebenarnya sudah tanggal sepuluh. (Majmuu’ Syarhul Muhadzdzab
VI/406) . 

sekian artikel tentang kemulian bulan muharram, terimah kasih telah berkunjunga.
SHARE