Ceeemburu….? Kok Bisa Ghitu ? Manajemen Cemburu Dalam Persahabatan

64

Manajemen Cemburu
Dalam Persahabatan
Cemburu merupakan
sebuah sikap wajar yang bisa hinggap pada setiap diri manusia. Dia tidak hanya
terjadi pada dua orang yang saling mencintai dalam ikatan pernikahan, antara
suami dan istri misalnya, tapi bisa juga terjadi pada beberapa orang yang masih
ada ikatan darah (adik terhadap kakak, anak terhadap orang tua, dan sejenisnya)
atau antar orang yang menjalin persahabatan. Cemburu bisa berakibat baik atau
berakibat buruk bergantung pada kita “mengelola” cemburu tersebut.
Istilah “cemburu”
bukanlah hal yang asing terdengar di telinga kita. Kata ini seringkali
diidentikkan perasaan tidak nyaman ketika orang yang kita cintai, kita sayangi,
menjadi tumpuan harapan perhatian, ternyata memberikan cinta, kasih sayang dan
perhatian yang lebih banyak atau lebih besar pada orang lain yang tidak kita
harapkan.
Bagi sepasang suami
istri yang mempunyai hubungan serius dalam ikatan pernikahan, cemburu bisa
datang pada saat salah satu pasangan ketika pasangan lainnya memberikan cinta,
kasih sayang dan perhatian yang dianggap berlebih pada orang lain. Seorang
suami menganggap perlakuan cinta, kasih sayang dan perhatian istrinya berlebih
seperti itu hanya pantas diberikan pada dirinya seorang. Begitu pula sebaliknya
berlaku bagi seorang istri.

Sementara itu bagi
beberapa orang yang masih mempunyai ikatan darah, cemburu hinggap ketika cinta,
kasih sayang dan perhatian yang diberikan kepada anggota keluarga yang satu
dianggap tidak sama dengan anggota keluarga yang lain. Seorang anak sulung
misalnya bisa cemburu atas perlakuan ayah-bunda yang dianggap lebih banyak
memberi perhatian pada adik kecilnya. Seorang adik bisa cemburu hanya karena
kedua orangtuanya memberikan hadiah pada kakak sulungnya yang juara kelas
sementara dia belum merasakannya karena memang belum menyamai prestasi sang
kakak.
Bagaimana cemburu
dalam persahabatan? Setali tiga uang, alias tidak jauh dengan dua kasus tadi.
Selama ini kita dibuat nyaman dengan sahabat yang selalu berbagi cinta, kasih
sayang dan perhatian dengan kita. Tapi cinta, kasih sayang dam perhatiannya
tersebut bisa jadi berkurang ketika sahabat kita sibuk dengan berbagai
aktivitas. Yang jadi masalah ketika aktivitas tersebut tidak melibatkan diri
kita dengan berbagai sebab, menjadi tidak nyamanlah perasaan kita kemudian.
Sejak kehadiran “orang baru” dalam berbagai aktivitasnya tersebut, dalam benak
kalbu seolah kita merasa cinta, kasih sayang dan perhatian sahabat kita semakin
berkurang.
Terjadilah kemudian
kecemburuan perasaan berkecamuk dalam hati kita: mengapa sih mesti melibatkan
dia dan tidak aku yang dianggap sahabatnya? Bagaimana mungkin dia bisa
menghabiskan waktu lebih banyak dengan dia “orang baru” daripada dengan “aku”
sahabatnya? Ini tidak fair, sepertinya sahabatku sudah mulai bosan dan
melupakan aku! Dan berbagai syak wasangka lainnya bisa jadi terus menumpuk
dalam hati kita.
Jika berada pada
posisi orang yang “dicemburui” mungkin kita akan merasakan ada perubahan sikap
sahabat kita sejak kita mulai sibuk dengan berbagai aktivitas yang menuntut
kita menghabiskan waktu dengan orang lain selain sahabat kita. Tak mau menyapa
kalo tak duluan disapa, cemberut kalau bertemu, acuh tak acuh, bahakan mudah
sewot dengan segala apa yang kita lakukan adalah beberapa sikap atau tingkah
sahabat kita ketika dia merasa perhatian yang diberikan kepadanya berkurang
sejak kita harus lebih banyak berinteraksi dengan orang lain.

Akhirnya? Heran,
bingung, juga berbagai pertanyaan muncul dalam pikiran kita : Kenapa sih mesti
cemburu? Apa salah aku bergaul dengan orang lain selain dia? Kalaupun aku
bersahabat lagi dengan orang lain, apakah diharamkan mencari banyak sahabat?
Dan serentet pertanyaan sejenis lainnya.
Cemburu Payah vs
Cemburu Indah

Cemburu itu
bermuara pada “perasaan” manusia. Adalah kekuasaan Sang Maha Kuasa manusia
mempunyai nikmat berbentuk “perasaan”. Hanya Dia-lah yang sanggup
membolak-balikkan hati manusia. Oleh karena itu merupakan hal yang wajar jika
setiap dari kita pernah mengalami perasaan itu.
Berdampak baik atau
burukkah perasaan itu ? Bergantung pada kita bagaimana mengelolanya! Meski
cemburu lebih sering dianggap merupakan perasaan yang kurang menyenangkan,
sesungguhnya cemburu bisa dianggap menjadi potensi kebaikan. Seperti sebuah
samurai, ketajaman benda itu berpotensi melukai fisik manusia. Namun demikian
samurai itu bisa didayagunakan untuk keperluan yang berguna seperti mencacah
daging rusa atau bahkan memotong mangga.
Dengan demikian
kalau disederhanakan, cemburu dalam persahabatan itu sendiri bisa dibedakan
menjadi dua jenis, cemburu jenis pertama adalah cemburu yang berakibat seperti
samurai yang mencelakakan, itulah cemburu payah. Dan cemburu yang kedua adalah
cemburu yang bisa digunakan untuk kebaikan, itulah cemburu yang indah.
Selain dari segi
akibat, cemburu kepada sahabat bisa dianggap payah atau dianggap indah juga
bergantung pada sebab-sebab yang dijadikan alasan kecemburuan. Jika sahabat
kita punya keinginan menjalin persahabatan baru dengan orang lain karena ingin
punya lebih banyak sahabat dan karena ingin menjalin persaudaraan dengan
orang-orang lain, lalu kita melarangnya karena kita merasa dia “hanya milik
kita”, maka cemburu seperti itu adalah cemburu payah. Dianggap payah karena
cemburu seperti itu mengarah pada pengekangan terhadap hak pribadi sahabat
kita. Di dunia manapun rasanya penilaian kesejatian sebuah persahabatan bukan
diukur dari seberapa besar kita mengendalikan atau mengekang sahabat kita.
Sebaliknya cemburu
yang indah adalah cemburu yang berasal dari perasaan wajar dalam diri kita yang
tidak berlebihan. Jika sahabat kita merasa cemburu karena kita mulai sibuk
mengurus organisasi atau kegiatan bersama seseorang lainnya misalnya, lalu
secara tidak sengaja “terlupa” dengan dia, berbahagialah kita. Mengapa? Karena
berarti sahabat kita benar-benar menganggap diri kita ini berarti bagi dirinya.
Sahabat kita menganggap kita menjadi bagian penting dari hidupnya. Dan menjadi
suatu hal yang wajar pula ketika kita lama tak berinteraksi dengannya, kita
akan merasa kehilangan sesuatu. Sesuatu itu tidak lain dari sahabat kita. Kalau
sudah ada perasaan seperti itu, yakinlah, disadari atau tidak, kita juga sudah
merasakan bahwa menjalin persahabatan dengannya merupakan hal yang berarti bagi
hidup kita.
Kutunggu Cemburumu

Bolak-balik,
ingat-ingat, pikir-pikir. “Kok, aku tak pernah dicemburui. Jangan-jangan……”,
komentar seseorang yang heran keadaannya tak seperti kerabat lainnya. Cemburu
bisa saja dianggap sebagai bukti sayang orang lain kepada kita. Cemburu bukan
hanya dihindarkan, tapi justru dapat ditunggu-tunggu. Tak urung pasangan kita
berubah tingkahnya karena ingin mencari perhatian dari orang yang disayangi,
dengan alasan “untuk nge-tes”.
Berarti, cemburu
bisa menyenangkan kalau memang menjadi bukti kasih sayang. Kita menunggunya,
mengharapnya, sebagai bagian dari persahabatan. Tentu yang kita tunggu adalah
cemburu indah bukan cemburu payah.
Pasangan hidup
ataupun sahabat yang jarang cemburu, bukan berarti tidak sayang satu sama lain,
tetapi barangkali mereka telah mengerti arti saling melengkapi dan rasa sabar.
Rasa saling melengkapi ini lahir dari pemahaman bahwa sahabat kita bukanlah
saingan, apalagi sebagai orang kekangan, tetapi merupakan orang yang harus kita
jaga dan perhatikan, sehingga sikap saling melengkapi dapat timbul secara
alami.
Buruk Sangka
Membawa Celaka

Jika perasaan
cemburu hingga dalam kalbu kita, hindari sekuat tenaga salah sangka. Jangan
buru-buru membuat kesimpulan sendiri ketika perasaan itu datang. Sebaliknya,
cerna secara baik dalam pikiran. Jernihkan secara sadar apa sesungguhnya yang
terjadi terkait dengan perasaan cemburu tersebut.
Berkurangnya
interaksi atau perhatian sahabat kita pada diri kita tidak otomatis
berkurangnya berkurangnya cinta dan kasih sayang dia sebagai seorang sahabat
pada kita. Prioritas kegiatan dan kesibukan seringkali membuat dia secara tidak
sengaja tak teringat untuk berinteraksi dengan kita. Dalam posisi kita diserang
cemburu terhadap sahabat kita seperti ini, sebaiknya periksa dengan benar
mengapa sahabat kita mengurangi waktunya untuk kita. Cobalah ungkapkan perasaan
kita, bahwa dia, sahabat kita benar-benar berarti buat kita.
Jika berada dalam
posisi orang yang dicemburui, berusahalah untuk memahami dan mengerti
(berempati) perasaan sahabat kita. Komunikasikan apa yang sebenarnya terjadi
yang membuat kita “terpaksa” mengurangi waktu interaksi dengan sahabat
tersebut. Komunikasi ini penting agar tidak muncul prasangka buruk lebih jauh
darinya.
Membina Kesabaran

Jika timbul rasa
cemburu, maka kesabaran adalah sikap lain yang harus kita bina. Sabar merupakan
sikap menempatkan diri atau pendapat kita pada keadaan yang tepat, jadi
bukanlah sikap pasrah. Salah satu jenis sabar adalah kesabaran ketika tidak
mendapat perhatian dan kesabaran untuk memberikan perhatian.
Periksa lagi apakah
selama ini ketika kita meminta perhatian dan kasih sayang sahabat, kita sudah
memberi perhatian dan kasih sayang kepadanya. Sahabat kita juga membutuhkan
tempat untuk mencurahkan isi hati atau permasalahannya kepada orang yang dipercayainya.
Kalau kita sedikit mau perhatikan, barangkali berkurangnya waktu dia untuk kita
hanya meminta dan tidak memberi. Kita hanya jadi “pembicara” dan jarang sekali
mau jadi “pendengar”
Nah, jadi tak usah
merasa tak normal ketika kita merasa cemburu. Pun tak usah khawatir menghadapi
sahabat yang cemburu, justru kadang seharusnya bangga kalau masih dalam batas
yang bisa dicerna, berarti perhatian dan kasih sayang sudah tumbuh dalam tali
persahabatan.  

__________________
Adalah Indah Jika
Ukhuwah Terjalin Karena Terpautnya Hati Oleh Aqidah 
    
SHARE