Ciri dan Sifat Mukmin Berikut! Mendapatkan Pahala tak Terhingga dari Allah SWT

144
Ciri Orang Beriman yang Mendapatkan Pahala tak Terhingga dari Allah SWT
Muhammad Maghfur Amin

Manusia di dunia mempunyai fitrah ingin mencari Tuhan, ingin mencari Dzat Yang Menjaganya, Yang Menguasai, yang menjadi tempat mengadukan segala permohonan. Kemudian ketika tidak menemukanNya mereka akan menyembah hal-hal yang mereka anggap mempunyai kekuatan yang dapat menolong mereka sehingga banyak berhala-berhala dan benda-benda lain mereka sembah. Itu semua untuk memuaskan batin dan menenangkan jiwa mereka. Bahkan seorang atheis pun pada dasarnya yang mereka yakini bahwa Tuhan itu tidak ada adalah sebuah ketidakpuasan karena tidak menemukan sesuatu yang mereka anggap dapat menjadi pemuas batin untuk disembah. Allah berfirman :

ليس البر أن تولوا وجوهكم قبل المشرق والمغرب ولكن البر من آمن بالله واليوم الآخر والملائكة والكتاب والنبيين

Artinya: “Tidaklah ketentraman jika kalian (hanya ikut-ikutan) menoleh ke timur dan barat tapi sebuah ketentraman adalah ketika kau beriman akan Allah, hari akhir, malikat-malaikat, kitab dan para Nabi…” (QS Al-Baqarah: 177)

Sebuah keimanan adalah harga mahal yang tidak akan terbayar karena adalah sebuah anugerah yang bersifat ilahi, yang tidak dapat diusahakan oleh manusia. Sebuah keimanan adalah petunjuk langsung dari Allah. Iman hadir dalam hati manusia yang mana hati ini dikuasai oleh Allah. Terserah kepada Allah siapa yang hendak Ia beri petunjukkan dan siapa yang akan tersesat. Usaha manusia hanyalah mengingatkan dan memberi nasehat.

Menjadi seorang mukmin adalah nikmat terbesar dari Allah. Hati akan menjadi tenang jika telah menemukan satu Tuhan Yang Maha Esa dan mengetahui sesungguhnya kebenaran sesuatu yang kita yakini.

Pada tulisan ini, kami ingin mengungkap nikmatnya menjadi seorang mukmin yang semestinya telah kita rasakan dalam kehidupan kita yang diakui atau tidak adalah mukmin yang beriman kepada Allah SWT. Sehari-hari yang kita rasakan sebagai seorang mukmin apakah itu nikmat atau yang lain yang berimplikasi dari keimanan kita kadang sulit kita sadari bahwa nikmat ini merupakan pemberian untuk orang-orang yang terpilih, dan beruntunglah kita menjadi salah satu dari mereka.

Disadari ataupun tidak kita merasakan nikmatnya menjadi seorang mukmin. Ketika dalam melaksanakan ibadah baik yang berhubungan dengan Tuhan ataupun yang berhubungan dengan manusia kita membawa pengaruh keimanan kita untuk melaksanakan ibadah tersebut. Semua dilandasi rasa percaya kita akan Allah dan itu adalah salah satu dari nikmat Iman.

Ciri-ciri orang yang Beriman

Pengertian Iman

Mendefinisikan iman dari segi bahasa, menurut banyak kamus bahasa Arab iman berarti kepercayaan. Sedangkan secara istilah, Iman ialah kepercayaan yang teguh yang disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa. Tanda-tanda adanya iman ialah mengerjakan apa yang dikehendaki oleh iman itu.

Sesunguhnya antara Iman dan Islam maknanya saling berhubungan[1] diibaratkan koin mempunyai dua sisi berbeda namun tetap satu. Dikatakan demikian karena orang ber-Islam juga karena adanya iman, dan orang yang beriman haruslah melaksanakan rukun Islam sebagai bukti keimanannya. Sehingga antara iman dan Islam harus seimbang.

Banyak hadits-hadits yang menjelaskan pendefinisaian Nabi tentang iman ketika ditanya oleh Jibril. Namun yang muncul dari jawaban Nabi terjadi perbedaan, suatu ketika ditanya, Nabi menjawab seperti ini dan saat lain Nabi menjawab yang lain sehingga tidak ada pendefinisain yang spesifik namun hanyalah standarisasi rukun iman.

Hanya saja dari banyak hadits tersebut dapat disimpulkan bahwa iman yang sesungguhnya adalah sebuah kepercayaan akan adanya Allah dengan segala sifat-sifat-Nya karena mengimani akan Allah dengan adaNya dengan sifat-sifatNya cukup rasanya mewakili keimanan kita terhadap yang lain seperti yang disebutkan Nabi seperti; iman terhadap Nabi-nabi, malaikat, kitab-kitab, hari akhir, qadha’ dan qadar, mengimani hari ba’ts, liqo’allah, dan lainnya yang mana semua itu merupakan cabang dari iman. Sehingga jika standarisasi dilakukan dari banyak cabang iman tersebut adalah seperti yang telah kita hafal

امن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الاخروالقضاءبالقدرخيره وشره

Iman adalah mengimani Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, utusan-utusanNya, hari akhir, dan mengimani qadha’ dan qadar baik buruknya.


Anugerah Tak Terhingga Bagi yang Beriman

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءكُمُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ فَمَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَمَا أَنَاْ عَلَيْكُم بِوَكِيلٍ

Artinya: “Katakanlah hai Muhammad : wahai manusia, telah datang al-haqq dari Tuhanmu barangsiapa yang mengikutinya sebagai petunjuk maka dia menunjukkan jalannya sendiri dan barangsiapa tersesat maka aku tidaklah yang bertanggungjawab” (QS Yunus: 108)

Ayat ini menunjukkan bahwa keimanan adalah suatu anugerah yang di berikan Allah yang tidak dapat dipaksakan oleh manusia, bahkan Nabi pun tidak hendak menjadi penanggungjawab atas keimanan karena yang menguasai hati adalah Allah.

وَلَوْ شَاء اللّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلكِن يُضِلُّ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي مَن يَشَاءُ

Artinya: “jika Allah ingin pastilah kalian sudah dijadikan satu umat tapi Allah menyesatkan orang yang diinginkanNya dan memberi petuntuk orang yang Ia inginkan…” (QS. An-Nahl : 93)

Satu ayat yang menunjukkan bahwa keimanan seseorang adalah memang sebuah anugerah Allah yang tidak semua manusia diberi anugerah ini. Tidak dapat kita bayangkan menjadi orang kafir yang diancam dengan neraka. Mengingat itu kita harus menjaga iman kita.

Keinginan hati mencari Yang Menguasai, Yang Mengatur alam ini adalah sebuah fitrah. Ketika menemukan sesuatu yang diyakininya sebagai Penguasa maka dia akan menjadi tenang dan tentram. Keyakinan manusia adalah hal yang tak dapat dipaksakan, dan ketika kita sebagai mukmin merasakan bagaimana nikmatnya meyakini Allah kita akan merasakan betapa beruntungnya kita.

Selama manusia belum menemukan sesuatu yang diyakininya sebagai Sang Penguasa maka dia tidak akan pernah merasakan ketenangan layaknya Nabi Ibrahim dalam kisahnya mencari Tuhan.

وكذالك نرى ابراهيم ملكوت السموات والارض وليكون من الموقنينن0 فلما جن عليه الليل رأى كوكبا قال هذا ربى فلما افل قال لا احب الافلين0 فلما رأي القمر بازغا قال هذا ربى فلما افل قال لئن لم يهدنى ربى لأكونن من القوم الضالين0 فلما رأى الشمس بازغة قال هذا ربى هذا اكبر فلما افلت قال يا قوم انى بريء مما تشركون0 إنى وجهت وجهى للذى فطر السموات والارض حنيفا وما انا من المشركين

Artinya: Dan Demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (kami memperlihatkannya) agar Dia Termasuk orang yang yakin. Ketika malam telah gelap, Dia melihat sebuah bintang (lalu) Dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam Dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”. kemudian tatkala Dia melihat bulan terbit Dia berkata: “Inilah Tuhanku”. tetapi setelah bulan itu terbenam, Dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaKu, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, Dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, Dia berkata: “Hai kaumku, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah Termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan. (QS Al-An’am : 75-79)

Kisah Nabi Ibrahim di atas menunjukkan bahwasannya ketenangan jiwa akan didapat jika seorang manusia telah menmukan Tuhannya dan menyadari bahwa Dialah yang layak disembah dari selainNya. Maka sungguh nikmat menjadi orang yang dapat beriman.

Jika kita melihat kehidupan seorang mukmin yang sering kita jumpai adalah kenampakan aktivitas kerohanian yang biasanya dilakukan dengan rutin dan istiqomah. Menjadi mukmin takkan lepas dari ibadah-ibadah sebagai kebaktian kita terhadap yang kita imani seperti shalat, zakat, puasa, haji.

اللذين امنوا ولم يلبسوا ايمانهم بظلم اولئك لهم الامن وهم مهتدون

Artinya: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang, mendapat petunjuk.” (QS Al-An’am: 82)[2]

Ayat ini memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman yang mengesakan Allah. Orang-orang yang tidak mencampur-adukkan antara keimanan dengan syirik serta menjauhi segala perbuatan syirik. Sungguh mereka akan mendapatkan keamanan yang sempurna dari siksa Allah di akhirat. Mereka itulah yang mendapatkan petunjuk di dunia. Bayangkan jika kita harus hidup dan menjadi kafir_na’udzubillah min dzalik_mendapat ancaman Allah dan hidup yang kurang dengan nilai-nilai rohaniyah. Sungguh indah iman kita dan sungguh nikmat Islam kita dengan ajaran-ajarannya.

قلنااهبطوا منها جميعا فاما يأتينكم مني هدى فمن تبع هداى فلا خوف عليهم ولاهم يحزنون

Artinya: “ Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, Maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS Al-Baqarah : 38)

Janji-janiji Allah kepada orang-orang yang beriman telah banyak disebut dalam firmanNya dan yang menjadi inti adalah bahwa orang-orang yeng beriman akan di berikan ganjaran berupa surga yang menjadi dambaan manusia.

Anjuran Menjadi Mukmin yang Berkualitas

عن أنس، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال:  ثلاث من كن فيه وجد حلاوة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود في الكفر كما يكره أن يقذف في النار

Seorang mukmin akan merasakan manisnya iman jika menetapi tiga hal : jika mencintai Allah dan RosulNya lebih dari cinta kepada sesuatu selain keduanya, mencintai seseorang karena Allah, benci ketika harus kembali kedalam kekufuran seperti benci jika dimasukkan kedalam neraka (baca: Iman dan Kufur). Konsep ini merupakan puncak keimanan dimana seorang mukmin akan menemukan manisnya beriman.

Seseorang akan merasakan manisnya iman bermula manakala di dalam hatinya terdapat rasa cinta yang mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya, manisnya akan semakin dirasakan bila seseorang berusaha untuk senantiasa menyempurnakan cintanya kepada Allah, memperbanyak cabang-cabangnya (amalan yang dicintai Allah swt.) dan menangkis hal-hal yang bertentangan dengan kecintaan Allah swt.


Apa buktinya bila seseorang telah merasakan manisnya Iman?

Buktinya, ia akan selalu mengutamakan kecintaanya kepada Allah daripada mementingkan kesenangan dan kemegahan dunia, seperti bersenang-senang dengan keluarga, lebih senang tinggal di rumah ketimbang merespon seruan dakwah dan asyik dengan bisnisnya tanpa ada kontribusi sedikitpun terhadap kegiatan jihad di jalan Allah swt. Sebagaimana firman Allah dalam surat At-Taubah : 24

“Katakanlah: “Jika bapa-bapak, anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan-Nya. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”

Memprioritaskan kecintaan kepada Allah akan melahirkan perasaan ridha. Bila seseorang senantiasa mengutamakan kecintaan kepada Allah, Rasul dan jihad di jalan-Nya, daripada kepentingan dirinya sendiri, maka akan lahirlah sikap ridha terhadap Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai din-nya dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasulnya. Keridhaannya itu dibuktikan dengan selalu menghadiri halaqahnya, terlibat dengan kegiatan dakwah di lingkungannya dan menginfakkan sebagian harta dan waktunya untuk kemaslahatan tegaknya agama Allah swt.


Apa yang dirasakan oleh seseorang bila ia telah ridha terhadap Allah, agama dan Rasulnya?

Pertama, Ia akan merasakan “Istildzadz at-Thaa’ah”, lezatnya ketaatan kepada Allah swt., baik dalam shalatnya, tilawah Qur’annya, pakaian dan pergaulan islaminya, perkumpulannya dengan orang-orang shaleh dan keterlibatannya dalam barisan dakwah

Kedua, Ia juga akan merasakan “Istildzadz al-masyaqat”, lezatnya menghadapi berbagai kesulitan dan kesusahan dalam berdakwah. Kelelahan, keletihan, dan hal-hal yang menyakiti perasaannya akibat celaan orang karena menjalankan syariat Islam, atau bahkan mencederai fisiknya, semua itu semakin membuatnya nikmat dalam berdakwah. Semua inilah yang akan senantiasa melahirkan manisnya Iman.

Abu Ayub Ayub Al-Anshary, ketika mendengar seruan jihad, Dalam surat At-Taubah : 41

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.”

Abu Ayub berseru kepada anak-anaknya, “Jahhizuuny! Jahhizuuny!” siapkan peralatan perangku!. Anak-anaknya membujuk agar bapaknya tidak perlu berangkat untuk berjihad, karena usianya sudah udzur, cukup di wakilkan saja oleh anak-anaknya. Abu Ayyub menolak bujukan anak-anaknya seraya berkata : “ketahuilah wahai anak-anakku, yang dimaksud ayat tersebut adalah خِفَافًالَكُمْ وَثِقَالاً لٍي , ringan bagi kalian berat bagiku, beliaupun tetap berangkat dan menemukan syahidnya dalam perjalanan jihad tersebut. (lihat Tafsir Ibnu Katsir)

Sedangkan Lezatnya kesulitan (Istildzadz al-masyaqqah) dalam dakwah dirasakan oleh Rasulullah saw., ketika beliau menghadapi ketidaksukaan orang-orang kafir terhadap ajaran Islam, sebagaimana yang ditunjukan oleh masyarakat Thaif ketika Rasulullah saw. hijrah ke sana, yaitu pada saat Nabi menyampaikan dakwahnya, mengajak mereka untuk menerima ajaran Islam, tetapi tidak ada sedikitpun sambutan baik dari para tokoh mereka, bahkan dengan nada yang sangat melecehkan dan menyakitkan, mereka menanggapi dakwah Nabi seraya berkata,

“Coba kau robek kiswah ka’bah jika engkau memang benar-benar utusan Allah.” Yang lainnya pun turut berkomentar,“Apa tidak ada lagi orang yang lebih pantas diutus oleh Allah selain engkau?”

Dengan penuh kesabaran dan ketabahan Rasulullah saw. menerima kenyataan pahit tersebut, beliau tetap berlapang dada dan tidak mempermasalahkan tentang penolakan dan penentangan mereka. Oleh karena itu ketika malaikat penjaga gunung Alaihissalaam menawarkan kepada Nabi, bila beliau setuju ia akan mengangkat dua buah bukit yang ada di Thaif lalu ditimpakan kepada mereka, dengan penuh kelembutan dan kasih sayang Rasulullah saw. menanggapinya seraya berkata,

بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Tetapi aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari tulang rusuk mereka kelak orang-orang (generasi) yang beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun.”

Syaikh Abu Muhammad bin Abi Jamroh mengibaratkan manisnya iman dengan sebuah pohon, sebagaimana firman Allah :
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

Artinya: “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.” (QS Ibrahim : 24)

Yang dimaksud kalimat dalam ayat tersebut adalah kalimatul ikhlas لا اله الا الله, batang pohonnya adalah pangkal iman, cabang dan rantingnya adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, dedaunannya adalah kepedulian terhadap kebajikan, buahnya adalah amal ketaatan, rasa manisnya adalah ketika memetiknya, dan puncak manisnya adalah ketika matangnya sempurna saat dipetik, disitulah sangat terasa manisnya.

عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ: مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Artinya: Dari Anas ra, dari Nabi saw. bersabda, “Tiga perkara jika kalian memilikinya, maka akan didapati manisnya iman. (Pertama) orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya. (Kedua) agar mencintai seseorang semata-mata karena Allah swt. (Ketiga), tidak senang kembali kapada kekufuran setelah diselamatkan oleh Allah swt, sebagaimana ketidak-senangannya dilempar ke dalam api neraka.” (HR Bukhar Muslim dengan redaksi Muslim)

عَنْ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:ذَاقَ طَعْمَ الإِيْمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً

Artinya: Dari Al-Abbas bin Abdil Muttalib, bahwasanya ia mendengar Rasulallah saw. bersabda, “Telah merasakan lezatnya iman seseorang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai dinnya dan Muhammad sebagai Rasulnya.” (HR. Muslim)

Hadits ini sangat agung maknanya, termasuk dasar-dasar Islam, berkata para ulama, “Arti dari manisnya iman adalah merasakan lezatnya ketaatan dan memiliki daya tahan menghadapi rintangan dalam menggapai ridha Allah dan Rasul-Nya, lebih mengutamakan ridha-Nya dari pada kesenangan dunia, dan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangan-Nya.

Dalam hadits tersebut Rasulullah saw. menjelaskan bahwa tiga perkara bila kalian berada di dalamnya maka akan didapati manisnya iman, karena sarat mendapatkan manisnya sesuatu adalah dengan mencintainya, maka barang siapa yang mencintai sesuatu dan bergelora cintanya, maka ketika berhasil mendapatkannya, ia akan merasakan manis, lezat dan kegembiraannya. Karena itu seorang mukmin yang telah mendapatkan manisnya iman yang mangandung unsur kelezatan dan kesenangan akan diiringi dengan kesempurnaan cinta seorang hamba kepada Allah swt. Dan kesempurnan itu dapat diwujudkan dengan tiga hal.

Pertama : menyempurnakan cinta kepada Allah yaitu dengan menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari yang lainnya, karena cinta kepada Allah tidak cukup hanya sekedarnya, tetapi harus melebihi dari yang lain-Nya

Kedua : menjadikan cinta kepada Allah menjadi pangkal dari cabang cinta kepada yang lain, yaitu mencintai orang lain semata-mata karena dan untuk Allah swt., sehingga dalam mencintai ia tetap mengikuti prosedur dan mekanisme cinta yang telah ditetapkan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan Sunnah, misalnya tidak berkhalwat, menyegerakan akad nikah dan menghindari perbuatan yang mendekati pada perzinahan. (tidak pacaran) (QS. 24 : 30-31, 33 : 59)

Menolak segala hal yang bertentangan dengan cinta-Nya, yaitu tidak menyukai hal-hal yang bertentangan dengan keimanan melebihi ketidaksukaannya bila dirinya dilemparkan ke dalam api neraka.

عَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ قاَلَ : ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ اْلِايْمَانِ :اَلاْنِفْاَقُ مِنَ اُلاِقْتَارِ ، وَإِنْصَافُ النَّاسِ مِنْ نَفْسِكَ ، وَبذْلُ السَّلاَمِ لِلْعَالَمِ

Artinya: Amar bin Yasir berkata, “Ada tiga hal yang barangsiapa berada di dalamnya ia merasakan manisnya keimanan, berinfak dari kekikiran, bersikap adil terhadap manusia dari dirinya, dan mengupayakan keselamatan (salam) bagi alam.” (HR. Abdurazzaq, Bukhari mencantumkannya di kitab Al-Iman).

Hadits yang dibawakan oleh Amar bin Yasir ra. tersebut di atas, juga menjelaskan tentang tiga hal yang dapat mendatangkan manisnya iman

Pertama : berinfak secukupnya, tidak berlebihan sehingga menzalimi hak-hak yang lainnya, tapi juga tidak kikir dengan hartanya

Kedua : bersikap objektif, tidak menghalanginya untuk berbuat baik dan adil kepada manusia, walaupun ada kaitannya dengan kepentingan diri sendiri, misalnya walaupun disakiti dan dizalimi oleh seseorang, tetapi tidaka menghalanginya untuk memaafkannya dan tetap berbuat baik kepadanya

Ketiga : Menebarkan kesejahteraan kepada seluruh alam semesta, memperjuangkan sesuatu demi kebaikan manusia dan seluruh makhluk lainnya, seperti dengan melakukan kegiatan amal siasi maupun amal khidam ijtima’i (kegiatan sosial)

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ : ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ يَجِدْ بِهِنَّ حَلاَوَةَ اْلاِيْمَانِ : تَرْكُ اْلمِرَاءِ فيِ الْحَقِّ ، وَاْلكِذْبُ فِي اْلمُزَاحَةِ ، وَيَعْلَمُ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ ، وَأَنَّ مَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَهُ. 

Artinya: Ibnu Mas’ud juga berkata, “Ada tiga hal yang barangsiapa berada di dalamnya akan merasakan manisnya iman, menghindari perdebatan dalam hal kebenaran, tidak berdusta dalam bercanda, dan menyadari bahwa apa yang akan menimpanya bukan karena kesalahannya dan apa kesalahannya tidak menyebabkan ia tertimpa (musibah).” (HR. Abdurrazzaq).

عن أنس مرفوعا: “لاَ يَجِدُ عَبْدٌ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ حَتىَّ يَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ ، وَأَنَّ مَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَهُ … ” الحديث 

Artinya: Dari Anas secara marfu’ mengatakan, “Tidaklah seorang hamba merasakan manisnya keimanan sehingga dia menyadari bahwa apa yang akan menimpanya bukan karena kesalahannya dan apa kesalahannya tidak menyebabkan ia tertimpa (musibah).” Hadits tersebut dikeluarkan Ibnu Abi Ashim, hadits sahih dengan sanad yang baik, termaktub dalam silisilah hadits sahih karya Imam Albani.

قُلْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ) * وَالْغَضُّ عَنِ الْمَحَارِمِ يُوْجِبُ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ، وَمَنْ تَرَكَ شَيْئًا لِلّهِ عَوَّضَهُ اللهُ خَيْرًا مِنْهُ، وَمَنْ أَطْلَقَ لَحَظَاتِهِ دَامَتْ حَسَرَاتُهُ

“Katakanlah kepada mukmin laki-laki agar menahan pandangan mereka…” (An-Nur: 30). Yaitu menahan dari apa yang diharamkan Allah swt. pasti akan mendatangkan manisnya iman, dan barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik darinya, dan barangsiapa yang membebaskannya walau hanya sekejap maka akan abadi penyesalannya” (Fai Al-Qodiir: 677)

عَنْ مُعَاذِ بن جَبَلٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:”لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا مِنْ حَقِّهِ عَلَيْهَا، وَلاَ تَجِدُ امْرَأَةٌ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا، وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا عَلَى قَتَبٍ

Dari Muadz bin Jabal berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Seandainya aku memerintahkan seseorang bersujud kepada yang lainnya, maka akan aku perintahkan isteri sujud kepada suaminya, karena hak-hak suami atasnya, dan tidaklah seorang wanita mendapatkan manisnya iman sehingga Ia menunaikan hak suaminya, walaupun suaminya memintanya, sedang Ia sedang berada di atas sekedupnya. (Mu’jam Al-Kabir At-Tabrani)

قاَلَ اِبْنُ رَجَبْ فِي (فَتْحِ الْبَارِي: 1/27): فَإِذَا وَجَدَ اْلقَلْبُ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَانِ أَحَسَّ بِمَرَارَةِ اْلكُفْرِ وَاْلفُسُوْقِ وَاْلعِصْيَانِ وَلِهَذَا قَالَ يُوْسُفُ عَلَيْهِ السَّلاَم ُ: {رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ} 

Ibnu Rajab berkata dalam kitab Fathul Bari 1/27 : “Maka apabila sebilah hati telah mendapatkan manisnya iman, maka ia akan sensitif merasakan pahitnya kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan, karena itulah Nabi Yusuf AS berkata : “Ya Rabb! Penjari lebih aku sukai daripada apa yang mereka serukan kepadaku” (QS. Yusuf : 33)

Baca Juga: Iman dan Maksiat dalam Kajian Hadis Nabi SAW

Kesimpulan

1. Iman ialah kepercayaan yang teguh yang disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa. Tanda-tanda adanya iman ialah mengerjakan apa yang dikehendaki oleh iman itu. Sesunguhnya antara Iman dan Islam maknanya saling berhubungan diibaratkan koin mempunyai dua sisi berbeda namun tetap satu. Dikatakan demikian karena orang ber-Islam juga karena adanya iman, dan orang yang beriman haruslah melaksanakan rukun Islam sebagai bukti keimanannya. Sehingga antara iman dan Islam harus seimbang.

2. Keimanan adalah suatu anugerah yang di berikan Allah yang tidak dapat dipaksakan oleh manusia, bahkan Nabi pun tidak hendak menjadi penanggungjawab atas keimanan karena yang menguasai hati adalah Allah.

3. Selama manusia belum menemukan sesuatu yang diyakininya sebagai Sang Penguasa maka dia tidak akan pernah merasakan ketenangan karena hal tersebut merupakan sudah menjadi fitrah manusia untuk mencari Tuhan yang disembahnya.

4. Janji-janiji Allah kepada orang-orang yang beriman telah banyak disebut dalam firmanNya dan yang menjadi inti adalah bahwa orang-orang yeng beriman akan di berikan ganjaran berupa surga yang menjadi dambaan manusia.

5. Seorang mukmin haruslah;

– Mencintai Allah dan RosulNya lebih dari cinta kepada sesuatu selain keduanya, mencintai seseorang karena Allah, benci ketika harus kembali kedalam kekufuran seperti benci jika dimasukkan kedalam neraka.

– Berinfak secukupnya, tidak berlebihan sehingga menzalimi hak-hak yang lainnya, tapi juga tidak kikir dengan hartanya.

– Bersikap objektif, tidak menghalanginya untuk berbuat baik dan adil kepada manusia, walaupun ada kaitannya dengan kepentingan diri sendiri, misalnya walaupun disakiti dan dizalimi oleh seseorang, tetapi tidaka menghalanginya untuk memaafkannya dan tetap berbuat baik kepadanya. –

– Menebarkan kesejahteraan kepada seluruh alam semesta, memperjuangkan sesuatu demi kebaikan manusia dan seluruh makhluk lainnya, seperti dengan melakukan kegiatan amal siasi maupun amal khidam ijtima’i (kegiatan sosial).

– Maka apabila sebilah hati telah mendapatkan manisnya iman, maka ia akan sensitif merasakan pahitnya kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan.

Catatan Kaki

[1] قال: (أتدرون ما الإيمان بالله وحده). قالوا: الله ورسوله أعلم، قال: (شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله، وإقام الصلاة، وإيتاء الزكاة، وصيام رمضان، وأن تعطوا من المغنم الخمس)

Dalam hadits ini iman dan Islam seakan bercampur karena yang di tanyakan Nabi adalah tentang iman namun yang disebutkan seperti sebagai yang kita kenal adalah rukun Islam; syahadat, shalat,zakat, puasa Ramadhan, namun tidak disebutkan hajji melainkan memberi alghonam el khams..

[2] Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan, “Ketika ayat ini turun, para sahabat merasa sedih dan berat. Mereka berkata siapa di antara kita yang tidak berlaku dzalim kepada diri sendiri lalu Rasul menjawab:

لَيْسَ ذَلِكَ، إِنَّمَا هُوَ الشِّرْكُ، أَلَمْ تَسْمَعُوْا قَوْلَ لُقْمَانَ لاِبْنِهِ: {يَا بُنَيَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ}. (متفق عليه

“Yang dimaksud bukan (kedzaliman) itu, tetapi syirik. Tidak-kah kalian mendengar nasihat Luqman kepada puteranya, ‘Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah benar-benar suatu kedzaliman yang besar.” (Luqman: 13) (Muttafaqun alaih).

SHARE