Contoh Makalah Filsafat Konstruk Paradigma

92
Contoh Makalah Filsafat Konstruk Paradigma

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Makalah

Pada
dasarnya suatu teori dirumuskan untuk menjelaskan dan meramalkan
fenomena yang ada. Bangunan suatu teori yang merupakan abstrak dari
sejumlah konsep yang disepakatkan dalam definisi-definisi akan
mengalami perkembangan, dan perkembangan itu terjadi apabila teori sudah
tidak relevan dan kurang berfungsi lagi untuk mengatasi masalah. Jika
suatu teori ingin diakui sebagai ilmiah, teori ini haruslah cocok
(compatible) dengan teori-teori lain yang telah diakui sebelumnya. Dan
jika suatu teori memiliki kesimpulan prediktif yang berbeda dengan teori
lainnya, salah satu di antara kedua teori tersebut salah.

Baca Makalah Filsafat Lainnya:

Contoh Makalah Ontologi Filsafat Ilmu dan Aliran-Alirannya
Makalah Filsafat Pengertian Epistemologi Bayani, Irfani dan Burhani


Penerimaan
suatu teori di dalam komunitas ilmiah, tidak berarti bahwa teori
tersebut memiliki kebenaran mutlak. Setiap teori selalu sudah
dipengaruhi oleh pengandaian-pengandaian dan metode dari ilmuwan yang
merumuskannya. Kemampuan suatu teori untuk memprediksi apa yang akan
terjadi merupakan kriteria bagi validitas teori tersebut. Semakin
prediksi dari teori tersebut dapat dibuktikan, semakin besar pula teori
tersebut akan diterima di dalam komunitas ilmiah.[1]Ketika
suatu bentuk teori telah dianggap mapan di dalam komunitas ilmiah, maka
hampir semua ilmuwan dalam komunitas ilmiah tersebut menggunakan teori
yang mapan itu didalam penelitian mereka. Teori yang mapan dan dominan
itu disebut oleh Kuhn sebagai paradigma.[2]

Contoh Makalah Filsafat Konstruk 2
Paradigma
adalah cara pandang atau kerangka berfikir yang berdasarkannya fakta
atau gejala diinterpretasi dan dipahami. Para ilmuwan bekerja dalam
kerangka seperangkat aturan yang sudah dirumuskan secara jelas
berdasarkan paradigma dalam bidang tertentu, sehingga pada dasarnya
solusinya sudah dapat diantisipasi terlebih dahulu. Jika dalam
perjalanan kegiatannya timbul hasil yang tidak diharapkan, atau
penyimpangan dari paradigmanya yang oleh Kuhn disebut sebagai anomali.[3]

B. Rumusan Masalah Pembuatan Makalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas pemakalah mengemukakan beberapa permasalahan sebagai berikut:
Bagaimana pengertian teori dan paradigma?
Bagaimana konstruk teori?
Bagaimana Konstruk paradigma?


BAB II
PEMBAHASAN
Contoh Makalah Filsafat Konstruk Paradigma

A. Pengertian Teori dan Paradigma
Kata ‘teori” secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yaitu theorea, yang berarti melihat, theoros yang berarti pengamatan.[4]
sedangkan pengertian teori menurut terminologi memiliki beberapa
pengertian seperti yang dikemukakan oleh ilmuwan sebagai berikut:

Kerlinger
mengemukakan bahwa teori adalah suatu kumpulan variabel yang saling
berhubungan, definisi-definisi, proposisi-proposisi yang memberikan
pandangan yang sistematis tentang fenomena dengan mempesifikasikan
relasi-relasi yang ada di antara beragam variabel, dengan tujuan untuk
menjelaskan fenomena yang ada”.[5]

Cooper
and Schindler (2003), mengemukakan bahwa, A theory is a set
systematically interrelated concepts, definition, and proposition that
are advanced to explain and predict phenomena (fact). Teori adalah
seperangkat konsep, defininisi dan proposisi yang tersusun secara
sistematis sehingga dapat digunakan untuk menjelaskan dan meramalkan
fenomena.

Teori menurut Sugiyono adalah alur logika atau
penalaran, yang merupakan seperangkat konsep, defenisi, dan proposisi
yang disusun secara sistematis. Secara umum teori mempunyai tiga fungsi,
yaitu untuk menjelaskan (explanation), meramalkan (prediction), dan
pengendalian (control) suatu gejala.[6]

Berdasarkan
pengertian teori tersebut dapat kita mengemukakan bahwa teori memiliki
komponen-komponen yang terdiri atas: Konsep, fakta, fenomena, defenisi,
proposisi dan variabel.

Kata “paradigma” berasal dari bahasa Yunani yaitu paradeigma yang berarti contoh, tasrif, model.[7]
Paradigma ini dapat pula berarti: 1. Cara memandang sesuatu, 2. Dalam
ilmu pengetahuan berarti model, pola, ideal. Dari model-model ini
fenomena yang dipandang, diperjelas, 3. Totalitas premis-premis teoritis
dan metodologis yang menentukan atau mendefenisikan suatu studi ilmiah
konkret.4 Dasar untuk menyeleksi problem-problem dan pola untuk
memecahkan problem-problem riset.[8]

Menurut
Nasim Butt (1996) suatu paradigma merupakan teori-teori yang berhasil
secara empiris yang pada mulanya diterima dan dikembangkan dalam sebuah
tradisi penelitian sampai kemudian ditumbangkan oleh paradigma yang
lebih progresif secara empiris.[9]

Di
dalam penelitian diartikan sebagai pola pikir yang menunjukkan hubungan
antara variabel yang akan diteliti yang sekaligus mencerminkan jenis
dan jumlah rumusan masalah yang perlu dijawab melalui penelitian, teori
yang digunakan untuk merumuskan hipotesis, jenis dan jumlah hipotesis,
dan teknik analisis statistik yang akan digunakan.[10]

Menurut
Husain Heriyanto paradigma adalah seperangkat asumsi-asumsi teoritis
umum dan hukum-hukum serta teknik-teknik aplikasi yang dianut secara
bersama oleh para anggota suatu komunitas ilmiah.[11]

Menurut
AF. Saifuddin setiap paradigma mengandung teori-teori yang memiliki
logika, prosedur metodologi dan implikasi teoritis sehingga tidak
relevan bila suatu paradigma diperbandingkan apalagi dipertentangkan
dengan paradigma yang lain (lihat Kuhn, 1978). Kritik terhadap suatu
paradigma harus berlangsung dalam paradigma itu sendiri, tidak dari
pandangan paradigma yang lain. Dalam bahasa awam, seekor ular tidak akan
sama dengan seekor harimau, maka tidak beralasan untuk memperbandingkan
keduanya apalagi mempertentangkan atau memperdebatkannya.[12]

B. Konstruk Teori

Bangunan
teori adalah abstrak dari sejumlah konsep yang disepakatkan dalam
definisi-definisi. Konsep sebagai abstraksi dari banyak empiri yang
telah ditemukan kesamaan umumnya dan kepilahannya dari yang lain atau
abstraksi dengan cara menemukan sejumlah esensi pada suatu kasus, dan
dilakukan berkelanjutan pada kasus-kasus lainnya, dapat dikonstruksikan
lebih jauh menjadi proposisi atau pernyataan, dengan membuat kombinasi
dari dua konsep atau lebih. Bangunan-bangunan teori tersebut antara
lain:

1. Teori Ilmu

Teori ilmu memiliki dua kutub arti
teori. Kutub pertama adalah teori sebagai hukum eksprimen muncul
beragam, mulai dari hasil eksprimen tersebut meluas ke hasil observasi
phisik seperti teori tentang panas bumi. Kutub kedua adalah hukum
sebagai kalkulus formal dapat muncul beragam pula, mulai dari yang dekat
dengan kutub pertama seperti teori sebagai eksplanasi phisik misalnya
teori Galileo tentang peredaran planet pada porosnya, teori sinar
memancar melengkung bila lewat medan gravitasi. Selanjutnya teori
sebagai interpretasi terarah atas observasi seperti teori sosial statis
dan sosial dinamis dari August Comte dan pada ujung kutub kedua adalah
teori sebagai prediksi logik; dengan sifatnya berlaku umum dan
diprediksikan berlaku kapan pun dahulu dan yang akan datang, seperti
teori evolusi dari Darwin, teori relativitas dari Einstein[13]yang
memnberikan penjelasan alternatif tentang sumber energi yang
memungkinkan matahari menghasilkan energi begitu besar dalam waktu
begitu lama.[14]

2. Temuan Substantif Mendasar

Temuan-temuan
atas bukti empirik dapat dijadikan tesis substantif, dan diramu dengan
konsep lain dapat dikonstruk menjadi teori substantif. Asumsi
keberlakuan tesis substantif tersebut ada pada banyak kasus yang sama di
tempat dan waktu berbeda.[15]

Temuan
huruf baca hirogliph Mesir, huruf baca kanji Jepang dan Cina adalah
symbol-simbol untuk benda-benda Huruf baca lebih maju tampil sebagai
simbol-simbol ucapan. Angka-angka Rumawi dan Latin adalah simbol-simbol,
seperti X adalah simbol dari 10, L =50, M = 100, dan seterusnya. Huruf
tulis yang kita gunakan adalah huruf Latin. Jika angka ilmu pengetahuan
yang kita gunakan adalah angka latin, bagaimana matematika dan ilmu
eksakta lain akan dapat dikembangkan dengan huruf-huruf simbol X,L,M,
dan lainnya. Angka arab yang kita gunakan dalam berilmu pengetahuan
sekarang ini bukan representasi simbol, melainkan representasi placed
value. Sama-sama angka 5 dengan letak berbeda, berbeda nilainya. Contoh:
5.555.55. Itu merupakan temuan teori substantif mendasar.

Demikian
pula persepsi ilmuwan tentang atom, berkembang. Dari partikel terkecil,
ke ditemukannya unsur radioaktif pada atom, dan diketemukannya
unsur-unsur electron yang berputar mengorbit pada proton yang mempunyai
kekuatan magnetik. Kemudian pada tahun 1937 diketemukan neutron, semacam
proton, tetapi tidak mempunyai kekuatan magnetik. Berat neutron beragam
dan inilah yang menyebabkan atom satu beda beratnya dengan atom yang
lain. Temuan teori atom ini merupakan temuan ilmiah substantif
mendasar.[16]

3. Hukum-hukum Keteraturan

a. Hukum Keteraturan Alam

Alam
semesta ini memiliki keteraturan yang determinate. Ilmu pengetahuan
alam biasa disebut hard science, karena segala proses alam yang berupa
benda anorganik sampai organik dan hubungan satu dengan lainnya dapat
dieksplanasikan dan diprediksikan relatif tepat. Kata relatif tepat
momot dua makna: pertama, bila teori yang kita gunakan untuk membuat
eksplanasi atau prediksi sudah sangat lebih baik, dan kedua, bila
variabel yang ikut berperan lebih terpantau.[17]
Menurut al-Kindi ketertiban alam ini, baik susunan, interaksi, relasi
bagian dengan bagiannya, ketundukan suatu bagian pada bagian lainnya,
dan kekukuhan strukturnya di atas landasan prinsip yang terbaik bagi
proses penyatuan, perpisahan, dan muncul serta lenyapnya sesuatu dalam
alam, mengindikasikan adanya pengaturan yang mantap dan kebijakan yang
kukuh. Tentu ada Pengatur Yang Maha Bijaksana dibalik semua ini, yaitu
Allah.[18]

b. Hukum Keteraturan Hidup Manusia

Hidup
manusia itu memiliki keragaman sangat luas. Ada yang lebih suka kerja
keras dan yang lain menyukai hidup santai, ada yang tampil ulet meski
selalu gagal, yang lain mudah putus asa, ada yang berteguh pada prinsip
dan sukses dalam hidup, yang lain berteguh pada prinsip, dan tergilas
habis. Kehidupan manusia mengikuti sunnatullah, mengikuti hukum yang
sifatnya indeterminate. Mampu membaca kapan harus teguh pada prinsip,
kapan diam dan kapan berbicara dalam nada bagaimana, dia akan sukses
beramar ma’ruf nahi mungkar. Manusia mempunyai kemampuan untuk memilih
yang baik, dan menghindari yang tidak baik. Dataran baik tersebut dapat
berada pada dataran kehidupan pragmatik sampai pada dataran moral human
ataupun moral religious. Memilih kerja yang mempunyai prospek untuk
menghidupi keluarga, merupakan kebebasan memilih manusia dengan
konsekuensi ditempuhnya keteraturan sunnatullah; harus tekun bekerja dan
berupaya berprestasi di dunia kerjanya. Untuk diterima kepemimpinannya,
seorang pemimpin perlu berupaya menjadi shiddiq, amanah, dan maksum.
Kedaan demikian berkenan dengan pemikiran Ibnu Bajjah yang membagi
perbuatan manusia kepada perbuatan manusiawi, yaitu perbuatan yang
didorong oleh kehendak/kemauan yang dihasilkan oleh pertimbangan
pemikiran, dan perbuatan hewani yaitu perbuatan instingtif sebagaimana
terdapat pada hewan, muncul karena dorongan insting dan bukan dorongan
pemikiran.[19]

c. Hukum Keteraturan Rekayasa Teknologi

Keteraturan
alam yang determinate, dapat dibedakan menjadi dua, yaitu keteraturan
substantif dan ketraturan esensial. Seperti Pohon mangga golek akan
berbuah mangga golek. Ketika ilmuwan berupaya menemukan esensi rasa enak
pada mangga, menemukan esensi buah banyak pada mangga, dan menemukan
esensi pohon mangga yang tahan penyakit, ilmuwan berupaya membuat
rekayasa agar dapat diciptakan pohon mangga baru manalagi yang enak
buahnya, banyak buahnya, dan pohonnya tahan penyakit, di sini nampak
bahwa ilmuwan mencoba menemukan keteraturan esensial pada benda organik.
Produk teknologi merupakan produk kombinasi antara pemahaman ilmuwan
tentang keteraturan esensial yang determinate dengan upaya rekayasa
kreatif manusia mengikuti hukum keteraturan sunnatullah.[20]

4. Konstruk Teori Model Korespondensi

Konstruk
berfikir korespondensi adalah bahwa kebenaran sesuatu dibuktikan dengan
cara menemukan relasi relevan dengan sesuatu yang lain. Tampilan
korespondensi tersebut beragam mulai dari korelasi, kausal, kontributif,
sampai mutual. Konstruk berfikir statistik kuantitatif dan juga
pendekatan positifistik menggunakan cara ini.[21]
(Menurut Bertand Russel suatu pernyataan benar jika materi pengetahuan
yang dikandung oleh pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan/cocok)
dengan obyek yang dituju oleh pernyataan itu. Misalnya, jika ada
seseorang yang mengatakan “ Ibu kota republik Indonesia adalah Jakarta”
maka pernyataan itu benar sebab pernyataan itu sesuai dengan fakta
objektif.[22]

5. Konstruk Teori Model Koherensi

Konstruk
teori model koherensi merentang dari koheren dalam makna rasional
sampai dalam makna moral. Konstruk koheren dalam makna rasional adalah
kesesuaian sesuatu dengan skema rasional tertentu, termasuk juga
kesesuaian sesuatu dengan kebenaran obyektif rasional.

Aristoteles
dalam teori koherensi memberikan standar kebenaran dengan cara
deduktif, yaitu kebenaran yang didasarkan pada kriteria koherensi yang
dapat diungkap bahwa berdasarkan teori koherensi suatu pernyataan
dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten
dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Bila kita menganggap
benar bahwa “semua manusia pasti mati” adalah pernyataan yang benar,
maka pernyataan bahwa “si fulan adalah seorang manusia dan si Fulan
pasti mati” adalah benar pula. Sebab pernyataan kedua adalah konsisten
dengan pernyataan yang pertama.[23]

Konstruk
berfikir koherensi kedua adalah yang dilandaskan kepada kebenaran moral
dan nilai. Sesuatu dipandang sebagai benar bila sesuai dengan moral
tertentu. Moral dalam maknanya yang luas menyangkut masalah: right or
wrong, truth or false, justice or unfair, human or inhuman dan lainnya.
Hal ini terkait dengan kehidupan budi yang terjelma dalam proses
penilaian itu merupakan ciri manusia yang terpenting dalam kehidupan
individu, masyarakat dan kebudayaan, sebagai makhluk yang berkelakuan.

6. Konstruk Teori Model Pragmatis

Konstruk
teori model Prgmatis berupaya mengkonstruk teorinya dari kosep-konsep,
pernyataan-pernyataan yang bersifat fungsional dalam kehidupan praktis
atau tidak. Kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah
pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis atau
tidak; Artinya suatu pernyataan adalah benar, jika pernyataan itu atau
implikasinya mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia. Kaum
pragmatis berpaling pada metode ilmiah sebagai metode untuk mencari
pengetahuan tentang alam ini yang dianggap fungsional dan berguna dalam
menafsirkan gejala-gejala alamiah. Agama bisa dianggap benar karena
memberikan ketenangan pada jiwa dan ketertiban dalam masyarakat. Para
ilmuan yang menganut azas ini tetap menggunakan suatu teori tertentu
selama teori itu mendatangkan manfaat.[24]

7. Konstruk Teori Iluminasi

Teori
Iluminasi menurut Mehdi Ha’iri Yazdi adalah pengetahuan yang semua
hubungannya berada dalam kerangka dirinya sendiri, sehingga seluruh
anatomi gagasan tersebut bisa dipandang benar tanpa membutuhkan hubungan
eksterior. Artinya hubungan mengetahui, dalam bentuk pengetahuan
tersebut adalah hubungan swaobjek tanpa campur tangan koneksi dengan
objek eksternal.[25]

Selanjutnya
Iluminasi oleh Yazdi disebut sebagai ilmu hudhuri yaitu pengetahuan
dengan kehadiran karena ia ditandai oleh keadaan neotic dan memiliki
objek imanen yang menjadikannya pengetahuan swaobjek. Ilmu hudhuri tidak
memiliki objek diluar dirinya, tetapi objek itu sendiri ada adalah
objek subjektif yang ada pada dirinya. Oleh sebagian sufi, iluminasi itu
adalah pengetahuan diri tentang diri yang berasal dari penyinaran dan
anugerah Tuhan yang digambarkan dengan berbagai ungkapan dan keadaan.
Ada yang menyebutkannya dengan terbukanya hijab antara dirinya dengan
Tuhan, sehingga pengatahuan dan rahasianya dapat diketahui. Ada yang
mengungkapkan dengan rasa cinta yang sangat dalam sehingga antara dia
dan Tuhan tidak ada rahasia lagi. Pengetahuan Tuhan adalah
pengetahuannya. Dan ada yang menyatakan dengan kesatuan kesadaran
(ittihᾶd/hulûl).[26]

C. Konstruk Paradigma

Para
ilmuwan dalam kegiatan ilmiahnya membangun paradigma atas berbagai
konsep, asumsi-asumsi teoritis umum dan hukum-hukum dalam tatanan
tertentu, menyederhanakan yang kompleks yang dapat diterima umum. Di
bawah ini dikemukakan beberapa paradigma antara lain:

1. Paradigma Cartesian- Newtonian

Paradigma
ini dicanangkan oleh Rene Descartes (1596-1650) dan Isaak Newton
(1642-1727). Penggunaan istilah paradigma dalam frase “paradigma
Cartesian-Newtonian” mengacu kepada pengertian generik yang diturunkan
oleh Thomas Kuhn, yang dalam masterpiece-nya The structure of Scientific
Revolutinons (1970) Kuhn menggunakan istilah paradigma untuk banyak
arti, seperti matriks disipliner, model, atau pola berpikir, dan
pandangan-dunia kaum ilmuwan. Namun pengertian umum yang lebih banyak
dipakai paradigma berarti seperangkat asumsi-asumsi teoritis umum dan
hukum-hukum serta teknik-teknik aplikasi yang dianut secara bersama oleh
para anggota suatu komunitas ilmiah.[27]
Istilah paradigma dalam frase paradigma Cartesian-Newtonian digunakan
dalam makna yang lebih luas yang tidak hanya berlaku pada komunitas
ilmiah melainkan bekerja pada masyarakat modern umumnya. Paradigma dalam
hal berarti suatu pandangan-dunia (world vieu) atau cara pandang yang
dianut secara pervasif dan terkandung di dalamnya asumsi-asumsi
ontologis dan epistemologis tertentu, visi realitas, dan sistem nilai.

Selanjutnya
Paradigma Cartesian-Newtonian mengandung dua komponen utama, yaitu
prinsip-prinsip dasar dan kesadaran intersubjektif. Prinsip-prinsip
dasar itu adalah asumsi-asumsi teoritis yang mengacu kepada sistem
metafisis, ontologis, dan epistemologis tertentu. Sedang kesadaran
intersubjektif adalah kesadaran kolektif terhadap prinsip-prinsip dasar
itu yang dianut secara bersama sedemikian sehingga dapat melangsungkan
komunikasi yang memiliki frame of reference yang sama. Misalnya, konsep
‘maju’ (progress) yang sesuai dengan paradigma Cartesian-Newtonian
adalah bertambahnya kepemilikan dan pengusaan manusia terhadap alam.
Pengertian konsep ‘maju’ seperti itu telah menjadi kesadaran kolektif
yang memungkinkannya komunikasi berlangsung antar manusia modern
sedemikian, sehingga bangsa yang mampu mengeksploitasi alam melalui
industri disepakati untuk digolongkan sebagai bangsa maju atau Dunia
Pertama.[28]

2. Paradigma Holistik-Dialogis

Paradigma
holistik-dialogis adalah merupakan paradigma alternatif karena tuntutan
pandangan dunia baru dalam upaya memahami fenomena-fenamena global
secara lebih baik, tepat dan sesuai. Pandangan dunia baru itu merupakan
paradigma alternatif terhadap paradigma Cartesian-Newtonian yang
dualisme yang lebih menguasai kesadaran manusia modern dalam kurun waktu
tiga ratus tahun terakhir.

Dengan munculnya gagasan orisinal
dari Shadr al-Din al-Shirazi yang lebih popular dengan nama Mulla Shadra
(1572-1641), filsuf Persia yang hidup sezaman dengan Descartes yaitu
gerak trans-substansial (trans-substansial motion, harakat
al-jawhariyyah). Gagasan ini dicetuskan setelah melalui analisis
ontologis-metafisis yang mendalam terhadap eksistensial dan realitas.
Ontologis Mulla Shadra memiliki banyak kesamaan dengan Filsafat proses
atau filsafat organisme Alfred North Whitehead (1815-1974), dapat
dianggap sebagai upaya transformasi gerak trans-substansial kedalam
sistim kosmologi yang dinamis. Whitehead telah mengintroduksi data-data
perkembangan sains modern sebagai bagian yang integral dalam sistem
filsafatnya, khususnya pandanagan kosmologisnya, sehingga lebih
memperkaya pemahaman terhadap dinamika realitas.[29]

DAFTAR PUSTAKA

Bagus, Lorens , Kamus Filsafat, Ed. I. ( Cet.III; Jakarta: Gramedia, 2002)

Bakhtiar, Amsal, Filsafat Agama 1, Jil.I. ( Cet. I; Pamulang Timur, Ciputat: Lolos Wacana Ilmu, 1997)

Drajat, Amroeni, Filsafat Islam Buat yang Pengen Tahu, ( Jakarta: Erlangga, 2006)

Heriyanto,
Husain, , Paradigma Holistik Dialog Filsafat, Sains,dan Kehidupan
Menurut Shadra dan Whitehead, (Cet; Jakarta Selatan: Teraju, 2003)

Http//SahluluFuad. 6te. Net/?pilih=news & aksi=lihat &

Komaruddin, Yooke Tjuparmah S. Komaruddin, Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah, Ed. I, (Cet.II; Jakarta: Bumi Aksara , 2002)

Muhadjir,
H. Noeng, Filsafat Ilmu: Positivisme,Post positivism, dan Post
Modernisme, Ed.II. (Cet.I; Yogyakarta: Rake Sarasin, 2001)

Patrick,
G.T.W, C.A. van Peursen, Ayn Rand, et al., Apakah Filsafat dan Filsafat
Ilmu itu?, (Cet.I; Bandung: Pustaka Sutra, 2008)

Soetrisno dan SRDm Rita Hanafie, Filsafat Ilmu dan metodologi Penelitian, Ed.I.(Yogyakarta: Cv. Andi offset, 2007)

Sugiyono, Prof. Dr. Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Cet.III; Bandung: Alfabeta, 2007)

Wattimena, Reza A.A , Filsafat dan Sains Sebuah Pengantar, ( Jakarta: PT. Grasindo, 2008)


Catatan Kaki

[1]Reza A.A Wattimena, Filsafat dan Sains Sebuah Pengantar, (Jakarta: PT. Grasindo, 2008), h. 95

[2]Reza A.A Wattimena, Filsafat dan Sains Sebuah Pengantar, (Jakarta: PT. Grasindo, 2008). h. 187.

[3]
G.T.W Patrick, C.A. van Peursen, Ayn Rand, Apakah Filsafat dan Filsafat
Ilmu itu?, (Cet.I; Bandung: Pustaka Sutra, 2008), h. 95

[4]Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Ed. I. ( Cet.III; Jakarta: Gramedia, 2002), h. 1097

[5][5]Reza A.A Wattimena, Filsafat dan Sains Sebuah Pengantar, (Jakarta: PT. Grasindo, 2008), h. 257

[6]Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Cet.III; Bandung: Alfabeta, 2007), h. 52-54

[7]Komaruddin, Yooke Tjuparmah S. Komaruddin, Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah, Ed. I, (Cet.II; Jakarta: Bumi Aksara , 2002), 173

[8]Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Ed. I. ( Cet.III; Jakarta: Gramedia, 2002), h. 779

[9]Soetrisno dan SRDm Rita Hanafie, Filsafat Ilmu dan metodologi Penelitian, Ed.I.9Yogyakarta: Cv. Andi offset, 2007). h. 32

[10]Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Cet.III; Bandung: Alfabeta, 2007h. 42

[11]Husain
Heriyanto, M. Hum, Paradigma Holistik Dialog Filsafat, Sains,dan
Kehidupan Menurut Shadra dan Whitehead, (Cet; Jakarta Selatan: Teraju,
2003), h. 28.

[12] Http//SahluluFuad. 6te. Net/?pilih=news & aksi=lihat &

[13]H.
Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu: Positivisme,Post positivism, dan Post
Modernisme, Ed.II. (Cet.I; Yogyakarta: Rake Sarasin, 2001). h. 39-40

[14]Reza A.A Wattimena, Filsafat dan Sains Sebuah Pengantar, (Jakarta: PT. Grasindo, 2008), h. 193

[15]H.
Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu: Positivisme,Post positivism, dan Post
Modernisme, Ed.II. (Cet.I; Yogyakarta: Rake Sarasin, 2001)h. 8-9

[16]H.
Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu: Positivisme,Post positivism, dan Post
Modernisme, Ed.II. (Cet.I; Yogyakarta: Rake Sarasin, 2001)h. 41.

[17]
H. Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu: Positivisme,Post positivism, dan
Post Modernisme, Ed.II. (Cet.I; Yogyakarta: Rake Sarasin, 2001)


[18]Amroeni Drajat, Filsafat Islam Buat yang Pengen Tahu, ( Jakarta: Erlangga, 2006), h. 16-17

[19]Amroeni Drajat, Filsafat Islam Buat yang Pengen Tahu, ( Jakarta: Erlangga, 2006), h. 64-65

[20]Noeng
Muhadjir, Filsafat Ilmu: Positivisme,Post positivism, dan Post
Modernisme, Ed.II. (Cet.I; Yogyakarta: Rake Sarasin, 2001)h. 43.

[21]Noeng
Muhadjir, Filsafat Ilmu: Positivisme,Post positivism, dan Post
Modernisme, Ed.II. (Cet.I; Yogyakarta: Rake Sarasin, 2001), h. 52

[22]Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama 1, Jil.I. ( Cet. I; Pamulang Timur, Ciputat: Lolos Wacana Ilmu, 1997), h. 33

[23]Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama 1, Jil.I. ( Cet. I; Pamulang Timur, Ciputat: Lolos Wacana Ilmu, 1997), h. 32

[24]Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama 1, Jil.I. ( Cet. I; Pamulang Timur, Ciputat: Lolos Wacana Ilmu, 1997), h. 34

[25]Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama 1, Jil.I. ( Cet. I; Pamulang Timur, Ciputat: Lolos Wacana Ilmu, 1997), h. 35-36

[26]Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama 1, Jil.I. ( Cet. I; Pamulang Timur, Ciputat: Lolos Wacana Ilmu, 1997), h. 37

[27]Husain
Heriyanto, M. Hum, Paradigma Holistik Dialog Filsafat, Sains,dan
Kehidupan Menurut Shadra dan Whitehead, (Cet; Jakarta Selatan: Teraju,
2003), h. 28.

[28]Husain
Heriyanto, M. Hum, Paradigma Holistik Dialog Filsafat, Sains,dan
Kehidupan Menurut Shadra dan Whitehead, (Cet; Jakarta Selatan: Teraju,
2003), h. 29.

[29]Husain
Heriyanto, M. Hum, Paradigma Holistik Dialog Filsafat, Sains,dan
Kehidupan Menurut Shadra dan Whitehead, (Cet; Jakarta Selatan: Teraju,
2003), h. 154-155

Makalah telah diseminarkan pada sidang seminar Universitas UIN Alaudin Makassar Oleh Sastriana dengan Judul Makalah Konstruk Paradigma Filsafat. Mudahan Bermanfaat.

SHARE