Contoh Qiyas sebagai Sumber Hukum Islam setelah Al-Quran dan Hadis

1954

 Salah satu sumber hukum Islam yang disepakati oleh jumhur ulama setelah al-Qur’an, as-Sunnah, dan Ijma’ adalah qiyas. Menurut jumhur ulama, qiyas merupakan hujjah syar’iyyah  atas hukum-hukum mengenai  perbuatan manusia (amaliyyah). Qiyas menduduki peringkat keempat di antara hujjah- hujjah syar’iyyah, dengan maksud apabila dalam suatu kasus hukum tidak ditemukan ketetapannya dalam nash (al-Qur’an dan Sunnah) serta ijma’, tetapi diperoleh ketetapan bahwa kasus tersebut menyamai suatu kejadian yang ada nash hukumnya dari segi illath hukumnya, maka kasus tersebut di-qiyas-kan dengan kasus tersebut dan dikenai hukum berdasarkan hukum kasus yang terdapat ketetapannya  dalam  nash, dan  hal  ini termasuk  dalam  ketetapan syar’i.

  1. Pengertian Qiyas

Secara bahasa qiyas  berarti  ukuran, mengetahui  ukuran  sesuatu, membandingkan, atau    menyamakan sesuatu dengan yang lain. Misalnya, “saya mengukur baju dengan hasta,” sedangkan menurut istilah, qiyas adalah memberlakukan hukum asal kepada hukum furu disebabkan kesatuan illat yang tidak dapat dicapai melalui pendekatan bahasa saja.  Menurut al-Amidi, qiyas adalah mempersamakan illat yang ada pada furu’ dengan illat yang ada pada asal yang diistinbatkan dari hukum asal,  yang terakhir menurut Wahbah az- Zuhaili, qiyas yaitu menyatukan sesuatu yang tidak disebutkan hukumnya dalam nash   dengan  sesuatu yang disebutkan hukumnya   oleh   nash, disebabkan kesatuan illat hukum antara keduanya.

Menurut  istilah ahli  Ushul  Fiqh, qiyas  adalah mempersamakan suatu kasus yang tidak ada nash hukumnya dengan suatu kasus yang ada hukumnya, dalam hukum yang ada nash-nya karena persamaan keduanya dalam illat hukumnya.44  Karena qiyas selalu bersendikan persamaan illat hukum,  maka qiyas dapat dilakukan  hanya jika illat hukum nash dapat diketahui dengan akal.

  1. Macam-Macam Qiyas
  2. Dilihat dari  kekuatan  illat yang  terdapat  pada furu’  dibandingkan dengan yang terdapat pada ashl, terdiri atas:

1)  Qiyas Aula,  yaitu  qiyas yang  hukumnya  pada furu’  lebih  kuat daripada hukum ashl, karena illat yang terdapat pada furu’ lebih kuat dari yang ada pada ashl. Seperti meng-qiyaskan perbuatan memukul,  kepada  kata-kata yang  kurang  mengenakkan terhadap Ibu-Bapak karena illatnya menyakiti. Keharaman memukul orang tua lebih kuat daripada sekedar mengatakan kata-kata yang kurang mengenakan, seperti kata ah.

2)  Qiyas Musaway,  yaitu  illat yang  terdapat  pada yang  diqiyaskan (furu’)  sama dengan  illat  yang ada  pada  tempat mengqiyaskan (asal),  karena  itu hukum  keduanya  sama.

Seperti  mengqiyaskan membakar harta anak yatim dengan memakannya, karena illatnya sama-sama menghabiskan.

3) Qiyas al-Adna, yaitu illat yang ada pada furu’ lebih lemah dibandingkan dengan illat’ yang ada pada ashl. Misalnya mengqiyaskan apel pada gandum dalam hal berlakunya riba fadhl, karena  keduanya  mengandung illat yang sama,  yaitu sama-sama jenis makanan.

  1. Dari segi kejelasan illat yang terdapat pada hukum, terbagi atas:

1) Qiyas al-Jaliy, yaitu qiyas yang illatnya ditetapkan oleh nash bersamaan  dengan hukum ashl, atu nash tidak menetapkan  illat- nya, tetapi dipastikan bahwa tidak ada pengaruh perbedaan  antar ashl dengan furu’.

2)  Qiyas al-Khafiy, qiyas yang illat-nya tidak disebutkan dalam nash.

Contohnya,   meng-qiyaskan   pembunuhan dengan   benda   berat kepada pembunuhan  dengan  benda tajam dalam  memberlakukan hukuman qishas, karena illat-nya sama-sama pembunuhan sengaja dengan unsur permusuhan.

  1. Dilihat dari segi keserasian illat dengan hukum, terbagi atas:

1)  Qiyas al-Mu’atstsir,  qiyas yang menjadi penghubung  antara ashl dengan  furu’ ditetapkan  melalui  nash sharih  atau  ijma.’ Contohnya, meng-qiyaskan hak perwalian dalam menikahkan anak di bawah umur kepada hak perwalian atas hartanya, dengan illat belum dewasa. Illat belum dewasa ini ditetapkan melalui ijma’.

2)  Qiyas al-Mula’im,   yaitu   qiyas yang   illat   hokum ashl-nya mempunyai hubungan yang serasi. Misalnya mengqiyaskan pembunuhan  dengan  benda berat  kepada  pembunuhan dengan benda  tajam.  Illat pada hukum  ashl  mempunyai hubungan  yang serasi.

  1. Dilihat dari  segi  dijelaskan atau  tidaknya  illat pada  qiyas  tersebut, terbagi atas:

1)  Qiyas Dalalah,  yaitu  illat yang  ada  pada qiyas  menjadi  dalil (alasan)  bagi hukum,  tetapi  tidak diwajibkan  baginya  (furu’). Seperti  mengqiyaskan wajib  zakat  pada harta  anak-anak  kepada harta orang dewasa yang telah sampai senishab, tetapi bagi anak- anak tidak wajib mengeluarkan zakatnya diqiyaskan pada haji yang tidak diwajibkan atas anak-anak.

2)  Qiyas al-Illat,  yaitu  qiyas yang  dijelaskan  illat-nya dan Illat itu sendiri merupakan motivasi bagi hukum ashl. Contohnya, meng- qiyaskan minuman keras yang terbuat dari perasan selain anggur (nabidz)  kepada  khamar, karena  kedua  minuman tersebut  sama- sam memiliki rangsangan yang kuat , baik pada ashl maupun pada furu’.

3)  Qiyas al-Ma’na,  yaitu  qiyas yang  di  dalamnya tidak  dijelaskan illat-nya  tetapi antara  ashl  dengan furu’  tidak  dapat dibedakan, sehingga   furu’   seakan-akan ashl,   Contohnya,   meng-qiyaskan membakar harta anak yatim dengan memakannya.

  1. Dilihat dari segi metode dalam menemukan illat, terdiri atas :

1) Qiyas  al-Ikhalah,  yaitu qiyas  yang  illat-nya ditetapkan  melalui munashabah dan

ikhalah.

2)  Qiyas al-Sibru,  yaitu  qiyas yang  illat-nya  ditetapkan melalui metode al-sibru wa al-taqsim

3) Qiyas  al-Thard,  yaitu qiyas  yang  illat-nya ditetapkan  melalui metode  third

4) Qiyas Syabah, yaitu  qiyas  yang illat-nya  menggunakan  metode syabah,  (mempunyai keserupaan). Menurut  ulama  Ushul Fiqh, terbagi atas dua bentuk :

  1. a) Melakukan qiyas kesamaan yang dominan dalam hukum dan sifat, yaitu mengkaitkan   furu’ yang mempunyai bentuk kesamaan dengan dua hukum ashl. Tetapi kemiripannya dengan  salah  satu sifat  lebih  dominan dibandingkan  dengan sifat lainnya. Contohnya,  menyamakan  hamba sahaya dengan harta, karena statusnya  yang bisa dimiliki,  atau menyamakan hamba sahaya dengan orang merdeka, disebabkan keduanya adalah manusia. Dalam  persoalan ganti  rugi akibat  suatu tindakan  hukum yang dilakukan  seorang hamba sahaya,  sifat kesamaannya dengan orang  merdeka  lebih dominan dibandingkan  sebagai sesuatu  yang dimiliki. Artinya,  apabila kesamaannya dengan harta yang dimiliki lebih dominan, maka ganti  rugi  terhadap kelalaiannya  tidak  dapat dituntut.  Oleh sebab itu, dalam kasus ganti rugi ini, hamba sahaya lebih mirip dan   lebih dominan   kesamaannya   dengan orang   merdeka, sehingga tindakan hukumnya harus dipertanggung-jawabkan.
  2. b)  Qiyas shuri atau qiyas yang semu, yaitu meng-qiyaskan sesuatu kepada yang lain semata-mata karena kesamaan bentuknya. Contohnya, menyamakan kuda dengan keledai dalam kaitannya dengan  masalah zakat, sehingga  apabila  keledai tidak  wajib zakat, maka kuda pun tidak wajib zakat.
  3. Rukun dan Syarat Qiyas
  4. Asal,  yaitu  dasar, titik tolak  di  manasuatu  masalah  itu dapat disamakan (musabbah bih), syaratnya :

1) Hukum asal-nya  tidak berubah-ubah  atau belum dinasakhkan, artinya hukum yang tetap berlaku.

2) Asal serta hukumnya sudah ada ketentuannya menurut agama, artinya    sudah ada menurut ketegasan al-Qur’an dan al-Hadits.

3) Hukum  yang  berlaku pada  asal  berlaku pula  qiyas,  artinya hukum asal itu dapat diperlakukan pada qiyas

  1. Furu’ (cabang) yaitu suatu masalah yang akan diqiyaskan disamakan dengan asal (musabbah), syaratnya :

1). Hukum furu’ tidak boleh lebih dahulu dari hukum asal, karena untuk menetapkan hokum berdasarkan kepada illatnya.

2). Hukum yang ada pada furu’ harus sama dengan hukum yang ada pada asal, tidak boleh hukum furu’ menyalahi hukum asal.

3.) Illat yang ada pada furu’ harus sama dengan illat yang ada pada asal

  1. Illat,  yaitu  suatu sebab  yang  menjadikan adanya  hukum  sesuatu dengan persamaan. Dengan sebab ini baru dapat diqiyaskan masalah kedua (furu’) kepada masalah yang pertama (asal), syaratnya :

1)  Illat harus selalu ada.

2)  Illat tidak bertentangan dengan ketentuan agama.

  1. Hukum, yaitu ketentuan yang ditetapkan pada furu’ bila sudah  ada ketetapan hukumnya pada asal (buahnya).

 

 

Daftar Rujukan

Abdul Wahhab Khallaf,
Ilmu Ushul Fiqh, Terj. Kitab Ilmu Ushul Fiqh, Semarang : Dina Utama Semarang,
Cet. I.
Nasroen Haroen. Ushul
Fiqh I, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, Cet. II, 1997.
al-Amidi, al-Ihkam Fi
Ushulil Ahkam, Lebanon: Daar el Fikr, Juz III.

 

Wahbah az-Zuhaili,
Ushul al-Fiqh al-Islami, Beirut: Daar el-Fikr, 1986.Demikianlah makalah tentang Contoh Qiyas sebagai Sumber Hukum Islam setelah Al-Quran dan Hadis. Mudahan bermanfaat.

SHARE