Kondisi Darurat dalam Pandangan Hukum Islam

28
Darurat dalam Pandangan Islam –  Kemunculan hukum-hukum islam dimaksudkan untuk menjaga kemuliaan manusia dan memelihara kepentingan, baik
yang bersifat khusus maupun umum. Syariat-syariat langit menentukan ada lima
kebutuhan yang berisikan: Menjaga kehidupan manusia dengan mengharamkan
membunuh, menjaga kehormata, menjaga akal, menjaga harta, dan
menjaga agama.
Syariat islam adalah merupakan syariat terakhir yang membawa
petunjuk bagi umat manusia. Dengan syariat itu Allah telah memberikan beberapa
keistimewaan, antara lain; hal-hal yang bersifat umum, abadi dan meliputi
segala bidang. Didalamnya telah diletakkan dasar-dasar hukum bagi manusia dalam
memecahkan segala permasalahan.
Pengertian Darurat Secara Bahasa dan Isilah
Darurat secara bahasa adalah berasal dari kalimat “adh-dharar” yang berarti sesuatu yang turun tanpa ada yang dapat
menahannya.[1] Makna idhtirar ialah ihtiyaj ilassyai’ yaitu
membutuhkan sesuatu. Dalam mu’jamul wasith disebutkan bahwa kalimat idhtiraru
ilaihi
bermakna seseorang sangat membutuhkan sesuatu.[2] Jadi darurah adalah
sebuah kalimat yang menunjukkan atas arti kebutuhan atau kesulitan yang
berlebihan.
Darurat secara istilah menurut para ulama ada beberapa pengertian
diantaranya adalah[3]:

Darurat ialah posisi seseorang pada suatu batas
dimana kalau tidak mau melanggar sesuatu yang dilarang maka bisa mati atau
nyaris mati. Posisi seperti ini memperbolehkan ia melanggarkan sesuatu yang
diharamkan.
Abu Bakar Al Jashas, “Makna darurat disini
adalah ketakutan seseorang pada bahaya yang mengancam nyawanya atau sebagian
anggata badannya karena ia tidak makan.
Menurut Ad Dardiri, “Darurat ialah menjaga diri
dari kematian atau dari kesusahan yang teramat sangat.
Menurut sebagian ulama dari Madzhab Maliki,
“Darurat ialah mengkhawatirkan diri dari dari kematian berdasarkan
keyakinan atau hanya sekedar dugaan.[4]
Menurut Asy Suyuti, “Darurat adalah posisi
seseorang pada sebuah batas dimana kalau ia tidak mengkonsumsi sesuatu yang
dilarang maka ia akan binasa atau nyaris binasa.[5]
Darurat adalah menjaga jiwa dari kehancuran atau
posisi yang sangat darurat sekali, maka dalam keadaan seperti ini kemudaratan
itu membolehkan sesuatu yang dilarang.[6]

Dasar Hukum Pembolehan Sesuatu dalam Keadaan Darurat



1. Al-Qur’an

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah,
daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah.
Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak
menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
.[7]
Firman Allah, “Sedang dia tidak menginginkannya”
Artinya dalam memakannya sehingga melebihi yang dibutuhkannya. Dalam firman
Allah dan tidak (pula) melampaui batas Artinya begitu seseorang mendapatkan
pilihan memakan hal-hal yang diharamkan tersebut iapun memakannya.
Menurut As Sa’dit, makna firman Allahl, “sedang dia tidak
menginginkannya” ialah seseorang memakan hal-hal yang diharamkan tersebut
semata-mata karena memang terpaksa. Bukan malah dengan menikmati atau merasakan
enaknya. Itu berarti ia menginginkannya. Adapun makna firman Allahl, “Dan
tidak melampaui batas” ialah makannya hingga melampaui batas kenyang.[8]
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging
hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul,
yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu
menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan
(diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak
panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa
untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan
takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan
telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama
bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa,
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
[9]
Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan
kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali
kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena
sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain
Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak
menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
“.[10]
Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang
disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah
menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang
terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar
benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa
pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang
yang melampaui batas
.[11]
2. Hadis Nabi SAW

عَنْ أَبِيْ وَاقِدٍ اللَّيْشِي
قَالَ, قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّا بِأَرْضٍ تُصِيْبُنَا بِهَا مَخْمَصَةٌ
فَمَا يُحِلُّ لَنَا مِنَ المَيْتَةِ؟ قَالَ: اِذَا لَمْ تَصْطَبِحُوْا وَلَمْ تَعْتَبِعُوْا
وَلَمْ تَحْتَفِئُوْا بَقْلاً فَشَأْنُكُمْ بِهَا
Bersumber dari abu waqid al laits ia berkata, “Aku bertanya
kepada rasulullah n, “Rasulullah, kami berada disebuah daerah yang tengah
dilanda bencana ke;aparan. Apakah kami halal memakan bangkai? Beliau menjawab,
“Kalau memang kalian tidak menemukan makanan yang bisa kalian makan pada
pagi dan sore hari dan bahkan tidak mendapatkan sayuran yang bisa kalian cabut,
maka silahkan kalian makan bangkai itu.[12]

Darurat dalam Pandangan Islam
Halal dan Haram / Mjatv.com

 

Hikmah dari Diperbolehkannya yang Haram karena Darurat
Adalah rahmat Allah bagi hamba-hambanya kalau Dia mensyariatkan
beberapa ketentuan hukum yang dapat menerangi jalan mereka dalam urusan-urusan
dunia dan akhirat. Begitu juga untuk menghilangkan kesempitan dari orang-orang
mukallaf. Dan menjaga keselamatam nyawa orang yang bersangkutan. Terkait dengan pembolehan yang haram karena darurat ada dua hal yang harus diperhatikan
Pertama, batasan darurat yang memeperbolehkan sesuatu yang
diharamkan.
Disebutkan dalam catatan pinggir kitab al-muqni’, sesungguhnya
darurat itu hanya yang berkait dengan kekhawatiran terhadap kematian saja.
Demikian menurut pendapat yang shahih. Pendapat yang dikutib dari imam ahmad
bin hanbal menyatakan, disebut dalam keadaan darurat kalau seseorang yakin
bahwa nyawanya nyaris terancam melayang kalau sampai ia tidak mau memakan
sesuatu yang haram. Ada yang berpendapat, tidak harus. Seseorang yang takut
akan terjadi resiko pada dirinya saja sudah bisa dikatakan ia dalam keadaan
darurat.[13]
Menurut Imam Suyuthit, “Darurat ialah posisi seseorang yang
sudah berada dalam batas maksimal jika ia tidak mau mengkonsumsi sesuatu yang
dilarang agama ia bisa mati atau hamper mati. Atau khawatir salah satu anggata
tubuhnya bisa celaka.[14]
Kedua, ukuran yang boleh dikonsumsi orang yang sedang dalam keadaan
darurat.
Tidak ada perbedaan pendapat dikalangan para ulama, bahwa jika
seseorang mengalami rasa lapar yang cukup lama dan terus menerus ia boleh
memakan bangkai sampai kenyang. Hukum ini berlaku bagi makanan-makanan lainnya
yang dilarang. Maksudnya ia memakan sekedarnya saja, tidak boleh memakannya
melebihi dari kenyang.
Hukum Mengkonsumsi Makanan yang Haram dalam Keadaan Darurat
Al ‘Izzuddin Bin Abdissalam mengatakan, “Misalkan seseorang
terpaksa harus memakan barang yang najis ia wajib memakanya, karena resiko
hilangnya nyawa jauh lebih besar daripada resiko yang diakibatkan memakan
barang-barang najis.[15]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Seseorang yang
sedang dalam keadaan darurat wajib memakan atau meminum sesuatu yang dapat
mempertahankan nyawanya. Jika ia terpaksa harus memakan bangkai atau meminum
air najis lalu ia tidak mau melakukannya hingga meninggal dunia, maka ia masuk
neraka.
Dan berkata lagi, “Semua barang-barang yang jelek itu
diperbolehkan bagi seseorang yang sedang dalam keadaan darurat. Dalam keadaan
darurat ia harus makan bangkai, darah dan daging babi. Dan dalam keadaan
darurat pula ia harus meminum air sesuatu yang dapat menyegarkannya seperti air
yang najis dan air kencing.
Menurut pendapat yang di unggulkan, dalam keadaan darurat
seseorang wajib mengkonsumsi sesuatu yang diharamkan. Jika ia sampai menolak
lalu mati maka ia berdosa, kecuali kalau ia memang tidask tahu. Soalnya ia
sanggup untuk mempertahankan hidupnya denga sesuatu yang telah dihalalkan oleh
Allah kepadanya. Jadi ia harus memakannya, sama seperti kalau ia punya makanan
yang halal.
Menolak mengkonsumsi bangkai dan sebagainya hingga meninggal dunia
sama seperti bunuh diri atau membawa pada kebinasaan, karena dalam keadaan
darurat perbuatan itu telah dijamin kebolehannya oleh agama.
Kaidah-kaidah yang Berkenaan tentang Darurat
Pertama

الضَـــرَرُ يُـــزَالُ



Artinya: Kemudharatan itu harus
dihilangkan
).[16]

Dasar
kaidah ini adalah firman Allah swt, “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”
[Qs Al Baqarah: 11]. “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat
kerusakan.” [Qs Al Qashas:77]. Dan hadits nabi saw,

لاَضَرَرَ وَلاَضِرَار
Artinya: Dan membahayakan diri sendiri dan membahayakan orang lain“[17]
Masalah-masalah hukum fikih yang tercakup dalam kaidah ini banyak,
misalnya:
1. Di dalam muammalat, mengembalikan barang yang telah
dibeli lantaran adanya cacat diperbolehkan. Demikian pula macam-macam khiyar
dalam transaksi jual beli karena terdapat beberapa sifat yang tidak sesuai
dengan yang telah disepakati.
2. Pada bagian jinayat, agama menentukan hukumnya
qishas, hudud, kafarat, menganti rugi kerusakan, mengangkat para penguasa untuk
menumpas pengacau atau pemberontak dan menindak para pelaku kriminalitas dan
lain-lainnya.
3. Pada bagian munakahat, islam membolehkan perceraian
yaitu di dalam situasi dan kondisi kehidupan rumah tangga yang sudah tidak
teratasi, agar kedua suami istri tidak mengalami penderitaan batin terus
menerus.
Kedua

الـــضَرُوْرَاتُ تُبِيْحُ المَحْـــــــظُوْرَاتِ

Artinya: Kemudharatan-kemudharatan
itu membolehkan hal-hal yang dilarang
.[18]

Ketiga 

لاَحَــــرَامَ مَعَ الضَرُوْرَاتِ وَلاَ كَــــرَاهَةَ مَعَ
الحَاجَةِ

Artinya: Tidak ada hukum haram beserta dharurat dan hukum makruh beserta
kebutuhan
.[19]

Dasar
kaidah ini adalah firman Allah Qs Al Baqarah: 173, Al Maidah: 4. Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai,
darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah;
tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak
pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang
.[20]

Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak
menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
.[21]
Jadi kaidah ini dapat disimpulkan, bahwa dalam keadaan sangat
terpaksa, maka orang diizinkan melakukan perbuatan yang dalam keadaan biasa
terlarang, karena apabila tidak demikian, mungkin akan menimbulkan suatu
kemudharatan pada dirinya. Contoh: orang yang sedang mengalami kelaparan.
Makanan yang ada hanya bangkai saja. Bangkai ini baginya halal dimakan. Di dalam
kondisi yang sama karena kehausan orang boleh minum minuman keras, sebab yang
ada hanya minuman keras itu saja.
Keempat

مَا اُبِيــــــْحُ لِلضَّرُوْرَةِ يُقَــــدَّرُ بِقَدَرِهَا

Artinya: Apa
yang dibolehkan karena adanya kemudharatan diukur menurut kadar kemudharatan
.[22]

Yang membolehkan seseorang menempuh jalan yang semula haram, itu
adalah karena kondisi yang memaksa. Manakala keadaannya sudah normal, maka
hukum akan kembali menurut statusnya. oleh sebab itu wajar syara’ memeberi
batas di dalam mempergunakan kemudahan karena darurat itu, menurut ukuran
daruratnya semata-mata untuk melepaskan diri dari bahaya.
Contoh: Boleh makan bangkai hanya sekedar pelepas kelaparan saja.
Tidak boleh berlebihan apalagi terus menerus. Bila sudah kenyang dan kondisi
fisik telah pulih kembali, batas kehalalan habis sampai disini.Boleh mengambil
rerumputan tanpa izin pemiliknya untuk memberi makan ternak peliharaan
ternaknya yang sedang kelaparan, akan tetapi tidak boleh mengambil lagi untuk
dijual kepada orang lain yang binatangnya sedang kelaparan juga.

Boleh seorang
dokter memeriksa dan mengobati pasien wanita pada bagian-bagian tubuhnya yang
memang sakit, tidak melebihi daripada apa yang meamang benar-benar diperlukan.

Kelima

 مَا جَازَ لِعُـــذْرٍ بَــطَلَ بِزَوَالِهِ

Artinya: Apa yang
diizinkan karena udzur, hilang keizinan itu sebab hilangnya udzur
.[23]

Contoh:
Tayamum tidak lagi diizinkan karena adanya air sebelum masuk waktu shalat. Izin
tidak hadirnya petugas karena sakit, akan batal karena sembuhnya.

Keenam

الـــــضَّرَرُ لاَيُزَالُ بِـــــــالضَّرَرِ

Artinya: Kemudharatan
itu tidak boleh dihilangkan dengan kemudharatan
.[24]

Contoh:
Tidak boleh bagi seorang yang sedang kelaparan mengambil makanan orang lain
yang juga akan mati kelaparan apabila makannanya hilang. Demikian juga tidak
boleh dokter mengobati pasien yang memerlukan tambahan darah dengan mengambil
darah pasien lain, yang apabila diambil darahnya akan lebih parah sakitnya.

Ketujuh

دَرْءُ المَفَاسِدِ اَوْلَى مِنْ جَلْبِ المَصَالِحِ فَإِذَا
تَعَارَضَ مَفْسَدَةٌ وَمَصْلَحَةٌ قٌدِّمَ دَفْعُ المَفْسَدَةِ غاَلِبًا

Artinya: Menolak
kerusakan lebih diutamakan daripada menarik kemaslahatan, dan apabila
berlawanan antara mafsadah dan maslahah, didahulukan yang menolak mafsadah
.[25]

Dasar kaidah ini adalah firman Allah swt Qs Albaqarah: 219, “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan
judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa
manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”.
Dan sabda beliau saw,
مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ
فَاجْتَنِبُوْهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوْا مِنْهُ مَااسْتَطَعْتُمْ
“Apabila aku memerintah kepadamu suatu perintah, maka
hendaklah kamu laksanakan perintah itu sekuatmu. Dan apabila saya melarang
kepadamu dari mengerjakan sesuatu maka tinggalkanlah perbuatan itu.[26]
Kedelapan

اِذَا تَعَارَضَ مَفْسَـــدَتَانِ رُوْعِيَ
اَعْظَمُهُمَا ضَرَرًا بِارْتِكَــــابِ اَخَفِّهَا

Artinya: Apabila dua mafsadah
bertentangan, maka diperhatikan mana yang lebih besar madharatnya dengan dikerjakan
yang lebih ringan madharatnya
.[27]

Jadi apabila datang pada suatu ketika secara bersamaan dua
mafsadah (kerusakan) atau lebih, mana harus diteliti mana yang lebih kecil atau lebih
ringan dari kedua mafsadah tersebut. Yang lebih besar mafsadahnya ditinggalkan
dan dikerjakan yang lebih ringan madharatnya.
Contoh: Tim dokter boleh membedah kandungan mayit bila bayi yang
dikandungnya masih ada harapan hidup. Membedah perut mayit itu sendiri adalah
perbuatan merusak seperti halnya membiarkan bayi mati di dalam kandungan. Namun
resiko akibat pembedahan dipandang lebih ringan daripada membiarkannya mati
didalam perut.Memotong pohon milik orang lain itu dilarang, tetapi bila tidak
dilakukan bisa jadi menutup jendela yang akan mengganggu kelancaran sirkulasi
udara ataupun gangguan lain-lainnya. Oleh sebab itu menebas pohon yang
menimbulkan gangguan itu boleh karena dipandang lebih rinagan daripada
membiarkan pohon terus mengganggu.

Melaksanakan shalat dengan  tidak
menutup aurat adalah boleh, kalau memang tidak mungkin, sebab meninggalkan
shalat mafsadahnya lebih besar. Demikian pula boleh pada suatu waktu bersikap
diam melihat kemunkaran, karena apabila melarangnya akan membawa bencana/bahaya
yang lebih besar.

 
Kesembilan

الحَــــــاجَةُ تَنْزِلُ مَنْزِلَةَ
الضَرُوْرَةِ عَامَّةً كــــــاَنَتْ اَوْ خَاصَّةً

Artinya: Kebutuhan itu menduduki
kedudukan dharurat, baik hajat umum (semua orang) ataupun hajat khusus (satu
golongan atau perorangan)
.[28]

Keringanan itu tidak terbatas karena dharurat saja, tetapi juga
terdapat karena hajat atau dengan kata lain bahwa keringanan itu diperbolehkan
karena adanya hajat sebagaimana dibolehkan karena adanya dhararat.
Contoh: Seorang laki-laki boleh memakai pakaian sutra karena sakit
kulit dan sebagainya, sedangkan dalam keadaan biasa tidak boleh.
Dharuri atau kebutuhan tingkat primer adalah sesuatu yang harus
ada untuk keberadaan manusia atau tidak manusia tanpa terpenuhimya
kebutuhan tersebut. Ada lima hal yang harus ada pada manusia sebagai ciri atau
kelengkapan kehidupan manusia. Secara berurutan peringkatnya adalah agama,
jiwa, akal, harta dan keturunan [dharuriyah al-khams].[29] Dalam
hubungan dengan kaidah ini, bahwa kebutuhan seseorang itu ada 5 tingkat, yaitu[30]:
1.  Tingkat darurat, tidak boleh tidak, seperti orang
yang sudah sangat lapar, dia tidak boleh tidak harus mamakan apa saja yang
dapat dimakan. Sebab kalau tidak makan, dia akan mati atau hampir mati.
2. Tingkat hajat, seperti orang yang lapar. Dia harus makan,
sebab kalau dia tidak makan dia akan payah, walaupun tidak membahayakan
hidupnya.
3. Tingkat manfaat, seperti kebutuhan makan yang bergizi dan
memberikan kekuatan, sehingga dapat hidup wajar.
4. Tingkat zienah, untuk keindahan dan kewewahan hidup,
seperti makan makanan yang lezat, pakaian yang indah, perhiasan dan sebagainya.
5.  Tingkat fudlul, berlebih-lebihan, misalnya banyak
makan makanan yang subhat atau yang haram dan sebagainya.
Kesepuluh

دَرْءُ المَفَاسِد أَوْلىَ مِنْ َجَلْبُ
المَصَالِح

Artinya: Menolak kerusakan itu lebih didahulukan daripada mendatangkan
kemaslahatan
.[31]

Daftar Bacaan
Al Quran Al ‘Adhim dan terjemahannya
Dr. Abdul Aziz Ar Rabi’ah, Suwar Min
Samahatil Islam
 [Edisi Indonesia Kemudahan Dalam Islam], Cet ke I
tahun 2001 M, Pustaka AZZAM
Dr. Abdul Aziz Muhammad Azzam Dan Ahmad Muhammad Al
Hashary, Alqawaid Al Fikhiyah Dirasah Ilmiyah Tahliliyah Muqaranah,
Cet Tahun 2003-2004 M
Drs. Totok Jumantoro, Ma, dan Drs. Samsul Munir Amin
Mag, Kamus Ilmu Ushul Fikih, cet I tahun 2005, Pustaka Amzah
Dr. Muhammad Ar Ruqy, Qawaid Al Fikhi Al
Islami Min Khilali Kitab Al Iysraf Ala Masail Al Khilaf Li Al Qadhi Abdul
Wahhab Al Baghdadi Al Maliky
, cet I tahun 1419 H, Dar Al Qalam
Syaikh Dr. Muhammad Shidqy Bin Ahmad Bin Muhammad Al
Burnu Abil Harits Al Ghazzy, Al Wajiz fi Idhahi Qawaid Al Fikhi Al
Kulliyah
, cet IV tahun 1416 H, Muassasah Ar Risalah
Dr. Abdullah Bin Muhammad Bin Ahmad Ath Thariqy, Al
Ithtirar Ilal Atimmah Wal Adwiyah Al Muharramat [Fikih Darurat],
 cet I
2001 M, Pustaka Azzam
M. Ali Hasan, Masail Fikhiyah Al Haditsah
Pada Masalah-Masalah Kontemporer Hukum Islam, 
cet IV 2000 M, Pustaka
Rajawali Pers
Ibrahim Musthafa Dkk, Almu’jamul Wasith, I-II,
Al Majlis Al Islami Al Asyawy
Drs H Abdul Mudjid, Kaidah-Kaidah Ilmu Fikih,
Cet III tahun 1999 M, Pustaka Kalam Mulia
Syaikh Abdurrahman Bin Nashir As Sa’di, Risalah
Fi Al Qawaid Al Fikhiyah Wa Maaha Risalah Latifah Jamiah Fi Ushulil Fikhi Al
Muhimmah,
 cet 2003 M, Dar Ibnu Rajab
Ibnu Rajab, Jami’ Al Ulum Wa Alhikam Fi
Syarhi Khamsin Haditsan Min Jawami’ Al Kalim,
 Dar Al Ma’rifah
Syaikh Abdurrahman Bin Nashir As Sa’di, Taisir
Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Manan,
 cet I tahun 1416 H,
Muassasah Ar Risalah
Al Imam Yahya Bin Syarafuddin An Nawawi, Hadits
Al Arbain An Nawawiyah
Al Alamah Abil Barkat Ahmad Bin Muhammad Bin Ahmad Ad
Dardiri, As Syarhu Asy Shaghir Ala Aqrabi Al Masail Ila Madzhab Imam
Malik
, cet tahun 1410 H
Al Imam Muwafiqudin Abdullah Bin Ahmad Bin Qudamah Al
Maqdisy, Al Muqni’ Fikhi Imam As Sunnah Ahmad Bin Hanbal Asy Syaibany, cet
tahun 1400 H, Maktabah Ar Riyadh Al Haditsah
Ahmad bin ali Ar Razy Al Jashas Abu Baker, Ahkamul
Quran
, V Jilid, Dar Ihya’ At Turats Al Araby, Bairut,Tahun 1405 H, Al
Muhaqqiq: Muhammad Ash Shadiq Qamhawy.
Abdurrahman bin Abi Bakar As Sututhy, Al
Asybah Wa An Nadhair
, Dar Al Kutub Al Ilmiyah, Bairut, cet I tahun 1403 H,
I Jilid
Abi Muhammad Izzuddin Abdul Aziz Bin Abdissalam As
Silmi, Qawaidul Ahkam Fi Mashalihil Anam, Dar Al Kutub Al
Ilmiyah Bairut, I jilidCatatan Kaki

[1] Fikih
Darurat, hal: 16
[2] Mu’jamul
Wasith, I/537-538
[3] Fikih
Darurat Hal: 17-18
[4] Ahkamul
Quran I/159
[5] Al
Asybah Wa An Nadhair, hal: 85
[6] Syarhu
As Shaghir, II/183-184
[7] Qs
Al Baqarah: 173
[8] Taisirul
Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalamil Manan, hal: 64
[9] Qs
Al Maidah: 3
[10] Qs
Al Anam: 145
[11] Qs
Al baqarah: 173
[12] Fikih
Darurat, hal: 24. Dinukil dari Mukhtar Ash Shihah, hal: 354 dan 467 dan Al
Futhur Rabbani Li Targhib Musnad Imam Ahmad XVII/83
[13] Al
Muqni’, III/531
[14] Fikih
Darurat, hal: 34. Dinukil Dari  Al Asybah Wan Nadhair Oleh As Suyuthi
[15] Qawaidul
Ahkam Fi Mashalihil Anam I/81
[16] Qawaid
Al Fikhi Al Islami, hal: 197 dan Masail Fikhiyah Al Haditsah, hal: 117
[17] Hadits
hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Daruquthni dan selain keduanya secara
musnad dari Abi Said Bin Malik Bin Sinan Al Khudri dan Imam Malik dalam kitab
Muwattha’ secara mursal dari Amri Bin Yahya dalam kitab Jami’ Al ‘Ulum Wa Al
Hikam Fi Syarhi Khamsin Haditsan Min Jawami’ Al Kalim, hal: 285-286
[18] Risalah
Fi Al Qawaid Al Fikhiyah, hal: 53 dan Kemudahan Dalam Islam, hal: 48
[19] Kaidah-Kaidah
Ilmu Fikih, hal: 36
[20] Qs
Albaqarah: 173
[21] Qs
Al Maidah: 3
[22] Al
Wajiz Fi Idhahi Al Qawaid Al Fikhi Al Kulliyah, hal: 239
[23] Ibid:
241
[24] Al
Qawaid Al Fikhiyah, hal: 182
[25] Kaidah-Kaidah
Ilmu Fikih, hal: 39
[26] Diriwayatkan
Oleh Imam Bukhari Dari Abu Hurairah Dalam Matan Hadits Al Arbain, hal: 43
[27] Kaidah-Kaidah
Ilmu Fikih, hal: 40
[28] Al
Wajiz Fi Idhahi Al Qawaid Al Fikhi Al Kulliyah, hal: 241
[29] Kamus
Ilmu Ushul Fikih, hal: 57
[30] Kaidah-Kaidah
Fikih, hal: 42-43
[31] Al
Qawaid Al Fikhiyah, hal: 203
SHARE